Sabtu, 13 September 2014

Diary Gladis Part 3

Kamis, 30 September 2010

Don’t judge book just by the cover. Tidak ada yang berhak menilai seseorang hanya berdasarkan penglihatan pada awal mereka berjumpa, begitu pula aku. Tidak ada yang mengizinkan kita boleh menilai seseorang hanya berdasarkan sikapnya tanpa kita kenal dia dengan baik-baik. Terkadang, kamu perlu memahami dia dengan dalam baru kamu akan mengetahui bagaimana sebenarnya dia.

Aku salah menilai Dion sebagai orang yang tak menyenangkan. Seminggu bersamanya cukup membuat aku mengenal sisi lain darinya, sisi lain yang jarang sekali aku lihat saat kami sedang berada disekolah ataupun dikelas. Tawanya yang lepas bahkan baru pertama kali aku dengar saat kita berada ditaman kompleks sabtu lalu. Dan disanalah aku sadar, Dion tak se-kaku disekolah, saat bersamanya aku merasa seperti bukan bersama Dion yang selalu sibuk dengan segala organisasi-organisasinya disekolah. Dion yang bersamaku adalah Dion yang berbeda.

“Gue ada rapat mendadak, bisa tunggu gue sebentar kan?” Katanya mengagetkanku yang sedang sibuk menyalin catatan yang tertulis rapi dipapan tulis.


Aku mengadahkan kepalaku, aku bisa melihat dengan jelas matanya yang terhalangi kacamata-nya. Aku menarik kedua sisi bibirku membuat sebuah lengkungan senyuman, mengangguk lalu membiarkan Dion berlalu begitu saja.

Begitulah Dion, hanya bicara seperlunya kepadaku saat kami berada disekolah, tapi jika kami sudah berada diluar sekolah, ia lebih mendominasi pembicaraan, banyak sekali pengetahuan yang ia bagikan kepadaku, tanpa peduli aku tertarik untuk mendengarkannya atau tidak. Ia seperti dua orang yang berbeda didua tempat yang berbeda.

Seminggu ini kami memang menghabiskan banyak waktu bersama, mengerjakan tugas akhir sekolah yang menumpuk bersama, mencari buku-buku untuk referensi tugas kami dan banyak hal lagi yang kami lakukan bersama. Seminggu ini, aku selalu membiarkan waktuku terbuang begitu saja hanya untuk menunggunya rapat osis yang mendadak atau pertemuan organisasinya yang lain. Dion melarangku untuk pulang sendiri, ia selalu memaksaku untuk menunggunya hingga selesai, dan lagi-lagi Dion tidak pernah mempedulikan aku tertarik untuk menunggunya atau tidak.

“Lama ya?” Dion masih sibuk membereskan isi tasnya.

“Kenapa gue harus selalu nunggu lu rapat kaya gini sih? Ini tuh ngebetein banget.”

Dion masih sibuk memasukkan kertas-kertas dokumen miliknya kedalam tasnya. “Yaudah balik yuk.” Ajaknya, ia menggandeng lenganku agar mengikuti langkahnya.

Aku mengikuti langkahnya yang dibuat tak secepat biasanya.

“Lu kenapa bisa suka sama Rio? Dia kan bukan cowok baik-baik?” Dion menatapku yang sedari tadi tak berkutik disampingnya.

Raut wajahku berubah, aku memang tidak pernah suka jika ada yang bicara tentang kejelekkan Rio, lagipula siapa yang suka dambaan hatinya dijelek-jelekkan oleh orang lain yang tak mengenalnya?

“Lu tau apa tentang Rio?” Kataku melepas genggaman tangannya sedari tadi.

“Gue gak tau apa-apa tentang dia, tapi gue tau dia suka mainin banyak cewe, Dis.” Katanya tak memperdulikan raut wajah tak suka milikku.

“Lalu?” Tanyaku. “Menurut lu, lu lebih baik dari dia? Terus kalo lu lebih baik dari dia kenapa Naomi lebih memilih Rio dibandingkan lu?”

Dion diam, kini, raut wajahnya yang berubah, ia terlihat tak suka dengan ucapanku barusan, tapi siapa yang peduli? Sedari tadi, ia tak menghiraukan ke-tidak-sukaanku terhadap ucapannya.

Aku tertawa, menertawakannya yang hanya diam menatapku dengan tajamnya. “Kenapa? Baru sadar kalo ternyata lu kalah dari Rio?” Kataku lagi. “Sekarang masih mau bilang Rio ngga baik ketika orang yang lu pertahankan aja lebih milih dia?”

Hening. Dion hanya menatapku tajam, tak ada senyum yang seminggu ini selalu ia berikan kepadaku, tak ada tawanya yang lepas seperti sabtu lalu, kami saling diam, saling tatap dengan fikiran kami masing-masing.

Beberapa menit seperti itu, hingga akhirnya Dion meninggalkanku begitu saja, tanpa kata apapun, tanpa balasan apapun akan ucapanku. Wajahnya sudah terlihat memerah, menahan segala amarah yang bergemeruh didalam dadanya, tapi tak ia keluarkan. Ia hanya meninggalkanku begitu saja.

Aku menatapnya punggung yang semakin jauh, semakin jauh kakinya melangkah, dadaku terasa semakin berdegup cepat, semakin samar-samar aku lihat punggunya, semakin hatiku menjadi tak menentu. Apa aku sudah berkata keterlaluan dengannya?, aku menjadi tak menentu.

Malam ini, malam pertama aku tak henti memikirkannya. Kejadian tadi siang membuat mataku tak terlelap sedari tadi. Segala ucapanku yang akhirnya membuatnya meninggalkanku terasa mengiang-ngiang dalam fikiranku, mengganggu tidurku. Aku mengambil handphone-ku, mengecek apakah ada pesan darinya, biasanya, kami selalu mengirim pesan saat kami hendak tidur, tapi malam ini, tak ada satupun pesan yang berasal darinya.

Aku tidak tahu ini apa, aku tidak tahu kenapa rasanya menjadi seperti ini, aku seperti kehilangan seseorang yang baru saja mengajakku untuk merasakan indahnya hidup, aku seperti kehilangan seseornag yang baru saja mengajarkan aku tentang hidup, memberiku banyak pengetahuan meski aku tak pernah benar-benar tertarik dengan topic pembicaraan bersamanya, tapi ketika kau bicara soal nyaman, maka segala ketidak tertarikan kau akan tak ada artinya. Aku nyaman bersamanya.

Aku senang saat sedang bersamanya, menikmati sore hari yang sejuk, menikmati hujan dan euphoria yang dibuatnya. Aku senang bersamanya ketika tumpukkan tugas bukanlah terlihat seperti beban. Tapi kini, aku membuatnya marah, marah akan kelancanganku. Marah akan kebodohanku yang tak pernah menahan ucapanku.

Sampaikan maafku untuknya yang tak aku ketahui keberadaannya saat ini.


Salamku,


Gladis Putri Gianca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.