Jumat, 14 September 2018

Molayas



“Kita udahan aja, ya, Ta.”

Aku menatap perempuan di hadapanku dengan tatapan tak mengerti. Sebuah pernyataan yang terkesan mendadak untukku, karena untukku, sampai tadi ia datang pun kami sedang tak terlibat pertengkaran hebat. Aku menatapnya dengan tatapan menuntut, tak jauh berbeda dengan reaksiku, ia hanya menatapku. Tatapan sendu namun terasa tegas yang selalu memukau untukku.

“Alasan kamu apa?” tanyaku.

Irdina, perempuan yang usianya terpaut dua tahun di bawahku ini hanya mengangkat bahunya, tanda ia tak yakin untuk mengungkapkan alasannya. Irdina memilih untuk meminum cokelat hangatnya dibandingkan menjawab pertanyaanku. 

“Alasannya apa, Irdina?” Setelah membiarkannya menikmati cokelat hangatnya, aku kembali menuntut penjelasan darinya. “Berminggu-minggu yang lalu kamu minta kita ga ketemu dulu terus hari ini, kita ketemu cuma buat bicara ini?”

“Maaf, Ta. Kamu tahu apa alasan aku….”

“Nggak, aku nggak tahu. Jadi, sekarang kasih tahu aku!”

“Ta,” panggilnya lirih. “Kamu berhak bahagia dan pasti akan bisa bahagia tanpa aku, mungkin emang ja….”

“Aku lagi nggak mempermasalahkan soal jodoh ataupun takdir, Irdina. Aku hanya minta kamu jelasin alasan keputusan kamu yang serba mendadak ini.”

Irdina menatapku, semakin sendu, bahkan airmatanya sudah terlihat di pelupuk mata, ingin rasanya kumerengkuhnya, menenangkannya. “Kita pernah bahas ini, Ta. Aku mohon, jangan membuat semua semakin sulit untuk kita.”

Aku tak menjawab, tak berkutik kala aku melihat airmatanya benar-benar menetes. Ia berdiri dari duduknya, tersenyum kepadaku, lalu pergi meninggalkanku.

Irdina telah melangkah menjauh, meninggalkanku yang masih memperhatikan kepergiannya, meninggalkan kenangan yang telah kami rajut selama tiga tahun. Irdina mantap meninggalkanku yang masih tak terima atas keputusannya.
---


Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah kisah. Terlalu banyak tempat yang pernah dikunjungi secara bersama, terlalu banyak tawa yang tercipta di setiap sudut tempat, dan tak sedikit pula airmata yang menetes karena sebuah kesalahpahaman. Sikap tegasnya yang selalu hadir kala aku sudah mulai menyebalkan dengan keinginanku atau sikap manjanya yang hadir kala ia memang sedang ingin butuh perhatian lebih dariku selalu mampu membuatku semakin mencintainya.

Irdina adalah perempuan yang kukenal dalam ketidaksengajaan. Perempuan yang kutemui di sebuah pesta ulangtahun kerabatku. Ini memang bukan seperti cinta pada pandangan pertama, namun, tak juga membutuhkan waktu yang lama untuk jatuh hati kepadanya. Pembawaannya yang menarik, mudah untuk diajak bicara dalam segala pembicaraan, dan tawanya yang renyah selalu mampu menyita perhatian khusus dariku.

Irdina bukan perempuan manja yang selalu ingin ditemani kemanapun, ia tak mudah merengek akan suatu hal yang ia rasa masih mampu dikendalikan sendiri. Irdina bukanlah perempuan yang mudah menyerah dengan segala rintangan yang berada di depannya dan selalu mampu memberikanku semangat yang tak mampu diberikan oleh orang lain. Mungkin, karena cintaku kepadanya.

“Aku mau keluar dari rumah,” kataku lelah kala itu.

Irdina tak menanyakan alasanku, ia hanya menatapku seraya tersenyum, dan menenangkanku.

Aku menangis di hadapannya, di pelukannya yang menenangkan untukku. Tak peduli dengan anggapan bahwa aku adalah lelaki yang lemah. Jika airmata mampu untuk menenangkan, mengapa harus ragu untuk melakukannya?

“Kamu pikirin lagi, ya, Ta. Jangan terlalu terburu-buru, kamu lagi emosi saat ini,” katanya. “Mama Papa kamu pasti sebenarnya sayang sama kamu, cuma cara menyampaikannya yang berbeda.”

“Aku udah melakukan segala hal untuk mereka, tapi, kenapa semua masih terasa aku tak pernah melakukannya?”

“Tenangin dulu, ya,” balasnya. Irdina lalu mengubah topik pembicaraan, perlahan ia membuka pandangan yang sempat tertutup karena emosiku.

Semudah itu untuk Irdina mengendalikan emosi yang berkecambuk di dalam hatiku, ia punya cara sendiri untuk menyelami diriku. Ia selalu mampu mengubah pikiran negatif menjadi positif. Lalu, untuk pikiran negatif seperti saat ini, siapa lagi yang mampu mengubahnya menjadi hal positif?
 ---

Waktu berlalu begitu cepat. Jarum jam tak pernah berhenti, meski untuk semenit pun. Hari yang kami lalui selalu terasa cepat. Siang hari bertemu, malam sudah merasakan rindu. Selalu seperti itu hingga tahun ketiga kami.

Waktu yang bahagia memang terasa begitu cepat berlalu jika dibandingkan waktu sedih. Kemarin rasanya kami masih bercanda, masih tertawa, masih saling bercerita tentang segala macamnya, lalu secara tiba-tiba semua mulai berubah. Irdina tak lagi sehangat yang pernah kukenal. Ia hanya menyapaku sekadarnya, membalas pesanku dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Aku mau kita udahan, Ta,” ujarnya tanpa memandangku.

“Kenapa tiba-tiba?” tanyaku tak mengerti.

Irdina tak memberi penjelasan yang berarti, hanya menatapku sesekali dan lebih sibuk dengan tugas di dalam laptopnya. Aku tak menuntut penjelasan dari Irdina hingga ia akhirnya benar-benar menjauh dariku. Ia pergi setelah menolak tawaranku untuk mengantarnya, ia pergi tanpa sebuah penjelasan yang mampu membuatku tenang.

Waktu tiga tahun terasa tak berarti untuk Irdina, ia tak kunjung membalas pesan sejak terakhir kali kami berjumpa. Rasanya seperti mudah untuk berlalu tanpa sering mengingat setiap jengkal tentang diriku dan dirinya. Rasanya seperti mudah untuk mengabaikan rasa sakit yang tak bisa kujelaskan. Rasanya begitu mudah untuk tetap tersenyum di kala aku berusaha untuk tak menangis. Rasanya begitu mudah untuknya dan terlalu sulit untukku.

Ketika aku sedang berusaha menata hati yang hancur, Irdina datang tanpa rasa bersalahnya. Ia tersenyum kepadaku seraya menggenggam tanganku. “Aku bercanda waktu minta udahan sama kamu, aku terlalu banyak pikiran dan kebawa emosi, Ta. Maaf.”

Aku yang memang sudah tak mengerti dengan keadaan ini, semakin terasa bingung dibuatnya. Ia tak mengacuhkanku, meminta kami mengakhiri hubungan yang telah kami rajut selama tiga tahun, lalu kini ia datang dan mengatakan bahwa ia hanya terlalu emosi. “Aku nggak ngerti,” jawabku seraya melepaskan genggaman tangannya. Rasanya, sakit hatiku tak lekas sembuh hanya karena genggaman tangannya atau ucapan maaf darinya.

Irdina menunduk, tak berani menatapku. “Aku minta maaf, Ta.”

“Kamu tau di posisi aku seperti apa rasanya, Irdina?”

“Maaf.”

Jika ada yang berkata, kaca yang telah dipecahkan tak lagi mampu dikembalikan seperti semula, itu memang benar adanya. Hati yang sudah disakiti, takkan pernah kembali mencinta seutuhnya. Kepercayaan yang telah dihancurkan, tak lagi mampu kembali seutuhnya. Pun, aku. Rasanya seperti Irdina bukanlah Irdina yang kucinta selama tiga tahun belakangan ini. Irdina terasa begitu banyak berubah, seperti terlalu cepat berjalan di depanku.

“Mama Papa gak pernah setuju ternyata, Ta, sama kita.”

Hati yang sedang berusaha ditata kembali, kini semakin hancur berserakan. Aku menatapnya, tak meminta penjelasan lebih untuk ucapannya. Aku sudah terlalu kebal dengan semua tatapan putus asa miliknya akan hubungan kami. Kami seperti hanyalah sebuah pertemuan yang lambat laun akan berpisah, tak ada usaha berarti yang Irdina lakukan kala aku berusaha meraih hati orangtuanya seraya menyembuhkan hatiku.

“Lalu bagaimana?”

“Kita masing-masing dulu, ya.”

“Udahan lagi?” kataku setengah tertawa. “Emang kamu sudah maunya seperti itu, kan?”

“Kok kesannya kamu mojokin aku, ya?”

“Lalu, siapa? Memangnya aku yang tiba-tiba menghilang lalu minta hubungan kita berakhir begitu saja? Memangnya aku yang tiba-tiba datang dengan tanpa rasa bersalah dan berkata hanya bercanda mengatakan minta kita udahan? Memangnya aku yang tidak berusaha membantu untuk menyembuhkan hati dan menarik perhatian kedua orangtuamu?” Aku menghela napasku gusar. “Aku hanya merasa kamu terlalu menganggap hubungan kita seperti permainan, Irdina. Tiga tahun, waktu kita, cita-cita kita, doa kita seperti hanyalah angin lalu untukmu.”

Aku meninggalkannya. Tak berminat untuk menerima jawabannya atas pernyataanku. Aku meninggalkannya sendiri, berusaha menulikan telingaku akan isakan tangis yang mulai terdengar.
---

Hari ini, setelah dua tahun berlalu, aku melihatnya lagi. Irdina yang kulihat sekarang masih secantik Irdina yang kutinggalkan di sebuah caffe. Irdina yang menatapku kini masih dengan auranya yang menyenangkan seperti dahulu. Perempuan itu berjalan ke arahku seraya tersenyum. Senyum yang sudah lama tak kulihat, senyum yang sudah lama tak kudambakan lagi.

“Selamat, ya, Ta. Semoga bahagia sama Dwiani,” ujarnya kala sudah di hadapanku.

“Kamu juga cepat menyusul, ya, Irdina.”

Irdina mengangguk dengan senyuman yang tak lepas di bibirnya. Ia melewatiku lalu menyalami istriku dan kedua orangtuaku. Dari ujung mataku, aku melihat mereka sempat berbincang sebentar, lalu Irdina berlalu menghilang di kerumunan tamu lainnya.

Hari ini, aku melihatnya lagi setelah dua tahun berlalu. Hari ini, aku kembali menatap wajahnya setelah lama tak bertemu. Semua berjalan seperti yang kupanjatkan, bertemu kala hatiku sudah benar-benar sembuh. Hari ini, untukku, Irdina masih secantik yang dahulu, namun Dwiani jauh lebih cantik.

2 komentar:

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.