Sabtu, 31 Mei 2014

Perempuan dan Lelaki di ujung jalan.

Lelaki yang berada di ujung taman itu masih saja mengarahkan pandangannya ke perempuan yang berada jauh darinya. Tak menyapanya, bahkan mendekat pun tidak ia lakukan. Lelaki dan perempuan yang sama setiap harinya. Entah apa yang membuat lelaki itu hanya memandangi perempuan yang selalu melihat handphone per-beberapa menit sekali. Mereka terlihat seperti menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.

 “Permisi.” Aku memberanikan diri untuk menyapa yang terlihat kaget dengan kedatanganku.

Ia tersenyum ramah kepadaku, meski sesekali ia masih mengawasi perempuannya.

“Apa kau mengenal perempuan yang berada diujung sana?” Aku mengadikkan kepala kearah perempuan yang sedang menatap jam tangannya penuh gelisah.

Dia menggeleng. “Aku senang memperhatikannya. Senang dengan kegiatannya melihat handphonenya setiap beberapa menit sekali, melihat jam tangannya sesekali.” Katanya masih dengan pandangan yang tak berubah. “Kami tidak pernah berkenalan, namun entah sejak kapan, dia mulai mengganggu malamku, selalu hadir didalam mimpiku, selalu tersebut dalam doaku. Aku jatuh cinta kepadanya.”

Aku terdiam, mencoba mengerti setiap kata-kata yang dikeluarkan lelaki yang sedari tadi tak mempersilakan aku duduk disampingnya, aku dibiarkan berdiri olehnya. “Kenapa kamu tidak berkenalan dengannya?”

Dia menatapku, tatapannya berubah, ada kesedihan disana, ada penantian disana dan cinta tak terucap disana. “Mungkin aku akan punya nyali saat dia menyadari kehadiranku. Tapi, sampai saat ini sekedar mengarahkan pandangannya kearahku pun tidak pernah ia lakukan.”

Aku mengarahkan pandanganku kearah perempuan yang masih menatap kearah lawan arah dari tempat kami berada, aku memang belum pernah melihatnya menatap lelaki ini layaknya lelaki ini menatap perempuannya.

“Aku ingin bertanya hal yang sama dengan perempuanmu. Aku permisi.” Aku pamit, kepergianku tak dihiraukan olehnya. “Maaf, satu hal yang harus kau ketahui, mungkin perempuan itu tidak pernah melihat kearahmu, tapi tidak adakah kau niat untuk mengubah arah pandangannya kearahmu? Cinta bukan tentang menunggu, tapi cinta harus ada yang memulai.” Aku melangkahkan kakiku lagi.

Lelaki itu hanya terdiam, seakan tak mengerti maksud perkataanku, tapi dari wajahnya dia bukanlah orang yang bodoh.
 

Aku mulai berada didekat perempuan yang sedari tadi tak mengubah arah pandangannya, sejenak aku melihat lelaki yang bisa diam diujung sana, seakan tak memperdulikan aku yang berada diantara mereka.

“Permisi.” Aku mulai menyapanya sama dengan sapaan yang sama kepada lelaki tadi.

Berbeda dengan lelaki yang tadi, perempuan ini terlihat lebih ramah, matanya indah meski terlihat sendu, seperti ada rasa sakit yang sedang ia rasakan. Ia mempersilakan aku untuk menempati tempat kosong disebelahnya.

“Sejak beberapa hari yang lalu, aku selalu melihatmu disini. Apa ada yang kau tunggu?”

Dia mengarahkan pandangannya lagi kearah yang sama, menatap layar handphonenya. “Dia.” Jawabnya singkat, dia melihat jam tangan di tangan kanannya. “Dia yang meninggalkanku begitu saja.”

“Kekasihmu?”

Dia menggeleng lemas, “Hanya teman, teman yang selalu ada disetiap malamku, selalu hadir saat aku membutuhkannya, tak bosan terus menyapa saat aku tak menghiraukan sapaannya.”

“Kalian dekat lalu dia tiba-tiba meninggalkanmu? Kau menyukainya?”

Dia menatapku, “Apa kau fikir aku menyukainya?”

“Lalu apa alasanmu menunggunya jika kau tak menyukainya?”

Dia tak langsung menjawab pertanyaanku. Kami diam beberapa menit, aku melihat lelaki itu masih saja menatap perempuan disampingku tanpa jenuh.

“Aku terlanjur nyaman dengan keberadaannya yang selalu mengisi hari-hariku yang hampa.”

Kini, giliran aku yang dibuatnya terdiam.

“Dia yang selalu hadir dengan caranya, meyakinkan aku dengan cintanya kepadaku, berusaha membuat aku tertawa kala aku lelah dengan aktivitasku. Dan kini, dia pergi dengan wanitanya yang sesungguhnya.”

“Dia mendekatimu kala dia sudah punya perempuan?”

Perempuan itu menggeleng, “Dia mendekatiku dan perempuan lain. Dan ketika hatiku tak kunjung luluh, perempuan lainnya mampu membuatnya jatuh cinta. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dengan perempuan itu, meninggalkan aku yang sedang berusaha meyakinkan hatiku.”

“Lalu untuk apa kau masih menunggunya? Berharap dia datang lagi? Kamu fikir dia akan datang lagi kepadamu?”

Dia diam, tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya memandangi layar handphonenya yang sedari tadi ia pegang.

“Apa kau tahu ada lelaki yang selalu memandangimu di ujung sana?” Aku mulai membahas lelaki yang sedari tadi masih memperhatikan kami dari jauh, bukan, dia hanya memperhatikan perempuan disampingku.

“Siapa dia? Temanmu?”

Aku tertawa untuk beberapa menit, setelahnya aku menghentikan tawaku saat aku menyadari ada tatapan tajam dari perempuan yang disampingku, tatapannya seperti melihat orang asing. “Aku bahkan belum sempat berkenalan dengannya.” Aku menatap perempuan yang mulai tak memperdulikan lelaki itu lagi.

“Sejak lama, tempat itu menjadi tempat favoritnya, untuk memperhatikan perempuannya yang tak pernah melirik kearahnya. Dia mempunyai hobi baru, yaitu menunggu waktu saat bisa berjumpa dengan perempuannya, meski tak pernah berkenalan dengan perempuannya, dia mulai jatuh cinta dengan kegiataannya memperhatikan perempuannya dalam diam. Tak pernah terlihat tapi terlihat jelas. Kau tahu siapa perempuan itu?”

Perempuan itu menggeleng, dia mulai menatapku, memperhatikan gerak bibirku, memahami ucapanku.

“Kau.” Kataku dengan senyum mengembang. Bahagia rasanya saat kau sudah bisa membantu seseorang untuk melihat keadaan yang sebenarnya mampu membuatnya jauh lebih bahagia. “Dia tak pernah menyapamu, tapi dia berjanji dia akan memulai saat kau mulai menyadari kehadirannya. Dia tak pernah mau mengganggu sedikitpun urusanmu. Yang dia butuh hanya kau yang selalu datang ke taman ini.”

“Kau tau semua itu darimana?”

“Aku sempat berbincang dengannya terlebih dahulu sebelum aku menghampirimu.” Kataku.

Dia mengangguk, melihat lelaki yang masih memperhatikannya sejenak, lalu mereka saling melempar senyum.

“Aku harus permisi.” Aku bangkit dari dudukku, melempar senyum kearah lelaki yang mulai menyadari kehadiranku. “Tidak selamanya dia akan terus berada disana untuk memperhatikanmu dengan diamnya, mungkin suatu ketika dia akan meninggalkanmu yang tak pernah menyadari keberadaannya. Tapi, aku melihat ketulusan dari matanya. Bahkan sedari tadi kita berdua duduk disini, ia hanya menatapmu, memperhatikanmu, ia tak menghiraukan kehadiranku, fokusnya hanya tertuju kepadamu. Lalu, kau masih mau menunggu lelaki yang sudah meninggalkanmu sedangkan ada lelaki yang selalu menemanimu ditaman ini, menjagamu dari jauh?” Aku meninggalkannya.

Ia masih terus menatap lelaki yang mulai mendekat kearahnya.

Aku membalikkan tubuhku, melihat mereka sedang berbincang dengan sangat kaku. Satu sama lain diantara mereka tak tahu bagaimana cara harus memulai. Mereka berada didaerah nyaman mereka, diam. Tak ada yang berani memberontak dari tempatnya. Mereka terlalu asik dengan dunia mereka sendiri, mereka terlalu asik untuk berbincang dengan hatinya.

Aku terduduk di pinggir danau, dari tempatku sekarang aku masih bisa melihat mereka dengan senyum masing-masing yang tiada henti. Baru beberapa menit mereka saling sapa, tapi aku melihat mereka seperti sudah lama berjumpa. Saling tertawa tanpa canggung lagi, perempuannya tidak terlihat seperti sedang menunggu lagi, matanya masih terlihat sendu, namun ia sudah bisa tersenyum lebih lama.

“Makasih ya.” Lelaki itu sudah ada dihadapanku, entah sejak kapan. “Kamu benar, seharusnya aku lebih berani untuk memulai. Diam tak membuat aku mendapatkan apa yang aku inginkan.”

Aku mengangguk.

“Aku pergi dulu. Semoga kau bisa mendapatkan kebahagianmu.” Lelaki itu meninggalkanku yang sedang mengamini doanya barusan.

Aku masih memperhatikan lelaki itu yang membelakangiku, punggungnya mulai samar-samar terlihat. Disana, aku bisa melihat si perempuan sedang menunggunya. Setelahnya, mereka berjalan beriringan. Tak ada lagi handphone yang digenggam si perempuan, tak ada lagi ia yang memperhatikan jam tangannya. Mereka sibuk dengan perbincangan mereka, perbincangan yang baru dimulai beberapa menit yang lalu.


Ketika kamu hanya diam, kamu takkan mendapatkan cintanya. Cinta bukan soal menunggu, tapi cinta soal memulai. Kau yang mulai untuk jatuh cinta, kau pula yang berhak memulai untuk menunjukkan cinta itu.


Terlalu menunggu seseorang, terkadang membuatmu tak menyadari akan kehadiran oranglain yang ingin membuatmu bahagia. Lihat sekelilingmu, adakah orang yang selalu berusaha membuatmu tersenyum kala kau menangis? Adakah orang yang selalu menantimu kala kau tak hadir dihadapannya? Jika ada, sesungguhnya kau lebih pantas berbahagia dengannya dibandingkan harus menunggu dia yang tak kunjung datang untuk menanyakan kabarmu.

6 komentar:

  1. "Ketika kamu hanya diam, kamu takkan mendapatkan cintanya. Cinta bukan soal menunggu, tapi cinta soal memulai. Kau yang mulai untuk jatuh cinta, kau pula yang berhak memulai untuk menunjukkan cinta itu."
    Keren kak, kenapa ga bikin buku yang isinya kumpulan cerpen aja? Hehe, salam kenal yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih udah baca ya, Tiar. hehehe. Pernah ada jg yang nyaranin kaya gitu dan ini lagi difikirin jg sih hehehe. Salam kenal juga!:-)

      Hapus
  2. Baca ini jadi ingat lagunya Tulus-Tuan Nona Kesepian. Hehe. :3

    Sometimes, yang selalu ada ttp gabakal bisa gantiin yg istimewa. Huh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya baru dengerin lagunya nih;D
      Ah, kamu jadi curcol gituuuuuu. hehehe terimakasih sudah membaca ya:)

      Hapus
  3. Keren nih cerpennya, meskipun romancenya agak mainstream, tapi tetep kece :D
    salam kenal~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya nih masih main yang mainstream-_- terimakasih sudah membaca ya:-)

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.