Rabu, 05 November 2014

Cinta Pertama Dhinta

“Kamu cinta sama aku, Ta?” Hun kaget dengan pernyataan perempuan yang duduk disampingnya. Perempuan yang memaksanya untuk menemuinya.

Dhinta mengangguk. Dia sudah tidak tahan lagi menahan segala perasaan cintanya untuk Hun, lelaki yang ia kenal sejak enam bulan yang lalu. Menurutnya, hanya Hun yang selalu ada disaat ia membutuhkan tempat untuk berbagi, hanya Hun yang ada saat rasa kesepian itu datang. Hun membuatnya nyaman.

Hun diam. Tidak tahu harus menjawab seperti apa pernyataan perempuan yang berusia lebih muda 3 tahun dibawahnya ini. Dhinta cantik, mungil, ia asik saat Hun ajak bicara, mereka mengerti satu sama yang lain tentang kehidupan masing-masing. Hun juga merasa nyaman saat ada didekatnya, tapi, kenyataan tak bisa ia ubah. Ia tak boleh jatuh cinta kepada perempuan ini.

“Maaf aku ngga bisa.” Katanya. Hun pergi meninggalkan Dhinta yang diam sedari tadi. Jantungnya yang berdetak dengan cepat kini menjadi sangat tak karuan. Hatinya terasa sesak.


*******

“Dhinta…”

Orang tuanya sudah berada diruang tengah, ruang yang sangat jarang dikunjungi oleh seluruh penghuni rumah. Malam ini mereka akan kedatangan tamu yang berharga untuk mereka. Salah seorang yang pernah hilang dari kehidupan Ayahnya.

“Lalu sejak kapan kamu mengetahui keberadaan Ayah?”

Lelaki dihadapannya tersenyum, tak ada sorot kebencian yang terlihat akan lelaki yang sudah meninggalkannya ini. “Sejak saya mengenal Dhinta, Pak.”

“Panggil saja Ayah, jangan Bapak.” Pintanya.

“Saya terbiasa diajari ibu untuk memanggil Bapak, boleh saya memanggil Bapak saja?”  Ia tersenyum ramah, berusaha untuk bersikap normal tapi jauh didalam jantungnya ia sangat tak karuan. “Dhinta mana ya, Pak?”

Lelaki yang berusia 45 ini tersenyum, ia lega akhirnya bisa bertemu dengan anak lelakinya yang pernah ia tinggalkan dahulu. “Ada diatas.” Katanya. “Dhinta, sini, Nak.”

“Apasih yah?” Dhinta melangkah tak sepenuh hati. Ia tahu hari ini kakak tirinya akan datang, jika boleh jujur ia tak ingin mengenal kakak tirinya. “Kamu?” Dhinta setengah menjerit saat melihat siapa yang ada dihadapannya.

Kakak tirinya tersenyum, ramah. “Hai, Dhinta.”

“Kamu ngapain disini Hun?”

“Dia kakak tirimu, Ta. Dan mulai sekarang biasakan memanggilnya dengan sebutan Kakak. Kamu mengerti?”

Dhinta shock. Ia tak tahu harus seperti apa. Ia seperti dibohongi Hun. “Kamu tahu ini Hun? Kamu tahu kamu adalah Kakak tiri yang Ayah cari? Kamu tahu dan kamu ngga ngasih tahu aku?” Dhinta berlari meninggalkan Hun, Ayah dan Ibunya yang bingung.

Dhinta marah. Marah kepada keadaan, marah kepada perasaannya, marah kepada Hun, marah kepada semuanya. Ia kecewa dengan perasaannya sendiri. Tak seharusnya perasaannya ada, tak seharusnya ia cinta kepada kakak tirinya. Dia memang nyaman dengan Hun, karena kenyataannya Hun adalah kakaknya. Kakak tirinya.

Hatinya terasa hancur, ia baru saja dihantam benda yang menyakitkan, ya kenyataan yang menyakitkan. Kenyataan yang memperjelaskan semua kebimbangannya selama ini, kenyataan yang menyadarkannya akan cintanya. Dhinta menangis dibawah bintang yang bersinar indah.

“Ta, Maaf aku menyembunyikan semuanya darimu.” Hun menghampiri Dhinta yang duduk memandangi bintang. “Kita bisa menjadi saudara kan?”

Dhinta menatap Hun, tak menjawabnya. Dalam tatapannya masih ada sorot kekecewaan. “Ya, kita memang saudara kan?”

Hun tersenyum, damai. Dhinta tak berani menatap kakak tirinya ini. Ia takut jatuh terlalu dalam akan cintanya untuk Hun.

“Boleh aku minta sesuatu?”

“Apa?”

“Bapak dan Mama jangan sampai tahu bagaimana perasaanmu. Aku tidak ingin mereka menjadi salah paham atau khawatir.” Hun menggenggam tangan Adiknya dengan erat, ia ingin menetralisir cintanya yang tak bisa ia bohongi. “Aku sayang sama kamu sebagai adikku.” Katanya.

Dhinta memaksakan dirinya untuk menatap Hun yang sedari tadi menatapnya. “Lupakan saja soal itu. Aku sedang berusaha membunuh semua perasaanku.”

Hun menunduk. Rasanya sakit saat mendengar semua perkataan Dhinta. Tapi kenyataan memang tak memihak kepada cinta mereka. “Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku.”

“Aku masuk ya. Jangan terlalu lama diluar, udara malam tidak bagus untuk tubuh wanita, dik.” Hun menyelipkan panggilan ‘adik’ untuk Dhinta.

Dhinta tersenyum, miris memang ketika dia mulai mencintai seseorang tetapi kenyataan malah tak memperbolehkannya. Hun cinta pertamanya, lelaki pertama yang berhasil membuatnya senyaman ini berada didekatnya. Semuanya memang sudah tergarisi, cinta pertamanya harus ia bunuh, cinta pertamanya tak diizinkan keberadaannya, cinta pertamanya tertuju untuk seorang lelaki yang akhirnya akan selalu ia jumpai, meski tak serumah, tapi intensitas mereka bertemu tentu akan banyak.

Bintang dilangit adalah saksi bisu untuk cinta pertamanya. Bintang menyaksikan seorang Kakak dan Adik yang sedang mencoba membunuh rasa cinta mereka.

2 komentar:

  1. Aduh, ini mah lebih sakit dari sekedar friendzone ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya sih begitu, Mbak. Aku belum pernah merasakan hehe. Terimakasih sudah membaca ya, Mbak:-)

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.