Minggu, 05 Februari 2017

Dua Puluh Satu.

Dua puluh satu!

Terlalu banyak hari yang telah dilalui di usia dua puluh tahun, hingga berganti menjadi dua puluh satu tahun. Siapa yang percaya, jika anak perempuan yang cengeng kini sudah beranjak dewasa? Siapa yang percaya bahwa anak yang dahulu selalu merengek ketika mainannya tak kunjung dibeli kini menjadi anak perempuan berusia dua puluh satu tahun? Hari kian berganti, waktu terus berputar, gadis kecil kini telah menjelma menjadi gadis dewasa.

Satu tahun di usia dua puluh tahun telah banyak diisi dengan hari-hari yang beraneka macam.

Untuk kali ini, aku bakal nyeritain secara ringkas apa aja yang udah aku lewati selama usia dua puluh tahun sampai hari ini.

Yang pertama, masalah kuliah. Di usia dua puluh tahun, aku melewati semester empat dan lima dengan sangat-sangat-keinginan-cepat-wisuda. Yap. Ini beneran. Di semester ini, aku sudah di tahap berpikiran "kapan wisuda?", bukan karena sudah malas untuk belajar, tapi karena lebih ke-terlalu bosan dengan kegiatan itu-itu saja. Dan, pusing dengan tugas yang kadang nggak kenal salam. Tapi, akhirnya, aku berhasil melewatinya. Di awal usia dua puluh satu tahun, aku sudah siap untuk semester enam. Dan sebentar lagi aku akan wisuda!

Selanjutnya, keluarga. Selamat ulang tahun, Nando. Kurang-kurangin nyebelinnya.
Di usia yang memasuki dua puluh satu, aku masih menjadi salah satu dari dua anak kedua orangtuaku. Tetap tinggal bersama kedua orangtuaku dan adik kembarku. Kami—aku dan adikku—masih sering meributkan sesuatu hal yang sepele. Mungkin akan tetap seperti itu sampai nanti. Nanti, suatu saat, kita pasti akan merindukan hari di mana kita bertengkar hanya karena hal sepele.

Lalu, lalu, lalu... Selanjutnya, di tahun kemarin, aku masih memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Sahabat yang selalu ada, meski tidak selalu ada. Mereka selalu ada meski tidak selalu mewujudkan hadirnya. Dan, aku selalu bersyukur karena dipertemukan dengan mereka. Apa pun alasannya, aku selalu bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka.

Di beberapa bulan kemarin, akhirnya aku tahu, tidak ada yang benar-benar dilupakan di tanggal ini. Seseorang masih mengingatnya. Dan, ketika seseorang hadir untuk menggantikan harapan yang senantiasa hadir, harapan itu kembali menjadi abu-abu.

Jangan dirusak apapun yang ada di hari ini, hanya itu yang aku harap, apa terlalu muluk?

Terima kasih karena menggantikan harapan yang ada, seharusnya aku hanya perlu melenyapkannya. Tak perlu mengizinkan kamu menggantinya.

Dua puluh satu tahun yang lalu, kami hanyalah sepasang anak kecil yang tak mengerti apa-apa, kami hanyalah sepasang anak kecil yang menangis kala lapar dan haus. Lalu, beranjak perlahan menjadi anak kecil yang mungil, yang selalu berantem merebutkan mainan, dan kini, gadis kecil dan anak laki-laki kecil itu memasuki fase umur baru. Dua puluh satu tahun.

Bukan usia yang remaja lagi, bukan usia di mana kamu hanya memikirkan kesenangan hari ini, banyak yang harus dipikirkan untuk hari ini, beberapa jam ke depan, atau hari esok. Tidak ada lagi kata nanti untuk melakukan sesuatu. Lakukan hari ini.

Terlalu banyak harapan di awal usia ini, terlalu banyak harapan yang kusimpan sebagai doa. Dan semoga apa pun yang kudoakan adalah yang terbaik untuk kita. Aku, kamu, ayah, dan ibu.

Selamat ulang tahun, Fernando.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.