Teruntuk kamu, seseorang yang pernah menjadi cerita.
Akhirnya, masa kalian
habis. Tak ada lagi cerita tentang kalian. Semua sudah terlewat begitu saja
seiring dengan waktu yang menenggelamkan kenangan. Aku tidak tahu apa akan ada
surat lain setelah surat ini, aku tidak tahu apa akan ada cerita lain, setelah
cerita yang telah habis ini.
Teruntuk kamu, yang
pernah menjadi sebuah cerita.
Mari saling memaafkan. Memaafkan
dia yang pergi dan memilih bersama yang lain, memaafkan kamu yang pergi tanpa
pesan, lalu kembali setelah ia baik-baik saja, dan, mari saling memaafkan
takdir yang mempertemukan kalian, takdir yang seakan sedang bermain dengan
kalian. Mari saling memaafkan, agar kalian dapat hidup bahagia meski bersama
ataupun tidak.
Teruntuk kamu, yang
pernah mengisi laman blogku.
Sudahkah aku bertanya
mengenai kabarmu? Ah, maafkan aku, aku terlalu bersemangat untuk menulis surat
ini, rasanya. Apa kabarmu? Sudahkah kamu menemukan seseorang yang bias mengertimu
layaknya sahabatku? Jika aku bisa jujur, aku menginginkan kau segera bertemu
dengan sosok baru, yang melebihi sahabatku, jika perlu.
Kamu harus tahu,
sahabatku tak berniat sekali pun untuk meninggalkanmu, tak mengacuhkanmu, atau
mempermainkanmu. Tapi, takdir nyatanya sedang bermain dengan kalian. Di suatu
masa, aku mendengar cerita cerita sahabatku tentang hati yang patah, tentang
harap yang selalu cemas, tentang kisah yang tak terlihat ujungnya, atau memang
sengaja tak dilihat oleh ia, dan tentang kamu yang ia tunggu. Ia pernah
menantimu dengan harap yang besar, jika kamu tahu.
Lalu, ketika ia membuka
mata setelah malam bersamanya, ia bertemu dengan sosok baru. Sosok yang tak
pernah terbesit akan bersama. Ketika harap hanya sekadar harap, bolehkah ia
menghadirkan harap yang baru? Dan, iya, dia menghadirkan harap itu di antara
harap tentangmu. Saat itu, tak sepenuhnya berhasil. Kamu nyatanya masih sangat
menyita pikirannya.
Teruntuk kamu,
seseorang yang tak pernah kujumpai.
Masih setiakah kamu
membaca ini? Aku rasa, kamu menjawab iya. Biar aku teruskan ceritaku, ketika
harap tak kunjung menjadi nyata, bukankah ia lebih baik memilih harapnya yang
lebih terlihat nyata? Kalian terlalu jauh untuk bersama, dan akan semakin sulit
untuk kalian jika terus bersama.
Teruntuk kamu, yang tak
pernah kujumpai.
Jika kamu bertanya
siapa yang salah, kurasa tak ada yang salah. Kalian hanya berada pada masa
untuk saling mendewasakan diri. Kamu tidak salah hanya karena kamu menghilang
lalu kembali begitu saja, dia tidak salah hanya karena dia mengizinkan hatinya
untuk yang lain, dan, takdir tidak salah hanya karena telah mempertemukan
kalian dalam satu waktu.
Mari saling melepaskan,
melepaskan kenangan yang pernah terasa indah, melepaskan harap yang tak pernah
menjadi nyata, melepaskan tawa yang sempat hadir, melepaskan segala hal tentang
kalian.
Aku harap, sekalipun
tak pernah bersama, kalian tetap menjadi seseorang yang saling mengenal. Bukankah
pendewasaan sejatinya saat kamu merelakan seseorang, atau kisah yang pernah
ada? Kamu patut bahagia, dia patut bahagia. Mari saling melepaskan, dan izinkan
ia melepaskan rasa bersalahnya yang selalu menganggap ia telah menyakitimu. Mari
saling melepaskan, mengikhlaskan, dan saling berbahagia.
Terima kasih sudah membaca surat yang tak kusebutkan kepada siapa kukirim ini, semoga kamu masih senantiasa membaca blogku, menemukan surat ini, dan mengerti maksudnya. Kuharap kau selalu bahagia.
Bersama atau tidak,
kisah itu akan menjadi indah jika kalian saling mengikhlaskan.
Jakarta, 11 Mei 2017
Sahabat seseorang yang
pernah mengharapkanmu,
Fanny Saufina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.