Minggu, 29 Oktober 2017

Terima Kasih, Atas Luka Sahabatku

Aku tahu sejak ia datang, ia tak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Sahabatku, bukanlah orang yang dengan mudah mengatakan segala kesakitannya untuk semua orang, ia memang hanya membagi kepada yang ia rasa pantas untuk ia bagi, pun, tak secara langsung, ia masih akan menunggu hingga ia rasa sudah saatnya ia bagi. Ia terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Resahnya, sedihnya, inginnya.
 
Ini tentang sahabatku—lagi.

Ia datang, tak bicara apa pun, hanya menatap kosong depannya, lalu air matanya menetes. Ia terlalu lemah. “Gue salah apa, Fan?”. Hanya itu yang ia ucapkan sejak ia datang, berulang kali seperti ia berusaha untuk menutupi kesedihannya, berulang kali namun tetap gagal. Aku tahu sesuatu terjadi, tapi aku tak ingin jauh menerka. Ia terisak pelan, lalu menenangkan dirinya sendiri, tersenyum entah untuk apa, tapi rasanya hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.

Senin, 04 September 2017

Dia Rindu Dirimu.


Dia rindu. Percakapan kalian di masa yang telah lalu. Rajukanmu, yang bahkan menurutnya terkadang menyebalkan bisa menjadi sangat merindukan seperti ini. Canda kalian. Cerita kalian, atau ceritamu, karena ia jarang bercerita. Dan, semua yang akhirnya telah menjadi kenangan.


Ini surat pertamaku untukmu. Tak usah terlalu bingung, aku sahabat kekasihmu, gadis yang saat ini sedang terdiam di depanku. Bahkan, sejak satu jam setelah ia datang, ia tak kunjung mengucapkan alasannya ingin bertemu denganku secara tiba-tiba. Ia datang sendiri, secara tiba-tiba.


Akhirnya, ia mengatakan bahwa ia sangat merindukanmu. Terlalu aneh memang, karena menurut ceritanya, kalian baru saja bertemu, tetapi bukan memang seperti itu cinta?

Kamis, 11 Mei 2017

Teruntuk kamu, yang tak kusebutkan.


Teruntuk kamu, seseorang yang pernah menjadi cerita.
 
Akhirnya, masa kalian habis. Tak ada lagi cerita tentang kalian. Semua sudah terlewat begitu saja seiring dengan waktu yang menenggelamkan kenangan. Aku tidak tahu apa akan ada surat lain setelah surat ini, aku tidak tahu apa akan ada cerita lain, setelah cerita yang telah habis ini.

Teruntuk kamu, yang pernah menjadi sebuah cerita.

Mari saling memaafkan. Memaafkan dia yang pergi dan memilih bersama yang lain, memaafkan kamu yang pergi tanpa pesan, lalu kembali setelah ia baik-baik saja, dan, mari saling memaafkan takdir yang mempertemukan kalian, takdir yang seakan sedang bermain dengan kalian. Mari saling memaafkan, agar kalian dapat hidup bahagia meski bersama ataupun tidak. 

Minggu, 05 Februari 2017

Dua Puluh Satu.

Dua puluh satu!

Terlalu banyak hari yang telah dilalui di usia dua puluh tahun, hingga berganti menjadi dua puluh satu tahun. Siapa yang percaya, jika anak perempuan yang cengeng kini sudah beranjak dewasa? Siapa yang percaya bahwa anak yang dahulu selalu merengek ketika mainannya tak kunjung dibeli kini menjadi anak perempuan berusia dua puluh satu tahun? Hari kian berganti, waktu terus berputar, gadis kecil kini telah menjelma menjadi gadis dewasa.

Satu tahun di usia dua puluh tahun telah banyak diisi dengan hari-hari yang beraneka macam.

Untuk kali ini, aku bakal nyeritain secara ringkas apa aja yang udah aku lewati selama usia dua puluh tahun sampai hari ini.

Yang pertama, masalah kuliah. Di usia dua puluh tahun, aku melewati semester empat dan lima dengan sangat-sangat-keinginan-cepat-wisuda. Yap. Ini beneran. Di semester ini, aku sudah di tahap berpikiran "kapan wisuda?", bukan karena sudah malas untuk belajar, tapi karena lebih ke-terlalu bosan dengan kegiatan itu-itu saja. Dan, pusing dengan tugas yang kadang nggak kenal salam. Tapi, akhirnya, aku berhasil melewatinya. Di awal usia dua puluh satu tahun, aku sudah siap untuk semester enam. Dan sebentar lagi aku akan wisuda!

Selanjutnya, keluarga. Selamat ulang tahun, Nando. Kurang-kurangin nyebelinnya.
Di usia yang memasuki dua puluh satu, aku masih menjadi salah satu dari dua anak kedua orangtuaku. Tetap tinggal bersama kedua orangtuaku dan adik kembarku. Kami—aku dan adikku—masih sering meributkan sesuatu hal yang sepele. Mungkin akan tetap seperti itu sampai nanti. Nanti, suatu saat, kita pasti akan merindukan hari di mana kita bertengkar hanya karena hal sepele.

Lalu, lalu, lalu... Selanjutnya, di tahun kemarin, aku masih memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Sahabat yang selalu ada, meski tidak selalu ada. Mereka selalu ada meski tidak selalu mewujudkan hadirnya. Dan, aku selalu bersyukur karena dipertemukan dengan mereka. Apa pun alasannya, aku selalu bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka.

Di beberapa bulan kemarin, akhirnya aku tahu, tidak ada yang benar-benar dilupakan di tanggal ini. Seseorang masih mengingatnya. Dan, ketika seseorang hadir untuk menggantikan harapan yang senantiasa hadir, harapan itu kembali menjadi abu-abu.

Jangan dirusak apapun yang ada di hari ini, hanya itu yang aku harap, apa terlalu muluk?

Terima kasih karena menggantikan harapan yang ada, seharusnya aku hanya perlu melenyapkannya. Tak perlu mengizinkan kamu menggantinya.

Dua puluh satu tahun yang lalu, kami hanyalah sepasang anak kecil yang tak mengerti apa-apa, kami hanyalah sepasang anak kecil yang menangis kala lapar dan haus. Lalu, beranjak perlahan menjadi anak kecil yang mungil, yang selalu berantem merebutkan mainan, dan kini, gadis kecil dan anak laki-laki kecil itu memasuki fase umur baru. Dua puluh satu tahun.

Bukan usia yang remaja lagi, bukan usia di mana kamu hanya memikirkan kesenangan hari ini, banyak yang harus dipikirkan untuk hari ini, beberapa jam ke depan, atau hari esok. Tidak ada lagi kata nanti untuk melakukan sesuatu. Lakukan hari ini.

Terlalu banyak harapan di awal usia ini, terlalu banyak harapan yang kusimpan sebagai doa. Dan semoga apa pun yang kudoakan adalah yang terbaik untuk kita. Aku, kamu, ayah, dan ibu.

Selamat ulang tahun, Fernando.

Sabtu, 28 Januari 2017

Surat Kesekian Kali.

Sebelumnya aku mengira bahwa takkan ada lagi surat untukmu. Tapi, ternyata aku salah. Ini untukmu, surat ketiga yang kutulis dan tak tersampaikan. Ini untukmu, setelah cukup lama aku tak mengirimimu surat.

Hai, kamu.

Rasanya tak sopan ketika aku tak menyapamu.

Apa kabarmu? Harimu indah? Ah, aku harap begitu. Kabarku baik-baik saja, jika kamu mau tau. Kabar sahabatku ... Ah, aku tak berani memastikan.

Jika kamu menghitung hari yang terus berganti. Ini sudah lama. Sangat lama sejak terakhir kali aku mengirimi surat. Dan, selama itulah aku berpikir kalian baik-baik saja.

Tapi, ternyata aku salah.

Sahabatku datang kemarin, aku lupa kapan tepatnya, tapi yang aku ingat dia hanya bertanya, "Jika aku dekat dengan orang lain, salahkah aku? Akan sakitkah dia?"

Aku tidak menjawab, hanya ingin bertanya, kenapa ia terlalu memikirkan dirimu? Kenapa ia terlalu memikirkan apa yang akan kaurasakan saat tahu dia sedang bersama orang lain?

Sahabatku datang berkunjung, bukan untuk menceritakanmu lagi. Tapi, hanya untuk melepas rindu denganku dan teman-temanku. Lalu, dengan jahilnya, kami bertanya tentang hubungan kalian. Dia tak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya.

Kamu pergi. Lagi. Itu yang akhirnya aku tahu dari dia, saat kami sedang berdua. Entah karena alasan apa kali ini. Kamu menghilang, lalu benar-benar hilang.

"Di saat ada beberapa yang menemani, kenapa aku masih mengharapkannya?"

Aku tak sempat menjawab karena kedua temanku sudah kembali dari kegiatannya memesan makanan. Kami tak melanjutkan percakapan tentangmu, tak ada raut bimbang di wajahnya, tapi aku tak jua melihat raut senang di wajahnya. Sepertinya, ia sedang menyesuaikan diri.

Lalu, apa kabarmu di sana?

Jika kau ingin tahu, sahabatku merindukan beberapa hal yang menyangkutmu. Adakah kau juga merindukannya?

Aku sudah tidak tahu ingin menuliskan apa, jadi kurasa, sudah cukup surat untukmu.

Semoga kaubahagia dengan hidupmu dan sahabatku juga bahagia dengan hidupnya. Sesederhana itu sebenarnya. Dan, jika kalian memang tak akan pernah lebih dari sekadar teman. Setidaknya jangan kurang dari sekadar teman. Cukup menjadi teman.

Dan semoga kita juga bisa menjadi teman.


Jakarta, 28 Januari 2017



(Calon) temanmu,


Fanny Saufina.


Senin, 23 Januari 2017

Aku harus apa...

Aku harus apa....
Saat aku selalu menantimu
Namun,
Kau tak jua hadir

Aku harus apa....
Saat aku mulai tak mengindahkanmu
Namun,
Nyatanya aku masih mengharapkanmu

Aku harus apa....
Saat aku menyakinkan hati untuk tak bertahan
Nyatanya,
Aku tak jua melangkah pergi

Aku harus apa....
Saat aku meyakinkan hati untuk melupakanmu
Namun nyatanya,
Aku masih mengharapkanmu

Aku harus apa....
Bahkan saat kamu tak mengindahkanku
Aku justru semakin menantimu
Mengharapkanmu berada di sampingku.

Aku harus apa....
Ketika kamu tetap menyita sebagian pikiranku
Ketika aku masih menginginkanmu
Namun, aku berusaha untuk menampiknya

Aku harus apa....
Ketika aku memang jatuh hati
Dan, semakin jatuh hati
Padamu.

Jakarta, Januari 2017.

Fanny Saufina


Minggu, 22 Januari 2017

Asing.

Di bawah langit yang menjingga,
Aku menantimu
Dalam putaran detik yang tak berhenti
Aku menantimu

Kamu harus tahu
Berhenti tidak semudah memulai
Kamu harus tahu
Bimbang tak semenyenangkan yang kaukira

Angin yang berhembus
Seakan menyadarkanku dinginnya dirimu
Sunyinya malam
Menyadarkanku bahwa kita telah berbeda

Kamu harus tahu
Tentang hati yang merindu
Kamu harus tahu
Tentang hati yang bimbang

Kita pernah berjalan tanpa kenal lelah
Lalu, inikah waktu di mana kita mulai lelah?
Bukan kita, bukan aku, hanya kamu
Kamu akhirnya lelah

Aku harusnya sadar
Saat hati mulai bermain
Aku harusnya sadar
Saat aku tersenyum lebih banyak

Dan aku harusnya sadar
Bahwa semua telah berbeda.

Di hari itu,
Semua telah berubah
Seakan aku memang hobi untuk tersenyum
Seakan aku hanya cukup jika kau tetap di sisi.

Dan hari ini,
Semua semakin berubah
Berjalan mengikuti arah yang tak kumengerti
Dan akhirnya semua terasa asing

Kau,
Aku,
Kita,
Kembali menjadi asing.


Jakarta, Januari 2017

Fanny Saufina