Sabtu, 21 Juni 2014

Jenuh.

Hujan malam ini semakin menambah kesan galau untuk hatiku yang sedang dilanda bimbang. Aku berdiri diujung jendela kamarku, menikmati tetesan air yang turun dari langit, menikmati aroma tanah yang disiram air. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, begitu takut kehilangan dirinya, merindukannya. Aku mengalihkan pandanganku kearah foto didalam bingkai yang terpasang dimeja samping kasurku, sepasang kekasih sedang tersenyum penuh cinta disana, bahagia. 

Mataku memanas, airmataku pun mulai meleleh, tak ada yang menghalanginya, satu per satu menetes dengan bebas. Rasanya rindu melihat senyum gadis didalam foto itu. Satu hantaman keras tepat mengenai dadaku, sakit rasanya saat aku sadar terakhir kali kami bertemu ia hanya menangis karena ulahku, aku menyakitinya begitu dalam.

Aku masih memandangi foto Siska, ia terlihat begitu cantik dalam foto itu. Sebelumnya, tak pernah aku merindukannya seperti ini. Aku sangat rindu dengannya, senyumnya yang manis, peluknya diselingi tawa manja miliknya, mata indah miliknya, aroma parfurm miliknya yang khas. Aku rindu semua tentangnya. Sebelumnya, tak pernah aku merasakan takut seperti ini. Aku takut kehilangan dirinya.

Aku mengenalnya sudah sejak lama, lima tahun silam pertama kali kami mulai saling bercakap, dengan penuh kesederhanaannya Siska mampu membuatku tak bosan bercakap dengannya. Senyuman manis miliknya-lah yang akhirnya mampu membuatku jatuh cinta. Parasnya yang ayu dengan rambut hitam pekat sebahu mampu hadir saat mataku mulai terpejam. Ketika malam datang, ia tak segan-segan hadir dalam angan-anganku meski hanya sekedar memberi senyum indah miliknya.

Sudah tiga tahun belakangan ini kami menjalin hubungan. Sejak tiga tahun silam-lah, kami mulai berjanji untuk saling melengkapi satu sama yang lain, tak ada yang ditutupi, kami ingin menciptakan hubungan penuh kejujuran. Cinta sebelumnya telah banyak mengajarkan kami bagaimana harus memulai hubungan yang lebih baik kedepannya, kami pernah sama-sama saling dikhiati, kami juga pernah sama-sama ditinggal hanya karena kata ‘jenuh’, dan kami sama-sama tak mengerti kenapa ada yang tersakiti akhirnya, ketika kedua insan saling jatuh cinta?

Tidak banyak masalah yang kami lewati selama tiga tahun ini, kami memang saling belajar dewasa, mengerti satu sama lain dan selalu berusaha jujur, ya meski akhirnya selalu ada yang aku tutup-tutupi dari Siska. Siska bukan sosok perempuan dengan tipe pencemburu berat, dia selalu mengerti ketika banyak perempuan didekatku. Ia bukan tipe perempuan yang senang mengambek, meski sekali-sekali ia pernah marah denganku, karena ulah konyolku. Ya, dia tidak terlalu senang dengan kekonyolanku yang tidak pada tempatnya.

Tiga tahun bersama, seharusnya telah banyak memberiku pelajaran tentang bersama. Seharusnya hanya ada pembelajaran dewasa dalam hubungannya bukan sikap kekanak-kanakan milikku. Kami tidak pernah berantem hebat sebelumnya, aku tidak pernah membuatnya menangis sebelumnya, aku tidak pernah membuatnya menjauh dariku sebelumnya. Aku masih berusaha mengirim pesan kepadanya setiap saat seperti yang kami lakukan sebelum ia marah padaku, tapi kini semua berbeda, berpuluh-puluh pesan yang aku kirim, tak ada satupun yang mendapat balasan darinya. Ia sudah benar-benar marah kepadaku.

“Dia sudah tahu?” Seseorang masuk kedalam kamarku yang tak aku kunci.

Aku mengangguk lemas. “Sejak kemarin, aku mencoba meneleponnya, menghubunginya, tapi tak pernah ada jawaban.”

Lelaki yang lebih tua tiga tahun itu mengambil posisi tidurnya dikasurku, matanya menatap lekat-lekat foto yang masih berada dimeja samping kasurku. “Jelas saja dia marah padamu.” Katanya. Dia mengambil PSP milikku disamping fotoku dan Siska. “Mungkin dia sudah tak ingin bertemu denganmu? Atau dia sudah punya lelaki yang lain?”

Aku mengeryitkan dahiku. “Mas kok ngomongnya gitu?”

“Dia wanita yang baik, dewasa, Ref. Bukan tidak mungkin banyak lelaki yang mengantri untuk mendekatinya. Kau ingat berapa banyak lelaki yang sama-sama berjuang untuknya? Tapi, dia memang bodoh, dia malah memilihmu yang jelas-jelas akan menyakitinya.” Lelaki ini mulai sibuk menggerakan jarinya memencet tombol-tombol PSP.

Begitulah Mas Devin ketika bicara denganku. Dia tidak pernah mengajariku untuk membenar sebuah kesalahan dan akhirnya dia selalu menyerangku dengan kata-kata tajam miliknya saat aku mulai salah. Lelaki berusia 24 tahun ini selalu bisa menyikapi segala masalah dengan dewasa, darinya aku banyak belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Sejak orangtua kami meninggal dua tahun yang lalu, dengan dialah aku menjalani kehidupan sederhana dirumah sederhana ini.

“Bukannya sudah aku bilang, jangan bermain-main dengan cinta. Lalu bagaimana hubunganmu dengan perempuan itu?”

“Sudah aku akhiri kemarin.”

“Lalu perasaanmu?”

“Perasaanku? Bukannya aku sudah bilang, aku tak memiliki rasa sedikitpun kepada Clave. Aku hanya jenuh, bukan jenuh kepada Siska, tapi hubungan kami. Terkadang, air butuh sebuah gemercak, air yang tenang pun akan membosankan.”

“Lalu apa alasan itu akan membuat perilakumu benar?” Mas Devin tertawa, dia duduk menatapku. “Jangan ucapkan itu kepada Siska.”

Aku menatapnya bingung. “Lalu apa yang harus aku katakan kepada Siska?”

“Pengakuan salahmu, cukup. Tidak perlu ada pembenaran.”

Aku memandang langit yang tak berbintang, tak menjawab saran Mas Devin. Langit diluar terlihat begitu gelap, tak ada bintang yang menyinari, tak ada yang bulan yang bersinar.

“Cuma mau diam gitu doang, Ref? Banyak lelaki yang rela datang kerumahnya untuk menjemput cintanya.” Mas Devin meninggalkanku.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°

Udara malam ini memang begitu dingin, gemericik-gemericik air masih bisa aku rasakan menetes dikulitku. Jaket kulit yang aku kenakan masih tak bisa menghalangi rasa dingin yang menyerangku. Jarum jam tangan milikku menunjuk kaarah angka 10, sebelumnya tak pernah aku keluar selarut malam, apalagi berkunjung kerumah orang lain.

Aku mematikan mesin sepeda motorku, memarkirnya tepat didepan gerbang rumah bercat biru muda ini. Rumah yang sudah sebulan belakangan ini tak pernah aku kunjungi. Sepi. Lampu-lampu dirumah ini masih nyala terang, semoga aku tak mengganggu waktu tidur mereka, kataku dalam hati.

Jantungku berdebar hebat. Tanganku menjadi dingin. Aku melangkahkan kakiku dengan pasti, mencoba menepis segala keraguan yang menghalangi langkahku. Aku sudah berada tepat didepan pintu rumah Siska, mengetuknya beberapa kali dengan diselingi salam. Seorang wanita paruh baya keluar, menyapaku penuh hangat, sepertinya Siska tak memberitahu bagaimana hubungan kami saat ini.

Setelah menunggu cukup lama, perempuan dengan kaos warna merah dan celana panjang yang sangat aku kenal—celana yang aku hadiahi kepadanya saat ia ulangtahun—menemuiku. Wajahnya sudah tak semarah kemarin, dia terlihat lebih tenang. Matanya terlihat seperti habis menangis dalam waktu lama.

“Jangan disini, Ref. Aku tidak bicara kepada orang rumah tentang kita.” Katanya saat duduk didekatku.
Aku masih menatap wajahnya dari samping. “Hanya sekedar minta maaf pun, aku tidak diizinkan?”

“Aku sudah memaafkanmu.” Katanya tanpa memandangku sedetik pun.

“Tapi kau masih marah kepadaku, Sis?”

Dia tidak menjawab, hanya diam.

“Sis, aku menyesal telah melakukan ini terhadapmu.”

“Aku mohon, jangan disini Ref. Ibu sudah bertanya tentang mata sembabku ini, lalu kau mau semakin membuat mataku sembab?” Suaranya mulai berubah, ia terdengar seperti sedang menahan sesuatu yang ingin keluar. “Sakit Ref saat aku kembali melihatmu, saat aku kembali mengingat kekasihku sedang bergandengan dengan perempuan lain. Sakit Ref.”

“Sis….” Aku menggenggam tangannya, ia sempat mengelak, tapi aku menggenggam tangannya begitu kuat, hingga akhirnya ia mengalah. “Aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu. Hubunganku dengan Clave sudah berakhir kemarin.”

Siska menundukkan kepalanya, menyembunyikan airmatanya yang menetes.

“Seharusnya aku belajar banyak dari kamu, Sis. Bagaimana kamu menghilangkan rasa jenuhmu dengan hubungan kita, bagaimana kamu tak pernah mengeluh dengan kesibukkanku, bagaimana kau mengerti waktu yang kita punya hanya sedikit. Aku yang salah, Sis. Aku yang masih kekanak-kanakan. Aku yang tidak pernah tahu bagaimana cara memahamimu, selama ini aku berfikir, kamu yang terlalu sibuk, tapi ternyata aku salah. Aku yang terlalu sibuk dan kamu tidak pernah mengeluhkan itu.” Aku masih menggenggam tangannya, airmataku menetes begitu saja.

“Ini salahku, Sis. Ya, ini memang salahku. Kau hanya korban dari sikap kekanak-kanakanku. Usiaku sudah hampir 21 tahun, tapi nyatanya aku masih seperti anak SMP yang ingin bermain-main dengan cinta. Dari awal kita memulai semuanya, kita sudah berjanji untuk saling terbuka, tapi nyatanya aku masih saja menutup-nutupi suatu hal. Kita saling tahu, bagaimana rasanya dikhianati, tapi aku masih saja membuatmu merasakannya lagi. Maafkan aku, Sis.” Aku mencium tangannya yang aku genggam, airmataku membasahi tangannya.

Siska tak menjawab sedikitpun ucapanku, membiarkan aku bicara begitu banyak.

Aku tertawa, tapi tak terdengar seperti tertawa. Aneh sekali suaraku. “Aku tidak mengerti apa yang membuatku menjadi cengeng beberapa jam belakangan ini, aku tidak tahu mengapa belakangan ini aku menjadi mudah meneteskan airmata.” Aku menatapnya dengan lekat-lekat. “Aku takut kehilangan dirimu, Sis.” Kataku masih menatapnya dari samping. Tak ada respon dari Siska, ia hanya menundukkan kepalanya.

Aku menarik nafasku dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Aku mulai berhenti bicara, aku merasa sudah terlalu banyak bicara sejak tadi. Hening. Suara hembusan nafas Siska bisa aku dengar dalam suara gemericik hujan yang jatuh ke tanah.

Beberapa menit kami hanya berdiam, aku masih menggenggam tangannya dan Siska hanya berdiam menundukkan kepalanya. Tak ada respon yang berarti dari Siska, aku melepas genggaman tanganku. Siska mengadahkan kepalanya, menatapku yang sedang menatapnya. Mata kami bertemu. Dahulu, saat mata kami bertemu, kami selalu tertawa diakhirnya, tapi saat ini, tak ada yang ingin berniat untuk tertawa.

“Seseorang berkata kepadaku, kamu adalah wanita yang cantik, baik dan dewasa. Seseorang itu pun berkata, banyak lelaki yang ingin memilikimu. Dia yang mengingatkanku, berapa banyak lelaki yang sama-sama berjuang demimu. Tapi, nyatanya kamu memilih aku yang akhirnya malah menyakitimu, padahal kita sama-sama pernah tersakiti.” Aku masih menatapnya yang masih menatapku.

Lagi-lagi, dia hanya terdiam menatapku. Tak menjawabku.

“Seseorang itu benar. Tak seorang pun yang berhak menyakiti wanita sebaik dirimu. Aku memang bukan yang terbaik untukmu. Aku hanya lelaki tanpa rasa bersyukur karena telah memilikimu. Aku hanya lelaki dengan sikap kekanak-kanakan. Aku tak ingin memaksakan dirimu lagi untuk menerimaku kembali. Karena aku sadar, apa yang aku lakukan sudah sangat menyakitimu. Aku masih mencintaimu, Sis, tapi kalau nyatanya aku hanya membuatmu menangis, untuk apa?” Aku mengusap airmata yang menetes dipipinya. “Aku pulang, sampaikan sa…….”

Siska menahan tanganku yang masih menyentuh pipinya. “Kau ingin melepasku? Melupakan janji yang pernah terucap tiga tahun yang lalu?” Katanya. “Aku sudah bilang, aku sudah memaafkanmu. Tapi, kenapa kamu malah memilih untuk meninggalkanku?” Dia menangis. Semakin deras airmata yang mengalir dari mata indahnya.

Aku bingung, “Hei… Hush…. Hush….” Aku mencoba menenangkannya yang masih menangis, memeluknya dengan erat. Tangisnya semakin menjadi-jadi didalam pelukanku. Erat sekali dia memelukku. Airmatanya membasahi bahuku. “Sudah jangan menangis. Aku sakit saat melihatmu menangis.” Kataku.

“Kau ingin berjanji, takkan pernah meninggalkanku?” Katanya, masih dengan airmata yang mengalir.

“Kau ingin meneruskan hubungan ini? Aku takkan meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu, Sis.”

“Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Katanya, kembali memelukku.

Aku masih memeluknya, tak ingin melepaskannya. Kami memulai semuanya dari awal, membiarkan cinta yang tak pernah meredup semakin tumbuh. Aku mencintainya, perempuan yang aku kenal lima tahun silam. Aku mencintainya, perempuan dengan senyumnya yang sederhana namun tak bisa dengan mudah aku lupakan.

Aku pernah menyakitinya, melukai hatinya dan membuat matanya menjadi merah. Aku pernah membuatnya menangis hanya karena aku bosan dengan hubungan kami, bukan karena bosan dengannya, tapi aku hanya ingin memunculkan rindu yang sudah lama tak aku rasakan. Tapi, hati tetaplah hati. Aku masih mencintainya, tak pernah berubah meski rasa jenuh itu ada. Aku masih mencintainya, meski aku mulai tak merindukannya. Dan malam ini, aku mulai sadar, dia-lah wanita yang aku inginkan, aku rindukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.