Terkadang, kenyataan memang tak
pernah sesuai seperti apa yang kamu harapkan. Tidak ada yang pernah tahu
mengapa Tuhan menggariskan takdir seperti ini ke setiap umat-Nya. Begitu pun
aku. Aku tidak tahu mengapa aku dipertemukan dengan seseorang yang sangat
mengingatkanku dengan kisah lama. Aku tidak tahu mengapa semuanya menjadi seperti
ini, kenangan yang sudah aku tutup dengan susah seakan terbuka dengan mudahnya.
Aku tak melanjutkan langkahku,
kaki-ku seakan tak ingin melangkah lagi untuk menuju keruang kelasku. Dadaku terasa
sesak secara tiba-tiba, mataku memanas, lututku melemas, aku seperti kembali ke
dua tahun yang lalu. Lelaki yang berdiri beberapa langkah didepanku membuka
lembaran demi lembaran kenangan menyakitkan ini. Aku tidak pernah mengenalnya,
menyapanya, bahkan bertemu dengannya, ini kali pertama aku melihatnya dikampus
ini dan ini kali pertama aku dibuat tak berdaya dengan kenanganku.
Lelaki itu hanya sibuk berbincang
dengan teman-temannya, tak memperdulikan aku yang sedari tadi dibuat tak
bergerak oleh kenangan. Dia adalah lelaki yang berbeda dengan lelaki yang
berada didalam kenanganku. Tapi, pernahkah kalian melihat sosok yang kalian
cintai berada didalam tubuh yang baru yang kalian tak kenal? Ya. Aku merasakan
itu saat ini. Lelaki yang tak aku kenal namanya sangat mengingatkanku dengan
Dacvin, lelaki yang aku cinta secara diam-diam selama dua tahun.
Matanya, rambutnya, bentuk
tubuhnya dan suara yang samar-samar aku dengar bisa membuatku menjadi tak
menentu. Dia mengingatkanku dengan Dacvin. Aku tak mengenalnya tapi aku seperti
mengenalnya. Aku tak pernah berbicara dengannya tapi aku seperti sudah membagi
banyak ceritaku dengannya. Aku tak mendengar suaranya dengan jelas tapi aku
seperti mendengar setiap percakapanku dengannya.
“Del?” Clevo, teman yang baru aku
kenal beberapa dua minggu yang lalu membuyarkan lamunanku.
“Eh…. Eh iya, kenapa?” Tanyaku
gugup, mataku masih mencuri pandang lelaki yang sudah tak berada ditempatnya.
“Kamu ngeliatin apa sih dari
tadi?”
Aku salah tingkah, mana mungkin
aku menceritakan semuanya, terlalu cepat untuk seorang teman yang baru aku
kenal dua minggu, menurutku. “Tidak, sudah ayuk. Kelas bakal dimulai 15 menit
lagi kan?”
Kami berjalan, aku mengatur
semuanya, langkahku, fikiranku, dan hatiku. Ini hal yang terpenting yang harus
aku kendalikan.
*****
“Hei.” Seorang lelaki
menghampiriku yang sedang menikmati waktu lenggang jadwal kuliah. “Boleh
gabung?” Tanyanya sangat ramah. Ramah sekali.
Aku mengangguk dengan bibir yang
aku lengkungkan membentuk sebuah senyuman. Aku masih menatapnya, tak memperdulikan
reaksi anehnya dengan tatapanku. Hatiku kembali bergetar, jantungku berdetak
dengan sangat cepat. Dan semuanya kembali kedalam ingatanku, ingatan tentang
mencintai dalam diamku.
“Gue Reno” Ujarnya tak
memperdulikan aku yang tak terlalu mendengarkannya. “Heiiii.” Reno
melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku, membuat lamunanku buyar, membuat
kenangan yang sedang diputar kembali terhenti.
“E… Apa? Iya?” Aku terbata-bata.
“Lu kenapa selalu ngeliatin gue
kaya gitu sih?” Tanyanya seakan ia tahu aku sudah dua kali memperhatikannya
tanpa henti.
“Maksudnya?” Aku seakan tidak
mengerti maksud pertanyaan yang ditanyakan Reno, lelaki yang mengingatkanku
dengan seseorang yang pernah aku cintai, bahkan masih aku cintai, mungkin.
“Lu udah dua kali ngeliatin gue
kaya gitu, waktu pertama kemarin lusa didepan kelas gue.” Katanya santai, sesekali
ia menyantap roti bakar punya-nya. “Ada yang salah ya sama gue?” Reno
mendekatkan wajahnya dengan wajahku, membuat pipiku menjadi merah muda.
“Lu mirip sama temen gue” kataku
asal, aku memalingkan wajahku. Menghembuskan nafasku dengan gusar. “Gue ada
kelas nih, gue duluan ya.” Kataku bergegas. Aku tidak ingin semakin salah
tingkah berada didekatnya, aku tidak ingin semakin membuka lembaran kenangan
yang akhirnya hanya akan menyesakkanku saja.
Reno menahan lenganku, kami
saling memandang untuk beberapa menit, dengan mudah aku bisa melihat mata yang
sangat aku rindukan, bukan matanya tetapi mata milik Dacvin.
‘Apa hubungan mereka? Mengapa mereka sangat terlihat sama, bahkan
sampai titik terkecil diantara mereka, mata mereka pun sama.’ aku
membantin.
“Kita bisa temenan kan, ……?”
“Della.” Kataku, bahkan aku baru
sadar aku belum sempat menyebutkan namaku. “Tentu saja.” Aku langsung bergegas
meninggalkannya.
Aku melangkah dengan setengah
hati, hatiku yang setengah masih berada dikantin, ditempat duduk aku dan Reno. Aku
masih tidak habis fikir bagaimana bisa ini terjadi, semuanya terasa mimpi,
semuanya seakan kenangan yang akan terulang.
Aku masih memikirkannya,
bagaimana bisa aku berteman dengan dia—yang mirip dengan lelaki yang aku cintai—?
Apa aku bisa tak bersikap memalukan saat sedang bersamanya? Apa bisa semua
kenangan tentang Dacvin tak hadir kala aku bersamanya? Aku masih tak tahu apa
aku bisa tak merasa seperti bersama Dacvin saat aku bersamanya?
Atau ini kisah berbeda? Apa aku
akhirnya akan jatuh cinta dengan Reno layaknya aku jatuh cinta dengan Dacvin? Apa
aku akan memendam perasaan ini untuk kesekian kalinya? Aku harap tidak, aku
terlalu lemah untuk mengulang semuanya untuk kesekian kalinya. Aku hanya
berharap kami berteman baik, toh aku hanya menemukan sosok Dacvin dalam Reno,
bukan Reno yang benar-benar mengganggu fikiranku.
Semoga kali ini semuanya berjalan
sesuai harapanku, semoga memang tak ada perasaan aneh pada akhirnya. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.