Ujian sudah berlalu, perpisahan
pun sudah kita lewati bersama, pengumuman sudah menghadirkan tangis kebahagian
untuk pencapaian kita, akhirnya. Sudah berapa lama kita tak bertemu. kawan?
Kini, kita seakan sibuk dengan pencapaian berikutnya, waktu yang ada tak ingin
dibuang-buang begitu saja, tak ada yang menginginkan kegagalan yang lebih besar
didepan. Tak ada dan jangan sampai ada.
Rindukah kau denganku? Rindukah
kamu dengan kisah kita disekolah? Rindukah kau dengan kebisingan yang selalu
membuatmu lelah akhirnya? Rindukah kau dengan teman sebangkumu yang tak bosan mendengar
ceritamu? Rindukah kau dengan kebosanan aktivitas belajar dikelas? Rindukah kau
akan guru-guru yang selalu pusing karena kebisinganmu? Rindukah kau akan kegiatanmu menyelinap ke kantin
saat jam KBM sedang berlangsung? Rindukah kamu saat kau ditegur oleh guru
karena kebandalanmu? Aku rindu itu. Seseorang berkata kepadaku, “Aku rindu saat
bersama, jika waktu bisa diulang, aku ingin mengulangnya.”
Dahulu, tidak sedikit yang
berharap agar bisa cepat-cepat selesai
sekolah, “Capek, bosan.” Katanya. namun, kini, tidak sedikit pula yang
merasa waktu tiga tahun bukanlah waktu yang lama jika dilewati bersama kalian,
keluarga kecilku disekolah, sosok asing yang akhirnya aku rindukan. Tiga tahun
sudah terlewati tanpa pernah berhenti, dan sekarang, inginkah kau kembali ke
tiga tahun yang lalu? Ya, aku ingin.
Dan dipostingan kali ini, saya
ingin sekali menceritakan kisah empat hari yang saya lewati bersama teman-teman
saya di Yogyakarta. Mungkin ini biasa
untuk kalian, tapi untuk saya dan teman-teman saya, ini luar biasa. Kami tidak
tahu bagaimana cara untuk melupakan kenangan ini, bahkan kami tak ada niat untuk melupakan ini. Kalian,
Yogyakarta, kisah takkan terlupakan dalam hidupku. Dan biarkan blogku ini
menjadi saksi bisu tentang kisah yang tak ingin aku lupakan. Selamat membaca,
teman.
Selasa, 13 Mei 2014. Kami sudah berkumpul
disekolah kami pada pukul 13.00 WIB. Euphoria kebahagian sangat terasa di
sekitar sekolah saya. Koper dan bawaan tergeletak disisi pemiliknya, banyak
sekali. Antusias mereka sangat besar untuk perjalanan ini, termasuk aku. 17 jam
dalam perjalanan membuat tubuh kami merindukan nikmatnya tidur diatas kasur
yang empuk. Ya, kami sangat lelah.
Tapi, kebahagian lebih berperan melawan lelah kami. Tak ada raut lelah saat
kami sudah berada di tempat tujuan pertama kami, Taman Wisata Borobudur.
Setelah sebelumnya kami beristirahat untuk sarapan dan mandi disebuah
restaurant yang berada tak jauh dari Borobudur, kami memang langsung menuju
Borobudur. Kau tahu kan Borobudur memiliki banyak anak tangga yang harus kami
jajakki demi mencapai puncak? Dan dengan tenaga kami yang masih berapa persen,
kami lalui itu, masih dengan senyum dan tawa yang selalu mengembang di setiap
bibir kami.
| Fanny, Tio Ade Ayu |
| Ihsan dan Fanny |
| Borobudur. |
| Hai, Borobudur! |
| Lagi di Keraton |
Setelahnya
kami beristirahat untuk makan siang. Sudah tidak perlu dibahas apa yang kami
santap setiap saatnya. Kebersamaan mengalahkan semuanya. Setelah dirasa perut
sudah terisi dan kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Keraton
Yogyakarta. Perjalanan memang tak sejauh kemarin, tapi kami masih bisa
menyelipkan tidur kami seiring menunggu bus kami singgah di Yogyakarta. Waktu
berputar lebih cepat ketika kalian sedang bahagia, itu hanya pendapatku saja. Selanjutnya kami menuju hotel. Saya yang
diharuskan mengambil kunci di resepsionis hotel. Setelah kunci berada
ditanganku, aku memberi tahu untuk menuju lantai 3. Kami berlima berjalan
mengikuti langkah yang ada didepan kami. Kami terus mengikuti mereka, tak
peduli mereka menuju lantai yang sama atau tidak. Setelah sampai diujung, kami
bingung dengan keberadaan lift.
| Ini sama Ade Ayu. |
“Kamar 301 dimana ya Pak?” Saya
bertanya saat seorang karyawan hotel ada disana.
“Naik sini, Mba.” Katanya
menunjuk tangga didepannya. Tak peduli dengan bawaan yang kami bawa seperti
apa.
Kami berlima hanya diam, menatap
satu sama lain lalu menertawakan bawaan kami masing-masing. “ Katanya ada lift,
Pak” Temanku mulai panik.
“Liftnya rusak, Mbak.” Katanya
lagi, sangat enteng. Ia seperti tak melihat seperti apa bawaan yang kita bawa
saat ini, “Olahraga, Mbak.” Katanya dengan tawa.
“Iya Pak, olahraga. Terimakasih.”
Kata kami mulai berjuang.
Kami menuju lantai 3 dengan koper
yang harus kami jinjing. Untungnya, koperku tidak terlalu penuh dan besar. Ya,
orang jawa sepertiku masih selalu melihat sisi positif atas setiap kejadian
yang kami alami. Salah seorang temanku harus bersusah payah membawa koper
miliknya.
Sorenya, kami ada kegiatan di aula hotel. Award
Kesuma Bangsa, begitulah acara malam itu dinamakan panitia. Setelah hampir
kurang lebih acara itu berlangsung selama satu jam, kami bergegas menuju kamar
kami lagi untuk bersiap ke Malioboro. “Malam malioboro”, itu yang kami ucapkan
saat itu.
| Selesai acara award. |
Saya, Tyo dan Ade menjadikan
gelang ini sebagai tanda kami pernah melewati malam di malioboro bersama.
Kenangan yang takkan pernah kami lupakan.
| di Circle-K Malioboro |
Dan
setelahnya, kami kembali ke hotel. Hari cukup melelahkan untuk kami. Setelah
hampir 30 menit berada dikamar, kami berlima keluar lagi untuk membeli nasi
goreng didepan hotel. Diantara kami tidak ada yang bersedia untuk membeli makan
sendirian atau ditinggal keluar sendirian. Ya, kami terlalu asing untuk tempat
itu. Malam itu, kami seakan lupa tentang makan malam diatas jam 10. Dan
kegilaan kami mulai beraksi setelah perut kami benar-benar penuh. Lihat ini......
| Lihat lah, betapa absurdnya kita:| |
![]() |
| Kalau yang ini, ngga ngerti apa tema foto mereka. |
| Ini lagi foto normal. |
Setelah benar-benar lelah,
sekitar pukul 01.00 WIB kami mulai memejamkan mata. Aku sudah sempat
mengingatkan temanku agar menyalakan alarm tepat pukul jam 04.00 WIB. Lelah
membuat mata kami ingin terpejam lebih lama. Pukul 05.45 WIB aku membuka
mataku, mencari handphone-ku dan berharap masih punya waktu untuk terlelap
lebih lama, tapi terkandang kenyataan memang selalu mematahkan impian kita. Halah, apa ini?. Aku masih sempat
terdiam, memikirkan kami diwajibkan untuk berkumpul jam berapa? Setengah 7.
Setengah 7? Aku langsung membangunkan teman-temanku, jadilah kami terburu-buru,
tak sempat sarapan. Tapi, masih saja bisa membuat kami tertawa.
Hari selanjutnya kami ke Tawamangun, Solo.
Perjalanan menuju solo masih lebih sebentar dibandingkan perjalanan
Jakarta-Yogyakarta. Tapi, tetap saja kami (yang nyatanya masih menginginkan
waktu lama untuk tidur) akhirnya masih tertidur diperjalanan menuju solo. Udara
dingin tawamangun sudah menyapa lembut kami yang baru turun dari bus. Menuruni anak
tangga yang tidak sedikit dengan tenaga yang masih kami punya setelah 2 hari
perjalanan cukup membuat kami lelah, tapi tetap saja, kami masih diselimuti
euphoria kebahagian yang tak bisa kami pungkiri.
| Hai, Tawamangu. |
| Ini ade, Tio dan Fanny lagi. |
| With Bu Marsanih dan Bu Dewi. |
Malam perpisahan......
| Sehabis makan malam. |
| Tancap lagi, sehabis makan. |
| Ini sama Tio. |
| Sama Ade Ayu sama Selvi. |
Besoknya, kami tidak lagi kesiangan.
Alarm handphone Ira berhasil membangunkan saya dari tidur malam yang cukup
nyenyak. Setelah rapi, kami bergegas ke lantai 2 untuk menyantap sarapan pagi
kami. Setelah merasa perut kami terisi dengan penuh, kami kembali ke kamar kami
untuk mengambil koper lagi. Kami sempat memperbincangkan berbagai hal yang
menurut kami menarik untuk diperbincangkan, setelahnya kami sudah mengeluarkan
koper-koper kami satu-persatu, tapi masih tak ingin terburu-buru turun menuju
bus. Kami masih betah berada dikamar, kami tidak ingin membiarkan hari terakhir
ini berlalu begitu saja. Jadilah, kami kembali ingin mengukir kenangan dengan
kejailan kami yang akhirnya membuat kami kembali tertawa. Ira ingin ke WC, kami
dengan cepat mengeluarkan koper milik kami semua kecuali milik Ira. Setelahnya
saya beraksi, berpura-pura menerima telepon dari teman yang sudah menunggu kami
di bus. Tapi, masih tak ada respon dari Ira. Zaida pun mulai berteriak, “Ra,
gue duluan ya.”
Ira terdengar panik, “Zai,
jangan….. Tungguin, Zai…..”
Kita diam.
“Zai…… Ah, tungguin Zai…..”
Katanya lagi, semakin berteriak-teriak.
Kita keluar, pintu kamar kita
kunci. Dan jadilah Ira semakin berteriak-teriak. Tak peduli dengan keadaan
sekitar, dia masih sibuk berteriak-teriak meminta tolong. Setelah kami merasa
cukup puas, Zaida membuka pintu kamar, Ira hanya kaget dengan ekspresi yang
membuat kami terbahak-bahak.
Ah, itu takkan pernah terlupakan.
Bagaimana bisa dilupakan, saat mengingatnya saja saya masih tertawa?
Dulu, kita pernah merasa ingin
cepat-cepat perpisahan, ingin merasakan jalan bersama di kota Yogyakarta. Kita
pernah merasa ingin cepat-cepat malam perpisahan, dimana kita harus
berpenampilan rapi dengan pasangan jas dan kemeja. Bagi kami kaum wanita, kami
harus menggunakan kebaya, dikalungkan sebuah mendali, yang akhirnya bisa kami
kenang saat ini.
Beberapa pekan yang lalu, kami
sedang dalam euphoria kebahagian. Perpisahaan, kelulusan kami. Dan kini, kami
tengah sibuk mengejar cita-cita kami, membuktikan pada dunia dan semua orang
pernah memandang kami dengan pandangan meremehkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.