Selasa, 31 Desember 2013

Kenangan (Kamu) dalam 2013

Kenangan dalam 2013, tidak terlalu banyak yang aku ingat. Tapi, nyatanya kenangan (kamu) akan menjadi kenangan yang selalu hangat dipikiranku. 2013 adalah saat yang mulai membuat hatiku tak menentu. Tentang kamu menjadi sangat menggangguku ditahun 2013. Aku masih ingat ketika kau mulai menghilang dan aku menjadi kacau, aku masih ingat ketika aku mulai jengah dengan diamku dan akhirnya meminta temanku untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi, itu tidak terjadi, keadaan seakan mencegahku untuk melakukan itu. Ya, mungkin Tuhan punya alasan kenapa lebih membiarkan aku menyimpan rasa ini sendiri.





Jika kita bicara tentang kenangan 2013, semua akan kembali kepada sesuatu yang menyangkut tentang kamu. Kenangan yang dulunya membuatku menjadi senang dan sedih. Kenangan yang sering menghadirkan perasaan tak menentu disetiap malam. Kenangan saat aku sibuk mengecek timeline dan status social media-mu. Kenangan saat aku memperhatikanmu dalam diam, kenangan saat aku menunggumu dalam diam, kenangan saat aku memperhatikan tawamu dalam diam, kenangan saat aku mulai gugup saat mata kita bertemu, dan saat aku mulai tak suka mendengar kabar tak menyenangkan tentangmu.

Senin, 30 Desember 2013

Cinta......Yang Mempertemukan Kita.


“Pokoknya lu harus ketemu sama dia.” Hanya itu yang diucapkan Miona, sahabatku.

Aku masih menanggapi dengan setengah hati. Masih malas untuk membuka hatiku lagi.

“Masih mikirin si Clo?” Miona menatapku. “Emang dia masih cinta sama lu?” Tanyanya dengan nada sinisnya. Miona memang tidak suka terhadap Clo.

Aku hanya terdiam. Ucapan Miona membuatku menjadi gelisah. Clo adalah mantan kekasihku. Clo mengakhiri hubungan yang baru kami jalin beberapa bulan yang lalu. Alasannya pun tak aku mengerti sampai saat ini. Yang aku mengerti hanya saat ini tak ada lagi ucapan sayang yang aku dapat darinya, tak aku terima lagi pesan menanyakan kegiatanku, tak aku terima lagi ucapan selamat pagi yang mampu membangkitkan semangatku. Ya, dia separuh semangatku.

“Hai. Sorry macet tadi.” Seorang pria berdiri dihadapan kami, dengan sigap mengambil tempat disebelah Miona dan diikuti pria disebelahnya. Dia Dwiki, kekasih Miona. ‘Kenalin ini Aldi. Temen gue.” Sambungnya cepat.

“Kina.” Aku memperkenalkan diriku.

“Aldi.” Pria itu tersenyum.

Mentari mulai menenggelamkan dirinya. Sinarnya yang berwarna orange mulai membuat efek gelap disudut café ini. Sejak beberapa jam yang lalu, aku hanya menunduk. Mendengarkan segala cerita Miona dan Dwiki, sesekali Aldi ikut mengambil bagian dalam cerita itu dan aku hanya memposisikan diri menjadi pendengar. Fikiranku masih melayang, entah kemana tapi akhirnya aku sadar fikiranku tertuju ke Clo. Ah, lelaki itu lagi.

Aldi menatapku. Tatapan yang sebenernya tak aku mengerti apa maksudnya. Saat tatapan kami bertemu, ia hanya tersenyum dan langsung mengalihkan padangannya kepada kedua temanku dimeja ini. Aku masih menatapnya, merasakan efek senyuman yang ia berikan. Senyumannya memang sangat manis, kataku dalam hati.
~°~°°~°~
Aldi
Nanti kalo udah bel, sms ya. Aku pulang cepet. Jd nanti aku jemput kamu.

Handphoneku bergetar saat pesan Aldi aku terima. Sebulan sudah kami dekat, kami menjadi dekat semenjak perkenalan itu. Aldi lah yang selalu menghibur hari-hariku yang sepi semenjak Clo yang pergi. Dia menyempatkan dirinya untuk mengatar dan menjemputku sekolah. Aldi memberikan sosok seperti Clo, hanya saja aku tak yakin rasaku sudah untuknya. Aku takut menyakitinya, hanya menganggapnya sebagai pelarianku.

Kina
Kalo memang sibuk, ngga usah. Kasihan kamu.

Jumat, 27 Desember 2013

Ini Resolusi 2014 ala Fanny

Haiiiii~

Apa kabar kalian yang menganggap saya sebagai teman? *eaaa. Masih betah sama status jomblo nih? Tenang, kalian ngga sendirian kok.

Sekarang udah tanggal 27 Desember 2013 ya? Dan itu artinya kita butuh 4 hari lagi untuk memelihat matahari di tahun 2014. Yeay! Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan diberikan umur untuk melihatnya. Jadi, Apa rencana kalian ditahun baru? Ngedate kah? Atau cuma nonton acara-acara tv dirumah? Ya, apapun itu. Syukuri aja.

Di postingan kali ini, gue mau ngebahas Resolusi di tahun 2014. Menurut gue, Resolusi di tahun 2014 bisa membuat kita lebih focus dengan apa yang kita ingin capai di tahun 2014. Tapi, tanpa realisasi yang benar-benar tulisan ini hanyalah sebuah tulisan. Dan inilah Resolusi saya di tahun depan:

  • Lulus Segala Ujian sekolah.
Yap. Ini semester terakhir gue di SMK dan disemester ini gue bakal lebih disibukkan dengan berbagai macam kegiatan sekolah dan ujian-ujiannya. Entah itu Ujian Kompetensi, Ujian Sekolah Teori. Ya, semoga di 2014 semuanya bisa gue lewati dengan mudah. Semuanya cuma butuh doa dan usaha.

  • Lulus Ujian Nasional 2014.
Pastinya setelah Ujian Sekolah bakal ada Ujian Nasional. Dan semoga gue bisa membuktikan waktu gue selama 3tahun disekolah bukanlah kegiatan yang sia-sia.

  • Diterima di Universitas Negri.
Dan setelah Ujian-Ujian itu, gue ngga bisa berleha-leha gitu aja. Masih ada Ujian Masuk Universitas Negri dan itu yang harus gue hadapi selanjutnya. Masuk di jurusan yang gue minati dan semuanya berjalan lancar.

Minggu, 22 Desember 2013

Selamat tanggal 22 untuk Ibu-ibu didunia dan kamu.


Selamat tanggal 22 desember untuk seluruh ibu di pelosok dunia. Yaaa, hari ini hari ibu dan hari ulangtahun seseorang yang pernah menjadi kakak kelasku. Hehehe.



Dalam postingan kali ini, aku pengen sedikit membahas tentang seorang wanita yang lahir tanggal 28 November ini. Wanita yang bernama Ibu Dwi Noviansari R ini lah yang selalu mengandung saya dan adik saya selama 9bulan. Mengandung 2 anak sekaligus itu bukanlah hal yang mudah, membawa kemana-mana 2 anak sekaligus merupakan hal yang sangat merepotkan sebenarnya, saat tubuhnya lemah karena tenaganya terkuras saat melahirkan putra-putrinya maka disitulah ia harus merelakan tenaganya akan terkuras lagi saat menyusui kedua anaknya sekaligus. Sempat hanya berbaring ditempat tidur setelah melahirkan, membuktikan bahwa melahirkan dua anak sekaligus bukanlah hal yang mudah. Hal itu membuktikan betapa besarnya pengorbanan beliau untuk kami—putra-putrinya—.
Ibu.....

Kini, kedua anak kecilnya sudah beranjak besar. 17tahun sudah ia terus-menerus merawat kami tanpa pernah ada kata lelah. Dialah wanita terhebat didalam hidupku. Wanita yang tak pernah mengeluh didepan anak-anaknya. Wanita yang selalu rela waktu malamnya kami ganggu dengan tangisan kami karena haus atau sebagainya. Wanita yang rela mengantar anak-anaknya dikala kecil. Wanita yang tak pernah bosan menanyakan keberadaan anaknya. Wanita yang masih menganggap aku dan nando sebagai anak kecil demi keselamatan kami. Wanita yang berusaha selalu tersenyum saat anaknya mulai tak seperti dahulu, hatinya terluka tapi ia tak pernah menunjukkan itu.

Sabtu, 21 Desember 2013

Dan ini hasil akhirnya.......

Yeaaaay!

Akhirnya semuanya udah terbayarkan. Perjuangan selama 6 bulan sudah terbayarkan dengan peringkat yang tetap bisa gue pertahanin. Alhamdulillah. Kurang memuaskan sih, nilai-nilainya menurun dan jumlah nilainya sama kaya peringkat ke-2. Tapi, seenggaknya, disemester terakhir ini gue masih bisa ngeringanin biaya SPP sekolah gue. Alhamdulillah.

Pertahanin peringkat ke-1 itu ngga mudah. Susah banget, apalagi ditambah kalo kalian kehilangan semangat kalian.

Dari awal masuk SMK gue udah pasang target buat ngedapetin peringkay ke-1. Kelas 10 semuanya berjalan sesuai harapan gue, ada semangat yang buat gue rajin pacaran sama buku-buku dimalam hari. Ngga jarang, gue sampe bergadang saat gue ulangan. Saat itu semua berjalan masih sesuai harapan gue. Kelas 11 semuanya mulai menurun, perlahan-lahan tapi masih ada dorongan akan target-target gue. Gue masih bisa pertahanin semuanya. Dan kelas 12 ini, semuanya semakin menurun. Dorongan akan target-target gue seakan hilang tapi datang dibeberapa kesempatan.

Semuanya gue jalanin hanya sebagai ‘rutinitas’ gue. Semuanya gue lakuin cuma untuk satu target “senyum mereka—kedua  orangtua gue”. Cuma itu. Dan akhirnya saat semuanya tercapai, ngga ada kebahagian seperti yang lalu-lalu? Ngga ada lagi sisi ‘ini loh gue.’ Semuanya hanya bener-bener Cuma buat mereka.

Dan dihari ini, gue udah ngejalanin ‘rutinitas’ gue, ngelunasin segala target selama 6 bulan ini.

Kurang puas dengan hasilnya sebenernya. Jumlah nilai gue sama dengan peringkat ke-2. Tapi, Alhamdulillah nilai agama gue masih lebih tinggi, jadinya gue diambil jadi juara ke-1. Tapi tetep aja masih ada rasa kurang puas untuk nilai-nilai semester pertama ini.

Kamis, 12 Desember 2013

Dan entahlah apa ini.


Akhirnya UAS selesai hari ini. Seneng? Biasa aja sih sebenernya. Selesai ulangan remedial pun hadir, Yap. Namanya juga dunia sekolah. Ini yang mengganggu pikiran gue, remedial. Siapa sih yang mau namanya tercantum dimading sekolah dengan judul “Siswa Yang Harus Melakukan Perbaikan.” Pasti kalo udah selesai ulangan, ya pikirannya udah ke hal-hal yang menyenangkan, apalagi saat-saat liburan. 

Gue mosting kali ini, sebenernya buat ngilangin kegundahan hati akan remedial. Ah, Siapa sih itu remedial?

“Fanny yang sekarang agak bandel ya, jadi jarang buat PR dirumah.”

“Fanny udah mulai jadi males.”

“Fanny aja yang rangking 1 aja belum ngerjain, selow aja.”

Akhir-akhir ini, gue sering banget dapet kalimat-kalimat itu. Iya, gue yang sekarang mulai berubah. Bukan. Bukan jadi powerrangers atau sebagainya. ‘Semangat’nya yang pergi gitu aja. Ini yang gue tulis sebelumnyaKau dan Semangatku yang pergi.. Dan sekarang semuanya semakin menjadi-jadi. Dimalam hari, gue mulai malas berteman dengan buku-buku. Kalo ada ulangan baru gue berteman. Ngga ada lagi rasa pengen berlama-lama dengan buku-buku yang ganteng itu. Cuma baca sekenanya.

Dan apa kalian ngerti rasa ini? Disaat gue lagi berusaha jadi gue yang dulu. Disaat gue berusaha buat ngeyakinin kalo semuanya ngga berubah. Disaat gue berusaha buat ngisi berapa persen semangat itu kembali, tapi nyatanya banyak orang yang malah ngeyakinin gue kalo ‘semuanya emang berubah.’ ‘semangat itu emang Cuma dari dia.’ ‘gue yang sekarang bukan gue yang dulu.’ Mau tau rasanya? Seperti terpojok. Atau mungkin guenya yang terlalu cepet ngedown?

Kemana semangat itu? Kemana target-targetnya?

Setiap malam—hampir setiap malam—, saat gue mulai malas menatap buku-buku yang bertumpuk dimeja belajar gue, pertanyaan itu hadir. Pertanyaan itu hadir saat gue mulai menatap target gue yang gue tempel bersampingan jadwal pelajaran gue. Pertanyaan itu selalu menghantui gue saat gue mulai sendirian. Melayang-layang dengan leluasa dipikiran gue, ngga pernah peduli akan efek yang ada.  

Galau. Jangan ditanya lagi. Banget. Apalagi kalo harus diurutin kesampai ujung, Ibu dan Ayah ujungnya. Dan itu semakin bikin gue galau. Takut ngecewain mereka.

“Berarti besok (semester depan) masih bisa nerima beasiswa lagi, Fin.”

Gue nyengar-nyengir sambil bilang “Ngga tahu deh, kayanya nggak bu.”

Dan hati gue nyes……………Nyes banget pas gue harus bilang kaya gitu. Ngga tega ngehancurin sebagian kebahagian mereka. (Ah, gue nulis gini aja udah berkaca-kaca). Ngebahagian mereka, dapetin beasiswa, dan ngeringanin beban biaya mereka termasuk target gue. Tapi nyatanya, semuanya ngga lebih besar dibandingkan efek dia dalam hidup gue.

Dia. Iya dia, yang pernah jadi pangeran dihati gue. Dan sekarang, dia pergi gitu aja bawa semangat yang dia pernah hadirkan. Semangat yang membuat gue rela berlama-lama bersama buku-buku. Dan sekarang, semuanya pergi gitu aja, meninggalkan gue sendiri. Kini, Cuma gue yang bisa ngatur segalanya sendiri. Sendiri berteman segala kegundahan.

Senin, 25 November 2013

Happy Teacher's Day

Selamat Hari Guru Bapak Dan Ibu Guruuuu….

 

Guru? Menurut saya, Beliau itu orang yang terhebat diseluruh pelosok dunia. Orang yang rela membagi ilmu-ilmunya untuk kita yang tidak mengerti apa-apa, mengajarkan kita tentang banyak hal. Memberitahu kita apa yang tidak kita ketahui. Pahlawan tanpa tanda jasa, kalo kata lagu mah.

Terimakasih buat segala ilmu-ilmu yang udah diberikan ke kita semua. Kalaupun, ada yang ingin membalas semuanya dengan sebuah materi, saya rasa ilmu yang telah mereka berikan takkan sanggup tergantikan.  Terimakasih sudah mengajarkan kami membaca dan menulis, mengajarkan kami cara menghitung yang benar, mengenalkan kami kepada flora dan fauna, mengenalkan kami akan kehidupan didunia. Ya, pokoknya kalo harus dijabarkan ilmu-ilmu yang saya dapat dari TK sampai (sekarang) SMK pasti bakal penuh satu kertas ini. *ini bukan lebay*

Guru itu baik. Kalo ngga baik, mana mau dia ngasih ilmunya ke kita. *hmmm*. Guru itu sabar. Ya harus sabar sih sebenernya. Kan ada tuh murid yang nyolotnya setengah mati *untung baru setengah* nah disinilah sisi kesabaran seorang guru diuji. Saya sering banget nemu murid yang ngga bisa ngehargain gurunya. Berlaku semena-menanya, berasa dia yang nge-gaji gurunya itu. Tapi, ada juga sebaliknya, ada guru yang semena-menanya. Mungkin wajar, karena dia merasa dia yang punya ilmu dan muridnya yang butuh, tapi ya masa guru kaya gitu. Semoga hal-hal yang kaya gitu, udah ngga ada didepan-depannya lagi.
Dihari guru ini, saya berdoa supaya kesahjeteraan guru-guru diIndonesia lebih terjamin.  Semoga semua guru bisa menjadi guru yang sesungguhnya dalam memberikan ilmu-ilmunya kepada murid-muridnya. Semoga tidak ada lagi ‘guru’ yang bisa mencoreng dunia pendidikan. Dan semoga seluruh murid bisa menghargai apapun yang telah diberikan oleh guru mereka. Apapun disini itu ilmu ya. Ya, Saya berharap dunia pendidikan menjadi lebih baik berkat guru-guru yang baik.

Ngomong-ngomong soal guru, menjadi guru itu cita-cita saya sejak kecil. Kira-kira sejak SD kelas 3 lah. Jujur, awalnya saya ngga tahu apa alasan saya ingin jadi guru. Mungkin karena ngeliat tante saya yang menjadi guru. Seperti tante saya yang menjabat sebagai guru TK (Bahkan guru TK saya sendiri) saya dulu pengen jadi guru TK. Mulai naik kelas 6, saya tetep kepengen jadi guru. Tapi lebih tinggi, guru SD saat itu keinginan saya. Waktu SMP saya mulai senang menulis, saat itu saya mulai senang pelajaran Bahasa Indonesia. Pas TO kelas 3 saya pernah mendapat nilai 90 dan itu sesuai dengan harapan saya. Ngerasa bidangnya dibahasa Indonesia? Saat itu iya. Hal itu yang membuat saya ingin menjadi guru Bahasa Indonesia sampai saat ini. Ya semoga saja, saya bisa membagikan ilmu-ilmu yang saya punya.

Senin, 18 November 2013

Rindu.

 
Ini hanya tentang rasa yang tak pernah terucap, rindu. Dia hadir tanpa permisi dan berlalu begitu saja. Tentang rasa yang sebenarnya tak aku mengerti. Ini tentang sesuatu yang tak terlihat namun hanya dapat dirasa, hanya dirasa. Rasa yang selalu aku nikmati sendiri dikala malam datang. Aku terlalu pelit untuk membagikan rasa rinduku, semuanya aku nikmati sendiri. Terpendam, dan tak kubagikan kepada siapapun.

Rindu ini hadir saat kau mulai tak ada dihadapanku. Rindu ini tentang kau. Rindu menatapmu dari jauh, aku rindu melakukannya secara diam-diam. Rindu mendengar suaramu secara diam-diam. Rindu akan hadirmu yang selalu aku nantikan. Aku selalu merindukan saat kau tertawa, dan aku mulai mendengarnya secara diam-diam. Rindu akan rasa yang selalu kacau saat kau mulai berjalan jauh. Rindu ini memang hanya tentangmu. 

Kasih, maafkan rasa rinduku yang memang hanya untukmu. Maafkan kegiatanku yang selalu diam-diam.

Lalu, bolehkah aku terus merindukanmu secara diam-diam? Semua yang berhubungan denganmu selalu aku lakukan secara diam-diam, aku terlalu pengecut untuk menunjukkannya. Aku tak mempunyai nyali yang besar untuk menatap mata indahmu. Dan akhirnya, sisi egois-ku memang menyuruhku untuk menikmatinya sendiri, tanpa pernah berusaha membaginya denganmu. Maaf.

Tahukah kau, dikala malam datang aku mulai sibuk dengan kegiatan baruku? Merindukanmu. Menikmati setiap detik yang berputar dengan rasa rindu  yang bisu. Menikmati setiap kenangan yang pernah terlewati begitu saja, semuanya berputar kembali seakan film yang sedang diputar. Aku selalu menikmatinya dalam diam, lantunan lagu yang sengaja aku putar diplaylist-ku membuat rasa ini semakin dalam. Entah aku bodoh atau tidak telah membuang-buang waktu malamku hanya untuk rasa yang tak aku mengerti—sebenarnya—.

Kini, aku sudah terbiasa akan rasa itu. Aku menyebutnya sebagai rindu tak terucap.  Rindu yang hanya ada untukmu.

Selasa, 12 November 2013

Selamat Hari Ayah Nasional!♥

Selamat Hari Ayah Nasional untuk seluruh Ayah-Ayah yang hebat dan khususnya untuk Ayah gue yang hebat.


Berhubung kemarin adalah Hari Ayah Nasional. Maka, gue mau certain sedikit tentang bokap gue. Yang pertama-tama, gue mau ngucapin SELAMAT HARI AYAH NASIONAL, yah. KAMI SAYANG BANGET SAMA AYAH.


Lelaki yang lahir pada tanggal 14 Agustus (gue ngga pernah apal tahun lahir ortu)*anak durhaka kamu, Fan!* ini bernama Bapak Agus Saripudin. Lelaki yang menikahi ibu gue sejak 18tahun yang lalu ini bukanlah seorang yang terlahir dengan harta yang berlimpah. Lahir disebuah desa di Jawa Tengah, dan harus rela ditinggal pergi Ibunya sejak kecil karena meninggal, membuat dia harus mandiri. Anak terakhir diantara saudara-saudara perempuannya yang lain tidak membuat dia besar dengan sikap kelemar-kelemer *Fan, itu bahasa apaaaaa?*


Lelaki ini selalu rajin membaca Koran dan menonton berita dikala libur atau pulang kerja. Lelaki yang rela menghemat jam tidurnya untuk mencari nafkah untuk kami (anak dan istri) yang ia sayangi. Ayah selalu rela menahan rasa kantuknya demi menunggu anak perempuannya ini pulang. Ayah yang selalu mengirim pesan ketika anak-anaknya belum kunjung tiba dirumah seperti jam biasanya. Ayah yang selalu rela mengantar dan menjemput kemanapun dan dimanapun. Ayah, tak pernah mengeluh saat lama menungguku ditempat yang aku minta untuk menjemputku, seberapa lamapun itu. Ia hanya mengabariku bahwa ia sedang menungguku dan tak pernah aku lihat raut kesal saat itu. Selalu rela menyisakan seberapa gajinya untuk kesenangan anak-anaknya, meski tak mudah mendapatkan itu.

Senin, 11 November 2013

Maaf karena keingintahuanku.


Dalam postingan kali ini, gue lagi ngga tahu mau ngapain. Besok libur dan akhirnya gue memutuskan untuk berdiam diri didepan notebook ini *bukan bertapa ya.* Berdiam didepan notebook gue fikir bisa mencurahkan segala kata-kata yang udah mau tercurah. Seperti yang pernah gue bilang dalam http://fannysaufinaa.blogspot.com/2013/10/kenapa-menulis_19.html. Gue termasuk orang yang bisa mengungkapkan segala dengan tulisan. Cara yang berbeda.

Gue termasuk orang yang kepo. Entah apa alasan detailnya, yang gue tau cuma gue pengen selalu ada disaat mereka butuh. Ya, kadang ngga tepat saatnya dan kekepoan yang terlalu dalam itu ngga bagus. Gue sadar itu, tapi kekepoan gue muncul gitu aja saat disekeliling gue ngga beres. Yang gue tahu hanya, gue pengen mereka selalu bahagia, meski akhirnya itu mustahil.

Terkadang, rasa yang gue sebut dengan care itu memaksa gue mengeluarkan kata-kata yang terlalu ‘memojokkan’. Bukan berniat untuk membuat mereka terpojok, hanya berniat membuka mata mereka. Gue bukan tipe orang yang suka ngasih saran dengan kata-kata yang perez. Jujur itu yang lebih baik menurut gue. Menurut gue, masalah ngga akan selesai dengan kata-kata yang perez, semuanya harus terang-terangan.

Tapi nyatanya gue salah. Iya gue tahu, gue salah.

Sabtu, 09 November 2013

Tipe orang yang menyebalkan.......

Salam malam minggu sobat jomblo;;) 

Berhubung gue lagi bete (yang selalu datang) dimalam minggu, jadi gue memutuskan untuk membuat postingan. Ya, setidaknya itu lebih baik daripada harus meratapi malam minggu sendirian, atau nonton tv yang ujung2nya bete gara-gara ngeliat acara tv yang isinya pacaran melulu.*sungguh miris nasibmu, mblo*
Disini gue mau memosting beberapa tipe orang yang paling menyebalkan versi gue. Didunia ini emang ngga ada yang sempurna, secantik atau seganteng, sebaik-baiknya orang pasti ada sisi menyebalkannya dimata orang lain. Dan disini gue bakal ngejabarinnya;

·         Orang yang ingkar janji.
Tipe orang yang suka kaya gini, ini super duper nyebelinnya. Kebayang nggak, ketika lu udah rapi dan ternyata doi ngebatalin janjinya gitu aja? Rasanya, mau gue cemplungin ke lautan yang paling dalam biar ngga bisa bikin janji-janji seenak jidatnya aja.

·         Kalo sehabis nanya ngga bilang ‘Terimakasih’.
Nah, selanjutnya ini dia. Hal sepele kaya gini aja, bisa bikin gue kesel sendirian ‘ngga punya pacar sih, jadinya sendirian deh.”
Bukan Karena gila kata ‘terimakasih’, tapi menurut gue itu sebuah rasa lebih menghargai orang lain. Coba bayangin lagi, ketika lo lagi sibuk-sibuknya terus ada yang nanya dengan buru-buru. Ngga sabaran banget nanyanya, dan ketika lo udah jawab dengan jurus menghilangnya dia pergi gitu aja tanpa bilang terimakasih. Jleb banget.

·         Ngga konsisten

Kamis, 31 Oktober 2013

Surat Dari Pengagum Rahasiamu.


Hai. Apa kabar kamu? Ini hanya pertanyaan basa-basi. Karena aku tahu kamu sedang baik-baik saja. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan untukmu. Kamu tidak ingin bertanya kabarku? Sudahlah, tidak penting. Tapi, yang harus kamu  tahu. Aku tidak benar-benar baik saat kamu menghilang dari pandanganku.

Kalo aja kamu baca surat yang tak tersampai ini, kamu akan tahu apa yang aku rasakan selama ini.

Dari mana aku harus memulai?

Kamu ingat, saat kita baru masuk SMK? Kita satu gugus. Awalnya biasa ngeliat kamu. Sampai akhirnya aku ngerasa tatapanmu berbeda. Tatapan itu selalu mampu membuat pipiku merona. Sebelum semuanya semakin besar, aku menapik rasa yang mulai tak menentu itu. Rasa dimana aku selalu menantikan kehadiranmu. Rasa yang tak menentu saat kau mulai tak ada dihadapanku. Rasa ini yang membuatku selalu menguping segala perkataanmu. Tapi, ternyata aku salah. Semakin besar aku menampik segalanya, semakin besar rasa itu hadir.

Rabu, 30 Oktober 2013

Dia.

Dia yang terlalu menutup hatinya, kini mulai meragu. Hatinya mulai merasa getaran yang tak pernah ia rasa sebelumnya. Tentang cinta dan dia, sosok yang mampu memberikan kesan nyaman dihari-harinya. Sosok yang baru-baru ini selalu dinantikan kehadirannya. Dia yang terlalu menutup hatinya, kini mulai bimbang. Mata dan hatinya menjadi tak bersahabat. Otaknya pun menjadi sangat kacau.

Dia lengah. Kini hatinya tak lagi benar-benar ia tutup. Seseorang telah membukanya secara perlahan. Menempatkan satu tempat tidak terlalu dalam, sekuat tenaga ia selalu berusaha untuk menolak kehadirannya. Tapi, rasa rindunya tak dapat dibohongi. Ia mencari-cari sosok itu.

Dia yang telah berjanji tak ingin mencinta, kini mulai melanggar ucapannya. Rasa cinta yang selalu ia tolak akhirnya meluluhkan hatinya. Membuka sedikit demi sedikit pintu dihatinya. Masih berusaha menampiknya, namun cinta pun tak pernah menyerah.

Dia yang menatap semuanya biasa saja, mulai berbinar-binar karena cinta melukiskan beberapa warna dihidupnya. Kini, hidupnya yang tak berwarna menjadi berwarna. Hidupnya lebih cerah. Selalu ada senyuman yang menghiasi bibir mungilnya.