Kamis, 07 Agustus 2014

Jatuh Cinta

Tetesan air hujan perlahan-lahan mulai membasahi halaman rumahnya, langit sore yang sedari tadi sudah mendung pun semakin lama semakin menangis dengan deras. Udara sore ini sangat dingin untuk seorang gadis yang sedang berdiri didepan jendela kamarnya. Ia memandangi air yang turun dari langit, mencoba meresapi wewangian khas tanah yang dibuatnya, menikmati suara tetesan air hujan diatas gentingnya.

Hujan masih terus membasahi sorenya, menambah kesan galau untuk setiap insan yang sedang patah hatinya, begitu pula Reni, gadis yang sedari tadi hanya memperhatikan air hujan dengan rasanya yang tak menentu. Gadis yang baru saja mengenal lelaki, gadis yang baru merasakan indahnya hidup dalam rasa cinta, gadis yang akhirnya merasakan sakitnya cinta. Ia lupa tentang satu hal yang seharusnya selalu ia ingat, ketika kamu jatuh cinta maka nikmatilah, rasakan indahnya bernafas dengan cinta. Tapi jangan lupakan tentang perih yang mungkin akan mengambil posisinya dalam cinta.

Gadis dengan postur tubuh mungil itu tak kunjung meninggalkan tempatnya berdiri, dia memandangi hujan yang semakin deras, satu tetesan airmatanya pun kini ikut mengalir tanpa hambatan, tak ada yang mencegahnya. Dadanya terasa sesak, hatinya terasa sakit, ia seperti baru menerima hantaman tepat dihatinya. Baru dua bulan yang lalu ia baru merasakan hatinya berdebar dengan sangat cepat, pipinya mulai merona saat bertemu dengan seseorang yang mengganggu waktu tidurnya, sebelum tidur ia selalu melamun, berkhayal bersama pangerannya. Indahnya jatuh cinta, gumamnya kala itu.

“Kenapa aku harus kenal sama kamu?” Ia semakin menangis. “Kenapa aku harus tertarik denganmu? Kenapa aku harus menyukaimu? Kenapa aku harus jatuh cinta?” Dia membalikkan tubuhnya.

Didepannya sedang berdiri gadis yang sedang patah hati, matanya terlihat sangat sendu, ia sangat berantakan hari ini, rambutnya tak ia catok seperti setiap paginya, wajahnya tak dihiasi bedak yang ada didepannya. Hari ini, ia seperti bukan Reni yang biasanya. Cinta sudah membuatnya sekacau ini, membuatnya tak nafsu untuk mencatok rambutnya pagi ini, membuatnya tak selera untuk menyantap roti yang sudah dihidangkan mamanya.

Airmatanya sudah tak menetes, namun matanya masih terasa sangat perih. Hatinya masih terasa sakit. Semakin sakit saat kaca dihadapannya seperti sedang memutar setiap kejadian yang ia lalui bersama lelakinya yang pergi entah kemana.

“Dimas.” Seseorang lelaki menghampirinya yang sedang duduk dikantin bersama temannya, lelaki yang selama ini ia pandang secara diam-diam.

Reni masih terpana dengan lelaki didepannya. Sebelumnya tak pernah ia bayangkan bahwa lelaki ini akan berdiri sedekat ini dengannya.

“Reni?”

Dia mengangguk, pipinya merona. Bagaimana bisa Dimas sudah mengetahui namanya, padahal mereka belum pernah berkenalan? Jangan-jangan……

Dimas tertawa, ah, wajahnya terlihat sangat tampan saat sedang tertawa. “Lihat dari nametagmu.” Katanya lagi.

Reni melihat nametagnya, ia tertawa geli dengan sikapnya. Jatuh cinta memang selalu bisa membuat orang menjadi aneh. Mereka tertawa.

Hari itu berlalu begitu cepat bagi Reni yang sedang jatuh cinta, jatuh cinta memang membuat waktu seakan berputar lebih cepat dari biasanya. Malam sudah datang, ia sudah tak berada disekolah lagi, ia sudah tak menggunakan seragam sekolahnya, tapi pipinya masih saja merona, berwarna merah muda, membuat wajahnya terlihat lebih cerah dari biasanya.

Semenjak saat itu, mereka selalu bersama, layaknya seorang teman yang sudah saling mengenal lama. Setiap tempat mereka datangi berdua, tak ada taman yang tak mereka kunjungi saat sore hari, melewati setiap detik menjelang matahari terbenam bersama, menikmati senja bersama, saling menatap langit yang mulai gelap, saling menunggu datangnya bintang, dan saling berkata dalam hati masing-masing.

“Kamu pernah jatuh cinta?” Dimas memulai perbincangan saat keduanya sedang menikmati fikirannya masing-masing.

Reni mengangguk, pipinya merona, hatinya mendesak ia berkata ‘kamu yang buat aku mengenal jatuh cinta’, tapi apa daya? Bibirnya hanya melengkungkan senyum indahnya.

“Menurutmu bagaimana cinta?”

“Indah.” Katanya, ia memejam matanya, menghadirkan lelaki yang sudah menemaninya lebih dari sebulan ini dalam kegelapan matanya. “Dengan cinta, aku melihat sisi lain kehidupan. Karena cinta, aku menjadi lebih banyak bersyukur dari biasanya. Aku seperti menari diantara bunga-bunga yang indah. Bersama cintalah, aku mendapatkan segala hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, berdebar, pipiku merona, aku menjadi sering tersenyum sendiri, aku menjadi sering berkaca.” Ia membuka matanya, langit sudah gelap, belum ada bintang disana, tapi langit saat itu tetep terlihat indah baginya. “Kamu pernah jatuh cinta?”

“Pernah.” Katanya, nadanya terdengar tak seperti nada Reni yang sedang jatuh cinta. Dimas terdengar seperti sedang membuka luka lama dihatinya yang menyakitkan untuknya. “Tapi, cinta pergi saat aku sedang menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Cintaku berkhianat saat aku sedang jatuh kedalamnya. Cinta memang indah saat pertama, Ya, aku rasa itu. Tapi, cinta menyakitkan saat pergi tanpa pamit.” Dia tertawa, “Cinta memang datang tanpa izin dan pergi tanpa pamit. Itu yang aku lupakan.” Katanya lagi.

Reni menatap wajah lelaki disampingnya. Lelakinya terlihat sedang merasakan luka yang sangat dalam. Luka yang tak seharusnya ia buka lagi.

“Kau sudah menyiapkan hatimu untuk sebuah sakit karena cinta?” Mata Dimas akhirnya bertemu dengan mata Reni yang sedari tadi memperhatikannya.

“Belum.”

“Cinta akan jauh terasa sakit saat kau tak menyiapkan hatimu untuk rasa sakit itu. Mereka memaksa masuk kedalam relung hatimu yang sudah penuh dengan cinta, dan itu yang menyakitkan. Ketika kamu jatuh cinta jangan lupakan tentang rasa sakit. Mereka selalu ada disaat yang sama.” Katanya, Dimas tersenyum. Senyumnya sangat manis sekali. Dimas bangkit dari tidurnya, membersihkan tubuh bagian punggungnya.

Reni masih diam, memahami setiap kata-kata yang di katakan Dimas. Apa cintanya untuk Dimas akan membuatnya sakit?

“Dengan siapa kau jatuh cinta?” Ia menengok Reni yang masih tertidur diatas rerumputan, menatap langit yang semakin gelap.

Reni diam. Ia mengesankan dirinya seperti tak mendengar pertanyaan Dimas, ia tidak tahu harus berkata jujur atau bohong, ia tidak tahu inikah waktu yang tepat untuk sebuah pengakuan atas perasaan selama ini?

“Kalau tidak mau menjawab tidak apa-apa, aku tidak me…………”

“Kamu.” Katanya memotong perkataan Dimas, hatinya semakin mendesaknya untuk berkata jujur. “Aku jatuh cinta denganmu, Dimas.” Katanya.

Hening. Tak ada jawaban berarti dari Dimas, bahkan Dimas tak menolehkan kepalanya untuk memberikan respon atas pernyataan cinta Reni. Mereka saling diam dalam fikiran masing-masing. Reni mengutuk dirinya yang dengan lancang mengatakan hal yang selama ini ia pendam, ia mengutuk dirinya yang dengan mudahnya merusaknya.

“Maaf, anggap saja tadi hanya sebuah pengakuan atas sebuah perasaan yang aku pendam. Maaf jika kau tak suka dengan kejujuranku.” Reni bangkit. Pipinya merah, bukan karena merona seperti biasanya tapi karena ia malu. Ia malu karena sudah mengatakan cinta kepada Dimas. “Aku pulang duluan.”

Sadar teman bicaranya sudah meninggalkannya, ia segera bangkit untuk mengejar langkah cepat Reni. “Ren, tunggu.” Dimas meraih tangan Reni, “Biar aku antar kau.”

“Nggak perlu kok, aku bisa…..”

“Aku akan sangat marah jika kamu menolaknya, bukankah memang selama ini aku selalu mengantarmu sampai rumah?”

Mereka pulang bersama. Reni mengalah dengan segala desakan Dimas yang ingin mengantarnya pulang. Dimas masih tak membahas pernyataan cintanya.

Setelah hari itu, semuanya berubah. Tak ada lagi tawa disaat senja di taman. Tak ada lagi perbincangan yang di kantin sekolah. Tak ada lagi lelaki yang berdiri didepan pintu kelasnya, untuk menungguinya keluar kelas saat pulang. Tak ada lagi motor yang terparkir didepan rumahnya saat hari minggu. Tak ada lagi pipi merona milik Reni. Semuanya berubah sejak pernyataan cinta Reni.

Kini, mereka saling tatap muka, tapi tak saling menyapa, hanya sebuah senyum singkat yang Dimas lemparkan setiap kali mereka bertemu di kantin. Setelahnya, mereka kembali ke aktivitas mereka masing-masing.

Siang itu adalah siang ketujuh sejak mereka tak pulang bersama. Hari ini langit terlihat tak cerah. Hujan pagi tadi mungkin masih membuat matahari malas menyinari dunia. Reni berjalan kearah gerbang sekolah, ia ingin cepat-cepat sampai rumah, sepertinya hari ini adalah hari yang melelahkan untuknya. Reni masih berjalan sendiri dikoridor sekolah yang ramai anak-anak. Berjalan diiringi fikirannya yang tak bertujuan, kakinya melangkah pasti, tapi matanya menatap kosong setiap yang ada disekolah ini.

Hingga matanya melihat lelaki yang ia kenal, lelaki yang beberapa bulan terakhir menjadi sangat dekat dengannya. lelaki yang sudah tujuh hari ini tak menyapanya. Dimas. Dia sedang bersama seorang gadis yang tak aku kenal, wajahnya tak pernah aku lihat.

Reni terus berjalan mendekati mereka, sebenarnya ia ingin kearah gerbang yang ada didekat mereka. Matanya masih terus memantau setiap gerak-gerik yang dikeluarkan Dimas dan perempuan dihadapannya.

“Aku juga masih mencintaimu, Ndra.” Suara itu terdengar jelas di telinganya.

Reni menghentikan langkahnya, lututnya terasa lemas.

“Lalu bagaimana dengan cewek yang akhir-akhir ini bersamamu?” Perempuan dihadapannya terlihat seperti bimbang tapi juga bahagia.

“Dia Reni. Teman sekolahku saja. Dia memang menyukaiku, tapi aku tidak ada perasaan apapun dengannya.” Dimas menjelaskan detail tentang Reni.

Tak jauh dari mereka, terdapat seorang perempuan yang sedang patah hatinya. Satu hantaman keras menghantam dadanya. Dihadapannya ia lihat dengan jelas, lelaki yang ia cintai sedang memeluk perempuan lain. Dihadapannya dapat dengan jelas ia dengar setiap perbincangan yang mereka bicarakan. Lututnya melemas. Ia tak pernah tahu akan sesakit ini rasanya jatuh cinta.

Airmatanya menetes. Ia berlari melewati Dimas dan perempuannya, yang bahkan tak menghiraukan dirinya yang sedang patah hati. Ia terus berlari, tak menghiraukan angkutan yang selalu menawarkan dirinya untuk naik kedalamnya. Ia terus berlari menyusuri trotoar jalanan yang tak begitu ramai. Beberapa pengendara motor sempat melihat kearahnya, lalu mencibirnya, tapi siapa yang peduli untuk itu? Apa mereka tahu rasa sakit yang ia rasakan saat ini? Apa mereka tahu bagaimana lututnya melemas  saat melihat lelaki yang ia cintai memeluk perempuan lain didepannya? Apa mereka tahu bagaimana rasa sakit yang ia rasakan saat ia sadar Dimas memang tak memperdulikannya yang sedang patah hati? Tidak. Mereka tidak tahu rasa sakitnya ini.

~°~~~°~~~°~

Reni masih terdiam didepan cerminya. Menikmati setiap rangkaian kejadian yang terulang kembali, membuatnya sadar, jika ia tidak bisa selama seperti ini. Hidup harus terus berjalan meski tanpanya, bukankah sebelumnya ia memang tak mengenal cinta? Lalu apa cinta berhak merusak semua yang kau punya? Tidak.

Cinta tidak berhak untuk merusak segala hal yang kau punya, impianmu, orangtuamu, keluargamu, sekolahmu, karirmu, jauh lebih penting dibandingkan cinta. Cinta memang diperlukan, tapi bukan untuk menyakiti insannya, cinta datang untuk membuat semua orang hidup penuh bahagia. Dan jika cinta sudah tak terasa bahagia, biarkan saja cinta pergi meninggalkanmu. Kau akan baik-baik saja tanpa cinta.

“Kau benar, seharusnya aku menyiapkan hatiku untuk rasa sakit yang datang bersama cinta. Jatuh cinta tidak dengan membiarkan hati penuh dengan rasa cinta, tapi biarkan rasa sakit masuk kedalam hatiku mendampingi cinta, hingga nanti jika cinta pergi, mereka tak saling bertabrakan didepan pintu hatiku, itu yang membuatku sakit. Biarkan cinta pergi diiringi dengan rasa sakit perlahan-lahan meninggalkan hatiku, juga.” Reni membereskan wajahnya yang terlihat lesu. Ia tersenyum, senyum pertama sejak ia patah hati.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

8 komentar:

  1. Sumpah. Ini cerita keren banget.

    azizkerenbanget.blogspot.com

    BalasHapus
  2. neng, saran yak, ini postingan panjang banget.jadi sedikit pusing pas bacanya. gitu. ini cuman saran ya neng:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe terimakasih buat sarannya kak. Ini lagi belajar buat nulis cerpen yang ngga panjang2 kok:-) hehehe

      Hapus
  3. Jatuh cinta. Berjuta rasanya~
    *kayak Saiful Jamil aja nih ditimpalinnya pake nyanyian*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adiknya saipul jamil ya kak? Hehe makasih udah mampir yaaa;-)

      Hapus
  4. Gue harus jatuh cinta sama Reni apa sama penulisnya nih :p .
    suka kalimat yang ini >> "Cinta tidak berhak untuk merusak segala hal yang kau punya, impianmu, orangtuamu, keluargamu, sekolahmu, karirmu, jauh lebih penting dibandingkan cinta."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eaaaa~ hahaha.
      Saya jg suka sama kalimat ituu. Hahaha. Makasih udah mampir ya kak.

      Hapus

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.