Kami terduduk disebuah taman pinggir
kota. Tak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang mulai sibuk dengan
aktivitasnya sendiri, beberapa anak muda menghabiskan waktu sorenya dengan
bercengkerama dengan temannya, dan kami—aku dan lelaki yang sudah lama tak aku
temui ini, hanya terdiam. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa lembut
rambutku, menyentuh lembut wajahku dan membisikkan suara hembusannya yang halus.
Aku terdiam dalam sebuah
kenangan, kenangan saat terakhir kali kami bertemu dahulu. Membiarkan angin
menjadi temanku untuk menyaksikan betapa aku dibuatnya tak berdaya,
menangisinya secara diam-diam.
Dua tahun yang
lalu,
“Ref.”
Aku menoleh kearah sumber suara yang memanggilku
itu. Menatapnya dengan seksama dan menahan segala gejolak yang terjadi di
hatiku. Lelaki itu tersenyum kearahku seraya melangkah mendekat. Dan gejolak
hati ini semakin tak menentu. Gejolak hati ini masih sama dengan gejolak hati saat
terakhir kali kita bertemu.
“Akhirnya aku bisa menemuimu. Kemana
saja kau?” Katanya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya,
sebuah kerinduan tertangkap jelas dalam penggalan kata yang ia keluarkan. Hampir
seminggu ini, aku memang sengaja menghindarinya. Menenangkan hatiku yang
semakin hari semakin tak menentu dibuatnya.
“Maaf sudah membuatmu menunggu.” Katanya lagi,
ia lebih menghaluskan suaranya saat kami sudah berhadapan selang berapa langkah.
Ah, Tuhan. Aku tidak bisa mendengar suara
itu.
Aku tersenyum lagi, tak mengerti
harus menanggapi lelaki ini seperti apa. Konyol memang, ketika aku yang
mengajaknya untuk bertemu dan semua kata-kata yang sudah aku rangkai terhempas
begitu saja ketika ia ada dihadapanku saat ini. Refa, please. Don’t be stupid!!!
Aku mengutuk diriku sendiri.
Satu menit, dua menit, sepuluh
menit, kami masih memperhatikan matahari yang mulai menenggelamkan dirinya. Warna
jingganya membuat kami harus menyipitkan kedua mata, membuat siluet diatas
rerumputan tempat kami duduk.
“Ref.” Panggilnya lagi. “Kamu panggil aku kesini
cuma untuk diam kaya gini?” Tanyanya mulai tak nyaman dengan kebungkamanku.
Aku tak menoleh kearahnya,
menekuk kedua kakiku lalu memeluknya, mencurahkan segala kecemasan hatiku yang
semakin tak bisa aku tahan. “Kita ini apa, Do?” Suara itu tiba-tiba terdengar,
sedikit berat.
Edo menatap wajahku,
gerak-geriknya seperti mengisyaratkan kalau ia tak menyangka aku akan bertanya
seperti itu. Ia tak langsung menjawabnya, membiarkan pertanyaanku menggantung
begitu saja.
Hening, lagi-lagi kami hanya berdiam. Tak ada
jawaban untuk sebuah pertanyaanku, pertanyaan yan harus membuatku menyiapkan
nyali yang cukup untuk mendengar apapun jawabannya.
“Yang kamu mau, kita ini apa?”
Tanya tiba-tiba.
Lelaki ini menatapku. Memperhatikan
air wajahku. “Kita berteman sudah lama. Dan kenapa kau masih menanyakan kita
ini apa?”
“Teman?” Aku sedikit berteriak. “Apa kita hanya
teman dengan segala hal yang kita lakukan bersama? Apa kita teman dengan
kegiatanmu selalu mengantar-jemputku sekolah? Apa kita teman dengan kegiatan
malam dalam telepon? Bahkan tidak ada malam yang terlewatkan tanpa suaramu
ditelepon, Do”
Dia terdiam, tak memperhatikanku,
namun dari raut wajahnya ia terlihat dalam bimbang. “Lalu menurutmu kita apa?”
Aku tertawa, aneh. Suaraku sangat
terdengar aneh. “Kau benar kita hanya teman. Bukankah kau sudah memilih
perempuan lain?” kataku. “Seleramu bagus, Do. Dia wanita yang cantik.” Kataku lagi.
Edo masih tak menatapku. Tak memperhatikan
mataku yang mulai memanas, tak menyadari ada hati yang tergores, tak mengerti
tentang rasa yang tersimpan tanpa mengerti bagaimana harus memulai.
“Aku memang menyukainya.” Ucapnya pelan.
Airmataku tak tertahan lagi, pertahananku hancur
begitu saja saat sebuah suara mendarat ditelingaku. Aku merasa sebuah hantaman
keras mengenai dadaku. Tak ada yang menghalanginya. Sesak. Aku semakin memeluk
lututku, mengekspresikan kehancuran dalam hatiku. Meremasnya dengan kuat. Edo
masih saja menatap matahari yang tak mengerti sakitnya aku, tak menyadari satu
hati yang terluka, tak menyadari airmata terus mengalir karenanya, dan tak
pernah menyadari tentang aku, aku yang menganggapnya lebih sekedar teman.
Sore ini banyak waktu yang diisi dengan
kebungkaman antara aku dan Edo. Banyak detik yang berlalu tanpa sebuah kata
yang bermakna. Banyak menit yang terbuang hanya dengan sebuah kesakitanku. Dan satu
jam setengah kami berada dibawah langit yang semakin gelap, dengan perasaan
hati masing-masing yang tak terucapkan. Aku dengan kesakitanku yang tak aku
ucapkan dan Edo dengan sebuah kata yang menyakitkanku.
“Kita memang teman, Do. Hanya
teman.” Kataku, akhirnya. Waktu setengah jam ternyata masih kurang cukup untuk
menghentikan airmataku. Semuanya kembali pecah, masih ada air yang terus
menetes disetiap detik disore ini. “Sekarang kau boleh pergi. Kita memang teman”
Aku mengulang kata ‘kita memang teman’
untuk menyadarkan diriku kesekian kalinya.
Edo masih terduduk, menatapku sesaat,
memperhatikanku dengan raut wajahnya yang tak aku mengerti. Lalu segera berdiri
hendak bergegas. “Kau tak pulang?” Tanyanya. Entah kenapa, aku menjadi benci kepadanya ketika ia menaruh perhatian
kepadaku. “Biar aku antar kau.” Ucapnya dengan mudahnya.
Aku semakin menangis, tapi aku memaksakan diriku
tertawa. “Tidak perlu, Do. Kita bukannya hanya teman? Kau tak perlu
mengantar-jemputku lagi, tak perlu membuang-buang pulsamu untuk menanyakan
kegiatan malamku, tak perlu lagi kau selalu mengingatkanku untuk makan. Kita
hanya teman.” Aku tak menghiraukan raut wajahnya. Aku hanya menatap rerumputan
dibawah kakiku. Menyembunyikan airmataku yang tak berhenti, lebih tepatnya.
Edo menjongkokkan tubuhnya. Mendekat dengan
tubuhku. “Kenapa harus seperti ini? Kita bisa menjadi teman kan?”
“Karena kita memang teman. Yap. Teman.” Aku
berdiri, masih tak memperhatikan wajahnya. “Bukannya memang teman seperti ini? Ini
lah cara berteman yang sesungguhnya, dan biarkan aku yang mengajarimu cara
berteman yang sesungguhnya.” Aku melangkah bergegas meninggalkannya yang masih
terpaku disinari sinar bulan yang mulai bertugas.
******************
“Apa kabarmu?” Edo memulai.
Aku tersenyum, sedikit lebih baik dari terakhir
aku bertemu dengannya. Tak ada lagi airmata, meski hati masih sama. “Seperti
yang kau lihat.” Ucapku santai. “Kau?”
“Aku menjadi tak baik setelah
kepergianmu dua tahun yang lalu.” Edo menatapku, tatapannya sangat lembut.
Aku mengalihkan pandanganku, tak ingin semakin
membuka kisah yang sebenarnya belum aku tutup rapat-rapat. Aku hanya tersenyum,
tak ada yang bisa aku jelaskan untuk pernyataan Edo.
Edo meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Ref,
kamu mengajarkan aku tentang berteman yang sesungguhnya. Tapi, kamu sekaligus
menyadarkan aku tentang cinta yang tak pernah aku sadari. Miris memang, aku
tidak sadar akan perasaanku sendiri, dan kini aku tak ingin melepas semuanya
lagi.” ucapnya lirih, suaranya terdengar rapuh. “Aku rindu padamu, rindu akan
senyummu, rindu meneleponmu tiap malam, Ref.”
Aku terdiam. Hatiku bergetar hebat. “Aku juga
rindu padamu.” Sambutku.
Aku masih tersenyum kepadanya, menatap matanya
yang damai hingga bayang lelaki itu hadir. Lelaki yang membantuku untuk bangun
dari kesakitanku, lelaki yang rela meminjamkan jaketnya di udara yang dingin,
lelaki yang menatapku dengan segala cinta yang ia punya untukku. Sebuah cincin
menyadarkanku, bahwa aku tak lagi sama. Aku bukanlah aku yang menangis
karenanya. Aku bukanlah seorang yang masih berharap Edo kembali. Tidak, aku
yang sekarang adalah aku yang sedang berusaha menutup lembaran tentang Edo. Aku
sekarang adalah aku yang menuliskan segala cerita cinta bersama Ello,
tunanganku.
Aku menarik tanganku dari
genggamannya, tak ingin membuatnya semakin berharap.
“Kenapa, Ref?” Tanyanya kaget. “Kita mulai semua
dari awal? Semuanya masih sama bukan?”
Aku tersenyum. “Mungkin semuanya masih sama, Do,
tapi ternyata nggak. Aku bukan Refa yang masih ngarepin kamu. Aku adalah Refa
yang udah punya orang, Do.” Kataku. Air wajah Edo berubah. Ia terpaku mendengar
perkataanku. “Lihat ini. Aku punya orang, dia Ello. Lelaki yang aku kenal saat
aku terpuruk karenamu. Dan dia-lah yang membantuku untuk bangun, menyadarkan
aku bahwa ternyata ada seseorang yang benar-benar mencintai aku.” Aku menunjukkan
jari manisku yang dilingkari semua cincin putih.
“Lalu perasaan kita?” tanyanya lagi.
“Aku sedang berada di tahap belajar, belajar
mencintai Ello. Dan bertemu denganmu membuat aku sadar, aku masih belum
melupakanmu, mungkin rasa untukmu masih ada. Tapi, aku tidak ingin kehilangan
Ello. Rasa takut kehilangan Ello kini sangat besar.” Ucapku.
Edo terdiam. Mencerna setiap perkataan yang
keluar dari mulutku.
“Aku harus pergi. Ello sudah menungguku. Lain
kali akan ku kenalkan kau dengannya.” Kataku bergegas. Aku menghentikan
beberapa langkahku. “Kau akan datang ke pesta pernikahanku, kan? Bukannya teman
akan selalu menghadiri pesta temannya?” Tanyaku, menganggetkannya.
Ia tersenyum. Senyum yang sangat
ia paksakan. Hatinya hancur, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. “Pastinya.”
Katanya pelan. Suaranya terdengar berat, wajahnya terlihat rapuh.
Aku tersenyum, melambaikan tanganku, dan
melanjutkan langkahku. Dan hari ini, aku mulai siap untuk menutup lembar Edo. Aku
sudah tak mengharapkannya lagi. Aku sudah tak membutuhkannya lagi. Aku sudah
bisa tanpanya. Dan kini, aku hanya perlu Ello untuk hidupku.
Ketika
kamu memang mencintainya, kenapa harus menunggu waktu yang menyadarkan kamu
tentang rasa cinta itu? Kenapa harus kepergian yang menyadarkan kamu tentang
cinta? Jangan biarkan orang yang kamu cintai pergi, karena saat dia pergi,
mungkin saja semuanya tak lagi sama.
Kerenn kak :)
BalasHapuskapan2 bisa kali bikin posting tips tips menulisnya :)
Masih ditahap belajar sebenarnya, tapi nanti saya coba buat ya tipsnyak;-) Terimakasih ya sudah mampir di blog saya:-)
Hapusnggak beda rasanya ya sama cinta yang terlambat disampaikan :)
BalasHapusIyap kak, sama rasanya:)
Hapus