Untuk kamu, yang pernah
menemaniku.
Selamat malam,
Apa kau tahu, berulang kali aku
berusaha mengetik sapaan untukmu namun setelahnya aku menekan backspace berulang kali? Lama tak
mengirimimu pesan membuatku sedikit bingung untuk menentukan sapaan apa yang
jauh dari kata canggung. Apa kabarmu? Semoga ini tidak terlalu terbaca aneh
olehmu.
Sepenglihatanku kau sudah berbeda
atau bukan kau yang berbeda, hanya saja dahulu aku yang belum terlalu
mengenalmu? Dari akun jejaring sosial yang aku tahu, kau jarang sekali
berkomentar, sekalipun kau mengutarakan apa yang kau fikirkan, kini aku sudah
tidak bisa memahaminya. Tak jarang, aku menunggu akunmu dalam keadaan online,
sedikit berharap kau akan menyapaku, namun nyatanya kau tidak melakukan apa-apa
untukku. Sepertinya kau sibuk bermain game atau kau memang tak ingin menyapaku
lagi?
Pernah ada kata yang belum pernah
aku ucapkan untukmu, Maaf. Maaf karena aku pernah hilang tanpa aku berikan
alasan yang jelas. Maaf karena ketidaktahuanku akan yang sebenarnya kau rasakan.
Masih banyak kata maaf untukmu, namun, aku terlalu pengecut untuk
mengutarakannya, tetap menyimpannya didalam hatiku dan berharap kau sudah
memaafkanku dengan sendirinya.
Kau harus tahu, banyak lelaki
yang aku temui, namun tak ada yang sepertimu. Entah ini suatu kesalahan atau
bukan, ketika aku selalu membandingkan setiap lelaki—yang datang dan akhirnya
pergi—dengan dirimu. Tapi, harus kau tahu, setiap aku memikirkan mereka, kaulah
akhir dari segala rasa tak menentu.
Lalu, siapa perempuanmu saat ini?
Yang terakhir aku tahu, kalian punya kegemaran yang sama ya? Aku senang
melihatmu bahagia dengan perempuan pilihanmu. Jangan tanya siapa lelakiku! Aku
masih mencari yang sepertimu, yang tak banyak bicara namun selalu ada disisi.
Oiya, terimakasih untuk doa yang
pernah kau ucapkan, “Kalau novel lu
keluar, gue bakal jadi pembeli pertama lu.” Ah, semoga kau tak
menertawakanku yang masih ingat ucapanmu itu, bahkan saat kau sudah
melupakannya.
Aku tidak tahu kau akan membaca
ini atau tidak. Aku tidak tahu kata maafku sudah bisa kau rasakan atau belum. Aku
tidak tahu kau sudah memaafkanku atau belum. Jika kau masih belum melupakan
kesalahanku, setidaknya maafkanlah aku. Semoga kita dapat bertemu dilain
kesempatan.
Aku merindukanmu.
Jakarta, 3 Februari 2015
Seseorang yang pernah kau panggil
adik,
Fanny.
Kenapa harus selalu ada yang menghilang tanpa kejelasan? Aku sedih :(
BalasHapusAda yang ngga bisa dijelaskan disini:( hehehe terimakasih sudah mampir ya:-)
Hapus