Jumat, 22 Juni 2018

Surat untuk Zalika



Teruntuk Zalika, 

Aku menuliskannya seperti itu, tujuannya hanya untuk memudahkan seseorang yang menemukan surat ini. Jika aku tak menuliskan seperti itu, kemungkinan besar akan dibaca terlebih dahulu dan baru mereka ketahui kepada siapa surat ini aku hendak tujukan. Aku tak ingin orang lain membaca ini sebelum kaumelihatnya. Aku bahkan tak ingin orang lain membaca ini, aku hanya ingin kamu yang membaca ini. Aku hanya ingin kamu yang mengerti suratku.

Zalika,

Jika kamu membaca surat ini, kemungkinan besar aku sudah meninggalkanmu untuk selamanya. Atau kemungkinan kecilnya, aku sedang berada di rumah sakit dengan berbagai alat bantu yang membantuku tetap ada. Lalu, kemungkinan mana yang menyebabkan kamu telah membaca suratku saat ini?


Malam ini, Sabtu, 17 September 2016. Aku teramat merindukanmu. Jika kamu merasa aneh karena aku secara tiba-tiba menuliskan surat ini, aku pun begitu. Aku tidak tahu mengapa secara tiba-tiba aku memegang sebuah pulpen, lalu mengambil sebuah kertas dan menuliskan ini untukmu. Aku hanya merindukanmu saat ini dan aku ingin memberitahumu tentang rinduku.
Apa kabar, Zalika? Sudah berapa lama sejak kita terakhir kali berjumpa? Adakah kamu merindukanku?

Zalika, aku merindukanmu. Aku rindu suaramu di gawaiku, aku rindu dering telepon yang kusetel sebagai dering panggilanmu, aku rindu bagaimana kamu tersenyum kepadaku, aku rindu ketika kamu menceritakan semua hal yang kaulalui, aku rindu caramu memanggilku, aku rindu ucapan selamat malammu, aku rindu ucapan selamat pagimu.

Malam ini, sudah tiga puluh hari sejak kaumemintaku untuk menjaga jarak. Sudah banyak malam yang kurasakan sepi karena tak berbicara denganmu di telepon. Sudah banyak pesan yang hanya berakhir sebagai pesan terbaca olehmu tanpa terbalaskan. Aku memang tidak se-tidak-ada-kerjaan-itu, Zalika. Aku berangkat kuliah, aku bermain dengan temanku, namun nyatanya pusatku masih terpaku kepadamu. Hingga malam ini, aku tidak tahu mengapa kautak mengacuhkanku. Sudikah kau menceritakan kepadaku nantinya, Zalika? Aku hanya ingin tahu dan akhirnya aku dapat mengerti dirimu.

Zalika, bolehkah aku menceritakan bagaimana perasaanku kepadamu sejak pertama kali kita berjumpa?

Zalika, begitu nama yang kausebutkan kala pertama kita bertemu. Aku sempat mencari tahu arti di balik nama Zalika. Zalika jika diartikan dapat berarti baik. Aku membayangkan wajahmu, lalu aku rasa nama Zalika memang tepat untukmu, sebagaimana baiknya dirimu yang tak mengacuhkanku di awal kita bertemu, sebagaimana baiknya dirimu yang dengan ramah membalas uluran tanganku, dan sebagaimana baiknya dirimu yang rela membalas pesanku untukmu.

Aku tidak jatuh hati denganmu sejak pandangan pertama. Awalnya, aku hanya ingin menyapa seorang perempuan yang sepertinya sedang merasa bosan di rumahku. Aku tak ada niat untuk menjadikanmu kekasih hati sejak awal mataku menatap senyummu. Aku tak ada niat untuk terus memikirkanmu kala malam datang. Awal pertama jumpa aku hanya tertarik menjadi seorang teman.

Lalu, aku tidak mengerti mengapa aku semakin merasa ingin berdekatan denganmu, aku juga tidak mengerti mengapa senyummu selalu membayangiku yang sedang sendiri. Aku tidak mengerti mengapa rasanya aku selalu ingin mendengar suaramu. Semua menjadi kian dekat secara perlahan-lahan, aku kerap menjemputmu dan mengantarmu, aku kerap menelponmu kala malam dan pagi hari hanya untuk mendengar suaramu dan membayangkan betapa senangnya kaubercerita.

Semua berjalan sangat sempurna, aku merasa bahagia. Pun, kauterlihat seperti itu. Namun, rasanya aku salah menduga, hanya aku yang merasa bahagia karena memilikimu, menjadikanmu sebagai satu hal yang selalu kunantikan. Zalika, mengapa semua berlalu dengan cepat? Baru saja aku merasa bahagia yang teramat karna kau mengatakan bahwa kaumenyayangiku juga, namun mengapa tiba-tiba kaumengacuhkanku? Mengapa pagi itu kautak membalas pesanku layaknya kemarin kau masih membalas pesan dengan deretan emojimu? Mengapa pagi itu kautak kunjung menerima panggilanku yang mencarimu?

Jika aku bisa menuliskan banyak hal di surat ini, ingin rasanya aku menyampaikan segala pertanyaan yang bergelayut di benakku. Zalika, mengapa semua terasa tiba-tiba? Kau tiba-tiba saja menjauhiku, tak membalas pesanku, tak menerima panggilanku, dan tak membalas senyumku. Aku ingat, pagi itu, saat kautak kunjung membalas pesanku dan menerima panggilanku, aku memaksakan diri untuk ke rumahmu. Di pagi hari yang masih dingin dengan tubuh yang sebenarnya tidak terlalu sehat, aku tetap mengendarai motorku hingga rumahmu. Pagi itu, aku berharap dapat melihat senyummu dan mendengar permintaan maafmu karena mengabaikanku, namun, yang kudapatkan hanya sebuat pandangan datar dan permintaan untuk menjaga jarak hubungan kita.

Aku hanya bisa tersenyum kala itu, memaksamu pun tak akan berguna. Kau sudah menentukan pilihanmu dan aku tak bisa mengganggunya. Aku tak diizinkan menyuarakan rindu dan inginku. Hanya kenyamanan dirimu yang menjadi prioritasmu.

Semua berlalu begitu saja, perlahan aku bisa menjalani hubungan yang semakin tak menentu seperti ini. Jika kaubertanya, apakah aku jenuh dengan hubungan seperti ini? Jawabanku tentu saja iya, aku tak bebas mengirim pesan kepada kekasihku, tak bebas menelepon kekasihku, dan tak tahu dimana ia menjalani aktivitas setiap harinya. Namun, aku tak ingin semua menjadi hancur hanya karena rasa jenuhku. Aku ingin semua membaik, makanya aku mengalah untuk selalu menantimu.

Esok adalah perjuanganku untuk membuktikan bahwa cinta memang masih ada atau tidak di dalam dirimu. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk menyenangkan hatimu, untuk merayakan hari jadi satu tahun kita, untuk menyadarkanmu bahwa aku di sini menantimu, meski tak jua kau hiraukan.

Zalika, aku sudah menawarkan segala cara agar besok kaumenyempatkan datang. Namun, kaumasih juga menolaknya, kau bisa datang sendiri, ucapmu kala itu. Entah mengapa, Zalika, aku takut semuanya tak seperti yang kuinginkan. Kautak datang dan kau tak mengacuhkanku. Kau tetap berjalan pada duniamu tanpa sedikitpun mengizinkan aku untuk menemanimu.

Zalika, jika hari esok semua memang tak berjalan seperti yang kuharapkan. Aku hanya ingin kautahu, bahwa aku sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu, aku sangat menantikan kehadiranmu dalam hidupku. Jika memang selepas hari esok aku memutuskan pergi, itu bukan sepenuhnya inginku. Aku masih teramat mencintaimu, namun, kau yang menunjukkanku jalan keluar dari kehidupanmu dan perlahan mulai menyuruhku untuk pergi.

Zalika, jaga dirimu baik-baik. Jika ada seseorang yang mencintaimu seperti aku mencintaimu, jangan perlakukan ia seperti engkau memperlakukan aku. Cintai ia seperti ia mencintaimu. Jika kaumerasa jenuh, jangan mencari cara untuk menyingkirkannya, jangan mencari cara agar ia pergi darimu, dan jangan mencari cara agar ia yang berusaha memperbaiki semuanya. Namun, kauharus mencari cara agar kaubisa menyembuhkan rasa jenuhmu tanpa mengabaikannya.

Zalika, jangan mengabaikan seseorang hanya karena jenuhmu. Jika hari ini aku tak lagi kautemui, maka ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah mencintaimu dengan teramat.


Jakarta, 17 September 2016.

Aku, kekasihmu.


Firaz.

5 komentar:

  1. Ngena banget "Hanya kenyamanan dirimu yang menjadi prioritasmu" huhuuuuu

    BalasHapus
  2. Selalu ditunggu postnya fan :D

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. "hanya kenyamanan dirimu yang menjadi prioritasmu" heheheheheeee :'))

    BalasHapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.