Minggu, 03 Agustus 2014

Diary Gladis Part 2

Jumat, 24  September 2010

Hari ini aku harus melalui hari yang baru, masih dengan hati yang sama, masih dengan cinta yang sama, masih dengan buku yang belum kunjung aku selesaikan, entah, akhir-akhir ini aku seperti malas untuk membaca setiap kata-kata yang terangkai dengan apik-nya di setiap buku itu. Hari ini aku masih harus bangun pagi demi tak berdesak-desakan dalam angkutan umum. Masih harus berjalan ke depan gang demi mendapatkan angkutan umum yang melewati depan sekolahku. Dan aku masih harus menempuh perjalanan ke sekolah dengan angkutan umum.

Ya, hari ini semuanya masih sama, tapi ternyata, ada yang sudah berbeda. Lelaki yang selama ini aku tatap secara diam-diam kini sudah berbeda, ia tak lagi sendiri. Ia tak lagi dengan bebas aku tatap, kini ada sepasang bola mata yang mengintaiku saat aku mulai berlama-lama memandang kearahnya. Kini selalu ada perempuan yang setia menemaninya untuk berpanas-panasan latihan futsal, kini ada perempuan yang memasang wajah tak suka saat banyak mata yang memperhatikan kearah lelakinya, meski sebenarnya lebih banyak yang menatapnya tak suka saat tahu dia adalah kekasih Rio. Mereka cemburu.
Naomi, gadis yang baru menduduki kelas 11 lah yang akhirnya berhasil mendapatkan perhatian Rio, gadis yang akhirnya berhasil menaklukkan hati Rio yang susah membuka hatinya untuk perempuan lain, gadis yang kini berhasil menjadi wanita yang selalu berada disamping Rio, gadis dengan sejuta senyumannya yang selalu ia tebarkan, mungkin tandanya ia bahagia. Gadis dengan rambut hitamnya yang selalu ia biarkan terurai dengan indahnya.

Dan hari ini, semuanya masih sama, aku masih mengaguminya dari jauh, masih sering memandangnya secara diam-diam, masih sering tersenyum tak menentu saat mata kami saling bertemu secara tak sengaja, masih sering menjadi tak menentu saat melihatnya bersama wanita barunya. Aku bisa apa saat lelaki yang aku cintai diam-diam akhirnya memiliki kekasih? Memarahi kekasihnya? Bodoh. Aku tidak mungkin melakukannya, aku tidak ada hak untuk menghukum semua yang sudah terjadi.

Dan disaat semua mulai sibuk dengan dunianya sendiri, dengan pasangannya sendiri, dengan lingkungannya sendiri dan dengan kehidupan mereka sendiri, aku masihlah aku, masih aku yang selalu memendam semua perasaanku sendiri, aku masih aku yang selalu terperangkap dalam kesendirian, aku masih aku yang senang duduk dengan novel dihadapanku, meski mata ini tak benar-benar membaca setiap kata-kata yang tertulis disana, aku masih aku yang tak pernah kemana aku harus melampiaskan semua perasaan yang aku rasakan ini.

Aku masih sendiri, duduk dibangku yang sudah hampir 3 bulan belakangan ini selalu menjadi tempat yang nyamanku untuk belajar. Memahami diriku sendiri, memahami perasaan tak menentu dihatiku, memahami semua kenyataan yang terkadang tak sesuai dengan keinginanku. Aku masih disini, di tempatku sendiri, di zona nyaman yang tak pernah diganggu oleh siapapun.Aku sedang mencoba memahami apa arti sesungguhnya dari merelakan. Terkadang, ketika sesuatu yang kamu inginkan tapi tak menjadi yang kamu dapat, kamu perlu merelakan semuanya, bukan hanya melepasnya. Tahukah kamu, merelakan lebih sulit dibandingkan melepaskan? Mungkin kamu bisa melepaskannya dengan mudah, tapi apa kamu sudah merelakannya? Apa kamu sudah siap melihatnya bahagia bersama oranglain, bukan bersamamu seperti yang selalu kamu harapkan? Jika pertanyaan itu yang aku dapat, aku hanya bisa menjawab; Aku sedang belajar hal itu.

Ya, aku belajar untuk merelakannya bersama oranglain yang bisa membuatnya bahagia.

“Bengong aja, Dis.” Sheena datang dan langsung duduk dibangkunya.

Aku hanya tersenyum.

“Gue punya kabar baik buat lu. Mau denger?”

Aku mengangkat alisku seakan bertanya ‘apa?’

“Dion itu mantannya Naomi. Tahu Dion kan?” Sheena terlihat sangat antusias dengan perbincangan yang aku tidak tahu kemana arahnya. “Dan denger-denger, Dion belum bisa lepas dari si Naomi, dia ditinggalin gitu aja sama si Naomi, Katanya.”

“Kamu jangan nyebarin gosip yang nggak-nggak, Sheen, kalo orangnya denger ngga enak juga kan.”

“Ih, serius tahu, itu bukan gosip. Sekarang kita jangan bahas soal itu, jadi maksud gue gini, kalo Dion ternyata masih suka sama Naomi, kenapa kalian nggak kerjasama aja?”

Aku semakin tidak mengerti maksud omongan Sheena.

“Ah, gue tahu lu ngga ngerti, jadi gini, lu sama Dion kerjasama buat bikin mereka putus, gimana?”

“Kamu gilak, Sheen!” Aku tersentak mendengar ide gila Sheena. Ya, inilah Sheena yang selalu punya ide gila.

Sheena tertawa, aku tidak tahu ia menertawakan apa, tapi menurutku, ia sedang menertawakan wajahku yang tak menyangka idenya.

“Eh, Dion. Sini deh.” Sheena langsung menarik Dion mendekat ke meja kami.

Dion menatapku curiga, meski sekelas kami tidak pernah sampai sedekat ini, kami tidak pernah sampai saling pandang seperti ini. Sheena mendekatkan mulutnya ke telinga Dion, membisikkan ide-nya yang ia fikir sudah aku setujui.

“Gue masih ada urusan, ini nomer gue.” Dia memberikan secarik kertas dengan deretan angka. “Kita bahas lain kali aja.” Katanya, meninggalkan kami yang masih sibuk memperhatikan deretan angka yang ia tuliskan.

“Dia ganteng sebenarnya, pintar dan keliatannya lebih baik dari Rio, tapi kenapa bisa ditinggalin ya?” Gumam Sheena.

Aku menatapnya tak terima, aku memang selalu tak suka saat ada seseorang yang menganggap Rio tak baik, playboy atau apapun, menurutku dia adalah lelaki yang baik.”

Malam ini, fikiranku masih tertuju kepada lelaki yang sudah menghabiskan banyak waktunya bersama wanita lain. Aku masih sibuk merangkai angan-anganku bersamanya. Aku masih sibuk membayangkan setiap cerita indah yang akhirnya akan aku rasakan, aku tidak tahu ini salah atau tidak, tapi menurutku, tidak seharusnya aku masih memikirkan dia. Bukankah aku sedang belajar merelakan?

Beberapa menit yang lalu, aku baru menerima sebuah undangan pertemanan di BBM. Aku tidak pernah menyangka seseorang yang selama ini tak pernah menegurku secara langsung bisa mengetahui PIN BBM-ku. Dion. Ya, dia orang yang tak pernah menegurku, meski kami sudah sekelas sejak kami baru masuk SMA. Dion terlalu sibuk dengan organisasi-organisasi-nya disekolah, terlalu sibuk mengejar peringkat lima besar dikelas. Terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri. Dion hanya akrab dengan beberapa orang dikelas, teman sebangkunya, teman yang duduk didepan dan dibelakangnya, sudah.

Dion memang tidak tampan, dia hanya terlihat manis saat ia tersenyum, kacamatanya yang ia buat tidak seperti kacamata baca membuatnya tidak terlihat kaku, tapi bagiku, Dion tetaplah temanku yang kaku, tak mudah bergaul meski sudah banyak organisasi yang ia ikuti.

“Lu serius sama rencana yang tadi siang?” Isi pesan BBM yang ia kirimkan.

Aku tidak tahu apa yang harus aku jawab, aku ragu dengan rencana yang sebenarnya tak begitu aku setujui. Tapi, aku hanyalah aku yang masih mengaguminya secara diam-diam, masih aku yang berharap segala keinginanku akan terwujud dan berakhir dengan indah.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Terimakasih sudah membaca setiap kata yang terangkai disini, sampai jumpa lain kesempatan.


Salamku,

Gladis Putri Gianca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.