Minggu, 29 Mei 2016

Surat Tak Tersampaikan

Selamat malam, Lelaki yang kukenal karena sahabatku.

Ini akan terdengar sangat aneh, saat aku yang tidak pernah mengenalmu, namun, dengan lancang mengirimu sebuah surat. Maka, sebelum semuanya menjadi semakin aneh, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Perkenalkan, aku adalah seorang sahabat dari perempuan yang kaukenal anggap sahabatmu jua. Namaku? Tak terlalu penting untukmu.

Sejujurnya, aku pun tak tahu apa yang harus kusampaikan dalam tulisan ini, apa yang harus kutuliskan untukmu. Namun, aku hanya ingin memberitahumu tentang sebuah perasaan yang tak tersampaikan, perasaan yang tersimpan dengan sangat dalam, dan sebuah rahasia yang sahabatku simpan.


Kamu, lelaki yang sahabatku selalu ceritakan.

Pernahkah terbesit sedikit dipikiranmu bahwa ada wanita yang menyimpan perasaannya untukmu? Pernahkah kau sadar akan cinta yang tak terucapkan? Pernahkah kau sadar akan sesaknya dada yang menyakitkan kala melihatmu bersama perempuan lain? Ah, tentu saja tidak. Tak ada yang tahu tentang itu, kecuali sahabatku. Sahabatku yang menyimpan semuanya sendiri, untuk dirinya sendiri.

Dia bukanlah wanita yang pandai menyampaikan perasaannya, atau hanya sekadar untuk memberikan sebuah kode pun, ia tak mampu. Ia hanya wanita yang selalu menyimpannya sendiri, menikmati rasanya jatuh cinta sendiri dalam hatinya, berbunga saat sebuah senyum tak sengaja terlihat oleh matanya, atau merona saat sebuah gurauan terucap untuknya.

Dia bukanlah wanita yang mudah jatuh hati, selama kami bersahabat, rasanya dia baru saja menemukan pria yang ia cinta sebanyak tiga orang. Selama dua puluh tahun, tak ada yang benar-benar berkesan untuk hatinya kecuali ketiga orang tersebut. Seseorang di masa SMP, seseorang di masa SMA, dan kamu, lelaki yang ia temui dalam sebuah takdir. Jika, kalian berpikir, sahabatku bisa meraih ketiga cintanya, maka kalian salah. Di antara tiga orang itu, tak ada yang benar-benar menjadi pacarnya. Semua cintanya, terpendam tanpa terucap.

Entah apa yang ada di benaknya, aku pun tak paham. Bagaimana seorang wanita menyimpan semua perasaanya selama bertahun-tahun tanpa pernah mengucapkannya sedikitpun? Bagaimana seorang wanita dapat tetap tersenyum kala hatinya teriris melihat lelaki yang ia cinta bersama wanita lain? Bagaimana seorang wanita dapat tetap tertawa kala mendengar cerita si lelaki mengenai perempuan yang ia suka? Entahlah, hanya sahabatku yang tahu caranya.

Aku tidak pernah tahu, sejak kapan ia mulai mencintaimu. Aku tidak pernah tahu, sejak kapan ia mulai mencuri lebih banyak pandang kepadamu. Aku tidak tahu, karena dia tidak pernah menceritakan itu. Yang aku tahu, kamu mengingatkannya kepada seseorang di masa lalunya. Terlalu banyak orang yang mirip di dunia ini, namun, haruskah ia merasakan perasaan yang serupa dengan yang sebelumnya?

Kamu, seseorang yang selalu menghadirkannya senyuman.

Aku tahu, ini bukan inginmu, bahkan bukan pintamu, agar dia mencintaimu, agar dia menjadikanmu pemilik hatinya. Namun, bisakah kau sejenak melihatnya sebagai seorang wanita? Bukan sebagai seorang sahabat, atau teman, namun, sebagai wanita yang sedang mencintaimu.

Sejujurnya, aku sangat benci saat ia mulai jatuh cinta. Jatuh cinta dalam hidupnya, seperti ia menyiksa dirinya, hatinya. Ia membiarkan dirinya larut dalam angan yang ia bangun, di saat ia sadar, angan itu tak nyata. Ia membiarkan dirinya membangun sebuah harapan yang sangat besar, namun, ia sadar, harapan itu akan roboh, suatu hari nanti. Ia membiarkan cintanya tumbuh, tanpa pernah berani mengucapkannya.ia membiarkan hati bermekaran bunga, meski ia sadar, bunga itu tak nyata. Ia membiarkan ... semuanya menjadi seakan menyenangkan, namun, ia sadar, air matanya selalu menetes.

Seperti denganmu, ia membangun semua harapan itu dengan sangat besar, meski, ia sadar tak ada harapan yang akan menjadi sebuah kenyataan. Menyedihkan, bukan? Begitulah sahabatku. Wanita yang selalu hidup dalam dunianya sendiri kala mencintai orang lain.

Dalam surat ini, aku hanya ingin kau menyadarinya. Menyadari perasaan yang selama ini tersimpan, menyadari raut wajah yang sedang menahan sesak saat kau membicarakan yang lain, menyadari senyumnya yang lebih banyak hadir kala bersamamu, menyadari ... cinta yang ia punya untukmu.
Jika ada yang bilang, persahabatan akan tetap terjaga tanpa cinta, lalu salahkah dia yang mencintaimu? Salahkah dia yang sudah berusaha untuk mematikan perasaan yang semakin membesar?

Untukmu, lelaki yang selalu sahabatku ceritakan.

Semoga kamu selalu bahagia, begitupun sahabatku. Jika takdir memang tak pernah membiarkan menjadi sepasang makhluk yang saling mencintai, maka tetaplah menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Bersamamu, apapun keadaan, apapun statusnya, menjadi hal yang paling menyenangkan untuk sahabatku. Jika suatu saat kau mulai menyadari akan perasaannya, maka ingatlah, ada seorang wanita yang mencintaimu dalam diam.

Kenanglah dia hingga suatu saat nanti kalian berpisah, kenanglah dia sebagai; perempuan yang menjadi sahabatmu; perempuan yang mencintaimu dalam diam; perempuan yang senantiasa mendoakanmu setiap saat. Tetap jadikan dia menjadi bagian yang tak terlupakan dalam hidupmu.
Jakarta, 26 Mei 2016

Sahabat dari perempuan yang mencintaimu,




Fanny.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.