Kamis, 30 September 2010
Don’t judge book just by the
cover. Tidak ada yang berhak menilai seseorang hanya berdasarkan penglihatan
pada awal mereka berjumpa, begitu pula aku. Tidak ada yang mengizinkan kita
boleh menilai seseorang hanya berdasarkan sikapnya tanpa kita kenal dia dengan
baik-baik. Terkadang, kamu perlu memahami dia dengan dalam baru kamu akan
mengetahui bagaimana sebenarnya dia.
Aku salah menilai Dion sebagai
orang yang tak menyenangkan. Seminggu bersamanya cukup membuat aku mengenal
sisi lain darinya, sisi lain yang jarang sekali aku lihat saat kami sedang
berada disekolah ataupun dikelas. Tawanya yang lepas bahkan baru pertama kali
aku dengar saat kita berada ditaman kompleks sabtu lalu. Dan disanalah aku
sadar, Dion tak se-kaku disekolah, saat bersamanya aku merasa seperti bukan
bersama Dion yang selalu sibuk dengan segala organisasi-organisasinya
disekolah. Dion yang bersamaku adalah Dion yang berbeda.
“Gue ada rapat mendadak, bisa
tunggu gue sebentar kan?” Katanya mengagetkanku yang sedang sibuk menyalin
catatan yang tertulis rapi dipapan tulis.
Aku mengadahkan kepalaku, aku
bisa melihat dengan jelas matanya yang terhalangi kacamata-nya. Aku menarik
kedua sisi bibirku membuat sebuah lengkungan senyuman, mengangguk lalu
membiarkan Dion berlalu begitu saja.
Begitulah Dion, hanya bicara
seperlunya kepadaku saat kami berada disekolah, tapi jika kami sudah berada
diluar sekolah, ia lebih mendominasi pembicaraan, banyak sekali pengetahuan
yang ia bagikan kepadaku, tanpa peduli aku tertarik untuk mendengarkannya atau
tidak. Ia seperti dua orang yang berbeda didua tempat yang berbeda.
Seminggu ini kami memang
menghabiskan banyak waktu bersama, mengerjakan tugas akhir sekolah yang
menumpuk bersama, mencari buku-buku untuk referensi tugas kami dan banyak hal
lagi yang kami lakukan bersama. Seminggu ini, aku selalu membiarkan waktuku
terbuang begitu saja hanya untuk menunggunya rapat osis yang mendadak atau
pertemuan organisasinya yang lain. Dion melarangku untuk pulang sendiri, ia
selalu memaksaku untuk menunggunya hingga selesai, dan lagi-lagi Dion tidak
pernah mempedulikan aku tertarik untuk menunggunya atau tidak.
“Lama ya?” Dion masih sibuk
membereskan isi tasnya.
“Kenapa gue harus selalu nunggu
lu rapat kaya gini sih? Ini tuh ngebetein banget.”
Dion masih sibuk memasukkan
kertas-kertas dokumen miliknya kedalam tasnya. “Yaudah balik yuk.” Ajaknya, ia
menggandeng lenganku agar mengikuti langkahnya.
Aku mengikuti langkahnya yang
dibuat tak secepat biasanya.
“Lu kenapa bisa suka sama Rio?
Dia kan bukan cowok baik-baik?” Dion menatapku yang sedari tadi tak berkutik
disampingnya.
Raut wajahku berubah, aku memang
tidak pernah suka jika ada yang bicara tentang kejelekkan Rio, lagipula siapa
yang suka dambaan hatinya dijelek-jelekkan oleh orang lain yang tak
mengenalnya?
“Lu tau apa tentang Rio?” Kataku
melepas genggaman tangannya sedari tadi.
“Gue gak tau apa-apa tentang dia,
tapi gue tau dia suka mainin banyak cewe, Dis.” Katanya tak memperdulikan raut
wajah tak suka milikku.
“Lalu?” Tanyaku. “Menurut lu, lu
lebih baik dari dia? Terus kalo lu lebih baik dari dia kenapa Naomi lebih
memilih Rio dibandingkan lu?”
Dion diam, kini, raut wajahnya
yang berubah, ia terlihat tak suka dengan ucapanku barusan, tapi siapa yang
peduli? Sedari tadi, ia tak menghiraukan ke-tidak-sukaanku terhadap ucapannya.
Aku tertawa, menertawakannya yang
hanya diam menatapku dengan tajamnya. “Kenapa? Baru sadar kalo ternyata lu
kalah dari Rio?” Kataku lagi. “Sekarang masih mau bilang Rio ngga baik ketika
orang yang lu pertahankan aja lebih milih dia?”
Hening. Dion hanya menatapku
tajam, tak ada senyum yang seminggu ini selalu ia berikan kepadaku, tak ada
tawanya yang lepas seperti sabtu lalu, kami saling diam, saling tatap dengan
fikiran kami masing-masing.
Beberapa menit seperti itu,
hingga akhirnya Dion meninggalkanku begitu saja, tanpa kata apapun, tanpa
balasan apapun akan ucapanku. Wajahnya sudah terlihat memerah, menahan segala amarah
yang bergemeruh didalam dadanya, tapi tak ia keluarkan. Ia hanya meninggalkanku
begitu saja.
Aku menatapnya punggung yang
semakin jauh, semakin jauh kakinya melangkah, dadaku terasa semakin berdegup
cepat, semakin samar-samar aku lihat punggunya, semakin hatiku menjadi tak
menentu. Apa aku sudah berkata
keterlaluan dengannya?, aku menjadi tak menentu.
Malam ini, malam pertama aku tak
henti memikirkannya. Kejadian tadi siang membuat mataku tak terlelap sedari
tadi. Segala ucapanku yang akhirnya membuatnya meninggalkanku terasa mengiang-ngiang
dalam fikiranku, mengganggu tidurku. Aku mengambil handphone-ku, mengecek
apakah ada pesan darinya, biasanya, kami selalu mengirim pesan saat kami hendak
tidur, tapi malam ini, tak ada satupun pesan yang berasal darinya.
Aku tidak tahu ini apa, aku tidak
tahu kenapa rasanya menjadi seperti ini, aku seperti kehilangan seseorang yang
baru saja mengajakku untuk merasakan indahnya hidup, aku seperti kehilangan
seseornag yang baru saja mengajarkan aku tentang hidup, memberiku banyak
pengetahuan meski aku tak pernah benar-benar tertarik dengan topic pembicaraan
bersamanya, tapi ketika kau bicara soal nyaman, maka segala ketidak tertarikan
kau akan tak ada artinya. Aku nyaman bersamanya.
Aku senang saat sedang
bersamanya, menikmati sore hari yang sejuk, menikmati hujan dan euphoria yang
dibuatnya. Aku senang bersamanya ketika tumpukkan tugas bukanlah terlihat
seperti beban. Tapi kini, aku membuatnya marah, marah akan kelancanganku. Marah
akan kebodohanku yang tak pernah menahan ucapanku.
Sampaikan maafku untuknya yang
tak aku ketahui keberadaannya saat ini.
Salamku,
Gladis Putri Gianca
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.