Teruntuk, Engkau, yang sedang
tersenyum.
Ini adalah surat pertama yang aku
tulis dalam #30HariMenulisSuratCinta. Dan surat pertama ini, aku berikan
untukmu. Aku tidak tahu ini sudah terlambat atau belum untuk ikut
berpartisipasi, karena saat aku melihat timeline
tentang #30HariMenulisSuratCinta, mereka yang berpartisipasi sudah menulis
dihari ke empat dan aku baru ingin memulainya.
Kau tahu aku bukan tipe perempuan
yang dapat dengan mudah mengutarakan perasaanku secara langsung, aku lebih
nyaman ketika aku menuliskannya dan membiarkanmu membacanya sendiri. Dahulu,
mungkin itu akan menjadi sangat sia-sia, karena aku tahu kau takkan membaca
tulisan-tulisan yang aku simpan dalam dunia maya, kau terlalu buta untuk
teknologi zaman modern ini. Tapi kini, aku rasa kau bisa membacanya, meski kau
masih tak mengerti cara menyalakan laptop, menyambungkannya dengan jaringan
internet dan berjelajah dalam dunia maya.
Apa kabarmu disana? Apa kau masih
sering merasakan sakit? Aku rasa, kau lebih senang berada disana dibandingkan
disini, bukan? Apa Kau sudah bertemu dengan suami-mu disana? Oiya, Apa disana ada
yang seperti aku, yang senang meminta
uang jajan kepadamu? Apa disana ada yang sering mengganggu istirahat malammu?
Ah, seperti yang kau tahu, kini aku hanya tidur sendiri didalam kamar—yang dahulu
adalah kamarmu. Dan kini, saat Ayah dan Ibu pergi, aku juga harus sendiri
dirumah, jangan tanya Nando kemana, karena kau tahu bagaimana dia, kan.
Tadi siang, aku baru saja merapihkan
kamarku. Dan disini, masih banyak barang-barang yang akhirnya mengingatkanku
kembali tentang dirimu, seperti bajumu atau buku-buku milikmu, salah satunya
ada buku yang aku sengaja belikan untukmu, meski sebenarnya tidak sesuai dengan
keinginanmu. Ada juga foto-fotomu yang terselip diantara tumpukan buku-buku
dimeja belajar.
Aku tidak tahu sudah berapa hari
kau pergi, yang aku tahu, kami baru saja mengadakan pengajian seratus hari
dirimu beberapa minggu kemarin. Sudah lebih dari seratus hari rumah ini hanya
berpenghuni 4 orang, rasanya seperti beda, ketika dahulu aku sering menggodamu
dan kini aku tidak tahu harus menggoda siapa lagi, meski terkadang aku sering
menggoda Ibu, tapi rasanya ada yang kurang kala aku sadar, hanya Ibu yang kini
bisa aku goda.
Saat ini, aku sedang liburan loh.
Ingat kan dahulu siapa yang sering nge-booking-ku
untuk ditemani ke Jawa? Dan liburanku saat ini hanya diisi dengan kegiatan dirumah
dan bermain teman-temanku. Kini, tak ada lagi yang meminta untuk aku temani. Ah,
kau pasti tahu, aku sedang bosan berada di kota ini, kau tahu aku sedang berada
disituasi hati yang tak enak. Dahulu, kau tak tahu situasi hatiku, namun kau
mengajakku untuk menghilangkannya, tapi kini, kau tahu situasi hatiku, namun
kau tak lagi mampu mengajakku untuk menghilangkannya.
Beberapa malam ini, kau sering
hadir dalam mimpiku. Mungkin karena aku terlalu merindukanmu, Om Adi pernah
bercerita saat kau hadir dalam mimpinya, katanya kau senang berada disana? Aku
sudah tahu itu, kok. Saat kau hadir dalam mimpiku, kau sudah bisa beraktivitas
seperti sebelum kau sakit. Yang terakhir, kau bisa mengangkat kursi keluar.
Sepertinya kau sudah sangat sehat disana. Aku senang kau bisa kembali berjalan-jalan
layaknya dahulu.
Jujur, aku merindukanmu.
Merindukan saat-saat kau mulai berbicara dengan sangat banyak, merindukan saat
kau mulai meminta untuk aku temani tidurmu, tak ada lagi yang meminta tolongku
untuk memotong kuku. Mbah, tak ada gorengan seenak milikmu, tak ada sambal
kacang yang membuatku nambah, meski aku tak menyukai pedas. Tak ada lagi pagi
dengan permintaanku untuk digorengkan pisang dan tahu goreng.
Ini sudah februari loh, Mbah.
Februari pertama yang aku lewati tanpamu. Tahun ini, aku sadar, tak perlu
ucapan yang terucap ataupun hadiah yang diterima, setidaknya dahulu ada Engkau,
meski kau tak pernah mengucapkan “Selamat Ulangtahun” secara langsung, tapi aku
selalu menangkap doa-doa yang kau selipkan didalam ocehanmu. Mbah, doakan saja,
cucumu ini bisa menjadi seperti yang pernah kau harapkan, menjadi pribadi lebih
baik dari yang sebelumnya.
Mbah, ini sudah larut malam dan
aku harus menyudahi ceritaku. Aku harus segera melelapkan mataku, karena besok
aku harus bangun pagi untuk kembali merapihkan kamarku. Jika dulu kau selalu
bilang, aku hanya bebenah jika aku sedang waras, maka mungkin iya, aku sedang
waras. Hehehe. Jika kau berkenan, datanglah ke mimpiku, tapi aku mohon, jangan
marahi aku karena aku masih sering bersedih kala mengingatmu. Sampaikan salamku
untuk Mbah Kakung disana, katakana saja padanya, aku merindukannya seperti aku
merindukanmu. Lain kali, jika ingin datang ke mimpiku, ajak Mbah Kakung ya,
Mbah. Aku juga merindukannya.
Jakarta, 2 Februari 2015,
Salam dari Cucu yang
Merindukanmu,
Fanny.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.