Sabtu, 14 Juni 2014

Touchdown Yogyakarta-Solo with YKB'14.


Ujian sudah berlalu, perpisahan pun sudah kita lewati bersama, pengumuman sudah menghadirkan tangis kebahagian untuk pencapaian kita, akhirnya. Sudah berapa lama kita tak bertemu. kawan? Kini, kita seakan sibuk dengan pencapaian berikutnya, waktu yang ada tak ingin dibuang-buang begitu saja, tak ada yang menginginkan kegagalan yang lebih besar didepan. Tak ada dan jangan sampai ada.

Rindukah kau denganku? Rindukah kamu dengan kisah kita disekolah? Rindukah kau dengan kebisingan yang selalu membuatmu lelah akhirnya? Rindukah kau dengan teman sebangkumu yang tak bosan mendengar ceritamu? Rindukah kau dengan kebosanan aktivitas belajar dikelas? Rindukah kau akan guru-guru yang selalu pusing karena kebisinganmu?  Rindukah kau akan kegiatanmu menyelinap ke kantin saat jam KBM sedang berlangsung? Rindukah kamu saat kau ditegur oleh guru karena kebandalanmu? Aku rindu itu. Seseorang berkata kepadaku, “Aku rindu saat bersama, jika waktu bisa diulang, aku ingin mengulangnya.”

Dahulu, tidak sedikit yang berharap agar bisa cepat-cepat selesai  sekolah, “Capek, bosan.” Katanya. namun, kini, tidak sedikit pula yang merasa waktu tiga tahun bukanlah waktu yang lama jika dilewati bersama kalian, keluarga kecilku disekolah, sosok asing yang akhirnya aku rindukan. Tiga tahun sudah terlewati tanpa pernah berhenti, dan sekarang, inginkah kau kembali ke tiga tahun yang lalu? Ya, aku ingin.

Dan dipostingan kali ini, saya ingin sekali menceritakan kisah empat hari yang saya lewati bersama teman-teman saya di Yogyakarta. Mungkin ini  biasa untuk kalian, tapi untuk saya dan teman-teman saya, ini luar biasa. Kami tidak tahu bagaimana cara untuk melupakan kenangan ini, bahkan kami  tak ada niat untuk melupakan ini. Kalian, Yogyakarta, kisah takkan terlupakan dalam hidupku. Dan biarkan blogku ini menjadi saksi bisu tentang kisah yang tak ingin aku lupakan. Selamat membaca, teman.
 
Selasa, 13 Mei 2014. Kami sudah berkumpul disekolah kami pada pukul 13.00 WIB. Euphoria kebahagian sangat terasa di sekitar sekolah saya. Koper dan bawaan tergeletak disisi pemiliknya, banyak sekali. Antusias mereka sangat besar untuk perjalanan ini, termasuk aku. 17 jam dalam perjalanan membuat tubuh kami merindukan nikmatnya tidur diatas kasur yang empuk. Ya, kami sangat lelah. Tapi, kebahagian lebih berperan melawan lelah kami. Tak ada raut lelah saat kami sudah berada di tempat tujuan pertama kami, Taman Wisata Borobudur. Setelah sebelumnya kami beristirahat untuk sarapan dan mandi disebuah restaurant yang berada tak jauh dari Borobudur, kami memang langsung menuju Borobudur. Kau tahu kan Borobudur memiliki banyak anak tangga yang harus kami jajakki demi mencapai puncak? Dan dengan tenaga kami yang masih berapa persen, kami lalui itu, masih dengan senyum dan tawa yang selalu mengembang di setiap bibir kami.

Fanny, Tio Ade Ayu

Ihsan dan Fanny

Borobudur.

Hai, Borobudur!


Lagi di Keraton
 Setelahnya kami beristirahat untuk makan siang. Sudah tidak perlu dibahas apa yang kami santap setiap saatnya. Kebersamaan mengalahkan semuanya. Setelah dirasa perut sudah terisi dan kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Keraton Yogyakarta. Perjalanan memang tak sejauh kemarin, tapi kami masih bisa menyelipkan tidur kami seiring menunggu bus kami singgah di Yogyakarta. Waktu berputar lebih cepat ketika kalian sedang bahagia, itu hanya pendapatku saja. Selanjutnya kami menuju hotel. Saya yang diharuskan mengambil kunci di resepsionis hotel. Setelah kunci berada ditanganku, aku memberi tahu untuk menuju lantai 3. Kami berlima berjalan mengikuti langkah yang ada didepan kami. Kami terus mengikuti mereka, tak peduli mereka menuju lantai yang sama atau tidak. Setelah sampai diujung, kami bingung dengan keberadaan lift.

Ini sama Ade Ayu.
“Kamar 301 dimana ya Pak?” Saya bertanya saat seorang karyawan hotel ada disana.

“Naik sini, Mba.” Katanya menunjuk tangga didepannya. Tak peduli dengan bawaan yang kami bawa seperti apa.

Kami berlima hanya diam, menatap satu sama lain lalu menertawakan bawaan kami masing-masing. “ Katanya ada lift, Pak” Temanku mulai panik.

“Liftnya rusak, Mbak.” Katanya lagi, sangat enteng. Ia seperti tak melihat seperti apa bawaan yang kita bawa saat ini, “Olahraga, Mbak.” Katanya dengan tawa.

“Iya Pak, olahraga. Terimakasih.” Kata kami mulai berjuang.

Kami menuju lantai 3 dengan koper yang harus kami jinjing. Untungnya, koperku tidak terlalu penuh dan besar. Ya, orang jawa sepertiku masih selalu melihat sisi positif atas setiap kejadian yang kami alami. Salah seorang temanku harus bersusah payah membawa koper miliknya.
 
Sorenya, kami ada kegiatan di aula hotel. Award Kesuma Bangsa, begitulah acara malam itu dinamakan panitia. Setelah hampir kurang lebih acara itu berlangsung selama satu jam, kami bergegas menuju kamar kami lagi untuk bersiap ke Malioboro. “Malam malioboro”, itu yang kami ucapkan saat itu. 

Selesai acara award.
Saya, Tyo dan Ade menjadikan gelang ini sebagai tanda kami pernah melewati malam di malioboro bersama. Kenangan yang takkan pernah kami lupakan.

di Circle-K Malioboro
 Dan setelahnya, kami kembali ke hotel. Hari cukup melelahkan untuk kami. Setelah hampir 30 menit berada dikamar, kami berlima keluar lagi untuk membeli nasi goreng didepan hotel. Diantara kami tidak ada yang bersedia untuk membeli makan sendirian atau ditinggal keluar sendirian. Ya, kami terlalu asing untuk tempat itu. Malam itu, kami seakan lupa tentang makan malam diatas jam 10. Dan kegilaan kami mulai beraksi setelah perut kami benar-benar penuh. Lihat ini......

Lihat lah, betapa absurdnya kita:|

Kalau yang ini, ngga ngerti apa tema foto mereka.
Ini lagi foto normal.
 
Setelah benar-benar lelah, sekitar pukul 01.00 WIB kami mulai memejamkan mata. Aku sudah sempat mengingatkan temanku agar menyalakan alarm tepat pukul jam 04.00 WIB. Lelah membuat mata kami ingin terpejam lebih lama. Pukul 05.45 WIB aku membuka mataku, mencari handphone-ku dan berharap masih punya waktu untuk terlelap lebih lama, tapi terkandang kenyataan memang selalu mematahkan impian kita. Halah, apa ini?. Aku masih sempat terdiam, memikirkan kami diwajibkan untuk berkumpul jam berapa? Setengah 7. Setengah 7? Aku langsung membangunkan teman-temanku, jadilah kami terburu-buru, tak sempat sarapan. Tapi, masih saja bisa membuat kami tertawa.

Hari selanjutnya kami ke Tawamangun, Solo. Perjalanan menuju solo masih lebih sebentar dibandingkan perjalanan Jakarta-Yogyakarta. Tapi, tetap saja kami (yang nyatanya masih menginginkan waktu lama untuk tidur) akhirnya masih tertidur diperjalanan menuju solo. Udara dingin tawamangun sudah menyapa lembut kami yang baru turun dari bus. Menuruni anak tangga yang tidak sedikit dengan tenaga yang masih kami punya setelah 2 hari perjalanan cukup membuat kami lelah, tapi tetap saja, kami masih diselimuti euphoria kebahagian yang tak bisa kami pungkiri.

Hai, Tawamangu.

Ini ade, Tio dan Fanny lagi.

With Bu Marsanih dan Bu Dewi.

Malam perpisahan......

Sehabis makan malam.

Tancap lagi, sehabis makan.

Ini sama Tio.

Sama Ade Ayu sama Selvi.
 
Besoknya, kami tidak lagi kesiangan. Alarm handphone Ira berhasil membangunkan saya dari tidur malam yang cukup nyenyak. Setelah rapi, kami bergegas ke lantai 2 untuk menyantap sarapan pagi kami. Setelah merasa perut kami terisi dengan penuh, kami kembali ke kamar kami untuk mengambil koper lagi. Kami sempat memperbincangkan berbagai hal yang menurut kami menarik untuk diperbincangkan, setelahnya kami sudah mengeluarkan koper-koper kami satu-persatu, tapi masih tak ingin terburu-buru turun menuju bus. Kami masih betah berada dikamar, kami tidak ingin membiarkan hari terakhir ini berlalu begitu saja. Jadilah, kami kembali ingin mengukir kenangan dengan kejailan kami yang akhirnya membuat kami kembali tertawa. Ira ingin ke WC, kami dengan cepat mengeluarkan koper milik kami semua kecuali milik Ira. Setelahnya saya beraksi, berpura-pura menerima telepon dari teman yang sudah menunggu kami di bus. Tapi, masih tak ada respon dari Ira. Zaida pun mulai berteriak, “Ra, gue duluan ya.”
Ira terdengar panik, “Zai, jangan….. Tungguin, Zai…..”

Kita diam.

“Zai…… Ah, tungguin Zai…..” Katanya lagi, semakin berteriak-teriak.

Kita keluar, pintu kamar kita kunci. Dan jadilah Ira semakin berteriak-teriak. Tak peduli dengan keadaan sekitar, dia masih sibuk berteriak-teriak meminta tolong. Setelah kami merasa cukup puas, Zaida membuka pintu kamar, Ira hanya kaget dengan ekspresi yang membuat kami terbahak-bahak.

Ah, itu takkan pernah terlupakan. Bagaimana bisa dilupakan, saat mengingatnya saja saya masih tertawa?

Dulu, kita pernah merasa ingin cepat-cepat perpisahan, ingin merasakan jalan bersama di kota Yogyakarta. Kita pernah merasa ingin cepat-cepat malam perpisahan, dimana kita harus berpenampilan rapi dengan pasangan jas dan kemeja. Bagi kami kaum wanita, kami harus menggunakan kebaya, dikalungkan sebuah mendali, yang akhirnya bisa kami kenang saat ini. 

Beberapa pekan yang lalu, kami sedang dalam euphoria kebahagian. Perpisahaan, kelulusan kami. Dan kini, kami tengah sibuk mengejar cita-cita kami, membuktikan pada dunia dan semua orang pernah memandang kami dengan pandangan meremehkan.

Kamu adalah bagian dari keluarga kita. Kita adalah rumahmu. Kembalilah saat kamu sudah lelah dan ingin beristirahat, kami akan selalu ada untukmu. Curahkan segala yang ingin kamu curahkan. Dan jika kami tak lagi mampu mendengarkanmu, ada Allah swt. yang tak pernah lelah mendengarmu. Titip doaku, agar aku selalu bisa mendengarkanmu segala keresahanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.