Selasa, 16 September 2014

Berbedakah Rindu?

Gadis itu masih saja berdiri mematung didepan cermin yang berbentuk persegi panjang sejak beberapa menit yang lalu. Memperhatikan dengan seksama keseluruhan tubuhnya yang ia lihat dicermin, sesekali ia melepas kacamatanya lalu mencermati wajahnya yang tak begitu putih. rambut sebahu miliknya dibiarkan tergerai dengan indahnya. Semuanya tampak biasa saja, tak ada yang berbeda. Ia melengkungkan kedua sisi bibirnya, tersenyum, dan perempuan yang berdiri dihadapannya terlihat tampak manis.

Rindu, biasanya gadis itu dipanggil oleh teman-temannya. Gadis yang tak terlalu banyak bicara. Gadis ramah yang pemalu. Hanya dengan teman-teman dekatnya lah ia bisa menghilangkan segala rasa malunya. Gadis dengan segala rasa yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Gadis yang selalu berusaha tampak ‘baik-baik’ didepan semua orang, ia menyimpan rasa sakitnya untuk dirinya sendiri.
Rindu masih berdiri didepan cerminnya, tak memperdulikan waktu yang telah terbuang. Masih terus mencermati wajahnya dengan seksama, mengarahkan bola matanya keatas dan kebawah berkali-kali. Sesekali, ia menguncir satu rambutnya, tapi semenit kemudian ia melepasnya lagi. Melepas kacamatanya tetapi selanjutnya ia menggunakannya lagi, hanya seperti itu sedari tadi.

Rindu tidak tahu apa yang membuat dirinya membuang waktu yang biasa ia gunakan untuk belajar hanya untuk hal tak penting seperti ini. Rindu tidak mengerti apa yang membuatnya tak memperdulikan buku-buku yang tak tertata rapi dikasurnya. Rindu tidak tahu apa yang membuatnya menjadi melewatkan jam makan siangnya hanya untuk berdiri didepan cermin seperti ini. Dan Rindu juga tidak mengerti ada perasaan yang menggebu-gebu didalam dadanya, perasaan tak menentu yang memaksanya agar berdiri didepan cermin. Rindu hanya tahu, ia sedang tidak baik-baik saja.  Yang ia tahu, ada perasaan ganjil yang sedari tadi disekolah mengganggunya.

Apa yang membuat aku beda dengan mereka? Apa aku memang berbeda dengan mereka? Lalu bagaimana caranya agar aku bisa seperti mereka. Rindu membatin.

Sabtu, 13 September 2014

Diary Gladis Part 3

Kamis, 30 September 2010

Don’t judge book just by the cover. Tidak ada yang berhak menilai seseorang hanya berdasarkan penglihatan pada awal mereka berjumpa, begitu pula aku. Tidak ada yang mengizinkan kita boleh menilai seseorang hanya berdasarkan sikapnya tanpa kita kenal dia dengan baik-baik. Terkadang, kamu perlu memahami dia dengan dalam baru kamu akan mengetahui bagaimana sebenarnya dia.

Aku salah menilai Dion sebagai orang yang tak menyenangkan. Seminggu bersamanya cukup membuat aku mengenal sisi lain darinya, sisi lain yang jarang sekali aku lihat saat kami sedang berada disekolah ataupun dikelas. Tawanya yang lepas bahkan baru pertama kali aku dengar saat kita berada ditaman kompleks sabtu lalu. Dan disanalah aku sadar, Dion tak se-kaku disekolah, saat bersamanya aku merasa seperti bukan bersama Dion yang selalu sibuk dengan segala organisasi-organisasinya disekolah. Dion yang bersamaku adalah Dion yang berbeda.

“Gue ada rapat mendadak, bisa tunggu gue sebentar kan?” Katanya mengagetkanku yang sedang sibuk menyalin catatan yang tertulis rapi dipapan tulis.

Jumat, 05 September 2014

Cinta dalam diam (lagi)?

Terkadang, kenyataan memang tak pernah sesuai seperti apa yang kamu harapkan. Tidak ada yang pernah tahu mengapa Tuhan menggariskan takdir seperti ini ke setiap umat-Nya. Begitu pun aku. Aku tidak tahu mengapa aku dipertemukan dengan seseorang yang sangat mengingatkanku dengan kisah lama. Aku tidak tahu mengapa semuanya menjadi seperti ini, kenangan yang sudah aku tutup dengan susah seakan terbuka dengan mudahnya.

Aku tak melanjutkan langkahku, kaki-ku seakan tak ingin melangkah lagi untuk menuju keruang kelasku. Dadaku terasa sesak secara tiba-tiba, mataku memanas, lututku melemas, aku seperti kembali ke dua tahun yang lalu. Lelaki yang berdiri beberapa langkah didepanku membuka lembaran demi lembaran kenangan menyakitkan ini. Aku tidak pernah mengenalnya, menyapanya, bahkan bertemu dengannya, ini kali pertama aku melihatnya dikampus ini dan ini kali pertama aku dibuat tak berdaya dengan kenanganku.

Lelaki itu hanya sibuk berbincang dengan teman-temannya, tak memperdulikan aku yang sedari tadi dibuat tak bergerak oleh kenangan. Dia adalah lelaki yang berbeda dengan lelaki yang berada didalam kenanganku. Tapi, pernahkah kalian melihat sosok yang kalian cintai berada didalam tubuh yang baru yang kalian tak kenal? Ya. Aku merasakan itu saat ini. Lelaki yang tak aku kenal namanya sangat mengingatkanku dengan Dacvin, lelaki yang aku cinta secara diam-diam selama dua tahun.

Matanya, rambutnya, bentuk tubuhnya dan suara yang samar-samar aku dengar bisa membuatku menjadi tak menentu. Dia mengingatkanku dengan Dacvin. Aku tak mengenalnya tapi aku seperti mengenalnya. Aku tak pernah berbicara dengannya tapi aku seperti sudah membagi banyak ceritaku dengannya. Aku tak mendengar suaranya dengan jelas tapi aku seperti mendengar setiap percakapanku dengannya.

“Del?” Clevo, teman yang baru aku kenal beberapa dua minggu yang lalu membuyarkan lamunanku.

“Eh…. Eh iya, kenapa?” Tanyaku gugup, mataku masih mencuri pandang lelaki yang sudah tak berada ditempatnya.