Hujan malam ini semakin menambah
kesan galau untuk hatiku yang sedang dilanda bimbang. Aku berdiri diujung
jendela kamarku, menikmati tetesan air yang turun dari langit, menikmati aroma
tanah yang disiram air. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, begitu takut
kehilangan dirinya, merindukannya. Aku mengalihkan pandanganku kearah foto
didalam bingkai yang terpasang dimeja samping kasurku, sepasang kekasih sedang
tersenyum penuh cinta disana, bahagia.
Mataku memanas, airmataku pun
mulai meleleh, tak ada yang menghalanginya, satu per satu menetes dengan bebas.
Rasanya rindu melihat senyum gadis didalam foto itu. Satu hantaman keras tepat
mengenai dadaku, sakit rasanya saat aku sadar terakhir kali kami bertemu ia
hanya menangis karena ulahku, aku menyakitinya begitu dalam.
Aku masih memandangi foto Siska,
ia terlihat begitu cantik dalam foto itu. Sebelumnya, tak pernah aku
merindukannya seperti ini. Aku sangat rindu dengannya, senyumnya yang manis,
peluknya diselingi tawa manja miliknya, mata indah miliknya, aroma parfurm
miliknya yang khas. Aku rindu semua tentangnya. Sebelumnya, tak pernah aku
merasakan takut seperti ini. Aku takut kehilangan dirinya.
Aku mengenalnya sudah sejak lama,
lima tahun silam pertama kali kami mulai saling bercakap, dengan penuh
kesederhanaannya Siska mampu membuatku tak bosan bercakap dengannya. Senyuman
manis miliknya-lah yang akhirnya mampu membuatku jatuh cinta. Parasnya yang ayu
dengan rambut hitam pekat sebahu mampu hadir saat mataku mulai terpejam. Ketika
malam datang, ia tak segan-segan hadir dalam angan-anganku meski hanya sekedar
memberi senyum indah miliknya.
Sudah tiga tahun belakangan ini
kami menjalin hubungan. Sejak tiga tahun silam-lah, kami mulai berjanji untuk saling
melengkapi satu sama yang lain, tak ada yang ditutupi, kami ingin menciptakan
hubungan penuh kejujuran. Cinta sebelumnya telah banyak mengajarkan kami
bagaimana harus memulai hubungan yang lebih baik kedepannya, kami pernah
sama-sama saling dikhiati, kami juga pernah sama-sama ditinggal hanya karena
kata ‘jenuh’, dan kami sama-sama tak mengerti kenapa ada yang tersakiti
akhirnya, ketika kedua insan saling jatuh cinta?
Tidak banyak masalah yang kami
lewati selama tiga tahun ini, kami memang saling belajar dewasa, mengerti satu
sama lain dan selalu berusaha jujur, ya meski akhirnya selalu ada yang aku
tutup-tutupi dari Siska. Siska bukan sosok perempuan dengan tipe pencemburu
berat, dia selalu mengerti ketika banyak perempuan didekatku. Ia bukan tipe perempuan
yang senang mengambek, meski
sekali-sekali ia pernah marah denganku, karena ulah konyolku. Ya, dia tidak
terlalu senang dengan kekonyolanku yang tidak pada tempatnya.
Tiga tahun bersama, seharusnya
telah banyak memberiku pelajaran tentang bersama. Seharusnya hanya ada
pembelajaran dewasa dalam hubungannya bukan sikap kekanak-kanakan milikku. Kami
tidak pernah berantem hebat sebelumnya, aku tidak pernah membuatnya menangis
sebelumnya, aku tidak pernah membuatnya menjauh dariku sebelumnya. Aku masih berusaha
mengirim pesan kepadanya setiap saat seperti yang kami lakukan sebelum ia marah
padaku, tapi kini semua berbeda, berpuluh-puluh pesan yang aku kirim, tak ada
satupun yang mendapat balasan darinya. Ia sudah benar-benar marah kepadaku.
“Dia sudah tahu?” Seseorang masuk
kedalam kamarku yang tak aku kunci.
Aku mengangguk lemas. “Sejak
kemarin, aku mencoba meneleponnya, menghubunginya, tapi tak pernah ada
jawaban.”
Lelaki yang lebih tua tiga tahun
itu mengambil posisi tidurnya dikasurku, matanya menatap lekat-lekat foto yang
masih berada dimeja samping kasurku. “Jelas saja dia marah padamu.” Katanya.
Dia mengambil PSP milikku disamping fotoku dan Siska. “Mungkin dia sudah tak
ingin bertemu denganmu? Atau dia sudah punya lelaki yang lain?”
Aku mengeryitkan dahiku. “Mas kok
ngomongnya gitu?”
“Dia wanita yang baik, dewasa,
Ref. Bukan tidak mungkin banyak lelaki yang mengantri untuk mendekatinya. Kau
ingat berapa banyak lelaki yang sama-sama berjuang untuknya? Tapi, dia memang
bodoh, dia malah memilihmu yang jelas-jelas akan menyakitinya.” Lelaki ini
mulai sibuk menggerakan jarinya memencet tombol-tombol PSP.
Begitulah Mas Devin ketika bicara
denganku. Dia tidak pernah mengajariku untuk membenar sebuah kesalahan dan
akhirnya dia selalu menyerangku dengan kata-kata tajam miliknya saat aku mulai
salah. Lelaki berusia 24 tahun ini selalu bisa menyikapi segala masalah dengan
dewasa, darinya aku banyak belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Sejak
orangtua kami meninggal dua tahun yang lalu, dengan dialah aku menjalani
kehidupan sederhana dirumah sederhana ini.
“Bukannya sudah aku bilang, jangan
bermain-main dengan cinta. Lalu bagaimana hubunganmu dengan perempuan itu?”
“Sudah aku akhiri kemarin.”
“Lalu perasaanmu?”
“Perasaanku? Bukannya aku sudah
bilang, aku tak memiliki rasa sedikitpun kepada Clave. Aku hanya jenuh, bukan
jenuh kepada Siska, tapi hubungan kami. Terkadang, air butuh sebuah gemercak,
air yang tenang pun akan membosankan.”
“Lalu apa alasan itu akan membuat
perilakumu benar?” Mas Devin tertawa, dia duduk menatapku. “Jangan ucapkan itu
kepada Siska.”
Aku menatapnya bingung. “Lalu apa
yang harus aku katakan kepada Siska?”
“Pengakuan salahmu, cukup. Tidak
perlu ada pembenaran.”
Aku memandang langit yang tak
berbintang, tak menjawab saran Mas Devin. Langit diluar terlihat begitu gelap,
tak ada bintang yang menyinari, tak ada yang bulan yang bersinar.
“Cuma mau diam gitu doang, Ref?
Banyak lelaki yang rela datang kerumahnya untuk menjemput cintanya.” Mas Devin
meninggalkanku.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Udara malam ini memang begitu
dingin, gemericik-gemericik air masih bisa aku rasakan menetes dikulitku. Jaket
kulit yang aku kenakan masih tak bisa menghalangi rasa dingin yang menyerangku.
Jarum jam tangan milikku menunjuk kaarah angka 10, sebelumnya tak pernah aku
keluar selarut malam, apalagi berkunjung kerumah orang lain.
Aku mematikan mesin sepeda
motorku, memarkirnya tepat didepan gerbang rumah bercat biru muda ini. Rumah
yang sudah sebulan belakangan ini tak pernah aku kunjungi. Sepi. Lampu-lampu
dirumah ini masih nyala terang, semoga
aku tak mengganggu waktu tidur mereka, kataku dalam hati.
Jantungku berdebar hebat.
Tanganku menjadi dingin. Aku melangkahkan kakiku dengan pasti, mencoba menepis
segala keraguan yang menghalangi langkahku. Aku sudah berada tepat didepan
pintu rumah Siska, mengetuknya beberapa kali dengan diselingi salam. Seorang
wanita paruh baya keluar, menyapaku penuh hangat, sepertinya Siska tak
memberitahu bagaimana hubungan kami saat ini.
Setelah menunggu cukup lama,
perempuan dengan kaos warna merah dan celana panjang yang sangat aku
kenal—celana yang aku hadiahi kepadanya saat ia ulangtahun—menemuiku. Wajahnya
sudah tak semarah kemarin, dia terlihat lebih tenang. Matanya terlihat seperti habis
menangis dalam waktu lama.
“Jangan disini, Ref. Aku tidak
bicara kepada orang rumah tentang kita.” Katanya saat duduk didekatku.
Aku masih menatap wajahnya dari
samping. “Hanya sekedar minta maaf pun, aku tidak diizinkan?”
“Aku sudah memaafkanmu.” Katanya
tanpa memandangku sedetik pun.
“Tapi kau masih marah kepadaku,
Sis?”
Dia tidak menjawab, hanya diam.
“Sis, aku menyesal telah
melakukan ini terhadapmu.”
“Aku mohon, jangan disini Ref.
Ibu sudah bertanya tentang mata sembabku ini, lalu kau mau semakin membuat
mataku sembab?” Suaranya mulai berubah, ia terdengar seperti sedang menahan
sesuatu yang ingin keluar. “Sakit Ref saat aku kembali melihatmu, saat aku
kembali mengingat kekasihku sedang bergandengan dengan perempuan lain. Sakit
Ref.”
“Sis….” Aku menggenggam
tangannya, ia sempat mengelak, tapi aku menggenggam tangannya begitu kuat,
hingga akhirnya ia mengalah. “Aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu.
Hubunganku dengan Clave sudah berakhir kemarin.”
Siska menundukkan kepalanya,
menyembunyikan airmatanya yang menetes.
“Seharusnya aku belajar banyak
dari kamu, Sis. Bagaimana kamu menghilangkan rasa jenuhmu dengan hubungan kita,
bagaimana kamu tak pernah mengeluh dengan kesibukkanku, bagaimana kau mengerti
waktu yang kita punya hanya sedikit. Aku yang salah, Sis. Aku yang masih
kekanak-kanakan. Aku yang tidak pernah tahu bagaimana cara memahamimu, selama
ini aku berfikir, kamu yang terlalu sibuk, tapi ternyata aku salah. Aku yang
terlalu sibuk dan kamu tidak pernah mengeluhkan itu.” Aku masih menggenggam
tangannya, airmataku menetes begitu saja.
“Ini salahku, Sis. Ya, ini memang
salahku. Kau hanya korban dari sikap kekanak-kanakanku. Usiaku sudah hampir 21
tahun, tapi nyatanya aku masih seperti anak SMP yang ingin bermain-main dengan
cinta. Dari awal kita memulai semuanya, kita sudah berjanji untuk saling
terbuka, tapi nyatanya aku masih saja menutup-nutupi suatu hal. Kita saling
tahu, bagaimana rasanya dikhianati, tapi aku masih saja membuatmu merasakannya
lagi. Maafkan aku, Sis.” Aku mencium tangannya yang aku genggam, airmataku
membasahi tangannya.
Siska tak menjawab sedikitpun
ucapanku, membiarkan aku bicara begitu banyak.
Aku tertawa, tapi tak terdengar
seperti tertawa. Aneh sekali suaraku. “Aku tidak mengerti apa yang membuatku
menjadi cengeng beberapa jam belakangan ini, aku tidak tahu mengapa belakangan
ini aku menjadi mudah meneteskan airmata.” Aku menatapnya dengan lekat-lekat.
“Aku takut kehilangan dirimu, Sis.” Kataku masih menatapnya dari samping. Tak
ada respon dari Siska, ia hanya menundukkan kepalanya.
Aku menarik nafasku dalam-dalam,
lalu menghembuskannya pelan-pelan. Aku mulai berhenti bicara, aku merasa sudah
terlalu banyak bicara sejak tadi. Hening. Suara hembusan nafas Siska bisa aku
dengar dalam suara gemericik hujan yang jatuh ke tanah.
Beberapa menit kami hanya
berdiam, aku masih menggenggam tangannya dan Siska hanya berdiam menundukkan
kepalanya. Tak ada respon yang berarti dari Siska, aku melepas genggaman
tanganku. Siska mengadahkan kepalanya, menatapku yang sedang menatapnya. Mata
kami bertemu. Dahulu, saat mata kami bertemu, kami selalu tertawa diakhirnya,
tapi saat ini, tak ada yang ingin berniat untuk tertawa.
“Seseorang berkata kepadaku, kamu
adalah wanita yang cantik, baik dan dewasa. Seseorang itu pun berkata, banyak lelaki
yang ingin memilikimu. Dia yang mengingatkanku, berapa banyak lelaki yang
sama-sama berjuang demimu. Tapi, nyatanya kamu memilih aku yang akhirnya malah
menyakitimu, padahal kita sama-sama pernah tersakiti.” Aku masih menatapnya
yang masih menatapku.
Lagi-lagi, dia hanya terdiam
menatapku. Tak menjawabku.
“Seseorang itu benar. Tak seorang
pun yang berhak menyakiti wanita sebaik dirimu. Aku memang bukan yang terbaik
untukmu. Aku hanya lelaki tanpa rasa bersyukur karena telah memilikimu. Aku
hanya lelaki dengan sikap kekanak-kanakan. Aku tak ingin memaksakan dirimu lagi
untuk menerimaku kembali. Karena aku sadar, apa yang aku lakukan sudah sangat
menyakitimu. Aku masih mencintaimu, Sis, tapi kalau nyatanya aku hanya
membuatmu menangis, untuk apa?” Aku mengusap airmata yang menetes dipipinya.
“Aku pulang, sampaikan sa…….”
Siska menahan tanganku yang masih
menyentuh pipinya. “Kau ingin melepasku? Melupakan janji yang pernah terucap
tiga tahun yang lalu?” Katanya. “Aku sudah bilang, aku sudah memaafkanmu. Tapi,
kenapa kamu malah memilih untuk meninggalkanku?” Dia menangis. Semakin deras
airmata yang mengalir dari mata indahnya.
Aku bingung, “Hei… Hush…. Hush….”
Aku mencoba menenangkannya yang masih menangis, memeluknya dengan erat.
Tangisnya semakin menjadi-jadi didalam pelukanku. Erat sekali dia memelukku.
Airmatanya membasahi bahuku. “Sudah jangan menangis. Aku sakit saat melihatmu
menangis.” Kataku.
“Kau ingin berjanji, takkan
pernah meninggalkanku?” Katanya, masih dengan airmata yang mengalir.
“Kau ingin meneruskan hubungan
ini? Aku takkan meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu, Sis.”
“Aku juga mencintaimu. Sangat
mencintaimu.” Katanya, kembali memelukku.
Aku masih memeluknya, tak ingin melepaskannya. Kami memulai semuanya dari awal, membiarkan cinta yang tak pernah meredup semakin tumbuh. Aku mencintainya, perempuan yang aku kenal lima tahun silam. Aku mencintainya, perempuan dengan senyumnya yang sederhana namun tak bisa dengan mudah aku lupakan.
Aku pernah menyakitinya, melukai hatinya dan membuat matanya menjadi merah. Aku pernah membuatnya menangis hanya karena aku bosan dengan hubungan kami, bukan karena bosan dengannya, tapi aku hanya ingin memunculkan rindu yang sudah lama tak aku rasakan. Tapi, hati tetaplah hati. Aku masih mencintainya, tak pernah berubah meski rasa jenuh itu ada. Aku masih mencintainya, meski aku mulai tak merindukannya. Dan malam ini, aku mulai sadar, dia-lah wanita yang aku inginkan, aku rindukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.