Dahulu, selalu ada pesan yang tak
pernah absen dari deretan kotak masuk pesanku. Led merah handphone-ku selalu
menyala saat malam hari. Dahulu, selalu ada seseorang yang tak pernah bosan
mengirim pesan meski tak jarang aku tak membalasnya karena aku sudah terlelap.
Dahulu, ada seseorang yang mampu membuatku tersenyum malu karena pesannya. Tapi
itu dahulu, kini seseorang itu menghilang (lagi) begitu saja, tak tampak lagi
pesannya, tak ada lagi Led-ku menyala karena pesannya.
Apa kabarmu? Sudah adakah wanita
yang membalas pesanmu lebih dari aku? Sudah kau dapatkah wanita yang mulai
senang mengirim pesan kepadamu terlebih dahulu?
Ini bukan yang pertama kali kau
menghilang begitu saja. Ini bukan pertama kali aku merasa sepi karena mulai
terbiasa dengan hadirmu. Ini bukan malam pertama yang aku lewati dengan rasa
tak menentu. Sudah sering seperti ini dan aku masih terlena dengan kebiasaanmu.
Datang, pergi, datang, pergi. Aku tidak mengerti apa alasanmu, bahkan aku
memang tak mau tahu.
Apa mungkin kau mulai bosan
dengan kegiatanmu yang selalu (harus) mengirim pesanku terlebih dahulu? Apa kau
marah karena aku tak pernah mengirim pesan kepadamu terlebih dahulu? Apa kau
mulai bosan dengan pesanku yang tak pernah menaruh perhatian layaknya kau
menaruh perhatian disetiap kata-katamu dalam pesan?
Jika kau memang ingin pergi,
silakan. Bukankah aku tak pernah melarangmu pergi? Mungkin aku memang
membosankan untukmu. Banyak wanita yang jauh menyenangkan dibandingkan aku,
bukan? Aku tak mempermasalahkan kepergianmu, aku lebih mempermasalahkan
sikapmu; membuatku terbiasa dengan kehadiranmu lalu meninggalkanku begitu saja
dan ketika aku mulai bisa mengatur hati yang terlalu rapuh ini, kau datang
lagi, tanpa salah, kau mulai membuatku terbiasa lagi dengan kehadiranmu. Dan
kau menghilang lagi. Tak ada kabar lagi. Membuat malamku menjadi kacau lagi.
Aku hanya wanita yang mulai
terbiasa dengan kehadiranmu. Hanya terbiasa membaca kekonyolanmu disetiap kata
dalam sebuah pesan. Hanya itu, hanya itu. Mungkin, aku terlalu terbuai dengan
kehadiranmu. Aku hanya wanita yang tak pandai mengenal lelaki, aku tak mudah
merasa nyaman dengan sosok lelaki yang ada. Aku hanya wanita yang sering merasa
tak menentu dikala malam mulai datang dan ketika semuanya datang, kau mulai
datang. Seakan tahu aku yang sedang berada di mood terendahku, kau datang
dengan cara agar mengembalikan senyumku lagi. Kau datang membuat aku lupa
dengan segala rasa kacau itu.
“Kenapa harus datang dengan
segala keramahanmu, jika pada akhirnya kamu pergi tanpa sebab?”
Kini, aku sedang membiasakan
diriku dengan sepi yang ada. Aku sedang mencoba mulai bersahabat (lagi) dengan
sepi yang pernah terlupakan. Aku sedang mencoba menikmati segala rasa tak
menentu dihatiku. Aku sedang menikmati segala rasa kacau yang dahulu kau usir,
tapi kini kau hadirkan. Dan ketika aku mulai bisa mengembalikan segalanya
seperti sebelum kau datang, akankah kau hancurkan semuanya lagi? Akankah kau
datang (lagi) tanpa rasa bersalahmu?
Pesanku, jangan datang lagi
ketika aku sudah mulai bisa mengatur hatiku kembali. Aku bukan wanita yang
mudah menepis segala rasa, hatiku lebih memegang peran dibandingkan logikaku.
Aku terlalu lemah ketika aku diserang rasa yang tak seharusnya aku rasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.