Penyesalan yang tak
kunjung hilang ialah saat aku tak menerima telepon dari seseorang. Penyesalan
yang tak kunjung hilang adalah saat aku selalu meninggikan egoisku di atas rasa
cinta yang sebenarnya tak pernah hilang sedetikpun. Penyesalan yang tak pernah
terlupakan adalah saat dengan bangganya aku tak memedulikannya, tak
mengacuhkannya, tak menganggap usahanya sebagai suatu hal yang perlu aku
tanggapi.
Empat tahun berlalu.
Namun, semuanya masih tetap sama. Aku masih menangis kala malam aku mulai membaca
pesan-pesannya, aku masih merindukan tawa yang selalu berusaha menghiburku, dan
aku selalu menyesal karna ia pergi tanpa sebuah ucapan cinta yang seharusnya
kuucapkan.
Malam ini, dadaku
semakin sesak. Empat tahun yang lalu, pukul 20.00 aku menangis di dalam kamarku
yang gelap. Hal yang kulakukan saat itu hanya memandangi gawaiku, berharap ada
panggilan telepon yang kuabaikan layaknya kemarin. Aku berjanji takkan
mengabaikannya lagi, namun tak kunjung ada. Malam itu, aku menangis. Bunda
berulang kali mengetuk pintu kamarku, memintaku untuk menampakkan wajahku, tapi
rasanya aku hanya ingin menanti ia kembali hadir dan meneleponku berkali-kali.
Aku rindu. Aku teramat rindu kepadanya, meski kemarin kita baru saja bertemu.
Malam ini, tepat empat
tahun berlalu. Aku kembali rindu. Aku kembali menatap gawaiku. Aku merasa
dadaku sesak, namun tak ingin lagi menangis. Aku tak ingin menangis karena ia
selalu tak suka jika aku menangis. Aku rindu. Aku teramat rindu dan hanya ingin
mendekapnya dengan sangat erat.
Bersama rindu yang
semakin memuncak, aku ingin menuliskan semua kisah kami untuk mereka. Entah
akan ada yang membaca atau tidak, aku hanya ingin mereka tahu, bahwa aku
bersyukur karena memilikinya yang teramat mencintaiku tanpa lelah.
----
Empat
tahun yang lalu,
Di hari Minggu pagi,
tak biasanya Bunda dengan penuh semangat mengetuk pintu kamarku berulang kali.
Aku masih bergeming, mencoba menghalau gangguan dari Bunda dengan menumpuk
bantal di atas kepalaku. Kembali memejamkan mataku dan berharap mampu melanjutkan
mimpiku yang terputus karena Bunda. Namun, 30 menit berlalu dan nyatanya Bunda
tak kunjung menyerah.
“Lika, bangun, dong,”
seru Bunda di antara ketukan pintunya yang semakin terdengar keras. “Buka
pintunya,” tambahnya.
Akhirnya, aku yang
menyerah. Kulangkahkan kaki ke depan pintu dan membukanya. Hal yang pertama
kutemui di wajah Bunda adalah hari ini Bunda terlalu bersemangat menyambut hari
Minggu. “Ada apa sih, Bun?”
“Temenin Bunda ke rumah
Tante Lina, yuk,” pintanya penuh semangat.
“Lika malas, Bund.
Masih pagi gini,” elakku, “Bunda kan tahu, Lika tadi malem abis ngerjain tugas
sampai larut malam,” tambahku. Berusaha agar meyakinkan Bunda bahwa anaknya ini
sedang lelah dan hanya ingin terlelap di atas kasurnya yang empuk.
“Ayo dong, Lika.”
Aku tidak pernah tahu
bahwa Bunda akan sangat bersemangat seperti pagi ini untuk meminta ditemani ke
rumah temannya. Bunda mempunyai rutinitas untuk berkumpul dalam jangka waktu
sebulan sekali bersama teman SMAnnya. Aku tak pernah memasalahkan hal itu. Toh,
menyambung silaturahmi itu memang diperkenankan ‘kan?
“Teman-teman Bunda
selalu ditemani oleh anaknya, diantar-jemput, bahkan ditemani selama kami
berkumpul.” Bunda masuk ke dalam kamarku, duduk di atas kasurku. “Bunda juga
pengen kaya gitu, Bunda kadang suka ditanya, ‘anak kamu mana, Ris? Memang sibuk sekali sampai tidak bisa menemani
ibunya?’”
“Lika antar saja, ya,
Bunda. Nanti Bunda whatsapp Lika
kalau sudah selesai.”
“Ya sudah, kalau kamu
tidak mau. Anak-anak Bunda memang sangat sibuk sampai tidak punya waktu untuk
menemani Bunda.” Katanya seiring melangkah keluar kamarku.
“Iya, Lika ikut. Tapi,
Lika tidur satu jam lagi ya.” Aku memang tidak pernah kuat untuk melawan
Bundaku. Mungkin itulah yang dijadikan senjatanya untuk membujukku dibandingkan
membujuk Mas Lilo—kakakku.
Satu jam terasa begitu
cepat untuk orang yang sangat mendambakan tidur dengan nyenyak. Rasanya, aku
baru saja memejamkan mata dan kembali bermimpi berkeliling kota yang indah
tanpa perlu memikirkan tugas kuliahku yang menumpuk tapi tiba-tiba sebuah
lonceng berbunyi, menginterupsi kegiatanku yang sedang asik menikmati udara
segar. Alarm yang sengaja kusetel ternyata kembali membawaku ke dalam dunia
nyata.
Rumah Tante Lina tidak
jauh dari rumahku. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di
rumahnya. Rumah yang tak jauh dari pusat perkotaan dengan gaya yang minimalis
menjadi tempat menghentikan mobilku.
Teman Bunda yang ikut
berkumpul sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya sekitar 15 orang jika memang
sedang datang semua. Di ruang tamu, sudah duduk sekitar 10 teman Bunda yang
tidak pernah kujumpai sebelumnya. Aku memang baru pertama kali ikut Bunda ke
acara seperti ini. Bunda juga baru pertama kali dan kuharap terakhir kali
memaksaku untuk menemaninya hari ini.
Acara berjalan seperti
biasanya arisan ibu-ibu. Akan ada sesi perbincangan yang heboh di antara
mereka, sesi memakan sajian tuan rumah, dan kembali berbincang. Aku tidak
menemui satu orang pun anak teman Bunda yang ikut hari ini. Yah, Lika ikut pas anak tante lagi ke luar
kota. Jadi, Lika sendiri deh. Itu yang terucap dari seorang teman Bunda
yang akhirnya kukenal dengan nama Tante Sri.
“Anaknya Bu Risa, ya?”
tanya seorang lelaki yang kuperkirakan seumuran denganku ketika aku memilih
untuk duduk di teras rumah.
“Iya,” jawabku singkat
namun sopan.
“Aku Firaz.”
“Anaknya Tante Lina?”
tanyaku memastikan. Aku merasa wajahnya mirip dengan sebuah foto yang terpasang
di ruang tamu.
Firaz mengangguk dengan
senyum yang tak hilang dari bibirnya sejak pertama kali ia menyapaku.
“Aku Zalika. Biasanya
dipanggil Lika.”
“Aku mau manggil kamu
Zalika, boleh?”
Aku mengangguk, meski
rasanya aneh jika ada yang memanggil selengkap itu. Sebelumnya, tak pernah ada
yang berniat untuk memanggil namaku selengkap Firaz, semuanya akan memanggilku
Lika.
Kami berbincang cukup
lama hingga Bunda sudah berada di sampingku untuk mengajak pulang. Firaz
termasuk lelaki yang cukup supel untuk ukuran orang yang baru kenal. Ia banyak
menceritakan aktivitasnya sehari-hari sebagai mahasiswa dan relawan di sebuah
rumah baca di dekat rumahnya.
----
Setelah hari Minggu di
minggu kedua di bulan Februari, aku dan Firaz menjadi sangat sering untuk
berkirim pesan. Firaz selalu memulai dengan ucapan selamat pagi dan semangat
yang tak pernah bosan untuk kubaca di tiap pagiku. Terkadang, Firaz meneleponku
kala aku tak kunjung membalas pesannya dengan cepat. Hanya ingin memastikan
bahwa aku sudah bangun dan tak kesiangan, katanya dengan tawa yang tak dapat
kulihat secara langsung.
Firaz, lelaki yang
sangat baik kepadaku, bahkan kepada keluargaku. Firaz adalah lelaki yang hampir
tiga bulan belakangan ini selalu bersedia menyiapkan diri untuk mendengarkan
keluh kesahku, mengantarku, dan membantuku dalam beberapa hal yang tak mampu
kukerjakan sendiri. Firaz adalah lelaki pertama yang senantiasa datang ke
rumahku di setiap malam minggu untuk mengajakku pergi atau bahkan hanya untuk
mengobrol di rumahku.
Malam ini, seperti
malam minggu sebelumnya, Firaz berkunjung ke rumahku. Firaz datang membawa
sebuah bingkisan berisi martabak yang ia beli di depan komplek rumahku. Di
suatu malam minggu, ia pernah bercerita dengan bangganya bahwa sang penjual
martabak mulai mengenali wajahnya dan ingat pesanannya. Firaz mengungkapkan hal
itu dengan wajah yang terlampaui bahagia, dan bahagianya menyalur ke diriku.
Setelah berbincang
sejenak dengan Ayah dan Bundaku, Firaz mengajakku untuk mengobrol di depan
rumah. Hal yang kusadari selama bersama dengannya di malam hari ialah Firaz
senang melihat bintang yang bersinar di langit yang terkadang gelap. Jika Firaz
tak menemukan bintang yang bersinar, ia masih dapat melihat satu bintang yang
redup sekalipun. Dan jika memang tak ia temui bintang itu, ia selalu berkata, mungkin bintang akan mewujudkan dirinya esok
malam, lebih banyak dan lebih bersinar.
“Aku sayang kamu,
Zalika.” Itu hal yang pertama kudengar darinya malam ini. Dibawah lampu terasku
yang tak begitu terang, ditemani bintang yang kulihat hanya empat sampai lima
di langit, dan bulan yang sedikit tertutup awan.
Firaz mengungkapkannya
begitu santai, sesantai ia mengajakku untuk mengobrol di luar setelah ia
mengobrol banyak hal dengan Ayah dan Bunda, sesantai ia mengajakku untuk
menonton film yang baru rilis di bioskop, dan sesantai saat ia memeragakan
ketika memesan martabak.
“Aku sayang sama kamu.”
Ia mengulang ucapannya, “Kamu mau jadi pacarku?”
Kutatap wajahnya dari
samping, ia hanya menatap ke arah bintang yang paling bersinar. Suaranya memang
terasa sangat tenang, namun, yang kulihat wajahnya tak setenang suaranya.
Banyak peluh di keningnya yang menggambarkan ia gugup, matanya yang tak berani
menatapku mengisyaratkan ia grogi akan ucapannya, dan tangannya yang sedikit
gemetar.
“Aku juga sayang kamu.”
Aku tersenyum, memancing dirinya agar menatapku. Dan tepat setelah kuselesaikan
ucapanku, ia menatapku penuh harap, menampilkan senyuman yang selalu mampu
menyalurkan senyuman lain di wajahku.
---
Gawaiku terus berbunyi
sedari tadi, menyerukan nada dering yang sengaja Firaz setel sendiri menjadi
nada deringnya. Sebuah lagu dari Tulus. Aku tidak tahu mengapa, lelaki itu
terlalu banyak menyukai lagu Tulus. Lagunya enak didengerin, nggak berat, nggak
bikin orang mikir, itulah alasannya saat kutanya.
Firaz sudah berusaha
meneleponku sebanyak sepuluh kali, namun rasanya aku tetap tak ingin menerima
panggilannya. Aku sudah terlalu hapal semua percakapan kami di pagi hari
seperti hari ini. Mungkin aku bosan mendengar alasannya yang terus berusaha
menelepon kala aku tak membalas pesannya di pagi hari. Firaz memang seperti
itu, sebenarnya ia tak menyulitkan untukku. Aku hanya perlu membalas pesannya
dan ia takkan menggangguku dengan teleponnya yang tak kenal lelah.
Namun, seperti yang
kukatakan tadi, aku terlalu bosan untuk mendengar alasannya. Aku terlalu bosan
membaca deretan kalimat yang sesungguhnya sudah kuhapal. Aku juga terlalu bosan
untuk membalasnya dengan deretan kalimat yang sama seperti hari kemarin.
“Lika, ada Firaz di
ruang tamu.” Bunda menggedor pintu kamarku.
Lelaki yang sedari tadi
berusaha meneleponku kini benar-benar ada di rumahku. Firaz sedang menemani
Ayah menikmati kopi paginya dan koran di hadapannya. Berbincang antara dua
lelaki yang tak kumampu dengar namun terlihat begitu menyenangkan. Jika
sebelumnya, aku akan sangat merasa bahagia melihat dua lelaki yang kusayangi
dapat dengan mudah bercengkerama di pagi hari seperti hari ini. Namun, hari
ini, aku tak merasa hal yang sama. Aku tak mampu untuk sekadar tersenyum ketika
melihat mereka tertawa bersama.
“Kamu belum mandi?”
Bunda mengagetkanku dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
Aku menggeleng, “Firaz
dari kapan, Bun?”
“Setengah jam yang
lalu, kalau ngga salah.” Jawab Bunda seraya meneruskan kegiatannya menyiapkan
sarapan kami. “Temui dulu Firaznya, kasihan dari tadi nungguin kamu.”
Akhirnya kuturuti
perintah Bunda untuk menemui Firaz. Tak sopan jika membiarkan tamu terlalu lama
menunggu, itulah yang selalu Bunda dan Ayah ucapkan. Firaz yang sedari tadi
sedang menikmati teh dan percakapannya dengan Ayah, perlahan mulai menyadari kehadiranku.
Tanpa berusaha untuk mengalihkan perhatiannya sejenak dari Ayah, ia tersenyum
kepadaku.
Setelah menyelesaikan
ceritanya, Ayah meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Tak ada yang mulai
bicara hingga 15 menit berlalu. Aku hanya sibuk membaca koran yang sebelumnya
dipegang oleh Ayah dan Firaz hanya terdiam seraya terus menikmati tehnya yang
tak kunjung habis.
“Aku khawatir sama
kamu.” Itu kalimat pertamanya. “Kamu belum bales pesan, aku telepon juga nggak
diterima.”
“Aku baik-baik aja,
kan? Nggak ada yang perlu dikhawatirin.”
Dia tersenyum, tak
membalas ucapanku yang terlampaui jutek.
“Aku pulang dulu, ya,”
ucapnya pamit.
“Besok pagi nggak usah
kirim pesan atau telepon lagi, Raz,” ujarku ketika ia hendak bangkit dari
duduknya. “aku juga bakal bales pesanmu sesuai mood-ku.”
Firaz terdiam sejenak,
seakan sedang mencerna ucapanku. Aku pikir, Firaz akan membantahku akan
menuntut penjelasan yang lebih atas sikapku yang mendadak ini, namun ia hanya
mengangguk mengerti seraya tersenyum kepadaku.
“Aku tungguin kamu
sampai kapanpun, Zalika.”
---
Setelah hari di mana
Firaz datang pagi-pagi ke rumahku, Firaz benar-benar tak menggangguku. Ia masih
senantiasa mengirimkan pesan ketika pagi, sekadar menanyakan aktivitasku, dan
ucapan ketika ia hendak tidur. Firaz tak pernah menuntutku dengan teleponnya
yang tak pantang menyerah. Firaz memperlakukanku sesuai dengan apa yang
kusampaikan di hari itu.
Malam ini, setelah
berminggu-minggu tak kutemui wajahnya, kini kulihat ia menunduk di teras
rumahku. Tak ada yang aneh jika yang kulihat bukan Firaz yang mudah tersenyum,
tak ada yang aneh jika lelaki yang berada di teras rumahku bukan Firaz yang
selalu rapi. Semuanya semakin terlihat aneh karena di sampingnya terdapat
sebucket bunga dengan ukuran cukup besar. Firaz tak kunjung menatapku, ia
terlihat berantakan dengan pakaiannya yang seharusnya membuatnya terlihat rapi.
“Raz,” panggilku pelan.
Aku takut jika sebenarnya Firaz sedang tertidur dan kaget dengan panggilanku.
“Kamu habis dari mana?”
tanyanya langsung.
Firaz malam ini memang
beda. Tak ada sirna bahagia dari matanya seperti biasa, tak ada senyum
menyejukkan miliknya seperti biasa yang ia berikan. Aku menatapnya menuntut
penjelasan yang lebih, namun Firaz hanya menatapku. “Rumah Dio.”
“Ngapain?”
“Anak-anak pada
ngajakin ngumpul tadi. Kamu kenapa sih?” tanyaku mulai tak suka. Aku tak suka
tatapannya yang terlalu sayu. Aku tak suka tak melihat senyumannya.
“Kamu lupa punya janji
sama aku?” tanyanya dengan tatapan menuntut.
Aku menatap wajah sayu
Firaz, tak senyum layaknya ia selalu tersenyum kepadaku, tak aku lihat lesung
pipi yang selalu membuatku jatuh cinta. Firaz yang ada di hadapanku adalah
sosok yang menyedihkan, wajahnya terlalu mengisyaratkan keputusasaannya.
Matanya yang biasanya berbinar kini hanya terlihat sayu dengan kecewa yang kian
menjadi.
“Aku nungguin kamu
selama tiga jam di sana, Zalika. Tapi, kamu lupa sama janji kamu?”
“Maaf, aku lupa,”
sesalku. Aku tak berani lebih jauh untuk menatap wajahnya. Terlalu menyakitkan
untukku.
Sejak dua hari yang
lalu, Firaz memang sudah memberitahuku bahwa aku harus pergi bersama dengannya
malam ini. Ketika kutanyakan tempat tujuan kami, ia hanya menjawab bahwa aku
harus datang ke tempat yang ia sebutkan nantinya. Setiap hari ia mengingatkanku
tentang hari ini dan hanya kujawab sekadarnya. Keinginanku untuk membalas
pesannya dengan panjang lebar belum kunjung kembali. Aku hanya selalu menjawab
bahwa aku akan datang.
Terakhir kali ia
mengingatkan ialah tadi pagi. Sebelum berangkat ke kampus dan memulai aktivitas
di luar rumah, Firaz mengirimkan pesan bahwa malam ini tepat pukul tujuh aku
sudah harus sampai di sebuah kedai yang tak jauh dari rumahku. Bahkan, Firaz
sempat menawarkan diri untuk menjemputku yang akhirnya kutolak dengan halus.
Aku tak mau terlalu bergantung kepadanya. Toh, hanya ke sebuah kedai yang tak
jarang aku kunjungi, pasti aku bisa sendiri.
Namun, semua janjiku
hanya menjadi sekadar ucapan pemanis. Aku melupakan janjiku dengan Firaz,
memilih untuk berkumpul bersama teman-temanku, dan mengabaikan semua pesan atau
panggilan dari Firaz.
“Aku beneran lupa, Raz.
Maaf.”
“Kamu bisa terima
teleponku, Zalika. Seandainyapun kamu tidak mau datang, beritahu aku, bukan
mengabaikanku dan kamu bersenang-senang.”
“Kok kamu jadi egois,
sih, Raz? Aku udah bilang maaf, Aku beneran lupa.” Aku mulai tak mengerti sejak
kapan Firaz tak lagi mendengar penjelasanku dan hidup dengan asumsinya yang
terlalu terasa memojokkanku.
“Kamu mengabaikan aku,
Zalika. Bukan lupa,” ucapnya lelah. Tak meninggikan suaranya seperti aku. Ia
hanya menatapku kecewa, kata-katanya tak menggambarkan ia sedang marah
kepadaku, ia hanya kecewa.
“Apaan sih, Raz? Kok
kamu jadi lebay?” tanyaku dengan tak
suka.
“Kamu lupa. Ya, kamu
lupa. Tapi, yang terlebih, yang menjadi dasar adalah kamu mengabaikanku.
Mengabaikan semua yang berhubungan tentangku. Bahkan hari jadi kita.” Firaz
menatapku lagi, semakin menyiratkan kekecewaan yang kental di matanya. “Aku
pulang.”
Tak sampai aku menjawab
ucapannya, ia sudah meninggalkanku sendiri. Aku menatap punggungnya yang
semakin mengecil dan perlahan menjadi hilang di ujung jalan. Aku tidak tahu
dimana Firaz memarkirkan kendaraannya, mengapa ia harus berjalan sampai ke
ujung jalan? Firaz yang kini benar-benar menghilang, membuatku tersadar bahwa
yang ia katakan benar. Jika aku tak mengabaikannya, apa mungkin aku lupa hari
ini adalah hari jadi kami yang ke tiga? Apa mungkin aku lupa tentang janji yang
sudah kubuat dua hari yang lalu?
Firaz menghilang dan
airmataku menetes. Entah karena apa dan untuk siapa aku merasa ini adalah
salahku. Aku merasa sesak ketika melihat wajahnya terlihat lelah dan matanya
yang sayu. Jika sebelumnya, aku masih mampu melihat wajahnya yang ceria meski
tak kuacuhkan ia, kini aku tak lagi melihat cerianya. Aku menangis kala aku
menyadari Firaz ingin membuatku bahagia untuk hari ini, ia ingin memulihkan
hubungan kami yang semakin jauh karenaku. Dan, ternyata aku semakin membuatnya
jauh.
Ponselku berdering.
Sebuah dering panggilan yang tak pernah kuubah sejak awal ia menyetelnya secara
khusus. Dering yang kuabaikan sejak siang, dering yang kuabaikan di setiap
waktu beberapa hari ini. Aku menatap layarnya, sebuah tulisan yang
menyadarkanku bahwa Firaz tetap Firaz yang selalu berbuat baik kepadaku.
Firaz
memanggil…
“Firaz, kamu di mana?”
tanyaku dengan cepat, berharap ia belum terlalu jauh dari rumahku. Aku ingin
memeluknya, mengucapkan maaf kepadanya dengan sungguh-sungguh, menghadirkan
kembali wajah cerianya. “Aku ke sana sekarang, aku mau ngomong.”
Aku hendak berjalan,
mencoba mempercepat kesempatan untuk bertemu dengannya. Namun, waktu terasa
berhenti. Tubuhku seketika kaku. Mataku hanya menatap nanar ke arah jalan
dimana Firaz mulai tak terlihat. Aku tak lagi mendengar lebih lanjut apa yang
dikatakan si penelepon. Duniaku hancur saat itu. Duniaku yang sempat tanpa
sengaja aku hancurkan kini benar-benar hancur. Duniaku tak lagi berbentuk. Aku
hancur. Hatiku hancur.
Aku masih terdiam di
tempatku berdiri. Tak berani untuk melangkah, tak punya kemampuan untuk menatap
apa yang telah terjadi. Aku tak berani melangkah karena aku berharap semua ini
tidak nyata. Melangkah dan melihatnya berarti memastikan diriku bahwa aku tak
lagi bisa melihat wajah yang membuatku jatuh hati. Melangkah dan melihatnya
berarti aku menerima bahwa aku takkan benar-benar bisa memastikan ia telah
memaafkanku. Aku kehilangan senyumnya yang kurindukan, aku kehilangan binar
sejuk dari matanya, aku kehilangan tawanya yang terdengar begitu menyejukkan.
Aku kehilangan separuh diriku yang kuberikan kepadanya.
Aku masih berdiam.
Menangis. Tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin Firaz kembali, memelukku,
dan mengatakan bahwa yang meneleponku adalah orang iseng yang menggunakan
ponselnya. Aku hanya ingin Firaz yang memanggilku. Aku hanya ingin dering
ponsel yang berbunyi dan kudengar tawa Firaz di awal percakapan. aku hanya
ingin Firaz tersenyum kepadaku dan tak memasang wajah kecewa seperti tadi. Aku
hanya ingin… aku hanya ingin mengulang semua waktuku bersamanya. Firaz yang
baru saja kubuat kecewa kini benar-benar pergi.
“Saya
ingin menyampaikan bahwa Saudara Firaz mengalami kecelakaan di Jalan Delima IV
dan meninggal di tempat. Jenazah sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit
Dharma Jakarta Selatan. Apa Ibu bisa mengurus administrasi di rumah sakit?”
---
"Yang kaulihat detik
ini, belum tentu sama untuk beberapa detik kedepannya."
Halo saya komen ni
BalasHapusSi gendut ngeselin bat
HapusYod, ngapain siiii?
HapusSedih akutuu ��
BalasHapusPas nulisnya juga sedih akutuu
HapusSedih yaaaaa, jd inget someone... Huhuhu
BalasHapusIyaaa:(
HapusKomen disini aja
BalasHapusIH KEZAL
HapusSelalu suka sama tulisan panny...
BalasHapusAlhamdulillah. Makasih pipahQuuu
Hapus