[Terinspirasi dari lagu Pamit - Tulus.
Selamat mendengarkan lagunya dan membaca ceritanya!]
***
Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin yang berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar
"Ngga akan ada yang
berubah, aku tetap ada untuk kamu meski jarak tak lagi menyatukan kita." Fredella
menatap Runako yang sedari tadi hanya menatapnya secara tajam, menyaratkan
ketidaksukaan terhadap pilihan yang dipilih Fredella.
"Jadi, setelah empat
tahun hubungan kita, yang sekarang tersisa cuma aku yang ditinggal kamu?"
Fredella tak langsung
menjawab pertanyaan sarkasme Runako. Dia harus menyiapkan jawaban yang
setidaknya dapat membuat emosi kekasihnya kembali stabil lagi.
Tak ada yang suara yang
terdengar di meja nomor dua puluh empat di caffe Sroudias Chocollate. Sepasang
kekasih yang biasanya selalu membuat caffe ini penuh dengan kasih sayang yang
sangat terasa, kini hanya menatap minuman milik mereka masing-masing. Segelas
milkshake stoberi berada di hadapan si perempuan, tak disentuh sejak tadi,
hanya diaduk sekilas lalu dibiarkan. Sedangkan, si lelaki lebih memilih untuk
mengaduk coffe-nya seraya menatap gadisnya.
Fredella menghela
napasnya putus asa. Dia tahu semua tidaklah seperti yang terbayangkan, tidak
akan semulus apa yang sudah direncanakan. Runako dengan kesuka-relaan mengizinkan
Fredella mengambil beasiswanya di luar negeri adalah sebuah harapan yang sangat
sulit untuk didapatkan.
Fredella dan Runako
adalah sepasang kekasih yang baru saja lulus SMA. Runako berniat mengikuti tes
masuk Perguruan Tinggi Negeri yang baru akan dilaksanakan bulan depan.
Sedangkan, Fredella patut berbangga diri karena berhasil mendapatkan beasiswa
di salah satu universitas di Jepang. Semua yang sudah ia lakukan ternyata
berbuah manis.
"Aku nggak pernah
keberatan kita LDR-an, Run," jelas Fredella, "tapi, aku keberatan
kalau ... aku harus mengikhlaskan beasiswa ini."
"Aku bisa bantu kamu
daftar universitas bagus di sini, Fre, kamu nggak perlu sampai ke sana. Besok
pendaftaran terakhir tes, aku bakal urus semua...."
"Bukan itu
masalahnya, Run," potong Fredella dengan suara berat. "Orangtuaku
sangat menginginkan ini. Ini juga keinginan terbesarku, kamu tahu itu 'kan,
Run?"
Runako menghela napasnya
berat, tak lagi menatap kekasihnya yang tak kalah emosi dengannya.
Memang selalu seperti
ini, tak ada ujung dari pertengkaran keduanya. Tak ada penyelesaiannya. Mereka
berdua menganggap hari esok akan masih ada untuk menyelesaikan permasalahan
ini, jadi untuk hari ini mereka biarkan saja seiring emosi yang tak kunjung
reda.
***
Sudah coba berbagai cara
Agar kita terus bersama
Fredella menatap
kekasihnya yang sibuk dengan jalanan di hadapannya, senyum di bibir lelaki itu
tak kunjung hilang sedari awal mereka bertemu.
"Aku harap kamu
bukan cuma mengundur waktu keberangkatanmu, tapi juga membatalkannya."
"Kita nggak perlu
bicarain apa yang bisa merusak mood hari ini," peringat Fredella,
"nikmati aja hari ini, Run."
Runako meliriknya sekilas
seraya meraih tangan Fredella, mengecupnya penuh kasih sayang, "aku selalu
menikmati setiap waktu kalau kamu ada di sampingku," katanya seraya
tersenyum jahil.
Fredella merasakan
wajahnya memerah, "gombal, ih!"
Mereka tertawa bersama.
Melupakan masalah yang sedang mereka hindari.
***
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kautakut kuhilang
"Kepalaku rasanya
sakit banget, Fre, kamu bisa kan datang?" rengek Runako.
Fredella menghela
napasnya, "kamu tahu 'kan, Run, kalau aku harus berangkat sekarang?"
Fredella menanti dengan
sabar jawaban Runako, entah untuk rengekan di beberapa menit yang lalu baru
saja membuatnya mengeluh, sahutan Runako yang terkesan menyindirnya, atau
sekadar jawaban singkatnya. Itu semua memang akan lebih baik untuk didengar
Fredella jika harus dibandingkan dengan kebungkaman Runako seperti saat ini.
"Aku tahu, Run, ini
akan berat buat kita. Tapi, aku punya impianku sendiri, pun dengan kamu."
Akhirnya Fredella menghentikan kegiatan Runako yang hanya membuang-buang
pulsanya untuk sebuah keheningan, "Aku sudah bilang, kita bisa tetap
berhubungan meski harus terpaut jarak yang jauh. Tapi, rasanya kamu terlalu
keberatan untuk itu."
Runako tak bergeming. Ia
hanya menikmati suara indah nan tegas milik Fredella terus mengalunkan
kata-katanya.
"Aku akan tetap
pergi hari ini, Run," putus Fredella, akhirnya.
"Kamu milih
berangkat di saat pacar kamu lagi sakit dan butuh kamu, Fre?"
"Ini sudah yang
kesekian kali, Run, kalau kamu lupa." Fredella memberi jeda untuk
ucapannya, "aku rasa, sampai kapanpun akan tetap sama ... kamu yang selalu
sakit kepala saat jadwal keberangkatanku, 'kan?"
Runako memutuskan
panggilannya, tanpa menjawab pertanyaan Fredella.
***
Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Fredella sudah
memantapkan hatinya, sudah memutuskan sejak jauh hari, sudah menyiapkan segala
kemungkinan yang akan terjadi di hari keberangkatannya. Runako yang selalu
menahannya tak akan lagi ia biarkan, ia sudah memilih ... untuk meraih
cita-citanya.
Hidup tak selalu tentang
cinta, hidup tak selalu tentang seseorang yang kaucintai atau pun mencintaimu,
hidup juga tentang cita-citamu, hidup juga menyangkut kebahagaiaanmu,
orangtuamu, dan keluargamu. Perihal orang yang benar-benar mencintaimu akan
tiba di saat yang tepat nantinya.
Sudah setengah jam yang
lalu, Fredella menikmati perjalanannya menuju bandara Soekarno Hatta. Tak
banyak yang ia lakukan selama perjalanan, hanya tangan yang sedari tadi
mengetik sebuah pesan.
Pilihan sudah
dimantapkan, tapi, rasanya pergi tanpa pesan, meninggalkan tanpa ucapan
perpisahan bukan hal yang Fredella inginkan. Fredella tak munafik, ia tetap
menangis, bukan akhir seperti ini yang ia inginkan. Tapi, sepertinya memang ini
jalannya bersama Runako. Mereka sudah berada di persimpangan jalan dan tak lagi
menemukan keinginan yang sama, pun dengan keinginan mengalah di salah satunya.
To: Runako.SatryaD@yahoo.com
From: FdellaAgasty@yahoo.com
Subject: Aku pasti merindukanmu!
Hai, Run.
Aku tidak tahu apa yang harus aku ketik dalam surel ini. Sebuah
salam perpisahan kah? Aku tidak pernah berfikir akan mengetiknya di sini.
Sebelumnya, aku masih membayangkan wajahmu yang penuh air mata saat melepas
kepergianku. Tapi, aku terlalu banyak berkhayal.
Kau tak akan pernah mengantarku karena kau memang tak pernah
mengizinkanku untuk pergi, 'kan?
Kadang hidup memang seperti memainkan kita, ya, Run? Bagaimana
bisa kita tak membuat semuanya menjadi mudah? Bagaimana bisa aku harus
mempunyai cita-cita yang tinggi saat kau tak mengizinkan itu? Lalu kenapa kita
dipertemukan hanya untuk sebuah kebimbangan seperti ini?
Seperti yang selalu kubilang, aku punya cita-cita layaknya kau
menggantungkan cita-citamu. Aku akan selalu berusaha meraih itu seperti kau
yang tak pernah lelah untuk itu. Kau tahu, aku terlalu ingin membuat orangtuaku
bahagia. Pun dengan kau. Kesamaan kita terlalu banyak, Run. Mungkin itu yang
membuat kita terlalu keras, terlalu egois, terlalu tak mau mengalah.
Maaf jika akhirnya harus seperti ini. Aku mencintaimu, sangat.
Tapi, ternyata aku lebih mencintai orangtuaku, aku ternyata lebih ingin membuat
orangtuaku tersenyum, Run. Terlalu lucu, ya, Run, saat aku dan kau yang
notabennya sama-sama ingin membuat orangtua kita tersenyum akhirnya harus
berpisah karena itu.
Aku pasti merindukanmu! Merindukan tawa milikmu, mata indah yang
selalu menyejukkan itu, senyum yang tak pernah membuatku bosan, ucapanmu yang
selalu kunanti, rengekanmu sebagai anak kecilku. Aku pasti merindukanmu, Run!
Jika suatu hari nanti kau menemukan perempuan yang kaucinta,
jangan lupa kabari diriku. Aku pun akan melakukan hal yang sama nantinya.
Sepertinya, kita bukan ABG yang akan bermusuhan setelah kisah kita usai, 'kan,
Run? Aku tetap sahabatmu dan kau tetap sahabatku.
Salam,
Sahabatmu yang sedang meraih cita-citanya.
Fredella Agasty.
P.s: aku sedang dalam perjalanan menuju bandara. Sekitar satu jam
lagi aku akan sampai.
P.s.s: kalau kau ingin dibawakan oleh-oleh saat aku pulang di
liburan semester, jangan sungkan untuk meminta dan mengirim uangnya.
***
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu
Fredella mematut dirinya
di depan cermin. Sebuah gaun biru membalut tubuhnya dengan indah,
polesan-polesan di wajahnya membuat dirinya semakin sempurna malam ini.
Fredella menatap dirinya
di cermin, entah kenapa tiba-tiba dirinya menjadi segugup ini. Entah apa yang
membuat dirinya menjadi sangat tak menentu seperti ini. Sebelumnya, ia sudah
menyiapkan dirinya untuk hari ini. Seharusnya semua sudah berakhir sejak tiga
tahun yang lalu, saat ia memutuskan semuanya, saat ia membiarkan Runako mencari
gadis lain. Seharusnya semua baik-baik saja, terlebih sudah ada Lyman di
sisinya.
"Maaf. Lama,
ya?" Fredella menghampiri Lyman yang sedang bersandar ke dinding depan
toilet, "yuk masuk, nanti kehabisan makanan,"
Lyman tersenyum dengan
tangan yang mengelus pucuk kepala Fredella.
"Lyman!" geram
Fredella pelan, "aku lagi berusaha buat jadi pasangan kamu yang cantik,
loh."
"Kamu selalu cantik
kok, del." Lyman tersenyum.
Fredella hanya menanggapi
dengan cibirannya tak jelas dan membuat Lyman tertawa.
Mereka berjalan
beriringan, dengan jari yang saling terpaut satu dengan yang lain, dengan
senyum yang selalu terlihat bahagia. Mereka berjalan di tengah banyaknya
undangan yang lain. Tak jarang mereka harus menghentikan langkah kala ada yang
menyapa Fredella atau saat Fredella yang mulai menyapa.
Dan ini adalah saat yang
paling Fredella cemaskan, saat ia harus menyalami pengantin. Genggaman
tangannya menguat ditangan Lyman. Tak ada yang tahu tentang hatinya yang sedang
tak menentu, kecuali Lyman, mungkin.
Senyum yang sedari tadi
terlukis di wajah Runako perlahan memudar kala matanya bertemu dengan manik
mata Fredella. Hatinya menjadi berdebar. Runako memang mengirim undangan kepada
Fredella, tapi ia tak menyangka Fredella akan datang.
"Long time no see, Fre," sapa
Runako.
"Sekarang gue kerja
di sana, Run. Dan ini baru pulang lagi setelah sekian lama nggak pulang,"
jelasnya dengan tawa yang ringan. "Selamat, ya, btw."
Runako hanya tersenyum
untuk menanggapi Fredella.
"Cepet-cepet nyusul
lah." Runako menyalami Lyman, setelah Fredella mengenalkannya.
"Lagi dalam rencana
kok, doain aja biar cepet kelar."
"Di sini atau di
sana acaranya?"
"Di sini lah. Jadi,
kalian nggak punya alasan buat nggak dateng," ancam Fredella.
Runako tertawa. Ternyata,
tak ada rasa canggung di antara mereka. Mereka memang sudah selesai dan
berteman baik.
"Silakan menikmati
hidangannya, boleh nambah tapi nggak boleh dibawa pulang ya," kata Runako.
Mereka berempat tertawa.
Mereka berbahagia, bukan hanya Runako dan Carlise, tapi juga Fredella dan
Lyman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.