Minggu, 18 Mei 2014

Bukan Target Awal

Fachri masih saja menatap gadisnya dari jauh, gadis yang mampu membuat tidurnya tak nyenyak, gadis yang mengisi satu ruang di otaknya. Dia masih menatap gadisnya dalam diam, gadis yang sedang dikelilingi teman-temannya. Gadis didepannya masih sibuk dengan perbincangan diantara remaja perempuan yang sedang berkumpul. Gadisnya tidak pernah menatap kearahnya. Tidak pernah menyadari seseorang yang mengamatinya dalam diam.

Waktu terus berputar, tak pernah berhenti sejenak meski Fachri masih saja diam-diam mengagumi wanitanya. Menikmati setiap waktunya dalam angan-angannya sendiri. Menikmati setiap waktunya dengan tatapan yang was-was.

“Lu deketin aja salah satu temennya, Ri.” Leo mulai mengambil posisinya, menyambar makanan di hadapan Fachri yang dibiarkan begitu saja oleh sang pemiliknya.

“Maksudnya?”

Leo menelan makanan milik Fachri tanpa sisa, menahan tawa untuk sahabatnya. “Gini ya, Leany itu deket sama Nina. Nah, deketin aja Leany biar lu bisa deket sama Nina. Leany itu lebih gampang didekati dibandingkan Nina yang selalu dikelilingi lelaki.”
Fachri menatap sahabatnya ini dengan mata seksama. Mulai mempertimbangkan saran yang tak pernah terfikirkan sebelumnya olehnya.

“Leany.” Leo berteriak dengan suara yang sangat keras membuat seorang perempuan yang sedang memesan minuman menoleh, bukan hanya perempuan itu, tapi banyak orang yang mengarahkan pandangannya ke mereka berdua. “Temen gue ada yang mau kenalan. Ikut yuk.” Leo sudah bersiap menarik tangan Leany yang sejak tadi hanya diam.

Fachri melihat seksama gadis yang sedang berjalan dibelakang sahabatnya. Mereka saling tahu, meski tak saling kenal. Leany adalah gadis yang selalu berhasil menempati posisi juara umum setiap tahunnya, meski tak se-populer Nina, namun ia sangat terkenal dimata guru-guru. Gadis yang jarang terlihat ikut ke dalam kelompok para perempuan dengan segala hal yang selalu mampu dijadikan bahan bicara. Ia adalah gadis yang menghabiskan waktu istirahatnya dengan maksimal, tak pernah mau membuang-buangnya dengan hal yang tak pernah memberikan manfaat untuknya.

“Fachri.” Ucap Fachri akhrinya setelah lima menit hanya terdiam, ia mengulurkan tangannya.

“Leany.” Jawabnya singkat dengan balasan uluran tangan yang singkat juga. “ Ada perlu lagi? Gue lagi ditunggu Bu Rini di ruangannya.”

“Buat lomba antar sekolah itu ya?” Tanya Leo dengan kunyahan makanan yang belum ia habiskan.

Leany hanya mengangguk. “Gue duluan ya.” Katanya berlalu.

Tak ada yang menjawab kepergiannya. Hanya tatapan yang mengiringi setiap langkah kaki Leany. Fachri mulai tak memperdulikan Leany dengan langkah cepatnya, ia mulai menyeruput habis sisa minumannya.
“Lu bilang dia lebih gampang dideketin dibanding Nina?” omel Fachri setelah benar-benar yakin Leany sudah menghilang dari sekitarnya. “Ini mah gue dua kali kerja. Cewek kaku kaya gitu lu bilang gampang.”

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

“Lean.” Fachri berlari kecil untuk mengejar langkah seseorang didepannya. “Leany.” Panggilnya lagi.

Leany menoleh kearahnya. “Ada apa?”

“Hmmm…. Ada yang gue ngga ngerti soal ini.” Dia menunjukkan sebuah soal yang sudah ia persiapkan sebelumnya. “Bisa tolong ajarin nggak?”

Leany menatap seksama Fachri, ia tidak percaya begitu saja kalau Fachri tidak mengerti jenis soal seperti ini. Meski tak pernah menempati posisi 5 besar juara umum, tapi ia cukup tahu Fachri adalah anak yang cukup pintar dikelasnya. Ia pernah menjuarai satu lomba antar kelas. “Yaudah, nanti gue juga mau belajar sama Nina. Dateng aja. Kalau mau, ajak Leo biar lu ngga sendirian.” Katanya.

Ia tersenyum sumringah. Ternyata, Leo cukup berbakat untuk dijadikan mata-mata. “Oke, nanti ya.” Katanya dengan senyum yang terus mengembang. “Yaudah, gue duluan ya.” Ia berlari meninggalkan Leany seorang diri.

Ada yang berbeda dihatinya saat melihat senyum yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ada yang bergetar dihatinya. Ada yang membuat matanya tak berkedip, mulutnya tak bisa mengucapkan apapun, dan kakinya yang masih saja mematung disana. Ia mulai jatuh cinta dengan seseorang yang selama satu minggu ini mencoba mendekatinya. Aku jatuh cinta padanya? Seseorang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Apa cinta datang hanya dalam waktu seminggu?

Mereka berempat sudah berada disebuah saung kecil yang berada dibelakang rumah Nina. Tempat favorit untuk Leany ketika ia mulai suntuk dengan buku-bukunya. Tempat favoritnya ketika membantu Nina untuk setiap kesulitannya dalam belajar. Tempat favoritnya ketika kamarnya mulai tak lagi mengasyikan, Nina memang membebaskan Leany untuk datang kapan saja yang ia mau.

Leany yang sedari tadi menjelaskan berbagai macam soal untuk ketiga temannya mulai mengambil posisinya untuk mengerti materi untuk perlombaan minggu depan. Fachri mulai meluncurkan jurus-jurusnya untuk mendekati Nina. Tanpa disadari, ada yang 2 hati yang tak menentu disana. Hati milik Fachri dan hati milik Leany.

Waktu hari ini terasa cepat berlalunya untuk Fachri yang mulai mendekati Nina. Sore sudah datang, matahari sudah mulai mengistirahatkan dirinya. Leany sudah membereskan semua buku miliknya. Fachri membereskan bukunya dengan setengah hati, ia mengutuk hari ini yang terlalu cepat berlalu. Ia masih sangat ingin menikmati waktu-waktu seperti ini.

“Lu yang nganterin Leany kan, Ri?” Tanya Nina ketika ketiga temannya masih sibuk dengan buku-bukunya yang tak beraturan dimana-mana.

“Eh……iya.” Katanya seraya menatap Nina sejenak, lalu mengarahkan pandangannya ke Leany yang tak memperdulikan perbincangannya dengan Nina.

Akhirnya waktu yang tak diinginkan Fachri pun tiba. Mereka bergegas meninggalkan saung kecil milik Nina menuju pintu depan, pintu utama rumah Nina. Dan akhirnya, ini benar-benar terjadi, Fachri sudah berada diatas motornya, bersiap meninggalkan Nina yang berdiri diujung pintu dengan rasa berat. Leany sudah duduk dibelakangnya, dan ia benar-benar harus mengakhiri waktu yang tak ingin diakhiri.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

“Ayo, Leany pasti bisa……” Suara itu memenuhi ruangan ini.

Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan untuk Leany. Perlombaan sudah ada didepan mata, kini ia hanya cukup membuktikan sebuah latihan akhir-akhir ini tak ada yang sia-sia. Semua yakin Leany bisa, segala usaha sudah dilakukan maksimal oleh gadis ini. Tak ada waktu yang terlihat ia buang dengan sekedar bercengkerama dengan teman sebayanya. Setiap hari latihan, setiap saat berhadapan buku.

Suara yang terus-menerus meneriaki namanya, tidak cukup membangkitkan semangatnya. Matanya masih saja beredaran ke setiap sudut ruangan ini. Ia masih mencari seseorang yang berjanji akan datang hari ini. Fachri.

Perlombaan pun dimulai, tanpa bersedia menunggu seseorang yang menghadirkan semangat tersendiri untuk Leany. Leany berusaha untuk tak memperdulikan perasaan kecewa yang datang, ia harus fokus. Ia harus fokus. Ia terus meyakini dirinya sendiri. Score Leany masih unggul dibandingkan 4 lawannya. Perlahan-lahan, konsentrasinya mulai tak konsen, ia mulai tak bisa bekerjasama dengan rasa kecewa yang semakin tak tertahankan.

“Leany…….. Semangat!”

Leany mengarahkan pandangannya kearah asal suara yang meneriaki namanya. Dan dialah seseorang yang sedari ia tunggu. Seseorang yang sejak tadi membuatnya tak menentu. Kini, Leany berada di posisi ketiga. Leany semakin gugup, ia tak bisa mengkondisikan dirinya agar baik-baik saja. Ia semakin kehilangan konsentrasinya ketika ia sadar waktu-waktu perlombaan akan segera berakhir. Scorenya masih menduduki tempat ketiga, dan hingga akhir pertandingan tak ada yang berubah. Leany menduduki juara ketiga. Tidak terlalu buruk, tapi menurut Leany ini sangat buruk.

Leany memilih menyendiri disebuah taman tak jauh dari ruangan tempat perlombaan. Tak ada yang melihatnya, tak ada yang mendengar tangisannya. Ia menangisi kebodohannya yang tak bisa mengatur hatinya, andai saja tadi ia tak memikirka kedatangan Fachri, semua mungkin akan lebih baik. Ia masih menangis, membiarkan pialanya berada disampingnya. Tak disentuhnya sama sekali. Tak ditatapnya.

“Hai….” Suara itu berhasil menghentikan tangisannya, dengan gerakan cepat ia menghapus airmata yang ada di pipinya. “Ngga perlu dihapus, udah ketauan kok kalau lu lagi nangis.” Ia mendekati gadis yang sedang mengutuk dirinya sendiri ini, mengambil posisi disampingnya.

Leany memeluk Fachri sudah disampingnya. Mencurahkan airmata yang dari tadi ia tahan. Ia meletakkan kepalanya didada milik lelaki yang masih terdiam terpaku ini. Fachri tidak tahu harus seperti apa, ia tidak mengerti kenapa jantungnya terasa berdetak lebih cepat, ia tidak tahu kenapa secara tiba-tiba tangannya membalas pelukan Leany, mengelus lembut kepala Leany.

“Ini hasil terbaik, ny.” Katanya, akhirnya.

Leany masih saja menangis tanpa henti. Rasanya nyaman sekali menangis dalam dekapan Fachri. Masih menikmati setiap tetesan yang mengalir dari matanya.

“Leany.” Panggilnya.

Leany segera melepaskan pelukannya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Kenapa ia bisa menjadi sebodoh ini, memeluk cowok dengan sembarangan. “Maaf. Tadi gue terlalu sedih.” Katanya, masih dengan wajah yang mengarah ke tempat lain.

Fachri tak menjawab, bahkan satu sisi hatinya merasa tak apa-apa jika Leany tetap memeluknya.

“Gue pulang duluan ya.” Leany bergegas, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi, yang ia tahu hanya ia harus menyembunyikan rasa malunya.

“Lean.” Fachri menahan tangan Leany. Mereka berhadapan berbeda 3 langkah. “Ini hasil terbaik dari usaha selama ini, jangan pernah merasa gagal. Karena, semua orang sudah menganggap lu hebat.” Katanya pelan.

“Banyak yang mau jadi kaya lu, lalu apa pantes lu benci diri lu cuma karena ini?” Ia menggenggam erat tangan seorang gadis yang sedari hanya menatapnya. “Bukannya lebih banyak prestasi lu dibandingkan kegagalan lu?”

Leany masih terdiam ditempatnya. Ia hanya menikmati setiap kata-kata yang Fachri keluarkan, menikmati tatapan damai dari mata lelaki dihadapannya dan menikmati desiran hati yang tak pernah ia rasa sebelumnya.

“Kita pulang ya.” Katanya lagi. Leany hanya mengikutinya dari belakang. Tak ada jawaban untuk kata-kata yang Fachri ucapkan.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

“Kok lu makin deket sih sama Leany?”

“Emangnya kenapa?” Fachri menjawab sekenanya, ada yang aneh dari pertanyaan sahabatnya.

“Inget rencana awal kan, Ri?” Leo mulai menghentikan kegiataannya mengunyah makan sedari tadi. Menatap seksama sahabatnya yang seakan tidak peduli dengan pertanyaannya.

Fachri mengangguk. Ada keraguan disana, ia tak mengerti kenapa rasanya ia mulai lupa dengan rencana awalnya. Kenapa rasanya ia mulai nyaman dengan keadaan saat ini. Ia tidak tahu kenapa ia mulai menikmati setiap detik yang terlewati bersama Leany, menemaninya menghabiskan malam minggu dengan buku-buku yang tak pernah dilupakannya.

“Lu suka sama cewek yang lu bilang kaku itu?”

Fachri tersendak, “Apaansih? Aneh-aneh aja deh.”

“Ya terus gimana? Nina kan udah mulai deket sama lu, yaudah sekarang lu minta nomornya sama Leany.”

Fachri hanya diam. Ia semakin tidak tahu harus menjawab seperti apa lagi untuk pertanyaan sahabatnya. Bahkan ia pun tidak tahu apa yang ia rasa saat ini, ia bingung.

Leo menatap Fachri curiga. “Lu nggak beneran suka kan sama dia?”

Fachri masih diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mengerti hatinya yang merasa takut kehilangan Leany. “Dia orang baik, gue ngga ngerti harus kaya gimana ngomongnya.” Fachri menatap gelas minumannya, tak ada niat lagi untuk menyeruputnya lagi. Ia terlalu bimbang dengan pilihannya sendiri. “Tapi, gue salah nggak sih mengikuti dia untuk urusan gue sendiri?”

“Terlalu egois.” Seseorang menyambar pembicaraan diantara mereka.

Fachri menatap kearah suara dibelakangnya, tak berkedip beberapa menit, Leo hanya menunduk merasa bersalah setelah tahu seseorang yang dijadikan bahan pembicaraannya ada dihadapannya saat ini. Leany, seseorang ada dibelakangnya, seseorang yang mendengar pembicaraan dua cowok ini dari jauh, seseorang yang merasa tertipu dan seseorang yang hatinya hancur.

“Kenapa ngga bilang ada dia?” ia mencibir Leo. Leo dan Fachri masih saling melempar tatapan.

“Kok ngga dijawab, Leo?” Leany mengarahkan pandangannya ke Leo yang masih menunduk diam, ia mulai menahan rasa sesak dihatinya. Menahan airmata yang sudah dikelopak matanya.

Hening. Masih tak ada jawaban dari dua cowok dihadapannya.

“Ini nomor telepon Nina, jadi kalian ngga perlu repot-repot lagi minta ke gue dan kalian ngga perlu repot-repot berurusan dengan cewek kaku seperti gue lagi.” Leany meletakkan secarik kertas kecil bertuliskan nomor Nina. Leany meninggalkan dua cowok yang hanya diam ini.

“Lean.” Fachri menahan tangannya, “Gue mau ngejelasin semuanya. Jangan salah paham.”

Leany menatap malas Fachri, tak menjawabnya lalu ia meninggalkannya begitu saja.

“Leany” Panggilnya lagi, berusaha mencegahnya pergi tapi langkah perempuan yang sedang marah kadang memang lebih cepat.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Hari ini entah sudah hari keberapa, lelaki ini mencoba untuk tetap berada disamping Leany, menikmati setiap waktu istirahat bersama seperti dahulu, namun nyatanya perempuannya selalu mengelak. Kini, tak ada lagi rasa bosan dengan tumpukan buku dihadapannya, bahkan kini ia sangat ingin mengulang semuanya. Ia rindu menatap wajah serius milik Leany, mendengar setiap penjelasan tentang pelajaran—yang sebenarnya ia sudah mengerti.

Hari ini entah sudah hari keberapa, Leany selalu menghindar darinya, tak pernah memperdulikan panggilannya, tak membalas pesannya, mengacuhkan setiap kata-kata yang ia katakan. Tak memperdulikan tatapannya yang penuh rasa bersalah. Leany selalu mengeluarkan langkah cepatnya ketika mereka bertemu. Selalu begitu untuk beberapa hari ini.

Hampa. Entah kenapa menjadi sangat hampa ketika ia tak bisa lagi mengantar Leany kerumahnya, entah kenapa ia merasa sangat kehilangan ketika ia sudah tidak bisa melihat senyum Leany, rasanya menjadi aneh ketika ia melihat tumpukan buku tanpa Leany didepannya. Rasanya ingin memeluknya lagi seperti dahulu kala agar ia tak bisa pergi darinya.

Fachri diam ditempat favoritnya, masih memandangi wanitanya dari jauh, tak berani menegurnya, bahkan untuk mendekat pun ia tak pernah bisa. Ada rasa tak enak saat langkah kakinya ingin menghampiri perempuannya yang sedang sendiri. Hatinya selalu memaksanya untuk mendekat namun raganya masih terlalu kuat untuk menahan keinginan hatinya. Ia masih menikmati waktu yang terus berputar dengan tatapan yang tak berpaling dari gadis yang sedang membaca buku favoritnya didepan sana.

“Lean.” Katanya setelah beberapa menit ia hanya berdiri dari jauh.

“Mau sampai kapan kaya gini? Kenapa selalu ngehindarin gue? Kenapa ngga pernah kasih gue kesempatan untuk ngejelasin semuanya?” Tanyanya saat Leany berusaha untuk pergi darinya. Tangannya langsung menahan tangan Leany, sepertinya ia memang takut kehilangan perempuan didepannya ini.

Leany masih diam ditempatnya, membiarkan tangannya digenggam erat Fachri, tapi tak memperdulikan cowok dibelakangnya. Ia masih sulit untuk berhadapan dengan cowok ini, hatinya masih terasa sangat sakit ketika ia sadar, jika ia bukanlah yang sebenarnya diinginkan Fachri. Matanya selalu memanas ketika ia sadar, semua perilaku manis Fachri tidak sepenuhnya untuk dirinya. Dadanya semakin sesak ketika ia sadar, ada cinta yang mulai tumbuh untuk Fachri, lelaki yang sudah menipunya, lelaki yang menganggapnya sebagai cewek yang kaku, lelaki yang hanya menjadikannya cara agar bisa dekat dengan Nina.

Mereka masih diam ditempat masing-masing, Fachri tidak tahu harus memulainya dari mana, Fachri tidak tahu kata-kata seperti apa yang harus ia katakan lagi. Dan Leany, masih diam. menahan rasa tak menentu dihatinya, masih diam dengan segala rasa kecewanya. Leany hanya diam ditempatnya agar tetap bisa menahan semua amarahnya, menahan airmata yang akan menetes setiap mereka bertemu, menahan setiap rasa sakit yang datang tiba-tiba. Ia tidak tahu bagaimana harus mengeluarkan semuanya, ia tidak pernah tahu bagaimana cara agar ia tak menangis setiap kali ia rindu dengan lelaki yang sudah menipunya. Ia tidak pernah tahu, ia bisa apa agar ia bisa menjadi Leany sebelum perkenalannya dengan Fachri, sebelum Leany dibuat jatuh cinta kepada Fachri.

“Kadang, ada beberapa peristiwa yang lebih baik jika tanpa penjelasan, Ri.” Katanya. “Bukannya peran gue udah selesai? Disini tinggal lu sama Nina yang jadi peran utamanya kan?”

“Kadang yang lu fikirkan bukan yang sebenarnya terjadi, Lean.” Fachri memutar tubuh Leany agar berhadapan dengannya. “Terkadang, kita akan menjadi nyaman dengan sebuah tahapan dan akhirnya lupa dengan rencana awal kita. Begitulah gue.” Katanya, lembut. Sangat lembut.

Leany berdiri didepannya, tak ada jawaban untuk perkataannya barusan. Ia hanya menunduk, satu tetesan dari matanya baru saja menetes. Ia masih saja menangis saat suara yang ia rindukan itu ia dengar, ia rindu tapi ia masih menolak untuk mendengarnya. Ia mengeluarkan airmatanya yang tak pernah habis. Ia mengeluarkan rasa rindunya bersama airmata yang tak pernah usai. Jika ia bisa, ia ingin memeluk cowok dihadapannya, ia ingin melepaskan rindu yang menyesakkan dadanya, rindu yang hanya bisa ia rasakan sendiri kala malam datang. Namun, ia tak bisa melakukannya, raganya menjadi kaku ditempatnya, tak mengizinkannya untuk bergerak sedikit pun.

“Lu yang buat gue nyaman sama tahapan gue, lu yang buat gue lupa dengan rencana awal gue, gue lupa sama target awal gue, Lean.” Jelas Fachri.

Hening. Tak ada reaksi yang dikeluarkan Leany, tak ada penjelasan lebih lanjut dari Fachri. Kini, mereka sama-sama saling diam, membiarkan angin menyapa lembut telinga mereka, membiarkan waktu terbuang sia-sia, membiarkan tangan tetap saling menggenggam. Mereka hanya diam, menikmati rasa mereka masing-masing, mencoba menerka semuanya sendiri.

“Gue nyaman sama lu.” Katanya lagi, suaranya berat. Sepertinya ia membutuhkan waktu cukup lama untuk meyakinkan sebuah kalimat yang baru saja ia katakan. “Mungkin, gue mulai sayang sama lu.” Katanya lagi. Suaranya semakin berat.

Leany mengarahkan pandangannya kepada cowok yang sedari tadi menggenggam tangannya, tak melepasnya sedetik pun. Leany menatap cowok yang sedari tadi menatapnya tanpa meminta untuk ditatap. Mata mereka bertemu. Saling mencoba menyelami dalamnya tatapan mata indah lawan bicaranya, mencoba untuk menerka isi fikirannya. Mereka masih saling tatap untuk persekian menit.

Leany kalah. Ia mengalihkan pandangannya lagi kearah rumput yang ia injak. Jantungnya sudah berdetak sangat cepat sejak mata mereka bertemu, tangannya mulai terasa sangat dingin, wajahnya mulai memerah. Ia kalah saat tatapan damai Fachri terus terarah ke bola mata miliknya. Ia kalah saat matanya mulai menembus setiap kejadian yang pernah terlewati dahulu, lututnya menjadi lemas saat ia melihat bagaimana manisnya Fachri saat pertama kali mereka berkenalan, dadanya menjadi semakin sesak saat ia lihat Fachri yang memeluknya penuh lembut saat ia kalah lomba, matanya mulai memanas saat ia lihat Fachri yang selalu menjemputnya dan mengantarnya pulang. Dan ia kalah, airmatanya menetes begitu saja saat ia lihat Fachri dan Leo yang sedang membicarakannya dan Nina. Ia kalah telak, pertahanannya hancur begitu saja.

“Lean……” Panggilnya saat ia sadar Leany menangis. “Maaf.”

Masih tak ada reaksi dari Leany. Gadis ini masih menangis.

Fachri melepas genggaman tangannya. Entah apa yang merasuki dirinya, tiba-tiba saja ia rasa ia sudah sangat melukai gadis dihadapannya. Ia sudah sangat menyakiti gadisnya. Ia sadar, Leany sangat terluka oleh sikapnya. Ia sadar, Leany tak ingin kenal dengan dirinya lagi setelah yang ia perbuat kemarin.

“Gue ngga mau memaksa kehendak gue lagi. Gue tau lu yang sangat tersakiti disini, terikutcampurkan untuk urusan gue sendiri. Tapi, akhirnya gue juga harus merasakan sakitnya juga. Sakit saat gue sadar, gue udah membuat orang yang gue sayang sakit. Sakit saat gue sadar, gue mulai nyaman sama lu, tapi saat gue udah ngga bisa ngerasain nyaman itu lagi.” Katanya, pelan. “Maafin gue Lean. Maaf sudah mengikutsertakan lu dan maaf sudah lancang menyimpan perasaan ini. Maaf.” Katanya lagi. Fachri memutar tubuhnya, melangkahkan kaki dengan hati yang hancur. Sebelumnya, tak pernah ia rasakan sakit yang seperti ini. Rasa sakit saat melihat gadis yang disayanginya menangis dihadapannya karena perilakunya, namun ia tak bisa apa-apa selain mengucapkan kata maaf. Menatap gadisnya dari jauh bahkan jauh lebih baik dari melihatnya dari dekat tapi dengan airmata yang terus menetes dari mata indah miliknya.

Leany hanya melihat lelaki itu melangkahkan kakinya perlahan, ia bisa rasa hati milik Fachri masih berada ditempatnya berdiri, hanya raganya yang meninggalkannya. Dadanya semakin sesak saat ia sadar, lelakinya semakin menjauh darinya.

“Kalau gue minta lu tetap disini, apa lu bakal tetap disini?” Leany mulai mengeluarkan kata-katanya, ia tidak bisa terus membohongi hatinya, ia tidak sanggup jika terus berpura-pura baik-baik saja tanpa Fachri disampingnya.

Fachri memutar tubuhnya lagi, melihat gadisnya sedang menantinya disana.

“Gue udah maafin lu.” Katanya, Leany tersenyum. Senyuman sangat tulus darinya, senyuman yang belum pernah Fachri lihat sebelumnya, manis. Sangat manis.

Fachri melangkahkan kakinya lagi, mendekat ke gadisnya yang masih tersenyum. “Lu beneran maafin gue?” Tanyanya, ia masih ragu, kesalahannya yang sangat menyakitkan gadisnya bisa dengan mudah dimaafkan begitu saja.

Leany mengangguk, “Hati disini lebih memegang perannya, Ri. Dan gue ngga bisa ngebohongin semuanya lagi.”

“Terus kita?” Fachri menggenggam tangan Leany lagi. Entah apa bedanya, tapi genggaman tangannya kali ini terasa lebih pasti. “Lu mau jadi cewek gue?”

Leany diam. Senyumnya tiba-tiba menghilang. Bukan karena ia tak menyukai lelaki ini, bukan. Tapi, hatinya masih sangat ragu untuk ini.

“Lean….”

“Maaf, gue belum bisa.” Katanya pelan. Satu sisi hatinya takut Fachri akan meninggalkannya begitu saja saat ia tahu cintanya tak diterima. “Gue masih butuh ngeyakinin semuanya. Ngeyakinin hati gue, hati lu, dan semuanya.” Katanya lagi.

Fachri tak terlihat seperti orang yang sedang patah hati, ia tak melepas genggamannya, bahkan genggamannya semakin erat. “Gue bakal ngebuktiin semuanya kalau lu ngasih kesempatan untuk ngebuktiin semuanya, bahkan kalau pun lu ngga ngasih kesempatan gue untuk ngebuktiin rasa ini, gue akan tetap ngebuktiin kalau gue benar-benar sayang sama lu. Gue ngga mau lu pergi jauh dari gue.”

Mereka tersenyum, saling tersenyum bahagia. Tak ada yang lagi rasa sakit yang terlihat dimata mereka, semuanya seakan sudah lewat dan terlupakan. Kini, hanya ada cinta yang tergambar jelas diraut wajah masing-masing. Saling menganggumi satu sama yang lain dengan caranya sendiri.

Meski cintanya tak diterima, tapi Fachri melihat cinta untuknya dari Leany. Tak mau memaksakan kehendaknya, ia biarkan Leany melihat perjuangannya untuk cintanya. Biarkan Leany yang menilai seperti apa cinta yang ada untuknya. Fachri masih menggenggam tangan gadisnya, tak melepasnya sedikit pun, bahkan untuk sekian detik pun tidak.

“Jangan berubah ya, tetap jadi cewek kaku sama semua cowok.” Bisik Fachri, “Tapi jangan sama aku.” Bisiknya lagi diakhiri tawa yang menggodanya.

Mereka tertawa, menikmati waktu yang terus berputar dengan cara mereka berdua. Membiarkan rumput-rumput ikut merasakan rasa bahagia yang tak pernah terasakan sebelumnya. Dan disini mereka berada, sebuah taman kecil tak jauh dari sekolah. Dan disinilah mereka mencoba untuk merangkai lagi kisah yang sempat terputus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.