Jumat, 24 September 2010
Hari ini aku harus melalui hari
yang baru, masih dengan hati yang sama, masih dengan cinta yang sama, masih
dengan buku yang belum kunjung aku selesaikan, entah, akhir-akhir ini aku
seperti malas untuk membaca setiap kata-kata yang terangkai dengan apik-nya di setiap buku itu. Hari ini aku
masih harus bangun pagi demi tak berdesak-desakan dalam angkutan umum. Masih harus
berjalan ke depan gang demi mendapatkan angkutan umum yang melewati depan
sekolahku. Dan aku masih harus menempuh perjalanan ke sekolah dengan angkutan
umum.
Ya, hari ini semuanya masih sama,
tapi ternyata, ada yang sudah berbeda. Lelaki yang selama ini aku tatap secara
diam-diam kini sudah berbeda, ia tak lagi sendiri. Ia tak lagi dengan bebas aku
tatap, kini ada sepasang bola mata yang mengintaiku saat aku mulai berlama-lama
memandang kearahnya. Kini selalu ada perempuan yang setia menemaninya untuk
berpanas-panasan latihan futsal, kini ada perempuan yang memasang wajah tak
suka saat banyak mata yang memperhatikan kearah lelakinya, meski sebenarnya
lebih banyak yang menatapnya tak suka saat tahu dia adalah kekasih Rio. Mereka
cemburu.
Naomi, gadis yang baru menduduki
kelas 11 lah yang akhirnya berhasil mendapatkan perhatian Rio, gadis yang
akhirnya berhasil menaklukkan hati Rio yang susah membuka hatinya untuk
perempuan lain, gadis yang kini berhasil menjadi wanita yang selalu berada
disamping Rio, gadis dengan sejuta senyumannya yang selalu ia tebarkan, mungkin
tandanya ia bahagia. Gadis dengan rambut hitamnya yang selalu ia biarkan
terurai dengan indahnya.
Dan hari ini, semuanya masih
sama, aku masih mengaguminya dari jauh, masih sering memandangnya secara
diam-diam, masih sering tersenyum tak menentu saat mata kami saling bertemu
secara tak sengaja, masih sering menjadi tak menentu saat melihatnya bersama
wanita barunya. Aku bisa apa saat lelaki yang aku cintai diam-diam akhirnya
memiliki kekasih? Memarahi kekasihnya? Bodoh. Aku tidak mungkin melakukannya,
aku tidak ada hak untuk menghukum semua yang sudah terjadi.
Dan disaat semua mulai sibuk
dengan dunianya sendiri, dengan pasangannya sendiri, dengan lingkungannya
sendiri dan dengan kehidupan mereka sendiri, aku masihlah aku, masih aku yang
selalu memendam semua perasaanku sendiri, aku masih aku yang selalu
terperangkap dalam kesendirian, aku masih aku yang senang duduk dengan novel
dihadapanku, meski mata ini tak benar-benar membaca setiap kata-kata yang
tertulis disana, aku masih aku yang tak pernah kemana aku harus melampiaskan
semua perasaan yang aku rasakan ini.
Aku masih sendiri, duduk dibangku
yang sudah hampir 3 bulan belakangan ini selalu menjadi tempat yang nyamanku
untuk belajar. Memahami diriku sendiri, memahami perasaan tak menentu dihatiku,
memahami semua kenyataan yang terkadang tak sesuai dengan keinginanku. Aku
masih disini, di tempatku sendiri, di zona nyaman yang tak pernah diganggu oleh
siapapun.Aku sedang mencoba memahami apa arti sesungguhnya dari merelakan.
Terkadang, ketika sesuatu yang kamu inginkan tapi tak menjadi yang kamu dapat,
kamu perlu merelakan semuanya, bukan hanya melepasnya. Tahukah kamu, merelakan
lebih sulit dibandingkan melepaskan? Mungkin kamu bisa melepaskannya dengan
mudah, tapi apa kamu sudah merelakannya? Apa kamu sudah siap melihatnya bahagia
bersama oranglain, bukan bersamamu seperti yang selalu kamu harapkan? Jika
pertanyaan itu yang aku dapat, aku hanya bisa menjawab; Aku sedang belajar hal
itu.
Ya, aku belajar untuk
merelakannya bersama oranglain yang bisa membuatnya bahagia.
“Bengong aja, Dis.” Sheena datang
dan langsung duduk dibangkunya.
Aku hanya tersenyum.
“Gue punya kabar baik buat lu.
Mau denger?”
Aku mengangkat alisku seakan
bertanya ‘apa?’
“Dion itu mantannya Naomi. Tahu
Dion kan?” Sheena terlihat sangat antusias dengan perbincangan yang aku tidak
tahu kemana arahnya. “Dan denger-denger, Dion belum bisa lepas dari si Naomi,
dia ditinggalin gitu aja sama si Naomi, Katanya.”
“Kamu jangan nyebarin gosip yang
nggak-nggak, Sheen, kalo orangnya denger ngga enak juga kan.”
“Ih, serius tahu, itu bukan
gosip. Sekarang kita jangan bahas soal itu, jadi maksud gue gini, kalo Dion
ternyata masih suka sama Naomi, kenapa kalian nggak kerjasama aja?”
Aku semakin tidak mengerti maksud
omongan Sheena.
“Ah, gue tahu lu ngga ngerti,
jadi gini, lu sama Dion kerjasama buat bikin mereka putus, gimana?”
“Kamu gilak, Sheen!” Aku
tersentak mendengar ide gila Sheena. Ya, inilah Sheena yang selalu punya ide
gila.
Sheena tertawa, aku tidak tahu ia
menertawakan apa, tapi menurutku, ia sedang menertawakan wajahku yang tak
menyangka idenya.
“Eh, Dion. Sini deh.” Sheena
langsung menarik Dion mendekat ke meja kami.
Dion menatapku curiga, meski
sekelas kami tidak pernah sampai sedekat ini, kami tidak pernah sampai saling
pandang seperti ini. Sheena mendekatkan mulutnya ke telinga Dion, membisikkan
ide-nya yang ia fikir sudah aku setujui.
“Gue masih ada urusan, ini nomer
gue.” Dia memberikan secarik kertas dengan deretan angka. “Kita bahas lain kali
aja.” Katanya, meninggalkan kami yang masih sibuk memperhatikan deretan angka
yang ia tuliskan.
“Dia ganteng sebenarnya, pintar
dan keliatannya lebih baik dari Rio, tapi kenapa bisa ditinggalin ya?” Gumam
Sheena.
Aku menatapnya tak terima, aku
memang selalu tak suka saat ada seseorang yang menganggap Rio tak baik, playboy
atau apapun, menurutku dia adalah lelaki yang baik.”
Malam ini, fikiranku masih
tertuju kepada lelaki yang sudah menghabiskan banyak waktunya bersama wanita
lain. Aku masih sibuk merangkai angan-anganku bersamanya. Aku masih sibuk
membayangkan setiap cerita indah yang akhirnya akan aku rasakan, aku tidak tahu
ini salah atau tidak, tapi menurutku, tidak seharusnya aku masih memikirkan
dia. Bukankah aku sedang belajar merelakan?
Beberapa menit yang lalu, aku
baru menerima sebuah undangan pertemanan di BBM. Aku tidak pernah menyangka
seseorang yang selama ini tak pernah menegurku secara langsung bisa mengetahui
PIN BBM-ku. Dion. Ya, dia orang yang tak pernah menegurku, meski kami sudah
sekelas sejak kami baru masuk SMA. Dion terlalu sibuk dengan
organisasi-organisasi-nya disekolah, terlalu sibuk mengejar peringkat lima
besar dikelas. Terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri. Dion hanya akrab
dengan beberapa orang dikelas, teman sebangkunya, teman yang duduk didepan dan
dibelakangnya, sudah.
Dion memang tidak tampan, dia
hanya terlihat manis saat ia tersenyum, kacamatanya yang ia buat tidak seperti
kacamata baca membuatnya tidak terlihat kaku, tapi bagiku, Dion tetaplah
temanku yang kaku, tak mudah bergaul meski sudah banyak organisasi yang ia
ikuti.
“Lu serius sama rencana yang tadi
siang?” Isi pesan BBM yang ia kirimkan.
Aku tidak tahu apa yang harus aku
jawab, aku ragu dengan rencana yang sebenarnya tak begitu aku setujui. Tapi,
aku hanyalah aku yang masih mengaguminya secara diam-diam, masih aku yang
berharap segala keinginanku akan terwujud dan berakhir dengan indah.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Terimakasih sudah membaca setiap
kata yang terangkai disini, sampai jumpa lain kesempatan.
Salamku,
Gladis
Putri Gianca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.