“Kelompok selanjutnya
adalah Vena dengan Ikbal.” Berbagai seruan anak-anak terdengar menyambut
pernyataan Bu Sesi yang sedang sibuk membagi kelompok untuk baksos lusa. “Rendy
dan Naomi.”
Hening. Tak ada yang
bersuara untuk menyambut pernyataan Bu Sesi, hanya sebuah ekspresi kaget dan
tak percaya atas keputusan guru yang masih sibuk berdiri didepan kelas.
Berpasang-pasang mata secara bergantian menatap kearahku ataupun cowok yang
duduk dibangku belakang kelas. Masih tak ada yang protes, masih tak ada yang
ingin berucap ‘cie’. Semua masih tak percaya, dua pasang manusia yang tak
pernah akur ini akan menjadi satu kelompok dalam kegiatan baksos.
“Bu, masa iya saya sama
kutu buku kaya dia?” Akhirnya suara itu terdengar tepat beberapa detik sebelum
Bu Sesi memulai bicara lagi.
“Kenapa memangnya?
Pengetahuan dia bagus loh, Ren.” Bu Sesi membela aku.
“Bu, saya harus
sendirian juga ngga apa-apa dibandingkan harus sama dia.” Rendy masih terus
berusaha untuk mengubah keputusan Bu Sesi, meski ia tahu usahanya akan sangat
sia-sia.
Bu Sesi tersenyum, aku
masih terus memperhatikannya dengan seribu doa berharap ia akan mengubah
keputusannya itu, meski akan percuma juga, tapi setidaknya aku tidak
membuang-buang tenagaku, bahkan aku mendapat pahala karena aku berdoa terus. “Bukannya
kalian sudah lama mengenal ibu?” Ia lalu mengarahkan pandangannya ke Rendy.
Rendy hanya diam,
menggerutu saat Bu Sesi sudah mulai bicara lagi.
“Semoga lu bisa akur ya
sama dia habis dari baksos ya.” Vena mulai menyadarkanku, bahwa aku memang
ditakdirkan satu kelompok dengan Rendy.
Rendy. Cowok yang
menempati bangku paling belakang kelas. Cowok dengan berpuluh-puluh fans
perempuannya, cowok yang tidak pernah bertegur sapa denganku, cowok yang selalu
menatapku sinis, cowok yang selalu punya cara untuk menjahiliku. Aku masih
ingat ketika suatu hari keningku merah karena lemparan bola basket miliknnya.
Bukannya meminta maaf, ia dan teman-teman setianya malah menertawakanku didepan
banyak orang dan jadilah aku menjadi bahan tertawaan banyak orang.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Tolongin dong.” Teriakku
saat Rendy berlalu saja tanpa menghiraukan tugasnya.
“Bawa aja sendiri, jadi
cewek jangan lemah.” Ia berlalu begitu saja dengan teman-temannya yang tak
kalah menyebalkan.
Aku masih berusaha
mengangkat sekotak bantuan untuk penduduk di desa tempat kami mengadakan bakti
sosial dengan tenaga yang tak sebanding dengan beratnya kotak ini. Sebenarnya isi kotak ini apa sih? Kenapa
kelompokku kebagian kotak yang seberat ini?, aku menggumam kecil.
“Mau aku bantuin, Mi?”
Ia mulai berusaha mengangkat kotak yang sedari tadi aku coba angkat, tak perlu
waktu yang lama, kotak itu sudah tak menyentuh tanah.
“Eh.” Kataku. “Kamu
ngga repot emangnya?” Tanyaku basa-basi.
Ia sempat menatapku
dengan serius, “Oh iya, aku harus mengangkat box yang disana. Kamu angkat ini
sendiri ya.”
Hening. Aku mengutuk
diriku karena sudah bertanya hal yang seharusnya tak perlu aku tanyakan.
Dia tertawa, “Nggak
deng. Tugasku udah selesai kok.” Katanya lagi dengan box yang sudah ada ditangannya
lagi.
Aku tertawa menatap
Reno yang sudah meninggalkanku. Lelaki ini adalah kembaran Rendy, tapi sifat
mereka sangat berbeda jauh. Reno tak sepopuler Rendy, tak memiliki banyak fans
seperti Rendy. Tapi, menurutku, dia lebih menarik, Reno lebih baik dibandingkan
Rendy. Eits, aku bukan suka dengan
dia loh, aku hanya senang berteman dengannya.
“Ini beneran berat loh,
Mi. Kamu mau sampai kapan diam disitu aja?” Reno menatap kearahku saat aku
masih diam ditempatku.
Tiga hari sudah kami disini,
banyak hal baru yang aku dapat dari masyarakat di desa terpencil ini. Mereka
hidup dengan kesederhanaan tetapi mereka masih bisa saling berbagi kepada
tetangga yang membutuhkan. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, maka tetangga
depan, belakang, samping kanan-kirinya selalu siap membantu.
“Woi, kutu buku,
keluar.”
“Siapa sih yang
teriak-teriak kaya gitu?” Vena membuka jendela kamar, melihat seorang
cowok—yang sebenarnya sudah aku tahu—ada dibawah. “Dasar ngga tau sopan
santun.” Katanya.
Aku melangkah kearah
jendela, melihat sesosok yang sangat menyebalkan itu. “Tau sopan santun ngga
sih? Teriak-teriak kaya lagi dihutan, ini desa orang.”
“Udah deh, lu cepetan
turun. Ada tugas buat kelompok kita.” Katanya tak memperdulikan perkataanku.
Aku hanya diam memperhatikannya,
tak bergerak dan tak berkata apa-apa.
“Turun, woi.” Katanya
sedikit berteriak.
Dengan setengah hati
aku bergegas turun ke tempat Rendy berdiri. Kami berjalan berjauhan, Rendy
beberapa langkah didepanku dan aku mengikutinya tanpa tahu kemana ia akan
membawaku. Tak ada obrolan mengiringi langkah kami, Rendy sibuk dengan lagu
yang terdengar dari earphone miliknya dan aku sibuk memperhatikan sekitar.
Banyak anak kecil yang
sedang bermain dengan teman sebayanya tanpa memikirkan betapa memalaskannya
waktu sore ini, mereka tertawa dengan lepas. Saling bergantian berlari dan
menyentuh lawannya. Meski tak hidup di kota yang megah, meski mereka tak bisa
menikmati kemewahan ibu kota, tapi aku melihat satu wajah bahagia yang mereka
miliki. Wajah bahagia anak seusia mereka yang tak bisa aku lihat pada anak-anak
ibu kota.
“Nih.” Katanya
berhenti. “Lu cari belut disini, dimasukkin ke kotak ini.” Perintahnya.
“Gue doang?” Tanyaku
tak terima.
“Iyalah. Ngapain gue
ikut-ikut nyebur nyari belut.” Rendy mulai mengambil posisi duduknya dibawah
pohon yang cukup lebat. Memejamkan matanya.
Brukkkk…………..
Baru beberapa langkah
didalam lumpur, aku sudah jatuh terpeleset. Bajuku kotor, mukaku pun tak karuan
dan pandanganku menjadi buram. Aku tak bisa melihat Rendy dengan jelas. Aku tak bisa melihat benda-benda yang ada didepanku.
“Ah, Kacamataku….”
Kataku setengah berteriak.
Rendy terkaget
mendengar teriakanku. Ia menatapku cukup lama dan setelahnya hanya tertawa. “Lu
abis ngapain? Mandi lumpur?” Tanyanya.
“Kacamata gue hilang,
Ren. Bantuin cariin dong.” Kataku memelas.
“Kenapa gue harus
ngebantuin elu? Cari aja sendiri.” Rendy berdiri meninggalkanku, “Oiya,
belutnya minimal setengah kotak itu ya.” Katanya lagi.
Tiga hari disini aku
fikir sudah bisa merubah sifat Rendy yang egois, tak pernah mau melihat
sekelilingnya, tak pernah ingin membantu teman yang kesulitan, tapi ternyata
aku salah. Rendy memang sangat menyebalkan dan akan tetap seperti itu. Untuk
sebuah tugas yang sebenarnya menjadi tugasnya pun ia tak mau turun tangan,
hanya menyuruh dan selalu begitu selama tiga hari ini.
Aku melemparinya dengan
lumpur, tak peduli seberapa akan marahnya dia. Tak peduli seberapa kasar ucapan
yang akan aku terima. Aku sudah muak dengan tingkahnya yang seenaknya, aku
hanya ingin memberitahunya, kacamataku hilang karena tugas kami dan seenaknya
saja ia tak peduli.
Rendy menatapku,
tatapan geram. Wajahnya seakan tak terima, ia sudah siap menyemprotku dengan
segala caci makian, ya aku tahu Rendy. Bukannya meminta maaf, aku hanya
menatapnya dengan tatapan menantang. Meski tak sepenuhnya jelas melihat raut
wajahnya, tapi aku tahu ia sedang marah.
“Maksudnya apa sih? Lu
tau kan gue paling ngga suka kotor?” Rendy masih menatapku dengan tatapan
tajam, berjalan kearahku dengan bentakan yang cukup membuatku kaget.
“Lalu?” Tanyaku santai.
“Lu cuma kotor kaya gitu aja sewot, sedangkan gue tadi jatuh gara-gara nyari belut, kacamata gue hilang. Dan gue harus
menanggung semuanya sendiri? Ini tugas kelompok kita, Rend.” Aku memberanikan
diriku untuk menatap matanya.
“Terus dengan lu
lemparin gue lumpur kaya gini, gue bakal ngebantuin lu?” Dia tertawa. “Yang
pertama, gue ngga suka kotor. Yang kedua, masih banyak cewek yang jauh lebih
cantik yang bisa gue tolong, daripada cewek kutu buku kaya lu."
"Gue bingung, kenapa sifat lu jauh beda sama Reno? Padahal kalian kembar. Tapi, Reno bagaikan malaikat yang baik hati dan lu?" Aku tertawa.
"Reno? Oh, ya ya. Gue tahu Reno selalu nolong lu kan, tapi apa lu tau dibalik semuanya? Jangan berfikir karena Reno selalu nolongin lu, dia sebenernya care sama lu, dia sebenernya suka sama lu. Lu fikir dia lebih baik dari gue? Dia lebih picik dari gue, dia cuma manfaatin lu doang buat deket sama Vena.” Dia tertawa saat raut wajahku mulai berubah, “Lagian mana ada yang mau deket sama cewek se-enggak-asik kaya lu?” Katanya lagi.
"Gue bingung, kenapa sifat lu jauh beda sama Reno? Padahal kalian kembar. Tapi, Reno bagaikan malaikat yang baik hati dan lu?" Aku tertawa.
"Reno? Oh, ya ya. Gue tahu Reno selalu nolong lu kan, tapi apa lu tau dibalik semuanya? Jangan berfikir karena Reno selalu nolongin lu, dia sebenernya care sama lu, dia sebenernya suka sama lu. Lu fikir dia lebih baik dari gue? Dia lebih picik dari gue, dia cuma manfaatin lu doang buat deket sama Vena.” Dia tertawa saat raut wajahku mulai berubah, “Lagian mana ada yang mau deket sama cewek se-enggak-asik kaya lu?” Katanya lagi.
Satu tamparan tepat
mengenai hatiku, entah ada rasa tak terjelaskan saat Rendy dengan lancarnya
mengeluarkan setiap perkataannya. Aku tak mengerti mengapa menjadi sesakit ini
saat aku tahu mereka hanya berteman denganku untuk sebuah Vena yang lebih
cantik. Bahkan, seseorang yang selalu membantuku disetiap kesusahanku hanya
menjadikanku sebagai perantara untuk mendekati Vena. Miris, memang.
“Kenapa diam? Ngga
nyangka kan?” Rendy menatapku puas, ia terlihat sebagai pemenang untuk sebuah
permainan yang aku mulai. Dia tertawa, seperti biasanya, ia selalu menertawakan
aku yang beranggapan cukup kuat untuk melawannya, tapi nyatanya tidak.
Aku masih terpaku
ditempatku, mataku mulai memanas, tanganku mengepal keras, meluapkan segala
kemarahanku yang tak bisa aku keluarkan begitu saja. Aku masih terdiam menatap
kakiku yang kotor ketika Rendy mulai berhenti tertawa, aku tak menatapnya. Tak
ingin semakin membuat kesan bodoh untukku.
Satu menit, kami hanya
saling diam. Rendy membersihkan bajunya yang terkena lumpur dan aku masih
meresapi perkataan Rendy barusan. Dua menit, kami masih dengan kegiataan kami
yang sama. Tiga menit, Rendy mulai menjauh dariku, terduduk ditempatnya semula
dan aku mulai merasakan airmataku menetes begitu saja. Semakin aku menahan diri untuk menangis,
semakin sia-sia. Airmata ini tak bisa aku hentikan. Isakan semakin terdengar.
Rendy menatapku, tak mengerti harus bagaimana. Ini pertama kalinya ia melihatku
menangis seperti ini.
“Lu kenapa nangis?”
Tanyanya panik, ia sudah ada dihadapanku lagi, menundukkan kepalanya agar bisa
melihat wajahku.
Mata kami sempat
bertemu beberapa detik, untuk kali ini aku melihat ada kekhawatiran yang
tersirat dimatanya. Tak ada yang saling berkata, kami hanya mencoba menerka
segala pikiran kami yang datang tiba-tiba. Menebak maksud tatapan yang tak
pernah bertemu ini.
“Gue keterlaluan ya,
Mi?” Tanyanya mulai tak enak.
Hening, aku tak
menjawab pertanyaannya. Aku masih tak tahu harus berkata seperti apa. Aku
berjalan meninggalkannya begitu saja, tak ingin semakin terlihat bodoh karena
hanya bisa menangis tanpa tahu apa yang aku tangisi. Aku hanya menangis
sepanjang langkah kaki yang semakin cepat. Tak ada usaha yang dilakukan Rendy
untuk mencegahku. Dan tinggalah Rendy dengan kemenangannya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Malam ini adalah malam
terakhir kami berada di desa. Aku merapikan pakaianku yang masih berada didalam
lemari kecil kamar ini, aku sengaja merapikannya malam ini, setidaknya aku
punya alasan untuk tidak keluar kamar. Dua malam terakhir, aku hanya
menghabiskan waktuku didalam kamar, membaca sebuah buku yang tak kunjung aku
selesaikan.
Aku terduduk di depan
kaca, seorang gadis tanpa kacamata terlihat didepannya. Aku memang sengaja
membawa softlens untuk segala kemungkinan terburuk tentang kacamataku. Ya,
ternyata perkiraanku benar. Tidak terlalu buruk menggunakan softlens, tetapi
aku sangat harus berhati-hati saat menggunakannya. Aku memang takut
menggunakan softlens.
Tok…..tok…..
Ketukan pintu itu tak berhenti. Aku merapikan koperku, menaruhnya ditempat yang
praktis sehingga besok aku bisa dengan mudah membawanya. Ketukan pintu masih
terdengar, aku membuka pintu secara perlahan-lahan.
“Mi, dicariin sama
cowok tuh dibawah.” Ucap Della, teman sekelasku.
“Siapa Del?” Tanyaku.
Heran, ini adalah acara kelas, mana mungkin ada teman sekelasnya yang tak ia
kenal?
“Ya pokoknya, lu
dicariin. Oiya, katanya jangan ngeliat ke jendela. Langsung kebawah aja.”
Katanya lagi. “Yaudah ayuk, kebawah.” Ia menarikku untuk keluar dari kamarku.
“Sebentar.” Aku
mengambil handphone-ku lalu mengikuti langkahnya untuk menuruni tangga.
Dari tempatku berdiri,
aku sudah tahu siapa yang ada diujung pintu masuk asrama tempat siswi menginap.
Cowok yang beberapa hari ini aku hindari. Cowok memang tak diizinkan masuk
kedalam asrama siswi, pantas saja ia meminta tolong Della untuk memanggilku.
Cowok itu membelakangiku, menatap anak-anak yang sedang duduk melingkari api
unggun.
“Mau apa?” Tanyaku saat
aku sudah dibelakang Rendy.
Rendy sempat kaget
dengan ucapanku yang terdengar judes. Ia membalikkan tubuhnya, menatapku
persekian detik, lalu ia tersenyum. “Ng……….” Ia terlihat kikuk. “Ngga ikut api
unggun?” Tanyanya.
“Untuk apa? Gue sibuk.
Kalau cuma……”
“Bisa ikut gue sebentar
nggak?” Tanyanya memotong perkataanku yang terdengar tak menyukai kehadirannya.
“Kalau gue nanya, pasti lu ngga mau. Yaudah, anggap aja ini perintah.” Katanya
menggenggam tanganku agar mengikuti langkahnya.
Aku menahan diriku,
berdiri di tempatku tanpa reaksi sedikit pun.
“Janji deh ngga bakal
nyebelin.” Ia menunjukkan jarinya yang menujukkan tanda ‘peace’. “Kalau sehabis
ini gue masih nyebelin, lu boleh kok ngga nganggep gue sebagai teman lu.” Ia
mulai menarik tanganku lagi agar mengikuti langkahnya. Kali ini, aku
mengikutinya.
Kami berjalan menyusuri
jalan setapak yang membuat kami cukup ribet. Sedari tadi, tangan Rendy masih
terus menggenggam tanganku, tak melepasnya bahkan sedetik pun tidak. Ia selalu
menenggok kebelakang untuk memastikan aku bisa melewati jalan yang sangat licin
karena hujan tadi sore. Dan setelah bersusah payah, sampailah kami disebuah
tempat yang tak jauh dari asrama. Tempat yang bisa disebut taman karena setiap
10 langkahnya terdapat lampu taman yang mempercantik tempat ini. Tempat yang berada
di dataran lebih tinggi dibandingkan asrama kami, memang tempat yang indah.
Dari sini kami bisa merasakan sinar yang sangat dekat dari bulan, melihat
lampu-lampu yang menerangi desa seberang.
“Suka ngga, Mi?” Rendy
memulai perbincangan, masih menggenggam tanganku.
Aku mengangguk, tak
memperhatikannya. Hanya masih menatap ke depan. Aku senang melihat lampu-lampu
yang menyinari malam.
“Gue sengaja nyari
tempat seperti ini. Eh ternyata ada disini.” katanya, ada nada puas yang aku
tangkap disetiap katanya. “Ngga mau duduk?”
Aku tertawa kecil saat
menyadari kami hanya berdiri sejak sampai disini.
“Nah, kaya gitu dong,
ketawa.” Rendy menatapku, memperhatikan setiap reaksi yang ada diwajahku. “Kan
keliatan cantiknya.” Dia memalingkan wajahnya, menatap kedepan.
Dan sekarang aku yang
menatap raut wajahnya dari samping, tak mengerti maksud ucapannya tadi. Dari
samping, aku masih bisa melihat senyuman Rendy, senyum yang sebelumnya tak
pernah aku lihat. Pantas saja, banyak cewek yang menyukainya, ia terlihat menawan
dengan senyumannya itu. Setelah sekian menit, aku mulai bertanya maksudnya
mengajakku ketempat ini.
Rendy mengeluarkan
sebuah kotak persegi panjang dari sakunya. Lalu menununjukkannya kehadapanku. “Buat
lu, Mi.” katanya.
“Apa nih?” tanyaku
menaruh curiga kepadanya.
“Lu bawa tempat softlens
lu?” Ia menatapku.
Aku mengangguk.
“Lu lepas dulu
softlens lu.” Ia menaruh kotak itu kepangkuannya. Membantuku untuk membuka
tempat softlens.
“Jangan aneh-aneh deh,
Ndy. Gue ngga bisa liat apa-apa kalo ngga pake softlens.”
“Nanti gue yang bantu
ngelihat kalo lu ngga bisa ngelihat pake mata lu.” Ia tertawa. Bukan, bukan
seperti biasanya. Ia tertawa lebih halus. “Udah cepetan.”
Aku menuruti
perintahnya. Melepas satu persatu softlensku, dan jadilah aku tak bisa melihat
dengan jelas. Buram. Tempat ini tak terlihat indah seperti awal aku melihatnya.
“Sekarang apa yang bisa
lu lihat?” Rendy menatapku dengan seksama. “Gue terlihat ganteng ngga kalo
dilihat tanpa bantuan kaya gini?” Dia tertawa lagi. Malam ini, ia terlihat
sangat bersahabat. Tak ada Rendy yang selama ini aku kenal.
“Ngga lucu, Rend.”
Kataku menepuk bahunya keras. Aku benar-benar panik ketika aku sadar tempat
softlens-ku dimasukkan kedalam saku Rendy.
Rendy masih tertawa
tapi tangannya mulai mengambil kotak yang sedari tadi ia pangku, membukanya
perlahan-lahan. Lalu mengeluarkan isinya. Sebuah kacamata sederhana. Dengan
pelan-pelan Rendy memasangkannya untukku. “Jelas ngga, Mi?” tanyanya saat aku
sudah menggunakan kacamata darinya. “Itu untuk kamu.”
Aku mengangguk, “Untuk
apa?”
“Kamu butuh kacamata
kan, yaudah aku beliin kacamata untuk kamu.” katanya, kini ia tak lagi
menatapku. Memperhatikan lampu-lampu indah didepannya. “Aku lebih suka ngeliat
kamu make kacamata dibandingkan make softlens. Softlens berbahaya buat kamu yang sembrono.”
Hening. Aku tak
mengerti maksud ucapan Rendy. Kenapa Rendy mendadak menjadi sangat manis
seperti ini? Kenapa Rendy mendadak sangat peduli seperti ini? Aku masih diam,
tak menjawabnya. Tak meresponnya.
Rendy menatapku lagi,
mata kami bertemu dalam beberapa detik. Aku mengalihkan pandanganku, dadaku
bergetar hebat. Tanganku mendadak menjadi dingin. Aku menjadi tak tahu harus
seperti apa, aku tidak tahu harus melakukan apa. Rendy masih menatapku dengan
tatapannya yang damai, menggenggam tanganku yang dingin. Mengelusnya secara
lembut, lalu menggenggamnya erat. Sangat erat. Memberikan kehangatan untuk
tanganku yang dingin.
“Aku suka kamu, Mi.”
Katanya.
Aku tak menjawab.
Hatiku bergetar sangat hebat. Detak jantungku menjadi lebih cepat dibandingkan
biasanya. Aku masih membiarkan tanganku digenggamnya, aku masih menatap
rerumputan dibawah kakiku. “Aku terlalu lemah untuk dipermainkan, Rend. Aku
mohon, jangan aku.”
Rendy masih menatapku
dengan tatapannya yang semakin tak aku mengerti. Tangan kirinya menyentuh
daguku, mengarahkan kepalaku agar bertatapan dengan matanya. Gerakannya sangat
pelan. Aku seperti baru mengenal Rendy yang baru. “Lihat mata aku, Mi.” katanya
dengan tatapan yang semakin jantungku berdetak hebat.
“Aku cinta sama kamu.”
Katanya penuh kelembutan. “Lucu memang, ketika aku baru menyadari ada hati yang
tak rela saat matamu yang indah meneteskan airmata. Aku baru menyadari betapa
kacaunya aku dengan sikapmu yang menjauhiku.”
Aku masih diam, aku
menundukkan kepalaku. Aku semakin tak kuat dengan tatapannya, perkataannya, dan
suara lembut miliknya. Dan lagi-lagi, tangannya membantuku untuk mengangkat
kepalaku. Haruskah aku menatap matanya?
“Aku mohon, lihat mata
aku. Biar kamu percaya ini dari hati.” katanya, aku bisa merasakan kesungguhan
dikata-kata yang terdengar. “Aku janji, ini bukan permainan. Dan tak ada
permainan cinta setelah ini.”
Hening. Aku masih sibuk
dalam diamku.
Rendy memalingkan
wajahnya tiba-tiba, satu kekecewaan tergambar jelas dalam wajahnya. “Ah,
sudahlah. Mungkin aku memang tidak pantas untuk mendapatkanmu.” Suaranya
menjadi aneh. “Iya, seharusnya lu sadar, ndy. Sadar seberapa jahatnya lu dulu
sama dia. Dia wanita baik. Sedangkan lu? Jangan fikir, sebuah kacamata murah
bisa membuatnya lupa dengan kejahatan lu yang dulu.” Katanya lagi setengah
berteriak. Suaranya semakin aneh.
Aku menatapnya, rasa
nyaman saat dia genggam tanganku lepas begitu saja. kini kami hanya diam.
“Kamu lebih suka sama
Reno ya?” tanyanya memecahkan kebungkaman kami. “Dia emang baik, tapi ya
seperti yang aku bilang waktu itu, dia suka sama Vena. Tapi, nanti aku coba
comb…..”
“Nggak.” Sergahku
cepat. “Aku….. Aku nyaman saat kamu menjagaku seperti tadi. menggenggam
tanganku seakan kau takut kehilanganku.” Kataku akhirnya.
Rendy memperhatikan
wajahku yang menatapnya. Perlahan-lahan, ia tersenyum. Raut wajah bahagia tak
bisa ia sembunyikan. Ia mencium keningku dengan lembut lalu mendekapku hangat.
“Aku sayang sama kamu. Aku bakal jadi orang pertama yang selalu menjagamu. Aku
sayang sama kamu.” Bisiknya lembut saat aku masih tenggelam dalam dekapannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.