Hari ini entah sudah hari keberapa ia mengikuti langkah lelaki ini. Matahari pun seakan sudah hafal rutinitasnya selepas bek plang berbunyi. Terkadang hujan dating untuk menghentikan kegiatan bodohnya ini. Tapi, ternyata tak semudah itu. Perempuan—dengan rambut dikuncir ini, masih melakukannya dengan berbagai cara tanpa pernah absen.
Perempuan
itu bernama Nayla. Nayla Satrianiwidya. Seorang perempuan muda yang berumur
17tahun, kini ia sedang menikmati masa-masa terakhirnya di SMAnya. Mengingat
hal itu, berrti ia hanya mempunyai sisa waktu yang tak banyak lagi untuk terus
melakukan rutinitas yang telah ia jalani selama dua tahun terakhir ini. Mungkin
terlihat bodoh bahkan tidak sedikit yang menganggapnya sudah kehilangan
kewarasannya, tapi siapa peduli pendapat orang banyak? Nay—sapaan Nayla, pun
tidak pernah benar-benar memperdulikannya. Dia menikmati rutinitasnya dengan
caranya sendiri. Tapi bukan layaknya orang yang benar-benar sudah kehilangan
kewarasannya, Nay masih mempunyai alasan untuk melakukan kegiatan—anehnya ini,
sebuah tanda tangan. Ya, ketika ditanya oleh teman-temannya, ia hanya menjawab
“Terlanjur janji sama adik gue. Adik gue pengen banget tanda tangannya Madera.”.
Madera adalah seorang artis yang sedang naik dan saat-saat ini, Adiknya memang
sangat mengidolakannya. Dan hal yang paling memberuntungkan untuknya adalah
Madera adalah salahsatu saudara dari temannya yang bernama Ovan. Dia yang
selalu diikuti langkahnya selepas bel pulang.
Matahari
hari ini tidak terlalu terik, sehingga Nay dapat dengan mudah menyamai langkah
besar Ovan, setidaknya ia tidak harus mengeluarkan tenaga seperti hari kemarin untuk
menyamai langkah Ovan—yang semakin mempercepatkan langkah kakinya. Bukan karena
ia sedang terburu-buru atau alasan apapun—yang mengharuskannya bergerak cepat,
hanya saja Ovan memang senang mempercepat
langkah kakinya ketika wajah Nay sudah mulai memerah lelah. Bukan hal
yang baru lagi, ketika Nay harus menerima tertawaan teman-temannya yang melihat
wajahnya dan disaat yang sama Ovan semakin mempercepat langkahnya.
“Bisa
lebih pelan nggak sih?” Tanya Nay dengan nafas terburu-buru.
“Siapa yang suruh ngikutin gue terus-terusan? Bukan gue kan, jadi suka-suka gue dong buat ngelangkah kaya gimana.”
“Gue cewek loh. Ya walau nggak secantik Rina—cewek yang pernah diberikan penghargaan Putri School, ya tapi kita sama.”Ucapnya dengan nada memelas. “Bakal cape kalo ngikutin langah lu kaya gini.”
Ia menghentikan langkahnya dan menghela nafasnya. Lelah, terdengar seperti itu. “Mau sampe kapan sih Nay?”
Nay hanya menatap dengan satu alis—ingin dibuat—terangkat.
“Gue capek lu ikutin terus-terusan kaya gini.” Katanya.
Nay mengangguk seakan-akan ia mengerti maksud ucapan lelaki ini. Tapi, itu hanya sebuah anggukan tanpa arti yang pasti.
“Kenapa masih nanya, kan lu tau jawabannya?”
“Lu juga tau, kalo gue nggak akan ngasih itu.” Katanya berlalu. “Lupakan itu, jangan buang-buang waktu lu cuma untuk sebuah tanda tangan perempuan itu.”Katanya menghentikan langkahnya. Menatap Nay yang masih terduduk ditrotoar.
Nay
tidak menjawab bahkan ia tidak memperdulikan Ovan yang berlalu. Ia hanya
memandangi aspal yang berwarna abu-abu kehitaman ini dengan pandangan datar. Ia
tahu betul, bahwa dirinya sedang tidak berada dikeadaan baik-baik saja.
Wajahnya sudah sangat memerah, kepalanya sudah terasa berat dan nafasnya sudah
memburu-buru.
“Nay.”
Panggil Ovan yang terdengar cemas. “Lu baik-baik aja?”
Nay hanya melambai-lambaikan tangannya kearah Ovan—menyuruhnya pergi meninggalkan Nay.
“Gue anter pulang yuk. Muka lu pucet.” Katanya mengulurkan tangannya membantu Nay bangun. “Jangan siksa diri lu, Nay. Gue nggak akan ngasih tanda tangan itu.”
Nay menatap Ovan memelas. “Adik gue perlu itu, Van.” Katanya pelan tapi terdengar jelas oleh Ovan.
~°~
“Nay.”
Panggil seseorang ketika ia sedang menikmati sarapannya dikantin sekolah.
Ia menoleh dan menjadi terheran-heran melihat siapa pemilik suara itu. “Hei.” Ucapnya singkat.
“Selalu sarapan disekolah?” Tanya seakan-akan ia selalu melihat Nay sarapan dikantin.
Nay hanya berdeham, mengunyah sarapannya dengan lahap. “Ada apa nih? Tumben nyamperin gue kesini, padahal dua hari yang lalu lu kan yang bilang nggak mau gue ganggu.” Katanya dengan ucapan menyindir.
Ovan
terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menimpali sindiran Nay. Ya,
Ovan memang tidak pernah ingin kalah dengan Nay, meski akhirnya ia harus
menerima kekalahannya. “Nyokap nyuruh gue buat nyari guru bimbel. Ya setelah
mendapat bebersapa rekomendasi, polling paling banyak jatuh ke lu.” Katanya
malas.
“Oya?” Nay menatap Ovan tidak
percaya. “Bukannya lu pinter?” Tanyanya iseng.
Ovan hanya berdiam. Ia tidak pernah mengira dengan jawaban Nay. “Ada imbalannya kok. Tanda tangan Madera, mau?”
Lagi-lagi Nay menatapnya tidak percaya. “Kenapa tiba-tiba bisa semudah itu?.” Nay menghabiskan santapan dimulutnya. “Mulai kapan, Van?”
Matanya tiba-tiba memelototi
perempuan dihadapannya. Ia selalu marah ketika Nay memanggilnya dengan
panggilan ‘Ovan’, bukan Nay saja yang menjadi omelannya ketika nama itu
terdengar tapi semua orang yang mulai memanggilnya dengan sebutan aneh-aneh.
Ya, Ovan menganggap panggilan Ovan itu sebagai ‘panggilan aneh’-nya dari Nay.
Namanya Geovand Wakintshi, ia biasa dipanggil teman-temannya dengan panggilan
Geo—kecuali Nay—. Lalu dari nama sebagus
itu, kenapa perempuan ini selalu memanggilku dengan panggilan aneh itu—Ovan—,fikirnya.
“Maaf. Maksud gue Geo.” Ucapnya
meralat panggilannya ketika menyadari perubahan yang terjadi di bola mata Ovan.
“Jangan panggil gue dengan panggilan Ovan lagi. Itu terlalu aneh.”
“Unik tau..” Tuturnya tak terima.
“Pokoknya nggak Nay!” Nada suaranya cukup keras. “Mulai lusa aja. Sepulang sekolah.” Ucapnya menyelesaikan penjelasannya dan segera berlalu.
Nay menahan tanggannya. “Kapan lu ngasih tanda tangan itu?”
‘Saat hari kelulusan.” Ovan masih berdiri, menunggu reaksi Nay.
“Terlalu lama. Bisa dipercepat?” Tanyanya. Ovan bisa mendengar ada nada kekhawatiran disana.
Ovan sadar ada ada keraguan yang terlintas disuara Nay. “Memangnya kenapa?”
Nay hanya menatapi piring yang
menjadi alas tempat makanannya tadi. Hari kelulusan akan tiba 3 bulan mendatang, bukan waktu yang lama tapi
juga bukan waktu yang sebentar untuknya. Tapi, dalam waktu yang cukup lama itu
segala kemungkinan bisa terjadi. Tidak dalam 3 bulan tapi 1 detik pun akan merubah
semuanya. Ia masih diam, fikirannya melayang-layang bersama rasa cemasnya.
“Hari terakhir ujian. Ini penawaran
terakhir, Nay.” Katanya lagi saat menyadari tak ada respon untuk pertanyaannya
tadi.
Dan lagi-lagi tak ada reaksi
berarti yang di keluarkan Nay, hanya sebuah anggukan. Sejak pertama kali Nay
membujuknya untuk memberikan tanda tangan Madera, ia memang tidak pernah tahu
percis alasan Nay. Yang selalu Nay katakana hanya ‘Adik gue butuh itu. Dan ini penting’, Hanya itu. Tidak pernah
berubah. Tidak pernah ada penambahan kata atau pengurangan kata dalam kalimat
itu.
~°~
“Darimana La?” Suara itu yang
menyambutnya saat ia baru membuka pintu rumahnnya.
“Sekolah tan.” Jawab Nay berlalu.
“Sekolah?” Ny. Triara mengulang ucapannya. “Pulang selarut ini?” Tanyanya menyindir.
Ny. Triara adalah ibu tiri Nay. Ia
dinikahi ayahnya saat usianya baru 8 tahun. Ibu kandungnya sudah meninggal saat
melahirkannya. Semenjak saat itu, Nay tidak pernah mengerti sosok ibunya, yang
ia tahu hanya saat ibunya tersenyum di foto pernikahannya kala itu. Ya hanya
itu, selebihnya ia lebih banyak menerka-nerka sendiri. Ia tumbuh dari didikan
seorang neneknya. Sebelum neneknya meninggal, Nay kecil adalah seorang gadis
kecil yang manja namun manis. Tapi, semua menjadi berubah ketika sosok itu
menghilang dari kehidupannya. Neneknya pergi menghadap Sang Pencipta saat
usianya 10 tahun, dan sejak saat itu ia menjadi Nay yang baru. Bukan Nay yang
manja.
Semenjak menjadi ibu tirinya, Ny.
Triara tidak pernah memaksanya untuk memanggilnya dengan sebutan ‘ibu’. Bahkan,
seingatnya Ny. Triara memang tidak pernah memintanya. Ny. Triara bukan seorang
ibu tiri yang jahat tapi bukan juga layaknya seperti ibu kandungnya. Perdebatan
diantara mereka sudah menjadi sangat lumrah, tidak ada minggu yag terlewatkan
tanpa adanya perdebatan. Ny. Triara
memberaikannnya seorang adik manis, meski tidak satu ibu, Nay sangat menyayangi
adiknya yang berusia 8 tahun. Gladis. Nama adik tirinya adalah Gladis
Mewantisri, seorang gadis kecil yang supel tapi mampu menghadirkan semangat
tersendiri untuk dirinya. Dia tidak pernah menyangka akan sesayang ini dengan
gadis kecil ini.
“Kamu tahu Gladis tadi kambuh? Dia
menunggumu! Dia menunggumu hanya ntuk sekedar makan bersama.” Katanya dengan
amarah menggebu-gebu.
Nay tersentak, ia tidak pernah berfikir Gla—Panggilan akrab Gladis, akan senekat ini. “Maaf.” Suaranya terdengar lemah. Ia tahu, ia sedang berada diposisi yang salah. Kenapa tadi ia tidak mengabari Gla. “Maaf”. Katanya mengulang ucapannya dengan tangan bergetar.
“Untuk apa? Ini kan yang kamu harapkan sebenarnya?” Tanya menuduh. Tatapannya tajam menjurus ke Nay yang menunduk. “Sekarang yang tante mau, kamu nggak usah pura-pura menyukai kehadiran Gladis.”
Nay mengadah, ia tak tidak terima akan semua tuduhan picik yang ditujukan kepadanya. “Ini memang salah saya, saat ini saya memang salah tan, tapi tante tidak berhak untuk memberikan tuduhan itu ke saya. Bahkan, saya lebih baik daripada tante yang seorang ibu-nya.” Ucapnya membantah.
Ny. Triara benar-benar geram, tangannya sudah siap dilayangkan ke pipi Nay ketika seseorang berhasil mencegahnya. “Permisi.” Ucap orang itu.
Nay dan Ny. Triara menengok
seiringan, melihat siapa pemilik suara itu. Ovan. Dia memberanikan diri untuk
masuk kedalam wilayah yang telah dilarang oleh Nay. Ovan sebenarnya selalu
menawarkan diri untuk bertemu kedua orangtuanya, tapi Nay selalu menolaknya
dengan tindakan yang sigap pula. Setiap saat seperti itu, dan saat ini ia sudah
berani membongkar perkiraannya tentang keluarga Nay.
“Ovan?” Panggilnya dengan nada yang
bisa diartikan ‘sedang apa kau disini?’
“Maaf……….. Tadi……….” Ucapannya berhenti saat menyadari semua mata tertuju kepadanya.
“Temanmu, Nay?” Tanya Ny. Triara.
Nay mengangguk lemas. Ia sadar,
Ovan sedang tidak aman diwillayah Ny. Triara dan ayahnya. “Dia hanya sekedar
memberikan buku yang ketinggalan tadi, Tan. Iya kan, Van?” Katanya berkata
asal. “Yasudah, mana bukunya? Sudah malam, lebih baik lu pulang?” Katanya lagi
menyeret Ovan keluar rumah.
“Lho? Kenapa temennya langsung disuruh pulang, Nay? Biarkan dia ngobrol sama ayah dan Ny. Triara.” Kata Ayahnya yang baru saja datang. “Ayo, Nak. Masuk!” Ajak Ayahnya Nay. Ovan membututi Ayah Nay yang berjalan menuju ruang tamu.
Ini
benar-benar bencana. Benar-benar bencana. Kenapa batu sih dibilangin jangan
masuk! Argh. Kesalnya sediri, menyadari kebodohan Ovan.
Nay bergegas menuju kamarnya.
Meninggalkan Ovan bersama kedua orangtuanya. Kamarnya gelap tanpa ada sumber
cahaya. Ia memencet tombol agar lampu-nya menyala. Menghembuskan badannya
begitu saja diatas kasurnya yang empuk. Menerka-nerka apa yang sedang
dibicarakan oleh kedua orangtuanya itu dengan Ovan. Menurut cerita yang
sudah-sudah, teman lelakinya yang datang kerumah pasti akan kapok untuk datang
lagi. Entah mengapa, tidak ada alasan yang pasti untuk hal itu. Tapi, saat Nay
menuntutu penjelasan kepada Ny. Tiara, Beliau selalu berkata “Mereka saja yang
cemen. Sudah jauhi saja laki-laki seperti itu.” Dan menurut Nay, penjelasan
seperti itu tidak pantas untuk dikatakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.
Fikiran nay tertuju ke Gla, dia
sedang tertidur pulas dengan segala beban yang ditanggungkan ketika Nay
melihatnya dari ujung pintu. Ia sengaja tidak ingin masuk karena takut
mengganggu tidur adiknya itu. Setelah merasa
benar-benar yakin, keadaan Gla baik-baik saja, ia memutuskan untuk menghampiri
tamunya yang sedang bercengkerama dengan kedua orangtuanya. Tidak ada hal yang
patut dicurigai dari apa yang mereka perbincangkan. Mereka terlihat menikmati
perbincangan yang terjadi diantara mereka.
“Sudah jam 9, Van. Lebih baik lu
pulang sekarang. Ngga enak sama orang rumah lu.” Katanya dingin.
Ovan tersenyum menggoda mendengar ucapan Nay yang mengusirnya.
“Nay.” Ucap Ayahnya yang terdengar tak senang dengan perkataannya tadi. “Itu tidak sopan, Nay.” Katanya lagi dengan mata melotot. “Jangan hiraukan dia, Nak Geo. Dia memang sering aneh.”
Ovan tertawa pelan melihat reaksi Ayah Nay dan Nay yang sedang menatapnya malas. “Nay benar kok Om, saya lebih baik pulang.” Katanya menatap Nay. Nay terlihat lega mendengar ucapan Ovan. Ovan menyalami kedua orangtuanya, “Kalau boleh, saya ingin datang lagi untuk melanjutkan perbincangan kita.” Kelegaan Nay seketika hilang saat Ovan menuntaskan omongannya.
“Oh tentu, pintu ini selalu terbuka untuk kamu kok.” Jawab Ny. Triara diakhiri dengan simpulan senyuman dibibirnya.
Nay tak mengambil pusing
perkataannya bersama kedua orangtuanya tadi. Ia mengantar Ovan menuju keteras
rumahnya. Tidak ada perkataan yang terdengar, bahkan senyuman seorang sahabat
pun tak terlihat.
“Daritadi kelihatannya bete terus
Nay. Nggak seneng ya kalo gue datang kerumah lu?” Tanyanya saat hendak
menggunakan helm. “Padahal orangtua lu asik loh. Seru.” Tambahnnya.
Nay menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa seorang Ovan yang jauh lebih cuek dibandingkan teman lelakinya terdahulu mengganggap orangtuanya asik. “Nggak usah menghibur, Van. Semua teman lelaki gue nggak ada yang bilang mereka asik.” Dia tertawa terpaksa.
“Mereka yang bohong. Udah ah, sampein salam gue buat Gladis ya, Nona San.”
Sebelum Nay sempat membalas
ucapannya, ia sudah mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Meninggalkannya dengan penuh kebingungan. Bagaimana bisa Ovan tahu panggilan
masa kecilnya itu?
~°~
Mereka berada disatu meja restoran
yang terdapat dekat taman. Nay sengaja memilih meja dipojok restoran untuk
tempat belajarnya hari ini. Segala rumus-rumus yang berhubungan dengan fisika
terdapat di segala penjuru meja. Mereka hanya diam, saat jarum jam ditangan
mereka terus berputar. Entah sejak kapan mereka mulai hobi untuk menutup mulut
mereka, menciptakan segala keheningan yang membosankan.
“Nay.” Panggil Ovan akhirnya
memecahkan keheningan yang ada.
Nay mengedahkan kepalanya. Menatap
Ovan yang sudah terlebih dahulu memperhatikan gerakk-geriknya. Mata mereka
menyatu pada satu titik.
Ovan menarik nafasnya,
menghembuskan dengan sekuat tenaga. Mencoba bersikap biasa, tapi sepertinya ia
gagal. Ia tahu betul, hatinya sedang bergejolak yang hebat. “Hari ujian sudah
besok Nay. Tugas lu udah selesai.” Katanya.
Nay tersentak. Bukan karena
ucapan Ovan, tapi ingatannya memutarkan sebuah janji dengan Ibu Tirinya. Besok
adalah hari terakhir ujian berarti hari dimana ia harus menempati segala
janjinya kepada Ny. Triara dan Gladis. Hatinya terasa sesak. Pandangannya
menjadi kabur. Pikirannya memutarkan janji-janji yang pernah ia ucapkan
sebelumnya. Ia merasa kacau. Kenapa? Bukannya ia telah berjanji saat itu. Saat
Gladis tiba-tiba koleps dan harus menginap dirumah sakit, saat kedua
orangtuanya menangis menjadi sangat tak terkendali melihat kondisi Gladis yang
memburuk.
"Kata dokter, jantung La sama
jantung Gla cocok tan, yah. Nay janji, selesai Nay ujian Gla akan mendapat
jantung Nay, tanpa perlu menderita lagi seperti ini." Kenangnya.
Ny. Triara hanya menatapnya datar.
Ayahnya memasang wajah geram. "Ini bukan bercandaan, Ayah tidak suka kamu
berbicara seperti itu, La! Jangan ulangi lagi.”
Nay mencoba menahan airmatanya. Ia tahu ini hal yang berat, tapi Nay tidak pernah merasa sesakit ini saat melihat kedua orangtuanya kacau. "La serius yah. Tunggu beberapa bulan lagi. Gla pasti kuat untuk nunggu saat itu tiba." Ujarnya meraih tangan ayahnya. Mencoba menyakinkannya dengan sepenuh hati.
Ia menatap wajah didepannya. Ovan sedang
sibuk dengan beberapa soal yang baru ia berikan tadi. Hatinya semakin kacau,
dan airmatanya semakin tergenang. Ovan menatapnya sebentar, lalu tersenyum dan
kembali memfokuskan dirinya dengan soal Fisika-nya.
'Haruskah
semua berakhir dikala waktu yang indah? Tuhan dosakah aku jika aku tak lagi
menepati janjiku? Tuhan Kau mengirimkan aku suatu keindahan, dan kini haruskah
aku meninggalkannya begitu saja?'. Ia menuliskan itu disebuah secarik
kertas. Melipatnya dan menyimpannya dibindernya.
Nay masih terdiam, pikirannya semakin
kacau. Ia kacau. Sangat kacau. Semua yang pernah ia alami bersama Ovan terputar
diingatannya. Ketika mereka harus menggunakan payung saat hujan tiba, ketika
Ovan tak lagi marah dengan panggilan 'Ovan' untuknya, ketika Ovan
menghampirinya setiap istirahat demi menanyakan ia sudah makan?, ketika Ovan
rela tak menggunakan jaketnya dimalam hari yang dingin, ketika Ovan mengajaknya
makan bersama keluarganya, dan ketika Ovan tersenyum. Senyuman itu yang tak
pernah ia lupakan. Semuanya terputar kembali. Haruskah ia bicara kepada Ovan
tentang perjanjian itu?
"Van." Panggilnya dengan suara
gemetar.
Ovan mengangkat satu alisnya. Menatapnya dengan senyum yang seketika hilang ketika melihat airmata Nay menetes. "Nay? Ada apa?" Tanyanya panik.
Nay berusaha mengatur nafasnya, dadanya terasa sangat sesak. "Tentang tandatangan itu...." Katanya parau.
"Besok gue bakal ngajak lu kerumah Madera. Gue bakal tepatin janji kok." Katanya dibuat ceria, dengan tangan menghapus lembut airmata Nay yang terjatuh.
"Gue ngga bisa ikut Van, lusa aja kita ketemu dirumah sakit."
"Kenapa?" Tanya Ovan heran. "Gladis kambuh?"
Nay menggeleng dengan mata terpejam.
Kenapa sulit untuk berbicara ini Ya Tuhan? Kenapa
otakku menghapus semua kata-kata yang sudah terangkai sejak tadi? Nay masih
memejamkan matanya, ia tidak ingin melihat orang yang kini dihadapannya. Itu
akan membuatnya semakin kacau.
"Lalu?"
"Gue yang bakal donorin jantung gue buat Gla, Van." Katanya akhirnya.
"Donor jantung? Kamu bercanda, Nay." Jawabnya tak percaya.
“Apa aku punya alasan untuk bercanda disaat-saat seperti ini?” Tanya Nay datar.
"Ini bukan hal sepele, Nay. Kamu......."Ovan beranjak dari tempat duduknya."Kamu ngga boleh ngelakuin itu." Serunya membelakangi Nay.
"Aku ngga perlu pendapat kamu, Van. Besok semua akan diurus dan secepatnya operasi akan berlangsung."
“Terus kalau kamu ngga perlu pendapat aku, kenapa kamu bilang sama aku?”
Karena aku ingin melihat reaksi kamu, Van. Dan
sekarang semua udah jelas. Katanya dalam hati.
"Pokoknya aku ngga setuju kamu ngelakuin itu!" Cegahnya dengan tangan menggenggam erat-erat tangan Nay yang dingin.
"Aku ngga perlu persetujuan kamu, Van. Aku ngomong ini cuma mau mengingatkan kamu tentang tanda tangan itu." Nay melepas genggaman erat Ovan. Menghapus airmatanya dengan pasti."Semoga besok sukses ya, buat kita. Aku pulang." Ia berlari kecil, meninggalkan Ovan yang masih terpaku berlutut dihadapannya.
~°~
Hari ini hari kedua setelah operasi
donor Jantung Nay. Operasi berjalan lancar, Gla langsung menunjukkan kemajuan
yang signifikan. Detak jantungnya normal. Tapi ternyata, semua tidak sepenuhnya
berjalan lancar. Hingga hari kedua ini, Nay belum kunjung sadarkan diri. Dokter
mengatakan Nay masih beradaptasi dengan jantung
Gla.
"Nay... Bangun. Aku disini. Aku
bawa tanda tangan ini." Ujar Ovan yang selalu mengunjungi Nay sepulang
sekolah. "Kamu ingat saat kita bermain hujan ditaman? Kita akan bermain
bersama lagi kan Nay?" Bisiknya lirih.
"Kak. Ini surat dari Kak La. Dia nulis ini saat kita mau operasi." Seru Gla yang menghampiri Ovan dengan kursi rodanya.
"Terimakasih, Gadis cantik. Kamu suka tanda tangan itu?"
"Tanda tangan?" Tanya Gla mengulang pertanyaan Ovan.
"Tanda tangan Madera, kata kakakmu kamu ngefans sama dia, dan kakakmu berjanji akan memberikannya untukmu."
"Kak Nay memang pernah menyebut artis itu, tapi soal tanda tangan itu, aku tidak mengerti."
"Nay tidak pernah berjanji tentang itu?"
Gla menggeleng. "Aku keluar dulu ya kak."
Ovan tersenyum, menatap wanita yang
terbaring lemah dihadapannya. Nay memang penuh dengan kejutan, ia selalu punya
cara untuk menunjukkan segala sesuatu dengan caranya sendiri, meski kadang
terlihat konyol. Ia membuka perlahan demi perlahan kertas yang terlipat rapi
tersebut. Ia menatap tulisan rapi Nay dengan pikiran yang menerka-nerka. Ovan
tersenyum, menatap wanita yang terbaring lemah dihadapannya aneh. Ia membuka
perlahan demi perlahan kertas yang terlipat rapi tersebut. Ia menatap tulisan
rapi Nay dengan pikiran yang menerka-nerka.
Hai, Geovand Wakitshi. Haha aneh ya memanggilmu dengan nama
itu? Saat kau baca surat ini, mungkin aku sedang bermimpi indah. Mungkin
bermain ditaman yang dipenuhi bunga-bunga (layaknya sinetron). Surat ini aku
tulis untuk mencurahkan segalanya.
Van, terimakasih untuk tanda tangan itu. Aku berbohong saat
aku bilang aku membutuhkan itu untuk adikku yang sakit. Tidak. Itu hanya
rekayasa. Kau tahu, banyak cewek disekolah yang mengidolakanmu? Ya mungkin aku
termasuk salah satunya. Makanya aku berpura-pura mengejarmu untuk 'sebuah tanda
tangan'. Awalnya aku menyerah loh, Van. Tapi hari itu tiba, kamu meminta aku
untuk menjadi pembimbingmu. Ya mungkin, ini jalan keluar dari Tuhan ya Van.
Aku fikir, kamu benar-benar membutuhkan bimbinganku. Tapi,
ternyata kamu jauh lebih pintar dari yang aku bayangkan. Saat itu aku mengira
kau sedang mengerjaiku. Tapi semua fikiran jelek tentangmu hilang, ketika kamu
mengajakku makan bersama dirumahmu.
Sejenak Ovan menatap Nay masih berbaring. Hatinya bergetar.
Mungkin itu salahsatu kebodohanmu, mengajakku makan bersama keluargamu
ketika kau sedang berbohong. Karena, mamamu memberitahu tentang suatu hal.
Mamamu mengatakan kau sengaja menyuruhku untuk menjadi pembimbingmu agar kamu
bisa deket denganku. Tapi, aku tidak semudah itu percaya, Van. Sampai akhirnya,
aku melihat kamu berusaha membuat dirimu nyaman berada dikeluargaku. Ya aku
melihat itu, Van. Aku melihat perjuanganmu. Dan satu lagi. Mamamu mengirimiku
sms yang intinya: kamu bilang sama beliau, kamu sayang sama aku. Dan kamu tahu,
apa yang aku rasakan saat itu?
Aku kecewa, Van. Kenapa kamu ngga pernah ngomong tentang itu?
Kenapa kamu nggak ngizinin aku untuk dengar itu sendiri dari mulutmu, Van?
Kenapa? Jujur, aku nunggu saat-saat itu, Van. Disaat aku sama kamu duduk berdua
dan satu kata cinta terucap dari bibirmu yang indah itu. Aku menanti itu, bahkan
sampai saat aku bilang mau mendonorkan jantungku, aku masih menunggu ungkapan
hatimu. Tapi, nyatanya semuanya semu, Van. Semua kata cinta yang kau punya hanya
menjadi cinta tak terucap. Entah siapa yang salah dalam hal ini. Aku, Kamu atau
hati kita.
Jemari-jemari yang sedari tadi digenggamnya bergerak pelan. Ovan
meletakkan lembarannya, dan mengalihkan perhatiannya kepada wanita yang kini
berusaha membuka matanya.
"Ayah....." Ucapnya pelan, terbata-bata.
"Disini, sayang." Jawab ayahnya.
"Tante Tria...." Ia menghela nafasnya dengan pelan-pelan. "Ibu....."
"Nay......."Panggilnya dengan airmata yang menetes.
"Ja......jangan menangis...."Ia menarik nafasnya, dan menghembukannya. "Aku bahagia. Semua janjiku sudah kutepati. Gla lebih pantas untuk hidup lebih lama."Ia memejamkan matanya, tersenyum."Lagipula, aku kangen sekali dengan ibu dan nenek. Aku ingin bersama mereka."
"Nay...."Sergah Ovan.
"Lalu kamu mau ninggalin ayah gitu aja? La kamu punya ayah. Kamu harus sembuh."
"Nay.... Kamu harus sembuh. Jangan kaya gini." Ucap Ovan dengan suara gemetar.
"Sudah....jangan cengeng. Kalian kenapa menjadi cengeng?"Nay berusaha tertawa, meski rasanya sulit sekali. Dadanya sakit. "La sayang sama ayah. Sama tante triara, maksud Nay ibu..."Ia tertawa. "Rasanya canggung sekali memanggil Tante menjadi ibu, nay juga sayang sama Gla. Sayang sekali."
"Kami percaya itu, Nay."
"Van, terimakasih ya tanda tangan itu. Aku suka."
"Nay?" Panggilnya tak jelas.
"Mau bilang tentang rasa itu? Aku......."
Ia memberikan isyarat Nay agar terdiam. "Aku mencintaimu. Menyukaimu
sejak lama, mengamatimu dalam wilayahku, merindukanmu dalam rindu yang tak
terlihat, mengagumi tanpa terucap, menantikan kehadiranmu dengan segala
kebisuanku, menjagamu dengan gerakku yang tak terdefinisi. Kamu mencintaimu
Nay."
Nay terdiam. Ia tertidur lagi, entah sejak berapa lama. Namun, kini
tangannya menjadi sangat dingin. Tak ada reaksi saat Ovan memanggilnya beberapa
kali. Dan Ovan baru sadar monitor didepannya kini hanya menunjukkan garis lurus
tanpa henti.
"Nay....."Panggilnya kacau. Ovan tak bisa menahan rasa
paniknya.
Mungkin kita bodoh, Van. Kita bodoh. Kita terlalu egois.
Menikmati rasa kita sendiri. Kita terlalu egois, membiarkan rindu menguap tanpa
tercurah, membiarkan kata cinta hanya terdengar dalam hati, membiarkan semua
waktu terlewat dengan rasa tak menentu, membiarkan mata kita menjadi was-was
dengan gerak-gerikmu yang jauh, membiarkan hati tersiksa saat melihatmu bersama
yang lain. Kita terlalu egois, menyiksa hati ini. Menikmati perasaan yang tak
pernah terungkap dengan semestinya. Menikmati pikiran yang selalu menerka-nerka
tentangmu.
Van..... Kita egois dan bodoh. Karena, baru menyadari
perpisahan takkan sepedih ini ketika diantara kita berhasil mengucapkan 'cinta'
sebelumnya, tapi semua sudah berlalu, Van. Saat aku sudah tertidur pulas, aku
hanya ingin meminta agar kau tetap mengingatku dalam kenangan-kenangan yang
kita ciptakan. Jangan biarkan cintamu pergi, dengan kata yang tak terucap, Van.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.