Untukmu, Penyemangatku kala lelah, dahulu.
Hai, Mas. Sudah lama tak
berkomunikasi denganmu sedikit membuatku canggung untuk menyapamu. Masih berkenankah
kau ku panggil dengan sebutanku untuk lelaki lebih tua dalam adat jawa; Mas. Bukan
karena kau lebih terlihat tua, namun aku hanya ingin membiasakan diriku
memanggil seseorang yang (dahulu aku fikir) akan menjadi imamku.
Apa kabarmu hari ini dan
hari-hari lalu setelah kau mulai menghilang dari pandanganku? Apa kau merasa
lebih bahagia setelah tak bersamaku, Mas? Sungguh, aku ingin melihat kau
berbahagia, tapi hatiku masih terlalu rapuh untuk menerima kebahagianmu
bukanlah denganku. Apa itu salah? Mungkin iya.
Mas, ingatkah kau tentang
perbincangan kita tentang “melupakan” di teras rumahku, kala hujan turun?
Mungkin itu adalah caramu mengisyaratkan bahwa seharusnya aku bisa melupakanmu,
tapi ingatkah apa yang aku jawab kala kau berkata; “Apa yang akan kamu lakukan
ketika seseorang telah meninggalkanmu dan melupakanmu? Apa kau akan
melupakannya juga?” dengan segala ketidakpahamanku dengan pilihan topic pembicaraanmu,
aku hanya menjawab; “Aku mungkin telah dilupakan, namun aku takkan bisa
melupakannya layaknya aku dilupakan. Aku hanya meninggalkannya sebagai masa
lalu, tak menghapusnya dalam lembaran hidupku”.
“Percayalah, itu hanya
menyakitkanmu.” Katamu saat itu.
Dan, kau benar, Mas. Ini
menyakitkan untukku ketika aku tak pernah—benar-benar—melupakanmu. Mungkin aku
salah dengan pendapatku, aku ingin berjalan ke depan tanpa melihat ke belakang
tapi nyatanya aku masih saja melihat lembaran demi lembaran kertas hidupku saat
kau ada didekatku. Kenangan bersamamu masih sangat menggodaku.
Mas, kini apa yang membuatmu
semangat? Apa ada seseorang yang mulai menyemangatimu kala rasa lelahmu hadir?
Dan apa ada seseorang yang kau beri energi semangatmu layaknya kau beri
semangatmu kepadaku dahulu?
Kini, aku tak mengerti bagaimana
caraku untuk menghadirkan semangatku untuk diriku sendiri. Aku juga tak
mengerti kenapa aku hanya mampu berdiam dibawah pohon dekat taman ketika aku
mulai merasa lelah. Dahulu, ada kau yang menghampiriku dengan kata-kata yang
mujarabmu, kala aku sedang berdiam diri menahan rasa tak menentu dihatiku.
Mungkin aku terlalu bergantung padamu, seharusnya aku tahu ini semangatku, ini
hidupku, dan aku lah yang seharusnya mampu memberi semangat untuk diriku
sendiri, bukan dirimu. Bukan dirimu yang dahulu berkata “Jangan risau, aku akan
selalu memberimu semangat ketika kau mulai merasa lelah dengan segala aktivitasmu
yang melelahkan”, tapi, nyatanya kau malah meninggalkaku ketika aku membutuhkan
semangat darimu, Mas.
Mas, doakan aku agar aku bisa lebih
menyemangati diriku sendiri, memberi motivasi untuk kehidupanku dimasa depan.
Aku pun selalu berdoa untukmu, agar hidupmu lebih bahagia, agar kau bisa
menyemangati dirimu sendiri tanpa harus bergantung dengan seseorang yang kau
harap memberimu semangat. Ya, aku berharap kau tidak seperti aku, Mas.
Mas, apa kau sudah mulai bosan
membaca rangkaian kata dalam surat ini? Oh tidak, bahkan aku tidak yakin kau
membaca surat ini, Mas. Tidak apalah. Aku menulis ini, hanya ingin
memberitahumu bahwa aku sedang merindukan semangat darimu. Dan sekali lagi,
bukan untuk berharap kau kembali lagi, Mas.
Salam seseorang yang rindu
semangat darimu.
Fanny Saufina.
Keterangan: Tulisan ini
diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard batubara.
cie...cie.... siapa tuh,,,??
BalasHapuscie.... ehem...
Hehehe ini cuma fiksi kok kak, hehehe.
Hapus