“Kita ini apa Ki?” Akhirnya
pertanyaan itu terucap dari bibir Nadya yang sedari tadi hanya terbungkam
memperhatikan lelakinya yang sibuk dengan laptopnya.
Riki tertawa, ia menatap
perempuannya yang sudah tak dihiasi senyuman—yang biasanya selalu ia hadirkan
kala bersama Riki. “Kita?” Riki mengangkat alis kanannya, “Ya, kita seperti
ini.” Jawabnya dengan sangat santai. Inilah Riki yang ia cinta, lelaki yang tak
pernah mau mengambil serius untuk sebuah urusan yang ia anggap sepele.
“Seperti ini bagaimana?” Nadya
masih menuntut jawaban yang ingin ia dengar. “Apa kita akan selalu seperti
ini?”
Riki meletakkan laptopnya dimeja,
ia menatap perempuannya yang tak menghiraukan tatapannya. Ia sedang menahan
segala perasaannya, ia tak ingin menumpahkan segalanya disini, disebuah
restoran kesukaan mereka.
Riki masih menatap Nadya, tak
menjawab pertanyaan Nadya yang sebenarnya tak ia mengerti maksudnya.
Menggenggam tangannya dengan sangat erat, menyalurkan aliran positif dari
genggaman tangannya. Berharap perasaan perempuannya menjadi lebih baik dengan
genggaman tangannya.
Beberapa menit hanya seperti itu,
Nadya menunduk menahan semuanya dan Riki dengan ketenangannya hanya menggenggam
tangan Nadya.
“Kamu minta aku ketemu sama Mama
kamu, sedangkan aku ngga tau kita ini apa, Ki.” Keluhnya. Pertahanannya pecah,
dia menangis. “Kalau dia tanya kita ini apa, aku harus jawab apa?” Katanya
lagi, Nadya menatap Riki yang masih menatapnya.
Dia tertawa kecil. “Kamu jangan
nangis gini. Nanti kalo diliat orang gimana?” Riki mengelap airmata yang
mengalir di pipi gadis yang sangat ia cintai ini. “Mama ngga akan nanya itu,
Nadya.”
Nadya terdiam, entah bagaimana
bisa ia jatuh cinta kepada lelaki yang tak pernah memberinya kejelasan tentang
hubungannya ini? Entah bagaimana bisa dia merasa nyaman saat Riki selalu
memperlakukannya semanis ini? Entah bagaimana bisa ia tidak pernah bisa
menuntut suatu kejelasan untuk hubungan mereka.
“Ki, seharusnya kamu tahu apa
maksud pertanyaan aku ini.”
Riki menggeleng, “Kalau aku tidak
tahu bagaimana?” Tanyanya santai. Ini yang ia sebalkan dari lelaki yang sudah
tiga bulan belakangannya ini menjadi teman dekatnya.
~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Apa yang harus Nadya lakukan lagi
untuk mendapatkan sebuah kejelasan untuk hubungannya dengan Riki? Hubungan yang
sudah ia jalani lebih dari tiga bulan ini hanya berjalan tanpa pernah adanya
kejelasan yang pasti. Riki selalu mengatakan ia menyayangi Nadya, tapi ia tak
pernah menanyakan hal yang serupa kepada Nadya. Ia membiarkan Nadya
menyimpannya sendiri.
Mereka berjalan layaknya orang
pacaran, tapi jika ada yang bertanya tentang hubungan mereka, Nadya akhirnya
hanya terdiam membiarkan Riki mengatakan ‘Kita
lagi dekat’ berulang kali. Hanya itu, berulang kali. Hingga akhirnya, Nadya
sudah tak bisa menerima kalimat ’kita
lagi dekat’ milik Riki. Hatinya bergejolak, ia inginkan sebuah kejelasan.
Ia ingin Riki membiarkan hal yang seharusnya ia sampaikan—perasaannya— yang ia
selalu pendam.
“Kamu marah sama aku?” Riki
menghampiri meja Nadya yang berada didepan.
“Kenapa harus marah?”
“Terus apa namanya kalo ngga
marah? Telepon aku nggak kamu terima, aku sms ngga dibales, bbm juga cuma
diread.” Katanya yang kini sedang berjongkok disamping Nadya.
“Kayanya ini masalah kalian berdua,
gue ke kantin dulu ya.” Lena, teman satu meja Nadya pun meninggalkannya.
Membiarkan sepasang insan yang sedang jatuh cinta ini menyelesaikan masalah
yang ada diantara mereka.
“Nad….” Panggilnya dengan nada yang
sangat Nadya suka. Menurutnya, jika Riki sudah memanggilnya dengan nada seperti
itu, tandanya ia sedang merasa bersalah dan akhirnya Nadya luluh untuk
berbaikan dengan Riki. Tapi, kini semuanya berbeda. Nadya sudah tak bisa
menerima penjelasan Riki kecuali kalimat yang ia ingin dengar, bahkan untuk
saat ini, ia sudah tak mengharapkannya.
“Kalau aku salah, bilang. Jangan
diam kaya gini.”
Nadya menatap Riki yang masih
berjongkok. Wajah lelakinya tak seperti biasanya, sekarang ia terlihat sedang
kacau. Matanya sangat menunjukkan kalau lelaki ini tidak menikmati tidur
semalamnya. “Kamu yang buat aku kaya gini, Ki. Aku cuma mau kamu kasih
kejelasan buat hubungan kita, tapi apa? Kamu ngga pernah peka tentang itu, Ki.”
“Kejelasan hubungan kita?”
Tanyanya tak mengerti.
“See?” Nadya jengkel. Dia
benar-benar tak mengerti kenapa Riki tak sepeka ini terhadap keinginannya?
“Terserah kamu lah, Ki. Aku capek.” Nadya meninggalkan Riki yang masih
menantikan setiap kata yang ia ucapkan.
“Nadya… Nad….” Ia menggenggam
lengan Nadya, tak mengizinkan perempuannya meninggalkannya dan semakin
membuatnya kacau. “Kamu mau kita pacaran?” Tanyanya. “Oke, kita pacaran.
Selesai kan masalahnya?”
Nadya membalikkan badannya,
melihat lelaki yang memperhatikannya dengan tatapan sangat dalam. “Ngga perlu.”
Dia menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu, kalo kamu bilang itu semua karena
terpaksa.”
~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Semenjak saat itu, mereka semakin
jarang terlihat bersama-sama, bahkan saling tersenyum pun sangat jarang terlihat.
Mereka seperti mantan kekasih yang saling menjaga jarak agar bisa dengan mudah
saling merelakan. Terkadang, melupakan bukan satu-satunya hal yang harus
dilakukan sepasang mantan kekasih, mereka harus merelakannya juga. Dan
merelakan dan melupakan bukan hal yang mudah untuk dua manusia yang masih
saling cinta.
Keinginan tentang hubungan yang
sudah tak bisa Nadya anggap sepele lagi lah yang membuatnya menjauhi Riki,
lelaki yang akhirnya berjanji tak mengganggunya lagi. Lelaki yang akhirnya
membiarkannya sendiri. Lelaki yang masih sangat ingin memperjuangkan Nadya
dikala Nadya sudah tak menghiraukannya lagi. Dan akhirnya lelaki yang
membiarkan Nadya hidup dengan dunianya sendiri, dunia yang mungkin tak ia
mengerti.
Hari ini tepat empat tahun
semuanya berlalu, Nadya sudah menyelesaikan kuliahnya, meraih gelar sastra yang
ia inginkan sejak lama. Hari ini adalah harinya untuk menunjukkan kepada
semuanya bahwa ia berada di keadaan baik-baik saja. Hari ini ia ingin
menunjukkan keberhasilan yang pernah menjadi janjinya bersama Riki. Hari ini
adalah kelulusannya. Hari dimana ia akan tampil dengan sangat anggun
menggunakan toga dikepalanya.
Sudah hampir tiga puluh menit ia
hanya berdiri didepan meja cerminnya, memandangi seorang gadis berusia 22 tahun
yang sedang berusaha tegar. Kalian memang bisa berbohong kepada semuanya, tapi
apa kalian bisa untuk berbohong kala kalian sedang sendiri? Hati tetap hati yang
tak pernah bisa dibohongi.
“Kamu masih menginginkannya,
Nad.” Katanya kepada gadis yang berada didalam cerminnya. “Seharusnya kamu
lewati hari ini bersama dia.” Katanya lagi. Nadya tak menangis, tetapi hatinya
terasa sangat sesak. Ia rindu dengan genggaman tangan Riki, senyuman dan
tawanya yang khas, dan nada sayangnya yang membuatnya selalu ingin bersamanya.
Nadya memang pintar. Pintar
menyembunyikan segala perasaan kacaunya. Pintar bersikap biasa saja, kala
hatinya sedang bergejolak hebat. Pintar menahan rasa rindunya yang sudah ia
pendam sejak lama. Ya, Nadya dan Riki memang sudah tak pernah berjumpa. Riki
menghilang sejak hari kelulusan mereka, ia tak berpamitan dengan Nadya yang
masih mencarinya kala itu.
Satu demi satu terlewati dengan
lancar. Nadya masih terus memperlihatkan senyumnya yang manis, tak
memperdulikan hatinya yang kacau. Menurutnya, hari ini adalah hari kelulusannya
bukan hari rindunya kepada Riki.
Disamping kanan dan kirinya sudah
berdiri dengan bangga Papah-Mamahnya. Mereka sedang menjalani sesi foto bersama
berlatarkan gedung kampus Nadya yang dicat warna putih bersih.
“Aku juga ingin foto denganmu.”
Seorang lelaki datang menghampiri mereka yang baru saja berfoto keluarga.
Lelaki yang segera bersalaman dengan Mamah-Papahnya Nadya ini masih membuat
Nadya tidak percaya.
“Bagaimana bisa kau ada disini?”
“Aku tahu apapun tentangmu.”
Katanya, ia meraih tangan Nadya dan menggenggamnya. “Masih adakah cinta itu
untukku, Nad?”
Nadya tersipu malu, bagaimana
bisa lelaki yang ia fikir sudah tak memperdulikannya kini berada dihadapannya?
Bagaimana bisa ia tak sadar, ada seseorang yang selalu memperhatikannya?
Nadya masih terdiam memperhatikan
lelaki yang sedari tadi menatapnya menjadi salah tingkah. “Kamu kenapa, Ki?”
Nadya tertawa. Lelaki yang selama ini ia lihat selalu santai kini berdiri
didepannya dengan tingkah yang tak biasa. Ia tak terlihat sesantai biasanya.
“Kamu kapan wisuda?” Nadya
mengalihkan pembicaraan, berusaha menormalkan jantungnya yang berdetak lebih
cepat dari biasanya.
“Minggu kemarin.” Jawabnya
singkat. “Aku serius Nad.” Ia menghembuskan nafasnya, mengurangi rasa grogi
didirinya tapi membuat jantung Nadya menjadi semakin cepat berdetaknya. “Sejak
empat tahun yang lalu, aku nunggu hari ini, dimana aku bisa melihat kamu yang
tampil dengan sangat cantiknya. Dan hari ini, aku ingin meminta kau untuk
menjadi pendampingku.” Riki berlutut dengan lutut kanan menyentuh rumput, ia
mengeluarkan sebuah kotak cincin yang sedari tadi ia simpan di kantong jasnya.
“Bersediakah kau menjadi istri dari seorang penulis sepertiku?”
Nadya tidak berkata apa-apa,
pipinya merona bahagia, airmatanya menetes begitu saja, ia tak pernah
membayangkan sebelumnya Riki akan datang lagi. Dan kini, lelaki yang ia
tinggalkan karena tak memberinya kejelasan sedang berlutut dihadapannya dan
ditonton banyak orang.
Nadya memberikan tangan kanannya
kepada Riki. “Aku mau, Ki.” Katanya bahagia.
Sebuah cincin sederhana terpasang
dengan sangat cantik dijari manis milik Nadya. Cincin dengan ukiran inisial
namanya dan Riki kini sudah membuyarkan segala perasaan yang ia pendam selama
ini. Riki mengecup kening Nadya sangat lembut. Ya, empat tahun berlalu tak
membuat Riki berubah, RIki tetaplah Riki yang selalu mampu memperlakukan Nadya
dengan sangat lembutnya.
Terimakasih sudah membaca;-)
Hehe iya kak, terimakasih masukannya dan udah berkunjung. Oke, nanti pasti saya baca-baca;)
BalasHapus