Perlahan namun pasti, umur
semakin bertambah, waktu di dunia semakin berkurang. Si kembar yang dahulu
hanyalah sepasang anak yang lucu, kini telah tumbuh menjadi sepasang insan yang
beranjak dewasa. Tepat pada tanggal ini, usia mereka bertambah, waktu mereka di
dunia berkurang dan mereka bukanlah lagi sepasang anak kembar yang bisa
berlarian kemanapun tanpa memperdulikan sesuatu. Mereka bukanlah sepasang
kembar kecil yang bisa tertawa tanpa mempedulikan—apa itu—tanggung jawab dan
kewajiban. Kini, mereka adalah sepasang kembar yang mulai beranjak dewasa,
mereka sepasang kembar yang baru menikmati usianya berkepalakan angka 2.
Dan ini lah sebuah tulisan
dariku—perempuan yang merupakan salah
satu dari si kembar kecil.
Menuliskan setiap hal pada
tanggal ini terasa menjadi sebuah kewajiban—khusus—untukku. Membiarkan semuanya
tersimpan dengan baik tanpa perlu takut akan hilang. Membiarkan setiap
kata-kata menjadi alat pengingatku yang paling jitu di masa yang akan datang. Membiarkan semua hal—yang kusebut
kenangan—tersimpan tak termakan oleh waktu.
20 tahun yang lalu kami lahir,
sepasang bayi kembar dari sepasang suami istri yang menikah setahun sebelumnya.
Kami menjadi bayi kembar yang mampu meramaikan suasana rumah karena
tangis—barengan—kami. Perlahan, kami tumbuh menjadi anak kecil dengan segala
kenakalan kami. Tak ada hari tanpa berantem, begitulah yang didefinisikan untuk
kami kala itu. Selalu ingin mempunyai barang yang sama, terlebih diriku, yang
selalu ingin mempunyai mainan yang kembaranku punya, Nando. Diriku yang ngambek saat yang hanya diajak pergi Mbah hanya Nando.
Pernah suatu ketika, kami selesai
membeli keperluan lebaran bersama Ayah, Ibu dan Mbah. Saat pulang, kami mampir
ke sebuah toko mainan. Kami memilih satu mainan untuk satu orang, pilihanku
jatuh pada sebuah boneka Barbie yang
bisa berputar-putar dan Nando memilih mobile
remote control. Dan setibanya dirumah, aku—dengan sangat
menyebalkannya—menangis karena menginginkan mainan Nando. Pada keesokan
harinya, dengan baik hatinya, Ibu dan Mbah kembali ke toko mainan tersebut,
membelikan mainan yang sama seperti milik Nando untukku.
Pernah juga suatu hari, Nando
pergi bersama Mbah ke—entah kemana saat itu. Saat itu, aku yang baru bangun
tidur mengetahui Nando diajak pergi Mbah, langsung menangis tak karuan. Merasa
tak disayang Mbah lah, merasa tak adil lah. Sebenarnya, jika aku bangun saat
itu, aku sudah pasti diajak bersama Beliau juga.
Ah, betapa menyebalkannya aku, dahulu—atau mungkin hingga saat ini.
Bicara tentang Mbah. Ini tahun
kedua ulang tahun tanpa Beliau. Untukku sendiri, Beliau sosok yang sangat
berarti untukku, perempuan spesial kedua setelah ibuku. Tahun kemarin merupakan
tahun yang paling berat untuk kita berdua, ya Ndo? Melewatkan ulang tahun yang
pertama tanpa sosok Mbah, yang selama 18 tahun selalu menemani di hari kita.
Meski jarang memberikan kami kado, namun kehadirannya cukup berarti.
Si kembar kecil mulai beranjak
menjadi remaja dengan kehidupan—lingkungan—masing-masing. Mulai lebih sering
berinteraksi dengan dunia luar, mulai belajar memahami dunia yang sesungguhnya.
Si kembar bukanlah kembar yang selalu bersama kemanapun—setiap waktunya—lagi.
Dan hari ini, si kembar memasuki fase
usia baru. 20 tahun. Bukanlah usia dimana seseorang sudah dikatakan tua namun
juga bukan usia dimana seseorang dikatakan masih remaja. Kini, kami memasuki
fase dimana peralihan menjadi dewasa.
Untukmu, Fernando Rizky Romadhon
Firdaus.
Selamat ulang tahun, Ndo. Hanya
lewat tulisan ini, aku selalu mengucapkannya kepadamu, tak pernah mengucapkannya
secara langsung atau sekedar berkirim pesan pun rasanya canggung. Kita memang
bukanlah sepasang kembar yang dengan mudah mengungkapkan rasa satu sama lain.
Aku lebih memilih menuliskannya disini dan membiarkan kau membacanya sendiri—atau bahkan kau tak
pernah membacanya. Dan kau memilih untuk menyimpannya sendiri, tak
mengungkapkannya. Namun, aku selalu percaya, kita saling menyayangi satu sama
lain, saling mendoakan satu sama lain.
Di usia yang telah 20 tahun ini,
rasanya sudah bukan waktunya kita untuk terus bermain-main dengan kehidupan.
Sudah bukan waktunya kita terus sibuk dengan kehidupan kita tanpa memikirkan
apa yang harus menjadi tanggung jawab kita. Semoga di usia segini, kita bisa
menjadi lebih dewasa, menjadi kepribadian yang lebih baik dari sebelumnya, kita
lebih menyayangi dan saling melindungi satu sama lain. Semoga kita lebih taqwa
kepada Allah, lebih baik dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi
laranganNya.
Semoga di usia 20 ini, kita sudah
bisa mencapai segala keinginan kita. Dan yang pasti adalah semoga kita bisa
menjadi kebahagian tanpa akhir untuk Ayah dan Ibu, membuat mereka tersenyum
karena melihat kita meraih segala hal yang kita inginkan. Semoga kita bisa
memberikan segala hal yang terbaik untuk mereka berdua. Semoga kita lebih rajin
bekerja—dan untukku, rajin belajar juga—agar kita bisa meringankan beban
mereka, perlahan. Dan agar aku bisa mendapat uang jajan lebih darimu.
Terakhir, untukmu, Fernando Rizky
Romadhon Firdaus.
Semoga kita bisa semakin kompak
dalam berbagai kesempatan. Semoga kita tak mengecewakan Ayah dan Ibu dengan
segala perbuatan kita yang disengaja maupun tidak. Aku tidak tahu lagi, apa
yang harus kutulis disini, satu hal yang sangat pasti dan tak pernah berubah;
Aku menyayangimu, Ayah dan Ibu. Kalian adalah orang-orang pertama yang aku
ingin aku bahagiakan.
Bolehkah aku menitipkan satu-dua kata untuk seseorang selain dirimu
ditulisan ini? Aku fikir, kau mengizinkannya.
Untukmu, seseorang yang kupanggil
dengan sebutan ‘kakak’.
Masih ingatkah kau dengan tanggal
ini? Tanggal dimana seseorang yang pernah menyakitimu lahir. Tahukah kau, dari
sekian banyak teman yang kupunya, hanya sebuah ucapan darimu yang kunantikan,
setiap tahunnya. Aku tahu, aku terlalu bodoh untuk tetap menanti sebuah ucapan
itu, setelah aku menyakitimu. Aku tahu. Aku tahu. Kuulangi beberapa kali, biar
meyakinkanmu kalau aku memang cukup sadar diri.
Ini tahun kedua kau tak
mengatakan apapun. Harusnya semua biasa saja. Harusnya. Ah, tidak. Aku masih
punya waktu untuk berharap kau mengucapkan sesuatu kepadaku dihari ini. Namun,
jika harapan memang hanya berakhir menjadi sebuah harapan, aku harus belajar
untuk menerimanya. Semua memang sudah berubah. Dan akulah yang membuat
perubahan itu, kan, Kak?
Jika kau membaca ini,
berbahagialah terus, kak. Maafkan aku yang sudah menyakitimu.
Jakarta, 6 Februari 2016
Bayi perempuan yang kini menjadi
menjadi perempuan berusia 20 tahun.
Fanny.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.