Sabtu, 13 Februari 2016

K.I.T.A



12 Desember 2015 

“Hujan lagi huh.” Desah Kinan pelan.

Langit sore—hari ini—memang tak bersahabat dengan Kinan. Sejak siang tadi, langit berubah menjadi mendung, angin berhembus lebih kencang dari biasanya dan udara tentu saja terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Kinan. Kinan Ziendayina, begitu nama lengkapnya yang tertera di KTP. Perempuan yang mempunyai  rambut berwarna hitam pekat dan lebih senang menguncirnya menjadi satu—layaknya buntut kuda. Namun, tak jarang ia membiarkan rambut hitamnya terurai dengan indah. Perempuan dengan kulit yang sama seperti kulit orang jawa kebanyakan dan dengan sepasang lesung pipit yang membuatnya manis. Tinggi badannya tidak cukup dibilang tinggi namun juga tak pendek, tubuhnya pun tidak berisi dan tak jua terlalu kurus. Sebuah definisi yang bisa dibilang cukup menarik untuk perempuan seusianya. 

Dengan kacamata yang selalu bertengger dihidungnya, ia terkesan lebih pendiam dan tak tertarik dengan dunia sekitar. Ia memang pemalu, hanya dengan orang-orang tertentu ia dapat menjadi Kinan yang cerewet dan senang bergurau.


Kinan tidak menyukai hujan, terlebih pada sore hari. Ia tak bisa melihat indahnya langit yang perlahan berubah menjadi orange, karena awan-awan gelap menutupi keindahan itu. Ia tak suka udara dingin sore yang perlahan menjadi sangat mencekam saat hujan datang. Ah, hujan memang menyebabkan udara dingin, baik sore ataupun siang, batinnya.

Itu adalah sebagian kecil alasannya tak menyukai hujan, alasan yang selalu ia ungkapkan kepada siapapun, namun ia masih mempunyai alasan yang—mendasar—ia simpan sendiri, untuknya, untuk hatinya dan untuk Tuhan.

Ia menghirup dalam-dalam aroma petrichor yang selalu datang kala hujan datang. Menenangkan, hanya itu yang terlintas dibenaknya. Kinan memang tak menyukai hujan dan udaranya namun selalu menikmati petrichor. Bagi Kinan, hujan seperti membawa dua efek yang sangat berefek dengan hatinya. Dingin dan kenyamanan. 

Tangannya ia biarkan terulur, berusaha menggenggam tetesan air hujan yang mengenainya, namun tak ada hasil yang berarti. Ia memejamkan kedua matanya, menghirup dalam-dalam aroma hujan, sekali lagi. Kali ini, membiarkan hujan perlahan-lahan merambatkan dingin ke dalam hatinya dan hasilnya berhasil. Membiarkan petrichor membawa kenyamanan yang mengobati hatinya yang menjadi dingin dan hasilnya nihil. Dingin hatinya dan dingin yang disebabkan hujan seakan membuatnya sudah tak mengenal apa itu nyaman yang sesungguhnya.

Rasa nyamannya seakan sudah menghilang sejak 4 tahun yang lalu, bersama lelaki yang menghilang juga. Bukan. Lelaki itu bukan menghilang, ia memang pergi. Dan Kinan tahu siapa penyebabnya.

***

6 November 2008.

Kinan baru saja menghembuskan nafas leganya saat mendengar suara bel terdengar. Bel yang berhasil membebaskan dirinya dari kurungan pelajaran fisika milik Pak Setno. Kinan tak pernah mengerti bagaimana bisa gurunya itu tak bosan untuk terus mengeluarkan kata-kata selama jam pelajaran sedang berlangsung. 45 menit pertama memang selalu diisi dengan materi yang bisa membuat kepala siswanya pecah dan 45 menit selanjutnya Pak Setno—dengan senang hati—akan berceramah mengenai apapun, terus bicara mengenai segala hal yang ia ketahui. Tak jarang pembicaraannya hanya pembicaraan yang pernah ia ungkapkan sebelumnya. Dan dalam waktu 90 menit, Pak Setno benar-benar membuat siswanya merasakan ada yang ingin meledak di tubuh mereka. Kepala.

“Hari ini jadi, kan?” Tanya Bella yang langsung menampakkan mata berbinar miliknya.

Bella adalah perempuan pertama yang ia kenal saat baru memasuki masa-masa SMA. Pembawaan Bella yang supel-lah yang membuat Kinan menjadi mudah dekat dengannya. Terlebih, jika bersama Bella, Kinan hanya perlu menjadi pendengar dan merespon seperlunya tanpa harus membuat ia banyak bicara dan itu yang membuat Kinan nyaman. Selepas masa orientasi, mereka ternyata tak sekelas. Namun, hal itu tak membuat Bella dan Kinan terpisah. Saat jam istirahat atau saat pulang Bella selalu menghampiri Kinan. Seperti saat ini.

Kinan mengangguk, masih dengan tangan yang sibuk memasukkan segala perlengkapan sekolahnya ke dalam tas. “Kita langsung ketemuan disana aja sama dia.”

“Oke.” Sambutnya bersemangat. Setelah Kinan memastikan tak ada yang tertinggal, mereka langsung melenggangkan kaki ke mobil milik ayah Bella yang selalu dipakai untuk menjemput Bella.

Jalanan ibu kota saat itu tak begitu sepi namun tak juga padat seperti jam-jam berangkat atau pulang kantor. Hanya perlu waktu 20 menit untuk mereka hingga sampai ke tempat tujuan, sebuah kedai kecil yang terlihat dipenuhi beberapa anak kampus. Mereka memasuk kedai tersebut dengan santai dan bersemangat, tunggu, yang bersemangat hanya Bella.

Kinan mengedarkan pandangannya ke penjuru kedai ini sampai matanya menangkap sosok lelaki yang tengah sibuk dengan gadget-nya. Lelaki yang memakai celana jeans dan kaos putih dengan tulisan dibagian depannya dan sebuah jaket kulit yang selalu ia gunakan. Ah, Kinan tahu jaket kulit itu. Jaket yang Kinan berikan kepadanya saat ia berulang tahun ditahun lalu. 

“Maaf menunggu lama.” Kinan menyapa lelaki yang sedari tadi masih tak menyadari keberadaan Kinan dan Bella.

Sigit mengangkat kepalanya dan mendapati seseorang yang ia tunggu akhirnya menampakkan wajahnya. “Duduk, Nan.”

“Kenalin ini Bella, Kak. Dan ini Kak Sigit, Bel.” Kinan mulai mengalihkan dari pandangannya dari Bella ke Sigit dan dari Sigit ke Bella.

“Hai.” Sigit mengulurkan tangannya, tersenyum ramah dan terlihat sangat manis. “Sigit.”

“Bella.” Bella menyambut uluran tangan Sigit dengan pandangan yang tak lepas dari Sigit.

***

4 Januari 2009.

“Gue mau nembak dia aja, Nan.” Seru Bella saat mereka duduk di kantin dengan makanan dan minuman mereka masing-masing.

Kinan—yang baru mau menyantap nasi goreng miliknya—mengeryitkan dahinya. Sahabatnya yang satu ini memang terlalu agresif. “Kamu yakin, Bel? Nggak nunggu kak Sigit yang nembak kamu aja?”

“Gue sama dia udah deket selama dua bulan dan stuck gitu-gitu aja, Nan. Gue greget deh sama kakak lu itu.” Ia menyeruput pop ice vanilla blue yang sedari tadi hanya ia pandangi. “Maksud gue, Kakak-kakak-an lu itu.” Bella segera mengoreksi ucapannya.

Selama dua bulan ini, Bella memang menjadi dekat dengan Sigit. Sepulang sekolah, Sigit tak jarang menjemput Bella, karena permintaan Bella yang memang ingin dijemput oleh Sigit. Mereka akan lebih memilih nongkrok di kedai dekat sekolah Bella dan Kinan, dibandingkan pergi ke Mall untuk berjalan-jalan ria. Menurut Sigit, lebih menyenangkan jika di kedai, karena waktu ngobrolnya akan terasa lebih panjang dan pembahasan mereka akan tak terasa. Dan Menurut Bella, kemana pun asal bersama Sigit pasti sangat menyenangkan.

Kinan jarang ikut bersama mereka, lebih memilih ke toko buku atau langsung pulang dibandingkan harus ngobrol tak jelas di kedai. Terlebih, Kinan tak mau mengganggu aktifitas pedekate mereka.

“Aku ngedukung aja deh.”

Jam pulang hari ini terasa lebih lama untuk Bella. Sedari tadi, ia sudah tak konsentrasi hanya untuk mendengarkan penjelasan guru mengenai pekerjaan rumah yang akan diberikan kepadanya dan siswa lainnya. Fikirannya sudah tertuju kepada sosok lelaki yang sudah—ia pastikan—menunggunya di depan sekolah. Jam pulang mereka memang berbeda 45 menit dan untuk sampai ke sekolahnya dari sekolah lelaki itu memerlukan waktu 25 menit, jadi lelaki itu pasti sudah menunggunya sembari memainkan game di handphonenya. Ah, mengingatnya membuat Bella semakin tak sabar menunggu bel pulang sekolah.

Yey, 5 menit lagi, batinnya. 

Ia sudah memasukkan semua buku dan alat tulisnya. Ia dan teman-temannya juga sudah membaca doa pulang, jadi saat bel berbunyi Bella bisa langsung berlari untuk menemui sang pujaan hati yang sudah menunggunya.

Tring….. Tring….

“Baik anak-anak, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya. Assalamu’alaikum warohmahtullahi wabarokatuh.” Pamit gurunya.

Seakan Bella tak ingin lagi berlama-lama, ia langsung berlari dengan sekuat tenaga yang ia punya untuk mencapai gerbang sekolah. Melupakan ritualnya, menghampiri Kinan di kelasnya. Ia berlari tanpa memperdulikan setiap siswa yang mulai menggerutu saat tak sengaja ia senggol. 

“Maaf menunggu lama.” Kinan menyapa lelaki yang masih sibuk dengan gamenya saat ia tiba.

Sigit mengangkat kepalanya, sedetik kemudian ia tertawa renyah, membuat Bella terkesiap untuk beberapa detik. “Nggak bosan selalu ngomong kaya gitu?” Tanyanya, sembari memasukkan handphonenya ke dalam saku baju. “Langsung pulang ya. Soalnya gue mau ada urusan.”

“Kalau gitu, gue mau ngomong dulu sama lu.” Ujar Bella mantap, tak ada keraguan yang tertangkap dari nada bicaranya. 

Sigit tersenyum dengan tatapan seakan bertanya ‘mau ngomong apa’

“Gue suka sama lu, git. Sayang, lebih tepatnya.”

Sigit tak langsung menjawab. Bella bisa melihat perubahan raut wajah sigit dan tubuhnya yang tiba-tiba menegang. “Gue nggak bisa bales perasaan lu, Bel. Maaf.” Balasnya lirih.

***

1 Januari 2016

Kinan menghirup aroma hot chocolate secara perlahan sebelum mulai menyesapnya. Menjadi sebuah kebiasaannya saat sebelum mulai meminum chocolate-nya, ia pasti menghirup aromanya terlebih dahulu. Membiar embulan asap mengenai wajahnya, menyalurkan kehangatan yang tak sampai ke hatinya. Hatinya terlalu dingin. 

Ia meletakkan lagi cangkirnya dan kembali berkutat dengan laporan organisasi yang harus ia serahkan kepada ketuanya akhir pekan ini. Kinan memang salah satu mahasiswi yang aktif dalam kampusnya, meski dengan sifatnya yang pemalu. Ia mengikuti organisasi BEM dan beberapa perkumpulan kegiatan kampus, seperti paduan suara, perkumpulan bedah buku, kegiatan mengisi mading. Dan Kinan selalu mampu mengatur waktunya dengan bagus, selalu bisa mengatasi dateline yang terkadang jatuh diwaktu yang bersamaan. Seperti saat ini, akhir pekan ini ia harus menyerahkan laporan mengenai kegiatan bulanan bidang mading dan ia juga harus menyerahkan data-data lagu yang akan ia recommend untuk digunakan saat acara pementasan drama kampus, dua bulan lagi.

Setengah jam sudah ia hanya berkutat dengan laptop dan kertas yang merupakan catatan tangan miliknya. Tak mempedulikan beberapa orang yang mulai pergi meninggalkan kafe ini atau orang yang baru memasuki kafe ini, fokusnya hanya tertuju pada laptop dan laporannya, fikirannya hanya tertuju pada dateline yang menunggu.

Ia menghela nafasnya, mengistirahatkan matanya yang mulai perih dan jarinya yang mulai terasa pegal. Ia memilih untuk menyesap chocolatenya yang mulai dingin dan memperhatikan setiap aktifitas yang ada di kafe ini. Beberapa pelayan sibuk mondar-mandir melayani pelanggan yang baru datang atau untuk menyajikan pesanan mereka. Kafe ini tak terlalu rame, hanya sekitar 15 orang dalam hitungannya, itupun sudah beserta dirinya. Kinan masih sibuk mengedarkan pandangannya keseluruh sudut yang masih terjangkau oleh matanya, sampai matanya menangkap sosok laki-laki yang selama ini menghilang. Bukan, laki-laki itu tak menghilang, ia memang pergi dan kinan tahu siapa yang menyebabkan laki-laki tersebut pergi. Tubuhnya menegang, hatinya kembali berdesir, jantungnya kembali berdegub cepat saat laki-laki itu terlihat tengah tertawa. Kinan masih memperhatikan lelaki yang sedang berhadapan dengan perempuan yang duduk didepannya. Kinan sangat merindukan tawanya, merindukan suaranya, merindukan tatapannya, merindukan perhatian yang ia berikan untuk Kinan, merindukan nada cemas saat Kinan belum mengabarinya.

Aku merindukan semua hal tentangmu, kak. Batinnya lirih.

Sigit. Ya, lelaki yang begitu Kinan rindukan sejak kepergiannya. Lelaki itu masih sibuk bergurau dengan perempuannya, sesekali mengacak-acak rambut perempuannya dan tertawa saat si perempuan mulai mengerucutkan bibirnya. 

Sigit. Sigit Redhawan Poernomo. Lelaki yang Kinan kenal sejak 10 tahun yang lalu secara tak sengaja. 10 tahun yang lalu, Sigit bertamu kerumahnya untuk bertemu dengan kakaknya Kinan, Kimbo. Sejak saat itu, Sigit sering bermain kerumahnya, tak jarang lebih memilih mengobrol dengan Kinan dibandingkan menemani Kimbo bermain PS. Pun saat Kimbo tak ada dirumah, Sigit masih bertamu, bukan untuk bertemu dengan kakak Kinan tentunya.

Sigit merupakan lelaki pertama yang dekat dengan Kinan selain keluarganya. Sigit-lah yang selalu mengantar-jemput Kinan saat Kimbo tak bisa melaksanakan tugasnya. Sigit yang bersedia menemani Kinan yang saat itu sendiri dirumah dan hujan deras yang membuat Kinan takut. Sigit-lah yang selalu memberikan uang tambahan untuk Kinan saat ingin membeli buku sastra atau sekedar novel terbaru. Sigit yang rela menemaninya hingga malam hari, saat ia sedang bosan dirumah. Sigit yang rela menjadi sandarannya saat ia merasa lelah dengan aktifitas dan tugas sekolahnya. Sigit yang selalu berdiri didepan untuk menyemangatinya kala ia mulai merasa tak percaya diri. Semua hal yang menyangkut Kinan, memang selalu menyangkut Sigit.

Namun, itu dahulu. Sebelum Sigit pergi. Pergi karena permintaan Kinan.

***

7 Februari 2011.

“Bel, kamu lagi sibuk ya? Kok seminggu ini jarang ke kelas aku, sih?” Tanya Kinan yang baru menghampiri Bella ke kelasnya. Ini kali pertama untuk Kinan datang ke kelas Bella.

Sudah sebulan Bella tak menghampiri Kinan dikelasnya. Tak mengajaknya untuk ke kantin bersama atau menunggunya saat pulang. Kinan sudah berusaha untuk mencari Bella beberapa kali, namun hasilnya selalu nihil, Bella seakan langsung melarikan diri dari kelas saat bel baru berbunyi. Dan untuk hari ini, Kinan berhasil menemuni Bella. Memintanya untuk menjelaskan apa sebab perubahan sikapnya selama sebulan ini.

Bella tak menanggapi Kinan yang masih menatapnya dengan senyum yang hangat. Ia memilih pergi bersama teman-teman sekelasnya, meninggalkan Kinan yang masih menunggunya.

“Eh. Loh kok?” Kinan mengerutkan keningnya melihat perubahan yang terjadi pada sahabatnya. Apa yang salah dengannya? “Bella tunggu dong.” Kinan berusaha mengejar Bella yang sudah mempercepat langkahnya.

“Kalau kamu marah sama aku, kasih tahu aku, Bel. Jangan diemin aku kaya gini!” Ucap Kinan saat ia berhasil meraih lengan Bella, menahannya agar tak lagi meninggalkannya sendirian.

“Ngga usah sok baik, Nan.” Balasnya jutek. “Buat apa kamu sok baik sama gue padahal lu nusuk gue? Gue fikir lu baik. Gue fikir lu ngga seperti yang lain, tapi ternyata lu lebih busuk. Nusuk. temen. dari. belakang!” Bella menekankan setiap kata diakhir kalimatnya. Membuat Kinan kian tersudut.

“Aku ngga ngerti maksud kamu.”

“Lu tahu gue suka sama Sigit? Lu tahu gue mau nembak dia kan? Tapi kenapa lu nggak bilang kalau dia suka sama lu. Kenapa ha?” Bella meninggikan suaranya. “Sengaja biar gue sakit hati? Licik.” Ujarnya lagi. Kali ini sukses membuat Kinan membatu ditempatnya. Dadanya sudah sesak dari tadi, matanya sudah memanas dan tubuhnya sudah bergetar sejak menerima setiap ucapan menusuk Bella.

Kinan tak tahu apa pun mengenai kelanjutan Bella dan Sigit, Bella keburu menjauhinya setelah pernyataannya ingin menembak Sigit dan Sigit tak pernah mau membahas mengenai Bella dengan Kinan. Karena Sigit tahu, jika ia membicarakan tentang Bella maka ia harus siap rahasianya selama satu tahun ini terbongkar begitu saja. Dan ia benar-benar berhasil menyembunyikan semua ini sampai hari ini, hari dimana Bella mengatakannya kepada Kinan.

To: Kak Sigit.

Bisa ketemu sepulang sekolahku? Di kedai depan sekolahku, saja. Tak usah menunggu di depan gerbang.

Dan setelah melewatkan tiga jam yang membosankan, bel tanda pulang pun berbunyi. Membuat kelas menjadi riuh secara tiba-tiba, membuat koridor kelas menjadi ramai. Kinan melangkahkan kaki menuju kedai depan sekolahnya. Beberapa saat setelah pesannya terkirim, sebuah pesan balasan dari Sigit yang ia terima mengatakan Sigit akan datang setelah jam kuliahnya berakhir, sekitar satu jam sebelum jam pulang sekolah Kinan.

Kinan hanya perlu meluruskan semuanya. Kinan tak mau sahabatnya menjauhinya, Kinan hanya ingin mengembalikan sahabatnya, meski harus kehilangan sosok kakak pada diri Sigit. Kinan tak perlu mendengar apapun penjelasan dari Sigit yang menolak Bella. Kinan tak mau mengetahui kalau sebenarnya Sigit mempunyai perasaan lebih untuknya. Egois? Memang.

Ia mengedarkan pandangannya saat baru memasuki kedai. Seorang lelaki dengan setelan kemeja lengan panjang yang sudah dilipat sesiku dan celana jeans sudah menunggunya. Lelaki itu membolak-balik menu dengan kerutan di dahinya. Mungkin ia sedang bingung ingin memesan apa.

“Kamu datang tepat waktu.” Sambutnya, saat menangkap sosok Kinan yang sedang berjalan mendekat kearahnya. “Mau pesan apa?”

“Samain aja sama kakak.” Kinan mengambil tempat duduk didepan Sigit yang sedang sibuk menulis menu pesanan mereka.

Sigit masih menatapnya, sejak dua menit yang lalu, setelah ia menyerahkan menu yang ia tulis kepada pelayan. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat manis. Bagi Sigit, memperhatikan Kinan dari jarak dekat seperti ini merupakan anugrah yang Tuhan berikan kepadanya. Dan nyatanya, anugrah itu selalu ia rasakan setiap hari.

Kinan, adalah gadis cantik menurutnya. Sifat Kinan yang pemalu membuat Sigit mudah gemas akan segala hal tentang diri perempuan dihadapannya. Kinan, adalah gadis yang memenuhi hatinya sejak pertama kali mereka bertemu. Gadis yang berhasil membuatnya jatuh cinta dan menyimpannya selama satu tahun belakangan ini. Bertemu dengan gadis ini membuatnya lupa akan masalah kehidupannya, membuatnya hanya ingin terus tersenyum dan tertawa bersama gadis berkacamata ini. Bahagia itu sesederhana itu, menurut Sigit.

“Aku nggak tahu apa hubungan kakak sama Bella. Aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian.” Kinan memulai pembicaraan. Ia melihat perubahan raut pada wajah Sigit. Senyumnya tak lagi secerah tadi. “Tapi kenapa harus aku yang kena imbasnya?” Tanya Kinan yang mulai terdengar lirih. Matanya sudah berkaca dan itu membuat hati Sigit nyeri. Ingin rasanya menghapus kesedihan Kinan, namun, ia tak punya nyali untuk melakukan itu.

“Bella menjauhi aku. Bella nggak mau bermain lagi denganku. Bella nggak mau lagi sahabatan denganku. Dan aku tahu, kakak mengerti alasannya.” Kinan mengarahkan pandangannya ke Sigit. Tak memedulikan raut wajah tegang yang ditunjukkan Sigit saat ini. Rahang sigit terlihat mengeras, pandangannya sudah menatap lekat-lekat Kinan.

“Kamu bisa nyari teman yang lebih baik dari dia, Nan.”

“Cuma dia yang mau temenan sama aku, kak.” Lirih Kinan. Bulir air mata yang sedari tadi menumpuk di kelopak matanya, kini telah menetes.

“Banyak yang mau temenan sama kamu, tapi kamu terlalu pemalu.” Sigit menghela nafasnya. “Kamu hanya perlu bersifat lebih terbuka dengan teman-temanmu yang lainnya.”

“Nggak kak! Cuma Bella yang mau temenan sama aku!” Kinan mulai menaikkan suaranya.

“Oke, sekarang mau kamu apa?” Sigit mencoba mengalah, menuruti apa keinginan Kinan. “Mau aku ngomong sama dia, kalau nggak seharusnya dia jauhin kamu?”

“Aku fikir itu akan memperburuk situasi. Dia cemburu aku dekat dengan kakak dan saat kakak bilang kaya gitu apa dia ngga akan tambah cemburu?” Tanyanya. “Aku mau, kakak menjauhi aku. Aku menjauhi kakak. Aku tidak mau, Bella terus berfikir yang lebih tentang kita?”

Deg.

Hatinya remuk mendengar permintaan konyol Kinan. Dadanya menjadi sesak bukan main. Matanya pun sudah memanas, namun masih dengan sekuat tenaga, Sigit menahan bulir-bulir itu menetes. Tidak. Tidak disini, tidak didepan Kinan.

Itu bukanlah ide yang lebih bagus dibandingkan ide yang Sigit berikan. Bukan seperti ini akhir yang Sigit inginkan. Bukan. Dia takkan bisa jika Kinan menjauh dari Sigit, terlebih sangat tak bisa jika harus menjauh dari Kinan. Mana mungkin ada yang sanggup menjauhi seseorang yang sangat ia cintai? Tak ada.

“Ini tentang kamu dan Bella, Nan. Jangan diikutcampurkan ke hubungan kita.” Ucap Sigit tegas. Ia benar-benar sudah bisa menahan emosinya.

“Karena kita yang ada saat ini, bukan lagi tentang aku, kamu. Melainkan sudah menjadi aku, kamu dan dia, kak.” Balas Kinan, ia tak lagi berani menatap Sigit. Sejak ia menyadari perubahan air muka Sigit, sejak ia menyadari ada bulir yang menumpuk di mata lelaki itu, ia merasa seperti perempuan yang sangat jahat.

Perempuan jahat yang menyakiti sahabat dan kakaknya.

“Nan, kita cari jalan keluar bareng-bareng, asal jangan ide kamu.” Pinta Sigit dengan tatapan mata yang meredup. Tak ada mata yang berbinar milik Sigit, yang kini ada hanya mata yang menampilkan kebimbangan hatinya.

“Rasanya tak ada jalan lain, Kak. Jaga kesehatan kakak, aku sayang kakak seperti kakakku sendiri. Aku pergi.” Kinan berdiri, berjalan meninggalkan Sigit yang masih terkejut dengan pergerakan Kinan yang cepat.

Kinan tak lagi menoleh kebelakang, tak lagi memedulikan keadaan Sigit yang sudah meneteskan air matanya sejak ia meninggalkannya. Kinan sudah pergi, meninggalkannya. Kinan sudah pergi dengan penolakkannya. Kinan sudah pergi dengan cinta yang tak ia balas. Kinan sudah pergi, meninggalkan hati lelaki ini sudah menjadi berkeping-keping. Hancur sudah semua harapan yang Sigit pernah harapkan.

“Kinan—“

***

30 Januari 2016.

Hari sabtu memang selalu menjadi hari yang paling melelahkan untuk Kinan. Mungkin bagi sebagian orang, hari sabtu merupakan hari dimana mereka bisa berlibur dari rutinitas mereka selama lima hari sebelumnya, namun tidak bagi Kinan. Sabtu justru hari yang paling melelahkan. Berangkat ke kampus pukul 6 pagi, menyiapkan segala berkas untuk rapat organisasinya yang akan diadakan satu jam lagi. Setelahnya ia harus segera meluncur keruang music, tempat para anggota paduan suara kampus sudah berkumpul. Tiga jam menjalani tugas sebagai anggota paduan suara sudah cukup membuat tenaganya berkurang, namun ia tak bisa langsung pulang, ia masih harus menuju perpustakaan yang berada tak jauh dari kampus untuk meminjam sebuah buku yang akan digunakannya untuk mencari materi yang ia perlukan untuk tugas.

Jam tangan yang melingkar dilengan kanannya sudah menunjukkan pukul lima sore. Kini, Kinan telah berada di kafe biasa tempat ia mengerjakan tugas atau laporannya. Masih dengan minuman yang sama seperti yang sebelumnya, masih dengan cara meminum yang sama, ia mencoba merelekskan diri sejenak sebelum kembali berkutat dengan laptopnya.

“Kinan.” Panggil seseorang saat Kinan sedang membaca materi yang akan ia tulis. “Ini benar Kinan kan?”

Kinan mengangguk, lalu tersenyum ramah kepada perempuan yang berdiri didepannya. Dia sangat merindukan perempuan ini. Perempuan yang sempat menjadi sahabatnya, bahkan sampai saat ini Kinan masih menganggap perempuan ini sahabatnya. Bella.

Bella menerjang tubuh Kinan, memeluknya sangat erat, sampai Kinan merasa sesak. Namun, bukan melepaskan diri dari Bella, Kinan justru membalas pelukan Bella. Sisi hatinya yang dingin menjadi hangat. Satu hal yang harus ia akui, Kinan sangat merindukan sahabatnya ini.

“Gimana keadaan Sigit, Nan?” Bella memulai pembicaraan setelah menduduki bangku yang berada dihadapan Kinan.

“Aku udah nggak ketemu dia sejak empat tahun yang lalu.” Ucapnya, mencoba tersenyum, namun rasanya gagal.

“Loh? Empat tahun yang lalu?” Bella mengulang ucapannya. “Aku kira dia bakal datang sama kamu setelah menjelaskan semuanya ke aku.”

Kinan mengeryitkan dahi, tak mengerti apa maksud ucapan Bella.

“Empat tahun yang lalu, dia sempat datang ke aku, Nan. Dia cerita tentang permintaan kamu yang meminta untuk menjauhimu, dia cerita tentang perasaannya kepadamu, tentang bagaimana berartinya kebahagiaanmu untuk dirinya.” Bella masih menatap Kinan yang sedari tadi hanya memperhatikannya. “Dia memohon agar aku tidak menjauhimu lagi. Dia bahkan sampai menangis saat memohon kepadaku. Sebenarnya, aku tak ingin menjauhimu secara terus-menerus, namun aku harus ikut Ayah pindah.”

“Kamu pindah karena memang ingin menjauhiku, kan?” Tanya Kinan penasaran. Kabar yang Kinan dengar, Bella pindah ke luar kota sebulan setelah Bella mengatakan kebenciannya terhadap Kinan. Dan, saat itu, Kinan menganggap Bella memang sudah tak ingin berteman dengannya, setelah segala hal yang ia jelaskan sebelumnya.

“Bukan, Nan. Karena memang semata-mata Ayah pindah tugas dan keluargaku harus ikut pindah semuanya.” Ia menatapku dengan lembut. “Sigit mencintaimu, sangat, Nan. Dia bilang kebahagianmu adalah hal yang paling penting setelah kebahagian Ibunya. Dia tulus mencintaimu, Nan.” Ucapnya, membuat hatiku bergetar, mataku memanas.

“Aku harus pergi, Nan. Aku duluan ya.” Pamit Bella, ia masih sibuk merogoh tas yang ia bawa dan mengeluarkan sebuah undangan berwarna biru muda. “Untung aku bawa yang kosong, ini untukmu. Minggu depan aku nikah, Nan. Kamu harus datang ya!” Ujarnya, sebelum benar-benar meninggalkan Kinan sendirian.

Selepas Bella meninggalkan kafe ini, Kinan masih berkutat dengan fikirannya sendiri. Tentang seperti apa perasaan Sigit sesungguhnya kepada Kinan, tentang bagaimana kenangan yang pernah tercipta diantara mereka.

Sigit tak pernah membahas perasaannya dan itu yang membuat Kinan menjadi tak tahu-menahu. Membuat Kinan buta akan perasaan yang selalu Sigit simpan untuk Kinan. Terlebih, Kinan yang memang belum pernah dekat dengan lelaki manapun sebelum Sigit mendekatinya, semakin membuat Kinan menganggap kebaikan Sigit selama ini hanyalah sebuah kebaikan seorang kakak untuk adik.

Kinan tak lagi memedulikan laptopnya yang sudah mati. Ia masih sibuk dengan fikirannya tentang Sigit. Apa benar Kak Sigit menganggapku lebih dari seorang adik? Apa benar Kak Sigit menyimpan perasaannya selama ini, namun sejak kapan? Mengapa aku tak pernah sadar?

Kinan mengalihkan perhatiannya ke undangan yang tergeletak di meja kafe. Ditatapnya nanar undangan itu, hatinya kian terasa nyeri, dadanya semakin terasa sesak. Pandangannya sudah tak lagi sempurna, saat menyadari kebodohannya. Entah apa yang membuatnya menjadi seakan menggigil, dingin hatinya kian terasa saat menyadari hanya Kinan yang kini benar-benar sendiri.

Ia ingat beberapa waktu yang lalu, ia melihat Sigit bersama perempuannya. Mereka terlihat sangat bahagia, kehangatan yang pernah Sigit berikan untuk Kinan kini menjadi milik perempuan itu. Dan hari ini, sebuah undangan menyadarkannya, bahwa apa yang empat tahun ia lakukan terasa sia-sia. Bella akan menikah dengan calon suaminya. Dan tentu saja mereka bahagia. Dan diantara ‘kita’ yang pernah ada empat tahun yang lalu, hanya Kinankah yang masih harus merasa sepi? Hanya Kinankah yang masih harus merasakan sedih setelah mengorbankan seseorang yang ia cintai? Ya, Kinan sadar, ia jatuh cinta kepada Sigit. Jatuh cinta yang terlambat atau tak disadarinya?

“Permisi, mbak. Ada titipan surat.” Seorang pelayan memutuskan fikiran Kinan yang mulai bercabang. “Permisi, mbak.” Pamitnya setelah Kinan menerima surat dari pelayan itu.

“Terima kasih, ya, mbak.” Kinan tersenyum ramah saat pelayan itu hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kepala.

Setelah memastikan pelayan itu meninggalkannya sendiri, ia membuka amplop berwarna biru tua ini. Kinan mulai membaca setiap kata yang tertulis dikertas, tulisan yang sangat ia kenal. Tulisan tangan Sigit.

Hai, Kinan.

Jika kamu menganggap selama ini aku benar-benar menjauhimu, kamu salah, Nan. Aku tidak pernah menjauhimu, bahkan tidak pernah bisa. Aku hanya menjaga jarak antara aku dan kamu. Bagaimana bisa aku menjauhi perempuan yang aku cintai?

Aku memang mencintaimu, jika kamu mau tahu. Sejak kita pertama kali bertemu, Nan, aku mulai tertarik denganmu. Mencintai kamu, yang tak pernah menganggapku lebih dari seorang kakakmu. Mencintai kamu, yang ternyata lebih memilih pilihan yang membuatku sakit. Sakit, Nan, saat kamu meminta aku untuk menjauhimu dan kau menjauhiku. Namun, sudahlah, apalah artinya kesakitanku jika aku masih bisa melihat kebahagianmu?

Aku sudah bicara dengan Bella untuk tidak menjauhimu lagi saat itu, Nan. Aku fikir, dengan aku menjelaskan semuanya kepada Bella, kita akan menjadi seperti sebelumnya, Nan. Kita bisa sedekat dulu. Karena, jujur, aku tak bisa berjauhan denganmu lama-lama. Namun, ternyata, Bella malah harus pindah ke luar kota mengikuti keluarganya. Aku terlalu tahu bagaimana sifatmu, aku terlalu tahu dirimu, Nan. Kamu takkan percaya kalau saat itu Bella sudah tak ingin menjauhi dirimu karena aku. Kamu takkan percaya kalau aku sudah menjelaskan semuanya. Kamu takkan percaya kalau Bella keluar kota bukan lagi karena ingin menjauhimu. Benar kan semua ucapanku, Nan?

Air matanya menetes semakin deras. Hatinya yang dingin semakin terasa dingin, dadanya semakin terasa sesak, sakit. Beberapa kali ia memukul dadanya agar rasa sakitnya berkurang, namun tak ada hasil yang berarti. Tangannya yang menggenggam erat-erat, hingga kuku-kukunya memutih.

“Sesakit inikah rasa menjadi Kak Sigit saat itu?” Tanya Kinan tanpa sadar. Suaranya tak kencang, bahkan hanya sebuah lirihan yang bergetar.

Kinan,

Aku harus bagaimana saat semakin aku ingin melupakanmu, justru semakin aku mengingatmu? Aku harus bagaimana kalau aku semakin mencintaimu, Nan? Aku harus bagaimana saat aku tak lagi memedulikan hatiku yang terasa sakit dan lebih memilih untuk membahagiakanmu?

Kau tahu, aku menjaga jarak denganmu semata-mata hanya untuk membahagiakanmu. Terakhir kali kita bertemu, empat tahun yang lalu, aku melihat kesedihan dimatamu, aku tak melihat mata yang berbinar milikmu. Melihatmu seperti saat itu, aku merasa kacau, aku merasa kehilangan sisi hatiku, Nan.

Kinan, 

Terima kasih sudah mengizinkan aku tetap berada didekatmu, meski tak terjangkau oleh pandanganmu, Nan. Terima kasih sudah mengizinkan aku mencintaimu sedalam ini. Terima kasih sudah memberikan impian-impian yang rasanya bahkan tak bisa aku gapai, Nan. Namun, terima kasih. Terima kasih sudah hadir dihidupku. Menjadi perempuan kecil yang menggemaskan dengan sifat pemalumu, menjadi perempuan kecil yang selalu membuat aku merasa dibutuhkan olehmu. Terima kasih, Nan. Terima kasih sudah membuatku mencintaimu, membiarkan aku menyimpan semuanya rapat-rapat semata-mata hanya untuk diriku dan Tuhan. Nan, Aku mencintaimu, bahkan sampai saat kau membaca surat ini.

Kinan mengerutkan keningnya, membuat alisnya menyatu. Jika Kak sigit masih mencintainya, lalu bagaimana dengan perempuan yang waktu itu?, batinnya.

Kinan, 

Tahukah kamu aku bahagia saat beberapa waktu yang lalu, kau—akhirnya—menyadari keberadaanku didekatmu? Adikku yang saat itu bersamaku, mengatakan bahwa kau perempuan yang cantik dan pintar dan aku membenarkan ucapannya. Perempuan yang bersamaku saat itu, memang adikku, Nan. 

Kinan, setelah kamu menerima surat ini. Bisakah kamu menganggapku sebagai lelaki yang mencintaimu, bukan lagi sebagai kakakmu?

Kinan Ziendayina,

Katakanlah aku terlalu pengecut untuk bertemu denganmu saat ini. Aku tak berani untuk hadir dihadapanmu, aku tidak berani untuk melihat tatapan kecewa dimatamu saat melihatku. Jadi, aku ingin pamit melalui surat ini. Hari ini aku akan ke Amerika dan penerbanganku jam 9 malam. Jaga dirimu baik-baik selama aku tak ada di dekatmu, ya, Nan. Jangan terlalu sibuk dengan organisasi dan kelompok kemahasiswaanmu. Jangan lebih mementingkan laporanmu yang dateline daripada kesehatanmu. Makanmu juga jangan terlalu sering telat, Nan. Kamu juga harus mulai membiasakan jam tidur yang benar, Nan. Jika aktifitasmu sedang menumpuk, kamu perlu meminum vitamin, agar tidak cepat sakit. Kabar yang aku ketahui, kau sedang berusaha untuk diet ya? Aku melarangnya, Nan. Tak usah diet, karena menurutku, kau tetap cantik meski bagaimanapun kamu. 

Semoga kamu selalu berbahagia, Nan. Karena bahagiamu adalah hal yang paling aku utamakan setelah kebahagian Ibuku.
Aku mencintaimu, Nan. Sangat mencintaimu, meski tak pernah aku ungkapkan.

Bandung, 30 Januari 2016
Lelaki yang mencintaimu,



Sigit Redhawan Poernomo.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.