Selasa, 22 April 2014

Kacamata

“Kelompok selanjutnya adalah Vena dengan Ikbal.” Berbagai seruan anak-anak terdengar menyambut pernyataan Bu Sesi yang sedang sibuk membagi kelompok untuk baksos lusa. “Rendy dan Naomi.” 

Hening. Tak ada yang bersuara untuk menyambut pernyataan Bu Sesi, hanya sebuah ekspresi kaget dan tak percaya atas keputusan guru yang masih sibuk berdiri didepan kelas. Berpasang-pasang mata secara bergantian menatap kearahku ataupun cowok yang duduk dibangku belakang kelas. Masih tak ada yang protes, masih tak ada yang ingin berucap ‘cie’. Semua masih tak percaya, dua pasang manusia yang tak pernah akur ini akan menjadi satu kelompok dalam kegiatan baksos.

“Bu, masa iya saya sama kutu buku kaya dia?” Akhirnya suara itu terdengar tepat beberapa detik sebelum Bu Sesi memulai bicara lagi.

“Kenapa memangnya? Pengetahuan dia bagus loh, Ren.” Bu Sesi membela aku.

“Bu, saya harus sendirian juga ngga apa-apa dibandingkan harus sama dia.” Rendy masih terus berusaha untuk mengubah keputusan Bu Sesi, meski ia tahu usahanya akan sangat sia-sia.

Bu Sesi tersenyum, aku masih terus memperhatikannya dengan seribu doa berharap ia akan mengubah keputusannya itu, meski akan percuma juga, tapi setidaknya aku tidak membuang-buang tenagaku, bahkan aku mendapat pahala karena aku berdoa terus. “Bukannya kalian sudah lama mengenal ibu?” Ia lalu mengarahkan pandangannya ke Rendy.

Rendy hanya diam, menggerutu saat Bu Sesi sudah mulai bicara lagi.

“Semoga lu bisa akur ya sama dia habis dari baksos ya.” Vena mulai menyadarkanku, bahwa aku memang ditakdirkan satu kelompok dengan Rendy.

Rendy. Cowok yang menempati bangku paling belakang kelas. Cowok dengan berpuluh-puluh fans perempuannya, cowok yang tidak pernah bertegur sapa denganku, cowok yang selalu menatapku sinis, cowok yang selalu punya cara untuk menjahiliku. Aku masih ingat ketika suatu hari keningku merah karena lemparan bola basket miliknnya. Bukannya meminta maaf, ia dan teman-teman setianya malah menertawakanku didepan banyak orang dan jadilah aku menjadi bahan tertawaan banyak orang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Tolongin dong.” Teriakku saat Rendy berlalu saja tanpa menghiraukan tugasnya.

“Bawa aja sendiri, jadi cewek jangan lemah.” Ia berlalu begitu saja dengan teman-temannya yang tak kalah menyebalkan.

Aku masih berusaha mengangkat sekotak bantuan untuk penduduk di desa tempat kami mengadakan bakti sosial dengan tenaga yang tak sebanding dengan beratnya kotak ini. Sebenarnya isi kotak ini apa sih? Kenapa kelompokku kebagian kotak yang seberat ini?, aku menggumam kecil.

“Mau aku bantuin, Mi?” Ia mulai berusaha mengangkat kotak yang sedari tadi aku coba angkat, tak perlu waktu yang lama, kotak itu sudah tak menyentuh tanah.

“Eh.” Kataku. “Kamu ngga repot emangnya?” Tanyaku basa-basi.

Ia sempat menatapku dengan serius, “Oh iya, aku harus mengangkat box yang disana. Kamu angkat ini sendiri ya.”

Hening. Aku mengutuk diriku karena sudah bertanya hal yang seharusnya tak perlu aku tanyakan.

Dia tertawa, “Nggak deng. Tugasku udah selesai kok.” Katanya lagi dengan box yang sudah ada ditangannya lagi.

Aku tertawa menatap Reno yang sudah meninggalkanku. Lelaki ini adalah kembaran Rendy, tapi sifat mereka sangat berbeda jauh. Reno tak sepopuler Rendy, tak memiliki banyak fans seperti Rendy. Tapi, menurutku, dia lebih menarik, Reno lebih baik dibandingkan Rendy. Eits, aku bukan suka dengan dia loh, aku hanya senang berteman dengannya.

“Ini beneran berat loh, Mi. Kamu mau sampai kapan diam disitu aja?” Reno menatap kearahku saat aku masih diam ditempatku.

Tiga hari sudah kami disini, banyak hal baru yang aku dapat dari masyarakat di desa terpencil ini. Mereka hidup dengan kesederhanaan tetapi mereka masih bisa saling berbagi kepada tetangga yang membutuhkan. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, maka tetangga depan, belakang, samping kanan-kirinya selalu siap membantu.

“Woi, kutu buku, keluar.”

“Siapa sih yang teriak-teriak kaya gitu?” Vena membuka jendela kamar, melihat seorang cowok—yang sebenarnya sudah aku tahu—ada dibawah. “Dasar ngga tau sopan santun.” Katanya.

Aku melangkah kearah jendela, melihat sesosok yang sangat menyebalkan itu. “Tau sopan santun ngga sih? Teriak-teriak kaya lagi dihutan, ini desa orang.”

“Udah deh, lu cepetan turun. Ada tugas buat kelompok kita.” Katanya tak memperdulikan perkataanku.

Aku hanya diam memperhatikannya, tak bergerak dan tak berkata apa-apa.

“Turun, woi.” Katanya sedikit berteriak.

Dengan setengah hati aku bergegas turun ke tempat Rendy berdiri. Kami berjalan berjauhan, Rendy beberapa langkah didepanku dan aku mengikutinya tanpa tahu kemana ia akan membawaku. Tak ada obrolan mengiringi langkah kami, Rendy sibuk dengan lagu yang terdengar dari earphone miliknya dan aku sibuk memperhatikan sekitar.

Banyak anak kecil yang sedang bermain dengan teman sebayanya tanpa memikirkan betapa memalaskannya waktu sore ini, mereka tertawa dengan lepas. Saling bergantian berlari dan menyentuh lawannya. Meski tak hidup di kota yang megah, meski mereka tak bisa menikmati kemewahan ibu kota, tapi aku melihat satu wajah bahagia yang mereka miliki. Wajah bahagia anak seusia mereka yang tak bisa aku lihat pada anak-anak ibu kota.

“Nih.” Katanya berhenti. “Lu cari belut disini, dimasukkin ke kotak ini.” Perintahnya.

“Gue doang?” Tanyaku tak terima.

“Iyalah. Ngapain gue ikut-ikut nyebur nyari belut.” Rendy mulai mengambil posisi duduknya dibawah pohon yang cukup lebat. Memejamkan matanya.

Brukkkk…………..             

Baru beberapa langkah didalam lumpur, aku sudah jatuh terpeleset. Bajuku kotor, mukaku pun tak karuan dan pandanganku menjadi buram. Aku tak bisa melihat Rendy dengan jelas. Aku tak bisa melihat benda-benda yang ada didepanku.

“Ah, Kacamataku….” Kataku setengah berteriak.

Rendy terkaget mendengar teriakanku. Ia menatapku cukup lama dan setelahnya hanya tertawa. “Lu abis ngapain? Mandi lumpur?” Tanyanya.

“Kacamata gue hilang, Ren. Bantuin cariin dong.” Kataku memelas.

“Kenapa gue harus ngebantuin elu? Cari aja sendiri.” Rendy berdiri meninggalkanku, “Oiya, belutnya minimal setengah kotak itu ya.” Katanya lagi.

Tiga hari disini aku fikir sudah bisa merubah sifat Rendy yang egois, tak pernah mau melihat sekelilingnya, tak pernah ingin membantu teman yang kesulitan, tapi ternyata aku salah. Rendy memang sangat menyebalkan dan akan tetap seperti itu. Untuk sebuah tugas yang sebenarnya menjadi tugasnya pun ia tak mau turun tangan, hanya menyuruh dan selalu begitu selama tiga hari ini.

Aku melemparinya dengan lumpur, tak peduli seberapa akan marahnya dia. Tak peduli seberapa kasar ucapan yang akan aku terima. Aku sudah muak dengan tingkahnya yang seenaknya, aku hanya ingin memberitahunya, kacamataku hilang karena tugas kami dan seenaknya saja ia tak peduli.

Rendy menatapku, tatapan geram. Wajahnya seakan tak terima, ia sudah siap menyemprotku dengan segala caci makian, ya aku tahu Rendy. Bukannya meminta maaf, aku hanya menatapnya dengan tatapan menantang. Meski tak sepenuhnya jelas melihat raut wajahnya, tapi aku tahu ia sedang marah.

“Maksudnya apa sih? Lu tau kan gue paling ngga suka kotor?” Rendy masih menatapku dengan tatapan tajam, berjalan kearahku dengan bentakan yang cukup membuatku kaget.

“Lalu?” Tanyaku santai. “Lu cuma kotor kaya gitu aja sewot, sedangkan gue tadi jatuh gara-gara nyari belut, kacamata gue hilang. Dan gue harus menanggung semuanya sendiri? Ini tugas kelompok kita, Rend.” Aku memberanikan diriku untuk menatap matanya.

“Terus dengan lu lemparin gue lumpur kaya gini, gue bakal ngebantuin lu?” Dia tertawa. “Yang pertama, gue ngga suka kotor. Yang kedua, masih banyak cewek yang jauh lebih cantik yang bisa gue tolong, daripada cewek kutu buku kaya lu."

"Gue bingung, kenapa sifat lu jauh beda sama Reno? Padahal kalian kembar. Tapi, Reno bagaikan malaikat yang baik hati dan lu?" Aku tertawa.

"Reno? Oh, ya ya. Gue tahu Reno selalu nolong lu kan, tapi apa lu tau dibalik semuanya? Jangan berfikir karena Reno selalu nolongin lu, dia sebenernya care sama lu, dia sebenernya suka sama lu. Lu fikir dia lebih baik dari gue? Dia lebih picik dari gue, dia cuma manfaatin lu doang buat deket sama Vena.” Dia tertawa saat raut wajahku mulai berubah, “Lagian mana ada yang mau deket sama cewek se-enggak-asik kaya lu?” Katanya lagi.

Satu tamparan tepat mengenai hatiku, entah ada rasa tak terjelaskan saat Rendy dengan lancarnya mengeluarkan setiap perkataannya. Aku tak mengerti mengapa menjadi sesakit ini saat aku tahu mereka hanya berteman denganku untuk sebuah Vena yang lebih cantik. Bahkan, seseorang yang selalu membantuku disetiap kesusahanku hanya menjadikanku sebagai perantara untuk mendekati Vena. Miris, memang.

“Kenapa diam? Ngga nyangka kan?” Rendy menatapku puas, ia terlihat sebagai pemenang untuk sebuah permainan yang aku mulai. Dia tertawa, seperti biasanya, ia selalu menertawakan aku yang beranggapan cukup kuat untuk melawannya, tapi nyatanya tidak.

Aku masih terpaku ditempatku, mataku mulai memanas, tanganku mengepal keras, meluapkan segala kemarahanku yang tak bisa aku keluarkan begitu saja. Aku masih terdiam menatap kakiku yang kotor ketika Rendy mulai berhenti tertawa, aku tak menatapnya. Tak ingin semakin membuat kesan bodoh untukku.

Satu menit, kami hanya saling diam. Rendy membersihkan bajunya yang terkena lumpur dan aku masih meresapi perkataan Rendy barusan. Dua menit, kami masih dengan kegiataan kami yang sama. Tiga menit, Rendy mulai menjauh dariku, terduduk ditempatnya semula dan aku mulai merasakan airmataku menetes begitu saja. Semakin aku menahan diri untuk menangis, semakin sia-sia. Airmata ini tak bisa aku hentikan. Isakan semakin terdengar. Rendy menatapku, tak mengerti harus bagaimana. Ini pertama kalinya ia melihatku menangis seperti ini.

“Lu kenapa nangis?” Tanyanya panik, ia sudah ada dihadapanku lagi, menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajahku.

Mata kami sempat bertemu beberapa detik, untuk kali ini aku melihat ada kekhawatiran yang tersirat dimatanya. Tak ada yang saling berkata, kami hanya mencoba menerka segala pikiran kami yang datang tiba-tiba. Menebak maksud tatapan yang tak pernah bertemu ini.

“Gue keterlaluan ya, Mi?” Tanyanya mulai tak enak.

Hening, aku tak menjawab pertanyaannya. Aku masih tak tahu harus berkata seperti apa. Aku berjalan meninggalkannya begitu saja, tak ingin semakin terlihat bodoh karena hanya bisa menangis tanpa tahu apa yang aku tangisi. Aku hanya menangis sepanjang langkah kaki yang semakin cepat. Tak ada usaha yang dilakukan Rendy untuk mencegahku. Dan tinggalah Rendy dengan kemenangannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Malam ini adalah malam terakhir kami berada di desa. Aku merapikan pakaianku yang masih berada didalam lemari kecil kamar ini, aku sengaja merapikannya malam ini, setidaknya aku punya alasan untuk tidak keluar kamar. Dua malam terakhir, aku hanya menghabiskan waktuku didalam kamar, membaca sebuah buku yang tak kunjung aku selesaikan.

Aku terduduk di depan kaca, seorang gadis tanpa kacamata terlihat didepannya. Aku memang sengaja membawa softlens untuk segala kemungkinan terburuk tentang kacamataku. Ya, ternyata perkiraanku benar. Tidak terlalu buruk menggunakan softlens, tetapi aku sangat harus berhati-hati saat menggunakannya. Aku memang takut menggunakan softlens.

Tok…..tok….. Ketukan pintu itu tak berhenti. Aku merapikan koperku, menaruhnya ditempat yang praktis sehingga besok aku bisa dengan mudah membawanya. Ketukan pintu masih terdengar, aku membuka pintu secara perlahan-lahan.

“Mi, dicariin sama cowok tuh dibawah.” Ucap Della, teman sekelasku.

“Siapa Del?” Tanyaku. Heran, ini adalah acara kelas, mana mungkin ada teman sekelasnya yang tak ia kenal?

“Ya pokoknya, lu dicariin. Oiya, katanya jangan ngeliat ke jendela. Langsung kebawah aja.” Katanya lagi. “Yaudah ayuk, kebawah.” Ia menarikku untuk keluar dari kamarku.

“Sebentar.” Aku mengambil handphone-ku lalu mengikuti langkahnya untuk menuruni tangga.

Dari tempatku berdiri, aku sudah tahu siapa yang ada diujung pintu masuk asrama tempat siswi menginap. Cowok yang beberapa hari ini aku hindari. Cowok memang tak diizinkan masuk kedalam asrama siswi, pantas saja ia meminta tolong Della untuk memanggilku. Cowok itu membelakangiku, menatap anak-anak yang sedang duduk melingkari api unggun.

“Mau apa?” Tanyaku saat aku sudah dibelakang Rendy.

Rendy sempat kaget dengan ucapanku yang terdengar judes. Ia membalikkan tubuhnya, menatapku persekian detik, lalu ia tersenyum. “Ng……….” Ia terlihat kikuk. “Ngga ikut api unggun?” Tanyanya.

“Untuk apa? Gue sibuk. Kalau cuma……”

“Bisa ikut gue sebentar nggak?” Tanyanya memotong perkataanku yang terdengar tak menyukai kehadirannya. “Kalau gue nanya, pasti lu ngga mau. Yaudah, anggap aja ini perintah.” Katanya menggenggam tanganku agar mengikuti langkahnya.

Aku menahan diriku, berdiri di tempatku tanpa reaksi sedikit pun.

“Janji deh ngga bakal nyebelin.” Ia menunjukkan jarinya yang menujukkan tanda ‘peace’. “Kalau sehabis ini gue masih nyebelin, lu boleh kok ngga nganggep gue sebagai teman lu.” Ia mulai menarik tanganku lagi agar mengikuti langkahnya. Kali ini, aku mengikutinya.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang membuat kami cukup ribet. Sedari tadi, tangan Rendy masih terus menggenggam tanganku, tak melepasnya bahkan sedetik pun tidak. Ia selalu menenggok kebelakang untuk memastikan aku bisa melewati jalan yang sangat licin karena hujan tadi sore. Dan setelah bersusah payah, sampailah kami disebuah tempat yang tak jauh dari asrama. Tempat yang bisa disebut taman karena setiap 10 langkahnya terdapat lampu taman yang mempercantik tempat ini. Tempat yang berada di dataran lebih tinggi dibandingkan asrama kami, memang tempat yang indah. Dari sini kami bisa merasakan sinar yang sangat dekat dari bulan, melihat lampu-lampu yang menerangi desa seberang.

“Suka ngga, Mi?” Rendy memulai perbincangan, masih menggenggam tanganku.

Aku mengangguk, tak memperhatikannya. Hanya masih menatap ke depan. Aku senang melihat lampu-lampu yang menyinari malam.

“Gue sengaja nyari tempat seperti ini. Eh ternyata ada disini.” katanya, ada nada puas yang aku tangkap disetiap katanya. “Ngga mau duduk?”

Aku tertawa kecil saat menyadari kami hanya berdiri sejak sampai disini.

“Nah, kaya gitu dong, ketawa.” Rendy menatapku, memperhatikan setiap reaksi yang ada diwajahku. “Kan keliatan cantiknya.” Dia memalingkan wajahnya, menatap kedepan.

Dan sekarang aku yang menatap raut wajahnya dari samping, tak mengerti maksud ucapannya tadi. Dari samping, aku masih bisa melihat senyuman Rendy, senyum yang sebelumnya tak pernah aku lihat. Pantas saja, banyak cewek yang menyukainya, ia terlihat menawan dengan senyumannya itu. Setelah sekian menit, aku mulai bertanya maksudnya mengajakku ketempat ini.

Rendy mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang dari sakunya. Lalu menununjukkannya kehadapanku. “Buat lu, Mi.” katanya.

“Apa nih?” tanyaku menaruh curiga kepadanya.

“Lu bawa tempat softlens lu?” Ia menatapku.

Aku mengangguk.

“Lu lepas dulu softlens lu.” Ia menaruh kotak itu kepangkuannya. Membantuku untuk membuka tempat softlens.

“Jangan aneh-aneh deh, Ndy. Gue ngga bisa liat apa-apa kalo ngga pake softlens.”

“Nanti gue yang bantu ngelihat kalo lu ngga bisa ngelihat pake mata lu.” Ia tertawa. Bukan, bukan seperti biasanya. Ia tertawa lebih halus. “Udah cepetan.”

Aku menuruti perintahnya. Melepas satu persatu softlensku, dan jadilah aku tak bisa melihat dengan jelas. Buram. Tempat ini tak terlihat indah seperti awal aku melihatnya.

“Sekarang apa yang bisa lu lihat?” Rendy menatapku dengan seksama. “Gue terlihat ganteng ngga kalo dilihat tanpa bantuan kaya gini?” Dia tertawa lagi. Malam ini, ia terlihat sangat bersahabat. Tak ada Rendy yang selama ini aku kenal.

“Ngga lucu, Rend.” Kataku menepuk bahunya keras. Aku benar-benar panik ketika aku sadar tempat softlens-ku dimasukkan kedalam saku Rendy.

Rendy masih tertawa tapi tangannya mulai mengambil kotak yang sedari tadi ia pangku, membukanya perlahan-lahan. Lalu mengeluarkan isinya. Sebuah kacamata sederhana. Dengan pelan-pelan Rendy memasangkannya untukku. “Jelas ngga, Mi?” tanyanya saat aku sudah menggunakan kacamata darinya. “Itu untuk kamu.”

Aku mengangguk, “Untuk apa?”

“Kamu butuh kacamata kan, yaudah aku beliin kacamata untuk kamu.” katanya, kini ia tak lagi menatapku. Memperhatikan lampu-lampu indah didepannya. “Aku lebih suka ngeliat kamu make kacamata dibandingkan make softlens. Softlens berbahaya buat kamu yang sembrono.”

Hening. Aku tak mengerti maksud ucapan Rendy. Kenapa Rendy mendadak menjadi sangat manis seperti ini? Kenapa Rendy mendadak sangat peduli seperti ini? Aku masih diam, tak menjawabnya. Tak meresponnya.

Rendy menatapku lagi, mata kami bertemu dalam beberapa detik. Aku mengalihkan pandanganku, dadaku bergetar hebat. Tanganku mendadak menjadi dingin. Aku menjadi tak tahu harus seperti apa, aku tidak tahu harus melakukan apa. Rendy masih menatapku dengan tatapannya yang damai, menggenggam tanganku yang dingin. Mengelusnya secara lembut, lalu menggenggamnya erat. Sangat erat. Memberikan kehangatan untuk tanganku yang dingin.

“Aku suka kamu, Mi.” Katanya.

Aku tak menjawab. Hatiku bergetar sangat hebat. Detak jantungku menjadi lebih cepat dibandingkan biasanya. Aku masih membiarkan tanganku digenggamnya, aku masih menatap rerumputan dibawah kakiku. “Aku terlalu lemah untuk dipermainkan, Rend. Aku mohon, jangan aku.”

Rendy masih menatapku dengan tatapannya yang semakin tak aku mengerti. Tangan kirinya menyentuh daguku, mengarahkan kepalaku agar bertatapan dengan matanya. Gerakannya sangat pelan. Aku seperti baru mengenal Rendy yang baru. “Lihat mata aku, Mi.” katanya dengan tatapan yang semakin jantungku berdetak hebat.

“Aku cinta sama kamu.” Katanya penuh kelembutan. “Lucu memang, ketika aku baru menyadari ada hati yang tak rela saat matamu yang indah meneteskan airmata. Aku baru menyadari betapa kacaunya aku dengan sikapmu yang menjauhiku.”

Aku masih diam, aku menundukkan kepalaku. Aku semakin tak kuat dengan tatapannya, perkataannya, dan suara lembut miliknya. Dan lagi-lagi, tangannya membantuku untuk mengangkat kepalaku. Haruskah aku menatap matanya?

“Aku mohon, lihat mata aku. Biar kamu percaya ini dari hati.” katanya, aku bisa merasakan kesungguhan dikata-kata yang terdengar. “Aku janji, ini bukan permainan. Dan tak ada permainan cinta setelah ini.”

Hening. Aku masih sibuk dalam diamku.

Rendy memalingkan wajahnya tiba-tiba, satu kekecewaan tergambar jelas dalam wajahnya. “Ah, sudahlah. Mungkin aku memang tidak pantas untuk mendapatkanmu.” Suaranya menjadi aneh. “Iya, seharusnya lu sadar, ndy. Sadar seberapa jahatnya lu dulu sama dia. Dia wanita baik. Sedangkan lu? Jangan fikir, sebuah kacamata murah bisa membuatnya lupa dengan kejahatan lu yang dulu.” Katanya lagi setengah berteriak. Suaranya semakin aneh.

Aku menatapnya, rasa nyaman saat dia genggam tanganku lepas begitu saja. kini kami hanya diam.

“Kamu lebih suka sama Reno ya?” tanyanya memecahkan kebungkaman kami. “Dia emang baik, tapi ya seperti yang aku bilang waktu itu, dia suka sama Vena. Tapi, nanti aku coba comb…..”

“Nggak.” Sergahku cepat. “Aku….. Aku nyaman saat kamu menjagaku seperti tadi. menggenggam tanganku seakan kau takut kehilanganku.” Kataku akhirnya.

Rendy memperhatikan wajahku yang menatapnya. Perlahan-lahan, ia tersenyum. Raut wajah bahagia tak bisa ia sembunyikan. Ia mencium keningku dengan lembut lalu mendekapku hangat. “Aku sayang sama kamu. Aku bakal jadi orang pertama yang selalu menjagamu. Aku sayang sama kamu.” Bisiknya lembut saat aku masih tenggelam dalam dekapannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.