“Kamu cinta sama aku,
Ta?” Hun kaget dengan pernyataan perempuan yang duduk disampingnya. Perempuan
yang memaksanya untuk menemuinya.
Dhinta mengangguk. Dia
sudah tidak tahan lagi menahan segala perasaan cintanya untuk Hun, lelaki yang
ia kenal sejak enam bulan yang lalu. Menurutnya, hanya Hun yang selalu ada
disaat ia membutuhkan tempat untuk berbagi, hanya Hun yang ada saat rasa
kesepian itu datang. Hun membuatnya nyaman.
Hun diam. Tidak tahu
harus menjawab seperti apa pernyataan perempuan yang berusia lebih muda 3 tahun
dibawahnya ini. Dhinta cantik, mungil, ia asik saat Hun ajak bicara, mereka
mengerti satu sama yang lain tentang kehidupan masing-masing. Hun juga merasa
nyaman saat ada didekatnya, tapi, kenyataan tak bisa ia ubah. Ia tak boleh
jatuh cinta kepada perempuan ini.
“Maaf aku ngga bisa.”
Katanya. Hun pergi meninggalkan Dhinta yang diam sedari tadi. Jantungnya yang
berdetak dengan cepat kini menjadi sangat tak karuan. Hatinya terasa sesak.
*******
“Dhinta…”
Orang tuanya sudah
berada diruang tengah, ruang yang sangat jarang dikunjungi oleh seluruh
penghuni rumah. Malam ini mereka akan kedatangan tamu yang berharga untuk
mereka. Salah seorang yang pernah hilang dari kehidupan Ayahnya.
“Lalu sejak kapan kamu
mengetahui keberadaan Ayah?”
Lelaki dihadapannya
tersenyum, tak ada sorot kebencian yang terlihat akan lelaki yang sudah
meninggalkannya ini. “Sejak saya mengenal Dhinta, Pak.”
“Panggil saja Ayah,
jangan Bapak.” Pintanya.
“Saya terbiasa diajari
ibu untuk memanggil Bapak, boleh saya memanggil Bapak saja?” Ia tersenyum ramah, berusaha untuk bersikap
normal tapi jauh didalam jantungnya ia sangat tak karuan. “Dhinta mana ya,
Pak?”
Lelaki yang berusia 45
ini tersenyum, ia lega akhirnya bisa bertemu dengan anak lelakinya yang pernah
ia tinggalkan dahulu. “Ada diatas.” Katanya. “Dhinta, sini, Nak.”
“Apasih yah?” Dhinta
melangkah tak sepenuh hati. Ia tahu hari ini kakak tirinya akan datang, jika
boleh jujur ia tak ingin mengenal kakak tirinya. “Kamu?” Dhinta setengah
menjerit saat melihat siapa yang ada dihadapannya.
Kakak tirinya
tersenyum, ramah. “Hai, Dhinta.”
“Kamu ngapain disini
Hun?”
“Dia kakak tirimu, Ta.
Dan mulai sekarang biasakan memanggilnya dengan sebutan Kakak. Kamu mengerti?”
Dhinta shock. Ia tak
tahu harus seperti apa. Ia seperti dibohongi Hun. “Kamu tahu ini Hun? Kamu tahu
kamu adalah Kakak tiri yang Ayah cari? Kamu tahu dan kamu ngga ngasih tahu
aku?” Dhinta berlari meninggalkan Hun, Ayah dan Ibunya yang bingung.
Dhinta marah. Marah
kepada keadaan, marah kepada perasaannya, marah kepada Hun, marah kepada
semuanya. Ia kecewa dengan perasaannya sendiri. Tak seharusnya perasaannya ada,
tak seharusnya ia cinta kepada kakak tirinya. Dia memang nyaman dengan Hun,
karena kenyataannya Hun adalah kakaknya. Kakak tirinya.
Hatinya terasa hancur,
ia baru saja dihantam benda yang menyakitkan, ya kenyataan yang menyakitkan.
Kenyataan yang memperjelaskan semua kebimbangannya selama ini, kenyataan yang
menyadarkannya akan cintanya. Dhinta menangis dibawah bintang yang bersinar
indah.
“Ta, Maaf aku menyembunyikan
semuanya darimu.” Hun menghampiri Dhinta yang duduk memandangi bintang. “Kita
bisa menjadi saudara kan?”
Dhinta menatap Hun, tak
menjawabnya. Dalam tatapannya masih ada sorot kekecewaan. “Ya, kita memang
saudara kan?”
Hun tersenyum, damai.
Dhinta tak berani menatap kakak tirinya ini. Ia takut jatuh terlalu dalam akan
cintanya untuk Hun.
“Boleh aku minta
sesuatu?”
“Apa?”
“Bapak dan Mama jangan
sampai tahu bagaimana perasaanmu. Aku tidak ingin mereka menjadi salah paham
atau khawatir.” Hun menggenggam tangan Adiknya dengan erat, ia ingin
menetralisir cintanya yang tak bisa ia bohongi. “Aku sayang sama kamu sebagai
adikku.” Katanya.
Dhinta memaksakan
dirinya untuk menatap Hun yang sedari tadi menatapnya. “Lupakan saja soal itu.
Aku sedang berusaha membunuh semua perasaanku.”
Hun menunduk. Rasanya
sakit saat mendengar semua perkataan Dhinta. Tapi kenyataan memang tak memihak
kepada cinta mereka. “Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku.”
“Aku masuk ya. Jangan
terlalu lama diluar, udara malam tidak bagus untuk tubuh wanita, dik.” Hun
menyelipkan panggilan ‘adik’ untuk Dhinta.
Dhinta tersenyum, miris
memang ketika dia mulai mencintai seseorang tetapi kenyataan malah tak
memperbolehkannya. Hun cinta pertamanya, lelaki pertama yang berhasil membuatnya
senyaman ini berada didekatnya. Semuanya memang sudah tergarisi, cinta
pertamanya harus ia bunuh, cinta pertamanya tak diizinkan keberadaannya, cinta
pertamanya tertuju untuk seorang lelaki yang akhirnya akan selalu ia jumpai,
meski tak serumah, tapi intensitas mereka bertemu tentu akan banyak.
Bintang dilangit adalah
saksi bisu untuk cinta pertamanya. Bintang menyaksikan seorang Kakak dan Adik
yang sedang mencoba membunuh rasa cinta mereka.
Aduh, ini mah lebih sakit dari sekedar friendzone ._.
BalasHapusSepertinya sih begitu, Mbak. Aku belum pernah merasakan hehe. Terimakasih sudah membaca ya, Mbak:-)
Hapus