Sabtu, 06 Februari 2016

Welcome, 20!



Perlahan namun pasti, umur semakin bertambah, waktu di dunia semakin berkurang. Si kembar yang dahulu hanyalah sepasang anak yang lucu, kini telah tumbuh menjadi sepasang insan yang beranjak dewasa. Tepat pada tanggal ini, usia mereka bertambah, waktu mereka di dunia berkurang dan mereka bukanlah lagi sepasang anak kembar yang bisa berlarian kemanapun tanpa memperdulikan sesuatu. Mereka bukanlah sepasang kembar kecil yang bisa tertawa tanpa mempedulikan—apa itu—tanggung jawab dan kewajiban. Kini, mereka adalah sepasang kembar yang mulai beranjak dewasa, mereka sepasang kembar yang baru menikmati usianya berkepalakan angka 2.

Dan ini lah sebuah tulisan dariku—perempuan yang merupakan salah satu dari si kembar kecil.
Menuliskan setiap hal pada tanggal ini terasa menjadi sebuah kewajiban—khusus—untukku. Membiarkan semuanya tersimpan dengan baik tanpa perlu takut akan hilang. Membiarkan setiap kata-kata menjadi alat pengingatku yang paling jitu di masa yang akan datang. Membiarkan semua hal—yang kusebut kenangan—tersimpan tak termakan oleh waktu.


20 tahun yang lalu kami lahir, sepasang bayi kembar dari sepasang suami istri yang menikah setahun sebelumnya. Kami menjadi bayi kembar yang mampu meramaikan suasana rumah karena tangis—barengan—kami. Perlahan, kami tumbuh menjadi anak kecil dengan segala kenakalan kami. Tak ada hari tanpa berantem, begitulah yang didefinisikan untuk kami kala itu. Selalu ingin mempunyai barang yang sama, terlebih diriku, yang selalu ingin mempunyai mainan yang kembaranku punya, Nando. Diriku yang ngambek saat yang hanya diajak pergi Mbah hanya Nando.

Pernah suatu ketika, kami selesai membeli keperluan lebaran bersama Ayah, Ibu dan Mbah. Saat pulang, kami mampir ke sebuah toko mainan. Kami memilih satu mainan untuk satu orang, pilihanku jatuh pada sebuah boneka Barbie yang bisa berputar-putar dan Nando memilih mobile remote control. Dan setibanya dirumah, aku—dengan sangat menyebalkannya—menangis karena menginginkan mainan Nando. Pada keesokan harinya, dengan baik hatinya, Ibu dan Mbah kembali ke toko mainan tersebut, membelikan mainan yang sama seperti milik Nando untukku.

Pernah juga suatu hari, Nando pergi bersama Mbah ke—entah kemana saat itu. Saat itu, aku yang baru bangun tidur mengetahui Nando diajak pergi Mbah, langsung menangis tak karuan. Merasa tak disayang Mbah lah, merasa tak adil lah. Sebenarnya, jika aku bangun saat itu, aku sudah pasti diajak bersama Beliau juga.

Ah, betapa menyebalkannya aku, dahulu—atau mungkin hingga saat ini.

Bicara tentang Mbah. Ini tahun kedua ulang tahun tanpa Beliau. Untukku sendiri, Beliau sosok yang sangat berarti untukku, perempuan spesial kedua setelah ibuku. Tahun kemarin merupakan tahun yang paling berat untuk kita berdua, ya Ndo? Melewatkan ulang tahun yang pertama tanpa sosok Mbah, yang selama 18 tahun selalu menemani di hari kita. Meski jarang memberikan kami kado, namun kehadirannya cukup berarti.
Si kembar kecil mulai beranjak menjadi remaja dengan kehidupan—lingkungan—masing-masing. Mulai lebih sering berinteraksi dengan dunia luar, mulai belajar memahami dunia yang sesungguhnya. Si kembar bukanlah kembar yang selalu bersama kemanapun—setiap waktunya—lagi. Dan hari ini, si kembar memasuki fase usia baru. 20 tahun. Bukanlah usia dimana seseorang sudah dikatakan tua namun juga bukan usia dimana seseorang dikatakan masih remaja. Kini, kami memasuki fase dimana peralihan menjadi dewasa.

Untukmu, Fernando Rizky Romadhon Firdaus.

Selamat ulang tahun, Ndo. Hanya lewat tulisan ini, aku selalu mengucapkannya kepadamu, tak pernah mengucapkannya secara langsung atau sekedar berkirim pesan pun rasanya canggung. Kita memang bukanlah sepasang kembar yang dengan mudah mengungkapkan rasa satu sama lain. Aku lebih memilih menuliskannya disini dan membiarkan  kau membacanya sendiri—atau bahkan kau tak pernah membacanya. Dan kau memilih untuk menyimpannya sendiri, tak mengungkapkannya. Namun, aku selalu percaya, kita saling menyayangi satu sama lain, saling mendoakan satu sama lain.

Di usia yang telah 20 tahun ini, rasanya sudah bukan waktunya kita untuk terus bermain-main dengan kehidupan. Sudah bukan waktunya kita terus sibuk dengan kehidupan kita tanpa memikirkan apa yang harus menjadi tanggung jawab kita. Semoga di usia segini, kita bisa menjadi lebih dewasa, menjadi kepribadian yang lebih baik dari sebelumnya, kita lebih menyayangi dan saling melindungi satu sama lain. Semoga kita lebih taqwa kepada Allah, lebih baik dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Semoga di usia 20 ini, kita sudah bisa mencapai segala keinginan kita. Dan yang pasti adalah semoga kita bisa menjadi kebahagian tanpa akhir untuk Ayah dan Ibu, membuat mereka tersenyum karena melihat kita meraih segala hal yang kita inginkan. Semoga kita bisa memberikan segala hal yang terbaik untuk mereka berdua. Semoga kita lebih rajin bekerja—dan untukku, rajin belajar juga—agar kita bisa meringankan beban mereka, perlahan. Dan agar aku bisa mendapat uang jajan lebih darimu.

Terakhir, untukmu, Fernando Rizky Romadhon Firdaus.

Semoga kita bisa semakin kompak dalam berbagai kesempatan. Semoga kita tak mengecewakan Ayah dan Ibu dengan segala perbuatan kita yang disengaja maupun tidak. Aku tidak tahu lagi, apa yang harus kutulis disini, satu hal yang sangat pasti dan tak pernah berubah; Aku menyayangimu, Ayah dan Ibu. Kalian adalah orang-orang pertama yang aku ingin aku bahagiakan.

Bolehkah aku menitipkan satu-dua kata untuk seseorang selain dirimu ditulisan ini? Aku fikir, kau mengizinkannya.

Untukmu, seseorang yang kupanggil dengan sebutan ‘kakak’.

Masih ingatkah kau dengan tanggal ini? Tanggal dimana seseorang yang pernah menyakitimu lahir. Tahukah kau, dari sekian banyak teman yang kupunya, hanya sebuah ucapan darimu yang kunantikan, setiap tahunnya. Aku tahu, aku terlalu bodoh untuk tetap menanti sebuah ucapan itu, setelah aku menyakitimu. Aku tahu. Aku tahu. Kuulangi beberapa kali, biar meyakinkanmu kalau aku memang cukup sadar diri.

Ini tahun kedua kau tak mengatakan apapun. Harusnya semua biasa saja. Harusnya. Ah, tidak. Aku masih punya waktu untuk berharap kau mengucapkan sesuatu kepadaku dihari ini. Namun, jika harapan memang hanya berakhir menjadi sebuah harapan, aku harus belajar untuk menerimanya. Semua memang sudah berubah. Dan akulah yang membuat perubahan itu, kan, Kak?

Jika kau membaca ini, berbahagialah terus, kak. Maafkan aku yang sudah menyakitimu.

Jakarta, 6 Februari 2016

Bayi perempuan yang kini menjadi menjadi perempuan berusia 20 tahun.



Fanny.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.