Sabtu, 27 Februari 2016

Jatuh Cinta



Jatuh cinta. 

Jika ada yang bisa mengatur tentang bagaimana ia datang, tentang siapa yang akan ia singgahi, tentang seberapa dalam ia hidup, mungkin Vanya akan rela untuk mempelajarinya. Jika Vanya bisa, mungkin ia tak akan ingin jatuh cinta kepada lelaki ini, lelaki yang sedari tadi tak mengacuhkannya. Lelaki yang sedari tadi hanya sibuk dengan gadget miliknya, berselancar dalam dunia maya dengan orang yang tak ia ketahui keberadaannya. Jika ia bisa, ia tak ingin memiliki cinta yang sedalam ini untuk lelaki ini, lelaki yang tak pernah menyadari perasaannya. Lelaki menyebalkan namun ia sangat mampu membuatnya rindu. Lelaki yang menyandang stastus sebagai sahabatnya sendiri.

Ya jika ia bisa, ia tak ingin jatuh cinta kepada sahabatnya. Denovandy Pradita Rieffund.

Sabtu, 13 Februari 2016

K.I.T.A



12 Desember 2015 

“Hujan lagi huh.” Desah Kinan pelan.

Langit sore—hari ini—memang tak bersahabat dengan Kinan. Sejak siang tadi, langit berubah menjadi mendung, angin berhembus lebih kencang dari biasanya dan udara tentu saja terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Kinan. Kinan Ziendayina, begitu nama lengkapnya yang tertera di KTP. Perempuan yang mempunyai  rambut berwarna hitam pekat dan lebih senang menguncirnya menjadi satu—layaknya buntut kuda. Namun, tak jarang ia membiarkan rambut hitamnya terurai dengan indah. Perempuan dengan kulit yang sama seperti kulit orang jawa kebanyakan dan dengan sepasang lesung pipit yang membuatnya manis. Tinggi badannya tidak cukup dibilang tinggi namun juga tak pendek, tubuhnya pun tidak berisi dan tak jua terlalu kurus. Sebuah definisi yang bisa dibilang cukup menarik untuk perempuan seusianya. 

Sabtu, 06 Februari 2016

Welcome, 20!



Perlahan namun pasti, umur semakin bertambah, waktu di dunia semakin berkurang. Si kembar yang dahulu hanyalah sepasang anak yang lucu, kini telah tumbuh menjadi sepasang insan yang beranjak dewasa. Tepat pada tanggal ini, usia mereka bertambah, waktu mereka di dunia berkurang dan mereka bukanlah lagi sepasang anak kembar yang bisa berlarian kemanapun tanpa memperdulikan sesuatu. Mereka bukanlah sepasang kembar kecil yang bisa tertawa tanpa mempedulikan—apa itu—tanggung jawab dan kewajiban. Kini, mereka adalah sepasang kembar yang mulai beranjak dewasa, mereka sepasang kembar yang baru menikmati usianya berkepalakan angka 2.

Dan ini lah sebuah tulisan dariku—perempuan yang merupakan salah satu dari si kembar kecil.
Menuliskan setiap hal pada tanggal ini terasa menjadi sebuah kewajiban—khusus—untukku. Membiarkan semuanya tersimpan dengan baik tanpa perlu takut akan hilang. Membiarkan setiap kata-kata menjadi alat pengingatku yang paling jitu di masa yang akan datang. Membiarkan semua hal—yang kusebut kenangan—tersimpan tak termakan oleh waktu.