12 Desember 2015
“Hujan lagi huh.” Desah Kinan
pelan.
Langit sore—hari ini—memang tak
bersahabat dengan Kinan. Sejak siang tadi, langit berubah menjadi mendung,
angin berhembus lebih kencang dari biasanya dan udara tentu saja terasa lebih
dingin dari sebelumnya.
Kinan. Kinan Ziendayina, begitu
nama lengkapnya yang tertera di KTP. Perempuan yang mempunyai rambut berwarna hitam pekat dan lebih senang
menguncirnya menjadi satu—layaknya buntut kuda. Namun, tak jarang ia membiarkan
rambut hitamnya terurai dengan indah. Perempuan dengan kulit yang sama seperti
kulit orang jawa kebanyakan dan dengan sepasang lesung pipit yang membuatnya
manis. Tinggi badannya tidak cukup dibilang tinggi namun juga tak pendek,
tubuhnya pun tidak berisi dan tak jua terlalu kurus. Sebuah definisi yang bisa
dibilang cukup menarik untuk perempuan seusianya.
Dengan kacamata yang selalu
bertengger dihidungnya, ia terkesan lebih pendiam dan tak tertarik dengan dunia
sekitar. Ia memang pemalu, hanya dengan orang-orang tertentu ia dapat menjadi
Kinan yang cerewet dan senang bergurau.
Kinan tidak menyukai hujan,
terlebih pada sore hari. Ia tak bisa melihat indahnya langit yang perlahan
berubah menjadi orange, karena
awan-awan gelap menutupi keindahan itu. Ia tak suka udara dingin sore yang
perlahan menjadi sangat mencekam saat hujan datang. Ah, hujan memang menyebabkan udara dingin, baik sore ataupun siang,
batinnya.
Itu adalah sebagian kecil
alasannya tak menyukai hujan, alasan yang selalu ia ungkapkan kepada siapapun,
namun ia masih mempunyai alasan yang—mendasar—ia simpan sendiri, untuknya,
untuk hatinya dan untuk Tuhan.
Ia menghirup dalam-dalam aroma petrichor yang selalu datang kala hujan
datang. Menenangkan, hanya itu yang terlintas dibenaknya. Kinan memang tak
menyukai hujan dan udaranya namun selalu menikmati petrichor. Bagi Kinan, hujan seperti membawa dua efek yang sangat
berefek dengan hatinya. Dingin dan kenyamanan.
Tangannya ia biarkan terulur,
berusaha menggenggam tetesan air hujan yang mengenainya, namun tak ada hasil
yang berarti. Ia memejamkan kedua matanya, menghirup dalam-dalam aroma hujan,
sekali lagi. Kali ini, membiarkan hujan perlahan-lahan merambatkan dingin ke
dalam hatinya dan hasilnya berhasil. Membiarkan petrichor membawa kenyamanan yang mengobati hatinya yang menjadi
dingin dan hasilnya nihil. Dingin hatinya dan dingin yang disebabkan hujan
seakan membuatnya sudah tak mengenal apa itu nyaman yang sesungguhnya.
Rasa nyamannya seakan sudah
menghilang sejak 4 tahun yang lalu, bersama lelaki yang menghilang juga. Bukan.
Lelaki itu bukan menghilang, ia memang pergi. Dan Kinan tahu siapa penyebabnya.
***
6 November 2008.
Kinan baru saja menghembuskan
nafas leganya saat mendengar suara bel terdengar. Bel yang berhasil membebaskan
dirinya dari kurungan pelajaran fisika milik Pak Setno. Kinan tak pernah
mengerti bagaimana bisa gurunya itu tak bosan untuk terus mengeluarkan
kata-kata selama jam pelajaran sedang berlangsung. 45 menit pertama memang
selalu diisi dengan materi yang bisa membuat kepala siswanya pecah dan 45 menit
selanjutnya Pak Setno—dengan senang hati—akan berceramah mengenai apapun, terus
bicara mengenai segala hal yang ia ketahui. Tak jarang pembicaraannya hanya
pembicaraan yang pernah ia ungkapkan sebelumnya. Dan dalam waktu 90 menit, Pak
Setno benar-benar membuat siswanya merasakan ada yang ingin meledak di tubuh
mereka. Kepala.
“Hari ini jadi, kan?” Tanya Bella
yang langsung menampakkan mata berbinar miliknya.
Bella adalah perempuan pertama
yang ia kenal saat baru memasuki masa-masa SMA. Pembawaan Bella yang supel-lah
yang membuat Kinan menjadi mudah dekat dengannya. Terlebih, jika bersama Bella,
Kinan hanya perlu menjadi pendengar dan merespon seperlunya tanpa harus membuat
ia banyak bicara dan itu yang membuat Kinan nyaman. Selepas masa orientasi,
mereka ternyata tak sekelas. Namun, hal itu tak membuat Bella dan Kinan
terpisah. Saat jam istirahat atau saat pulang Bella selalu menghampiri Kinan.
Seperti saat ini.
Kinan mengangguk, masih dengan
tangan yang sibuk memasukkan segala perlengkapan sekolahnya ke dalam tas. “Kita
langsung ketemuan disana aja sama dia.”
“Oke.” Sambutnya bersemangat. Setelah
Kinan memastikan tak ada yang tertinggal, mereka langsung melenggangkan kaki ke
mobil milik ayah Bella yang selalu dipakai untuk menjemput Bella.
Jalanan ibu kota saat itu tak
begitu sepi namun tak juga padat seperti jam-jam berangkat atau pulang kantor.
Hanya perlu waktu 20 menit untuk mereka hingga sampai ke tempat tujuan, sebuah
kedai kecil yang terlihat dipenuhi beberapa anak kampus. Mereka memasuk kedai
tersebut dengan santai dan bersemangat, tunggu, yang bersemangat hanya Bella.
Kinan mengedarkan pandangannya ke
penjuru kedai ini sampai matanya menangkap sosok lelaki yang tengah sibuk
dengan gadget-nya. Lelaki yang
memakai celana jeans dan kaos putih dengan tulisan dibagian depannya dan sebuah
jaket kulit yang selalu ia gunakan. Ah, Kinan tahu jaket kulit itu. Jaket yang
Kinan berikan kepadanya saat ia berulang tahun ditahun lalu.
“Maaf menunggu lama.” Kinan
menyapa lelaki yang sedari tadi masih tak menyadari keberadaan Kinan dan Bella.
Sigit mengangkat kepalanya dan
mendapati seseorang yang ia tunggu akhirnya menampakkan wajahnya. “Duduk, Nan.”
“Kenalin ini Bella, Kak. Dan ini
Kak Sigit, Bel.” Kinan mulai mengalihkan dari pandangannya dari Bella ke Sigit
dan dari Sigit ke Bella.
“Hai.” Sigit mengulurkan
tangannya, tersenyum ramah dan terlihat sangat manis. “Sigit.”
“Bella.” Bella menyambut uluran
tangan Sigit dengan pandangan yang tak lepas dari Sigit.
***
4 Januari 2009.
“Gue mau nembak dia aja, Nan.”
Seru Bella saat mereka duduk di kantin dengan makanan dan minuman mereka
masing-masing.
Kinan—yang baru mau menyantap
nasi goreng miliknya—mengeryitkan dahinya. Sahabatnya yang satu ini memang
terlalu agresif. “Kamu yakin, Bel?
Nggak nunggu kak Sigit yang nembak kamu aja?”
“Gue sama dia udah deket selama
dua bulan dan stuck gitu-gitu aja,
Nan. Gue greget deh sama kakak lu itu.” Ia menyeruput pop ice vanilla blue yang sedari tadi hanya ia pandangi. “Maksud
gue, Kakak-kakak-an lu itu.” Bella segera mengoreksi ucapannya.
Selama dua bulan ini, Bella
memang menjadi dekat dengan Sigit. Sepulang sekolah, Sigit tak jarang menjemput
Bella, karena permintaan Bella yang memang ingin dijemput oleh Sigit. Mereka
akan lebih memilih nongkrok di kedai dekat sekolah Bella dan Kinan,
dibandingkan pergi ke Mall untuk berjalan-jalan ria. Menurut Sigit, lebih
menyenangkan jika di kedai, karena waktu ngobrolnya akan terasa lebih panjang
dan pembahasan mereka akan tak terasa. Dan Menurut Bella, kemana pun asal
bersama Sigit pasti sangat menyenangkan.
Kinan jarang ikut bersama mereka,
lebih memilih ke toko buku atau langsung pulang dibandingkan harus ngobrol tak
jelas di kedai. Terlebih, Kinan tak mau mengganggu aktifitas pedekate mereka.
“Aku ngedukung aja deh.”
Jam pulang hari ini terasa lebih
lama untuk Bella. Sedari tadi, ia sudah tak konsentrasi hanya untuk
mendengarkan penjelasan guru mengenai pekerjaan rumah yang akan diberikan
kepadanya dan siswa lainnya. Fikirannya sudah tertuju kepada sosok lelaki yang
sudah—ia pastikan—menunggunya di depan sekolah. Jam pulang mereka memang
berbeda 45 menit dan untuk sampai ke sekolahnya dari sekolah lelaki itu
memerlukan waktu 25 menit, jadi lelaki itu pasti sudah menunggunya sembari
memainkan game di handphonenya. Ah,
mengingatnya membuat Bella semakin tak sabar menunggu bel pulang sekolah.
Yey, 5 menit lagi, batinnya.
Ia sudah memasukkan semua buku
dan alat tulisnya. Ia dan teman-temannya juga sudah membaca doa pulang, jadi
saat bel berbunyi Bella bisa langsung berlari untuk menemui sang pujaan hati
yang sudah menunggunya.
Tring….. Tring….
“Baik anak-anak, sampai jumpa di
pertemuan selanjutnya. Assalamu’alaikum warohmahtullahi wabarokatuh.” Pamit
gurunya.
Seakan Bella tak ingin lagi
berlama-lama, ia langsung berlari dengan sekuat tenaga yang ia punya untuk
mencapai gerbang sekolah. Melupakan ritualnya, menghampiri Kinan di kelasnya.
Ia berlari tanpa memperdulikan setiap siswa yang mulai menggerutu saat tak
sengaja ia senggol.
“Maaf menunggu lama.” Kinan
menyapa lelaki yang masih sibuk dengan gamenya
saat ia tiba.
Sigit mengangkat kepalanya,
sedetik kemudian ia tertawa renyah, membuat Bella terkesiap untuk beberapa
detik. “Nggak bosan selalu ngomong kaya gitu?” Tanyanya, sembari memasukkan handphonenya ke dalam saku baju.
“Langsung pulang ya. Soalnya gue mau ada urusan.”
“Kalau gitu, gue mau ngomong dulu
sama lu.” Ujar Bella mantap, tak ada keraguan yang tertangkap dari nada
bicaranya.
Sigit tersenyum dengan tatapan
seakan bertanya ‘mau ngomong apa’
“Gue suka sama lu, git. Sayang,
lebih tepatnya.”
Sigit tak langsung menjawab.
Bella bisa melihat perubahan raut wajah sigit dan tubuhnya yang tiba-tiba
menegang. “Gue nggak bisa bales perasaan lu, Bel. Maaf.” Balasnya lirih.
***
1 Januari 2016
Kinan menghirup aroma hot chocolate secara perlahan sebelum mulai menyesapnya. Menjadi sebuah kebiasaannya
saat sebelum mulai meminum chocolate-nya,
ia pasti menghirup aromanya terlebih dahulu. Membiar embulan asap mengenai
wajahnya, menyalurkan kehangatan yang tak sampai ke hatinya. Hatinya terlalu
dingin.
Ia meletakkan lagi cangkirnya dan
kembali berkutat dengan laporan organisasi yang harus ia serahkan kepada
ketuanya akhir pekan ini. Kinan memang salah satu mahasiswi yang aktif dalam
kampusnya, meski dengan sifatnya yang pemalu. Ia mengikuti organisasi BEM dan
beberapa perkumpulan kegiatan kampus, seperti paduan suara, perkumpulan bedah
buku, kegiatan mengisi mading. Dan Kinan selalu mampu mengatur waktunya dengan
bagus, selalu bisa mengatasi dateline
yang terkadang jatuh diwaktu yang bersamaan. Seperti saat ini, akhir pekan ini
ia harus menyerahkan laporan mengenai kegiatan bulanan bidang mading dan ia
juga harus menyerahkan data-data lagu yang akan ia recommend untuk digunakan saat acara pementasan drama kampus, dua
bulan lagi.
Setengah jam sudah ia hanya
berkutat dengan laptop dan kertas yang merupakan catatan tangan miliknya. Tak
mempedulikan beberapa orang yang mulai pergi meninggalkan kafe ini atau orang
yang baru memasuki kafe ini, fokusnya hanya tertuju pada laptop dan laporannya,
fikirannya hanya tertuju pada dateline
yang menunggu.
Ia menghela nafasnya, mengistirahatkan matanya yang
mulai perih dan jarinya yang mulai terasa pegal. Ia memilih untuk menyesap chocolatenya yang mulai dingin dan
memperhatikan setiap aktifitas yang ada di kafe ini. Beberapa pelayan sibuk
mondar-mandir melayani pelanggan yang baru datang atau untuk menyajikan pesanan
mereka. Kafe ini tak terlalu rame, hanya sekitar 15 orang dalam hitungannya,
itupun sudah beserta dirinya. Kinan masih sibuk mengedarkan
pandangannya keseluruh sudut yang masih terjangkau oleh matanya, sampai matanya
menangkap sosok laki-laki yang selama ini menghilang. Bukan, laki-laki itu tak
menghilang, ia memang pergi dan kinan tahu siapa yang menyebabkan laki-laki
tersebut pergi. Tubuhnya menegang, hatinya kembali berdesir, jantungnya kembali
berdegub cepat saat laki-laki itu terlihat tengah tertawa. Kinan masih
memperhatikan lelaki yang sedang berhadapan dengan perempuan yang duduk
didepannya. Kinan sangat merindukan tawanya, merindukan suaranya, merindukan
tatapannya, merindukan perhatian yang ia berikan untuk Kinan, merindukan nada
cemas saat Kinan belum mengabarinya.
Aku merindukan semua hal tentangmu, kak. Batinnya lirih.
Sigit. Ya, lelaki
yang begitu Kinan rindukan sejak kepergiannya. Lelaki itu masih sibuk bergurau
dengan perempuannya, sesekali mengacak-acak rambut perempuannya dan tertawa
saat si perempuan mulai mengerucutkan bibirnya.
Sigit. Sigit Redhawan
Poernomo. Lelaki yang Kinan kenal sejak 10 tahun yang lalu secara tak sengaja.
10 tahun yang lalu, Sigit bertamu kerumahnya untuk bertemu dengan kakaknya
Kinan, Kimbo. Sejak saat itu, Sigit sering bermain kerumahnya, tak jarang lebih
memilih mengobrol dengan Kinan dibandingkan menemani Kimbo bermain PS. Pun saat
Kimbo tak ada dirumah, Sigit masih bertamu, bukan untuk bertemu dengan kakak
Kinan tentunya.
Sigit merupakan
lelaki pertama yang dekat dengan Kinan selain keluarganya. Sigit-lah yang
selalu mengantar-jemput Kinan saat Kimbo tak bisa melaksanakan tugasnya. Sigit
yang bersedia menemani Kinan yang saat itu sendiri dirumah dan hujan deras yang
membuat Kinan takut. Sigit-lah yang selalu memberikan uang tambahan untuk Kinan
saat ingin membeli buku sastra atau sekedar novel terbaru. Sigit yang rela
menemaninya hingga malam hari, saat ia sedang bosan dirumah. Sigit yang rela
menjadi sandarannya saat ia merasa lelah dengan aktifitas dan tugas sekolahnya.
Sigit yang selalu berdiri didepan untuk menyemangatinya kala ia mulai merasa
tak percaya diri. Semua hal yang menyangkut Kinan, memang selalu menyangkut
Sigit.
Namun, itu dahulu.
Sebelum Sigit pergi. Pergi karena permintaan Kinan.
***
7 Februari 2011.
“Bel, kamu lagi
sibuk ya? Kok seminggu ini jarang ke kelas aku, sih?” Tanya Kinan yang baru
menghampiri Bella ke kelasnya. Ini kali pertama untuk Kinan datang ke kelas
Bella.
Sudah sebulan Bella
tak menghampiri Kinan dikelasnya. Tak mengajaknya untuk ke kantin bersama atau
menunggunya saat pulang. Kinan sudah berusaha untuk mencari Bella beberapa
kali, namun hasilnya selalu nihil, Bella seakan langsung melarikan diri dari
kelas saat bel baru berbunyi. Dan untuk hari ini, Kinan berhasil menemuni
Bella. Memintanya untuk menjelaskan apa sebab perubahan sikapnya selama sebulan
ini.
Bella tak
menanggapi Kinan yang masih menatapnya dengan senyum yang hangat. Ia memilih
pergi bersama teman-teman sekelasnya, meninggalkan Kinan yang masih
menunggunya.
“Eh. Loh kok?”
Kinan mengerutkan keningnya melihat perubahan yang terjadi pada sahabatnya. Apa
yang salah dengannya? “Bella tunggu dong.” Kinan berusaha mengejar Bella yang
sudah mempercepat langkahnya.
“Kalau kamu marah
sama aku, kasih tahu aku, Bel. Jangan diemin aku kaya gini!” Ucap Kinan saat ia
berhasil meraih lengan Bella, menahannya agar tak lagi meninggalkannya
sendirian.
“Ngga usah sok
baik, Nan.” Balasnya jutek. “Buat apa kamu sok baik sama gue padahal lu nusuk
gue? Gue fikir lu baik. Gue fikir lu ngga seperti yang lain, tapi ternyata lu
lebih busuk. Nusuk. temen. dari. belakang!” Bella menekankan setiap kata
diakhir kalimatnya. Membuat Kinan kian tersudut.
“Aku ngga ngerti
maksud kamu.”
“Lu tahu gue suka
sama Sigit? Lu tahu gue mau nembak dia kan? Tapi kenapa lu nggak bilang kalau
dia suka sama lu. Kenapa ha?” Bella meninggikan suaranya. “Sengaja biar gue
sakit hati? Licik.” Ujarnya lagi. Kali ini sukses membuat Kinan membatu
ditempatnya. Dadanya sudah sesak dari tadi, matanya sudah memanas dan tubuhnya
sudah bergetar sejak menerima setiap ucapan menusuk Bella.
Kinan tak tahu apa
pun mengenai kelanjutan Bella dan Sigit, Bella keburu menjauhinya setelah
pernyataannya ingin menembak Sigit dan Sigit tak pernah mau membahas mengenai
Bella dengan Kinan. Karena Sigit tahu, jika ia membicarakan tentang Bella maka
ia harus siap rahasianya selama satu tahun ini terbongkar begitu saja. Dan ia
benar-benar berhasil menyembunyikan semua ini sampai hari ini, hari dimana
Bella mengatakannya kepada Kinan.
To: Kak Sigit.
Bisa ketemu sepulang sekolahku? Di kedai depan sekolahku, saja. Tak
usah menunggu di depan gerbang.
Dan setelah
melewatkan tiga jam yang membosankan, bel tanda pulang pun berbunyi. Membuat
kelas menjadi riuh secara tiba-tiba, membuat koridor kelas menjadi ramai. Kinan
melangkahkan kaki menuju kedai depan sekolahnya. Beberapa saat setelah pesannya
terkirim, sebuah pesan balasan dari Sigit yang ia terima mengatakan Sigit akan
datang setelah jam kuliahnya berakhir, sekitar satu jam sebelum jam pulang
sekolah Kinan.
Kinan hanya perlu
meluruskan semuanya. Kinan tak mau sahabatnya menjauhinya, Kinan hanya ingin
mengembalikan sahabatnya, meski harus kehilangan sosok kakak pada diri Sigit.
Kinan tak perlu mendengar apapun penjelasan dari Sigit yang menolak Bella.
Kinan tak mau mengetahui kalau sebenarnya Sigit mempunyai perasaan lebih
untuknya. Egois? Memang.
Ia mengedarkan
pandangannya saat baru memasuki kedai. Seorang lelaki dengan setelan kemeja
lengan panjang yang sudah dilipat sesiku dan celana jeans sudah menunggunya.
Lelaki itu membolak-balik menu dengan kerutan di dahinya. Mungkin ia sedang
bingung ingin memesan apa.
“Kamu datang tepat
waktu.” Sambutnya, saat menangkap sosok Kinan yang sedang berjalan mendekat
kearahnya. “Mau pesan apa?”
“Samain aja sama
kakak.” Kinan mengambil tempat duduk didepan Sigit yang sedang sibuk menulis
menu pesanan mereka.
Sigit masih
menatapnya, sejak dua menit yang lalu, setelah ia menyerahkan menu yang ia
tulis kepada pelayan. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat
manis. Bagi Sigit, memperhatikan Kinan dari jarak dekat seperti ini merupakan
anugrah yang Tuhan berikan kepadanya. Dan nyatanya, anugrah itu selalu ia
rasakan setiap hari.
Kinan, adalah gadis
cantik menurutnya. Sifat Kinan yang pemalu membuat Sigit mudah gemas akan
segala hal tentang diri perempuan dihadapannya. Kinan, adalah gadis yang
memenuhi hatinya sejak pertama kali mereka bertemu. Gadis yang berhasil
membuatnya jatuh cinta dan menyimpannya selama satu tahun belakangan ini.
Bertemu dengan gadis ini membuatnya lupa akan masalah kehidupannya, membuatnya
hanya ingin terus tersenyum dan tertawa bersama gadis berkacamata ini. Bahagia
itu sesederhana itu, menurut Sigit.
“Aku nggak tahu apa
hubungan kakak sama Bella. Aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian.”
Kinan memulai pembicaraan. Ia melihat perubahan raut pada wajah Sigit.
Senyumnya tak lagi secerah tadi. “Tapi kenapa harus aku yang kena imbasnya?” Tanya Kinan yang mulai
terdengar lirih. Matanya sudah berkaca dan itu membuat hati Sigit nyeri. Ingin
rasanya menghapus kesedihan Kinan, namun, ia tak punya nyali untuk melakukan
itu.
“Bella menjauhi
aku. Bella nggak mau bermain lagi denganku. Bella nggak mau lagi sahabatan
denganku. Dan aku tahu, kakak mengerti alasannya.” Kinan mengarahkan
pandangannya ke Sigit. Tak memedulikan raut wajah tegang yang ditunjukkan Sigit
saat ini. Rahang sigit terlihat mengeras, pandangannya sudah menatap
lekat-lekat Kinan.
“Kamu bisa nyari
teman yang lebih baik dari dia, Nan.”
“Cuma dia yang mau
temenan sama aku, kak.” Lirih Kinan. Bulir air mata yang sedari tadi menumpuk
di kelopak matanya, kini telah menetes.
“Banyak yang mau
temenan sama kamu, tapi kamu terlalu pemalu.” Sigit menghela nafasnya. “Kamu
hanya perlu bersifat lebih terbuka dengan teman-temanmu yang lainnya.”
“Nggak kak! Cuma
Bella yang mau temenan sama aku!” Kinan mulai menaikkan suaranya.
“Oke, sekarang mau
kamu apa?” Sigit mencoba mengalah, menuruti apa keinginan Kinan. “Mau aku
ngomong sama dia, kalau nggak seharusnya dia jauhin kamu?”
“Aku fikir itu akan
memperburuk situasi. Dia cemburu aku dekat dengan kakak dan saat kakak bilang
kaya gitu apa dia ngga akan tambah cemburu?” Tanyanya. “Aku mau, kakak menjauhi
aku. Aku menjauhi kakak. Aku tidak mau, Bella terus berfikir yang lebih tentang
kita?”
Deg.
Hatinya remuk
mendengar permintaan konyol Kinan. Dadanya menjadi sesak bukan main. Matanya
pun sudah memanas, namun masih dengan sekuat tenaga, Sigit menahan bulir-bulir
itu menetes. Tidak. Tidak disini, tidak didepan Kinan.
Itu bukanlah ide
yang lebih bagus dibandingkan ide yang Sigit berikan. Bukan seperti ini akhir
yang Sigit inginkan. Bukan. Dia takkan bisa jika Kinan menjauh dari Sigit,
terlebih sangat tak bisa jika harus menjauh dari Kinan. Mana mungkin ada yang
sanggup menjauhi seseorang yang sangat ia cintai? Tak ada.
“Ini tentang kamu
dan Bella, Nan. Jangan diikutcampurkan ke hubungan kita.” Ucap Sigit tegas. Ia
benar-benar sudah bisa menahan emosinya.
“Karena kita yang
ada saat ini, bukan lagi tentang aku, kamu. Melainkan sudah menjadi aku, kamu dan
dia, kak.” Balas Kinan, ia tak lagi berani menatap Sigit. Sejak ia menyadari
perubahan air muka Sigit, sejak ia menyadari ada bulir yang menumpuk di mata
lelaki itu, ia merasa seperti perempuan yang sangat jahat.
Perempuan jahat
yang menyakiti sahabat dan kakaknya.
“Nan, kita cari
jalan keluar bareng-bareng, asal jangan ide kamu.” Pinta Sigit dengan tatapan
mata yang meredup. Tak ada mata yang berbinar milik Sigit, yang kini ada hanya
mata yang menampilkan kebimbangan hatinya.
“Rasanya tak ada
jalan lain, Kak. Jaga kesehatan kakak, aku sayang kakak seperti kakakku
sendiri. Aku pergi.” Kinan berdiri, berjalan meninggalkan Sigit yang masih
terkejut dengan pergerakan Kinan yang cepat.
Kinan tak lagi
menoleh kebelakang, tak lagi memedulikan keadaan Sigit yang sudah meneteskan
air matanya sejak ia meninggalkannya. Kinan sudah pergi, meninggalkannya. Kinan
sudah pergi dengan penolakkannya. Kinan sudah pergi dengan cinta yang tak ia
balas. Kinan sudah pergi, meninggalkan hati lelaki ini sudah menjadi
berkeping-keping. Hancur sudah semua harapan yang Sigit pernah harapkan.
“Kinan—“
***
30 Januari 2016.
Hari sabtu memang
selalu menjadi hari yang paling melelahkan untuk Kinan. Mungkin bagi sebagian
orang, hari sabtu merupakan hari dimana mereka bisa berlibur dari rutinitas
mereka selama lima hari sebelumnya, namun tidak bagi Kinan. Sabtu justru hari
yang paling melelahkan. Berangkat ke kampus pukul 6 pagi, menyiapkan segala
berkas untuk rapat organisasinya yang akan diadakan satu jam lagi. Setelahnya
ia harus segera meluncur keruang music, tempat para anggota paduan suara kampus
sudah berkumpul. Tiga jam menjalani tugas sebagai anggota paduan suara sudah
cukup membuat tenaganya berkurang, namun ia tak bisa langsung pulang, ia masih
harus menuju perpustakaan yang berada tak jauh dari kampus untuk meminjam
sebuah buku yang akan digunakannya untuk mencari materi yang ia perlukan untuk
tugas.
Jam tangan yang
melingkar dilengan kanannya sudah menunjukkan pukul lima sore. Kini, Kinan
telah berada di kafe biasa tempat ia mengerjakan tugas atau laporannya. Masih
dengan minuman yang sama seperti yang sebelumnya, masih dengan cara meminum
yang sama, ia mencoba merelekskan diri sejenak sebelum kembali berkutat dengan
laptopnya.
“Kinan.” Panggil
seseorang saat Kinan sedang membaca materi yang akan ia tulis. “Ini benar Kinan
kan?”
Kinan mengangguk,
lalu tersenyum ramah kepada perempuan yang berdiri didepannya. Dia sangat
merindukan perempuan ini. Perempuan yang sempat menjadi sahabatnya, bahkan
sampai saat ini Kinan masih menganggap perempuan ini sahabatnya. Bella.
Bella menerjang
tubuh Kinan, memeluknya sangat erat, sampai Kinan merasa sesak. Namun, bukan
melepaskan diri dari Bella, Kinan justru membalas pelukan Bella. Sisi hatinya
yang dingin menjadi hangat. Satu hal yang harus ia akui, Kinan sangat merindukan
sahabatnya ini.
“Gimana keadaan
Sigit, Nan?” Bella memulai pembicaraan setelah menduduki bangku yang berada
dihadapan Kinan.
“Aku udah nggak
ketemu dia sejak empat tahun yang lalu.” Ucapnya, mencoba tersenyum, namun
rasanya gagal.
“Loh? Empat tahun
yang lalu?” Bella mengulang ucapannya. “Aku kira dia bakal datang sama kamu
setelah menjelaskan semuanya ke aku.”
Kinan mengeryitkan
dahi, tak mengerti apa maksud ucapan Bella.
“Empat tahun yang
lalu, dia sempat datang ke aku, Nan. Dia cerita tentang permintaan kamu yang
meminta untuk menjauhimu, dia cerita tentang perasaannya kepadamu, tentang
bagaimana berartinya kebahagiaanmu untuk dirinya.” Bella masih menatap Kinan
yang sedari tadi hanya memperhatikannya. “Dia memohon agar aku tidak menjauhimu
lagi. Dia bahkan sampai menangis saat memohon kepadaku. Sebenarnya, aku tak
ingin menjauhimu secara terus-menerus, namun aku harus ikut Ayah pindah.”
“Kamu pindah karena
memang ingin menjauhiku, kan?” Tanya Kinan penasaran. Kabar yang Kinan dengar,
Bella pindah ke luar kota sebulan setelah Bella mengatakan kebenciannya
terhadap Kinan. Dan, saat itu, Kinan menganggap Bella memang sudah tak ingin
berteman dengannya, setelah segala hal yang ia jelaskan sebelumnya.
“Bukan, Nan. Karena
memang semata-mata Ayah pindah tugas dan keluargaku harus ikut pindah
semuanya.” Ia menatapku dengan lembut. “Sigit mencintaimu, sangat, Nan. Dia
bilang kebahagianmu adalah hal yang paling penting setelah kebahagian Ibunya.
Dia tulus mencintaimu, Nan.” Ucapnya, membuat hatiku bergetar, mataku memanas.
“Aku harus pergi, Nan.
Aku duluan ya.” Pamit Bella, ia masih sibuk merogoh tas yang ia bawa dan
mengeluarkan sebuah undangan berwarna biru muda. “Untung aku bawa yang kosong,
ini untukmu. Minggu depan aku nikah, Nan. Kamu harus datang ya!” Ujarnya,
sebelum benar-benar meninggalkan Kinan sendirian.
Selepas Bella
meninggalkan kafe ini, Kinan masih berkutat dengan fikirannya sendiri. Tentang
seperti apa perasaan Sigit sesungguhnya kepada Kinan, tentang bagaimana
kenangan yang pernah tercipta diantara mereka.
Sigit tak pernah
membahas perasaannya dan itu yang membuat Kinan menjadi tak tahu-menahu. Membuat
Kinan buta akan perasaan yang selalu Sigit simpan untuk Kinan. Terlebih, Kinan
yang memang belum pernah dekat dengan lelaki manapun sebelum Sigit mendekatinya,
semakin membuat Kinan menganggap kebaikan Sigit selama ini hanyalah sebuah
kebaikan seorang kakak untuk adik.
Kinan tak lagi
memedulikan laptopnya yang sudah mati. Ia masih sibuk dengan fikirannya tentang
Sigit. Apa benar Kak Sigit menganggapku
lebih dari seorang adik? Apa benar Kak Sigit menyimpan perasaannya selama ini,
namun sejak kapan? Mengapa aku tak pernah sadar?
Kinan mengalihkan
perhatiannya ke undangan yang tergeletak di meja kafe. Ditatapnya nanar
undangan itu, hatinya kian terasa nyeri, dadanya semakin terasa sesak.
Pandangannya sudah tak lagi sempurna, saat menyadari kebodohannya. Entah apa
yang membuatnya menjadi seakan menggigil, dingin hatinya kian terasa saat
menyadari hanya Kinan yang kini benar-benar sendiri.
Ia ingat beberapa
waktu yang lalu, ia melihat Sigit bersama perempuannya. Mereka terlihat sangat
bahagia, kehangatan yang pernah Sigit berikan untuk Kinan kini menjadi milik
perempuan itu. Dan hari ini, sebuah undangan menyadarkannya, bahwa apa yang
empat tahun ia lakukan terasa sia-sia. Bella akan menikah dengan calon
suaminya. Dan tentu saja mereka bahagia. Dan diantara ‘kita’ yang pernah ada empat
tahun yang lalu, hanya Kinankah yang masih harus merasa sepi? Hanya Kinankah
yang masih harus merasakan sedih setelah mengorbankan seseorang yang ia cintai?
Ya, Kinan sadar, ia jatuh cinta kepada Sigit. Jatuh cinta yang terlambat atau
tak disadarinya?
“Permisi, mbak. Ada
titipan surat.” Seorang pelayan memutuskan fikiran Kinan yang mulai bercabang.
“Permisi, mbak.” Pamitnya setelah Kinan menerima surat dari pelayan itu.
“Terima kasih, ya,
mbak.” Kinan tersenyum ramah saat pelayan itu hanya membalasnya dengan sebuah
anggukan kepala.
Setelah memastikan pelayan
itu meninggalkannya sendiri, ia membuka amplop berwarna biru tua ini. Kinan
mulai membaca setiap kata yang tertulis dikertas, tulisan yang sangat ia kenal.
Tulisan tangan Sigit.
Hai, Kinan.
Jika kamu menganggap selama ini aku benar-benar menjauhimu, kamu
salah, Nan. Aku tidak pernah menjauhimu, bahkan tidak pernah bisa. Aku hanya
menjaga jarak antara aku dan kamu. Bagaimana bisa aku menjauhi perempuan yang
aku cintai?
Aku memang mencintaimu, jika kamu mau tahu. Sejak kita pertama kali
bertemu, Nan, aku mulai tertarik denganmu. Mencintai kamu, yang tak pernah
menganggapku lebih dari seorang kakakmu. Mencintai kamu, yang ternyata lebih
memilih pilihan yang membuatku sakit. Sakit, Nan, saat kamu meminta aku untuk
menjauhimu dan kau menjauhiku. Namun, sudahlah, apalah artinya kesakitanku jika
aku masih bisa melihat kebahagianmu?
Aku sudah bicara dengan Bella untuk tidak menjauhimu lagi saat itu,
Nan. Aku fikir, dengan aku menjelaskan semuanya kepada Bella, kita akan menjadi
seperti sebelumnya, Nan. Kita bisa sedekat dulu. Karena, jujur, aku tak bisa
berjauhan denganmu lama-lama. Namun, ternyata, Bella malah harus pindah ke luar
kota mengikuti keluarganya. Aku terlalu tahu bagaimana sifatmu, aku terlalu
tahu dirimu, Nan. Kamu takkan percaya kalau saat itu Bella sudah tak ingin
menjauhi dirimu karena aku. Kamu takkan percaya kalau aku sudah menjelaskan
semuanya. Kamu takkan percaya kalau Bella keluar kota bukan lagi karena ingin
menjauhimu. Benar kan semua ucapanku, Nan?
Air matanya menetes
semakin deras. Hatinya yang dingin semakin terasa dingin, dadanya semakin
terasa sesak, sakit. Beberapa kali ia memukul dadanya agar rasa sakitnya
berkurang, namun tak ada hasil yang berarti. Tangannya yang menggenggam
erat-erat, hingga kuku-kukunya memutih.
“Sesakit inikah
rasa menjadi Kak Sigit saat itu?” Tanya Kinan tanpa sadar. Suaranya tak kencang,
bahkan hanya sebuah lirihan yang bergetar.
Kinan,
Aku harus bagaimana saat semakin aku ingin melupakanmu, justru semakin
aku mengingatmu? Aku harus bagaimana kalau aku semakin mencintaimu, Nan? Aku
harus bagaimana saat aku tak lagi memedulikan hatiku yang terasa sakit dan
lebih memilih untuk membahagiakanmu?
Kau tahu, aku menjaga jarak denganmu semata-mata hanya untuk
membahagiakanmu. Terakhir kali kita bertemu, empat tahun yang lalu, aku melihat
kesedihan dimatamu, aku tak melihat mata yang berbinar milikmu. Melihatmu
seperti saat itu, aku merasa kacau, aku merasa kehilangan sisi hatiku, Nan.
Kinan,
Terima kasih sudah mengizinkan aku tetap berada didekatmu, meski tak
terjangkau oleh pandanganmu, Nan. Terima kasih sudah mengizinkan aku
mencintaimu sedalam ini. Terima kasih sudah memberikan impian-impian yang
rasanya bahkan tak bisa aku gapai, Nan. Namun, terima kasih. Terima kasih sudah
hadir dihidupku. Menjadi perempuan kecil yang menggemaskan dengan sifat
pemalumu, menjadi perempuan kecil yang selalu membuat aku merasa dibutuhkan
olehmu. Terima kasih, Nan. Terima kasih sudah membuatku mencintaimu, membiarkan
aku menyimpan semuanya rapat-rapat semata-mata hanya untuk diriku dan Tuhan.
Nan, Aku mencintaimu, bahkan sampai saat kau membaca surat ini.
Kinan mengerutkan
keningnya, membuat alisnya menyatu. Jika
Kak sigit masih mencintainya, lalu bagaimana dengan perempuan yang waktu itu?,
batinnya.
Kinan,
Tahukah kamu aku bahagia saat beberapa waktu yang lalu,
kau—akhirnya—menyadari keberadaanku didekatmu? Adikku yang saat itu bersamaku,
mengatakan bahwa kau perempuan yang cantik dan pintar dan aku membenarkan
ucapannya. Perempuan yang bersamaku saat itu, memang adikku, Nan.
Kinan, setelah kamu menerima surat ini. Bisakah kamu menganggapku
sebagai lelaki yang mencintaimu, bukan lagi sebagai kakakmu?
Kinan Ziendayina,
Katakanlah aku terlalu pengecut untuk bertemu denganmu saat ini. Aku
tak berani untuk hadir dihadapanmu, aku tidak berani untuk melihat tatapan
kecewa dimatamu saat melihatku. Jadi, aku ingin pamit melalui surat ini. Hari
ini aku akan ke Amerika dan penerbanganku jam 9 malam. Jaga dirimu baik-baik
selama aku tak ada di dekatmu, ya, Nan. Jangan terlalu sibuk dengan organisasi
dan kelompok kemahasiswaanmu. Jangan lebih mementingkan laporanmu yang dateline
daripada kesehatanmu. Makanmu juga jangan terlalu sering telat, Nan. Kamu juga
harus mulai membiasakan jam tidur yang benar, Nan. Jika aktifitasmu sedang
menumpuk, kamu perlu meminum vitamin, agar tidak cepat sakit. Kabar yang aku
ketahui, kau sedang berusaha untuk diet ya? Aku melarangnya, Nan. Tak usah diet,
karena menurutku, kau tetap cantik meski bagaimanapun kamu.
Semoga kamu selalu berbahagia, Nan. Karena bahagiamu adalah hal yang
paling aku utamakan setelah kebahagian Ibuku.
Aku mencintaimu, Nan. Sangat mencintaimu, meski tak pernah aku
ungkapkan.
Bandung, 30 Januari 2016
Lelaki yang mencintaimu,
Sigit Redhawan Poernomo.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.