Selasa, 12 Agustus 2014

I'm Fine.

Kita memang tidak pernah tahu kapan datangnya sebuah cinta. Kita memang tidak pernah tahu akan kepada siapa cinta ini akan bermuara akhirnya. Kita memang tidak akan pernah tahu bagaimana cerita perjalanan cinta kita. Kita memang tidak pernah tahu akan berakhir seperti apa cerita cinta ini, sedih atau bahagiakah, dicinta atau hanya mencintakah.

Hari ini, entah sudah hari ke-berapa aku terus memikirkannya, mencuri pandang kepadanya, menantinya datang dengan ramah kepadaku. Aku tidak tahu kenapa dia selalu hadir disela-sela kesibukanku, aku tidak pernah mengerti awal mula aku mulai memikirkannya tanpa henti. Aku hanya tahu, saat dia mulai tak aku lihat, ada sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku mulai mencarinya.

“Dia? Cowok yang jarang masuk? Cowok yang kerjaannya cuma bengong-bengong dikelas?” Aku sudah sangat hafal dengan pertanyaan yang ditanyakan Rita ini. “Banyak laki-laki yang lebih ganteng dibanding dia, banyak lelaki yang lebih baik dibandingin dia. Disekolah ini lebih banyak yang rajin sekolahnya, Shin… Terus kenapa harus dia?”

Aku tidak menjawab ocehan Rita yang selalu ia katakan itu, mungkin karena aku tak pernah menjawabnya, makanya ia selalu berkata seperti itu. Aku tidak pernah tahu kenapa aku memilihnya untuk mengisi hatiku yang sudah lama tak berpenghuni ini, aku tidak tahu kenapa aku lebih tertarik dengannya dibandingkan dengan lelaki lain. Menurutku, ia sama dengan lelaki kebanyakan, tapi ketika hati menentukan pilihannya, jangan pernah tanyakan pertanyaan “Mengapa?” Karena hasilnya semu.

“Shindy…” Rita melambaikan tangannya di depan wajahku. “Kenapa lu suka sama dia?”

“Aku tidak tahu, Rit. Dia seperti datang begitu saja dan tak pernah pergi. Meski sebenarnya, dia tak pernah datang, bahkan untuk tersenyum kepadaku pun tidak.”

Rita menaikkan satu alisnya. Sahabatku yang satu ini sangat sulit untuk diajak romantis, kisah pahitnya dengan mantan kekasihnya yang membuatnya sulit percaya akan makna cinta yang sesungguhnya. Menurutnya saat ini, pacar hanya seorang teman hidup. “tidak perlu serius soal pacar”, katanya saat itu.

“Kita emang beda Shin, lu yang belum pernah jatuh cinta sejak pertama kali kita ketemu akhirnya jatuh cinta, tapi sama orang yang ngga gue ngerti kenapa harus dia yang lu cinta.”

“Kita emang nggak pernah tahu akan kepada siapa kita jatuh cinta, kan? Jika boleh memilih, mungkin aku lebih memilih tak jatuh cinta dengannya, seseorang yang tak mencintaiku juga, seseorang yang tak pernah melihat kearahku, tapi apa yang aku bisa? Dia sudah masuk ke dalam hatiku.” Aku menyeruput minumanku yang baru saja diantar pelayan kantin. “Jika bicara tentang sakit, jujur ini sakit. Tapi, ini cinta. Yang perlu aku lakukan, hanya menikmatinnya, toh jika kita memang tak berjodoh, cinta ini akan hilang begitu saja, tanpa perlu susah-susah kita mengusirnya.”

Rita tersenyum, ia terlihat kagum dengan kata-kata yang baru saja aku ucapkan. Kata-kata yang selalu bisa aku ucapkan saat didepan orang. Tapi nyatanya, aku terlalu rapuh untuk sebuah cinta dalam diam.

Mungkin aku bisa disebut munafik. Saat berhadapan dengan banyak orang, aku bisa menyembunyikan semuanya dengan sangat cantik, tak memberitahu kepada semuanya bagaimana cinta dalam diam itu menyakitkan, aku seakan sudah terbiasa, ya mungkin aku memang terbiasa, terbiasa mencintai dalam diam, tak pernah berani untuk mengekspresikan segala hal yang ada dihatiku. Saat berhadapan banyak orang, aku selalu tertawa, tersenyum, tak pernah melamun. Aku seperti bahagia meski aku hanya mencintai tanpa dicintai.

Tapi, berbeda saat malam datang, saat semua keramaian yang membuatku tak nyaman menghilang, semua rasa yang aku sembunyikan seakan datang begitu saja. Merusak malamku, merusak mood-ku, merusak perasaanku yang sedang berbunga-bunga. Terlebih lagi, saat dia sudah mulai menghilang, tidak jarang, aku harus mencari-cari meski tak bertanya ‘kemana dia hari ini?’, hingga akhirnya aku tahu, dia sedang berada dalam kehidupannya yang ia anggap menyenangkan, membolos sekolah.

Dan hari ini, sudah seminggu lebih aku tak melihatnya, tak merasakan jantungku yang seketika menjadi berdebar saat kami berada dalam jarak yang dekat, tak merasakan pipiku yang mulai merona saat dia menatapku dalam waktu yang lama. Ya, dia sering melakukan itu.

“Nggak masuk lagi kan si Calvin? Ya emang anaknya males sekolah, pasti jarang masuk.” Rita terus mengoceh, tanpa memikirkan efek ocehannya untuk hatiku.

Aku diam. Entah mengapa semuanya menjadi seperti sangat menyebalkan, hari ini aku sedang berada dalam mood-ku yang terendah, tak ingin membalas ocehan Rita yang selalu menganggap Calvin itu tak pantas aku cinta. Aku meninggalkannya yang sedang menyantap mie ayam.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Sudah hampir dua bulan, aku tak melihatnya. Hatiku mulai terbiasa (lagi) tanpanya. Ya, aku selalu membiasakan diriku dalam setiap situasi, terbiasa memperhatikanmu, terbiasa menikmati senyuman manismu, terbiasa memandangmu dari jauh, terbiasa menyimpan rasa ini dan akhirnya aku harus terbiasa melepasmu yang pergi entah kemana.

Dua bulan bukan waktu yang sebentar untuk seorang yang patah hatinya seperti aku. Bukan waktu yang sebentar untuk seorang gadis yang selalu menyimpan perasaannya sendiri. Dua bulan belakangan ini malamku menjadi tak menyenangkan. Aku selalu dibuat meneteskan airmata karena rindu ini yang selalu datang tanpa aku minta. Bukan salahmu, hanya saja hati ini sudah terlalu dipenuhi cinta untukmu, akhirnya rasa sakit yang selalu berdampingan dengan cinta memaksa masuk ke hatiku.

Hari ini mungkin akhir dari dua bulan penantianku akan kehadiranmu. Ya, aku masih berharap kau datang kesekolah, melewati masa-masa akhir sekolah lagi. Tapi, semuanya tak seperti yang aku harapkan, kau lebih memutuskan keluar sekolah, meninggalkan aku yang masih membutuhkanmu sebagai penyemangatku datang ke sekolah, meninggalkan teman-temanmu. Semuanya menjadi jelas, sangat jelas di beberapa minggu menjelang kenaikan kelas.

Kau, lelaki yang aku kenal sejak awal aku masuk sekolah, lelaki yang baru mulai menyapaku beberapa bulan setelah kita melewati masa sekolah bersama, lelaki yang selalu membuatku berharap bisa melihatmu disekolah saat esok hari tiba, lelaki yang sering membuatku menjadi senyum sendiri, akhirnya meninggalkanku. Tak ada kata pisah yang mengharukan, hanya cinta yang tak pernah aku ungkapkan ini menjadi saksi kita berpisah. Dia pergi. Dia yang seharusnya menjadi semangatku menjelang ujian kenaikan kelas, malah pergi meninggalkanku begitu saja. Membuatku menjadi kacau.

“Are you okey?” Rita mendekatiku yang masih memperhatikan kepergiannya dari sekolah didampingi ibunya.

“Mungkin ini yang terbaik. Allah nggak mau aku terlalu lama menyimpan ini sendirian.” Kataku, pelan, lirih. Aku ingin sekali berlari mencegahnya yang terus berjalan meninggalkan sekolah, aku ingin menyampaikan satu hal yang selama ini aku simpan sendiri.

“Gue tau, lu ngga setegar lu. Lu lemah dalam hal ini.” Rita memelukku erat. Sangat erat, membuat airmataku menjadi jatuh perlahan-lahan. Aku menangis. Rita benar, aku memang lemah.

Banyak yang aku nasehati untuk hal cinta, banyak yang aku suruh berhenti menangisi keadaan, tapi, aku tidak lebih baik dari mereka. Bahkan, aku sadar, aku lebih lemah dari mereka. Aku lebih mudah menangis saat hatiku terasa sesak. Saat mataku mulai perih, aku tak pernah punya kekuatan untuk menahannya tak meneteskan airmata.

Semuanya berlalu lebih cepat dari yang aku kira, tapi perasaanku, aku masih mencintainya. Dia belum hilang sepenuhnya dari hatiku, sampai saat ini. Aku memang bukan tipe yang ingin menghapus semua masa lalu, tentang cinta yang pernah ada, aku hanya akan menutupnya. Bukankah itu lebih mudah? Menyimpannya dengan baik-baik, mungkin sesekali aku harus membukanya, tapi bukan untuk kembali merasakan sakit yang ada disaat itu, aku hanya sekedar perlu belajar dari yang sudah pernah terjadi dimasa lalu.

Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya diawal cerita, kita memang tidak pernah tahu bagaimana jalan cerita cinta ini, kita juga tidak pernah tahu bagaimana akhirnya, dan inilah akhir dari aku dan Calvin, tak pernah tahu apa yang ada dihati kita masing-masing, tak pernah ada yang memulai untuk menyapa terlebih dahulu, kami sibuk dengan perasaan kami sendiri. Egois, karena menyimpan semuanya sendiri? Bisa dibilang seperti itu.

Entah siapa yang patut aku salahkan, entah aku, entah kamu, atau cinta? Tapi bukankah cinta tak pernah salah? Ketika cinta menyakitkan bukan cinta yang salah, tapi insannya yang tak mengerti makna cinta sesungguhnya.

Terimakasih sudah membaca....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.