Rabu, 09 April 2014

Tak Lagi Sama.


Kami terduduk disebuah taman pinggir kota. Tak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang mulai sibuk dengan aktivitasnya sendiri, beberapa anak muda menghabiskan waktu sorenya dengan bercengkerama dengan temannya, dan kami—aku dan lelaki yang sudah lama tak aku temui ini, hanya terdiam. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa lembut rambutku, menyentuh lembut wajahku dan membisikkan suara hembusannya yang halus. 

Aku terdiam dalam sebuah kenangan, kenangan saat terakhir kali kami bertemu dahulu. Membiarkan angin menjadi temanku untuk menyaksikan betapa aku dibuatnya tak berdaya, menangisinya secara diam-diam.

                Dua tahun yang lalu,

“Ref.” 

Aku menoleh kearah sumber suara yang memanggilku itu. Menatapnya dengan seksama dan menahan segala gejolak yang terjadi di hatiku. Lelaki itu tersenyum kearahku seraya melangkah mendekat. Dan gejolak hati ini semakin tak menentu. Gejolak hati ini masih sama dengan gejolak hati saat terakhir kali kita bertemu.

“Akhirnya aku bisa menemuimu. Kemana saja kau?” Katanya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya, sebuah kerinduan tertangkap jelas dalam penggalan kata yang ia keluarkan. Hampir seminggu ini, aku memang sengaja menghindarinya. Menenangkan hatiku yang semakin hari semakin tak menentu dibuatnya.
 
“Maaf sudah membuatmu menunggu.” Katanya lagi, ia lebih menghaluskan suaranya saat kami sudah berhadapan selang berapa langkah. Ah, Tuhan. Aku tidak bisa mendengar suara itu.

Aku tersenyum lagi, tak mengerti harus menanggapi lelaki ini seperti apa. Konyol memang, ketika aku yang mengajaknya untuk bertemu dan semua kata-kata yang sudah aku rangkai terhempas begitu saja ketika ia ada dihadapanku saat ini. Refa, please. Don’t  be stupid!!! Aku mengutuk diriku sendiri.

Satu menit, dua menit, sepuluh menit, kami masih memperhatikan matahari yang mulai menenggelamkan dirinya. Warna jingganya membuat kami harus menyipitkan kedua mata, membuat siluet diatas rerumputan tempat kami duduk.

“Ref.” Panggilnya lagi. “Kamu panggil aku kesini cuma untuk diam kaya gini?” Tanyanya mulai tak nyaman dengan kebungkamanku.

Aku tak menoleh kearahnya, menekuk kedua kakiku lalu memeluknya, mencurahkan segala kecemasan hatiku yang semakin tak bisa aku tahan. “Kita ini apa, Do?” Suara itu tiba-tiba terdengar, sedikit berat.

Edo menatap wajahku, gerak-geriknya seperti mengisyaratkan kalau ia tak menyangka aku akan bertanya seperti itu. Ia tak langsung menjawabnya, membiarkan pertanyaanku menggantung begitu saja.
 
Hening, lagi-lagi kami hanya berdiam. Tak ada jawaban untuk sebuah pertanyaanku, pertanyaan yan harus membuatku menyiapkan nyali yang cukup untuk mendengar apapun jawabannya.

“Yang kamu mau, kita ini apa?” Tanya tiba-tiba.

Lelaki ini menatapku. Memperhatikan air wajahku. “Kita berteman sudah lama. Dan kenapa kau masih menanyakan kita ini apa?”

“Teman?” Aku sedikit berteriak. “Apa kita hanya teman dengan segala hal yang kita lakukan bersama? Apa kita teman dengan kegiatanmu selalu mengantar-jemputku sekolah? Apa kita teman dengan kegiatan malam dalam telepon? Bahkan tidak ada malam yang terlewatkan tanpa suaramu ditelepon, Do”

Dia terdiam, tak memperhatikanku, namun dari raut wajahnya ia terlihat dalam bimbang. “Lalu menurutmu kita apa?”

Aku tertawa, aneh. Suaraku sangat terdengar aneh. “Kau benar kita hanya teman. Bukankah kau sudah memilih perempuan lain?” kataku. “Seleramu bagus, Do. Dia wanita yang cantik.” Kataku lagi.

Edo masih tak menatapku. Tak memperhatikan mataku yang mulai memanas, tak menyadari ada hati yang tergores, tak mengerti tentang rasa yang tersimpan tanpa mengerti bagaimana harus memulai.

“Aku memang menyukainya.” Ucapnya pelan.

Airmataku tak tertahan lagi, pertahananku hancur begitu saja saat sebuah suara mendarat ditelingaku. Aku merasa sebuah hantaman keras mengenai dadaku. Tak ada yang menghalanginya. Sesak. Aku semakin memeluk lututku, mengekspresikan kehancuran dalam hatiku. Meremasnya dengan kuat. Edo masih saja menatap matahari yang tak mengerti sakitnya aku, tak menyadari satu hati yang terluka, tak menyadari airmata terus mengalir karenanya, dan tak pernah menyadari tentang aku, aku yang menganggapnya lebih sekedar teman.

Sore ini banyak waktu yang diisi dengan kebungkaman antara aku dan Edo. Banyak detik yang berlalu tanpa sebuah kata yang bermakna. Banyak menit yang terbuang hanya dengan sebuah kesakitanku. Dan satu jam setengah kami berada dibawah langit yang semakin gelap, dengan perasaan hati masing-masing yang tak terucapkan. Aku dengan kesakitanku yang tak aku ucapkan dan Edo dengan sebuah kata yang menyakitkanku.

“Kita memang teman, Do. Hanya teman.” Kataku, akhirnya. Waktu setengah jam ternyata masih kurang cukup untuk menghentikan airmataku. Semuanya kembali pecah, masih ada air yang terus menetes disetiap detik disore ini. “Sekarang kau boleh pergi. Kita memang teman” Aku mengulang kata ‘kita memang teman’ untuk menyadarkan diriku kesekian kalinya.

Edo masih terduduk, menatapku sesaat, memperhatikanku dengan raut wajahnya yang tak aku mengerti. Lalu segera berdiri hendak bergegas. “Kau tak pulang?” Tanyanya. Entah kenapa, aku menjadi benci kepadanya ketika ia menaruh perhatian kepadaku. “Biar aku antar kau.” Ucapnya dengan mudahnya.

Aku semakin menangis, tapi aku memaksakan diriku tertawa. “Tidak perlu, Do. Kita bukannya hanya teman? Kau tak perlu mengantar-jemputku lagi, tak perlu membuang-buang pulsamu untuk menanyakan kegiatan malamku, tak perlu lagi kau selalu mengingatkanku untuk makan. Kita hanya teman.” Aku tak menghiraukan raut wajahnya. Aku hanya menatap rerumputan dibawah kakiku. Menyembunyikan airmataku yang tak berhenti, lebih tepatnya.

Edo menjongkokkan tubuhnya. Mendekat dengan tubuhku. “Kenapa harus seperti ini? Kita bisa menjadi teman kan?”

“Karena kita memang teman. Yap. Teman.” Aku berdiri, masih tak memperhatikan wajahnya. “Bukannya memang teman seperti ini? Ini lah cara berteman yang sesungguhnya, dan biarkan aku yang mengajarimu cara berteman yang sesungguhnya.” Aku melangkah bergegas meninggalkannya yang masih terpaku disinari sinar bulan yang mulai bertugas.

******************

“Apa kabarmu?” Edo memulai.

Aku tersenyum, sedikit lebih baik dari terakhir aku bertemu dengannya. Tak ada lagi airmata, meski hati masih sama. “Seperti yang kau lihat.” Ucapku santai. “Kau?”

“Aku menjadi tak baik setelah kepergianmu dua tahun yang lalu.” Edo menatapku, tatapannya sangat lembut. 

Aku mengalihkan pandanganku, tak ingin semakin membuka kisah yang sebenarnya belum aku tutup rapat-rapat. Aku hanya tersenyum, tak ada yang bisa aku jelaskan untuk pernyataan Edo.

Edo meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Ref, kamu mengajarkan aku tentang berteman yang sesungguhnya. Tapi, kamu sekaligus menyadarkan aku tentang cinta yang tak pernah aku sadari. Miris memang, aku tidak sadar akan perasaanku sendiri, dan kini aku tak ingin melepas semuanya lagi.” ucapnya lirih, suaranya terdengar rapuh. “Aku rindu padamu, rindu akan senyummu, rindu meneleponmu tiap malam, Ref.”

Aku terdiam. Hatiku bergetar hebat. “Aku juga rindu padamu.” Sambutku.

Aku masih tersenyum kepadanya, menatap matanya yang damai hingga bayang lelaki itu hadir. Lelaki yang membantuku untuk bangun dari kesakitanku, lelaki yang rela meminjamkan jaketnya di udara yang dingin, lelaki yang menatapku dengan segala cinta yang ia punya untukku. Sebuah cincin menyadarkanku, bahwa aku tak lagi sama. Aku bukanlah aku yang menangis karenanya. Aku bukanlah seorang yang masih berharap Edo kembali. Tidak, aku yang sekarang adalah aku yang sedang berusaha menutup lembaran tentang Edo. Aku sekarang adalah aku yang menuliskan segala cerita cinta bersama Ello, tunanganku.

Aku menarik tanganku dari genggamannya, tak ingin membuatnya semakin berharap.

“Kenapa, Ref?” Tanyanya kaget. “Kita mulai semua dari awal? Semuanya masih sama bukan?”

Aku tersenyum. “Mungkin semuanya masih sama, Do, tapi ternyata nggak. Aku bukan Refa yang masih ngarepin kamu. Aku adalah Refa yang udah punya orang, Do.” Kataku. Air wajah Edo berubah. Ia terpaku mendengar perkataanku. “Lihat ini. Aku punya orang, dia Ello. Lelaki yang aku kenal saat aku terpuruk karenamu. Dan dia-lah yang membantuku untuk bangun, menyadarkan aku bahwa ternyata ada seseorang yang benar-benar mencintai aku.” Aku menunjukkan jari manisku yang dilingkari semua cincin putih.

“Lalu perasaan kita?” tanyanya lagi.

“Aku sedang berada di tahap belajar, belajar mencintai Ello. Dan bertemu denganmu membuat aku sadar, aku masih belum melupakanmu, mungkin rasa untukmu masih ada. Tapi, aku tidak ingin kehilangan Ello. Rasa takut kehilangan Ello kini sangat besar.” Ucapku.

Edo terdiam. Mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulutku.

“Aku harus pergi. Ello sudah menungguku. Lain kali akan ku kenalkan kau dengannya.” Kataku bergegas. Aku menghentikan beberapa langkahku. “Kau akan datang ke pesta pernikahanku, kan? Bukannya teman akan selalu menghadiri pesta temannya?” Tanyaku, menganggetkannya.

Ia tersenyum. Senyum yang sangat ia paksakan. Hatinya hancur, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. “Pastinya.” Katanya pelan. Suaranya terdengar berat, wajahnya terlihat rapuh.

Aku tersenyum, melambaikan tanganku, dan melanjutkan langkahku. Dan hari ini, aku mulai siap untuk menutup lembar Edo. Aku sudah tak mengharapkannya lagi. Aku sudah tak membutuhkannya lagi. Aku sudah bisa tanpanya. Dan kini, aku hanya perlu Ello untuk hidupku.


Ketika kamu memang mencintainya, kenapa harus menunggu waktu yang menyadarkan kamu tentang rasa cinta itu? Kenapa harus kepergian yang menyadarkan kamu tentang cinta? Jangan biarkan orang yang kamu cintai pergi, karena saat dia pergi, mungkin saja semuanya tak lagi sama.

4 komentar:

  1. Kerenn kak :)
    kapan2 bisa kali bikin posting tips tips menulisnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih ditahap belajar sebenarnya, tapi nanti saya coba buat ya tipsnyak;-) Terimakasih ya sudah mampir di blog saya:-)

      Hapus
  2. nggak beda rasanya ya sama cinta yang terlambat disampaikan :)

    BalasHapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.