Lelaki yang berada di ujung taman
itu masih saja mengarahkan pandangannya ke perempuan yang berada jauh darinya.
Tak menyapanya, bahkan mendekat pun tidak ia lakukan. Lelaki dan perempuan yang
sama setiap harinya. Entah apa yang membuat lelaki itu hanya memandangi
perempuan yang selalu melihat handphone per-beberapa menit sekali. Mereka
terlihat seperti menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.
“Permisi.” Aku memberanikan diri
untuk menyapa yang terlihat kaget dengan kedatanganku.
Ia tersenyum ramah kepadaku,
meski sesekali ia masih mengawasi perempuannya.
“Apa kau mengenal perempuan yang
berada diujung sana?” Aku mengadikkan kepala kearah perempuan yang sedang
menatap jam tangannya penuh gelisah.
Dia menggeleng. “Aku senang
memperhatikannya. Senang dengan kegiatannya melihat handphonenya setiap
beberapa menit sekali, melihat jam tangannya sesekali.” Katanya masih dengan
pandangan yang tak berubah. “Kami tidak pernah berkenalan, namun entah sejak
kapan, dia mulai mengganggu malamku, selalu hadir didalam mimpiku, selalu
tersebut dalam doaku. Aku jatuh cinta kepadanya.”
Aku terdiam, mencoba mengerti
setiap kata-kata yang dikeluarkan lelaki yang sedari tadi tak mempersilakan aku
duduk disampingnya, aku dibiarkan berdiri olehnya. “Kenapa kamu tidak
berkenalan dengannya?”