Rabu, 04 Februari 2015

Pertemuan Sejuta Kenangan

Aku sudah berusaha menguatkan hatiku untuk melupakannya, menjalani hari-hari tanpa bayang tentangnya lagi. Tapi, ternyata semua tidak semudah yang aku fikirkan, setelah aku harus tetap berhadapan dengan dia—yang tak lain adalah teman adikku—saat bermain dirumahku, aku juga harus bertemu dengan sosok sepertinya, kamu. Lelaki yang belum pernah aku temui sebelum hari itu, lelaki yang aku kenal dari sebuah jejaring sosial.

Apa kamu tahu ada seseorang yang sangat mirip denganmu? Tidak, kalian tidak sepenuhnya sama, hanya saja, cara bicaramu pertama kali, bahkan sampai saat ini, bisa aku bilang mirip dengannya, rambutmu juga mengingatkanku kepadanya.


Hari itu, aku sudah menyiapkan hati untuk memulai cerita baru. Aku sangat bersemangat kala itu, mungkin karena hari itu adalah hari pertamaku menyandang gelar mahasiswi. Semuanya sudah aku siapkan dengan sangat semaksimal mungkin. Semuanya (masih) baik-baik saja, sampai kau datang, aku tidak terlalu menghiraukan kedatanganmu, saat itu. Aku masih sibuk dengan kertas-kertas yang berisikan data-data yang harus aku lengkapi demi kelancaran perkuliahanku di satu semester kedepan. Aku sudah hampir menyelesaikannya, kala kau mulai menyapaku, bertanya tentang hal yang tidak kau mengerti. Suaramu, itu yang pertama kali mengingatkanku kepadanya. Entah bagaimana bisa, aku seperti merasa caramu memanggilku sama dengan caranya memanggilku.

Hari itu berjalan dengan hati yang tak menentu. Semenjak sapaan pertamamu, aku menjadi tak henti menyandingkan wajahnya dengan wajahmu, suaramu dengan suaranya. Kini, sudah satu semester aku jalani. Kau adalah lelaki yang cukup baik, lelaki yang cukup mengutamakan wanita namun tidak suka membela wanita yang salah. Kadang, aku seperti terbawa suasana kala bersamamu, menganggapmu adalah ia yang pernah ada dihatiku, namun, setelahnya aku sadar, aku tak bisa menyamakanmu dengannya. Kau adalah kau, bukan dia yang pernah ada dihatiku.

Aku tidak melarang hatiku untuk jatuh kepadamu, namun, aku melarang hatiku jatuh kepadamu karena sosokmu yang sama dengannya. Ada yang harus kau tahu, kadang kau mampu membuatku betah berlama-lama berada didekatmu. Aku tidak tahu ini hanya sebatas sahabat atau akan lebih, tapi jika aku mampu, aku hanya akan membuat hatiku nyaman sebagai seorang sahabat. Tak apa kan jika aku menganggapmu sahabatku?

Jakarta, 4 Februari 2015

Sahabatmu,


Fanny.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.