Jumat, 05 September 2014

Cinta dalam diam (lagi)?

Terkadang, kenyataan memang tak pernah sesuai seperti apa yang kamu harapkan. Tidak ada yang pernah tahu mengapa Tuhan menggariskan takdir seperti ini ke setiap umat-Nya. Begitu pun aku. Aku tidak tahu mengapa aku dipertemukan dengan seseorang yang sangat mengingatkanku dengan kisah lama. Aku tidak tahu mengapa semuanya menjadi seperti ini, kenangan yang sudah aku tutup dengan susah seakan terbuka dengan mudahnya.

Aku tak melanjutkan langkahku, kaki-ku seakan tak ingin melangkah lagi untuk menuju keruang kelasku. Dadaku terasa sesak secara tiba-tiba, mataku memanas, lututku melemas, aku seperti kembali ke dua tahun yang lalu. Lelaki yang berdiri beberapa langkah didepanku membuka lembaran demi lembaran kenangan menyakitkan ini. Aku tidak pernah mengenalnya, menyapanya, bahkan bertemu dengannya, ini kali pertama aku melihatnya dikampus ini dan ini kali pertama aku dibuat tak berdaya dengan kenanganku.

Lelaki itu hanya sibuk berbincang dengan teman-temannya, tak memperdulikan aku yang sedari tadi dibuat tak bergerak oleh kenangan. Dia adalah lelaki yang berbeda dengan lelaki yang berada didalam kenanganku. Tapi, pernahkah kalian melihat sosok yang kalian cintai berada didalam tubuh yang baru yang kalian tak kenal? Ya. Aku merasakan itu saat ini. Lelaki yang tak aku kenal namanya sangat mengingatkanku dengan Dacvin, lelaki yang aku cinta secara diam-diam selama dua tahun.

Matanya, rambutnya, bentuk tubuhnya dan suara yang samar-samar aku dengar bisa membuatku menjadi tak menentu. Dia mengingatkanku dengan Dacvin. Aku tak mengenalnya tapi aku seperti mengenalnya. Aku tak pernah berbicara dengannya tapi aku seperti sudah membagi banyak ceritaku dengannya. Aku tak mendengar suaranya dengan jelas tapi aku seperti mendengar setiap percakapanku dengannya.

“Del?” Clevo, teman yang baru aku kenal beberapa dua minggu yang lalu membuyarkan lamunanku.

“Eh…. Eh iya, kenapa?” Tanyaku gugup, mataku masih mencuri pandang lelaki yang sudah tak berada ditempatnya.

“Kamu ngeliatin apa sih dari tadi?”

Aku salah tingkah, mana mungkin aku menceritakan semuanya, terlalu cepat untuk seorang teman yang baru aku kenal dua minggu, menurutku. “Tidak, sudah ayuk. Kelas bakal dimulai 15 menit lagi kan?”

Kami berjalan, aku mengatur semuanya, langkahku, fikiranku, dan hatiku. Ini hal yang terpenting yang harus aku kendalikan.

*****

“Hei.” Seorang lelaki menghampiriku yang sedang menikmati waktu lenggang jadwal kuliah. “Boleh gabung?” Tanyanya sangat ramah. Ramah sekali.

Aku mengangguk dengan bibir yang aku lengkungkan membentuk sebuah senyuman. Aku masih menatapnya, tak memperdulikan reaksi anehnya dengan tatapanku. Hatiku kembali bergetar, jantungku berdetak dengan sangat cepat. Dan semuanya kembali kedalam ingatanku, ingatan tentang mencintai dalam diamku.

“Gue Reno” Ujarnya tak memperdulikan aku yang tak terlalu mendengarkannya. “Heiiii.” Reno melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku, membuat lamunanku buyar, membuat kenangan yang sedang diputar kembali terhenti.

“E… Apa? Iya?” Aku terbata-bata.

“Lu kenapa selalu ngeliatin gue kaya gitu sih?” Tanyanya seakan ia tahu aku sudah dua kali memperhatikannya tanpa henti.

“Maksudnya?” Aku seakan tidak mengerti maksud pertanyaan yang ditanyakan Reno, lelaki yang mengingatkanku dengan seseorang yang pernah aku cintai, bahkan masih aku cintai, mungkin.

“Lu udah dua kali ngeliatin gue kaya gitu, waktu pertama kemarin lusa didepan kelas gue.” Katanya santai, sesekali ia menyantap roti bakar punya-nya. “Ada yang salah ya sama gue?” Reno mendekatkan wajahnya dengan wajahku, membuat pipiku menjadi merah muda.

“Lu mirip sama temen gue” kataku asal, aku memalingkan wajahku. Menghembuskan nafasku dengan gusar. “Gue ada kelas nih, gue duluan ya.” Kataku bergegas. Aku tidak ingin semakin salah tingkah berada didekatnya, aku tidak ingin semakin membuka lembaran kenangan yang akhirnya hanya akan menyesakkanku saja.

Reno menahan lenganku, kami saling memandang untuk beberapa menit, dengan mudah aku bisa melihat mata yang sangat aku rindukan, bukan matanya tetapi mata milik Dacvin.

‘Apa hubungan mereka? Mengapa mereka sangat terlihat sama, bahkan sampai titik terkecil diantara mereka, mata mereka pun sama.’ aku membantin.

“Kita bisa temenan kan, ……?”

“Della.” Kataku, bahkan aku baru sadar aku belum sempat menyebutkan namaku. “Tentu saja.” Aku langsung bergegas meninggalkannya.

Aku melangkah dengan setengah hati, hatiku yang setengah masih berada dikantin, ditempat duduk aku dan Reno. Aku masih tidak habis fikir bagaimana bisa ini terjadi, semuanya terasa mimpi, semuanya seakan kenangan yang akan terulang.

Aku masih memikirkannya, bagaimana bisa aku berteman dengan dia—yang mirip dengan lelaki yang aku cintai—? Apa aku bisa tak bersikap memalukan saat sedang bersamanya? Apa bisa semua kenangan tentang Dacvin tak hadir kala aku bersamanya? Aku masih tak tahu apa aku bisa tak merasa seperti bersama Dacvin saat aku bersamanya?

Atau ini kisah berbeda? Apa aku akhirnya akan jatuh cinta dengan Reno layaknya aku jatuh cinta dengan Dacvin? Apa aku akan memendam perasaan ini untuk kesekian kalinya? Aku harap tidak, aku terlalu lemah untuk mengulang semuanya untuk kesekian kalinya. Aku hanya berharap kami berteman baik, toh aku hanya menemukan sosok Dacvin dalam Reno, bukan Reno yang benar-benar mengganggu fikiranku.


Semoga kali ini semuanya berjalan sesuai harapanku, semoga memang tak ada perasaan aneh pada akhirnya. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.