Jumat, 20 Februari 2015

Lembar pengganti.

Sina membuka lembar demi lembar buku yang sudah ia tulis akhir-akhir ini. Lembar ke seratus adalah lembar yang harus ia tulis malam ini. Ya, semenjak kekasihnya pergi, ia selalu menuliskan hari-hari yang ia lewati disebuah buku catatan miliknya, satu lembar untuk satu hari dan artinya hari ini sudah genap seratus hari kekasihnya pergi.

Semua yang ia tulis dalam buku catatannya bukanlah sebuah catatan biasa, ini adalah janjinya kepada sang kekasih. Sebelum kekasihnya pergi, mereka selalu melalui hari-hari bersama dan kini ia hanya sendiri menjalani semuanya. Meski kini ia tak lagi ditemani sang kekasih, ia selalu ingin kekasihnya tahu apapun aktivitas yang ia lalukan. Bukan hanya Sina yang melakukan hal tersebut, melainkan kekasihnya juga. Mereka sama-sama berjanji untuk menuliskan setiap harinya di sebuah buku catatan yang Sina berikan kala itu dan ketika nanti mereka kembali berjumpa, mereka saling bertukar buku tersebut.

Jumat, 06 Februari 2015

Teruntukmu yang berulangtahun hari ini.

HAPPY BIRTHDAY TO YOU.... HAPPY BIRTHDAY TO YOU..... HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY TO YOUUUUU...........

Teruntuk kamu yang lahir pada tanggal 6 Februari di 19 tahun yang lalu, Fernando Rizky Romadhon Firdaus. Selamat Ulangtahun, ndo.

19 tahun yang lalu, seorang wanita sedang bertaruh nyawa untuk melihat buah cintanya yang akan segera menambah kebahagiaan keluarga kecilnya. 19 tahun yang lalu, ada suara tangis bayi perempuan dan lelaki yang belum mengerti tentang dunia sesungguhnya dan disanalah sebuah senyum kebahagian mulai mengembang. Ketika kamu mulai hadir, seorang lelaki sedang berjanji, untuk membahagiakanmu, merawatmu, membesarkanmu, memenuhi segala kebutuhanmu, saat itu ia tidak lagi hanya memikirkan dirinya atau perempuan yang ia cintai, namun, saat itu ia lebih memikirkanmu, tentang hidupmu kelak. Saat hati seorang pria sedang berjanji, disana ada juga perempuan yang rela menyampingkan egonya untuk hidup, tak memperdulikan betapa sakitnya kala kau hendak keluar. Saat itu, yang ia inginkan, hanya mendengar suara tangisan bayi kembarnya. Dan saat suaramu mulai terdengar, lengkap sudah semua kebahagiannya, kebahagiaan sepasang suami istri, kebahagiaan keluarga besarnya.

19 tahun yang lalu, kamu hanya bayi lelaki dari dua bayinya. Bayi yang belum mengerti apapun tentang kehidupan, bayi yang tidak tahu jika ada perempuan yang akhirnya jatuh sakit sehabis melahirkanmu.

Kamis, 05 Februari 2015

Untuk Sahabat....

Hai gengggggg.......

Awal masuk SMP, aku nggak pernah kebayang bakal ketemu sama orang kaya kalian. Kelas 7 aku belum terlalu mengenal kalian, sempat sekelas dengan Rizka nggak bikin kita sering ngobrol ya, Riz? Kalau sama Wina, karena dulu SD kita tetanggaan, jadinya kita udah kenal duluan ya? Tapi kita juga nggak terlalu sering ngobrol. Kalau sama Selvi, bahkan aku nggak pernah melihat Selvi. Bukan jahat, tapi emang kaya gitu kenyataannya.

Kita mulai ngumpul-ngumpul waktu kita kelas 8 ya, sama Dhita dan Keke juga. Sempet bikin kelompok belajar yang isinya 80%nya cuma ngobrol-ngobrol, sisanya baru belajar, itu juga nggak begitu konsen. Kalau dateng lebih awal pasti bakal nyamperin Rizka, Selvi, Dhita, Keke kekelas mereka—karena mereka satu kelas dan cuma aku dan Wina yang kepisah. Ngeliatin anak-anak yang baru dateng, ngobrol-ngobrol unyu (re: ngegosip).

Rabu, 04 Februari 2015

Pertemuan Sejuta Kenangan

Aku sudah berusaha menguatkan hatiku untuk melupakannya, menjalani hari-hari tanpa bayang tentangnya lagi. Tapi, ternyata semua tidak semudah yang aku fikirkan, setelah aku harus tetap berhadapan dengan dia—yang tak lain adalah teman adikku—saat bermain dirumahku, aku juga harus bertemu dengan sosok sepertinya, kamu. Lelaki yang belum pernah aku temui sebelum hari itu, lelaki yang aku kenal dari sebuah jejaring sosial.

Apa kamu tahu ada seseorang yang sangat mirip denganmu? Tidak, kalian tidak sepenuhnya sama, hanya saja, cara bicaramu pertama kali, bahkan sampai saat ini, bisa aku bilang mirip dengannya, rambutmu juga mengingatkanku kepadanya.

Selasa, 03 Februari 2015

Maaf yang Tak Terucap

Untuk kamu, yang pernah menemaniku.

Selamat malam,

Apa kau tahu, berulang kali aku berusaha mengetik sapaan untukmu namun setelahnya aku menekan backspace berulang kali? Lama tak mengirimimu pesan membuatku sedikit bingung untuk menentukan sapaan apa yang jauh dari kata canggung. Apa kabarmu? Semoga ini tidak terlalu terbaca aneh olehmu.

Sepenglihatanku kau sudah berbeda atau bukan kau yang berbeda, hanya saja dahulu aku yang belum terlalu mengenalmu? Dari akun jejaring sosial yang aku tahu, kau jarang sekali berkomentar, sekalipun kau mengutarakan apa yang kau fikirkan, kini aku sudah tidak bisa memahaminya. Tak jarang, aku menunggu akunmu dalam keadaan online, sedikit berharap kau akan menyapaku, namun nyatanya kau tidak melakukan apa-apa untukku. Sepertinya kau sibuk bermain game atau kau memang tak ingin menyapaku lagi?

Senin, 02 Februari 2015

Kau yang Tersenyum Disana.

Teruntuk, Engkau, yang sedang tersenyum.

Ini adalah surat pertama yang aku tulis dalam #30HariMenulisSuratCinta. Dan surat pertama ini, aku berikan untukmu. Aku tidak tahu ini sudah terlambat atau belum untuk ikut berpartisipasi, karena saat aku melihat timeline tentang #30HariMenulisSuratCinta, mereka yang berpartisipasi sudah menulis dihari ke empat dan aku baru ingin memulainya.

Kau tahu aku bukan tipe perempuan yang dapat dengan mudah mengutarakan perasaanku secara langsung, aku lebih nyaman ketika aku menuliskannya dan membiarkanmu membacanya sendiri. Dahulu, mungkin itu akan menjadi sangat sia-sia, karena aku tahu kau takkan membaca tulisan-tulisan yang aku simpan dalam dunia maya, kau terlalu buta untuk teknologi zaman modern ini. Tapi kini, aku rasa kau bisa membacanya, meski kau masih tak mengerti cara menyalakan laptop, menyambungkannya dengan jaringan internet dan berjelajah dalam dunia maya.