Gadis itu masih saja berdiri
mematung didepan cermin yang berbentuk persegi panjang sejak beberapa menit
yang lalu. Memperhatikan dengan seksama keseluruhan tubuhnya yang ia lihat
dicermin, sesekali ia melepas kacamatanya lalu mencermati wajahnya yang tak
begitu putih. rambut sebahu miliknya dibiarkan tergerai dengan indahnya. Semuanya
tampak biasa saja, tak ada yang berbeda. Ia melengkungkan kedua sisi bibirnya,
tersenyum, dan perempuan yang berdiri dihadapannya terlihat tampak manis.
Rindu, biasanya gadis itu
dipanggil oleh teman-temannya. Gadis yang tak terlalu banyak bicara. Gadis ramah
yang pemalu. Hanya dengan teman-teman dekatnya lah ia bisa menghilangkan segala
rasa malunya. Gadis dengan segala rasa yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Gadis
yang selalu berusaha tampak ‘baik-baik’ didepan semua orang, ia menyimpan rasa
sakitnya untuk dirinya sendiri.
Rindu masih berdiri didepan
cerminnya, tak memperdulikan waktu yang telah terbuang. Masih terus mencermati
wajahnya dengan seksama, mengarahkan bola matanya keatas dan kebawah
berkali-kali. Sesekali, ia menguncir satu rambutnya, tapi semenit kemudian ia
melepasnya lagi. Melepas kacamatanya tetapi selanjutnya ia menggunakannya lagi,
hanya seperti itu sedari tadi.
Rindu tidak tahu apa yang membuat
dirinya membuang waktu yang biasa ia gunakan untuk belajar hanya untuk hal tak
penting seperti ini. Rindu tidak mengerti apa yang membuatnya tak memperdulikan
buku-buku yang tak tertata rapi dikasurnya. Rindu tidak tahu apa yang
membuatnya menjadi melewatkan jam makan siangnya hanya untuk berdiri didepan
cermin seperti ini. Dan Rindu juga tidak mengerti ada perasaan yang
menggebu-gebu didalam dadanya, perasaan tak menentu yang memaksanya agar
berdiri didepan cermin. Rindu hanya tahu, ia sedang tidak baik-baik saja. Yang ia tahu, ada perasaan ganjil yang sedari
tadi disekolah mengganggunya.
Apa yang membuat aku beda dengan mereka? Apa aku memang berbeda dengan
mereka? Lalu bagaimana caranya agar aku bisa seperti mereka. Rindu
membatin.
****
Saat disekolah, sedang istirahat.
“Rind, Lu tau gak? ada cowok yang
nembak gue lagi.” Sheena, gadis yang ia kenal tiga tahun yang lalu saat mereka
sama-sama menjadi siswi baru.
“Siapa?” Rindu masih asyik
melahap roti bakar miliknya.
“Itu si Gio, anak 12 Ipa 2. Tau
kan?” katanya bisik-bisik, tapi masih dapat didengar dari jarak 10 langkah dari
bangku yang kami duduki.
Rindu terhenyak, “Secepat itu?
Kamu kan baru putus dari Jim?”
“Aku juga nggak tahu Rind.”
Rindu memperhatikan Sheena yang
sibuk menghabiskan jus alpukat miliknya, gadis yang lebih putih darinya itu tak
sadar diperhatikan oleh Rindu. Ia memperhatikan segala hal yang ada pada
Sheena, memperhatikannya seksama tanpa lengah sedikitpun.
“Kamu kenapa bisa secepat itu
dapet ganti Jim, Sheen?” Rindu mulai mengalihkan pandangannya ke piring putih
didepannya. “Maksudku, kenapa bisa secepat itu Gio nembak kamu? Dia tahu kan
kamu baru putus sama Jim?”
Sheena mengangguk, “Gue juga
nggak tahu kalo soal itu, Rind.”
Rindu terdiam lagi. Perasaannya
mulai tak karuan. Gadis ini memang mudah menjadi tak karuan, tapi ia selalu
menyimpannya untuk dirinya sendiri, tak memberitahu oranglain, tak mengizinkan
oranglain tahu. Rindu tak mengerti hatinya mengapa menjadi berdebar seperti
ini. Ini bukan pertama kali ia seperti ini, menjadi tak menentu tanpa sebab
yang pasti.
“Menurut kamu apa yang ngebuat
Gio nembak kamu, Sheen?”
Sheena tertawa, “Gue nggak tahu
lah, coba tanya aja sama dia, Rind.”
****
Rindu menghempaskan tubuhnya
diatas kasurnya, membuat beberapa buku yang berantakan menjadi tertindih
tubuhnya. Ia memejamkan matanya untuk menetralisir perasaannya yang kacau, tapi
itu tak begitu membuahkan hasil, dadanya masih terasa sesak dan airmatanya
begitu saja menetes. Perasaan yang selalu hadir ini sudah tak bisa ia halaukan
lagi, biasanya, ketika ia menjadi seperti ini, ia mengalihkan perhatiannya
kepada buku-buku yang belum kunjung ia selesaikan, tapi hari ini, semuanya
menjadi sangat menyebalkan untuk Rindu, ia tak bisa menghalau segala perasaan
tak jelas ini. Konsentrasinya sudah tak bisa mengalihkan rasa sesak didadanya.
Ia benar-benar tidak tahu apa
yang mendorong airmatanya menetes begitu saja. Ia hanya tahu, dadanya terasa
sesak, yang ia tahu perasaan yang menjadi tak menentu. Yang ia tahu, ia merasa
seperti berbeda dari gadis yang lainnya. Ia tahu, setiap manusia memang
berbeda, tapi apa ia tidak memiliki yang gadis lain miliki? Ia masih bertanya,
mengapa gadis lain dengan mudahnya mendapat cinta yang ia inginkan? Mengapa gadis
lain bisa merasakan dicinta bukan hanya mencinta layaknya dia?
“Apa aku terlalu buruk untuk
dicinta?” Tanyanya sendiri, ia membiarkan pertanyaannya hilang begitu saja
menyatu dengan udara. Tak ada yang mendengar dan tak ada yang menjawabnya.
Rindu adalah gadis biasa, ia bisa
dibuat menjadi tak menentu oleh perasaannya sendiri. Apalagi, saat mendengar
ada beberapa perempuan yang bisa dengan mudah dicintai oleh pria lain,
mendapatkan cinta yang baru saat cinta yang lama belum begitu meredup. Bukan Rindu
iri atau tak suka dengan kebahagian teman-temannya, hanya saja, untuk seorang
gadis yang menyimpan perasaanya sendiri seperti Rindu ini bisa menjadi hal yang
paling menyebalkan untuknya. Hanya mendengar itu, perasaan yang selama ini ia
simpan sendiri menjadi menyatu dan membuatnya tak berdaya.
Gadis ini masih memejamkan
matanya, tak berusaha menghentikan airmata yang terus menetes. Ia hanya berharap
airmata yang menetes bisa membawa segala perasaannya yang tak menentu, bisa
menghilangkan sesak didadanya. Mungkin Rindu bukan satu-satunya gadis yang
selalu menyimpan semua perasaannya hanya untuk dirinya sendiri, tak pernah
membagi segala perasaan yang menyesakkan kepada teman-temannya. Mungkin Rindu
tidak sendiri sebagai gadis yang selalu dibuat tak berdaya oleh perasaan yang
ia simpan sendiri.
Rindu terlelap, akhirnya.
airmatanya sudah tak menetes. Wajahnya yang manis terlihat begitu lelah menahan
segala perasaan yang berkecamuk dengan hebatnya beberapa jam belakangan ini. Ia
tertidur begitu lelap, ia lelah menangisi kehidupannya. Rindu terlelap,
akhirnya, membawa segala perasaannya yang masih ia simpan untuk dirinya
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.