Hai gengggggg.......
Awal masuk SMP, aku nggak pernah
kebayang bakal ketemu sama orang kaya kalian. Kelas 7 aku belum terlalu
mengenal kalian, sempat sekelas dengan Rizka nggak bikin kita sering ngobrol
ya, Riz? Kalau sama Wina, karena dulu SD kita tetanggaan, jadinya kita udah
kenal duluan ya? Tapi kita juga nggak terlalu sering ngobrol. Kalau sama Selvi,
bahkan aku nggak pernah melihat Selvi. Bukan jahat, tapi emang kaya gitu
kenyataannya.
Kita mulai ngumpul-ngumpul waktu
kita kelas 8 ya, sama Dhita dan Keke juga. Sempet bikin kelompok belajar yang
isinya 80%nya cuma ngobrol-ngobrol, sisanya baru belajar, itu juga nggak begitu
konsen. Kalau dateng lebih awal pasti bakal nyamperin Rizka, Selvi, Dhita, Keke
kekelas mereka—karena mereka satu kelas dan cuma aku dan Wina yang kepisah. Ngeliatin
anak-anak yang baru dateng, ngobrol-ngobrol unyu (re: ngegosip).
Awal nama kita bukan diqof, aku
lupa nama sebelumnya, maaf. Tapi karena mendapatkan protes dari grup sebelah,
akhirnya Dhita ngeganti nama grup kita jadi Diqof. Nggak ada yang tahu secara
pasti sih, maksud dari nama itu, ya setidaknya kita membiarkan itu menjadi
rahasia Dhita ya?
Udah lebih dari 6 tahun kita
masih sama-sama, meski kita nggak selengkap waktu awal kita dikumpulkan. Keke sekarang
lagi ada di Malang, Dhita juga nggak terlalu sering berkomunikasi sama kita.
Kita masih main berlima, tapi nggak terlalu sering, lebih sering berempat. Udah
lebih dari 6 tahun, kita saling kenal, setidaknya sampai saat ini, aku tahu
bagaimana kalian dan sampai saat ini masih menyesuaikan agar menjadi sahabat
yang baik untuk kalian. Dalam waktu 6 tahun itu, kita juga pernah mengisinya
dengan marah-marahan, tapi setelahnya kita selalu berusaha untuk memperbaiki
kesalahan masing-masing.
Sekarang kita bukan anak SMP
ataupun anak sekolahan lagi yang punya jadwal yang sama. Sekarang kita sudah
punya kesibukan masing-masing, nggak bisa seperti dulu yang kalau mau main,
tinggal sms dan besoknya langsung main. Kita sekarang udah beranjak dewasa,
harus bisa tanggung jawab sama apa yang kita jalani. Sekarang kalau mau main,
kita harus ngejadwalnya dari jauh-jauh hari, meski hanya untuk waktu 3 jam atau
2 jam. Semua sudah berubah, tapi semoga tidak merubah kuantitas persahabatan
kita.
Yang selalu aku bilang kepada
siapapun, jika setiap orang sudah memiliki tempatnya tersendiri didalam hatiku,
takkan ada yang mampu menggantinya. Kalaupun, jika nanti aku bertemu dengan
orang baru yang akhirnya akan kusebut sebagai sahabat, percayalah, kalian akan
tetap sebagai sahabat, tempat kalian hanya untuk kalian. Jika nyatanya nanti ia
lebih bisa membuatku nyaman, aku akan mengingat saat kita dapat tertawa lepas
kala bersama. Kalaupun, nanti ia lebih baik dari kalian, aku akan tetap akan
menjadi sahabat kalian, karena, aku pun masih berusaha untuk menjadi sahabat
yang terbaik untuk kalian. Lalu apa akan ada alasan yang bisa membuatku
menjauhi kalian? Setidaknya aku punya seribu alasan lain untuk tetap bersama
kalian.
Terimakasih untuk 6 tahun
belakangan ini. Terimakasih sudah tetap mau berada disampingku dengan segala
kekuranganku, sifat menyebalkanku. Terimakasih sudah tetap menjadi sahabat yang
selalu mengingatkan jika aku melakukan kesalahan, bukan memarahiku namun
menengurku. Ah, banyak kata terimakasih yang akhirnya akan terucap untuk
kalian.
Semoga kita akan tetap bersama,
meski terhalang waktu ataupun jarak yang nantinya akan memisahkan kita.
Setidaknya, sesibuk apapun kamu, sediakan sedikit waktumu untuk sekadar melepas
kepenatanmu dengan kami.
Disini, ada kami yang selalu
menunggumu.
Jakarta, 5 Februari 2015
Seseorang yang (masih) berusaha
menjadi sahabat terbaikmu,
Fanny.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.