Dia rindu. Percakapan kalian di masa yang telah lalu. Rajukanmu, yang bahkan menurutnya terkadang menyebalkan bisa menjadi sangat merindukan seperti ini. Canda kalian. Cerita kalian, atau ceritamu, karena ia jarang bercerita. Dan, semua yang akhirnya telah menjadi kenangan.
Ini surat pertamaku untukmu. Tak
usah terlalu bingung, aku sahabat kekasihmu, gadis yang saat ini sedang terdiam
di depanku. Bahkan, sejak satu jam setelah ia datang, ia tak kunjung
mengucapkan alasannya ingin bertemu denganku secara tiba-tiba. Ia datang
sendiri, secara tiba-tiba.
Akhirnya, ia mengatakan bahwa ia
sangat merindukanmu. Terlalu aneh memang, karena menurut ceritanya, kalian baru
saja bertemu, tetapi bukan memang seperti itu cinta?
Aku tidak pernah tahu bagaimana
kalian sebelum ini. Bahkan aku baru mengetahuimu secara rinci—versi
dia—beberapa jam yang lalu. Bukan karena ia hanya datang kepadaku saat sedang
bersedih, lalu pergi saat senang. Bukan. Karena aku memang terlalu sibuk. Ia
sudah berulang kali mengajakku bertemu, saling bertukar cerita, katanya. Ingin
menceritakan segala hal tentangmu, namun memang tak kunjung sempat karena
jadwalku yang padat. Jika ia tak datang secara tiba-tiba pun, aku rasa, aku tak
akan bertemu dengannya.
Ia memang terlalu antusias untuk
menceritakan tentangmu. Bagaimana dirimu, awal pertemuan kalian, dan segala hal
yang mampu ia ceritakan via pesan denganku. Semua kupikir baik-baik saja, ia
bahagia denganmu, meski memang ia selalu mengatakan ia bahagia, tetapi beberapa
temannya yang ia bagi cerita mengatakan, tak seharusnya seperti ini. Dan di
sini lah ia saat ini, sedang mengatur napasnya yang mulai lelah karena
menangis. Aku membiarkannya, karena menurutku, ia memang membutuhkan itu. Meski
kutahu, ia terlalu banyak menangis akhir-akhir ini, tapi tak apa, biar ia lega.
Dia rindu kepadamu, itu yang
kutangkap sejak awal ia bercerita. Adakah kamu merindukannya seperti ia
merindukanmu?
Kamu menghilang beberapa saat
belakang ini, entah apa sebabnya, kamu tak lagi seantusias dulu untuk
mengetahui apa yang ia lakukan. Kamu membiarkan dia hidup dengan pikirannya.
Ini lucu, saat kamu tak ada, ia justru baru merasa ingin bercerita banyak
kepadamu, tetapi saat kamu ada, bahkan dia terlalu bingung untuk mencari topik
apa yang hendak ia ceritakan. Kamu tak ada saat ia benar-benar merasa sepi.
Apa kamu tahu jika beberapa malam
ini tidurnya tak nyenyak? Sudah terlalu cintakah ia kepadamu, hingga ia
memimpikanmu. Tapi, bukan mimpi yang mengenakkan. Ternyata benar, alam bawah
sadarmu yang mempengaruhi mimpimu.
Ini surat pertamaku untukmu
karena sahabatku datang secara tiba-tiba dan menceritakanmu.
Ada apa? Ada apa dengan kalian?
Apa salahnya? Apa yang salah dengan kalian? Bukankah semuanya lebih baik
dibicarakan, diungkapkan, bukan dipendam, bukan menghilang. Karena menghilang
tak menjawab semua pertanyaan yang ada di kepalanya. Apa kamu sudah tahu
sahabatku ini sangat mengesalkan? Jika ia tak merasa tak enak akan sesuatu, ia
hanya akan diam, hingga ia menangis. Sendiri. Jika dirasa sudah tak sanggup,
baru ia mengeluarkan ceritanya kepada sahabatnya. Entah bagaimana pikirannya,
ia tak selalu menerima apa yang sahabatnya katakan, ia mengelak dengan tetap membelamu,
mengatakan segala bantahan atas asumsi sahabatnya. Tetapi, ia hidup dengan
asumsinya sendiri, bahkan yang lebih parah, lebih menyakitkannya. Dia menyimpan
itu semua, sendiri, hingga ia sesak, lalu menangis, entah karena apa. Aku
sering dibuat gemas, karena ia membiarkan pikirannya berkembang menjadi suatu
hal yang mengganggu tidurnya. Adakah kamu seperti itu?
Dia rindu padamu, tentang
percakapan kalian menjelang malam, tentang bagaimana kalian saling bertukar
kabar, tentang kamu yang selalu mencarinya saat ia tak kunjung membalas
pesanmu, atau tentang rajukanmu. Adakah kamu rindu seperti ia merindu?
Ia masih menangis di depanku, tak
banyak cerita yang kudapat, hanya sekadar ia merindukanmu, merindukan bagaimana
kamu menanti pesannya, bagaimana tentang kamu. Dia terlalu banyak menangis.
Seberapa penting ia di hidupmu
saat ini? Bagaimana jika ia menghilang, entah karena apa? Bagaimana jika saat
kau tak ada kabar, justru saat itu ia ingin mengucapkan hal yang penting?
Bagaimana jika saat kau tak ada adalah saat terakhir ia mengirimimu pesan?
Bagaimana jika masa kalian menjadi
kenangan saat kamu menghilang? Aku tahu seperti itulah pikirannya, sehingga ia
tak pernah membiarkanmu menunggu selagi ia mampu. Tetapi, ternyata terkesan
menjadi ia tak punya kegiatan lain selain bercakap denganmu.
Dia rindu kepadamu, meski dia tak
mengungkapkannya. Kamu tahu tidak, jika dia terlalu sulit untuk mengutarakan
maksudnya? Kalau kamu menganggapnya kaku, ya memang seperti itu dia. Karena
menurutnya, perbuatan lebih pas dibandingkan hanya sekadar kata. Dia selalu ada
untukmu, itu menandakan kamu begitu penting untuknya. Dia menanti kabarmu, bisa
diartikan sebagai ia rindu denganmu. Dia memang seperti itu.
Surat yang sebenarnya tak pernah
terencanakan akan tertulis, tetapi semoga kamu membacanya.
Aku tahu, kita tak saling
mengenal. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu, berbicaralah kepadanya, lihat
matanya, agar kau tahu seberapa ia rindu padamu. Pahami sikapnya yang memang
menyebalkan, yang terkadang lebih senang mengungkapkan secara tersurat, tak
secara langsung. Bicaralah padanya, ungkapkan apa yang salah di kalian.
Bicaralah apa yang ingin
kausampaikan. Tak usah kau pedulikan bagaimana nantinya, jika akhirnya memang
sudah tersampaikan, itu rasanya lebih baik, meskipun bukan hal yang
mengenakkan, setidaknya semua jelas. Setidaknya kamu tak perlu lagi
menghindarinya, ia tak perlu lagi menanti kabarmu yang tak kunjung datang. Biar
tidurnya menjadi lelap.
Ini pertanyaan terakhirku setelah
banyaknya kata yang kuungkap di atas; masihkah kau jatuh cinta kepadanya
seperti dahulu? Adakah kau masih menanti kabarnya seperti dahulu? Masihkah kau
mencemaskannya—ketika ia tak memberimu kabar—seperti dahulu? Dan, masih adakah
rasa sayang seperti awal kau menyatakan cinta kepadanya?
Jakarta, September 2017.
Fanny Saufina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.