Teruntuk Zalika,
Aku menuliskannya seperti itu,
tujuannya hanya untuk memudahkan seseorang yang menemukan surat ini. Jika aku
tak menuliskan seperti itu, kemungkinan besar akan dibaca terlebih dahulu dan
baru mereka ketahui kepada siapa surat ini aku hendak tujukan. Aku tak ingin
orang lain membaca ini sebelum kaumelihatnya. Aku bahkan tak ingin orang lain
membaca ini, aku hanya ingin kamu yang membaca ini. Aku hanya ingin kamu yang
mengerti suratku.
Zalika,
Jika kamu membaca surat ini,
kemungkinan besar aku sudah meninggalkanmu untuk selamanya. Atau kemungkinan
kecilnya, aku sedang berada di rumah sakit dengan berbagai alat bantu yang
membantuku tetap ada. Lalu, kemungkinan mana yang menyebabkan kamu telah
membaca suratku saat ini?
Malam ini, Sabtu, 17 September
2016. Aku teramat merindukanmu. Jika kamu merasa aneh karena aku secara
tiba-tiba menuliskan surat ini, aku pun begitu. Aku tidak tahu mengapa secara
tiba-tiba aku memegang sebuah pulpen, lalu mengambil sebuah kertas dan
menuliskan ini untukmu. Aku hanya merindukanmu saat ini dan aku ingin
memberitahumu tentang rinduku.
Apa kabar, Zalika? Sudah berapa
lama sejak kita terakhir kali berjumpa? Adakah kamu merindukanku?
Zalika, aku merindukanmu. Aku
rindu suaramu di gawaiku, aku rindu dering telepon yang kusetel sebagai dering
panggilanmu, aku rindu bagaimana kamu tersenyum kepadaku, aku rindu ketika kamu
menceritakan semua hal yang kaulalui, aku rindu caramu memanggilku, aku rindu
ucapan selamat malammu, aku rindu ucapan selamat pagimu.
Malam ini, sudah tiga puluh hari
sejak kaumemintaku untuk menjaga jarak. Sudah banyak malam yang kurasakan sepi
karena tak berbicara denganmu di telepon. Sudah banyak pesan yang hanya
berakhir sebagai pesan terbaca olehmu tanpa terbalaskan. Aku memang tidak
se-tidak-ada-kerjaan-itu, Zalika. Aku berangkat kuliah, aku bermain dengan
temanku, namun nyatanya pusatku masih terpaku kepadamu. Hingga malam ini, aku
tidak tahu mengapa kautak mengacuhkanku. Sudikah kau menceritakan kepadaku
nantinya, Zalika? Aku hanya ingin tahu dan akhirnya aku dapat mengerti dirimu.
Zalika, bolehkah aku menceritakan
bagaimana perasaanku kepadamu sejak pertama kali kita berjumpa?
Zalika, begitu nama yang
kausebutkan kala pertama kita bertemu. Aku sempat mencari tahu arti di balik
nama Zalika. Zalika jika diartikan dapat berarti baik. Aku membayangkan
wajahmu, lalu aku rasa nama Zalika memang tepat untukmu, sebagaimana baiknya
dirimu yang tak mengacuhkanku di awal kita bertemu, sebagaimana baiknya dirimu
yang dengan ramah membalas uluran tanganku, dan sebagaimana baiknya dirimu yang
rela membalas pesanku untukmu.
Aku tidak jatuh hati denganmu
sejak pandangan pertama. Awalnya, aku hanya ingin menyapa seorang perempuan
yang sepertinya sedang merasa bosan di rumahku. Aku tak ada niat untuk
menjadikanmu kekasih hati sejak awal mataku menatap senyummu. Aku tak ada niat
untuk terus memikirkanmu kala malam datang. Awal pertama jumpa aku hanya
tertarik menjadi seorang teman.
Lalu, aku tidak mengerti mengapa
aku semakin merasa ingin berdekatan denganmu, aku juga tidak mengerti mengapa
senyummu selalu membayangiku yang sedang sendiri. Aku tidak mengerti mengapa
rasanya aku selalu ingin mendengar suaramu. Semua menjadi kian dekat secara
perlahan-lahan, aku kerap menjemputmu dan mengantarmu, aku kerap menelponmu
kala malam dan pagi hari hanya untuk mendengar suaramu dan membayangkan betapa
senangnya kaubercerita.
Semua berjalan sangat sempurna,
aku merasa bahagia. Pun, kauterlihat seperti itu. Namun, rasanya aku salah
menduga, hanya aku yang merasa bahagia karena memilikimu, menjadikanmu sebagai
satu hal yang selalu kunantikan. Zalika, mengapa semua berlalu dengan cepat? Baru
saja aku merasa bahagia yang teramat karna kau mengatakan bahwa kaumenyayangiku
juga, namun mengapa tiba-tiba kaumengacuhkanku? Mengapa pagi itu kautak
membalas pesanku layaknya kemarin kau masih membalas pesan dengan deretan
emojimu? Mengapa pagi itu kautak kunjung menerima panggilanku yang mencarimu?
Jika aku bisa menuliskan banyak
hal di surat ini, ingin rasanya aku menyampaikan segala pertanyaan yang
bergelayut di benakku. Zalika, mengapa semua terasa tiba-tiba? Kau tiba-tiba
saja menjauhiku, tak membalas pesanku, tak menerima panggilanku, dan tak
membalas senyumku. Aku ingat, pagi itu, saat kautak kunjung membalas pesanku
dan menerima panggilanku, aku memaksakan diri untuk ke rumahmu. Di pagi hari
yang masih dingin dengan tubuh yang sebenarnya tidak terlalu sehat, aku tetap
mengendarai motorku hingga rumahmu. Pagi itu, aku berharap dapat melihat
senyummu dan mendengar permintaan maafmu karena mengabaikanku, namun, yang
kudapatkan hanya sebuat pandangan datar dan permintaan untuk menjaga jarak
hubungan kita.
Aku hanya bisa tersenyum kala
itu, memaksamu pun tak akan berguna. Kau sudah menentukan pilihanmu dan aku tak
bisa mengganggunya. Aku tak diizinkan menyuarakan rindu dan inginku. Hanya kenyamanan
dirimu yang menjadi prioritasmu.
Semua berlalu begitu saja,
perlahan aku bisa menjalani hubungan yang semakin tak menentu seperti ini. Jika
kaubertanya, apakah aku jenuh dengan hubungan seperti ini? Jawabanku tentu saja
iya, aku tak bebas mengirim pesan kepada kekasihku, tak bebas menelepon
kekasihku, dan tak tahu dimana ia menjalani aktivitas setiap harinya. Namun,
aku tak ingin semua menjadi hancur hanya karena rasa jenuhku. Aku ingin semua
membaik, makanya aku mengalah untuk selalu menantimu.
Esok adalah perjuanganku untuk
membuktikan bahwa cinta memang masih ada atau tidak di dalam dirimu. Aku sudah
menyiapkan segalanya untuk menyenangkan hatimu, untuk merayakan hari jadi satu
tahun kita, untuk menyadarkanmu bahwa aku di sini menantimu, meski tak jua kau
hiraukan.
Zalika, aku sudah menawarkan
segala cara agar besok kaumenyempatkan datang. Namun, kaumasih juga menolaknya,
kau bisa datang sendiri, ucapmu kala itu. Entah mengapa, Zalika, aku takut
semuanya tak seperti yang kuinginkan. Kautak datang dan kau tak mengacuhkanku. Kau
tetap berjalan pada duniamu tanpa sedikitpun mengizinkan aku untuk menemanimu.
Zalika, jika hari esok semua
memang tak berjalan seperti yang kuharapkan. Aku hanya ingin kautahu, bahwa aku
sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu, aku sangat menantikan kehadiranmu
dalam hidupku. Jika memang selepas hari esok aku memutuskan pergi, itu bukan
sepenuhnya inginku. Aku masih teramat mencintaimu, namun, kau yang
menunjukkanku jalan keluar dari kehidupanmu dan perlahan mulai menyuruhku untuk
pergi.
Zalika, jaga dirimu baik-baik.
Jika ada seseorang yang mencintaimu seperti aku mencintaimu, jangan perlakukan
ia seperti engkau memperlakukan aku. Cintai ia seperti ia mencintaimu. Jika kaumerasa
jenuh, jangan mencari cara untuk menyingkirkannya, jangan mencari cara agar ia
pergi darimu, dan jangan mencari cara agar ia yang berusaha memperbaiki
semuanya. Namun, kauharus mencari cara agar kaubisa menyembuhkan rasa jenuhmu
tanpa mengabaikannya.
Zalika, jangan mengabaikan
seseorang hanya karena jenuhmu. Jika hari ini aku tak lagi kautemui, maka
ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah mencintaimu dengan teramat.
Jakarta, 17 September 2016.
Aku, kekasihmu.
Firaz.
Ngena banget "Hanya kenyamanan dirimu yang menjadi prioritasmu" huhuuuuu
BalasHapusAiniiiiiii, makasih selalu membaca muaaah.
HapusSelalu ditunggu postnya fan :D
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus"hanya kenyamanan dirimu yang menjadi prioritasmu" heheheheheeee :'))
BalasHapus