Sabtu, 29 Oktober 2016

Surat saat Hujan di Malam Minggu

Hai,

Ini malam minggu, jika kau mau tahu. Tapi, rasanya tanpa kuberitahu kau pasti sudah tahu. Tanah di luar masih basah, sebab baru diguyur hujan sejak sore tadi. Dan, mungkin saat ini gerimis masih senantiasa menemani malam minggu, entahlah, aku juga tak tahu, karena sedari tadi aku hanya berada di dalam rumah.

Udara malam ini dingin, jika kau ingin tahu. Hujan membawakan atau mungkin meninggalkan udara dingin.

Malam ini, dia datang. Sahabatku menghampiriku di saat hujan dan dingin. Di saat aku hanya ingin menikmati malam minggu bersama novel-novel-yang tak kunjung aku selesaikan-, dia justru datang.

Dia baik-baik saja. Dia tersenyum saat aku menyapanya di depan pintu, tapi lalu hanya terdiam sejak aku menyuruhnya untuk duduk. Dan saat itulah aku tahu dia sedang tak berada dalam keadaan baik.

Sudah tiga puluh menit sejak kedatangannya dan tak ada yang terucap selain; "apa aku mengganggumu?". Hanya itu yang terucap saat ia baru datang dan setelahnya ia hanya diam. Sesekali matanya melirik handphone-nya yang ia biarkan tergeletak, sesekali ia memainkannya lalu menaruhnya kembali, dan sesekali ia memejamkan matanya.

Aku tidak tahu apa maksud kedatangannya. Sungguh. Aku tidak tahu apa yang membuatnya sampai harus mengganggu waktuku bersama novel-novelku. Bukan. Bukan aku tak suka jika ia berkunjung, tapi aku merasa ganjil karena sikapnya.

"Aku mengharapkannya. Lagi," katanya, setelah empat puluh lima menit terlewatkan bersama dingin yang semakin terasa di antara kami.

Dan, tanpa diberitahu aku sudah tahu siapa yang ia maksud... Kau. Lelaki yang ia tunggu pesannya.

Hai,
Kau, lelaki yang akhirnya tak muncul dalam hari-hari sahabatku lagi.

Sedang apakah dirimu? Adakah kau sedang bermain dengan sahabatmu? Atau, mungkin sedang bekerja? Atau, mungkin sedang menghabiskan waktu bersama perempuan lain?

Aku tak mempermasalahkan soal itu. Aku hanya mempermasalahkan perihal sahabatku. Sahabatku yang semakin menjadi tak menentu. Rasanya, aku seperti ABG labil yang saat awal menyuruhmu untuk menjauhi sahabatku, tapi, sekarang aku mempertanyakan alasanmu. Rasanya, aku seperti berniat untuk membuatmu bimbang.

Aku juga tidak tahu apa maksudku. Aku bimbang seperti apakah seharusnya kamu bersikap.

Hai, lelaki yang masih kuterka seperti apa wujudnya.

Sudahkah aku bilang kepadamu jika sahabatku tak menentu maka ia sangat menyebalkan? Ia lebih membiarkan tiba-tiba sesak menemaninya dibandingkan harus bercerita kepada sahabat-sahabatnya. Aku, misalnya. Ia sangat menyebalkan saat tak menentu karena tak membiarkan aku mengerti apa inginnya. Ia sangat menyebalkan saat tak menentu karena ia membiarkan semua asumsinya hadir di satu waktu, membuat kepalanya sakit, membuatnya ingin menangis. Tapi, ia tak jua menangis. Ia menyebalkan saat menentu karena ia menyimpannya sendiri.

Sudah kubilang beribu kali, kalian terlalu jauh, tak seharusnya mengikutsertakan hati, tapi, ia tak kuasa untuk mengendalikannya. Hati tetaplah hati. Nyaman hadir begitu saja seiring rutinnya pesan yang saling berbalas. Tak lagi soal rupa, ini hanya soal nyaman.

Kau membuatnya nyaman, jika kau mau tahu.

Lalu, lihat malam ini. Dia datang dengan wajah yang tak enak untuk dipandang. Meski, "aku tak apa, aku hanya butuh waktu," sudah terucap berulang kali, tapi, aku tahu itu tak benar. Dia, sahabatku sedang jauh dari kata baik, bukan hanya waktu yang ia perlukan melainkan kau.

Bukankah sudah kubilang jangan bermain-main dengannya? Dia bukan perempuan yang mudah berlalu saat hatinya sudah turut serta. Dia bukan perempuan yang mudah mengondisikan hatinya agar selalu baik-baik saja. Dia bukan perempuan yang menganggap ucapan manis hanya sekadar ucapan. Dia bergurau kala kau mengatakan kata-kata manis, tapi, bergurau bukan berarti tak mengikutsertakan hatinya, kan?

Anggaplah dia terlalu membawa perasaannya. Anggaplah seperti itu. Tak apa, dia memang seperti itu.

Selamat malam minggu,
Kau, lelaki yang tak aku ketahui alamatnya.

Sedang apakah dirimu saat ini? Adakah kau memikirkan sahabatku seperti dia memikirkanmu? Adakah kau menunggu pesannya seperti dia menunggu pesanmu?

Jika memang berniat menjauh, maka jangan datang lagi. Jika memang berniat tak acuh, maka tak perlu bersikap acuh. Aku tahu, sebelumnya kau pernah jua menghilang. Tapi, ternyata kau terlalu senang bercanda. Di saat sahabatku mulai terbiasa, kau hadir lagi, mengiriminya pesan lagi. Dan kini, pergi lagi. Ah, entah apa maksudmu.

Jangan datang lagi. Itu lebih baik dibandingkan kau terus datang lalu menghilang tiba-tiba.

Dan, jika kau mau tahu, ini bukan hanya perihal kehadiranmu, tapi, jua jarak kalian.

Ketika, aku, sahabatku, dan sahabatku satu lagi sedang bermain, dia menceritakanmu kepada sahabatku yang lainnya. Lalu, sahabatku yang lain itu hanya merespons ceritanya dengan; "jaraknya terlalu jauh, terlalu sulit. Jangan terus jika kau tak ingin semakin susah di kemudian harinya."

Lalu dia berkata, "atau ... lelaki itu hanya ingin berteman?"

Aku dan sahabatku yang satu lagi lantas menggeleng bersamaan, "bukan, niatnya bukan hanya untuk berteman." Itu yang terucap.

Dan dia hanya terdiam, aku meneliti raut wajahnya, dia menghembuskan napas beratnya. Terlalu berat untuknya. Lantas, biarkan aku bertanya, apa tujuanmu? Adakah kau memikirkan apa yang ia pikirkan?

Mungkin aku memang terlalu lancang untuk ikut campur saat aku tak mengenalmu, tapi, bolehkah aku menyampaikan apa yang sahabatku tak mampu sampaikan?

Sebelumnya, aku sudah beritahu bahwa sahabatku bukan orang yang mudah mengungkapkan perasaannya. Maka, biar aku yang memberitahumu.

Dia ... sahabatku telah berhasil kaubuat nyaman dengan keberadaanmu. Di saat semua sahabatnya sibuk dengan dunianya sendiri, dia merasa tak sendiri karenamu. Dia ... sahabatku menunggu pesanmu. Ah ya, kau harus tahu berapa kali dia melihat kontakmu di malam ini. Terlalu sering, hingga aku lupa berapa jumlah ia melihat kontakmu lalu mengembalikannya lagi.

Jika kau membaca ini, maka aku hanya ingin tak usah kau buat ia terbiasa, lagi. Utarakan apa maksudmu kepadanya agar dia bisa mengerti. Beritahu apakah kau jua berkirim dengan perempuan lain, agar ia tak memikirkan hal-hal yang tak jelas. Aku terlalu benci saat dia mulai berpikiran yang tak jelas, mengapa tak bisa dia cukup percaya? Dia memang terlalu rumit.

Dia hanya perempuan yang tak mudah mengondisikan hatinya agar baik-baik saja. Dia hanya perempuan yang menyimpan semuanya sendiri. Dia hanya perempuan yang membiarkan malamnya menjadi sangat menyesakkan karena hatinya yang tak menentu. Dan dia hanyalah perempuan yang selalu berkata bahwa dia baik-baik saja di hadapan semua orang.

Rasanya sudah cukup surat untukmu, sahabatku mungkin akan marah saat aku memberitahumu banyak hal tentangnya.

Terima kasih sudah membuat sahabatku tersenyum dan menghadirkan sesak di hatinya.

Terima kasih sudah pernah berbaik hati kepada sahabatku.

Aku masih berharap dapat bertemu denganmu suatu hari nanti. Aku ingin berbincang dengan lelaki—yang sahabatku bilang—menyenangkan.

Jakarta, 29 Oktober 2016.
Perempuan yang menulis surat saat malam yang dingin,

Fanny Saufina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.