Selamat malam, Lelaki yang
kukenal karena sahabatku.
Ini akan terdengar sangat aneh, saat
aku yang tidak pernah mengenalmu, namun, dengan lancang mengirimu sebuah surat.
Maka, sebelum semuanya menjadi semakin aneh, aku akan memperkenalkan diriku
terlebih dahulu. Perkenalkan, aku adalah seorang sahabat dari perempuan yang
kaukenal anggap sahabatmu jua. Namaku? Tak terlalu penting untukmu.
Sejujurnya, aku pun tak tahu apa yang
harus kusampaikan dalam tulisan ini, apa yang harus kutuliskan untukmu. Namun,
aku hanya ingin memberitahumu tentang sebuah perasaan yang tak tersampaikan,
perasaan yang tersimpan dengan sangat dalam, dan sebuah rahasia yang sahabatku
simpan.
Kamu, lelaki yang sahabatku selalu
ceritakan.
Pernahkah terbesit sedikit dipikiranmu
bahwa ada wanita yang menyimpan perasaannya untukmu? Pernahkah kau sadar akan
cinta yang tak terucapkan? Pernahkah kau sadar akan sesaknya dada yang
menyakitkan kala melihatmu bersama perempuan lain? Ah, tentu saja tidak. Tak
ada yang tahu tentang itu, kecuali sahabatku. Sahabatku yang menyimpan semuanya
sendiri, untuk dirinya sendiri.
Dia bukanlah wanita yang pandai
menyampaikan perasaannya, atau hanya sekadar untuk memberikan sebuah kode pun,
ia tak mampu. Ia hanya wanita yang selalu menyimpannya sendiri, menikmati
rasanya jatuh cinta sendiri dalam hatinya, berbunga saat sebuah senyum tak
sengaja terlihat oleh matanya, atau merona saat sebuah gurauan terucap untuknya.
Dia bukanlah wanita yang mudah jatuh
hati, selama kami bersahabat, rasanya dia baru saja menemukan pria yang ia
cinta sebanyak tiga orang. Selama dua puluh tahun, tak ada yang benar-benar
berkesan untuk hatinya kecuali ketiga orang tersebut. Seseorang di masa SMP, seseorang
di masa SMA, dan kamu, lelaki yang ia temui dalam sebuah takdir. Jika, kalian
berpikir, sahabatku bisa meraih ketiga cintanya, maka kalian salah. Di antara
tiga orang itu, tak ada yang benar-benar menjadi pacarnya. Semua cintanya,
terpendam tanpa terucap.
Entah apa yang ada di benaknya, aku
pun tak paham. Bagaimana seorang wanita menyimpan semua perasaanya selama
bertahun-tahun tanpa pernah mengucapkannya sedikitpun? Bagaimana seorang wanita
dapat tetap tersenyum kala hatinya teriris melihat lelaki yang ia cinta bersama
wanita lain? Bagaimana seorang wanita dapat tetap tertawa kala mendengar cerita
si lelaki mengenai perempuan yang ia suka? Entahlah, hanya sahabatku yang tahu
caranya.
Aku tidak pernah tahu, sejak kapan ia
mulai mencintaimu. Aku tidak pernah tahu, sejak kapan ia mulai mencuri lebih
banyak pandang kepadamu. Aku tidak tahu, karena dia tidak pernah menceritakan
itu. Yang aku tahu, kamu mengingatkannya kepada seseorang di masa lalunya.
Terlalu banyak orang yang mirip di dunia ini, namun, haruskah ia merasakan
perasaan yang serupa dengan yang sebelumnya?
Kamu, seseorang yang selalu
menghadirkannya senyuman.
Aku tahu, ini bukan inginmu, bahkan
bukan pintamu, agar dia mencintaimu, agar dia menjadikanmu pemilik hatinya.
Namun, bisakah kau sejenak melihatnya sebagai seorang wanita? Bukan sebagai
seorang sahabat, atau teman, namun, sebagai wanita yang sedang mencintaimu.
Sejujurnya, aku sangat benci saat ia
mulai jatuh cinta. Jatuh cinta dalam hidupnya, seperti ia menyiksa dirinya,
hatinya. Ia membiarkan dirinya larut dalam angan yang ia bangun, di saat ia
sadar, angan itu tak nyata. Ia membiarkan dirinya membangun sebuah harapan yang
sangat besar, namun, ia sadar, harapan itu akan roboh, suatu hari nanti. Ia
membiarkan cintanya tumbuh, tanpa pernah berani mengucapkannya.ia
membiarkan hati bermekaran bunga, meski ia sadar, bunga itu tak nyata. Ia membiarkan ... semuanya menjadi seakan menyenangkan, namun,
ia sadar, air matanya selalu menetes.
Seperti denganmu, ia membangun semua
harapan itu dengan sangat besar, meski, ia sadar tak ada harapan yang akan
menjadi sebuah kenyataan. Menyedihkan, bukan? Begitulah sahabatku. Wanita yang
selalu hidup dalam dunianya sendiri kala mencintai orang lain.
Dalam surat ini, aku hanya ingin kau
menyadarinya. Menyadari perasaan yang selama ini tersimpan, menyadari raut
wajah yang sedang menahan sesak saat kau membicarakan yang lain, menyadari
senyumnya yang lebih banyak hadir kala bersamamu, menyadari ... cinta yang ia
punya untukmu.
Jika ada yang bilang, persahabatan
akan tetap terjaga tanpa cinta, lalu salahkah dia yang mencintaimu? Salahkah
dia yang sudah berusaha untuk mematikan perasaan yang semakin membesar?
Untukmu, lelaki yang selalu sahabatku
ceritakan.
Semoga kamu selalu bahagia, begitupun
sahabatku. Jika takdir memang tak pernah membiarkan menjadi sepasang makhluk
yang saling mencintai, maka tetaplah menjadi sahabat yang tak terpisahkan.
Bersamamu, apapun keadaan, apapun statusnya, menjadi hal yang paling
menyenangkan untuk sahabatku. Jika suatu saat kau mulai menyadari akan
perasaannya, maka ingatlah, ada seorang wanita yang mencintaimu dalam diam.
Kenanglah dia hingga suatu saat nanti
kalian berpisah, kenanglah dia sebagai; perempuan yang menjadi sahabatmu;
perempuan yang mencintaimu dalam diam; perempuan yang senantiasa mendoakanmu
setiap saat. Tetap jadikan dia menjadi bagian yang tak terlupakan dalam hidupmu.
Jakarta, 26 Mei 2016
Sahabat dari perempuan yang
mencintaimu,
Fanny.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.