Kamis, 05 Februari 2015

Untuk Sahabat....

Hai gengggggg.......

Awal masuk SMP, aku nggak pernah kebayang bakal ketemu sama orang kaya kalian. Kelas 7 aku belum terlalu mengenal kalian, sempat sekelas dengan Rizka nggak bikin kita sering ngobrol ya, Riz? Kalau sama Wina, karena dulu SD kita tetanggaan, jadinya kita udah kenal duluan ya? Tapi kita juga nggak terlalu sering ngobrol. Kalau sama Selvi, bahkan aku nggak pernah melihat Selvi. Bukan jahat, tapi emang kaya gitu kenyataannya.

Kita mulai ngumpul-ngumpul waktu kita kelas 8 ya, sama Dhita dan Keke juga. Sempet bikin kelompok belajar yang isinya 80%nya cuma ngobrol-ngobrol, sisanya baru belajar, itu juga nggak begitu konsen. Kalau dateng lebih awal pasti bakal nyamperin Rizka, Selvi, Dhita, Keke kekelas mereka—karena mereka satu kelas dan cuma aku dan Wina yang kepisah. Ngeliatin anak-anak yang baru dateng, ngobrol-ngobrol unyu (re: ngegosip).


Awal nama kita bukan diqof, aku lupa nama sebelumnya, maaf. Tapi karena mendapatkan protes dari grup sebelah, akhirnya Dhita ngeganti nama grup kita jadi Diqof. Nggak ada yang tahu secara pasti sih, maksud dari nama itu, ya setidaknya kita membiarkan itu menjadi rahasia Dhita ya?

Udah lebih dari 6 tahun kita masih sama-sama, meski kita nggak selengkap waktu awal kita dikumpulkan. Keke sekarang lagi ada di Malang, Dhita juga nggak terlalu sering berkomunikasi sama kita. Kita masih main berlima, tapi nggak terlalu sering, lebih sering berempat. Udah lebih dari 6 tahun, kita saling kenal, setidaknya sampai saat ini, aku tahu bagaimana kalian dan sampai saat ini masih menyesuaikan agar menjadi sahabat yang baik untuk kalian. Dalam waktu 6 tahun itu, kita juga pernah mengisinya dengan marah-marahan, tapi setelahnya kita selalu berusaha untuk memperbaiki kesalahan masing-masing.

Sekarang kita bukan anak SMP ataupun anak sekolahan lagi yang punya jadwal yang sama. Sekarang kita sudah punya kesibukan masing-masing, nggak bisa seperti dulu yang kalau mau main, tinggal sms dan besoknya langsung main. Kita sekarang udah beranjak dewasa, harus bisa tanggung jawab sama apa yang kita jalani. Sekarang kalau mau main, kita harus ngejadwalnya dari jauh-jauh hari, meski hanya untuk waktu 3 jam atau 2 jam. Semua sudah berubah, tapi semoga tidak merubah kuantitas persahabatan kita.

Yang selalu aku bilang kepada siapapun, jika setiap orang sudah memiliki tempatnya tersendiri didalam hatiku, takkan ada yang mampu menggantinya. Kalaupun, jika nanti aku bertemu dengan orang baru yang akhirnya akan kusebut sebagai sahabat, percayalah, kalian akan tetap sebagai sahabat, tempat kalian hanya untuk kalian. Jika nyatanya nanti ia lebih bisa membuatku nyaman, aku akan mengingat saat kita dapat tertawa lepas kala bersama. Kalaupun, nanti ia lebih baik dari kalian, aku akan tetap akan menjadi sahabat kalian, karena, aku pun masih berusaha untuk menjadi sahabat yang terbaik untuk kalian. Lalu apa akan ada alasan yang bisa membuatku menjauhi kalian? Setidaknya aku punya seribu alasan lain untuk tetap bersama kalian.

Terimakasih untuk 6 tahun belakangan ini. Terimakasih sudah tetap mau berada disampingku dengan segala kekuranganku, sifat menyebalkanku. Terimakasih sudah tetap menjadi sahabat yang selalu mengingatkan jika aku melakukan kesalahan, bukan memarahiku namun menengurku. Ah, banyak kata terimakasih yang akhirnya akan terucap untuk kalian.

Semoga kita akan tetap bersama, meski terhalang waktu ataupun jarak yang nantinya akan memisahkan kita. Setidaknya, sesibuk apapun kamu, sediakan sedikit waktumu untuk sekadar melepas kepenatanmu dengan kami.

Disini, ada kami yang selalu menunggumu.

Jakarta, 5 Februari 2015

Seseorang yang (masih) berusaha menjadi sahabat terbaikmu,




Fanny.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan jejak didalam kolam komentar, agar saya dapat berkunjung ke alamatmu.