Sabtu, 01 Oktober 2016

Pamit

[Terinspirasi dari lagu Pamit - Tulus. 
Selamat mendengarkan lagunya dan membaca ceritanya!]

***

Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin yang berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar

"Ngga akan ada yang berubah, aku tetap ada untuk kamu meski jarak tak lagi menyatukan kita." Fredella menatap Runako yang sedari tadi hanya menatapnya secara tajam, menyaratkan ketidaksukaan terhadap pilihan yang dipilih Fredella.

"Jadi, setelah empat tahun hubungan kita, yang sekarang tersisa cuma aku yang ditinggal kamu?"

Fredella tak langsung menjawab pertanyaan sarkasme Runako. Dia harus menyiapkan jawaban yang setidaknya dapat membuat emosi kekasihnya kembali stabil lagi.

Tak ada yang suara yang terdengar di meja nomor dua puluh empat di caffe Sroudias Chocollate. Sepasang kekasih yang biasanya selalu membuat caffe ini penuh dengan kasih sayang yang sangat terasa, kini hanya menatap minuman milik mereka masing-masing. Segelas milkshake stoberi berada di hadapan si perempuan, tak disentuh sejak tadi, hanya diaduk sekilas lalu dibiarkan. Sedangkan, si lelaki lebih memilih untuk mengaduk coffe-nya seraya menatap gadisnya.

Fredella menghela napasnya putus asa. Dia tahu semua tidaklah seperti yang terbayangkan, tidak akan semulus apa yang sudah direncanakan. Runako dengan kesuka-relaan mengizinkan Fredella mengambil beasiswanya di luar negeri adalah sebuah harapan yang sangat sulit untuk didapatkan.

Fredella dan Runako adalah sepasang kekasih yang baru saja lulus SMA. Runako berniat mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri yang baru akan dilaksanakan bulan depan. Sedangkan, Fredella patut berbangga diri karena berhasil mendapatkan beasiswa di salah satu universitas di Jepang. Semua yang sudah ia lakukan ternyata berbuah manis.

"Aku nggak pernah keberatan kita LDR-an, Run," jelas Fredella, "tapi, aku keberatan kalau ... aku harus mengikhlaskan beasiswa ini."

"Aku bisa bantu kamu daftar universitas bagus di sini, Fre, kamu nggak perlu sampai ke sana. Besok pendaftaran terakhir tes, aku bakal urus semua...."

"Bukan itu masalahnya, Run," potong Fredella dengan suara berat. "Orangtuaku sangat menginginkan ini. Ini juga keinginan terbesarku, kamu tahu itu 'kan, Run?"

Runako menghela napasnya berat, tak lagi menatap kekasihnya yang tak kalah emosi dengannya.

Memang selalu seperti ini, tak ada ujung dari pertengkaran keduanya. Tak ada penyelesaiannya. Mereka berdua menganggap hari esok akan masih ada untuk menyelesaikan permasalahan ini, jadi untuk hari ini mereka biarkan saja seiring emosi yang tak kunjung reda.


***

Sudah coba berbagai cara
Agar kita terus bersama

Fredella menatap kekasihnya yang sibuk dengan jalanan di hadapannya, senyum di bibir lelaki itu tak kunjung hilang sedari awal mereka bertemu.

"Aku harap kamu bukan cuma mengundur waktu keberangkatanmu, tapi juga membatalkannya."

"Kita nggak perlu bicarain apa yang bisa merusak mood hari ini," peringat Fredella, "nikmati aja hari ini, Run."

Runako meliriknya sekilas seraya meraih tangan Fredella, mengecupnya penuh kasih sayang, "aku selalu menikmati setiap waktu kalau kamu ada di sampingku," katanya seraya tersenyum jahil.

Fredella merasakan wajahnya memerah, "gombal, ih!"

Mereka tertawa bersama. Melupakan masalah yang sedang mereka hindari.
***

Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kautakut kuhilang

"Kepalaku rasanya sakit banget, Fre, kamu bisa kan datang?" rengek Runako.

Fredella menghela napasnya, "kamu tahu 'kan, Run, kalau aku harus berangkat sekarang?"

Fredella menanti dengan sabar jawaban Runako, entah untuk rengekan di beberapa menit yang lalu baru saja membuatnya mengeluh, sahutan Runako yang terkesan menyindirnya, atau sekadar jawaban singkatnya. Itu semua memang akan lebih baik untuk didengar Fredella jika harus dibandingkan dengan kebungkaman Runako seperti saat ini.

"Aku tahu, Run, ini akan berat buat kita. Tapi, aku punya impianku sendiri, pun dengan kamu." Akhirnya Fredella menghentikan kegiatan Runako yang hanya membuang-buang pulsanya untuk sebuah keheningan, "Aku sudah bilang, kita bisa tetap berhubungan meski harus terpaut jarak yang jauh. Tapi, rasanya kamu terlalu keberatan untuk itu."

Runako tak bergeming. Ia hanya menikmati suara indah nan tegas milik Fredella terus mengalunkan kata-katanya.

"Aku akan tetap pergi hari ini, Run," putus Fredella, akhirnya.

"Kamu milih berangkat di saat pacar kamu lagi sakit dan butuh kamu, Fre?"

"Ini sudah yang kesekian kali, Run, kalau kamu lupa." Fredella memberi jeda untuk ucapannya, "aku rasa, sampai kapanpun akan tetap sama ... kamu yang selalu sakit kepala saat jadwal keberangkatanku, 'kan?"

Runako memutuskan panggilannya, tanpa menjawab pertanyaan Fredella.
***

Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu

Fredella sudah memantapkan hatinya, sudah memutuskan sejak jauh hari, sudah menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi di hari keberangkatannya. Runako yang selalu menahannya tak akan lagi ia biarkan, ia sudah memilih ... untuk meraih cita-citanya.

Hidup tak selalu tentang cinta, hidup tak selalu tentang seseorang yang kaucintai atau pun mencintaimu, hidup juga tentang cita-citamu, hidup juga menyangkut kebahagaiaanmu, orangtuamu, dan keluargamu. Perihal orang yang benar-benar mencintaimu akan tiba di saat yang tepat nantinya.

Sudah setengah jam yang lalu, Fredella menikmati perjalanannya menuju bandara Soekarno Hatta. Tak banyak yang ia lakukan selama perjalanan, hanya tangan yang sedari tadi mengetik sebuah pesan.

Pilihan sudah dimantapkan, tapi, rasanya pergi tanpa pesan, meninggalkan tanpa ucapan  perpisahan bukan hal yang Fredella inginkan. Fredella tak munafik, ia tetap menangis, bukan akhir seperti ini yang ia inginkan. Tapi, sepertinya memang ini jalannya bersama Runako. Mereka sudah berada di persimpangan jalan dan tak lagi menemukan keinginan yang sama, pun dengan keinginan mengalah di salah satunya.

To: Runako.SatryaD@yahoo.com
From: FdellaAgasty@yahoo.com
Subject: Aku pasti merindukanmu!

Hai, Run.

Aku tidak tahu apa yang harus aku ketik dalam surel ini. Sebuah salam perpisahan kah? Aku tidak pernah berfikir akan mengetiknya di sini. Sebelumnya, aku masih membayangkan wajahmu yang penuh air mata saat melepas kepergianku. Tapi, aku terlalu banyak berkhayal.

Kau tak akan pernah mengantarku karena kau memang tak pernah mengizinkanku untuk pergi, 'kan?

Kadang hidup memang seperti memainkan kita, ya, Run? Bagaimana bisa kita tak membuat semuanya menjadi mudah? Bagaimana bisa aku harus mempunyai cita-cita yang tinggi saat kau tak mengizinkan itu? Lalu kenapa kita dipertemukan hanya untuk sebuah kebimbangan seperti ini?

Seperti yang selalu kubilang, aku punya cita-cita layaknya kau menggantungkan cita-citamu. Aku akan selalu berusaha meraih itu seperti kau yang tak pernah lelah untuk itu. Kau tahu, aku terlalu ingin membuat orangtuaku bahagia. Pun dengan kau. Kesamaan kita terlalu banyak, Run. Mungkin itu yang membuat kita terlalu keras, terlalu egois, terlalu tak mau mengalah.

Maaf jika akhirnya harus seperti ini. Aku mencintaimu, sangat. Tapi, ternyata aku lebih mencintai orangtuaku, aku ternyata lebih ingin membuat orangtuaku tersenyum, Run. Terlalu lucu, ya, Run, saat aku dan kau yang notabennya sama-sama ingin membuat orangtua kita tersenyum akhirnya harus berpisah karena itu.

Aku pasti merindukanmu! Merindukan tawa milikmu, mata indah yang selalu menyejukkan itu, senyum yang tak pernah membuatku bosan, ucapanmu yang selalu kunanti, rengekanmu sebagai anak kecilku. Aku pasti merindukanmu, Run!

Jika suatu hari nanti kau menemukan perempuan yang kaucinta, jangan lupa kabari diriku. Aku pun akan melakukan hal yang sama nantinya. Sepertinya, kita bukan ABG yang akan bermusuhan setelah kisah kita usai, 'kan, Run? Aku tetap sahabatmu dan kau tetap sahabatku.

Salam,
Sahabatmu yang sedang meraih cita-citanya.

Fredella Agasty.

P.s: aku sedang dalam perjalanan menuju bandara. Sekitar satu jam lagi aku akan sampai.

P.s.s: kalau kau ingin dibawakan oleh-oleh saat aku pulang di liburan semester, jangan sungkan untuk meminta dan mengirim uangnya.
***

Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu

Fredella mematut dirinya di depan cermin. Sebuah gaun biru membalut tubuhnya dengan indah, polesan-polesan di wajahnya membuat dirinya semakin sempurna malam ini.

Fredella menatap dirinya di cermin, entah kenapa tiba-tiba dirinya menjadi segugup ini. Entah apa yang membuat dirinya menjadi sangat tak menentu seperti ini. Sebelumnya, ia sudah menyiapkan dirinya untuk hari ini. Seharusnya semua sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu, saat ia memutuskan semuanya, saat ia membiarkan Runako mencari gadis lain. Seharusnya semua baik-baik saja, terlebih sudah ada Lyman di sisinya.

"Maaf. Lama, ya?" Fredella menghampiri Lyman yang sedang bersandar ke dinding depan toilet, "yuk masuk, nanti kehabisan makanan,"

Lyman tersenyum dengan tangan yang mengelus pucuk kepala Fredella.

"Lyman!" geram Fredella pelan, "aku lagi berusaha buat jadi pasangan kamu yang cantik, loh."

"Kamu selalu cantik kok, del." Lyman tersenyum.

Fredella hanya menanggapi dengan cibirannya tak jelas dan membuat Lyman tertawa.

Mereka berjalan beriringan, dengan jari yang saling terpaut satu dengan yang lain, dengan senyum yang selalu terlihat bahagia. Mereka berjalan di tengah banyaknya undangan yang lain. Tak jarang mereka harus menghentikan langkah kala ada yang menyapa Fredella atau saat Fredella yang mulai menyapa.

Dan ini adalah saat yang paling Fredella cemaskan, saat ia harus menyalami pengantin. Genggaman tangannya menguat ditangan Lyman. Tak ada yang tahu tentang hatinya yang sedang tak menentu, kecuali Lyman, mungkin.

Senyum yang sedari tadi terlukis di wajah Runako perlahan memudar kala matanya bertemu dengan manik mata Fredella. Hatinya menjadi berdebar. Runako memang mengirim undangan kepada Fredella, tapi ia tak menyangka Fredella akan datang.

"Long time no see, Fre," sapa Runako.

"Sekarang gue kerja di sana, Run. Dan ini baru pulang lagi setelah sekian lama nggak pulang," jelasnya dengan tawa yang ringan. "Selamat, ya, btw."

Runako hanya tersenyum untuk menanggapi Fredella.

"Cepet-cepet nyusul lah." Runako menyalami Lyman, setelah Fredella mengenalkannya.

"Lagi dalam rencana kok, doain aja biar cepet kelar."

"Di sini atau di sana acaranya?"

"Di sini lah. Jadi, kalian nggak punya alasan buat nggak dateng," ancam Fredella.

Runako tertawa. Ternyata, tak ada rasa canggung di antara mereka. Mereka memang sudah selesai dan berteman baik.

"Silakan menikmati hidangannya, boleh nambah tapi nggak boleh dibawa pulang ya," kata Runako.

Mereka berempat tertawa. Mereka berbahagia, bukan hanya Runako dan Carlise, tapi juga Fredella dan Lyman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.