Rabu, 20 Agustus 2014

Gantung

“Kita ini apa Ki?” Akhirnya pertanyaan itu terucap dari bibir Nadya yang sedari tadi hanya terbungkam memperhatikan lelakinya yang sibuk dengan laptopnya.

Riki tertawa, ia menatap perempuannya yang sudah tak dihiasi senyuman—yang biasanya selalu ia hadirkan kala bersama Riki. “Kita?” Riki mengangkat alis kanannya, “Ya, kita seperti ini.” Jawabnya dengan sangat santai. Inilah Riki yang ia cinta, lelaki yang tak pernah mau mengambil serius untuk sebuah urusan yang ia anggap sepele.

“Seperti ini bagaimana?” Nadya masih menuntut jawaban yang ingin ia dengar. “Apa kita akan selalu seperti ini?”

Riki meletakkan laptopnya dimeja, ia menatap perempuannya yang tak menghiraukan tatapannya. Ia sedang menahan segala perasaannya, ia tak ingin menumpahkan segalanya disini, disebuah restoran kesukaan mereka.

Riki masih menatap Nadya, tak menjawab pertanyaan Nadya yang sebenarnya tak ia mengerti maksudnya. Menggenggam tangannya dengan sangat erat, menyalurkan aliran positif dari genggaman tangannya. Berharap perasaan perempuannya menjadi lebih baik dengan genggaman tangannya.

Beberapa menit hanya seperti itu, Nadya menunduk menahan semuanya dan Riki dengan ketenangannya hanya menggenggam tangan Nadya.

“Kamu minta aku ketemu sama Mama kamu, sedangkan aku ngga tau kita ini apa, Ki.” Keluhnya. Pertahanannya pecah, dia menangis. “Kalau dia tanya kita ini apa, aku harus jawab apa?” Katanya lagi, Nadya menatap Riki yang masih menatapnya.

Dia tertawa kecil. “Kamu jangan nangis gini. Nanti kalo diliat orang gimana?” Riki mengelap airmata yang mengalir di pipi gadis yang sangat ia cintai ini. “Mama ngga akan nanya itu, Nadya.”

Nadya terdiam, entah bagaimana bisa ia jatuh cinta kepada lelaki yang tak pernah memberinya kejelasan tentang hubungannya ini? Entah bagaimana bisa dia merasa nyaman saat Riki selalu memperlakukannya semanis ini? Entah bagaimana bisa ia tidak pernah bisa menuntut suatu kejelasan untuk hubungan mereka.

“Ki, seharusnya kamu tahu apa maksud pertanyaan aku ini.”

Riki menggeleng, “Kalau aku tidak tahu bagaimana?” Tanyanya santai. Ini yang ia sebalkan dari lelaki yang sudah tiga bulan belakangannya ini menjadi teman dekatnya.

~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°

Apa yang harus Nadya lakukan lagi untuk mendapatkan sebuah kejelasan untuk hubungannya dengan Riki? Hubungan yang sudah ia jalani lebih dari tiga bulan ini hanya berjalan tanpa pernah adanya kejelasan yang pasti. Riki selalu mengatakan ia menyayangi Nadya, tapi ia tak pernah menanyakan hal yang serupa kepada Nadya. Ia membiarkan Nadya menyimpannya sendiri.

Mereka berjalan layaknya orang pacaran, tapi jika ada yang bertanya tentang hubungan mereka, Nadya akhirnya hanya terdiam membiarkan Riki mengatakan ‘Kita lagi dekat’ berulang kali. Hanya itu, berulang kali. Hingga akhirnya, Nadya sudah tak bisa menerima kalimat ’kita lagi dekat’ milik Riki. Hatinya bergejolak, ia inginkan sebuah kejelasan. Ia ingin Riki membiarkan hal yang seharusnya ia sampaikan—perasaannya— yang ia selalu pendam.

“Kamu marah sama aku?” Riki menghampiri meja Nadya yang berada didepan.

“Kenapa harus marah?”

“Terus apa namanya kalo ngga marah? Telepon aku nggak kamu terima, aku sms ngga dibales, bbm juga cuma diread.” Katanya yang kini sedang berjongkok disamping Nadya.

“Kayanya ini masalah kalian berdua, gue ke kantin dulu ya.” Lena, teman satu meja Nadya pun meninggalkannya. Membiarkan sepasang insan yang sedang jatuh cinta ini menyelesaikan masalah yang ada diantara mereka.

“Nad….” Panggilnya dengan nada yang sangat Nadya suka. Menurutnya, jika Riki sudah memanggilnya dengan nada seperti itu, tandanya ia sedang merasa bersalah dan akhirnya Nadya luluh untuk berbaikan dengan Riki. Tapi, kini semuanya berbeda. Nadya sudah tak bisa menerima penjelasan Riki kecuali kalimat yang ia ingin dengar, bahkan untuk saat ini, ia sudah tak mengharapkannya.

“Kalau aku salah, bilang. Jangan diam kaya gini.”

Nadya menatap Riki yang masih berjongkok. Wajah lelakinya tak seperti biasanya, sekarang ia terlihat sedang kacau. Matanya sangat menunjukkan kalau lelaki ini tidak menikmati tidur semalamnya. “Kamu yang buat aku kaya gini, Ki. Aku cuma mau kamu kasih kejelasan buat hubungan kita, tapi apa? Kamu ngga pernah peka tentang itu, Ki.”

“Kejelasan hubungan kita?” Tanyanya tak mengerti.

“See?” Nadya jengkel. Dia benar-benar tak mengerti kenapa Riki tak sepeka ini terhadap keinginannya? “Terserah kamu lah, Ki. Aku capek.” Nadya meninggalkan Riki yang masih menantikan setiap kata yang ia ucapkan.

“Nadya… Nad….” Ia menggenggam lengan Nadya, tak mengizinkan perempuannya meninggalkannya dan semakin membuatnya kacau. “Kamu mau kita pacaran?” Tanyanya. “Oke, kita pacaran. Selesai kan masalahnya?”

Nadya membalikkan badannya, melihat lelaki yang memperhatikannya dengan tatapan sangat dalam. “Ngga perlu.” Dia menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu, kalo kamu bilang itu semua karena terpaksa.”

~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°

Semenjak saat itu, mereka semakin jarang terlihat bersama-sama, bahkan saling tersenyum pun sangat jarang terlihat. Mereka seperti mantan kekasih yang saling menjaga jarak agar bisa dengan mudah saling merelakan. Terkadang, melupakan bukan satu-satunya hal yang harus dilakukan sepasang mantan kekasih, mereka harus merelakannya juga. Dan merelakan dan melupakan bukan hal yang mudah untuk dua manusia yang masih saling cinta.

Keinginan tentang hubungan yang sudah tak bisa Nadya anggap sepele lagi lah yang membuatnya menjauhi Riki, lelaki yang akhirnya berjanji tak mengganggunya lagi. Lelaki yang akhirnya membiarkannya sendiri. Lelaki yang masih sangat ingin memperjuangkan Nadya dikala Nadya sudah tak menghiraukannya lagi. Dan akhirnya lelaki yang membiarkan Nadya hidup dengan dunianya sendiri, dunia yang mungkin tak ia mengerti.

Hari ini tepat empat tahun semuanya berlalu, Nadya sudah menyelesaikan kuliahnya, meraih gelar sastra yang ia inginkan sejak lama. Hari ini adalah harinya untuk menunjukkan kepada semuanya bahwa ia berada di keadaan baik-baik saja. Hari ini ia ingin menunjukkan keberhasilan yang pernah menjadi janjinya bersama Riki. Hari ini adalah kelulusannya. Hari dimana ia akan tampil dengan sangat anggun menggunakan toga dikepalanya.

Sudah hampir tiga puluh menit ia hanya berdiri didepan meja cerminnya, memandangi seorang gadis berusia 22 tahun yang sedang berusaha tegar. Kalian memang bisa berbohong kepada semuanya, tapi apa kalian bisa untuk berbohong kala kalian sedang sendiri? Hati tetap hati yang tak pernah bisa dibohongi.

“Kamu masih menginginkannya, Nad.” Katanya kepada gadis yang berada didalam cerminnya. “Seharusnya kamu lewati hari ini bersama dia.” Katanya lagi. Nadya tak menangis, tetapi hatinya terasa sangat sesak. Ia rindu dengan genggaman tangan Riki, senyuman dan tawanya yang khas, dan nada sayangnya yang membuatnya selalu ingin bersamanya.

Nadya memang pintar. Pintar menyembunyikan segala perasaan kacaunya. Pintar bersikap biasa saja, kala hatinya sedang bergejolak hebat. Pintar menahan rasa rindunya yang sudah ia pendam sejak lama. Ya, Nadya dan Riki memang sudah tak pernah berjumpa. Riki menghilang sejak hari kelulusan mereka, ia tak berpamitan dengan Nadya yang masih mencarinya kala itu.

Satu demi satu terlewati dengan lancar. Nadya masih terus memperlihatkan senyumnya yang manis, tak memperdulikan hatinya yang kacau. Menurutnya, hari ini adalah hari kelulusannya bukan hari rindunya kepada Riki.

Disamping kanan dan kirinya sudah berdiri dengan bangga Papah-Mamahnya. Mereka sedang menjalani sesi foto bersama berlatarkan gedung kampus Nadya yang dicat warna putih bersih.

“Aku juga ingin foto denganmu.” Seorang lelaki datang menghampiri mereka yang baru saja berfoto keluarga. Lelaki yang segera bersalaman dengan Mamah-Papahnya Nadya ini masih membuat Nadya tidak percaya.

“Bagaimana bisa kau ada disini?”

“Aku tahu apapun tentangmu.” Katanya, ia meraih tangan Nadya dan menggenggamnya. “Masih adakah cinta itu untukku, Nad?”

Nadya tersipu malu, bagaimana bisa lelaki yang ia fikir sudah tak memperdulikannya kini berada dihadapannya? Bagaimana bisa ia tak sadar, ada seseorang yang selalu memperhatikannya?

Nadya masih terdiam memperhatikan lelaki yang sedari tadi menatapnya menjadi salah tingkah. “Kamu kenapa, Ki?” Nadya tertawa. Lelaki yang selama ini ia lihat selalu santai kini berdiri didepannya dengan tingkah yang tak biasa. Ia tak terlihat sesantai biasanya.

“Kamu kapan wisuda?” Nadya mengalihkan pembicaraan, berusaha menormalkan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Minggu kemarin.” Jawabnya singkat. “Aku serius Nad.” Ia menghembuskan nafasnya, mengurangi rasa grogi didirinya tapi membuat jantung Nadya menjadi semakin cepat berdetaknya. “Sejak empat tahun yang lalu, aku nunggu hari ini, dimana aku bisa melihat kamu yang tampil dengan sangat cantiknya. Dan hari ini, aku ingin meminta kau untuk menjadi pendampingku.” Riki berlutut dengan lutut kanan menyentuh rumput, ia mengeluarkan sebuah kotak cincin yang sedari tadi ia simpan di kantong jasnya. “Bersediakah kau menjadi istri dari seorang penulis sepertiku?”

Nadya tidak berkata apa-apa, pipinya merona bahagia, airmatanya menetes begitu saja, ia tak pernah membayangkan sebelumnya Riki akan datang lagi. Dan kini, lelaki yang ia tinggalkan karena tak memberinya kejelasan sedang berlutut dihadapannya dan ditonton banyak orang.

Nadya memberikan tangan kanannya kepada Riki. “Aku mau, Ki.” Katanya bahagia.

Sebuah cincin sederhana terpasang dengan sangat cantik dijari manis milik Nadya. Cincin dengan ukiran inisial namanya dan Riki kini sudah membuyarkan segala perasaan yang ia pendam selama ini. Riki mengecup kening Nadya sangat lembut. Ya, empat tahun berlalu tak membuat Riki berubah, RIki tetaplah Riki yang selalu mampu memperlakukan Nadya dengan sangat lembutnya.

Terimakasih sudah membaca;-)

1 komentar:

  1. Hehe iya kak, terimakasih masukannya dan udah berkunjung. Oke, nanti pasti saya baca-baca;)

    BalasHapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.