Minggu, 10 Juni 2018

Parak



Penyesalan yang tak kunjung hilang ialah saat aku tak menerima telepon dari seseorang. Penyesalan yang tak kunjung hilang adalah saat aku selalu meninggikan egoisku di atas rasa cinta yang sebenarnya tak pernah hilang sedetikpun. Penyesalan yang tak pernah terlupakan adalah saat dengan bangganya aku tak memedulikannya, tak mengacuhkannya, tak menganggap usahanya sebagai suatu hal yang perlu aku tanggapi.

Empat tahun berlalu. Namun, semuanya masih tetap sama. Aku masih menangis kala malam aku mulai membaca pesan-pesannya, aku masih merindukan tawa yang selalu berusaha menghiburku, dan aku selalu menyesal karna ia pergi tanpa sebuah ucapan cinta yang seharusnya kuucapkan.


Malam ini, dadaku semakin sesak. Empat tahun yang lalu, pukul 20.00 aku menangis di dalam kamarku yang gelap. Hal yang kulakukan saat itu hanya memandangi gawaiku, berharap ada panggilan telepon yang kuabaikan layaknya kemarin. Aku berjanji takkan mengabaikannya lagi, namun tak kunjung ada. Malam itu, aku menangis. Bunda berulang kali mengetuk pintu kamarku, memintaku untuk menampakkan wajahku, tapi rasanya aku hanya ingin menanti ia kembali hadir dan meneleponku berkali-kali. Aku rindu. Aku teramat rindu kepadanya, meski kemarin kita baru saja bertemu. 

Malam ini, tepat empat tahun berlalu. Aku kembali rindu. Aku kembali menatap gawaiku. Aku merasa dadaku sesak, namun tak ingin lagi menangis. Aku tak ingin menangis karena ia selalu tak suka jika aku menangis. Aku rindu. Aku teramat rindu dan hanya ingin mendekapnya dengan sangat erat.

Bersama rindu yang semakin memuncak, aku ingin menuliskan semua kisah kami untuk mereka. Entah akan ada yang membaca atau tidak, aku hanya ingin mereka tahu, bahwa aku bersyukur karena memilikinya yang teramat mencintaiku tanpa lelah.

----

Empat tahun yang lalu,

Di hari Minggu pagi, tak biasanya Bunda dengan penuh semangat mengetuk pintu kamarku berulang kali. Aku masih bergeming, mencoba menghalau gangguan dari Bunda dengan menumpuk bantal di atas kepalaku. Kembali memejamkan mataku dan berharap mampu melanjutkan mimpiku yang terputus karena Bunda. Namun, 30 menit berlalu dan nyatanya Bunda tak kunjung menyerah.

“Lika, bangun, dong,” seru Bunda di antara ketukan pintunya yang semakin terdengar keras. “Buka pintunya,” tambahnya.

Akhirnya, aku yang menyerah. Kulangkahkan kaki ke depan pintu dan membukanya. Hal yang pertama kutemui di wajah Bunda adalah hari ini Bunda terlalu bersemangat menyambut hari Minggu. “Ada apa sih, Bun?”

“Temenin Bunda ke rumah Tante Lina, yuk,” pintanya penuh semangat.

“Lika malas, Bund. Masih pagi gini,” elakku, “Bunda kan tahu, Lika tadi malem abis ngerjain tugas sampai larut malam,” tambahku. Berusaha agar meyakinkan Bunda bahwa anaknya ini sedang lelah dan hanya ingin terlelap di atas kasurnya yang empuk.

“Ayo dong, Lika.”

Aku tidak pernah tahu bahwa Bunda akan sangat bersemangat seperti pagi ini untuk meminta ditemani ke rumah temannya. Bunda mempunyai rutinitas untuk berkumpul dalam jangka waktu sebulan sekali bersama teman SMAnnya. Aku tak pernah memasalahkan hal itu. Toh, menyambung silaturahmi itu memang diperkenankan ‘kan?

“Teman-teman Bunda selalu ditemani oleh anaknya, diantar-jemput, bahkan ditemani selama kami berkumpul.” Bunda masuk ke dalam kamarku, duduk di atas kasurku. “Bunda juga pengen kaya gitu, Bunda kadang suka ditanya, ‘anak kamu mana, Ris? Memang sibuk sekali sampai tidak bisa menemani ibunya?’

“Lika antar saja, ya, Bunda. Nanti Bunda whatsapp Lika kalau sudah selesai.”

“Ya sudah, kalau kamu tidak mau. Anak-anak Bunda memang sangat sibuk sampai tidak punya waktu untuk menemani Bunda.” Katanya seiring melangkah keluar kamarku.

“Iya, Lika ikut. Tapi, Lika tidur satu jam lagi ya.” Aku memang tidak pernah kuat untuk melawan Bundaku. Mungkin itulah yang dijadikan senjatanya untuk membujukku dibandingkan membujuk Mas Lilo—kakakku.

Satu jam terasa begitu cepat untuk orang yang sangat mendambakan tidur dengan nyenyak. Rasanya, aku baru saja memejamkan mata dan kembali bermimpi berkeliling kota yang indah tanpa perlu memikirkan tugas kuliahku yang menumpuk tapi tiba-tiba sebuah lonceng berbunyi, menginterupsi kegiatanku yang sedang asik menikmati udara segar. Alarm yang sengaja kusetel ternyata kembali membawaku ke dalam dunia nyata.

Rumah Tante Lina tidak jauh dari rumahku. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di rumahnya. Rumah yang tak jauh dari pusat perkotaan dengan gaya yang minimalis menjadi tempat menghentikan mobilku.

Teman Bunda yang ikut berkumpul sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya sekitar 15 orang jika memang sedang datang semua. Di ruang tamu, sudah duduk sekitar 10 teman Bunda yang tidak pernah kujumpai sebelumnya. Aku memang baru pertama kali ikut Bunda ke acara seperti ini. Bunda juga baru pertama kali dan kuharap terakhir kali memaksaku untuk menemaninya hari ini.

Acara berjalan seperti biasanya arisan ibu-ibu. Akan ada sesi perbincangan yang heboh di antara mereka, sesi memakan sajian tuan rumah, dan kembali berbincang. Aku tidak menemui satu orang pun anak teman Bunda yang ikut hari ini. Yah, Lika ikut pas anak tante lagi ke luar kota. Jadi, Lika sendiri deh. Itu yang terucap dari seorang teman Bunda yang akhirnya kukenal dengan nama Tante Sri.

“Anaknya Bu Risa, ya?” tanya seorang lelaki yang kuperkirakan seumuran denganku ketika aku memilih untuk duduk di teras rumah.

“Iya,” jawabku singkat namun sopan.

“Aku Firaz.”

“Anaknya Tante Lina?” tanyaku memastikan. Aku merasa wajahnya mirip dengan sebuah foto yang terpasang di ruang tamu.

Firaz mengangguk dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya sejak pertama kali ia menyapaku.

“Aku Zalika. Biasanya dipanggil Lika.”

“Aku mau manggil kamu Zalika, boleh?”

Aku mengangguk, meski rasanya aneh jika ada yang memanggil selengkap itu. Sebelumnya, tak pernah ada yang berniat untuk memanggil namaku selengkap Firaz, semuanya akan memanggilku Lika.

Kami berbincang cukup lama hingga Bunda sudah berada di sampingku untuk mengajak pulang. Firaz termasuk lelaki yang cukup supel untuk ukuran orang yang baru kenal. Ia banyak menceritakan aktivitasnya sehari-hari sebagai mahasiswa dan relawan di sebuah rumah baca di dekat rumahnya.

----

Setelah hari Minggu di minggu kedua di bulan Februari, aku dan Firaz menjadi sangat sering untuk berkirim pesan. Firaz selalu memulai dengan ucapan selamat pagi dan semangat yang tak pernah bosan untuk kubaca di tiap pagiku. Terkadang, Firaz meneleponku kala aku tak kunjung membalas pesannya dengan cepat. Hanya ingin memastikan bahwa aku sudah bangun dan tak kesiangan, katanya dengan tawa yang tak dapat kulihat secara langsung.

Firaz, lelaki yang sangat baik kepadaku, bahkan kepada keluargaku. Firaz adalah lelaki yang hampir tiga bulan belakangan ini selalu bersedia menyiapkan diri untuk mendengarkan keluh kesahku, mengantarku, dan membantuku dalam beberapa hal yang tak mampu kukerjakan sendiri. Firaz adalah lelaki pertama yang senantiasa datang ke rumahku di setiap malam minggu untuk mengajakku pergi atau bahkan hanya untuk mengobrol di rumahku.

Malam ini, seperti malam minggu sebelumnya, Firaz berkunjung ke rumahku. Firaz datang membawa sebuah bingkisan berisi martabak yang ia beli di depan komplek rumahku. Di suatu malam minggu, ia pernah bercerita dengan bangganya bahwa sang penjual martabak mulai mengenali wajahnya dan ingat pesanannya. Firaz mengungkapkan hal itu dengan wajah yang terlampaui bahagia, dan bahagianya menyalur ke diriku.

Setelah berbincang sejenak dengan Ayah dan Bundaku, Firaz mengajakku untuk mengobrol di depan rumah. Hal yang kusadari selama bersama dengannya di malam hari ialah Firaz senang melihat bintang yang bersinar di langit yang terkadang gelap. Jika Firaz tak menemukan bintang yang bersinar, ia masih dapat melihat satu bintang yang redup sekalipun. Dan jika memang tak ia temui bintang itu, ia selalu berkata, mungkin bintang akan mewujudkan dirinya esok malam, lebih banyak dan lebih bersinar.

“Aku sayang kamu, Zalika.” Itu hal yang pertama kudengar darinya malam ini. Dibawah lampu terasku yang tak begitu terang, ditemani bintang yang kulihat hanya empat sampai lima di langit, dan bulan yang sedikit tertutup awan.

Firaz mengungkapkannya begitu santai, sesantai ia mengajakku untuk mengobrol di luar setelah ia mengobrol banyak hal dengan Ayah dan Bunda, sesantai ia mengajakku untuk menonton film yang baru rilis di bioskop, dan sesantai saat ia memeragakan ketika memesan martabak.

“Aku sayang sama kamu.” Ia mengulang ucapannya, “Kamu mau jadi pacarku?”

Kutatap wajahnya dari samping, ia hanya menatap ke arah bintang yang paling bersinar. Suaranya memang terasa sangat tenang, namun, yang kulihat wajahnya tak setenang suaranya. Banyak peluh di keningnya yang menggambarkan ia gugup, matanya yang tak berani menatapku mengisyaratkan ia grogi akan ucapannya, dan tangannya yang sedikit gemetar.

“Aku juga sayang kamu.” Aku tersenyum, memancing dirinya agar menatapku. Dan tepat setelah kuselesaikan ucapanku, ia menatapku penuh harap, menampilkan senyuman yang selalu mampu menyalurkan senyuman lain di wajahku.

---

Gawaiku terus berbunyi sedari tadi, menyerukan nada dering yang sengaja Firaz setel sendiri menjadi nada deringnya. Sebuah lagu dari Tulus. Aku tidak tahu mengapa, lelaki itu terlalu banyak menyukai lagu Tulus. Lagunya enak didengerin, nggak berat, nggak bikin orang mikir, itulah alasannya saat kutanya.

Firaz sudah berusaha meneleponku sebanyak sepuluh kali, namun rasanya aku tetap tak ingin menerima panggilannya. Aku sudah terlalu hapal semua percakapan kami di pagi hari seperti hari ini. Mungkin aku bosan mendengar alasannya yang terus berusaha menelepon kala aku tak membalas pesannya di pagi hari. Firaz memang seperti itu, sebenarnya ia tak menyulitkan untukku. Aku hanya perlu membalas pesannya dan ia takkan menggangguku dengan teleponnya yang tak kenal lelah.

Namun, seperti yang kukatakan tadi, aku terlalu bosan untuk mendengar alasannya. Aku terlalu bosan membaca deretan kalimat yang sesungguhnya sudah kuhapal. Aku juga terlalu bosan untuk membalasnya dengan deretan kalimat yang sama seperti hari kemarin.

“Lika, ada Firaz di ruang tamu.” Bunda menggedor pintu kamarku.

Lelaki yang sedari tadi berusaha meneleponku kini benar-benar ada di rumahku. Firaz sedang menemani Ayah menikmati kopi paginya dan koran di hadapannya. Berbincang antara dua lelaki yang tak kumampu dengar namun terlihat begitu menyenangkan. Jika sebelumnya, aku akan sangat merasa bahagia melihat dua lelaki yang kusayangi dapat dengan mudah bercengkerama di pagi hari seperti hari ini. Namun, hari ini, aku tak merasa hal yang sama. Aku tak mampu untuk sekadar tersenyum ketika melihat mereka tertawa bersama.

“Kamu belum mandi?” Bunda mengagetkanku dengan kehadirannya yang tiba-tiba.

Aku menggeleng, “Firaz dari kapan, Bun?”

“Setengah jam yang lalu, kalau ngga salah.” Jawab Bunda seraya meneruskan kegiatannya menyiapkan sarapan kami. “Temui dulu Firaznya, kasihan dari tadi nungguin kamu.”

Akhirnya kuturuti perintah Bunda untuk menemui Firaz. Tak sopan jika membiarkan tamu terlalu lama menunggu, itulah yang selalu Bunda dan Ayah ucapkan. Firaz yang sedari tadi sedang menikmati teh dan percakapannya dengan Ayah, perlahan mulai menyadari kehadiranku. Tanpa berusaha untuk mengalihkan perhatiannya sejenak dari Ayah, ia tersenyum kepadaku.

Setelah menyelesaikan ceritanya, Ayah meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Tak ada yang mulai bicara hingga 15 menit berlalu. Aku hanya sibuk membaca koran yang sebelumnya dipegang oleh Ayah dan Firaz hanya terdiam seraya terus menikmati tehnya yang tak kunjung habis.

“Aku khawatir sama kamu.” Itu kalimat pertamanya. “Kamu belum bales pesan, aku telepon juga nggak diterima.”

“Aku baik-baik aja, kan? Nggak ada yang perlu dikhawatirin.”

Dia tersenyum, tak membalas ucapanku yang terlampaui jutek.

“Aku pulang dulu, ya,” ucapnya pamit.

“Besok pagi nggak usah kirim pesan atau telepon lagi, Raz,” ujarku ketika ia hendak bangkit dari duduknya. “aku juga bakal bales pesanmu sesuai mood-ku.”

Firaz terdiam sejenak, seakan sedang mencerna ucapanku. Aku pikir, Firaz akan membantahku akan menuntut penjelasan yang lebih atas sikapku yang mendadak ini, namun ia hanya mengangguk mengerti seraya tersenyum kepadaku.

“Aku tungguin kamu sampai kapanpun, Zalika.”

---

Setelah hari di mana Firaz datang pagi-pagi ke rumahku, Firaz benar-benar tak menggangguku. Ia masih senantiasa mengirimkan pesan ketika pagi, sekadar menanyakan aktivitasku, dan ucapan ketika ia hendak tidur. Firaz tak pernah menuntutku dengan teleponnya yang tak pantang menyerah. Firaz memperlakukanku sesuai dengan apa yang kusampaikan di hari itu.

Malam ini, setelah berminggu-minggu tak kutemui wajahnya, kini kulihat ia menunduk di teras rumahku. Tak ada yang aneh jika yang kulihat bukan Firaz yang mudah tersenyum, tak ada yang aneh jika lelaki yang berada di teras rumahku bukan Firaz yang selalu rapi. Semuanya semakin terlihat aneh karena di sampingnya terdapat sebucket bunga dengan ukuran cukup besar. Firaz tak kunjung menatapku, ia terlihat berantakan dengan pakaiannya yang seharusnya membuatnya terlihat rapi.

“Raz,” panggilku pelan. Aku takut jika sebenarnya Firaz sedang tertidur dan kaget dengan panggilanku.

“Kamu habis dari mana?” tanyanya langsung.

Firaz malam ini memang beda. Tak ada sirna bahagia dari matanya seperti biasa, tak ada senyum menyejukkan miliknya seperti biasa yang ia berikan. Aku menatapnya menuntut penjelasan yang lebih, namun Firaz hanya menatapku. “Rumah Dio.”

“Ngapain?”

“Anak-anak pada ngajakin ngumpul tadi. Kamu kenapa sih?” tanyaku mulai tak suka. Aku tak suka tatapannya yang terlalu sayu. Aku tak suka tak melihat senyumannya.

“Kamu lupa punya janji sama aku?” tanyanya dengan tatapan menuntut.

Aku menatap wajah sayu Firaz, tak senyum layaknya ia selalu tersenyum kepadaku, tak aku lihat lesung pipi yang selalu membuatku jatuh cinta. Firaz yang ada di hadapanku adalah sosok yang menyedihkan, wajahnya terlalu mengisyaratkan keputusasaannya. Matanya yang biasanya berbinar kini hanya terlihat sayu dengan kecewa yang kian menjadi.

“Aku nungguin kamu selama tiga jam di sana, Zalika. Tapi, kamu lupa sama janji kamu?”

“Maaf, aku lupa,” sesalku. Aku tak berani lebih jauh untuk menatap wajahnya. Terlalu menyakitkan untukku.

Sejak dua hari yang lalu, Firaz memang sudah memberitahuku bahwa aku harus pergi bersama dengannya malam ini. Ketika kutanyakan tempat tujuan kami, ia hanya menjawab bahwa aku harus datang ke tempat yang ia sebutkan nantinya. Setiap hari ia mengingatkanku tentang hari ini dan hanya kujawab sekadarnya. Keinginanku untuk membalas pesannya dengan panjang lebar belum kunjung kembali. Aku hanya selalu menjawab bahwa aku akan datang.

Terakhir kali ia mengingatkan ialah tadi pagi. Sebelum berangkat ke kampus dan memulai aktivitas di luar rumah, Firaz mengirimkan pesan bahwa malam ini tepat pukul tujuh aku sudah harus sampai di sebuah kedai yang tak jauh dari rumahku. Bahkan, Firaz sempat menawarkan diri untuk menjemputku yang akhirnya kutolak dengan halus. Aku tak mau terlalu bergantung kepadanya. Toh, hanya ke sebuah kedai yang tak jarang aku kunjungi, pasti aku bisa sendiri.

Namun, semua janjiku hanya menjadi sekadar ucapan pemanis. Aku melupakan janjiku dengan Firaz, memilih untuk berkumpul bersama teman-temanku, dan mengabaikan semua pesan atau panggilan dari Firaz.

“Aku beneran lupa, Raz. Maaf.”

“Kamu bisa terima teleponku, Zalika. Seandainyapun kamu tidak mau datang, beritahu aku, bukan mengabaikanku dan kamu bersenang-senang.”

“Kok kamu jadi egois, sih, Raz? Aku udah bilang maaf, Aku beneran lupa.” Aku mulai tak mengerti sejak kapan Firaz tak lagi mendengar penjelasanku dan hidup dengan asumsinya yang terlalu terasa memojokkanku.

“Kamu mengabaikan aku, Zalika. Bukan lupa,” ucapnya lelah. Tak meninggikan suaranya seperti aku. Ia hanya menatapku kecewa, kata-katanya tak menggambarkan ia sedang marah kepadaku, ia hanya kecewa.

“Apaan sih, Raz? Kok kamu jadi lebay?” tanyaku dengan tak suka.

“Kamu lupa. Ya, kamu lupa. Tapi, yang terlebih, yang menjadi dasar adalah kamu mengabaikanku. Mengabaikan semua yang berhubungan tentangku. Bahkan hari jadi kita.” Firaz menatapku lagi, semakin menyiratkan kekecewaan yang kental di matanya. “Aku pulang.”

Tak sampai aku menjawab ucapannya, ia sudah meninggalkanku sendiri. Aku menatap punggungnya yang semakin mengecil dan perlahan menjadi hilang di ujung jalan. Aku tidak tahu dimana Firaz memarkirkan kendaraannya, mengapa ia harus berjalan sampai ke ujung jalan? Firaz yang kini benar-benar menghilang, membuatku tersadar bahwa yang ia katakan benar. Jika aku tak mengabaikannya, apa mungkin aku lupa hari ini adalah hari jadi kami yang ke tiga? Apa mungkin aku lupa tentang janji yang sudah kubuat dua hari yang lalu?

Firaz menghilang dan airmataku menetes. Entah karena apa dan untuk siapa aku merasa ini adalah salahku. Aku merasa sesak ketika melihat wajahnya terlihat lelah dan matanya yang sayu. Jika sebelumnya, aku masih mampu melihat wajahnya yang ceria meski tak kuacuhkan ia, kini aku tak lagi melihat cerianya. Aku menangis kala aku menyadari Firaz ingin membuatku bahagia untuk hari ini, ia ingin memulihkan hubungan kami yang semakin jauh karenaku. Dan, ternyata aku semakin membuatnya jauh.

Ponselku berdering. Sebuah dering panggilan yang tak pernah kuubah sejak awal ia menyetelnya secara khusus. Dering yang kuabaikan sejak siang, dering yang kuabaikan di setiap waktu beberapa hari ini. Aku menatap layarnya, sebuah tulisan yang menyadarkanku bahwa Firaz tetap Firaz yang selalu berbuat baik kepadaku.

Firaz memanggil…

“Firaz, kamu di mana?” tanyaku dengan cepat, berharap ia belum terlalu jauh dari rumahku. Aku ingin memeluknya, mengucapkan maaf kepadanya dengan sungguh-sungguh, menghadirkan kembali wajah cerianya. “Aku ke sana sekarang, aku mau ngomong.”

Aku hendak berjalan, mencoba mempercepat kesempatan untuk bertemu dengannya. Namun, waktu terasa berhenti. Tubuhku seketika kaku. Mataku hanya menatap nanar ke arah jalan dimana Firaz mulai tak terlihat. Aku tak lagi mendengar lebih lanjut apa yang dikatakan si penelepon. Duniaku hancur saat itu. Duniaku yang sempat tanpa sengaja aku hancurkan kini benar-benar hancur. Duniaku tak lagi berbentuk. Aku hancur. Hatiku hancur.

Aku masih terdiam di tempatku berdiri. Tak berani untuk melangkah, tak punya kemampuan untuk menatap apa yang telah terjadi. Aku tak berani melangkah karena aku berharap semua ini tidak nyata. Melangkah dan melihatnya berarti memastikan diriku bahwa aku tak lagi bisa melihat wajah yang membuatku jatuh hati. Melangkah dan melihatnya berarti aku menerima bahwa aku takkan benar-benar bisa memastikan ia telah memaafkanku. Aku kehilangan senyumnya yang kurindukan, aku kehilangan binar sejuk dari matanya, aku kehilangan tawanya yang terdengar begitu menyejukkan. Aku kehilangan separuh diriku yang kuberikan kepadanya.

Aku masih berdiam. Menangis. Tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin Firaz kembali, memelukku, dan mengatakan bahwa yang meneleponku adalah orang iseng yang menggunakan ponselnya. Aku hanya ingin Firaz yang memanggilku. Aku hanya ingin dering ponsel yang berbunyi dan kudengar tawa Firaz di awal percakapan. aku hanya ingin Firaz tersenyum kepadaku dan tak memasang wajah kecewa seperti tadi. Aku hanya ingin… aku hanya ingin mengulang semua waktuku bersamanya. Firaz yang baru saja kubuat kecewa kini benar-benar pergi.


“Saya ingin menyampaikan bahwa Saudara Firaz mengalami kecelakaan di Jalan Delima IV dan meninggal di tempat. Jenazah sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Dharma Jakarta Selatan. Apa Ibu bisa mengurus administrasi di rumah sakit?”

---

"Yang kaulihat detik ini, belum tentu sama untuk beberapa detik kedepannya."

11 komentar:

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.