Aku sudah berusaha menguatkan
hatiku untuk melupakannya, menjalani hari-hari tanpa bayang tentangnya lagi. Tapi,
ternyata semua tidak semudah yang aku fikirkan, setelah aku harus tetap
berhadapan dengan dia—yang tak lain adalah teman adikku—saat bermain dirumahku,
aku juga harus bertemu dengan sosok sepertinya, kamu. Lelaki yang belum pernah
aku temui sebelum hari itu, lelaki yang aku kenal dari sebuah jejaring sosial.
Apa kamu tahu ada seseorang yang
sangat mirip denganmu? Tidak, kalian tidak sepenuhnya sama, hanya saja, cara
bicaramu pertama kali, bahkan sampai saat ini, bisa aku bilang mirip dengannya,
rambutmu juga mengingatkanku kepadanya.
Hari itu, aku sudah menyiapkan
hati untuk memulai cerita baru. Aku sangat bersemangat kala itu, mungkin karena
hari itu adalah hari pertamaku menyandang gelar mahasiswi. Semuanya sudah aku
siapkan dengan sangat semaksimal mungkin. Semuanya (masih) baik-baik saja,
sampai kau datang, aku tidak terlalu menghiraukan kedatanganmu, saat itu. Aku
masih sibuk dengan kertas-kertas yang berisikan data-data yang harus aku
lengkapi demi kelancaran perkuliahanku di satu semester kedepan. Aku sudah
hampir menyelesaikannya, kala kau mulai menyapaku, bertanya tentang hal yang
tidak kau mengerti. Suaramu, itu yang pertama kali mengingatkanku kepadanya. Entah
bagaimana bisa, aku seperti merasa caramu memanggilku sama dengan caranya
memanggilku.
Hari itu berjalan dengan hati
yang tak menentu. Semenjak sapaan pertamamu, aku menjadi tak henti
menyandingkan wajahnya dengan wajahmu, suaramu dengan suaranya. Kini, sudah
satu semester aku jalani. Kau adalah lelaki yang cukup baik, lelaki yang cukup
mengutamakan wanita namun tidak suka membela wanita yang salah. Kadang, aku
seperti terbawa suasana kala bersamamu, menganggapmu adalah ia yang pernah ada
dihatiku, namun, setelahnya aku sadar, aku tak bisa menyamakanmu dengannya. Kau
adalah kau, bukan dia yang pernah ada dihatiku.
Aku tidak melarang hatiku untuk
jatuh kepadamu, namun, aku melarang hatiku jatuh kepadamu karena sosokmu yang
sama dengannya. Ada yang harus kau tahu, kadang kau mampu membuatku betah
berlama-lama berada didekatmu. Aku tidak tahu ini hanya sebatas sahabat atau
akan lebih, tapi jika aku mampu, aku hanya akan membuat hatiku nyaman sebagai
seorang sahabat. Tak apa kan jika aku menganggapmu sahabatku?
Jakarta, 4 Februari 2015
Sahabatmu,
Fanny.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.