Sabtu, 29 Oktober 2016

Surat saat Hujan di Malam Minggu

Hai,

Ini malam minggu, jika kau mau tahu. Tapi, rasanya tanpa kuberitahu kau pasti sudah tahu. Tanah di luar masih basah, sebab baru diguyur hujan sejak sore tadi. Dan, mungkin saat ini gerimis masih senantiasa menemani malam minggu, entahlah, aku juga tak tahu, karena sedari tadi aku hanya berada di dalam rumah.

Udara malam ini dingin, jika kau ingin tahu. Hujan membawakan atau mungkin meninggalkan udara dingin.

Malam ini, dia datang. Sahabatku menghampiriku di saat hujan dan dingin. Di saat aku hanya ingin menikmati malam minggu bersama novel-novel-yang tak kunjung aku selesaikan-, dia justru datang.

Dia baik-baik saja. Dia tersenyum saat aku menyapanya di depan pintu, tapi lalu hanya terdiam sejak aku menyuruhnya untuk duduk. Dan saat itulah aku tahu dia sedang tak berada dalam keadaan baik.

Sudah tiga puluh menit sejak kedatangannya dan tak ada yang terucap selain; "apa aku mengganggumu?". Hanya itu yang terucap saat ia baru datang dan setelahnya ia hanya diam. Sesekali matanya melirik handphone-nya yang ia biarkan tergeletak, sesekali ia memainkannya lalu menaruhnya kembali, dan sesekali ia memejamkan matanya.

Aku tidak tahu apa maksud kedatangannya. Sungguh. Aku tidak tahu apa yang membuatnya sampai harus mengganggu waktuku bersama novel-novelku. Bukan. Bukan aku tak suka jika ia berkunjung, tapi aku merasa ganjil karena sikapnya.

"Aku mengharapkannya. Lagi," katanya, setelah empat puluh lima menit terlewatkan bersama dingin yang semakin terasa di antara kami.

Dan, tanpa diberitahu aku sudah tahu siapa yang ia maksud... Kau. Lelaki yang ia tunggu pesannya.

Hai,
Kau, lelaki yang akhirnya tak muncul dalam hari-hari sahabatku lagi.

Sedang apakah dirimu? Adakah kau sedang bermain dengan sahabatmu? Atau, mungkin sedang bekerja? Atau, mungkin sedang menghabiskan waktu bersama perempuan lain?

Aku tak mempermasalahkan soal itu. Aku hanya mempermasalahkan perihal sahabatku. Sahabatku yang semakin menjadi tak menentu. Rasanya, aku seperti ABG labil yang saat awal menyuruhmu untuk menjauhi sahabatku, tapi, sekarang aku mempertanyakan alasanmu. Rasanya, aku seperti berniat untuk membuatmu bimbang.

Aku juga tidak tahu apa maksudku. Aku bimbang seperti apakah seharusnya kamu bersikap.

Hai, lelaki yang masih kuterka seperti apa wujudnya.

Sudahkah aku bilang kepadamu jika sahabatku tak menentu maka ia sangat menyebalkan? Ia lebih membiarkan tiba-tiba sesak menemaninya dibandingkan harus bercerita kepada sahabat-sahabatnya. Aku, misalnya. Ia sangat menyebalkan saat tak menentu karena tak membiarkan aku mengerti apa inginnya. Ia sangat menyebalkan saat tak menentu karena ia membiarkan semua asumsinya hadir di satu waktu, membuat kepalanya sakit, membuatnya ingin menangis. Tapi, ia tak jua menangis. Ia menyebalkan saat menentu karena ia menyimpannya sendiri.

Sudah kubilang beribu kali, kalian terlalu jauh, tak seharusnya mengikutsertakan hati, tapi, ia tak kuasa untuk mengendalikannya. Hati tetaplah hati. Nyaman hadir begitu saja seiring rutinnya pesan yang saling berbalas. Tak lagi soal rupa, ini hanya soal nyaman.

Kau membuatnya nyaman, jika kau mau tahu.

Lalu, lihat malam ini. Dia datang dengan wajah yang tak enak untuk dipandang. Meski, "aku tak apa, aku hanya butuh waktu," sudah terucap berulang kali, tapi, aku tahu itu tak benar. Dia, sahabatku sedang jauh dari kata baik, bukan hanya waktu yang ia perlukan melainkan kau.

Bukankah sudah kubilang jangan bermain-main dengannya? Dia bukan perempuan yang mudah berlalu saat hatinya sudah turut serta. Dia bukan perempuan yang mudah mengondisikan hatinya agar selalu baik-baik saja. Dia bukan perempuan yang menganggap ucapan manis hanya sekadar ucapan. Dia bergurau kala kau mengatakan kata-kata manis, tapi, bergurau bukan berarti tak mengikutsertakan hatinya, kan?

Anggaplah dia terlalu membawa perasaannya. Anggaplah seperti itu. Tak apa, dia memang seperti itu.

Selamat malam minggu,
Kau, lelaki yang tak aku ketahui alamatnya.

Sedang apakah dirimu saat ini? Adakah kau memikirkan sahabatku seperti dia memikirkanmu? Adakah kau menunggu pesannya seperti dia menunggu pesanmu?

Jika memang berniat menjauh, maka jangan datang lagi. Jika memang berniat tak acuh, maka tak perlu bersikap acuh. Aku tahu, sebelumnya kau pernah jua menghilang. Tapi, ternyata kau terlalu senang bercanda. Di saat sahabatku mulai terbiasa, kau hadir lagi, mengiriminya pesan lagi. Dan kini, pergi lagi. Ah, entah apa maksudmu.

Jangan datang lagi. Itu lebih baik dibandingkan kau terus datang lalu menghilang tiba-tiba.

Dan, jika kau mau tahu, ini bukan hanya perihal kehadiranmu, tapi, jua jarak kalian.

Ketika, aku, sahabatku, dan sahabatku satu lagi sedang bermain, dia menceritakanmu kepada sahabatku yang lainnya. Lalu, sahabatku yang lain itu hanya merespons ceritanya dengan; "jaraknya terlalu jauh, terlalu sulit. Jangan terus jika kau tak ingin semakin susah di kemudian harinya."

Lalu dia berkata, "atau ... lelaki itu hanya ingin berteman?"

Aku dan sahabatku yang satu lagi lantas menggeleng bersamaan, "bukan, niatnya bukan hanya untuk berteman." Itu yang terucap.

Dan dia hanya terdiam, aku meneliti raut wajahnya, dia menghembuskan napas beratnya. Terlalu berat untuknya. Lantas, biarkan aku bertanya, apa tujuanmu? Adakah kau memikirkan apa yang ia pikirkan?

Mungkin aku memang terlalu lancang untuk ikut campur saat aku tak mengenalmu, tapi, bolehkah aku menyampaikan apa yang sahabatku tak mampu sampaikan?

Sebelumnya, aku sudah beritahu bahwa sahabatku bukan orang yang mudah mengungkapkan perasaannya. Maka, biar aku yang memberitahumu.

Dia ... sahabatku telah berhasil kaubuat nyaman dengan keberadaanmu. Di saat semua sahabatnya sibuk dengan dunianya sendiri, dia merasa tak sendiri karenamu. Dia ... sahabatku menunggu pesanmu. Ah ya, kau harus tahu berapa kali dia melihat kontakmu di malam ini. Terlalu sering, hingga aku lupa berapa jumlah ia melihat kontakmu lalu mengembalikannya lagi.

Jika kau membaca ini, maka aku hanya ingin tak usah kau buat ia terbiasa, lagi. Utarakan apa maksudmu kepadanya agar dia bisa mengerti. Beritahu apakah kau jua berkirim dengan perempuan lain, agar ia tak memikirkan hal-hal yang tak jelas. Aku terlalu benci saat dia mulai berpikiran yang tak jelas, mengapa tak bisa dia cukup percaya? Dia memang terlalu rumit.

Dia hanya perempuan yang tak mudah mengondisikan hatinya agar baik-baik saja. Dia hanya perempuan yang menyimpan semuanya sendiri. Dia hanya perempuan yang membiarkan malamnya menjadi sangat menyesakkan karena hatinya yang tak menentu. Dan dia hanyalah perempuan yang selalu berkata bahwa dia baik-baik saja di hadapan semua orang.

Rasanya sudah cukup surat untukmu, sahabatku mungkin akan marah saat aku memberitahumu banyak hal tentangnya.

Terima kasih sudah membuat sahabatku tersenyum dan menghadirkan sesak di hatinya.

Terima kasih sudah pernah berbaik hati kepada sahabatku.

Aku masih berharap dapat bertemu denganmu suatu hari nanti. Aku ingin berbincang dengan lelaki—yang sahabatku bilang—menyenangkan.

Jakarta, 29 Oktober 2016.
Perempuan yang menulis surat saat malam yang dingin,

Fanny Saufina.

Selasa, 25 Oktober 2016

Intuisi

[Cerita ini terinspirasi dari lagu Yura-Intuisi.
Selamat mendengarkan lagunya dan membaca ceritanya.]

***

Neira berdiri di depan sebuah rumah bercat putih, tak ada yang banyak berubah dari rumah di depannya sejak terakhir kali ia lihat. Neira melangkah perlahan menuju pintu depan rumah yang akan ia tepati selama beberapa minggu kedepan. Semakin dekat, semakin berdebar hatinya. Ini memang bukan yang pertama kali ia bermain atau bahkan akan menginap di rumah ini, tapi rasanya tetap sama setiap kali ia datang. Gugup.


Kuhampiri engkau meski kau jauh
Sendiri kutempuh
Hanya 'tuk bertemu denganmu

"Neira," sambut seorang perempuan paruh baya yang Neira sudah anggap sebagai ibunya sendiri, "kenapa nggak ngabarin kalau mau main?" tanya si ibu pemilik rumah sembari membawa Neira ke dalam rumah.

"Neira mau bikin kejutan ceritanya, Bu," sahut Neira diiringi cengiran khas miliknya, "Jana-nya mana, Bu?" tanya Neira sembari melihat-lihat ke arah kamar Jana yang tertutup rapat, tak ada tanda-tanda si pemilik berada di dalamnya.

"Dia kuliah, Nei, sebentar lagi pulang."

Neira hanya ber-oh panjang sebagai respon dari ucapan Ibunya Jana.

"Istirahat dulu di kamar kamu, pasti capek dari Jakarta ke Bandung, sendirian pula." ibu Jana mulai menyiapkan minuman untuknya, "seharusnya kabari Jana, biar dia jemput kamu di terminal, Nei."

"Kan kejutan, Bu. Neira ke kamar dulu ya, Ibu jangan repot-repot, ih, kaya Neira tamu aja." Neira melangkah menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Jana.

"Berapa lama di sini, Nei?"

"Sekitar dua minggu, Bu. Boleh kan?"

"Kamu kaya baru pertama kali kesini, ih," sahut Ibu Jana sebelum Neira benar-benar masuk ke kamarnya. Kamar di rumah Jana yang memang dikhususkan untuknya. "ini teh hangat buat kamu, bawa masuk aja," ucap perempuan yang memiliki rambut sebahu itu seraya memberikan secangkir teh ke Neira.

Rumah Jana bukanlah rumah yang besar. Hanya sebuah rumah sederhana dengan halaman di bagian depan, jika diperuntukkan sebagai lahan parkir maka hanya mampu menampung 5 sepeda motor. Di dalam rumah terdapat empat kamar tidur yang saling berhadapan. Satu kamar sudah dipatenkan untuk orangtua Jana, di sebelah kanannya adalah kamar yang dikhususkan untuk tamu. Tepat di seberang kamar orangtua Jana adalah kamar Jana, kamar yang jika diperhatikan memikiki warna pintu yang berbeda dengan yang lainnya. Dan di sebelahnya adalah kamar Neira, tamu yang mempunyai kamar sendiri di rumah ini.

Neira menaruh gelas pemberian ibunya Jana di nakas samping tempat tidur. Ia berjalan, mengedarkan pandangannya ke arah foto-foto yang terpajang rapi di dinding. Tak ada yang berubah dari kamar ini, kamar yang memang untuknya.

Kuhampiri engkau meski kau jauh

Neira melangkah pasti di koridor, sesekali langkahnya terhenti untuk menentukan pilihan, atau sekadar untuk bertanya tentang seseorang yang ia cari. Jana.

Setelah mendapat izin ibunya Jana, ia langsung bergegas menuju kampus Jana. Alih-alih memberi kabar akan kedatangannya, ia justru nekad untuk menghampiri Jana yang–ia tidak tahu dimana tepatnya– berada di kampus. Berbekal bahwa Jana masih akan di kampus sampai setengah tujuh, akhirnya Neira benar-benar merealisasikan keinginannya. Rindunya sudah tak sanggup ia tahan, menunggu beberapa jam pun rasanya tidak sanggup.

Namun hatimu tlah runtuh
Dan buatku terjatuh

Setelah berkeliling kampus selama lima belas menit, Neira akhirnya mendapati Jana sedang berada di kantin. Di depannya, Jana sedang memperhatikan layar laptop dengan sangat serius. Ah, Neira rindu wajah serius itu. Sangat.

Dengan senyum yang mengembang, dengan hati yang berbunga-bunga, dan tatapan yang tak lepas dari lelakinya, Neira memperkecil jarak di antara keduanya. Semakin lama, semakin dekat, dan semakin merona wajahnya.

"Hai, Jan," sapa Neira saat akhirnya sampai di depan Jana.

Jana mengadahkan kepalanya, menatap seorang perempuan yang sedang tersenyum lembut kepadanya. "Sejak kapan di sini?" tanyanya tak mengindahkan sapaan Neira.

"Tadi sekitar pukul satu," sahut Neira, masih dengan senyum yang tak kunjung pergi. "Ah, aku bawa ini ... titipan Ibu," sambungnya menyodorkan kotak makan yang memang dipersiapkan ibu Jana untuk anak semata wayangnya.

Jana melirik kotak makan yang terletak di samping laptop, "titipannya sudah tersampaikan, 'kan? Kamu bisa pulang sekarang."

Tepat Jana menyelesaikan ucapannya seketika itu senyuman yang sedari tadi tak luntur kini mulai memudar. Bukan. Bukan karena ucapan Jana, perihal itu Neira sudah sangat biasa, meski ada sisi hatinya yang tetap hancur akan penolakan Jana. Senyum Neira hilang saat seorang wanita–yang baru datang–mengecup pipi Jana, tepat saat Jana menyelesaikan ucapannya. Tepat saat ia merasakan sakit akan penolakan Jana, dan kini ditambah sakit akan perbuatan perempuan yang tak ia kenal itu.

"Hai," sapa Jana dengan senyuman manisnya. Bukan untuk Neira, tapi perempuan yang baru datang, yang kini duduk di kanan Jana. "Gue udah bilang, jangan kaya gitu. Nanti orang salah kira."

Si perempuan tertawa, "emang kenapa? Bakal ada yang cemburu?"

Jana memutar matanya, "Kenalin temen gue, Neira. Nei, kenalin ini temen aku, Tara."

"Neira," ucapnya seraya mengulurkan tangannya.

Tara membalas uluran tangan Neira, "Tara. Temen Jana dari mana, ya? Kok baru kelihatan."

"Kamu bisa pulang sekarang, Nei. Aku masih ada yang harus dikerjain."

"Aku bisa tunggu, kok, Jan."

"Kamu tinggal dimana, Nei?" tanya Tara yang mulai tertarik dengan Neira yang kembali menghadirkan senyumannya.

"Di ...."

"Pulang, Neira!" potong Jana tak terbantahkan.

"Iya, aku pulang. Aku duluan, ya, Tara." Neira melambaikan tangan ke arah Tara yang juga melambaikan tangan kepadanya, dan Jana yang tetap serius dengan laptopnya.

***


Kau tak pernah tahu
Betapa hati yakin untukmu


Neira tak tahu apa yang membuatnya menunggu Jana di depan rumahnya. Tiga hari tinggal di rumah Jana, baru kali ini ia menunggu kepulangan Jana. Entah apa yang membuat dirinya yakin bahwa Jana akan tiba sebentar lagi. Sebentar lagi sejak satu jam yang lalu.

"Kenapa di luar?" Itu yang Neira dengar saat matanya mulai mengantuk.

"Nungguin kamu," katanya tanpa menghiraukan kerutan di dahi Jana.

"Masuk. Udah malam, aku juga mau tidur."

"Kamu besok ke kampus, Jan?"

Jana tak menanggapi Neira yang masih mengekorinya.

"Kamu nggak ada niat buat ngajak aku jalan-jalan?"

"Kamu bisa jalan-jalan sendiri, Nei," balas Jana saat mereka sudah di depan pintu kamar Jana, "aku mau istirahat, jadi kamu berhenti ngikutin aku," sambung Jana seraya menutup pintu kamarnya.

Kau tak pernah tahu
Betapa aku merindukanmu

Neira menatap pintu kamar Jana untuk beberapa menit, semua orang di rumah ini sudah berada di dalam kamarnya, kecuali Neira. Tak ada yang menemani Neira, senyum yang tak pergi dari bibirnya pun tak sebenarnya ada. Ia hanya sebuah pajangan di sana.

Neira menjauhi pintu kamar Jana yang tak jua terbuka lagi, ia memilih masuk ke kamarnya dengan rindu yang tak terbalaskan.

Jika dulu, Neira hanya cukup datang ke Bandung dan rindunya sudah dapat terlepaskan. Kini, rasanya, rindu semakin tak tahu diri, ia tetap berada di sana meski Neira sudah berada di Bandung. Ia tetap di sana untuk seseorang yang kini sedang berada di dekatnya tapi terasa seperti jauh. Rasanya, tak ada bedanya antara di Jakarta ataupun di Bandung.

Air mata lolos dari matanya yang terpejam, hatinya menjadi sangat sesak. Sangat sesak ketika ingatannya mengarah kepada kejadian beberapa tahun silam, saat Jana dan Neira masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Saat mereka masih menggunakan seragam putih abu-abu, Jana bukanlah sosok yang dingin seperti ini kepada Neira. Mereka menghabiskan hari-hari bersama, mulai dari berangkat sekolah, menikmati waktu istirahat di sekolah, pulang sekolah, dan liburan sekolah.

Jika dulu Neira hanya perlu bilang sekali untuk meminta Jana menemaninya, dan secepat itu Jana sudah berdiri di sisinya. Tapi, kini Neira harus memerlukan waktu yang lama sampai akhirnya ia bisa bertemu Jana.

Semua sudah berubah, kecuali rindu dan perasaannya.


***


Pagi ini, Neira sengaja bangun lebih awal dan menyibukkan dirinya di dapur, menyiapkan sarapan untuk ibu Jana, ayah Jana, dan terkhusus untuk Jana. Berbekal dengan pengetahuannya yang masih minim tentang masak-memasak, ia memulai aksinya di dapur.


Mungkin kutak bisa buatmu luluh


"Pagi, Nei, tumben pagi-pagi udah di dapur," sapa ayah Jana yang mulai menduduki tempatnya di ruang makan.


"Lagi pengen jadi tamu yang tahu diri aja, Yah," sahutnya asal.


Ayah dan ibu Jana yang mendengar jawabannya hanya tertawa. Inilah yang membuat orangtua Jana menyukai Neira, ia selalu mampu menghidupkan suasana di rumah Jana yang terkesan sangat sunyi. Jana memang bukan anak yang mudah bercengkerama dengan orangtuanya, yang Jana lakukan saat di rumah hanya mengerjakan tugas-tugasnya di dalam kamar dan berbincang seperlunya dengan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu Jana juga terkesan jarang melibatkan Jana dalam sebuah percakapan mereka. Tapi, mereka tetaplah keluarga yang harmonis. Neira menyukai saat dirinya berada di keluarga ini.


"Jangan ganggu Ibu, Nei, nanti kami bisa terlambat," ucap Jana yang sudah menduduki tempatnya di meja makan.


"Nei nggak ganggu Ibu kok, Jan. Malah dia ngebantuin Ibu dan bikinin kamu bekal," bela ibu Jana yang membuat Neira tersipu malu.


"Ini bekal kamu." Neira menyerahkan sekotak bekal yang ia buat sendiri. "jangan lupa dimakan."


"Makasih bekalnya, tapi lain kali nggak perlu repot-repot," sahut Jana seraya memasukkan bekalnya ke dalam tas. "aku berangkat."


"Aku senang melakukannya kok dan aku janji akan melakukannya mulai hari ini," sahut Neira semangat, tak menghiraukan pandangan orangtua Jana yang sedari tadi mengarah padanya.

"Tidak perlu." Hanya itu yang Jana ucapkan sebagai salam penutup pembicaraan pagi ini.

Namun kauharus tahu bahwa
Diriku sungguh-sungguh

Pagi ini, Neira kembali menyibukkan diri dalam kegiatan barunya di dapur, membuat bekal untuk Jana. Meski sejak pertama Jana selalu menolak keinginannya, tapi hal yang Neira dapatkan adalah Jana yang selalu membawa bekal buatannya dan menyisakan tempatnya saja saat ia pulang.

"Kamu nggak perlu nyiapin bekal untuk hari ini," kata Jana yang baru bergabung di meja makan bersama ayah dan ibunya.

Jana hari ini terlihat menawan, meski memang selalu seperti itu untuk Neira. Dalam balutan kemeja levis lengan panjang yang ia lipat menjadi sepertiga dan bawahan yang senada, Jana mampu membuat pagi Neira menjadi sangat menyenangkan.

"Aku sudah membuatnya, Jan," ucap Neira setelah tersadar dari lamunannya.

Jana memutar bola matanya, "Aku sudah bilang, berhenti membuatkanku bekal, Nei."

"Tapi kamu selalu membawanya, bahkan menghabiskannya."

"Aku membawanya dan menghabiskannya bukan berarti aku menyukainya."

Dan, pembicaraan selesai. Jana terlanjur bangkit dari duduknya, berpamitan dengan orangtuanya, dan meninggalkan meja makan, meninggalkan Neira yang hendak membalas ucapannya, bahkan meninggalkan rumahnya. Dengan bekal yang sudah dimasukan ke dalam tas tentunya.

***


Setelah hampir dua minggu Neira berada di Bandung, akhirnya hari ini adalah hari terakhirnya. Ia akan kembali ke kotanya nanti sore, meninggalkan Jana yang masih tak memedulikannya.


Setelah hampir ditinggal dua minggu, bunda akhirnya menyuruh Neira pulang. Tak baik jika terus merepotkan ayah dan ibunya Jana, tak baik jika terlalu lama ia terus menginap di rumah seseorang yang tak memiliki ikatan darah dengannya, itulah alasan yang bunda ucapkan. Dan, akhirnya Neira mengiyakan untuk pulang sore ini.


Entah apa yang membuat Jana berangkat lebih pagi hari ini. Bahkan, Jana tak tahu jika ia akan pulang ke Jakarta hari ini. Karena, mereka tak sempat bertemu pagi tadi.


Intuisiku selalu mengarah kepadamu
Intuisiku selalu mengarah kepadamu


Neira melangkahkan kakinya dengan pasti, tak dihiraukan tatapan menyelidik dari sekitarnya.  Fokusnya hanya satu, yaitu keberadaan Jana. Dengan senandung yang sedari tadi ia lantunkan, langkah kaki melangkah tanpa ragu.


Sebenarnya, ia tak tahu posisi Jana saat ini, apa ia sedang berada di kelas, berada di taman kampus bersama teman-temannya, atau di ruang organisasinya. Ia tak tahu sampai sepasang matanya menatap Jana, meyakinkan hatinya bahwa ia memang tak pernah salah jika bersangkutan dengan Jana.


"Hai," sapa Neira saat sudah berada di samping Jana.


Perempuan yang sedari tadi berada di hadapan Jana menatapnya penuh semangat, Neira ingat betul nama perempuan ini. "Hai, Tara," sapa Neira.


"Oh. Hai, Neira."


"Kamu ngapain?" Jana yang sedari tadi hanya sibuk dengan catatannya, kini menatapnya.


"Bekal kamu ketinggalan." Neira menyodorkan bekal buatannya ke hadapan Jana.


"Bukan ketinggalan, tapi emang aku nggak mau bawa."


"Jana!" Tara memanggil Jana tepat saat ia baru menyelesaikan ucapannya. "Aku sempat coba bekal buatanmu, loh, Nei. Dan itu enak banget!" ucap Tara antusias. "Eh, nggak apa-apa, 'kan?"


Neira meringis sebentar, menetralkan hatinya yang entah mengapa menjadi sangat nyeri. Bukan, bukan perihal bekal buatan Neira yang dicoba Tara, tapi, perihal sikap Jana yang tak mengacuhkannya. "Nggak kenapa-kenapa kok, Tar."


"Aku iri dengan Jana akhir-akhir ini kalau kamu mau tahu, Nei. Dia selalu membawa ...."


Tapi tak jua, tapi tak jua,
Tapi tak jua kau hiraukan aku


Neira tak lagi menyimak ucapan Tara, ia lebih memilih menatap kotak bekal yang sudah diletakkan di samping kertas-kertas Jana, ia lebih memilih untuk melayangkan pikirannya ke beberapa tahun silam saat Neira dan Jana masih senantiasa berbagi senyum, lalu melayang ke tahun saat Jana mulai tak mengacuhkannya, dan kembali di hari ini, saat Jana benar-benar tak menganggapnya ada.


"Kamu bisa pulang kalau urusan mengantar bekalmu sudah selesai," ucap Jana, masih dengan pandangan yang fokus ke kertas putih yang sedari tadi ia tulis.


"Aku pulang nanti sore, Jan," beritahu Neira, "ke Jakarta," tambahnya cepat.


"Loh? Kok cepet banget, Nei? Kita bahkan belum pernah jalan bersama." Neira tersenyum miris, itu adalah jawaban yang ia ingin dengar dari Jana, bukan Tara.


Tapi, ternyata Jana lebih memilih untuk merespon, "Baguslah. Terlalu lama tidak kuliah memang tidak baik."


Hanya itu. Tak ada raut kekecewaan saat mendengar Neira yang akan pulang. Tak ada permintaan agar Neira tinggal lebih lama. Tak ada.


"Aku harus pergi dengan Tara, ada rapat. Kamu pulang lah."


Dan, setelah Tara mengucapkan salam perpisahan tinggallah ia sendirian di bangku kantin. Neira masih memperhatikan Tara yang berlari kecil guna mengejar Jana yang sudah berjalan lebih dahulu dan punggung Jana yang kian menjauh. Neira masih duduk di bangku kantin, berharap Jana menghentikan langkahnya dan menghampirinya. Tapi, harapan memang tinggal harapan, Jana sudah benar-benar menghilang dari pandangannya.


Mungkin memang tak akan pernah harapan yang menjadi nyata jika itu tentang Jana. Neira tersenyum miris, hatinya sudah terlalu perih dan akhirnya menjadi kebal.


Neira tertawa pelan, menertawakan dirinya yang bodoh. Akhirnya, setelah merasa cukup, Neira bangkit, melangkahkan kaki meninggalkan bangku kantin yang sedari tadi menjadi saksi bisu perjuangannya yang terakhir. Ya, Neira sudah menyerah untuk Jana.


Semuanya udah cukup. Sudah saatnya untuk ditutup.


Sabtu, 01 Oktober 2016

Surat Untuk Lelaki yang tak kukenal.

Hai,

Ah, rasanya canggung sekali saat aku (lagi-lagi) harus mengirim surat kepada seseorang yang bahkan tak pernah kukenal.

Sebelum kau semakin bingung dan rasa canggung semakin menyeruak, mari kita buat suasana sesantai mungkin. Sepertinya, aku harus memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Aku adalah sahabat dari perempuan yang sedang kaudekati. Kau sedang mencoba mendekatinya, 'kan?

Aku rasa ini bukan surat pertama untuk kalian-kau dan lelaki lainnya. Ini sudah surat kesekian yang tak pernah benar-benar terkirim. Ini sudah surat yang kesekian kuketik tentang perasaan sahabatku.

Andai sahabatku adalah perempuan yang lebih mudah mengungkapkan apa yang dirasanya, mungkin surat ini takkan pernah ada. Mungkin aku takkan pernah dengan lancang mengirimu-atau lelaki terdahulu-surat seperti ini.

Untukmu, lelaki yang tak kuketahui siapa namanya.

Aku tidak tahu takdir apa yang membawamu sampai bertemu dengannya. Aku tidak tahu kebetulan apa yang membawamu ke sisinya. Dan, aku tidak tahu apa tujuanmu hingga mendekatinya.

Pamit

[Terinspirasi dari lagu Pamit - Tulus. 
Selamat mendengarkan lagunya dan membaca ceritanya!]

***

Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin yang berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar

"Ngga akan ada yang berubah, aku tetap ada untuk kamu meski jarak tak lagi menyatukan kita." Fredella menatap Runako yang sedari tadi hanya menatapnya secara tajam, menyaratkan ketidaksukaan terhadap pilihan yang dipilih Fredella.

"Jadi, setelah empat tahun hubungan kita, yang sekarang tersisa cuma aku yang ditinggal kamu?"

Fredella tak langsung menjawab pertanyaan sarkasme Runako. Dia harus menyiapkan jawaban yang setidaknya dapat membuat emosi kekasihnya kembali stabil lagi.

Tak ada yang suara yang terdengar di meja nomor dua puluh empat di caffe Sroudias Chocollate. Sepasang kekasih yang biasanya selalu membuat caffe ini penuh dengan kasih sayang yang sangat terasa, kini hanya menatap minuman milik mereka masing-masing. Segelas milkshake stoberi berada di hadapan si perempuan, tak disentuh sejak tadi, hanya diaduk sekilas lalu dibiarkan. Sedangkan, si lelaki lebih memilih untuk mengaduk coffe-nya seraya menatap gadisnya.

Fredella menghela napasnya putus asa. Dia tahu semua tidaklah seperti yang terbayangkan, tidak akan semulus apa yang sudah direncanakan. Runako dengan kesuka-relaan mengizinkan Fredella mengambil beasiswanya di luar negeri adalah sebuah harapan yang sangat sulit untuk didapatkan.

Fredella dan Runako adalah sepasang kekasih yang baru saja lulus SMA. Runako berniat mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri yang baru akan dilaksanakan bulan depan. Sedangkan, Fredella patut berbangga diri karena berhasil mendapatkan beasiswa di salah satu universitas di Jepang. Semua yang sudah ia lakukan ternyata berbuah manis.

"Aku nggak pernah keberatan kita LDR-an, Run," jelas Fredella, "tapi, aku keberatan kalau ... aku harus mengikhlaskan beasiswa ini."

"Aku bisa bantu kamu daftar universitas bagus di sini, Fre, kamu nggak perlu sampai ke sana. Besok pendaftaran terakhir tes, aku bakal urus semua...."

"Bukan itu masalahnya, Run," potong Fredella dengan suara berat. "Orangtuaku sangat menginginkan ini. Ini juga keinginan terbesarku, kamu tahu itu 'kan, Run?"

Runako menghela napasnya berat, tak lagi menatap kekasihnya yang tak kalah emosi dengannya.

Memang selalu seperti ini, tak ada ujung dari pertengkaran keduanya. Tak ada penyelesaiannya. Mereka berdua menganggap hari esok akan masih ada untuk menyelesaikan permasalahan ini, jadi untuk hari ini mereka biarkan saja seiring emosi yang tak kunjung reda.