Sabtu, 01 Oktober 2016

Surat Untuk Lelaki yang tak kukenal.

Hai,

Ah, rasanya canggung sekali saat aku (lagi-lagi) harus mengirim surat kepada seseorang yang bahkan tak pernah kukenal.

Sebelum kau semakin bingung dan rasa canggung semakin menyeruak, mari kita buat suasana sesantai mungkin. Sepertinya, aku harus memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Aku adalah sahabat dari perempuan yang sedang kaudekati. Kau sedang mencoba mendekatinya, 'kan?

Aku rasa ini bukan surat pertama untuk kalian-kau dan lelaki lainnya. Ini sudah surat kesekian yang tak pernah benar-benar terkirim. Ini sudah surat yang kesekian kuketik tentang perasaan sahabatku.

Andai sahabatku adalah perempuan yang lebih mudah mengungkapkan apa yang dirasanya, mungkin surat ini takkan pernah ada. Mungkin aku takkan pernah dengan lancang mengirimu-atau lelaki terdahulu-surat seperti ini.

Untukmu, lelaki yang tak kuketahui siapa namanya.

Aku tidak tahu takdir apa yang membawamu sampai bertemu dengannya. Aku tidak tahu kebetulan apa yang membawamu ke sisinya. Dan, aku tidak tahu apa tujuanmu hingga mendekatinya.

Terlepas dari itu semua, tahukah kamu bahwa perempuan yang kaudekati adalah perempuan yang rapuh? Ya, dia memang rapuh. Tapi, dia menyembunyikan itu semua.

Aku tidak tahu kenapa dia selalu ingin terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. Aku tidak tahu kenapa dia selalu menyembunyikan gelisahnya dibalik senyum dan tawanya.

Untukmu, lelaki yang mendekati sahabatku.

Adakah kau hanya berniat main-main dengan sahabatku? Jika memang seperti itu, rasanya kuharus memperingatimu. Jangan bermain dengan dia. Jangan mengajaknya bermain, karena dia bukan gadis yang bisa diajak bermain.

Seandainya dia bukan gadis yang lebih senang menyimpan semua gelisahnya sediri, mungkin aku takkan mempermasalahkannya. Sayangnya, dia adalah gadis yang tak tahu caranya berbagi cerita.

Kau, lelaki yang namanya sedang memenuhi kotak pesan sahabatku.

Tahukah kau bahwa sahabatku mulai terbiasa akan suara pesan masuk yang terdengar dari handphonenya? Tahukah kau bahwa sahabatku sudah mulai terbiasa akan nama yang akhir-akhir ini mengiriminya pesan? Tahukah kau bahwa sahabatku mulai terbiasa menunggu pesanmu? Tapi, tahukah kamu bahwa sahabatku sedang dihantui perasaan takut?

Aku tidak tahu secara pasti apa yang ia takuti, aku tidak tahu secara pasti apa yang sedang ia cemaskan. Tapi, satu waktu ia pernah bercerita bahwa ia takut semua tak nyata. Ia takut kala ia sudah menanggapi semuanya, ternyata yang ia dapat hanya ilusi.

Sebenarnya konyol, ia menakutkan apa yang belum terjadi. Ia menakutkan apa yang sebenarnya masih menjadi rahasia Tuhan. Tapi, begitulah dia, perempuan yang tak pernah kupahami hatinya.

Beberapa hari belakangan ini, aku melihat ketakutannya kembali hadir. Aku melihat dia seperti sering memikirkan sesuatu dan tak jua menceritakannya. Berulang kali hembusan napas beratnya terdengar, aku tidak tahu apa yang ia takutkan, ia pikirkan, ia bayangkan. Adakah ini tentangmu?

Kau ....

Dalam surat ini, bolehkah aku memintamu untuk menjauhi sahabatku jika kau memang tak ingin benar-benar bersamanya? Bolehkah kupinta agar kau tak membangun harapan di dalam angannya?

Tidak ada yang salah jika kau ingin menambah teman, jika kau ingin memperluas relasi. Tapi, rasanya salah saat kau terus mengirim pesan untuknya? Yang harus kau ketahui, wanita akan selalu berharap lebih untuk sesuatu yang bahkan sangat wajar untuk lelaki.

Sudah empat ratus sembilan puluh kata yang kuketik di surat ini, sudah terlalu banyak bicarakah aku untuk ukuran seseorang yang tak mengenalmu?

Aku rasa, kau tak keberatan. Maka, aku akan meneruskan ini.

Jika kamu ketahui, kamu bukan laki-laki pertama yang membuatnya terbiasa dan takut secara bersamaan. Sebelumnya, jauh sebelum kalian bertemu, sahabatku pernah kenal dengan seorang lelaki yang senantiasa mengiriminya pesan. Lelaki itu pernah menyatakan cintanya, tapi dia menarik perkataannya lagi tanpa alasan yang jelas. Aneh, bukan?

Tidak. Dia tidak sampai disitu, dia masih terus mengirimi sahabatku pesan. Perasaan takut sahabatku memang tak beralasan, tapi, aku patut untuk membenarkannya. Perlahan, dia menghilang. Bohong jika sahabatku mengatakan dirinya baik-baik saja, terbiasa akan pesan membuatnya menanti setiap menit.

Dan, seperti itukah niatmu?

Seseorang, yang sedang kukirimkan surat ini.

Tahukah kamu bahwa sahabatku sedang berada di dalam fase yang tidak baik? Di antara banyaknya orang yang ia sebut sahabat, ia sedang merasa sendiri. Dan, kau hadir. Membuatnya merasa tak sendiri, tapi, ia takut akhirnya kau pergi.

Ada hal yang sahabatku tahu tentangmu dan kamu tak memberitahunya. Aku tidak tahu apa alasannya, mungkinkah tidak terlalu penting untukmu?

Lelaki yang menyenangkan, kata sahabatku.

Adakah kau melakukan hal yang sama kepada semua perempuan? Adakah saat kau tak mengiriminya pesan maka kau sedang berkirim pesan kepada perempuan lain? Adakah kau tak benar-benar akan semua perkataanmu?

Jika semua memang seperti itu, rasanya kau memang harus menjauhi sahabatku.

Tapi, jika kau memang berniat baik kepada sahabatku, sudahkah kau memikirkan semuanya? Rasanya sudah cukup jelas apa yang seharusnya kaupikirkan sebelum melangkah semakin jauh.

Pesanku, jarak yang harus kalian tempuh untuk bertemu di satu titik akan jauh. Jadi, pikirkan lagi.

Aku rasa, sudah terlalu banyak kata yang kuketik saat ini. Maafkan, jika aku terlalu banyak menuliskan kata-kata di saat kita bahkan tak pernah bertemu.

Aku berharap suatu hari nanti bisa bertemu denganmu.

Terima kasih sudah pernah berbaik hati kepada sahabatku.

Sampai jumpa,


Jakarta, 2 Oktober 2016.
Perempuan yang hobi mengirim surat untuk seseorang yang tak ia kenal.






Fanny Saufina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.