Ini bukan kali pertama aku
merasakan getaran-getaran tak menentu. Ini bukan kali pertama pandanganku tak
beranjak dari wajah seseorang dihadapanku. Ini bukan kali pertama aku merasakan
rasa tak menentu. Sebelumnya aku pernah seperti ini, seperti ingin terus
memandang wajahnya yang terkesan
tersenyum kepadaku.
Sebelumnya aku pernah berjanji,
tak ingin memulai rasa itu lagi untuk kesekian kalinya, tapi bertemu denganmu membuat aku seakan lupa dengan ucapanku, lupa dengan segala janji yang terucap, lupa
akan sakitnya mencintai tanpa dicintai. Aku seperti ingin memulainya lagi,
mengawali meski hanya untuk diriku sendiri.
Saat ini, ia berada tak jauh dari
tempatku duduk. Suara tawanya masih bisa aku dengar dengan jelas, aku masih
bisa memperhatikan paras wajahnya yang tak membuatku bosan, aku tidak tahu
sejak kapan, aku mulai senang memandanginya seperti saat ini, menikmati senyum
yang disembahkan oleh bibirnya, entah sejak kapan, rasa ini kembali datang
setelah 2 tahun yang lalu aku berjanji dengan diriku sendiri.
“Jangan disimpan sendiri,
utarakan kalau kamu memang suka.” Clara menyeruput jus miliknya, “Dia juga
keliatan care sama kamu kok.”
Tambahnya.
Aku masih memandanginya beberapa
menit sebelum ia sadar sedang dipandangi oleh seseorang, “Dia care sama semua cewek. Dia care sama semua temennya.” Aku menjatuhkan
pandanganku ke meja kantin, tak berani mengangkat pandanganku, karena sepasang
mata masih memperhatikanku dari tempatnya berada.
“Tapi sikap Kaisar sama lu tuh
beda, Clev. Kalau dia ngomong sama lu juga dia keliatannya serius, beda kalo
sama dia lagi sama anak-anak yang lainnya.”
Pipiku merona, aku tidak tahu
harus memberikan tanggapan seperti apa. Jauh didalam lubuk hatiku, aku berharap
ucapan Clara benar, tetapi aku tidak ingin terlalu jauh mengkhayal, tak ingin
berharap dengan yang pasti untuk kesekian kalinya.
*****
“Cleva.” Kaisar memanggilku.
“Ya kenapa?” Aku menghindari
tatapan matanya, tapi tetap saja aku ingin memandang mata bulat miliknya.
“Lusa ada acara?” Tanyanya.
“Nggak ada, kayanya. Memangnya
kenapa?”
“Temenin ke toko buku, ya. Gue
yang nanggung semua ongkosnya deh.” Katanya dengan wajah memohon miliknya.
“Gue kabarin lagi ya nanti.
Sekarang harus buru-buru nih.” Kataku terkesan terburu-buru, sebenarnya aku tak
ingin jantungku semakin berdebar dibuatnya.
“Oh, oke. Kabarin ya tapi.
Usahain juga.” Katanya sedikit berteriak karena aku sudah menjauhinya.
Dan setelah sekian lama aku tak
merasakan getaran-getaran yang tak menentu, hari ini aku mulai merasakannya
lagi, jantungku berdebar dengan sangat cepat, pipiku mulai terasa memerah dan
aku mulai tersenyum sendiri. Setelah sekian lama aku tak merasakannya, kini aku
merasakannya lagi, tak berani menatap matanya, tak berani berada sangat dekat
dengannya.
***
“Kalian mau pergi?” Clara mulai
sibuk bertanya sejak ia tahu aku dan Kaisar akan pergi bersama. Aku memang
menerima tawaran Kaisar untuk menemaninya ke toko buku.
“Ke toko buku, Ra. Lu mau ikut?”
Aku tidak tahu ini tawaran yang tepat atau tidak.
“Ngga ah, ngga mau jadi nyamuk.”
Clara mulai menggodaku, ia menyenggol siku dengan diam-diam.
Kaisar hanya tertawa mendengar
ucapan Clara. Entah apa maksud dari tawanya, tetapi ia tak memberikan bantahan
apapun terhadap ucapan Clara. “Yaudah, lu mau ikut gak, Ra?”
“Nggak. Gue gak mau jadi perusak
suasana.” Godanya lagi.
“Yaudah, yuk, Clev.” Kaisar
berjalan meninggalkan Clara yang masih menatapku dengan tatapan menggoda, “Duluan
ya, Ra.”
Aku mengikuti langkah Kaisar,
meninggalkan Clara yang masih sibuk menggodaku. Aku mengatur detak jantung yang
berdebub dengan cepat, mengatur tarikan nafas yang menjadi tak beraturan
seketika, membuat semuanya seolah-olah biasa saja.
Sudah sejak satu jam yang lalu
aku mengikuti langkah kakinya, memperhatikan buku-buku yang tertata rapi. Sejak
satu jam yang lalu, aku hanya memandanginya secara diam-diam, memperhatikan
wajahnya dari samping. Tak ada yang mulai perbincangan, antara kami sibuk
dengan fikiran kami masing-masing, Kaisar fokus untuk mencari buku yang ingin
ia beli dan aku fokus mengikutinya, menikmati setiap waktu yang berputar tanpa
henti. Jika bisa, mungkin akan ku hentikan waktu saat ini, aku ingin masih
berada didekatnya dalam waktu yang lama.
“Udah ketemu nih bukunya. Lu mau
beli buku apa?” Ia menganggetkanku.
“Eh.... Hmmm... Nggak, nggak ada.”
Kataku terbata-bata.
Ia tersenyum lalu bergegas ke kasir,
meninggalkan aku yang masih terdiam.
Hari ini mungkin adalah hari
keberuntungan untukku. Aku fikir, waktuku bersamanya sudah habis ketika kami
sudah keluar dari toko buku, tetapi Tuhan mengabulkan doaku, Tuhan menurunkan
hujan yang membuatku dan Kaisar harus tetap berada ditempat ini.
“Mau nunggu disini atau di kafe
itu?” Kaisar menunjuk sebuah kafe yang berada disamping toko buku.
“Disana aja kali ya? Gue haus.”
Dan disini kami berada sekarang,
tempat duduk dekat jendela kafe, dari tempat kami berada, aku bisa melihat
tetesan-tetesan lembut air hujan. Aku masih memandangi tetesan hujan,
menurutku, mereka mengesankan. Aku tidak tahu apa yang membuatku tertarik
dengan air hujan yang akhirnya membuatkan udara menjadi terasa dingin, bagiku,
air hujan seperti membawa segala perasaan yang aku pendam berlalu begitu saja.
Melihatnya seperti melulurkan segala kepenatan yang tak aku bagi dengan
siapapun. Dan untuk saat ini, aku menyukainya karena ia menahan Kaisar untukku.
“Clev, ada yang mau gue tanyain
deh.” Tanyanya.
Aku mengerutkan dahiku, “Apa?”
“Lu pernah dengar gosip tentang
lu sama gue?” Tanyanya lagi.
Aku tak langsung menjawabnya,
aliran darahku seakan berhenti, jantungku berdebub dengan sangat cepat, sangat
cepat, membuat tubuhku menjadi sangat dingin.
“Emangnya kenapa? Lu merasa
terganggu ya?” Tanyaku diselingi tawa, entah tawa untuk apa, aku hanya
menghilangkan canggung yang tiba-tiba datang.
“Aneh aja, masa kata mereka, lu
suka sama gue.” Ia tertawa. Dan jantungku semakin berdebub dengan cepat.
“Sar......” Panggilku, aku
menarik nafasku dalam-dalam, lalu menghembuskannya begitu saja. “Kalau semua
itu emang benar?”
Kaisar menghentikan tawanya. Ia menatapku
dengan tajam, seakan tak percaya akan kalimat yang baru saja aku ungkapkan. “Bercanda
kan?”
Aku menggeleng, beberapa menit
yang lalu aku sudah menyiapkan hatiku dengan apapun reaksi Kaisar. Aku menyiapkan
semuanya dalam waktu beberapa menit yang lalu. “Mereka benar. Gue emang suka
sama lu. Entah sejak kapan, gue mulai senang ketika kita sedang berada dijarak
yang dekat dan menjadi tak menentu saat lu mulai dekat dengan perempuan lain.”
“Tapi, lu tahu cerita gue kan,
Clev?” Ia bertanya penuh kehati-hatiannya, aku tahu ia tak ingin menyakiti aku.
“Tentang mantan lu?”
Kaisar mengangguk cepat. Dan kami
hanya berdiam, akhirnya. Aku menahan airmataku yang akan menetes dan Kaisar
terlihat sedang merangkai kata-kata penolakan yang tak menyakitiku, tapi pada
akhirnya mana ada penolakan yang tak menyakitkan?
“Clev, jujur gue belum bisa move on dari yang kemarin. Gue juga nggak
tahu mau sampai kapan seperti ini, tapi gue nggak bisa kalau harus menganggap
kita lebih dari sebuah pertemanan. Gue cuma nganggep lu sebagai teman, nggak
lebih.” Katanya. “Gue duluan ya.” Kaisar pergi, meninggalkan aku yang masih
sibuk menatapnya dengan airmata yang menetes.
Akhirnya, seberapa lama aku
mempersiapkan diriku untuk sebuah penolakan, penolakan akan tetap terasa sakit.
Airmata akan selalu menetes diakhirnya. Aku masih diam ditempatku, tak melihat
kepergian Kaisar yang tak memperdulikan hujan, tak memperdulikan airmata yang
menetes dibuatnya.
Ini cinta yang berbeda, kisah
yang beda, lelaki yang berbeda tetapi akhirnya sama. Untuk kesekian kalinya,
aku harus kembali memendam semuanya sendiri, hidup dengan perasaanku sendiri.
kali ini, aku sudah berusaha untuk membaginya, tetapi pada akhirnya tetap saja,
semuanya harus ku simpan sendiri.
Seseorang pernah berkata
kepadaku; Jangan lihat seperti apa penolakannya, tetapi lihat bagaimana kau
bisa jujur dengan perasaanmu sendiri. Jangan selalu hidup dalam duniamu
sendiri, perasaanmu sendiri. Dan jika akhir dari sebuah pengakuan adalah menyakitkan, bukankah lebih
sakit kehilangan tanpa pernah mengutarakan apa yang kamu rasakan?
*****
ya kak lebih sakit kehilangan begitu saja tanpa usaha ketimbang sakit kehilangan karena sudah berusaha...
BalasHapusSetidaknya dengan kamu sudah berusaha, kamu akan tahu apa yang ia rasa dan tahu apa yang seharusnya kamu lakukan selanjutnya, kan? Hehe terimakasih ya sudah membaca;-)
Hapus