Lelaki yang berada di ujung taman
itu masih saja mengarahkan pandangannya ke perempuan yang berada jauh darinya.
Tak menyapanya, bahkan mendekat pun tidak ia lakukan. Lelaki dan perempuan yang
sama setiap harinya. Entah apa yang membuat lelaki itu hanya memandangi
perempuan yang selalu melihat handphone per-beberapa menit sekali. Mereka
terlihat seperti menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.
“Permisi.” Aku memberanikan diri
untuk menyapa yang terlihat kaget dengan kedatanganku.
Ia tersenyum ramah kepadaku,
meski sesekali ia masih mengawasi perempuannya.
“Apa kau mengenal perempuan yang
berada diujung sana?” Aku mengadikkan kepala kearah perempuan yang sedang
menatap jam tangannya penuh gelisah.
Dia menggeleng. “Aku senang
memperhatikannya. Senang dengan kegiatannya melihat handphonenya setiap
beberapa menit sekali, melihat jam tangannya sesekali.” Katanya masih dengan
pandangan yang tak berubah. “Kami tidak pernah berkenalan, namun entah sejak
kapan, dia mulai mengganggu malamku, selalu hadir didalam mimpiku, selalu
tersebut dalam doaku. Aku jatuh cinta kepadanya.”
Aku terdiam, mencoba mengerti
setiap kata-kata yang dikeluarkan lelaki yang sedari tadi tak mempersilakan aku
duduk disampingnya, aku dibiarkan berdiri olehnya. “Kenapa kamu tidak
berkenalan dengannya?”
Dia menatapku, tatapannya
berubah, ada kesedihan disana, ada penantian disana dan cinta tak terucap
disana. “Mungkin aku akan punya nyali saat dia menyadari kehadiranku. Tapi,
sampai saat ini sekedar mengarahkan pandangannya kearahku pun tidak pernah ia
lakukan.”
Aku mengarahkan pandanganku
kearah perempuan yang masih menatap kearah lawan arah dari tempat kami berada,
aku memang belum pernah melihatnya menatap lelaki ini layaknya lelaki ini
menatap perempuannya.
“Aku ingin bertanya hal yang sama
dengan perempuanmu. Aku permisi.” Aku pamit, kepergianku tak dihiraukan
olehnya. “Maaf, satu hal yang harus kau ketahui, mungkin perempuan itu tidak
pernah melihat kearahmu, tapi tidak adakah kau niat untuk mengubah arah
pandangannya kearahmu? Cinta bukan tentang menunggu, tapi cinta harus ada yang
memulai.” Aku melangkahkan kakiku lagi.
Lelaki itu
hanya terdiam, seakan tak mengerti maksud perkataanku, tapi dari wajahnya dia
bukanlah orang yang bodoh.
Aku mulai berada didekat
perempuan yang sedari tadi tak mengubah arah pandangannya, sejenak aku melihat
lelaki yang bisa diam diujung sana, seakan tak memperdulikan aku yang berada
diantara mereka.
“Permisi.” Aku mulai menyapanya
sama dengan sapaan yang sama kepada lelaki tadi.
Berbeda dengan lelaki yang tadi,
perempuan ini terlihat lebih ramah, matanya indah meski terlihat sendu, seperti
ada rasa sakit yang sedang ia rasakan. Ia mempersilakan aku untuk menempati
tempat kosong disebelahnya.
“Sejak beberapa hari yang lalu, aku
selalu melihatmu disini. Apa ada yang kau tunggu?”
Dia mengarahkan pandangannya lagi
kearah yang sama, menatap layar handphonenya. “Dia.” Jawabnya singkat, dia
melihat jam tangan di tangan kanannya. “Dia yang meninggalkanku begitu saja.”
“Kekasihmu?”
Dia menggeleng lemas, “Hanya
teman, teman yang selalu ada disetiap malamku, selalu hadir saat aku
membutuhkannya, tak bosan terus menyapa saat aku tak menghiraukan sapaannya.”
“Kalian dekat lalu dia tiba-tiba
meninggalkanmu? Kau menyukainya?”
Dia menatapku, “Apa kau fikir aku
menyukainya?”
“Lalu apa alasanmu menunggunya
jika kau tak menyukainya?”
Dia tak langsung menjawab
pertanyaanku. Kami diam beberapa menit, aku melihat lelaki itu masih saja
menatap perempuan disampingku tanpa jenuh.
“Aku terlanjur nyaman dengan
keberadaannya yang selalu mengisi hari-hariku yang hampa.”
Kini, giliran aku yang dibuatnya
terdiam.
“Dia yang selalu hadir dengan
caranya, meyakinkan aku dengan cintanya kepadaku, berusaha membuat aku tertawa
kala aku lelah dengan aktivitasku. Dan kini, dia pergi dengan wanitanya yang
sesungguhnya.”
“Dia mendekatimu kala dia sudah
punya perempuan?”
Perempuan itu menggeleng, “Dia
mendekatiku dan perempuan lain. Dan ketika hatiku tak kunjung luluh, perempuan
lainnya mampu membuatnya jatuh cinta. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi
dengan perempuan itu, meninggalkan aku yang sedang berusaha meyakinkan hatiku.”
“Lalu untuk apa kau masih
menunggunya? Berharap dia datang lagi? Kamu fikir dia akan datang lagi
kepadamu?”
Dia diam, tak menjawab pertanyaanku.
Ia hanya memandangi layar handphonenya yang sedari tadi ia pegang.
“Apa kau tahu ada lelaki yang
selalu memandangimu di ujung sana?” Aku mulai membahas lelaki yang sedari tadi
masih memperhatikan kami dari jauh, bukan, dia hanya memperhatikan perempuan
disampingku.
“Siapa dia? Temanmu?”
Aku tertawa untuk beberapa menit,
setelahnya aku menghentikan tawaku saat aku menyadari ada tatapan tajam dari perempuan yang disampingku, tatapannya seperti melihat
orang asing. “Aku bahkan belum sempat berkenalan dengannya.” Aku menatap
perempuan yang mulai tak memperdulikan lelaki itu lagi.
“Sejak lama, tempat itu menjadi
tempat favoritnya, untuk memperhatikan perempuannya yang tak pernah melirik
kearahnya. Dia mempunyai hobi baru, yaitu menunggu waktu saat bisa berjumpa
dengan perempuannya, meski tak pernah berkenalan dengan perempuannya, dia mulai
jatuh cinta dengan kegiataannya memperhatikan perempuannya dalam diam. Tak
pernah terlihat tapi terlihat jelas. Kau tahu siapa perempuan itu?”
Perempuan itu menggeleng, dia
mulai menatapku, memperhatikan gerak bibirku, memahami ucapanku.
“Kau.” Kataku dengan senyum
mengembang. Bahagia rasanya saat kau sudah bisa membantu seseorang untuk
melihat keadaan yang sebenarnya mampu membuatnya jauh lebih bahagia. “Dia tak
pernah menyapamu, tapi dia berjanji dia akan memulai saat kau mulai menyadari
kehadirannya. Dia tak pernah mau mengganggu sedikitpun urusanmu. Yang dia butuh
hanya kau yang selalu datang ke taman ini.”
“Kau tau semua itu darimana?”
“Aku sempat berbincang dengannya
terlebih dahulu sebelum aku menghampirimu.” Kataku.
Dia mengangguk, melihat lelaki
yang masih memperhatikannya sejenak, lalu mereka saling melempar senyum.
“Aku harus permisi.” Aku bangkit
dari dudukku, melempar senyum kearah lelaki yang mulai menyadari kehadiranku. “Tidak
selamanya dia akan terus berada disana untuk memperhatikanmu dengan diamnya,
mungkin suatu ketika dia akan meninggalkanmu yang tak pernah menyadari
keberadaannya. Tapi, aku melihat ketulusan dari matanya. Bahkan sedari tadi
kita berdua duduk disini, ia hanya menatapmu, memperhatikanmu, ia tak menghiraukan
kehadiranku, fokusnya hanya tertuju kepadamu. Lalu, kau masih mau menunggu
lelaki yang sudah meninggalkanmu sedangkan ada lelaki yang selalu menemanimu
ditaman ini, menjagamu dari jauh?” Aku meninggalkannya.
Ia masih terus menatap lelaki yang
mulai mendekat kearahnya.
Aku membalikkan tubuhku, melihat
mereka sedang berbincang dengan sangat kaku. Satu sama lain diantara mereka tak
tahu bagaimana cara harus memulai. Mereka berada didaerah nyaman mereka, diam.
Tak ada yang berani memberontak dari tempatnya. Mereka terlalu asik dengan
dunia mereka sendiri, mereka terlalu asik untuk berbincang dengan hatinya.
Aku terduduk di pinggir danau,
dari tempatku sekarang aku masih bisa melihat mereka dengan senyum
masing-masing yang tiada henti. Baru beberapa menit mereka saling sapa, tapi
aku melihat mereka seperti sudah lama berjumpa. Saling tertawa tanpa canggung
lagi, perempuannya tidak terlihat seperti sedang menunggu lagi, matanya masih
terlihat sendu, namun ia sudah bisa tersenyum lebih lama.
“Makasih ya.” Lelaki itu sudah
ada dihadapanku, entah sejak kapan. “Kamu benar, seharusnya aku lebih berani
untuk memulai. Diam tak membuat aku mendapatkan apa yang aku inginkan.”
Aku mengangguk.
“Aku pergi dulu. Semoga kau bisa
mendapatkan kebahagianmu.” Lelaki itu meninggalkanku yang sedang mengamini
doanya barusan.
Aku masih memperhatikan lelaki
itu yang membelakangiku, punggungnya mulai samar-samar terlihat. Disana, aku
bisa melihat si perempuan sedang menunggunya. Setelahnya, mereka berjalan
beriringan. Tak ada lagi handphone yang digenggam si perempuan, tak ada lagi ia
yang memperhatikan jam tangannya. Mereka sibuk dengan perbincangan mereka,
perbincangan yang baru dimulai beberapa menit yang lalu.
Ketika kamu hanya diam, kamu takkan mendapatkan cintanya. Cinta bukan
soal menunggu, tapi cinta soal memulai. Kau yang mulai untuk jatuh cinta, kau
pula yang berhak memulai untuk menunjukkan cinta itu.
Terlalu menunggu seseorang, terkadang membuatmu tak menyadari akan
kehadiran oranglain yang ingin membuatmu bahagia. Lihat sekelilingmu, adakah
orang yang selalu berusaha membuatmu tersenyum kala kau menangis? Adakah orang
yang selalu menantimu kala kau tak hadir dihadapannya? Jika ada, sesungguhnya
kau lebih pantas berbahagia dengannya dibandingkan harus menunggu dia yang tak
kunjung datang untuk menanyakan kabarmu.
"Ketika kamu hanya diam, kamu takkan mendapatkan cintanya. Cinta bukan soal menunggu, tapi cinta soal memulai. Kau yang mulai untuk jatuh cinta, kau pula yang berhak memulai untuk menunjukkan cinta itu."
BalasHapusKeren kak, kenapa ga bikin buku yang isinya kumpulan cerpen aja? Hehe, salam kenal yaa :D
Terima kasih udah baca ya, Tiar. hehehe. Pernah ada jg yang nyaranin kaya gitu dan ini lagi difikirin jg sih hehehe. Salam kenal juga!:-)
HapusBaca ini jadi ingat lagunya Tulus-Tuan Nona Kesepian. Hehe. :3
BalasHapusSometimes, yang selalu ada ttp gabakal bisa gantiin yg istimewa. Huh.
Saya baru dengerin lagunya nih;D
HapusAh, kamu jadi curcol gituuuuuu. hehehe terimakasih sudah membaca ya:)
Keren nih cerpennya, meskipun romancenya agak mainstream, tapi tetep kece :D
BalasHapussalam kenal~
Hehe iya nih masih main yang mainstream-_- terimakasih sudah membaca ya:-)
Hapus