Fachri masih
saja menatap gadisnya dari jauh, gadis yang mampu membuat tidurnya tak nyenyak,
gadis yang mengisi satu ruang di otaknya. Dia masih menatap gadisnya dalam
diam, gadis yang sedang dikelilingi teman-temannya. Gadis didepannya masih
sibuk dengan perbincangan diantara remaja perempuan yang sedang berkumpul. Gadisnya
tidak pernah menatap kearahnya. Tidak pernah menyadari seseorang yang
mengamatinya dalam diam.
Waktu terus
berputar, tak pernah berhenti sejenak meski Fachri masih saja diam-diam mengagumi
wanitanya. Menikmati setiap waktunya dalam angan-angannya sendiri. Menikmati
setiap waktunya dengan tatapan yang was-was.
“Lu deketin aja
salah satu temennya, Ri.” Leo mulai mengambil posisinya, menyambar makanan di
hadapan Fachri yang dibiarkan begitu saja oleh sang pemiliknya.
“Maksudnya?”
Leo menelan
makanan milik Fachri tanpa sisa, menahan tawa untuk sahabatnya. “Gini ya, Leany
itu deket sama Nina. Nah, deketin aja Leany biar lu bisa deket sama Nina. Leany
itu lebih gampang didekati dibandingkan Nina yang selalu dikelilingi lelaki.”
Fachri menatap
sahabatnya ini dengan mata seksama. Mulai mempertimbangkan saran yang tak
pernah terfikirkan sebelumnya olehnya.
“Leany.” Leo
berteriak dengan suara yang sangat keras membuat seorang perempuan yang sedang
memesan minuman menoleh, bukan hanya perempuan itu, tapi banyak orang yang
mengarahkan pandangannya ke mereka berdua. “Temen gue ada yang mau kenalan.
Ikut yuk.” Leo sudah bersiap menarik tangan Leany yang sejak tadi hanya diam.
Fachri melihat
seksama gadis yang sedang berjalan dibelakang sahabatnya. Mereka saling tahu,
meski tak saling kenal. Leany adalah gadis yang selalu berhasil menempati
posisi juara umum setiap tahunnya, meski tak se-populer Nina, namun ia sangat
terkenal dimata guru-guru. Gadis yang jarang terlihat ikut ke dalam kelompok
para perempuan dengan segala hal yang selalu mampu dijadikan bahan bicara. Ia
adalah gadis yang menghabiskan waktu istirahatnya dengan maksimal, tak pernah
mau membuang-buangnya dengan hal yang tak pernah memberikan manfaat untuknya.
“Fachri.” Ucap Fachri
akhrinya setelah lima menit hanya terdiam, ia mengulurkan tangannya.
“Leany.”
Jawabnya singkat dengan balasan uluran tangan yang singkat juga. “ Ada perlu
lagi? Gue lagi ditunggu Bu Rini di ruangannya.”
“Buat lomba antar
sekolah itu ya?” Tanya Leo dengan kunyahan makanan yang belum ia habiskan.
Leany hanya
mengangguk. “Gue duluan ya.” Katanya berlalu.
Tak ada yang
menjawab kepergiannya. Hanya tatapan yang mengiringi setiap langkah kaki Leany.
Fachri mulai tak memperdulikan Leany dengan langkah cepatnya, ia mulai
menyeruput habis sisa minumannya.
“Lu bilang dia
lebih gampang dideketin dibanding Nina?” omel Fachri setelah benar-benar yakin
Leany sudah menghilang dari sekitarnya. “Ini mah gue dua kali kerja. Cewek kaku
kaya gitu lu bilang gampang.”
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
“Lean.” Fachri
berlari kecil untuk mengejar langkah seseorang didepannya. “Leany.” Panggilnya
lagi.
Leany menoleh
kearahnya. “Ada apa?”
“Hmmm…. Ada yang
gue ngga ngerti soal ini.” Dia menunjukkan sebuah soal yang sudah ia persiapkan
sebelumnya. “Bisa tolong ajarin nggak?”
Leany menatap
seksama Fachri, ia tidak percaya begitu saja kalau Fachri tidak mengerti jenis
soal seperti ini. Meski tak pernah menempati posisi 5 besar juara umum, tapi ia
cukup tahu Fachri adalah anak yang cukup pintar dikelasnya. Ia pernah menjuarai
satu lomba antar kelas. “Yaudah, nanti gue juga mau belajar sama Nina. Dateng
aja. Kalau mau, ajak Leo biar lu ngga sendirian.” Katanya.
Ia tersenyum
sumringah. Ternyata, Leo cukup berbakat untuk dijadikan mata-mata. “Oke, nanti
ya.” Katanya dengan senyum yang terus mengembang. “Yaudah, gue duluan ya.” Ia
berlari meninggalkan Leany seorang diri.
Ada yang berbeda
dihatinya saat melihat senyum yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ada yang
bergetar dihatinya. Ada yang membuat matanya tak berkedip, mulutnya tak bisa
mengucapkan apapun, dan kakinya yang masih saja mematung disana. Ia mulai jatuh
cinta dengan seseorang yang selama satu minggu ini mencoba mendekatinya. Aku jatuh cinta padanya? Seseorang yang
belum pernah aku kenal sebelumnya. Apa cinta datang hanya dalam waktu seminggu?
Mereka berempat
sudah berada disebuah saung kecil yang berada dibelakang rumah Nina. Tempat
favorit untuk Leany ketika ia mulai suntuk dengan buku-bukunya. Tempat
favoritnya ketika membantu Nina untuk setiap kesulitannya dalam belajar. Tempat
favoritnya ketika kamarnya mulai tak lagi mengasyikan, Nina memang membebaskan
Leany untuk datang kapan saja yang ia mau.
Leany yang
sedari tadi menjelaskan berbagai macam soal untuk ketiga temannya mulai
mengambil posisinya untuk mengerti materi untuk perlombaan minggu depan. Fachri
mulai meluncurkan jurus-jurusnya untuk mendekati Nina. Tanpa disadari, ada yang
2 hati yang tak menentu disana. Hati milik Fachri dan hati milik Leany.
Waktu hari ini
terasa cepat berlalunya untuk Fachri yang mulai mendekati Nina. Sore sudah
datang, matahari sudah mulai mengistirahatkan dirinya. Leany sudah membereskan
semua buku miliknya. Fachri membereskan bukunya dengan setengah hati, ia mengutuk
hari ini yang terlalu cepat berlalu. Ia masih sangat ingin menikmati
waktu-waktu seperti ini.
“Lu yang
nganterin Leany kan, Ri?” Tanya Nina ketika ketiga temannya masih sibuk dengan
buku-bukunya yang tak beraturan dimana-mana.
“Eh……iya.”
Katanya seraya menatap Nina sejenak, lalu mengarahkan pandangannya ke Leany yang
tak memperdulikan perbincangannya dengan Nina.
Akhirnya waktu
yang tak diinginkan Fachri pun tiba. Mereka bergegas meninggalkan saung kecil
milik Nina menuju pintu depan, pintu utama rumah Nina. Dan akhirnya, ini
benar-benar terjadi, Fachri sudah berada diatas motornya, bersiap meninggalkan
Nina yang berdiri diujung pintu dengan rasa berat. Leany sudah duduk
dibelakangnya, dan ia benar-benar harus mengakhiri waktu yang tak ingin
diakhiri.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
“Ayo, Leany
pasti bisa……” Suara itu memenuhi ruangan ini.
Hari ini adalah
hari yang sangat mendebarkan untuk Leany. Perlombaan sudah ada didepan mata,
kini ia hanya cukup membuktikan sebuah latihan akhir-akhir ini tak ada yang sia-sia.
Semua yakin Leany bisa, segala usaha sudah dilakukan maksimal oleh gadis ini. Tak
ada waktu yang terlihat ia buang dengan sekedar bercengkerama dengan teman
sebayanya. Setiap hari latihan, setiap saat berhadapan buku.
Suara yang
terus-menerus meneriaki namanya, tidak cukup membangkitkan semangatnya. Matanya
masih saja beredaran ke setiap sudut ruangan ini. Ia masih mencari seseorang
yang berjanji akan datang hari ini. Fachri.
Perlombaan pun
dimulai, tanpa bersedia menunggu seseorang yang menghadirkan semangat
tersendiri untuk Leany. Leany berusaha untuk tak memperdulikan perasaan kecewa
yang datang, ia harus fokus. Ia harus fokus. Ia terus meyakini dirinya sendiri.
Score Leany masih unggul dibandingkan 4 lawannya. Perlahan-lahan,
konsentrasinya mulai tak konsen, ia mulai tak bisa bekerjasama dengan rasa
kecewa yang semakin tak tertahankan.
“Leany……..
Semangat!”
Leany
mengarahkan pandangannya kearah asal suara yang meneriaki namanya. Dan dialah
seseorang yang sedari ia tunggu. Seseorang yang sejak tadi membuatnya tak
menentu. Kini, Leany berada di posisi ketiga. Leany semakin gugup, ia tak bisa
mengkondisikan dirinya agar baik-baik saja. Ia semakin kehilangan
konsentrasinya ketika ia sadar waktu-waktu perlombaan akan segera berakhir.
Scorenya masih menduduki tempat ketiga, dan hingga akhir pertandingan tak ada
yang berubah. Leany menduduki juara ketiga. Tidak terlalu buruk, tapi menurut
Leany ini sangat buruk.
Leany memilih
menyendiri disebuah taman tak jauh dari ruangan tempat perlombaan. Tak ada yang
melihatnya, tak ada yang mendengar tangisannya. Ia menangisi kebodohannya yang
tak bisa mengatur hatinya, andai saja tadi ia tak memikirka kedatangan Fachri,
semua mungkin akan lebih baik. Ia masih menangis, membiarkan pialanya berada
disampingnya. Tak disentuhnya sama sekali. Tak ditatapnya.
“Hai….” Suara
itu berhasil menghentikan tangisannya, dengan gerakan cepat ia menghapus
airmata yang ada di pipinya. “Ngga perlu dihapus, udah ketauan kok kalau lu
lagi nangis.” Ia mendekati gadis yang sedang mengutuk dirinya sendiri ini,
mengambil posisi disampingnya.
Leany memeluk
Fachri sudah disampingnya. Mencurahkan airmata yang dari tadi ia tahan. Ia
meletakkan kepalanya didada milik lelaki yang masih terdiam terpaku ini. Fachri
tidak tahu harus seperti apa, ia tidak mengerti kenapa jantungnya terasa
berdetak lebih cepat, ia tidak tahu kenapa secara tiba-tiba tangannya membalas
pelukan Leany, mengelus lembut kepala Leany.
“Ini hasil
terbaik, ny.” Katanya, akhirnya.
Leany masih saja
menangis tanpa henti. Rasanya nyaman sekali menangis dalam dekapan Fachri.
Masih menikmati setiap tetesan yang mengalir dari matanya.
“Leany.”
Panggilnya.
Leany segera
melepaskan pelukannya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Kenapa ia bisa
menjadi sebodoh ini, memeluk cowok dengan sembarangan. “Maaf. Tadi gue terlalu
sedih.” Katanya, masih dengan wajah yang mengarah ke tempat lain.
Fachri tak
menjawab, bahkan satu sisi hatinya merasa tak apa-apa jika Leany tetap
memeluknya.
“Gue pulang
duluan ya.” Leany bergegas, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi, yang ia tahu
hanya ia harus menyembunyikan rasa malunya.
“Lean.” Fachri
menahan tangan Leany. Mereka berhadapan berbeda 3 langkah. “Ini hasil terbaik
dari usaha selama ini, jangan pernah merasa gagal. Karena, semua orang sudah
menganggap lu hebat.” Katanya pelan.
“Banyak yang mau
jadi kaya lu, lalu apa pantes lu benci diri lu cuma karena ini?” Ia menggenggam
erat tangan seorang gadis yang sedari hanya menatapnya. “Bukannya lebih banyak
prestasi lu dibandingkan kegagalan lu?”
Leany masih terdiam
ditempatnya. Ia hanya menikmati setiap kata-kata yang Fachri keluarkan,
menikmati tatapan damai dari mata lelaki dihadapannya dan menikmati desiran
hati yang tak pernah ia rasa sebelumnya.
“Kita pulang
ya.” Katanya lagi. Leany hanya mengikutinya dari belakang. Tak ada jawaban
untuk kata-kata yang Fachri ucapkan.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
“Kok lu makin
deket sih sama Leany?”
“Emangnya
kenapa?” Fachri menjawab sekenanya, ada yang aneh dari pertanyaan sahabatnya.
“Inget rencana
awal kan, Ri?” Leo mulai menghentikan kegiataannya mengunyah makan sedari tadi.
Menatap seksama sahabatnya yang seakan tidak peduli dengan pertanyaannya.
Fachri
mengangguk. Ada keraguan disana, ia tak mengerti kenapa rasanya ia mulai lupa
dengan rencana awalnya. Kenapa rasanya ia mulai nyaman dengan keadaan saat ini.
Ia tidak tahu kenapa ia mulai menikmati setiap detik yang terlewati bersama
Leany, menemaninya menghabiskan malam minggu dengan buku-buku yang tak pernah
dilupakannya.
“Lu suka sama
cewek yang lu bilang kaku itu?”
Fachri
tersendak, “Apaansih? Aneh-aneh aja deh.”
“Ya terus
gimana? Nina kan udah mulai deket sama lu, yaudah sekarang lu minta nomornya
sama Leany.”
Fachri hanya
diam. Ia semakin tidak tahu harus menjawab seperti apa lagi untuk pertanyaan
sahabatnya. Bahkan ia pun tidak tahu apa yang ia rasa saat ini, ia bingung.
Leo menatap
Fachri curiga. “Lu nggak beneran suka kan sama dia?”
Fachri masih diam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mengerti hatinya yang merasa takut
kehilangan Leany. “Dia orang baik, gue ngga ngerti harus kaya gimana
ngomongnya.” Fachri menatap gelas minumannya, tak ada niat lagi untuk
menyeruputnya lagi. Ia terlalu bimbang dengan pilihannya sendiri. “Tapi, gue
salah nggak sih mengikuti dia untuk urusan gue sendiri?”
“Terlalu egois.”
Seseorang menyambar pembicaraan diantara mereka.
Fachri menatap
kearah suara dibelakangnya, tak berkedip beberapa menit, Leo hanya menunduk
merasa bersalah setelah tahu seseorang yang dijadikan bahan pembicaraannya ada
dihadapannya saat ini. Leany, seseorang ada dibelakangnya, seseorang yang
mendengar pembicaraan dua cowok ini dari jauh, seseorang yang merasa tertipu
dan seseorang yang hatinya hancur.
“Kenapa ngga
bilang ada dia?” ia mencibir Leo. Leo dan Fachri masih saling melempar tatapan.
“Kok ngga dijawab,
Leo?” Leany mengarahkan pandangannya ke Leo yang masih menunduk diam, ia mulai
menahan rasa sesak dihatinya. Menahan airmata yang sudah dikelopak matanya.
Hening. Masih
tak ada jawaban dari dua cowok dihadapannya.
“Ini nomor
telepon Nina, jadi kalian ngga perlu repot-repot lagi minta ke gue dan kalian
ngga perlu repot-repot berurusan dengan cewek kaku seperti gue lagi.” Leany
meletakkan secarik kertas kecil bertuliskan nomor Nina. Leany meninggalkan dua
cowok yang hanya diam ini.
“Lean.” Fachri
menahan tangannya, “Gue mau ngejelasin semuanya. Jangan salah paham.”
Leany menatap
malas Fachri, tak menjawabnya lalu ia meninggalkannya begitu saja.
“Leany”
Panggilnya lagi, berusaha mencegahnya pergi tapi langkah perempuan yang sedang
marah kadang memang lebih cepat.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Hari ini entah
sudah hari keberapa, lelaki ini mencoba untuk tetap berada disamping Leany,
menikmati setiap waktu istirahat bersama seperti dahulu, namun nyatanya
perempuannya selalu mengelak. Kini, tak ada lagi rasa bosan dengan tumpukan
buku dihadapannya, bahkan kini ia sangat ingin mengulang semuanya. Ia rindu
menatap wajah serius milik Leany, mendengar setiap penjelasan tentang pelajaran—yang
sebenarnya ia sudah mengerti.
Hari ini entah
sudah hari keberapa, Leany selalu menghindar darinya, tak pernah memperdulikan
panggilannya, tak membalas pesannya, mengacuhkan setiap kata-kata yang ia
katakan. Tak memperdulikan tatapannya yang penuh rasa bersalah. Leany selalu
mengeluarkan langkah cepatnya ketika mereka bertemu. Selalu begitu untuk
beberapa hari ini.
Hampa. Entah
kenapa menjadi sangat hampa ketika ia tak bisa lagi mengantar Leany kerumahnya,
entah kenapa ia merasa sangat kehilangan ketika ia sudah tidak bisa melihat
senyum Leany, rasanya menjadi aneh ketika ia melihat tumpukan buku tanpa Leany
didepannya. Rasanya ingin memeluknya lagi seperti dahulu kala agar ia tak bisa
pergi darinya.
Fachri diam
ditempat favoritnya, masih memandangi wanitanya dari jauh, tak berani
menegurnya, bahkan untuk mendekat pun ia tak pernah bisa. Ada rasa tak enak
saat langkah kakinya ingin menghampiri perempuannya yang sedang sendiri. Hatinya
selalu memaksanya untuk mendekat namun raganya masih terlalu kuat untuk menahan
keinginan hatinya. Ia masih menikmati waktu yang terus berputar dengan tatapan
yang tak berpaling dari gadis yang sedang membaca buku favoritnya didepan sana.
“Lean.” Katanya
setelah beberapa menit ia hanya berdiri dari jauh.
“Mau sampai
kapan kaya gini? Kenapa selalu ngehindarin gue? Kenapa ngga pernah kasih gue
kesempatan untuk ngejelasin semuanya?” Tanyanya saat Leany berusaha untuk pergi
darinya. Tangannya langsung menahan tangan Leany, sepertinya ia memang takut
kehilangan perempuan didepannya ini.
Leany masih diam
ditempatnya, membiarkan tangannya digenggam erat Fachri, tapi tak memperdulikan
cowok dibelakangnya. Ia masih sulit untuk berhadapan dengan cowok ini, hatinya
masih terasa sangat sakit ketika ia sadar, jika ia bukanlah yang sebenarnya
diinginkan Fachri. Matanya selalu memanas ketika ia sadar, semua perilaku manis
Fachri tidak sepenuhnya untuk dirinya. Dadanya semakin sesak ketika ia sadar,
ada cinta yang mulai tumbuh untuk Fachri, lelaki yang sudah menipunya, lelaki
yang menganggapnya sebagai cewek yang kaku, lelaki yang hanya menjadikannya
cara agar bisa dekat dengan Nina.
Mereka masih
diam ditempat masing-masing, Fachri tidak tahu harus memulainya dari mana,
Fachri tidak tahu kata-kata seperti apa yang harus ia katakan lagi. Dan Leany,
masih diam. menahan rasa tak menentu dihatinya, masih diam dengan segala rasa
kecewanya. Leany hanya diam ditempatnya agar tetap bisa menahan semua
amarahnya, menahan airmata yang akan menetes setiap mereka bertemu, menahan
setiap rasa sakit yang datang tiba-tiba. Ia tidak tahu bagaimana harus
mengeluarkan semuanya, ia tidak pernah tahu bagaimana cara agar ia tak menangis
setiap kali ia rindu dengan lelaki yang sudah menipunya. Ia tidak pernah tahu,
ia bisa apa agar ia bisa menjadi Leany sebelum perkenalannya dengan Fachri,
sebelum Leany dibuat jatuh cinta kepada Fachri.
“Kadang, ada
beberapa peristiwa yang lebih baik jika tanpa penjelasan, Ri.” Katanya.
“Bukannya peran gue udah selesai? Disini tinggal lu sama Nina yang jadi peran
utamanya kan?”
“Kadang yang lu
fikirkan bukan yang sebenarnya terjadi, Lean.” Fachri memutar tubuh Leany agar
berhadapan dengannya. “Terkadang, kita akan menjadi nyaman dengan sebuah
tahapan dan akhirnya lupa dengan rencana awal kita. Begitulah gue.” Katanya,
lembut. Sangat lembut.
Leany berdiri
didepannya, tak ada jawaban untuk perkataannya barusan. Ia hanya menunduk, satu
tetesan dari matanya baru saja menetes. Ia masih saja menangis saat suara yang
ia rindukan itu ia dengar, ia rindu tapi ia masih menolak untuk mendengarnya. Ia
mengeluarkan airmatanya yang tak pernah habis. Ia mengeluarkan rasa rindunya
bersama airmata yang tak pernah usai. Jika ia bisa, ia ingin memeluk cowok
dihadapannya, ia ingin melepaskan rindu yang menyesakkan dadanya, rindu yang
hanya bisa ia rasakan sendiri kala malam datang. Namun, ia tak bisa melakukannya,
raganya menjadi kaku ditempatnya, tak mengizinkannya untuk bergerak sedikit
pun.
“Lu yang buat
gue nyaman sama tahapan gue, lu yang buat gue lupa dengan rencana awal gue, gue
lupa sama target awal gue, Lean.” Jelas Fachri.
Hening. Tak ada
reaksi yang dikeluarkan Leany, tak ada penjelasan lebih lanjut dari Fachri.
Kini, mereka sama-sama saling diam, membiarkan angin menyapa lembut telinga
mereka, membiarkan waktu terbuang sia-sia, membiarkan tangan tetap saling
menggenggam. Mereka hanya diam, menikmati rasa mereka masing-masing, mencoba
menerka semuanya sendiri.
“Gue nyaman sama
lu.” Katanya lagi, suaranya berat. Sepertinya ia membutuhkan waktu cukup lama
untuk meyakinkan sebuah kalimat yang baru saja ia katakan. “Mungkin, gue mulai
sayang sama lu.” Katanya lagi. Suaranya semakin berat.
Leany
mengarahkan pandangannya kepada cowok yang sedari tadi menggenggam tangannya,
tak melepasnya sedetik pun. Leany menatap cowok yang sedari tadi menatapnya
tanpa meminta untuk ditatap. Mata mereka bertemu. Saling mencoba menyelami
dalamnya tatapan mata indah lawan bicaranya, mencoba untuk menerka isi
fikirannya. Mereka masih saling tatap untuk persekian menit.
Leany kalah. Ia mengalihkan
pandangannya lagi kearah rumput yang ia injak. Jantungnya sudah berdetak sangat
cepat sejak mata mereka bertemu, tangannya mulai terasa sangat dingin, wajahnya
mulai memerah. Ia kalah saat tatapan damai Fachri terus terarah ke bola mata
miliknya. Ia kalah saat matanya mulai menembus setiap kejadian yang pernah
terlewati dahulu, lututnya menjadi lemas saat ia melihat bagaimana manisnya
Fachri saat pertama kali mereka berkenalan, dadanya menjadi semakin sesak saat
ia lihat Fachri yang memeluknya penuh lembut saat ia kalah lomba, matanya mulai
memanas saat ia lihat Fachri yang selalu menjemputnya dan mengantarnya pulang. Dan
ia kalah, airmatanya menetes begitu saja saat ia lihat Fachri dan Leo yang
sedang membicarakannya dan Nina. Ia kalah telak, pertahanannya hancur begitu
saja.
“Lean……”
Panggilnya saat ia sadar Leany menangis. “Maaf.”
Masih tak ada
reaksi dari Leany. Gadis ini masih menangis.
Fachri melepas
genggaman tangannya. Entah apa yang merasuki dirinya, tiba-tiba saja ia rasa ia
sudah sangat melukai gadis dihadapannya. Ia sudah sangat menyakiti gadisnya. Ia
sadar, Leany sangat terluka oleh sikapnya. Ia sadar, Leany tak ingin kenal
dengan dirinya lagi setelah yang ia perbuat kemarin.
“Gue ngga mau
memaksa kehendak gue lagi. Gue tau lu yang sangat tersakiti disini,
terikutcampurkan untuk urusan gue sendiri. Tapi, akhirnya gue juga harus
merasakan sakitnya juga. Sakit saat gue sadar, gue udah membuat orang yang gue
sayang sakit. Sakit saat gue sadar, gue mulai nyaman sama lu, tapi saat gue
udah ngga bisa ngerasain nyaman itu lagi.” Katanya, pelan. “Maafin gue Lean. Maaf
sudah mengikutsertakan lu dan maaf sudah lancang menyimpan perasaan ini. Maaf.”
Katanya lagi. Fachri memutar tubuhnya, melangkahkan kaki dengan hati yang
hancur. Sebelumnya, tak pernah ia rasakan sakit yang seperti ini. Rasa sakit
saat melihat gadis yang disayanginya menangis dihadapannya karena perilakunya,
namun ia tak bisa apa-apa selain mengucapkan kata maaf. Menatap gadisnya dari
jauh bahkan jauh lebih baik dari melihatnya dari dekat tapi dengan airmata yang
terus menetes dari mata indah miliknya.
Leany hanya
melihat lelaki itu melangkahkan kakinya perlahan, ia bisa rasa hati milik
Fachri masih berada ditempatnya berdiri, hanya raganya yang meninggalkannya. Dadanya
semakin sesak saat ia sadar, lelakinya semakin menjauh darinya.
“Kalau gue minta
lu tetap disini, apa lu bakal tetap disini?” Leany mulai mengeluarkan
kata-katanya, ia tidak bisa terus membohongi hatinya, ia tidak sanggup jika
terus berpura-pura baik-baik saja tanpa Fachri disampingnya.
Fachri memutar
tubuhnya lagi, melihat gadisnya sedang menantinya disana.
“Gue udah maafin
lu.” Katanya, Leany tersenyum. Senyuman sangat tulus darinya, senyuman yang
belum pernah Fachri lihat sebelumnya, manis. Sangat manis.
Fachri
melangkahkan kakinya lagi, mendekat ke gadisnya yang masih tersenyum. “Lu
beneran maafin gue?” Tanyanya, ia masih ragu, kesalahannya yang sangat
menyakitkan gadisnya bisa dengan mudah dimaafkan begitu saja.
Leany
mengangguk, “Hati disini lebih memegang perannya, Ri. Dan gue ngga bisa
ngebohongin semuanya lagi.”
“Terus kita?”
Fachri menggenggam tangan Leany lagi. Entah apa bedanya, tapi genggaman
tangannya kali ini terasa lebih pasti. “Lu mau jadi cewek gue?”
Leany diam. Senyumnya
tiba-tiba menghilang. Bukan karena ia tak menyukai lelaki ini, bukan. Tapi,
hatinya masih sangat ragu untuk ini.
“Lean….”
“Maaf, gue belum
bisa.” Katanya pelan. Satu sisi hatinya takut Fachri akan meninggalkannya
begitu saja saat ia tahu cintanya tak diterima. “Gue masih butuh ngeyakinin
semuanya. Ngeyakinin hati gue, hati lu, dan semuanya.” Katanya lagi.
Fachri tak
terlihat seperti orang yang sedang patah hati, ia tak melepas genggamannya, bahkan
genggamannya semakin erat. “Gue bakal ngebuktiin semuanya kalau lu ngasih
kesempatan untuk ngebuktiin semuanya, bahkan kalau pun lu ngga ngasih
kesempatan gue untuk ngebuktiin rasa ini, gue akan tetap ngebuktiin kalau gue
benar-benar sayang sama lu. Gue ngga mau lu pergi jauh dari gue.”
Mereka
tersenyum, saling tersenyum bahagia. Tak ada yang lagi rasa sakit yang terlihat
dimata mereka, semuanya seakan sudah lewat dan terlupakan. Kini, hanya ada
cinta yang tergambar jelas diraut wajah masing-masing. Saling menganggumi satu
sama yang lain dengan caranya sendiri.
Meski cintanya
tak diterima, tapi Fachri melihat cinta untuknya dari Leany. Tak mau memaksakan
kehendaknya, ia biarkan Leany melihat perjuangannya untuk cintanya. Biarkan
Leany yang menilai seperti apa cinta yang ada untuknya. Fachri masih
menggenggam tangan gadisnya, tak melepasnya sedikit pun, bahkan untuk sekian
detik pun tidak.
“Jangan berubah
ya, tetap jadi cewek kaku sama semua cowok.” Bisik Fachri, “Tapi jangan sama
aku.” Bisiknya lagi diakhiri tawa yang menggodanya.
Mereka tertawa,
menikmati waktu yang terus berputar dengan cara mereka berdua. Membiarkan
rumput-rumput ikut merasakan rasa bahagia yang tak pernah terasakan sebelumnya.
Dan disini mereka berada, sebuah taman kecil tak jauh dari sekolah. Dan disinilah
mereka mencoba untuk merangkai lagi kisah yang sempat terputus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.