Gadis itu masih saja berdiri
mematung didepan cermin yang berbentuk persegi panjang sejak beberapa menit
yang lalu. Memperhatikan dengan seksama keseluruhan tubuhnya yang ia lihat
dicermin, sesekali ia melepas kacamatanya lalu mencermati wajahnya yang tak
begitu putih. rambut sebahu miliknya dibiarkan tergerai dengan indahnya. Semuanya
tampak biasa saja, tak ada yang berbeda. Ia melengkungkan kedua sisi bibirnya,
tersenyum, dan perempuan yang berdiri dihadapannya terlihat tampak manis.
Rindu, biasanya gadis itu
dipanggil oleh teman-temannya. Gadis yang tak terlalu banyak bicara. Gadis ramah
yang pemalu. Hanya dengan teman-teman dekatnya lah ia bisa menghilangkan segala
rasa malunya. Gadis dengan segala rasa yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Gadis
yang selalu berusaha tampak ‘baik-baik’ didepan semua orang, ia menyimpan rasa
sakitnya untuk dirinya sendiri.
Rindu masih berdiri didepan
cerminnya, tak memperdulikan waktu yang telah terbuang. Masih terus mencermati
wajahnya dengan seksama, mengarahkan bola matanya keatas dan kebawah
berkali-kali. Sesekali, ia menguncir satu rambutnya, tapi semenit kemudian ia
melepasnya lagi. Melepas kacamatanya tetapi selanjutnya ia menggunakannya lagi,
hanya seperti itu sedari tadi.
Rindu tidak tahu apa yang membuat
dirinya membuang waktu yang biasa ia gunakan untuk belajar hanya untuk hal tak
penting seperti ini. Rindu tidak mengerti apa yang membuatnya tak memperdulikan
buku-buku yang tak tertata rapi dikasurnya. Rindu tidak tahu apa yang
membuatnya menjadi melewatkan jam makan siangnya hanya untuk berdiri didepan
cermin seperti ini. Dan Rindu juga tidak mengerti ada perasaan yang
menggebu-gebu didalam dadanya, perasaan tak menentu yang memaksanya agar
berdiri didepan cermin. Rindu hanya tahu, ia sedang tidak baik-baik saja. Yang ia tahu, ada perasaan ganjil yang sedari
tadi disekolah mengganggunya.
Apa yang membuat aku beda dengan mereka? Apa aku memang berbeda dengan
mereka? Lalu bagaimana caranya agar aku bisa seperti mereka. Rindu
membatin.