Sabtu, 31 Mei 2014

Perempuan dan Lelaki di ujung jalan.

Lelaki yang berada di ujung taman itu masih saja mengarahkan pandangannya ke perempuan yang berada jauh darinya. Tak menyapanya, bahkan mendekat pun tidak ia lakukan. Lelaki dan perempuan yang sama setiap harinya. Entah apa yang membuat lelaki itu hanya memandangi perempuan yang selalu melihat handphone per-beberapa menit sekali. Mereka terlihat seperti menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.

 “Permisi.” Aku memberanikan diri untuk menyapa yang terlihat kaget dengan kedatanganku.

Ia tersenyum ramah kepadaku, meski sesekali ia masih mengawasi perempuannya.

“Apa kau mengenal perempuan yang berada diujung sana?” Aku mengadikkan kepala kearah perempuan yang sedang menatap jam tangannya penuh gelisah.

Dia menggeleng. “Aku senang memperhatikannya. Senang dengan kegiatannya melihat handphonenya setiap beberapa menit sekali, melihat jam tangannya sesekali.” Katanya masih dengan pandangan yang tak berubah. “Kami tidak pernah berkenalan, namun entah sejak kapan, dia mulai mengganggu malamku, selalu hadir didalam mimpiku, selalu tersebut dalam doaku. Aku jatuh cinta kepadanya.”

Aku terdiam, mencoba mengerti setiap kata-kata yang dikeluarkan lelaki yang sedari tadi tak mempersilakan aku duduk disampingnya, aku dibiarkan berdiri olehnya. “Kenapa kamu tidak berkenalan dengannya?”

Kamis, 22 Mei 2014

Lalu mau datang lagi setelah ini?

Dahulu, selalu ada pesan yang tak pernah absen dari deretan kotak masuk pesanku. Led merah handphone-ku selalu menyala saat malam hari. Dahulu, selalu ada seseorang yang tak pernah bosan mengirim pesan meski tak jarang aku tak membalasnya karena aku sudah terlelap. Dahulu, ada seseorang yang mampu membuatku tersenyum malu karena pesannya. Tapi itu dahulu, kini seseorang itu menghilang (lagi) begitu saja, tak tampak lagi pesannya, tak ada lagi Led-ku menyala karena pesannya.


Apa kabarmu? Sudah adakah wanita yang membalas pesanmu lebih dari aku? Sudah kau dapatkah wanita yang mulai senang mengirim pesan kepadamu terlebih dahulu?

Minggu, 18 Mei 2014

Bukan Target Awal

Fachri masih saja menatap gadisnya dari jauh, gadis yang mampu membuat tidurnya tak nyenyak, gadis yang mengisi satu ruang di otaknya. Dia masih menatap gadisnya dalam diam, gadis yang sedang dikelilingi teman-temannya. Gadis didepannya masih sibuk dengan perbincangan diantara remaja perempuan yang sedang berkumpul. Gadisnya tidak pernah menatap kearahnya. Tidak pernah menyadari seseorang yang mengamatinya dalam diam.

Waktu terus berputar, tak pernah berhenti sejenak meski Fachri masih saja diam-diam mengagumi wanitanya. Menikmati setiap waktunya dalam angan-angannya sendiri. Menikmati setiap waktunya dengan tatapan yang was-was.

“Lu deketin aja salah satu temennya, Ri.” Leo mulai mengambil posisinya, menyambar makanan di hadapan Fachri yang dibiarkan begitu saja oleh sang pemiliknya.

“Maksudnya?”

Leo menelan makanan milik Fachri tanpa sisa, menahan tawa untuk sahabatnya. “Gini ya, Leany itu deket sama Nina. Nah, deketin aja Leany biar lu bisa deket sama Nina. Leany itu lebih gampang didekati dibandingkan Nina yang selalu dikelilingi lelaki.”