Kita memang tidak pernah tahu
kapan datangnya sebuah cinta. Kita memang tidak pernah tahu akan kepada siapa
cinta ini akan bermuara akhirnya. Kita memang tidak akan pernah tahu bagaimana
cerita perjalanan cinta kita. Kita memang tidak pernah tahu akan berakhir
seperti apa cerita cinta ini, sedih atau bahagiakah, dicinta atau hanya
mencintakah.
Hari ini, entah sudah hari ke-berapa
aku terus memikirkannya, mencuri pandang kepadanya, menantinya datang dengan
ramah kepadaku. Aku tidak tahu kenapa dia selalu hadir disela-sela kesibukanku,
aku tidak pernah mengerti awal mula aku mulai memikirkannya tanpa henti. Aku
hanya tahu, saat dia mulai tak aku lihat, ada sesuatu yang tak pernah aku
rasakan sebelumnya. Aku mulai mencarinya.
“Dia? Cowok yang jarang masuk?
Cowok yang kerjaannya cuma bengong-bengong dikelas?” Aku sudah sangat hafal
dengan pertanyaan yang ditanyakan Rita ini. “Banyak laki-laki yang lebih
ganteng dibanding dia, banyak lelaki yang lebih baik dibandingin dia. Disekolah
ini lebih banyak yang rajin sekolahnya, Shin… Terus kenapa harus dia?”
Aku tidak menjawab ocehan Rita
yang selalu ia katakan itu, mungkin karena aku tak pernah menjawabnya, makanya
ia selalu berkata seperti itu. Aku tidak pernah tahu kenapa aku memilihnya
untuk mengisi hatiku yang sudah lama tak berpenghuni ini, aku tidak tahu kenapa
aku lebih tertarik dengannya dibandingkan dengan lelaki lain. Menurutku, ia
sama dengan lelaki kebanyakan, tapi ketika hati menentukan pilihannya, jangan
pernah tanyakan pertanyaan “Mengapa?” Karena hasilnya semu.
“Shindy…” Rita melambaikan
tangannya di depan wajahku. “Kenapa lu suka sama dia?”
“Aku tidak tahu, Rit. Dia seperti
datang begitu saja dan tak pernah pergi. Meski sebenarnya, dia tak pernah
datang, bahkan untuk tersenyum kepadaku pun tidak.”
Rita menaikkan satu alisnya. Sahabatku
yang satu ini sangat sulit untuk diajak romantis, kisah pahitnya dengan mantan
kekasihnya yang membuatnya sulit percaya akan makna cinta yang sesungguhnya. Menurutnya
saat ini, pacar hanya seorang teman hidup. “tidak perlu serius soal pacar”,
katanya saat itu.
“Kita emang beda Shin, lu yang
belum pernah jatuh cinta sejak pertama kali kita ketemu akhirnya jatuh cinta,
tapi sama orang yang ngga gue ngerti kenapa harus dia yang lu cinta.”
“Kita emang nggak pernah tahu
akan kepada siapa kita jatuh cinta, kan? Jika boleh memilih, mungkin aku lebih
memilih tak jatuh cinta dengannya, seseorang yang tak mencintaiku juga,
seseorang yang tak pernah melihat kearahku, tapi apa yang aku bisa? Dia sudah
masuk ke dalam hatiku.” Aku menyeruput minumanku yang baru saja diantar pelayan
kantin. “Jika bicara tentang sakit, jujur ini sakit. Tapi, ini cinta. Yang perlu
aku lakukan, hanya menikmatinnya, toh jika kita memang tak berjodoh, cinta ini akan
hilang begitu saja, tanpa perlu susah-susah kita mengusirnya.”
Rita tersenyum, ia terlihat kagum
dengan kata-kata yang baru saja aku ucapkan. Kata-kata yang selalu bisa aku
ucapkan saat didepan orang. Tapi nyatanya, aku terlalu rapuh untuk sebuah cinta
dalam diam.
Mungkin aku bisa disebut munafik.
Saat berhadapan dengan banyak orang, aku bisa menyembunyikan semuanya dengan
sangat cantik, tak memberitahu kepada semuanya bagaimana cinta dalam diam itu
menyakitkan, aku seakan sudah terbiasa, ya mungkin aku memang terbiasa,
terbiasa mencintai dalam diam, tak pernah berani untuk mengekspresikan segala
hal yang ada dihatiku. Saat berhadapan banyak orang, aku selalu tertawa,
tersenyum, tak pernah melamun. Aku seperti bahagia meski aku hanya mencintai
tanpa dicintai.
Tapi, berbeda saat malam datang,
saat semua keramaian yang membuatku tak nyaman menghilang, semua rasa yang aku
sembunyikan seakan datang begitu saja. Merusak malamku, merusak mood-ku,
merusak perasaanku yang sedang berbunga-bunga. Terlebih lagi, saat dia sudah
mulai menghilang, tidak jarang, aku harus mencari-cari meski tak bertanya ‘kemana
dia hari ini?’, hingga akhirnya aku tahu, dia sedang berada dalam kehidupannya
yang ia anggap menyenangkan, membolos sekolah.
Dan hari ini, sudah seminggu lebih
aku tak melihatnya, tak merasakan jantungku yang seketika menjadi berdebar saat
kami berada dalam jarak yang dekat, tak merasakan pipiku yang mulai merona saat
dia menatapku dalam waktu yang lama. Ya, dia sering melakukan itu.
“Nggak masuk lagi kan si Calvin?
Ya emang anaknya males sekolah, pasti jarang masuk.” Rita terus mengoceh, tanpa
memikirkan efek ocehannya untuk hatiku.
Aku diam. Entah mengapa semuanya
menjadi seperti sangat menyebalkan, hari ini aku sedang berada dalam mood-ku
yang terendah, tak ingin membalas ocehan Rita yang selalu menganggap Calvin itu
tak pantas aku cinta. Aku meninggalkannya yang sedang menyantap mie ayam.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Sudah hampir dua bulan, aku tak
melihatnya. Hatiku mulai terbiasa (lagi) tanpanya. Ya, aku selalu membiasakan
diriku dalam setiap situasi, terbiasa memperhatikanmu, terbiasa menikmati
senyuman manismu, terbiasa memandangmu dari jauh, terbiasa menyimpan rasa ini
dan akhirnya aku harus terbiasa melepasmu yang pergi entah kemana.
Dua bulan bukan waktu yang
sebentar untuk seorang yang patah hatinya seperti aku. Bukan waktu yang
sebentar untuk seorang gadis yang selalu menyimpan perasaannya sendiri. Dua bulan
belakangan ini malamku menjadi tak menyenangkan. Aku selalu dibuat meneteskan
airmata karena rindu ini yang selalu datang tanpa aku minta. Bukan salahmu,
hanya saja hati ini sudah terlalu dipenuhi cinta untukmu, akhirnya rasa sakit
yang selalu berdampingan dengan cinta memaksa masuk ke hatiku.
Hari ini mungkin akhir dari dua
bulan penantianku akan kehadiranmu. Ya, aku masih berharap kau datang
kesekolah, melewati masa-masa akhir sekolah lagi. Tapi, semuanya tak seperti
yang aku harapkan, kau lebih memutuskan keluar sekolah, meninggalkan aku yang
masih membutuhkanmu sebagai penyemangatku datang ke sekolah, meninggalkan
teman-temanmu. Semuanya menjadi jelas, sangat jelas di beberapa minggu
menjelang kenaikan kelas.
Kau, lelaki yang aku kenal sejak
awal aku masuk sekolah, lelaki yang baru mulai menyapaku beberapa bulan setelah
kita melewati masa sekolah bersama, lelaki yang selalu membuatku berharap bisa
melihatmu disekolah saat esok hari tiba, lelaki yang sering membuatku menjadi
senyum sendiri, akhirnya meninggalkanku. Tak ada kata pisah yang mengharukan,
hanya cinta yang tak pernah aku ungkapkan ini menjadi saksi kita berpisah. Dia pergi.
Dia yang seharusnya menjadi semangatku menjelang ujian kenaikan kelas, malah
pergi meninggalkanku begitu saja. Membuatku menjadi kacau.
“Are you okey?” Rita mendekatiku
yang masih memperhatikan kepergiannya dari sekolah didampingi ibunya.
“Mungkin ini yang terbaik. Allah
nggak mau aku terlalu lama menyimpan ini sendirian.” Kataku, pelan, lirih. Aku ingin
sekali berlari mencegahnya yang terus berjalan meninggalkan sekolah, aku ingin
menyampaikan satu hal yang selama ini aku simpan sendiri.
“Gue tau, lu ngga setegar lu. Lu
lemah dalam hal ini.” Rita memelukku erat. Sangat erat, membuat airmataku
menjadi jatuh perlahan-lahan. Aku menangis. Rita benar, aku memang lemah.
Banyak yang aku nasehati untuk
hal cinta, banyak yang aku suruh berhenti menangisi keadaan, tapi, aku tidak
lebih baik dari mereka. Bahkan, aku sadar, aku lebih lemah dari mereka. Aku lebih
mudah menangis saat hatiku terasa sesak. Saat mataku mulai perih, aku tak
pernah punya kekuatan untuk menahannya tak meneteskan airmata.
Semuanya berlalu lebih cepat dari
yang aku kira, tapi perasaanku, aku masih mencintainya. Dia belum hilang
sepenuhnya dari hatiku, sampai saat ini. Aku memang bukan tipe yang ingin
menghapus semua masa lalu, tentang cinta yang pernah ada, aku hanya akan
menutupnya. Bukankah itu lebih mudah? Menyimpannya dengan baik-baik, mungkin
sesekali aku harus membukanya, tapi bukan untuk kembali merasakan sakit yang
ada disaat itu, aku hanya sekedar perlu belajar dari yang sudah pernah terjadi
dimasa lalu.
Seperti yang sudah aku bilang
sebelumnya diawal cerita, kita memang tidak pernah tahu bagaimana jalan cerita
cinta ini, kita juga tidak pernah tahu bagaimana akhirnya, dan inilah akhir
dari aku dan Calvin, tak pernah tahu apa yang ada dihati kita masing-masing,
tak pernah ada yang memulai untuk menyapa terlebih dahulu, kami sibuk dengan
perasaan kami sendiri. Egois, karena menyimpan semuanya sendiri? Bisa dibilang
seperti itu.
Entah siapa yang patut aku
salahkan, entah aku, entah kamu, atau cinta? Tapi bukankah cinta tak pernah
salah? Ketika cinta menyakitkan bukan cinta yang salah, tapi insannya yang tak
mengerti makna cinta sesungguhnya.
Terimakasih sudah membaca....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.