Kamis, 22 Mei 2014

Lalu mau datang lagi setelah ini?

Dahulu, selalu ada pesan yang tak pernah absen dari deretan kotak masuk pesanku. Led merah handphone-ku selalu menyala saat malam hari. Dahulu, selalu ada seseorang yang tak pernah bosan mengirim pesan meski tak jarang aku tak membalasnya karena aku sudah terlelap. Dahulu, ada seseorang yang mampu membuatku tersenyum malu karena pesannya. Tapi itu dahulu, kini seseorang itu menghilang (lagi) begitu saja, tak tampak lagi pesannya, tak ada lagi Led-ku menyala karena pesannya.


Apa kabarmu? Sudah adakah wanita yang membalas pesanmu lebih dari aku? Sudah kau dapatkah wanita yang mulai senang mengirim pesan kepadamu terlebih dahulu?


Ini bukan yang pertama kali kau menghilang begitu saja. Ini bukan pertama kali aku merasa sepi karena mulai terbiasa dengan hadirmu. Ini bukan malam pertama yang aku lewati dengan rasa tak menentu. Sudah sering seperti ini dan aku masih terlena dengan kebiasaanmu. Datang, pergi, datang, pergi. Aku tidak mengerti apa alasanmu, bahkan aku memang tak mau tahu.


Apa mungkin kau mulai bosan dengan kegiatanmu yang selalu (harus) mengirim pesanku terlebih dahulu? Apa kau marah karena aku tak pernah mengirim pesan kepadamu terlebih dahulu? Apa kau mulai bosan dengan pesanku yang tak pernah menaruh perhatian layaknya kau menaruh perhatian disetiap kata-katamu dalam pesan?


Jika kau memang ingin pergi, silakan. Bukankah aku tak pernah melarangmu pergi? Mungkin aku memang membosankan untukmu. Banyak wanita yang jauh menyenangkan dibandingkan aku, bukan? Aku tak mempermasalahkan kepergianmu, aku lebih mempermasalahkan sikapmu; membuatku terbiasa dengan kehadiranmu lalu meninggalkanku begitu saja dan ketika aku mulai bisa mengatur hati yang terlalu rapuh ini, kau datang lagi, tanpa salah, kau mulai membuatku terbiasa lagi dengan kehadiranmu. Dan kau menghilang lagi. Tak ada kabar lagi. Membuat malamku menjadi kacau lagi.


Aku hanya wanita yang mulai terbiasa dengan kehadiranmu. Hanya terbiasa membaca kekonyolanmu disetiap kata dalam sebuah pesan. Hanya itu, hanya itu. Mungkin, aku terlalu terbuai dengan kehadiranmu. Aku hanya wanita yang tak pandai mengenal lelaki, aku tak mudah merasa nyaman dengan sosok lelaki yang ada. Aku hanya wanita yang sering merasa tak menentu dikala malam mulai datang dan ketika semuanya datang, kau mulai datang. Seakan tahu aku yang sedang berada di mood terendahku, kau datang dengan cara agar mengembalikan senyumku lagi. Kau datang membuat aku lupa dengan segala rasa kacau itu.


“Kenapa harus datang dengan segala keramahanmu, jika pada akhirnya kamu pergi tanpa sebab?”


Kini, aku sedang membiasakan diriku dengan sepi yang ada. Aku sedang mencoba mulai bersahabat (lagi) dengan sepi yang pernah terlupakan. Aku sedang mencoba menikmati segala rasa tak menentu dihatiku. Aku sedang menikmati segala rasa kacau yang dahulu kau usir, tapi kini kau hadirkan. Dan ketika aku mulai bisa mengembalikan segalanya seperti sebelum kau datang, akankah kau hancurkan semuanya lagi? Akankah kau datang (lagi) tanpa rasa bersalahmu?


Pesanku, jangan datang lagi ketika aku sudah mulai bisa mengatur hatiku kembali. Aku bukan wanita yang mudah menepis segala rasa, hatiku lebih memegang peran dibandingkan logikaku. Aku terlalu lemah ketika aku diserang rasa yang tak seharusnya aku rasakan. 

Sampaikan salamku untuk gadis manismu disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.