Selasa, 04 November 2014

Kedatangan Cinta (Lagi)

Ini bukan kali pertama aku merasakan getaran-getaran tak menentu. Ini bukan kali pertama pandanganku tak beranjak dari wajah seseorang dihadapanku. Ini bukan kali pertama aku merasakan rasa tak menentu. Sebelumnya aku pernah seperti ini, seperti ingin terus memandang wajahnya  yang terkesan tersenyum kepadaku.

Sebelumnya aku pernah berjanji, tak ingin memulai rasa itu lagi untuk kesekian kalinya, tapi bertemu denganmu membuat aku seakan lupa dengan ucapanku, lupa dengan segala janji yang terucap, lupa akan sakitnya mencintai tanpa dicintai. Aku seperti ingin memulainya lagi, mengawali meski hanya untuk diriku sendiri.

Saat ini, ia berada tak jauh dari tempatku duduk. Suara tawanya masih bisa aku dengar dengan jelas, aku masih bisa memperhatikan paras wajahnya yang tak membuatku bosan, aku tidak tahu sejak kapan, aku mulai senang memandanginya seperti saat ini, menikmati senyum yang disembahkan oleh bibirnya, entah sejak kapan, rasa ini kembali datang setelah 2 tahun yang lalu aku berjanji dengan diriku sendiri.

“Jangan disimpan sendiri, utarakan kalau kamu memang suka.” Clara menyeruput jus miliknya, “Dia juga keliatan care sama kamu kok.” Tambahnya.

Aku masih memandanginya beberapa menit sebelum ia sadar sedang dipandangi oleh seseorang, “Dia care sama semua cewek. Dia care sama semua temennya.” Aku menjatuhkan pandanganku ke meja kantin, tak berani mengangkat pandanganku, karena sepasang mata masih memperhatikanku dari tempatnya berada.

“Tapi sikap Kaisar sama lu tuh beda, Clev. Kalau dia ngomong sama lu juga dia keliatannya serius, beda kalo sama dia lagi sama anak-anak yang lainnya.”

Pipiku merona, aku tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti apa. Jauh didalam lubuk hatiku, aku berharap ucapan Clara benar, tetapi aku tidak ingin terlalu jauh mengkhayal, tak ingin berharap dengan yang pasti untuk kesekian kalinya.

*****

“Cleva.” Kaisar memanggilku.

“Ya kenapa?” Aku menghindari tatapan matanya, tapi tetap saja aku ingin memandang mata bulat miliknya.

“Lusa ada acara?” Tanyanya.

“Nggak ada, kayanya. Memangnya kenapa?”

“Temenin ke toko buku, ya. Gue yang nanggung semua ongkosnya deh.” Katanya dengan wajah memohon miliknya.

“Gue kabarin lagi ya nanti. Sekarang harus buru-buru nih.” Kataku terkesan terburu-buru, sebenarnya aku tak ingin jantungku semakin berdebar dibuatnya.

“Oh, oke. Kabarin ya tapi. Usahain juga.” Katanya sedikit berteriak karena aku sudah menjauhinya.

Dan setelah sekian lama aku tak merasakan getaran-getaran yang tak menentu, hari ini aku mulai merasakannya lagi, jantungku berdebar dengan sangat cepat, pipiku mulai terasa memerah dan aku mulai tersenyum sendiri. Setelah sekian lama aku tak merasakannya, kini aku merasakannya lagi, tak berani menatap matanya, tak berani berada sangat dekat dengannya.

***

“Kalian mau pergi?” Clara mulai sibuk bertanya sejak ia tahu aku dan Kaisar akan pergi bersama. Aku memang menerima tawaran Kaisar untuk menemaninya ke toko buku.

“Ke toko buku, Ra. Lu mau ikut?” Aku tidak tahu ini tawaran yang tepat atau tidak.

“Ngga ah, ngga mau jadi nyamuk.” Clara mulai menggodaku, ia menyenggol siku dengan diam-diam.

Kaisar hanya tertawa mendengar ucapan Clara. Entah apa maksud dari tawanya, tetapi ia tak memberikan bantahan apapun terhadap ucapan Clara. “Yaudah, lu mau ikut gak, Ra?”

“Nggak. Gue gak mau jadi perusak suasana.” Godanya lagi.

“Yaudah, yuk, Clev.” Kaisar berjalan meninggalkan Clara yang masih menatapku dengan tatapan menggoda, “Duluan ya, Ra.”

Aku mengikuti langkah Kaisar, meninggalkan Clara yang masih sibuk menggodaku. Aku mengatur detak jantung yang berdebub dengan cepat, mengatur tarikan nafas yang menjadi tak beraturan seketika, membuat semuanya seolah-olah biasa saja.

Sudah sejak satu jam yang lalu aku mengikuti langkah kakinya, memperhatikan buku-buku yang tertata rapi. Sejak satu jam yang lalu, aku hanya memandanginya secara diam-diam, memperhatikan wajahnya dari samping. Tak ada yang mulai perbincangan, antara kami sibuk dengan fikiran kami masing-masing, Kaisar fokus untuk mencari buku yang ingin ia beli dan aku fokus mengikutinya, menikmati setiap waktu yang berputar tanpa henti. Jika bisa, mungkin akan ku hentikan waktu saat ini, aku ingin masih berada didekatnya dalam waktu yang lama.

“Udah ketemu nih bukunya. Lu mau beli buku apa?” Ia menganggetkanku.

“Eh.... Hmmm... Nggak, nggak ada.” Kataku terbata-bata.

Ia tersenyum lalu bergegas ke kasir, meninggalkan aku yang masih terdiam.

Hari ini mungkin adalah hari keberuntungan untukku. Aku fikir, waktuku bersamanya sudah habis ketika kami sudah keluar dari toko buku, tetapi Tuhan mengabulkan doaku, Tuhan menurunkan hujan yang membuatku dan Kaisar harus tetap berada ditempat ini.

“Mau nunggu disini atau di kafe itu?” Kaisar menunjuk sebuah kafe yang berada disamping toko buku.

“Disana aja kali ya? Gue haus.”

Dan disini kami berada sekarang, tempat duduk dekat jendela kafe, dari tempat kami berada, aku bisa melihat tetesan-tetesan lembut air hujan. Aku masih memandangi tetesan hujan, menurutku, mereka mengesankan. Aku tidak tahu apa yang membuatku tertarik dengan air hujan yang akhirnya membuatkan udara menjadi terasa dingin, bagiku, air hujan seperti membawa segala perasaan yang aku pendam berlalu begitu saja. Melihatnya seperti melulurkan segala kepenatan yang tak aku bagi dengan siapapun. Dan untuk saat ini, aku menyukainya karena ia menahan Kaisar untukku.

“Clev, ada yang mau gue tanyain deh.” Tanyanya.

Aku mengerutkan dahiku, “Apa?”

“Lu pernah dengar gosip tentang lu sama gue?” Tanyanya lagi.

Aku tak langsung menjawabnya, aliran darahku seakan berhenti, jantungku berdebub dengan sangat cepat, sangat cepat, membuat tubuhku menjadi sangat dingin.

“Emangnya kenapa? Lu merasa terganggu ya?” Tanyaku diselingi tawa, entah tawa untuk apa, aku hanya menghilangkan canggung yang tiba-tiba datang.

“Aneh aja, masa kata mereka, lu suka sama gue.” Ia tertawa. Dan jantungku semakin berdebub dengan cepat.

“Sar......” Panggilku, aku menarik nafasku dalam-dalam, lalu menghembuskannya begitu saja. “Kalau semua itu emang benar?”

Kaisar menghentikan tawanya. Ia menatapku dengan tajam, seakan tak percaya akan kalimat yang baru saja aku ungkapkan. “Bercanda kan?”

Aku menggeleng, beberapa menit yang lalu aku sudah menyiapkan hatiku dengan apapun reaksi Kaisar. Aku menyiapkan semuanya dalam waktu beberapa menit yang lalu. “Mereka benar. Gue emang suka sama lu. Entah sejak kapan, gue mulai senang ketika kita sedang berada dijarak yang dekat dan menjadi tak menentu saat lu mulai dekat dengan perempuan lain.”

“Tapi, lu tahu cerita gue kan, Clev?” Ia bertanya penuh kehati-hatiannya, aku tahu ia tak ingin menyakiti aku.

“Tentang mantan lu?”

Kaisar mengangguk cepat. Dan kami hanya berdiam, akhirnya. Aku menahan airmataku yang akan menetes dan Kaisar terlihat sedang merangkai kata-kata penolakan yang tak menyakitiku, tapi pada akhirnya mana ada penolakan yang tak menyakitkan?

“Clev, jujur gue belum bisa move on dari yang kemarin. Gue juga nggak tahu mau sampai kapan seperti ini, tapi gue nggak bisa kalau harus menganggap kita lebih dari sebuah pertemanan. Gue cuma nganggep lu sebagai teman, nggak lebih.” Katanya. “Gue duluan ya.” Kaisar pergi, meninggalkan aku yang masih sibuk menatapnya dengan airmata yang menetes.

Akhirnya, seberapa lama aku mempersiapkan diriku untuk sebuah penolakan, penolakan akan tetap terasa sakit. Airmata akan selalu menetes diakhirnya. Aku masih diam ditempatku, tak melihat kepergian Kaisar yang tak memperdulikan hujan, tak memperdulikan airmata yang menetes dibuatnya.

Ini cinta yang berbeda, kisah yang beda, lelaki yang berbeda tetapi akhirnya sama. Untuk kesekian kalinya, aku harus kembali memendam semuanya sendiri, hidup dengan perasaanku sendiri. kali ini, aku sudah berusaha untuk membaginya, tetapi pada akhirnya tetap saja, semuanya harus ku simpan sendiri.

Seseorang pernah berkata kepadaku; Jangan lihat seperti apa penolakannya, tetapi lihat bagaimana kau bisa jujur dengan perasaanmu sendiri. Jangan selalu hidup dalam duniamu sendiri, perasaanmu sendiri. Dan jika akhir dari sebuah pengakuan adalah menyakitkan, bukankah lebih sakit kehilangan tanpa pernah mengutarakan apa yang kamu rasakan?


*****

2 komentar:

  1. ya kak lebih sakit kehilangan begitu saja tanpa usaha ketimbang sakit kehilangan karena sudah berusaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setidaknya dengan kamu sudah berusaha, kamu akan tahu apa yang ia rasa dan tahu apa yang seharusnya kamu lakukan selanjutnya, kan? Hehe terimakasih ya sudah membaca;-)

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.