Rabu, 20 Agustus 2014

Writing from the heart.


‘Kerjakanlah sesuatu yang kau suka dengan hatimu, maka pekerjaan itu akan sampai ke hati yang melihatnya’


Entah dari siapa kalimat itu saya dapat pertama kali, meskipun saya lupa siapa yang mengucapkannya, tapi saya tidak pernah melupakan kalimat itu. Berpegang teguh dengan kalimat itu membuat saya melakukan segala hal dengan keinginan hati saya, menentukan apa yang ingin saya bagi dengan kalian semua—para pembaca—yang selalu bersedia mampir ke blog saya, merangkai kata-kata yang akhirnya saya sembahkan untuk kalian, menentukan apa yang ingin saya lakukan dalam sehari-hari, menentukan kemana saya akan melanjutkan pendidikan saya setelah saya lulus SMK, jurusan apa yang saya akan pilih disaat saya kuliah dan menentukan siapa yang saya ingin cintai. Ya, saya lakukan semua berlandasan dengan hati saya, keinginan saya, bukan karena paksaan orang disekeliling saya.

Begitu pula dengan menulis. Tulislah apapun yang hati kamu ingin sampaikan kepada para pembaca-mu, apapun itu, amarahmu, kekesalanmu, kesedihanmu atau kamu yang sedang bahagia. Tulislah dilandasi hatimu. Jangan pernah menulis karena terpaksa. Bukankah yang terpaksa itu tidak pernah enak akhirnya? Begitu juga dengan menulis.

Menulis menurut saya seperti kita sedang menggali apa yang kita rasakan sebenarnya, kamu bisa berkata A kepada temanmu meski kamu sedang merasakan B, tapi jika kamu menulis, apa kamu bisa menulis B saat hatimu mengatakan A? Coba saja, kalau tidak akhirnya tulisanmu akan tidak fokus dan kesannya tertuju kepada A. Ya, secara tidak langsung, dengan menulis kamu belajar untuk tidak membohongi dirimu sendiri. Hatimu, terlebihnya.

Bagaimana agar bisa menciptakan sebuah tulisan yang bagus? Bagaimana membuat para pembaca senang membaca tulisan kita? Jujur, sampai saat ini saya tidak pernah tahu bagaimana membuat para pembaca bisa suka dengan tulisan saya. Saya selama ini hanya menulis segala yang saya rasa, tidak pernah berfikir ada yang membacanya atau tidak, ada yang mengomennya atau tidak. Mungkin, kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri saat menulis, tidak perlu mengikuti gaya penulis yang sudah menerbitkan buku-buku best seller, kamu hanya perlu menjadi dirimu. Dan lagi-lagi, hati akan tahu apa yang pantas untuk jatuh dihati.

Peka-lah terhadap lingkunganmu, terhadap perasaanmu, dengan begitu kamu akan tahu apa yang sebenarnya ingin kamu tulis, kamu tahu apa yang tiba-tiba ingin kamu sampaikan. Dan setelah kamu memulai untuk menulisnya, kamu akan menikmati setiap kata-kata yang kamu tuliskan tanpa kamu kehendaki. Akhirnya, kamu tidak menyadari bahwa kamu sudah menuliskan sebuah artikel yang berasal dari hatimu.

Terlalu berat nggak sih bicara hati mulu dari tadi?

Dari ke-sok-tauan saya diatas, saya ingin menutup tulisan saya dengan ke-sok-tauan saya yang berikutnya;

Hanya kamu yang tahu apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya, hanya kamu yang tahu apa yang akan kamu tulis sebenarnya, mungkin orang lain bisa menjiplak tulisanmu, tapi hatimu tidak, dia tidak pernah bisa menjiplak apa yang ada dihatimu. Hatimu, idemu hanya milikmu.

Jadi, gunakanlah hatimu untuk menyentuh hatinya, errr maksudku pembacamu;)

Jika ada kritik dan saran untuk ke-sok-tauan saya diatas, akan saya terima dengan senang hati. Semoga kita bisa terus menuliskan segala hal yang ingin kita tulis, terus berkarya karena karya-mu yang akan membuat kau takkan pernah terlupakan.

Jakarta, 20 Agustus 2014.

Salam dari seorang cewek yang ingin terus menulis.



Fanny Saufina Nurul Jannah.

2 komentar:

  1. semoga dengan menulis dapat melihat manfaatnya dan terus menulis lebih baik lagi yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya kak, aamiin;-) Terimakasih udah berkunjung ya:-)

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.