Sabtu, 27 Februari 2016

Jatuh Cinta



Jatuh cinta. 

Jika ada yang bisa mengatur tentang bagaimana ia datang, tentang siapa yang akan ia singgahi, tentang seberapa dalam ia hidup, mungkin Vanya akan rela untuk mempelajarinya. Jika Vanya bisa, mungkin ia tak akan ingin jatuh cinta kepada lelaki ini, lelaki yang sedari tadi tak mengacuhkannya. Lelaki yang sedari tadi hanya sibuk dengan gadget miliknya, berselancar dalam dunia maya dengan orang yang tak ia ketahui keberadaannya. Jika ia bisa, ia tak ingin memiliki cinta yang sedalam ini untuk lelaki ini, lelaki yang tak pernah menyadari perasaannya. Lelaki menyebalkan namun ia sangat mampu membuatnya rindu. Lelaki yang menyandang stastus sebagai sahabatnya sendiri.

Ya jika ia bisa, ia tak ingin jatuh cinta kepada sahabatnya. Denovandy Pradita Rieffund.


Sejak tiga puluh menit yang lalu, mereka berada disini. Sebuah kedai kopi diujung jalan, dekat sekolah mereka. Kedai kopi yang selalu menjadi tempat mereka kala penat mendera. Kedai kopi yang menjadi saksi bisu bagaimana Vanya selalu sibuk memperhatikan Vandy dan menjadi saksi bagaimana Vandy yang selalu sibuk dengan gadgetnya.

“Aku mau ngomong, Van.” Vanya menyesap hot cappuccinonya.

“Hmmm.” Vandy hanya bergumam, masih sibuk dengan seseorang yang jauh disana.

“Bisa taruh dulu handphonemu?”

“Aku masih bisa mendengarmu tanpa harus menaruh handphoneku.”

“Aku takkan mulai bicara sebelum kamu menaruhnya!” Ucap Vanya dengan tegas.

“Kamu sudah memulainya sejak tadi, Nya.” Vandy tak jua mengalihkan pandangannya.

Vanya masih menatap Vandy yang tak jua menyadarinya. Sisi hatinya masih berharap Vandy akan kembali menjadikannya pusat perhatiannya kala mereka bersama, namun rasanya kini semua tak akan mungkin. Vandy yang kini berada dihadapannya adalah Vandy yang berbeda dengan Vandy beberapa tahun lalu. Vandy yang kini berada dihadapannya bukanlah Vandy-nya, Vandy sahabat kecilnya, Vandy yang selalu rela melakukan segala hal untuk Vanya. Vandy telah berubah, namun Vanya masih mencintainya.

Entah sejak kapan, Vanya tak lagi memiliki Vandy seutuhnya. Vandy terasa begitu jauh, meski sebenarnya mereka sedang berhadapan, seperti saat ini. Vandy tak lagi menjadi sahabat kecilnya yang selalu menjadikannya prioritas. Vandy tak lagi selalu ada saat Vanya membutuhkannya. Vandy sudah terlalu jauh berlari saat ia masih berjalan, ingin menyimbangi langkahnya lagi, namun Vanya tak sanggup.

Jika kau berfikir, Vanya terlalu egois untuk menjadikan Vandy menjadi Vandy-nya. Iya, ia egois. Namun, bukankah cinta memang egois?

Satu tetesan bulir air mata yang sedari tadi ia tahan, kini menetes begitu saja. Sesak di dadanya begitu ketara. Tubuhnya bergetar, tangannya ia kepal kuat-kuat, menyebabkan kukunya menjadi putih, bibir bawahnya ia gigit sekuat yang ia bisa, semuanya hanya agar sesaknya hilang. Ia ingin sakit dihatinya tak lagi ia rasa. Namun, semuanya sia-sia, semuanya semakin menjadi. Matanya kian terasa panas, air matanya menetes tanpa henti.

“Bisakah kita seperti dahulu, Van?” Tanyanya lirih. “Kamu begitu terasa dekat denganku, kamu selalu ada untukku, kamu selalu menjadikanku prioritasmu, kamu selalu merelakan apapun yang kamu punya untukku, kamu selalu berusaha untuk membuatku bahagia, kamu selalu…” Ia mengangkat kepalanya, ditatapnya Vandy dengan matanya yang sudah terlalu basah. “Aku rindu kamu. Kamu yang dahulu.”

Vanya bangkit, meninggalkan Vandy yang tak mengerti dengan apa yang terjadi. Vanya pergi, meninggalkan kedai kafe, meninggalkan hari dimana ia sadar cinta yang ia punya tak terbalaskan. Vanya pergi, meninggalkan Vandy yang tak mengerti perasaannya, meninggalkan sahabatnya yang tak mengerti apapun yang ia pendam, meninggalkan seseorang yang tak tahu jika ada perempuan yang begitu mencintai.

***

“Non Vanya hanya titip ini.” Mbok Titi menyerahkan sebuah amplop berwarna biru kepada Vandy.

Vandy mengangguk. “Terima kasih, ya, Mbok.”

Hanya itu yang ia ucapkan sebelum memutuskan untuk pamit. Tak banyak yang ia tanyakan kepada Mbok Titi meski terlalu banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Sudah hari kelima sejak pertemuan terakhirnya dengan Vanya. Sudah hari kelima sejak Vanya tak datang ke sekolah. Sudah hari ke lima ia tak berkunjung ke rumah Vanya. Sudah hari kelima ia tak bertemu dengan Vanya.

Sudah hari ke lima, ia mulai merindukan sahabatnya. Vanya.

Vandy menyusuri jalan setapak agar dapat sampai disebuah danau kecil yang berada di ujung taman. Danau yang jarang diketahui oleh orang banyak, danau yang sangat indah dan menyejukkan. Vandy selalu senang dengan udara sekitar danau, suasananya juga membuatnya tentram. Ia bisa mendapatkan ide untuk menggambar di danau ini, rasa bosannya akan segera hilang jika ia tiba disini. Biasanya Vandy selalu ke danau saat ingin menggambar, guna mendapatkan ide yang menarik. Biasanya Vandy tak akan sendirian ke danau ini. Biasanya Vandy akan banyak tertawa disini, di danau ini, bersama seseorang yang kini entah dimana.

Apa kamu semarah itu kepadaku?, batinnya.

Vandy ingat terakhir kali mereka bertemu, Vanya menangis tanpa ia ketahui alasannya. Vanya bertanya dengan sangat lemah, seakan ia sudah menyimpan sesuatu yang berat dalam jangka waktu yang lama. Terakhir kali mereka bertemu, Vandy masih sibuk dengan gadgetnya, sibuk berkirim pesan melalui jejaring sosial dengan seorang perempuan yang keberadaannya jauh. Vandy tak memmedulikan Vanya yang ingin bicara kepadanya, entahlah, Vandy yang tak paham dengan apa yang terjadi atau Vanya yang terlalu menyimpan semuanya dari Vandy.

Halo, Denovandy Pradita Rieffund.

Jika surat ini sudah berada ditanganmu dan kamu sudah membacanya, berarti kamu sudah mendatangi rumahku dan mencariku. Apa kamu mulai merindukanku, ha? Ah, aku juga merindukanmu.

“Ya. Aku merindukanmu, Nya. Sangat merindukanmu.” Ucapnya seakan menjawab pertanyaan Vanya dalam surat.

Jika kau bertanya apa yang paling membahagiakan dalam hidupku, maka jawabannya adalah bertemu denganmu. Kau adalah anak laki-laki yang menyenangkan, tak peduli betapa menyebalkannya kau, kau tetap menyenangkan untukku. Kau yang membuatku istimewa dengan segala kekuranganku, kau menjadikanku prioritasmu dalam segala hal, kau selalu mengusahakan sebuah senyuman hadir pada bibirku. Semuanya terasa indah, Van. Aku merasa memiliki kakak laki-laki yang selalu siap melindungiku, menurutiku saat kau berada didekatku.

Aku pernah bertanya, mengapa kau melakukan semua hal yang membuatku bahagia meski kau tak menyukainya. Dan kau menjawab, karena aku adalah adik kecilmu, adik kecil yang selalu kau nantikan senyumnya. Adik kecil yang kau sayangi dan aku juga menyayangimu. Sesimpel itu saat kita kecil. Namun, kini kita bukan lagi anak kecil, Van. Aku tak lagi menyayangimu. Tak lagi menyayangimu sebagai kakakku. Aku mencintaimu.

Satu hantaman keras mengenai dadanya. Sebuah kenyataan yang tak pernah ia ketahui begitu mengejutkannya dan menyakitkannya. Ia menggegam kuat-kuat ujung kertas, menyalurkan rasa yang tak dapat digambarkan. Sesak. Merasa bodoh. Merasa bersalah. Semuanya menjadi satu. Bagaimana bisa ia tak sadar dengan perasaan Vanya?

Perlahan, aku mulai berniat untuk menunjukkannya kepadamu, namun semuanya terlambat. Dia, perempuan bernama Zieya datang lebih cepat dan merebutmu dariku. Awalnya aku berfikir aku hanya terlalu cemburu karena perhatianmu yang mulai terbagi. Namun, dia memang sudah merebutmu. Perhatianmu, harimu, waktumu, dirimu dan segala hal yang ada didirimu sudah ia rebut, bahkan ragamu. Sadarkah kau, jika kita terlihat seperti orang asing sejak ia datang? Kau terlalu sibuk dengan dunia yang hanya berisi tentangmu dan dirinya, tak ada lagi Vanya didalamnya.

Hatinya berdesir nyeri. Bulir air mata menetes dari mata indahnya, tak deras namun cukup mewakili betapa dirinya hancur saat ini. Dipijitnya kening yang berkerut sejak tadi, menghilangkan pening yang muncul secara tiba-tiba. Namun, yang ia rasa, ia semakin pusing, kepalanya ingin meledak saat itu juga. Hatinya nyeri, dadanya sesak dan kepalanya menjadi pening bukan main. Sudah mampukah semua itu membalas kebodohan yang ia punya?

Semakin hari, rasa ini semakin besar, aku semakin belajar untuk dewasa menanggapinya. Aku tak ingin egois, makanya ku biarkan kamu memilih yang kamu mau. Seperti, dia, contohnya. Tak mengungkapkan apa yang aku rasa, karena tak mau merusak kebahagianmu. Yang terpenting untukku adalah kebahagianmu.

Terakhir kali kita bertemu, aku meminta waktumu sedikit. Namun, kau tak jua memberikannya. Aku tak kau izinkan untuk meyakinkan diriku bahwa kau memang Vandy-ku. Kau Vandy, sahabat kecilku. Namun, aku sadar semua sudah berubah. Kau bukan lagi Vandy, sahabat kecilku. Meminta waktumu sedikit saja, kini terasa sangat sulit, apalagi jika aku harus meminta kau melakukan hal-hal gila seperti dahulu?

“Maaf.” Ucapnya lirih. Air matanya sedari tadi masih mengiringi setiap kata yang ia baca.

Tak perlu merasa bersalah! Aku sudah memaafkanmu.

Denovandy Pradita Rieffund.

Sangat bahagia saat aku bisa mengenalmu. Sangat bahagia saat aku tahu bahwa kau menjadikanku prioritasmu, pusat perhatianmu, meski kini tak lagi. Sangat bahagia bisa menjadi wanita yang pernah berada didekatmu setiap waktu. Sangat bahagia pernah menjadi wanita yang selalu kau cari saat aku tak menampakkan diriku dihadapanmu. Sangat bahagia pernah menjadi wanita yang mulai mencintaimu secara diam-diam. Sangat bahagia saat aku pernah mengabadikan dirimu tanpa sepengetahuan dirimu. Sangat bahagia.

Kini, aku tak lagi bisa melakukan itu. Semua kebahagianku sirna, namun tergantikan kebahagian yang kekal. Aku pergi, Van. Terakhir kali kita bertemu di kedai, aku meninggalkanmu. Dan saat ini, aku akan menjelaskan bahwa aku telah meninggalkanmu selamanya. Untuk selamanya.

Aku sudah meninggal, Van.

Dunia Vandy runtuh. Pertahannya hancur, air mata yang sedari tadi menetes satu demi satu kini menjadi berpuluh-puluh kali lipat. Tubuhnya bergetar hebat, menahan gejolak yang meledak. Jari-jarinya semakin kuat menggegam kertas yang Vanya berikan. Bibirnya bergetar, tak tahu apa yang harus ia ucapkan. Wajahnya yang basah dengan air mata, kini berwarna merah, menahan amarah terhadap dirinya sendiri.

“Lo bego, Van! Bego!!!!!” Teriaknya frustasi. Tak memedulikan orang-orang yang kini memperhatikannya. “Nya, balik lagi, Nya. Maafin aku!” Sambungnya lirih. Sangat lemah.

Vandy berlari sekuat tenaga, melewati taman yang kini sedang dipenuhi beberapa keluarga untuk menikmati waktu senja. Ia tak memedulikan tatapan orang yang sibuk memperhatikannya, tak memedulikan beberapa orang yang memarahinya kala ia menabraknya. Yang ia tahu, ia harus sampai ke tempat Vanya berada. Ia terus berlari, berharap alamat yang baca bukanlah alamat tempat sahabatnya berada saat ini. Ia terus berlari kala hujan mulai menyapanya. Tak ia pedulikan betapa banyak air yang sudah membasahi tubuhnya. Yang ia tahu, hanya sampai ke tempat Vanya berada. Ia ingin memastikan bahwa semuanya tidak nyata.

Aku sakit, Van, jika kamu mau tahu. Maaf aku tak memberitahumu, karena aku tak lagi mempunyai waktumu, tak kau berikan waktu untuk bicara, meski hanya sebentar.

Jika ingin bermain ke tempatku, kau bisa datang ke pemakaman yang berada di ujung jalan rumahku. Aku sudah memesan rumah baruku itu, memesan tempat yang paling mudah untuk diketahui. Karena aku tak ingin menyusahkanmu kala kau ingin berkunjung. Aku berharap kau sering mendatangi rumahku, mengajakku bermain seperti dahulu, mencurahkan waktumu untukku. Bisakah kau membantuku untuk membersihkan rumahku saat ini?

Denovandy Pradita Rieffund

Aku mencintaimu. Meski kau bukanlah Vandy-ku lagi. Masih mencintaimu meski kita tak lagi seperti dahulu. Dan untuk pertanyaanku saat terakhir kali kita berjumpa, maka kini jawabannya, tidak. Kau dan aku takkan bisa seperti dahulu.

 
Jakarta, 18 Juni 2014
Sahabat yang mencintaimu,



Vanya Griwie Sastryo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.