Rabu, 31 Desember 2014

Tentang 2014 #MEmoryeah2014!

2014 akan segera pergi dan 2015 akan segera datang. Beberapa jam lagi, kita akan menyambut hari yang baru, memulai cerita baru dalam tahun yang baru datang. 2014, selalu akan ada banyak yang teringat saat membicarakannya. 365 hari sudah (hampir) terlewati, sudah banyak cerita yang tersimpan di 8.760 jam. 525.600 menit pernah menjadi saksi bisu sebuah kebahagian dan kesedihan. Dan dalam #MEmoryeah2014! saya bakal cerita sedikit kenangan yang takkan pernah terlupakan;

1.       Kenangan Yogyakarta dalam 2014.

Kalo bicara tentang Yogyakarta pasti akan terhubung dengan mereka, manusia yang pernah menemani saya dalam waktu 3 tahun. Manusia yang akhirnya harus menjalani kesibukan mereka masing-masing.

Malam itu, takkan pernah tergantikan oleh malam-malam lainnya. Seberapa manis malam yang akan terlewati dihari yang akan datang, namun malam itu akan tetap menjadi malam yang berkesan untuk saya, malam yang sudah punya tempat sendiri dalam 2014. Malam yang akhirnya saya sebut sebagai kenangan.

Mungkin maling yang ketangkep, ceritanya...

Sabtu, 20 Desember 2014

Diary Gladis part 4

Senin, 4 Oktober 2010

Apapun alasannya, aku memang tak pernah benar-benar menyukai hari senin. Menurutku, senin itu suatu waktu yang seharusnya tak ada, meski jika hari senin tak ada mungkin selasa yang akhirnya tak aku harapkan kedatangannya. Aku menganggap senin sebagai pengganggu waktu liburku, waktu minggu yang aku tunggu-tunggu akan habis dimakan waktu untuk diganti dengan hari senin. Ya, entahlah, mungkin memang aku saja yang terlalu malas untuk memulai setiap minggunya dengan keadaan jalan yang tak pernah berubah, macet.

Senin hari ini berbeda dari senin beberapa waktu yang lalu. Aku harus bangun lebih pagi lagi agar tak kesiangan sampai di sekolah. Hari ini, aku harus lebih pagi lagi keluar rumah agar bisa menumpangi bus pertama yang melintasi jalan depan sekolahku. Hari ini aku terbiasa lagi setelah kegiatan ini tak lama aku lakukan, sebelumnya aku masih tak begitu memperdulikan senin, tak memperdulikan jalanan yang selalu macet. Ya, sebelumnya masih ada Dion yang senantiasa menjemputku, meski ia harus berangkat lebih awal dari biasanya agar tak telat menjemputku, tapi ia tak pernah mempermasalahkan hal itu.

“Gladis” Seorang lelaki yang masih menggunakan helmnya menghentikan motornya tepat dihadapanku. “Bareng aja yuk?” Ujarnya sembari melepas helmnya. Rio, lelaki yang masih berada diatas motornya.

Aku tak memberikan respon yang berarti, aku tak menyangka lelaki yang selama ini aku harapkan kehadirannya, kini sudah berada didepanku. Beberapa langkah dari tempatku berdiri sedang berada seorang lelaki yang aku kagumi sejak aku baru pertama kali mengenalnya. Ini adalah saat-saat yang selalu aku harapkan, dahulu. Ya, dahulu, entah mengapa hari ini menjadi sangat biasa saja saat seseorang yang—sebenarnya—kau inginkan mulai menyapaku. Apa yang salah denganku? Dengan hatiku? Mengapa tak ada lagi getaran yang biasanya selalu hadir kala kami berada dijarak yang dekat?

Rabu, 05 November 2014

Antara Persahabatan Terselip Cinta

Sejak setengah jam yang lalu, aku dan Syia berada disini, sebuah kafe yang tak jauh dari kampus kami berdua. Aku dan Syia bukan mahasiswi dalam satu universitas yang sama, namun kampus berdekatan, hanya perlu waktu 15 menit untuk tiba dikampusnya jika menggunakan kendaraan bermotor. Dan kafe ini adalah kafe tempat kami biasanya berjumpa, menghabiskan waktu libur bersama.

Hari ini berbeda dari biasanya, Syia mengajakku bertemu disaat kami tak sedang libur kuliah, bahkan ia rela menunggu aku hingga jam terakhirku berakhir. Syia mengajak bertemu hari ini tanpa kedua sahabatku lainnya. Hanya berdua. Dan kini, saat kami sudah berada ditempat yang sama, masih tak ada perbincangan apapun seperti apapun. Sejak jumpa tadi, hanya sebuah satu sapaan diantara kami, setelahnya tak ada yang berniat ingin memulai topik pembicaraan, aku hanya menunggu Syia memulainya dan Syia sibuk dengan gadget miliknya.

“Gue mau ngomong, Zi” Akhirnya Syia meletakkan gadget miliknya, menatapku secara tajam.

“Apa?” Aku mengerutkan dahiku.

Syia masih menatapku, ia seperti seseorang yang tak menyukaiku, “Lu suka sama Dicno?”

“Dicno?” Aku mengulang nama yang Syia sebut tadi, aku sedikit tertawa mendengar pertanyaannya. “Nggak lah. Gue sama dia udah sahabatan.  And u know about that, Syia!”

“Gue suka sama dia.” Ujarnya, masih tanpa senyum dan masih dengan tatapan tak sukanya.

“Oh.... Oke.” Aku mengerti mengapa ia menatapku dengan tatapan tak suka seperti itu. Aku mengerti mengapa sikapnya berubah sejak beberapa bulan yang lalu.

Dicno adalah teman yang aku kenal secara tak sengaja. Bermula dari perkenalan kami saat pesta teman smpku dan hingga saat ini kami menjalin hubungan pertemanan yang cukup baik. Aku cukup mengenal Dicno, begitu pula Dicno. Syia bukan orang pertama yang menduga aku menyukai Dicno, sudah banyak yang menanyakan hal yang sama, mungkin karena kami terlalu banyak menghabiskan waktu berdua, bahkan aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Dicno.

Dicno adalah lelaki yang baik, sahabat yang baik, ia selalu rela untuk aku repotkan dengan kerepotanku sebagai perempuan. Tidak jarang ia rela menjemputku dirumah seorang temanku jika sudah larut malam. Ia juga pernah rela menemaniku berbelanja bulanan, ketika Ibuku sedang sakit.
Dan sebulan yang lalu, aku mulai mengenalkannya dengan sahabatku, terlebih Syia. Ia sangat ingin berkenalan dengan Dicno sejak pertama kali aku menceritakannya. Aku fikir mereka mulai berteman dengan baik, tetapi Syia memang berubah sejak saat itu, ia terkesan lebih tertutup denganku. Tatapan matanya menjadi terkesan tak suka jika aku ada didekatnya.

“Tapi dia suka sama lu.” Katanya dengan nada ketus.

Hening. Jantungku berdetak dengan cepat, aku melemas. Tak pernah aku duga sebelumnya akan aku dengar pernyataan seperti ini. Tidak pernah ada bayangan sebelumnya jika sebuah persahabatan diwarnai dengan cinta. “Bercanda lu.” Aku mencoba mengusir segala perasaan tak enak dihatiku. Jujur, aku takut Syia meninggalkanku dan persahabatan kami kandas. Tapi disisi lain, aku juga takut kehilangan seorang sahabat seperti Dicno.

“Kalau tidak percaya, tanya saja sama Dicno. Dia yang bilang sendiri sama gue.”

*****

Cinta Pertama Dhinta

“Kamu cinta sama aku, Ta?” Hun kaget dengan pernyataan perempuan yang duduk disampingnya. Perempuan yang memaksanya untuk menemuinya.

Dhinta mengangguk. Dia sudah tidak tahan lagi menahan segala perasaan cintanya untuk Hun, lelaki yang ia kenal sejak enam bulan yang lalu. Menurutnya, hanya Hun yang selalu ada disaat ia membutuhkan tempat untuk berbagi, hanya Hun yang ada saat rasa kesepian itu datang. Hun membuatnya nyaman.

Hun diam. Tidak tahu harus menjawab seperti apa pernyataan perempuan yang berusia lebih muda 3 tahun dibawahnya ini. Dhinta cantik, mungil, ia asik saat Hun ajak bicara, mereka mengerti satu sama yang lain tentang kehidupan masing-masing. Hun juga merasa nyaman saat ada didekatnya, tapi, kenyataan tak bisa ia ubah. Ia tak boleh jatuh cinta kepada perempuan ini.

“Maaf aku ngga bisa.” Katanya. Hun pergi meninggalkan Dhinta yang diam sedari tadi. Jantungnya yang berdetak dengan cepat kini menjadi sangat tak karuan. Hatinya terasa sesak.

Selasa, 04 November 2014

Kedatangan Cinta (Lagi)

Ini bukan kali pertama aku merasakan getaran-getaran tak menentu. Ini bukan kali pertama pandanganku tak beranjak dari wajah seseorang dihadapanku. Ini bukan kali pertama aku merasakan rasa tak menentu. Sebelumnya aku pernah seperti ini, seperti ingin terus memandang wajahnya  yang terkesan tersenyum kepadaku.

Sebelumnya aku pernah berjanji, tak ingin memulai rasa itu lagi untuk kesekian kalinya, tapi bertemu denganmu membuat aku seakan lupa dengan ucapanku, lupa dengan segala janji yang terucap, lupa akan sakitnya mencintai tanpa dicintai. Aku seperti ingin memulainya lagi, mengawali meski hanya untuk diriku sendiri.

Saat ini, ia berada tak jauh dari tempatku duduk. Suara tawanya masih bisa aku dengar dengan jelas, aku masih bisa memperhatikan paras wajahnya yang tak membuatku bosan, aku tidak tahu sejak kapan, aku mulai senang memandanginya seperti saat ini, menikmati senyum yang disembahkan oleh bibirnya, entah sejak kapan, rasa ini kembali datang setelah 2 tahun yang lalu aku berjanji dengan diriku sendiri.

“Jangan disimpan sendiri, utarakan kalau kamu memang suka.” Clara menyeruput jus miliknya, “Dia juga keliatan care sama kamu kok.” Tambahnya.

Aku masih memandanginya beberapa menit sebelum ia sadar sedang dipandangi oleh seseorang, “Dia care sama semua cewek. Dia care sama semua temennya.” Aku menjatuhkan pandanganku ke meja kantin, tak berani mengangkat pandanganku, karena sepasang mata masih memperhatikanku dari tempatnya berada.

Selasa, 21 Oktober 2014

Teruntuk Wanita Setelah Ibu-ku.

Hari ini, sudah hampir empat belas hari saya lalui tanpa adanya sosokmu lagi dirumah. Sudah hampir empat belas hari saya tak berpamitan denganmu ketika saya hendak kuliah. Dan sudah selama itu tak pernah lagi saya dengar suaramu yang biasanya sering memanggil saya.

Kini, kau sudah pergi meninggalkan kami, kami yang sebenarnya masih membutuhkanmu. Pergi untuk selamanya, menuju ke kehidupan abadi nan kekal disana. Kini, kau sudah bahagia. Saya yakin, tempatmu berada sekarang ada sebuah tempat terbaik yang disediakan Allah swt. aamiin.

Senin, 06 Oktober 2014

Datang untuk pergi

Sin hanya memandangi telepon genggam miliknya, matanya was-was memperhatikan layar hitam yang sedari tadi tak menyala. Beberapa kali, led merahnya menyala, pesan atau chat bbm mulai menghampiri handphone, tapi beberapa menit setelahnya ia hanya meletakkan handphonenya kembali dengan hembusan nafas yang terdengar lelah. Bukan pesan atau bbm yang ia tunggu.

Ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur miliknya, dadanya seketika menjadi sesak. Air wajahnya mendadak menjadi berubah, tak ada senyum manis miliknya, matanya menatap lurus, kosong pandangannya. Beberapa menit selanjutnya, air matanya menetes begitu saja.

Hari ini, semuanya datang lagi, perasaan yang ia tidak tahu apa, perasaan yang tak pernah bisa ia ceritakan kepada teman-temannya, perasaan yang akhirnya selalu membuatnya menangis, perasaan yang selalu ia simpan sendiri, tak membaginya kepada yang lain karena tak pernah tahu cara memulai untuk membaginya. Perasaan yang selalu menghilang saat ia bersama teman-temannya dan perasaan yang selalu datang saat semuanya sudah tak bersamanya.

“Aku benci seperti ini.” Katanya dalam isak tangisnya.

***

Selasa, 16 September 2014

Berbedakah Rindu?

Gadis itu masih saja berdiri mematung didepan cermin yang berbentuk persegi panjang sejak beberapa menit yang lalu. Memperhatikan dengan seksama keseluruhan tubuhnya yang ia lihat dicermin, sesekali ia melepas kacamatanya lalu mencermati wajahnya yang tak begitu putih. rambut sebahu miliknya dibiarkan tergerai dengan indahnya. Semuanya tampak biasa saja, tak ada yang berbeda. Ia melengkungkan kedua sisi bibirnya, tersenyum, dan perempuan yang berdiri dihadapannya terlihat tampak manis.

Rindu, biasanya gadis itu dipanggil oleh teman-temannya. Gadis yang tak terlalu banyak bicara. Gadis ramah yang pemalu. Hanya dengan teman-teman dekatnya lah ia bisa menghilangkan segala rasa malunya. Gadis dengan segala rasa yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Gadis yang selalu berusaha tampak ‘baik-baik’ didepan semua orang, ia menyimpan rasa sakitnya untuk dirinya sendiri.
Rindu masih berdiri didepan cerminnya, tak memperdulikan waktu yang telah terbuang. Masih terus mencermati wajahnya dengan seksama, mengarahkan bola matanya keatas dan kebawah berkali-kali. Sesekali, ia menguncir satu rambutnya, tapi semenit kemudian ia melepasnya lagi. Melepas kacamatanya tetapi selanjutnya ia menggunakannya lagi, hanya seperti itu sedari tadi.

Rindu tidak tahu apa yang membuat dirinya membuang waktu yang biasa ia gunakan untuk belajar hanya untuk hal tak penting seperti ini. Rindu tidak mengerti apa yang membuatnya tak memperdulikan buku-buku yang tak tertata rapi dikasurnya. Rindu tidak tahu apa yang membuatnya menjadi melewatkan jam makan siangnya hanya untuk berdiri didepan cermin seperti ini. Dan Rindu juga tidak mengerti ada perasaan yang menggebu-gebu didalam dadanya, perasaan tak menentu yang memaksanya agar berdiri didepan cermin. Rindu hanya tahu, ia sedang tidak baik-baik saja.  Yang ia tahu, ada perasaan ganjil yang sedari tadi disekolah mengganggunya.

Apa yang membuat aku beda dengan mereka? Apa aku memang berbeda dengan mereka? Lalu bagaimana caranya agar aku bisa seperti mereka. Rindu membatin.

Sabtu, 13 September 2014

Diary Gladis Part 3

Kamis, 30 September 2010

Don’t judge book just by the cover. Tidak ada yang berhak menilai seseorang hanya berdasarkan penglihatan pada awal mereka berjumpa, begitu pula aku. Tidak ada yang mengizinkan kita boleh menilai seseorang hanya berdasarkan sikapnya tanpa kita kenal dia dengan baik-baik. Terkadang, kamu perlu memahami dia dengan dalam baru kamu akan mengetahui bagaimana sebenarnya dia.

Aku salah menilai Dion sebagai orang yang tak menyenangkan. Seminggu bersamanya cukup membuat aku mengenal sisi lain darinya, sisi lain yang jarang sekali aku lihat saat kami sedang berada disekolah ataupun dikelas. Tawanya yang lepas bahkan baru pertama kali aku dengar saat kita berada ditaman kompleks sabtu lalu. Dan disanalah aku sadar, Dion tak se-kaku disekolah, saat bersamanya aku merasa seperti bukan bersama Dion yang selalu sibuk dengan segala organisasi-organisasinya disekolah. Dion yang bersamaku adalah Dion yang berbeda.

“Gue ada rapat mendadak, bisa tunggu gue sebentar kan?” Katanya mengagetkanku yang sedang sibuk menyalin catatan yang tertulis rapi dipapan tulis.

Jumat, 05 September 2014

Cinta dalam diam (lagi)?

Terkadang, kenyataan memang tak pernah sesuai seperti apa yang kamu harapkan. Tidak ada yang pernah tahu mengapa Tuhan menggariskan takdir seperti ini ke setiap umat-Nya. Begitu pun aku. Aku tidak tahu mengapa aku dipertemukan dengan seseorang yang sangat mengingatkanku dengan kisah lama. Aku tidak tahu mengapa semuanya menjadi seperti ini, kenangan yang sudah aku tutup dengan susah seakan terbuka dengan mudahnya.

Aku tak melanjutkan langkahku, kaki-ku seakan tak ingin melangkah lagi untuk menuju keruang kelasku. Dadaku terasa sesak secara tiba-tiba, mataku memanas, lututku melemas, aku seperti kembali ke dua tahun yang lalu. Lelaki yang berdiri beberapa langkah didepanku membuka lembaran demi lembaran kenangan menyakitkan ini. Aku tidak pernah mengenalnya, menyapanya, bahkan bertemu dengannya, ini kali pertama aku melihatnya dikampus ini dan ini kali pertama aku dibuat tak berdaya dengan kenanganku.

Lelaki itu hanya sibuk berbincang dengan teman-temannya, tak memperdulikan aku yang sedari tadi dibuat tak bergerak oleh kenangan. Dia adalah lelaki yang berbeda dengan lelaki yang berada didalam kenanganku. Tapi, pernahkah kalian melihat sosok yang kalian cintai berada didalam tubuh yang baru yang kalian tak kenal? Ya. Aku merasakan itu saat ini. Lelaki yang tak aku kenal namanya sangat mengingatkanku dengan Dacvin, lelaki yang aku cinta secara diam-diam selama dua tahun.

Matanya, rambutnya, bentuk tubuhnya dan suara yang samar-samar aku dengar bisa membuatku menjadi tak menentu. Dia mengingatkanku dengan Dacvin. Aku tak mengenalnya tapi aku seperti mengenalnya. Aku tak pernah berbicara dengannya tapi aku seperti sudah membagi banyak ceritaku dengannya. Aku tak mendengar suaranya dengan jelas tapi aku seperti mendengar setiap percakapanku dengannya.

“Del?” Clevo, teman yang baru aku kenal beberapa dua minggu yang lalu membuyarkan lamunanku.

“Eh…. Eh iya, kenapa?” Tanyaku gugup, mataku masih mencuri pandang lelaki yang sudah tak berada ditempatnya.

Jumat, 29 Agustus 2014

Event Menulis Pena Meta Kata

Selamat malam, teman-teman blogger.

Malam ini saya ingin memberitahu kalian semua tentang event menulis yang diadakan oleh Pena Meta Kata. Event ini mencari FF dan puisi dalam tema Love Triangle ataupun Forbidden Love. Untuk setiap temanya akan diambil 20 FF dan 30 puisi yang akan dibukukan.


Untuk mengikuti event ini, silakan menyimak persyaratan sebagaik berikut:

1. Lomba terbuka untuk umum.
2. Lomba dibuka dari tanggal 20 Agustus sampai dengan 14 September 2014 (pukul 23:59 WIB).
3. Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
4. Like FB FansPage Penerbit Meta Kata (Disini) follow twitter @MetaCreativePro (disini), dan bergabung dalam grup FB Pena Meta Kata (disini).
5. Info seputar lomba akan di-posting di FB FansPage, twitter, dan grup FB yang dikelola Meta Kata.
6. Naskah dalam bentuk:Naskah dalam bentuk:

Rabu, 20 Agustus 2014

Writing from the heart.


‘Kerjakanlah sesuatu yang kau suka dengan hatimu, maka pekerjaan itu akan sampai ke hati yang melihatnya’


Entah dari siapa kalimat itu saya dapat pertama kali, meskipun saya lupa siapa yang mengucapkannya, tapi saya tidak pernah melupakan kalimat itu. Berpegang teguh dengan kalimat itu membuat saya melakukan segala hal dengan keinginan hati saya, menentukan apa yang ingin saya bagi dengan kalian semua—para pembaca—yang selalu bersedia mampir ke blog saya, merangkai kata-kata yang akhirnya saya sembahkan untuk kalian, menentukan apa yang ingin saya lakukan dalam sehari-hari, menentukan kemana saya akan melanjutkan pendidikan saya setelah saya lulus SMK, jurusan apa yang saya akan pilih disaat saya kuliah dan menentukan siapa yang saya ingin cintai. Ya, saya lakukan semua berlandasan dengan hati saya, keinginan saya, bukan karena paksaan orang disekeliling saya.

Begitu pula dengan menulis. Tulislah apapun yang hati kamu ingin sampaikan kepada para pembaca-mu, apapun itu, amarahmu, kekesalanmu, kesedihanmu atau kamu yang sedang bahagia. Tulislah dilandasi hatimu. Jangan pernah menulis karena terpaksa. Bukankah yang terpaksa itu tidak pernah enak akhirnya? Begitu juga dengan menulis.

Gantung

“Kita ini apa Ki?” Akhirnya pertanyaan itu terucap dari bibir Nadya yang sedari tadi hanya terbungkam memperhatikan lelakinya yang sibuk dengan laptopnya.

Riki tertawa, ia menatap perempuannya yang sudah tak dihiasi senyuman—yang biasanya selalu ia hadirkan kala bersama Riki. “Kita?” Riki mengangkat alis kanannya, “Ya, kita seperti ini.” Jawabnya dengan sangat santai. Inilah Riki yang ia cinta, lelaki yang tak pernah mau mengambil serius untuk sebuah urusan yang ia anggap sepele.

“Seperti ini bagaimana?” Nadya masih menuntut jawaban yang ingin ia dengar. “Apa kita akan selalu seperti ini?”

Riki meletakkan laptopnya dimeja, ia menatap perempuannya yang tak menghiraukan tatapannya. Ia sedang menahan segala perasaannya, ia tak ingin menumpahkan segalanya disini, disebuah restoran kesukaan mereka.

Selasa, 12 Agustus 2014

I'm Fine.

Kita memang tidak pernah tahu kapan datangnya sebuah cinta. Kita memang tidak pernah tahu akan kepada siapa cinta ini akan bermuara akhirnya. Kita memang tidak akan pernah tahu bagaimana cerita perjalanan cinta kita. Kita memang tidak pernah tahu akan berakhir seperti apa cerita cinta ini, sedih atau bahagiakah, dicinta atau hanya mencintakah.

Hari ini, entah sudah hari ke-berapa aku terus memikirkannya, mencuri pandang kepadanya, menantinya datang dengan ramah kepadaku. Aku tidak tahu kenapa dia selalu hadir disela-sela kesibukanku, aku tidak pernah mengerti awal mula aku mulai memikirkannya tanpa henti. Aku hanya tahu, saat dia mulai tak aku lihat, ada sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku mulai mencarinya.

“Dia? Cowok yang jarang masuk? Cowok yang kerjaannya cuma bengong-bengong dikelas?” Aku sudah sangat hafal dengan pertanyaan yang ditanyakan Rita ini. “Banyak laki-laki yang lebih ganteng dibanding dia, banyak lelaki yang lebih baik dibandingin dia. Disekolah ini lebih banyak yang rajin sekolahnya, Shin… Terus kenapa harus dia?”

Kamis, 07 Agustus 2014

Jatuh Cinta

Tetesan air hujan perlahan-lahan mulai membasahi halaman rumahnya, langit sore yang sedari tadi sudah mendung pun semakin lama semakin menangis dengan deras. Udara sore ini sangat dingin untuk seorang gadis yang sedang berdiri didepan jendela kamarnya. Ia memandangi air yang turun dari langit, mencoba meresapi wewangian khas tanah yang dibuatnya, menikmati suara tetesan air hujan diatas gentingnya.

Hujan masih terus membasahi sorenya, menambah kesan galau untuk setiap insan yang sedang patah hatinya, begitu pula Reni, gadis yang sedari tadi hanya memperhatikan air hujan dengan rasanya yang tak menentu. Gadis yang baru saja mengenal lelaki, gadis yang baru merasakan indahnya hidup dalam rasa cinta, gadis yang akhirnya merasakan sakitnya cinta. Ia lupa tentang satu hal yang seharusnya selalu ia ingat, ketika kamu jatuh cinta maka nikmatilah, rasakan indahnya bernafas dengan cinta. Tapi jangan lupakan tentang perih yang mungkin akan mengambil posisinya dalam cinta.

Minggu, 03 Agustus 2014

Diary Gladis Part 2

Jumat, 24  September 2010

Hari ini aku harus melalui hari yang baru, masih dengan hati yang sama, masih dengan cinta yang sama, masih dengan buku yang belum kunjung aku selesaikan, entah, akhir-akhir ini aku seperti malas untuk membaca setiap kata-kata yang terangkai dengan apik-nya di setiap buku itu. Hari ini aku masih harus bangun pagi demi tak berdesak-desakan dalam angkutan umum. Masih harus berjalan ke depan gang demi mendapatkan angkutan umum yang melewati depan sekolahku. Dan aku masih harus menempuh perjalanan ke sekolah dengan angkutan umum.

Ya, hari ini semuanya masih sama, tapi ternyata, ada yang sudah berbeda. Lelaki yang selama ini aku tatap secara diam-diam kini sudah berbeda, ia tak lagi sendiri. Ia tak lagi dengan bebas aku tatap, kini ada sepasang bola mata yang mengintaiku saat aku mulai berlama-lama memandang kearahnya. Kini selalu ada perempuan yang setia menemaninya untuk berpanas-panasan latihan futsal, kini ada perempuan yang memasang wajah tak suka saat banyak mata yang memperhatikan kearah lelakinya, meski sebenarnya lebih banyak yang menatapnya tak suka saat tahu dia adalah kekasih Rio. Mereka cemburu.

Kamis, 24 Juli 2014

Diary Gladis Part 1

Rabu, 22 September 2010

Aku tidak pernah tahu mengapa dia selalu hadir kala malam mataku ingin terpejam, aku tidak pernah tahu mengapa selalu aku rasakan rindu yang tak bisa aku kendalikan saat ia tak ada dihadapanku, aku tidak pernah tahu mengapa aku menjadi sering menyebut namanya akhir-akhir ini, aku tidak pernah tahu mengapa pipiku menjadi merona kala kami bertatap muka. Apa ini yang disebut dengan jatuh cinta?

Lelaki itu bernama Rio, sosok yang sangat dikagumi oleh perempuan se-antreo sekolah. Lelaki yang menjadi langganan untuk surat cinta terbanyak sepanjang tiga tahun sekolah di SMA Budi Perkesa. Menjadi salah satu pemain terbaik tim futsal sekolah-lah yang akhirnya menjadikannya se-terkenal ini di kalangan perempuan-perempuan.

“Lu kan belum kenal sama dia, kalo paling cuma papasan di koridor kelas. Terus apa yang buat lu suka sama dia?” Sheena yang berada disebelahku ikut menatap kearah Rio yang berada diantara teman-temannya—yang tak kalah keren.

Sabtu, 19 Juli 2014

Prolog Diary Gladis

Selamat malam, kamu yang bersedia membaca tulisan ini disela-sela kesibukanmu.

Malam ini saya mau membuat suatu label khusus tentang cerita baru yang akan saya buat secara berkelanjutan. Label ini saya kasih nama “DIARY GLADIS”, bukan tentang diary atau curhatan saya pribadi, ini hanya sebuah kisah fiktif dari seorang gadis yang saya ciptakan sendiri dan saya ceritakan dalam bentuk cerita yang berkesinambungan.

Sebelum saya memulai cerita, izinkan saya mengenalkan beberapa tokoh yang akan kalian jumpai dalam cerita ini;

Gladis, gadis berusia 17 tahun. Nama lengkapnya Gladis Putri Gianca. Tubuh mungilnya membuat dia selalu dikira menjadi anak yang baru ingin masuk SMA, tak pernah ada yang mengira kalau dia sudah berada diujung masa-masa SMA. Rambutnya yang sebahu selalu ia biarkan terurai, membuatnya terlihat manis. Tapi Gladis bukan gadis yang mudah bergaul, ia sangat sulit untuk memulai suatu percakapan. Ia gadis dengan sejuta rasa yang ia pendam sendiri, tak seorang pun yang ia beritahu tentang rasa yang ia rasakan.

Surat Untuk Jagoan Kecilku.

Teruntuk Jagoanku….

Nak, sudah berapa lama kita tak duduk bersama menikmati pagi hari dengan segelas susu milikmu dan secangkir kopi milikku? Kita saling berbincang tentang berita hari ini yang termuat dalam koran yang sesungguhnya tak sepenuhnya kau mengerti. Sudah berapa malam aku tak melihatmu terlelap pulas dalam kamarmu saat aku pulang kerja? Sudah berapa hari kita tak bertemu karena kesibukanku bekerja dank au yang selalu pulang saat aku tak dirumah? Tak rindukah kau dengan Ayahmu ini? Tak inginkah kau mengulang pagi-pagi yang kau lalui bersama lelaki paruh baya dirumah ini?

Aku tidak tahu apa yang bisa aku tulis disini, aku hanya ingin mencurahkan apa yang tak aku bisa curahkan secara langsung kepadamu, Nak.

Minggu, 29 Juni 2014

Kamu dan Perempuan yang Kau buat Berdebar Hatinya.

Ini untukmu, lelaki yang sudah lama mengganggu fikiran perempuan kaku itu.

Tentang kamu tak pernah terlupakan dalam hidup seorang perempuan seumuranmu. Dia, seseorang yang pernah kau rayu dengan kata-katamu yang manis. Kamu bukan sosok istimewa untuknya, tapi entah mengapa ia sulit melupakanmu. Ia tidak pernah tahu sejak kapan semuanya menjadi seperti ini, ia tidak pernah tahu bagaimana bisa sosok yang sudah lama tak ia lihat masih mengganggu fikirannya kala malam datang. Perempuan itu masih saja memikirkanmu kala kau sudah bersama perempuanmu. Salahkah dia? Jika bisa, perempuan itu pun tidak ingin memikirkanmu terlalu dalam. Dia tahu, ini tidak pantas untuk seorang perempuan memikirkan lelaki yang sudah memiliki perempuan, tapi hati tetap hati, mengambil peran yang lebih besar dibandingkan logika.

Dia adalah perempuan yang tak pernah tahu bagaimana cara bersikap manis denganmu. Dia adalah perempuan yang merindukan  beberapa tahun yang lalu, ada sepenggal harapan dihatinya untuk mengulang semuanya. Dia ingin kembali merasakan pipinya merona merah kala kalimat “Aku suka Kamu” terdengar ditelinganya. Dia jatuh cinta padamu? Perempuan itu berkata tidak. Dia hanya tak bisa melupakan semua yang sudah terjadi, tak bisa menghapus kalimat yang membuat pipinya merona, bantahnya. Tapi, semua orang tahu dia sedang jatuh cinta.

Sabtu, 21 Juni 2014

Jenuh.

Hujan malam ini semakin menambah kesan galau untuk hatiku yang sedang dilanda bimbang. Aku berdiri diujung jendela kamarku, menikmati tetesan air yang turun dari langit, menikmati aroma tanah yang disiram air. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, begitu takut kehilangan dirinya, merindukannya. Aku mengalihkan pandanganku kearah foto didalam bingkai yang terpasang dimeja samping kasurku, sepasang kekasih sedang tersenyum penuh cinta disana, bahagia. 

Mataku memanas, airmataku pun mulai meleleh, tak ada yang menghalanginya, satu per satu menetes dengan bebas. Rasanya rindu melihat senyum gadis didalam foto itu. Satu hantaman keras tepat mengenai dadaku, sakit rasanya saat aku sadar terakhir kali kami bertemu ia hanya menangis karena ulahku, aku menyakitinya begitu dalam.

Aku masih memandangi foto Siska, ia terlihat begitu cantik dalam foto itu. Sebelumnya, tak pernah aku merindukannya seperti ini. Aku sangat rindu dengannya, senyumnya yang manis, peluknya diselingi tawa manja miliknya, mata indah miliknya, aroma parfurm miliknya yang khas. Aku rindu semua tentangnya. Sebelumnya, tak pernah aku merasakan takut seperti ini. Aku takut kehilangan dirinya.

Sabtu, 14 Juni 2014

Touchdown Yogyakarta-Solo with YKB'14.


Ujian sudah berlalu, perpisahan pun sudah kita lewati bersama, pengumuman sudah menghadirkan tangis kebahagian untuk pencapaian kita, akhirnya. Sudah berapa lama kita tak bertemu. kawan? Kini, kita seakan sibuk dengan pencapaian berikutnya, waktu yang ada tak ingin dibuang-buang begitu saja, tak ada yang menginginkan kegagalan yang lebih besar didepan. Tak ada dan jangan sampai ada.

Rindukah kau denganku? Rindukah kamu dengan kisah kita disekolah? Rindukah kau dengan kebisingan yang selalu membuatmu lelah akhirnya? Rindukah kau dengan teman sebangkumu yang tak bosan mendengar ceritamu? Rindukah kau dengan kebosanan aktivitas belajar dikelas? Rindukah kau akan guru-guru yang selalu pusing karena kebisinganmu?  Rindukah kau akan kegiatanmu menyelinap ke kantin saat jam KBM sedang berlangsung? Rindukah kamu saat kau ditegur oleh guru karena kebandalanmu? Aku rindu itu. Seseorang berkata kepadaku, “Aku rindu saat bersama, jika waktu bisa diulang, aku ingin mengulangnya.”

Dahulu, tidak sedikit yang berharap agar bisa cepat-cepat selesai  sekolah, “Capek, bosan.” Katanya. namun, kini, tidak sedikit pula yang merasa waktu tiga tahun bukanlah waktu yang lama jika dilewati bersama kalian, keluarga kecilku disekolah, sosok asing yang akhirnya aku rindukan. Tiga tahun sudah terlewati tanpa pernah berhenti, dan sekarang, inginkah kau kembali ke tiga tahun yang lalu? Ya, aku ingin.

Sabtu, 31 Mei 2014

Perempuan dan Lelaki di ujung jalan.

Lelaki yang berada di ujung taman itu masih saja mengarahkan pandangannya ke perempuan yang berada jauh darinya. Tak menyapanya, bahkan mendekat pun tidak ia lakukan. Lelaki dan perempuan yang sama setiap harinya. Entah apa yang membuat lelaki itu hanya memandangi perempuan yang selalu melihat handphone per-beberapa menit sekali. Mereka terlihat seperti menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.

 “Permisi.” Aku memberanikan diri untuk menyapa yang terlihat kaget dengan kedatanganku.

Ia tersenyum ramah kepadaku, meski sesekali ia masih mengawasi perempuannya.

“Apa kau mengenal perempuan yang berada diujung sana?” Aku mengadikkan kepala kearah perempuan yang sedang menatap jam tangannya penuh gelisah.

Dia menggeleng. “Aku senang memperhatikannya. Senang dengan kegiatannya melihat handphonenya setiap beberapa menit sekali, melihat jam tangannya sesekali.” Katanya masih dengan pandangan yang tak berubah. “Kami tidak pernah berkenalan, namun entah sejak kapan, dia mulai mengganggu malamku, selalu hadir didalam mimpiku, selalu tersebut dalam doaku. Aku jatuh cinta kepadanya.”

Aku terdiam, mencoba mengerti setiap kata-kata yang dikeluarkan lelaki yang sedari tadi tak mempersilakan aku duduk disampingnya, aku dibiarkan berdiri olehnya. “Kenapa kamu tidak berkenalan dengannya?”

Kamis, 22 Mei 2014

Lalu mau datang lagi setelah ini?

Dahulu, selalu ada pesan yang tak pernah absen dari deretan kotak masuk pesanku. Led merah handphone-ku selalu menyala saat malam hari. Dahulu, selalu ada seseorang yang tak pernah bosan mengirim pesan meski tak jarang aku tak membalasnya karena aku sudah terlelap. Dahulu, ada seseorang yang mampu membuatku tersenyum malu karena pesannya. Tapi itu dahulu, kini seseorang itu menghilang (lagi) begitu saja, tak tampak lagi pesannya, tak ada lagi Led-ku menyala karena pesannya.


Apa kabarmu? Sudah adakah wanita yang membalas pesanmu lebih dari aku? Sudah kau dapatkah wanita yang mulai senang mengirim pesan kepadamu terlebih dahulu?

Minggu, 18 Mei 2014

Bukan Target Awal

Fachri masih saja menatap gadisnya dari jauh, gadis yang mampu membuat tidurnya tak nyenyak, gadis yang mengisi satu ruang di otaknya. Dia masih menatap gadisnya dalam diam, gadis yang sedang dikelilingi teman-temannya. Gadis didepannya masih sibuk dengan perbincangan diantara remaja perempuan yang sedang berkumpul. Gadisnya tidak pernah menatap kearahnya. Tidak pernah menyadari seseorang yang mengamatinya dalam diam.

Waktu terus berputar, tak pernah berhenti sejenak meski Fachri masih saja diam-diam mengagumi wanitanya. Menikmati setiap waktunya dalam angan-angannya sendiri. Menikmati setiap waktunya dengan tatapan yang was-was.

“Lu deketin aja salah satu temennya, Ri.” Leo mulai mengambil posisinya, menyambar makanan di hadapan Fachri yang dibiarkan begitu saja oleh sang pemiliknya.

“Maksudnya?”

Leo menelan makanan milik Fachri tanpa sisa, menahan tawa untuk sahabatnya. “Gini ya, Leany itu deket sama Nina. Nah, deketin aja Leany biar lu bisa deket sama Nina. Leany itu lebih gampang didekati dibandingkan Nina yang selalu dikelilingi lelaki.”

Selasa, 22 April 2014

Kacamata

“Kelompok selanjutnya adalah Vena dengan Ikbal.” Berbagai seruan anak-anak terdengar menyambut pernyataan Bu Sesi yang sedang sibuk membagi kelompok untuk baksos lusa. “Rendy dan Naomi.” 

Hening. Tak ada yang bersuara untuk menyambut pernyataan Bu Sesi, hanya sebuah ekspresi kaget dan tak percaya atas keputusan guru yang masih sibuk berdiri didepan kelas. Berpasang-pasang mata secara bergantian menatap kearahku ataupun cowok yang duduk dibangku belakang kelas. Masih tak ada yang protes, masih tak ada yang ingin berucap ‘cie’. Semua masih tak percaya, dua pasang manusia yang tak pernah akur ini akan menjadi satu kelompok dalam kegiatan baksos.

“Bu, masa iya saya sama kutu buku kaya dia?” Akhirnya suara itu terdengar tepat beberapa detik sebelum Bu Sesi memulai bicara lagi.

“Kenapa memangnya? Pengetahuan dia bagus loh, Ren.” Bu Sesi membela aku.

“Bu, saya harus sendirian juga ngga apa-apa dibandingkan harus sama dia.” Rendy masih terus berusaha untuk mengubah keputusan Bu Sesi, meski ia tahu usahanya akan sangat sia-sia.

Bu Sesi tersenyum, aku masih terus memperhatikannya dengan seribu doa berharap ia akan mengubah keputusannya itu, meski akan percuma juga, tapi setidaknya aku tidak membuang-buang tenagaku, bahkan aku mendapat pahala karena aku berdoa terus. “Bukannya kalian sudah lama mengenal ibu?” Ia lalu mengarahkan pandangannya ke Rendy.

Rendy hanya diam, menggerutu saat Bu Sesi sudah mulai bicara lagi.

“Semoga lu bisa akur ya sama dia habis dari baksos ya.” Vena mulai menyadarkanku, bahwa aku memang ditakdirkan satu kelompok dengan Rendy.

Rendy. Cowok yang menempati bangku paling belakang kelas. Cowok dengan berpuluh-puluh fans perempuannya, cowok yang tidak pernah bertegur sapa denganku, cowok yang selalu menatapku sinis, cowok yang selalu punya cara untuk menjahiliku. Aku masih ingat ketika suatu hari keningku merah karena lemparan bola basket miliknnya. Bukannya meminta maaf, ia dan teman-teman setianya malah menertawakanku didepan banyak orang dan jadilah aku menjadi bahan tertawaan banyak orang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Rabu, 09 April 2014

Tak Lagi Sama.


Kami terduduk disebuah taman pinggir kota. Tak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang mulai sibuk dengan aktivitasnya sendiri, beberapa anak muda menghabiskan waktu sorenya dengan bercengkerama dengan temannya, dan kami—aku dan lelaki yang sudah lama tak aku temui ini, hanya terdiam. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa lembut rambutku, menyentuh lembut wajahku dan membisikkan suara hembusannya yang halus. 

Aku terdiam dalam sebuah kenangan, kenangan saat terakhir kali kami bertemu dahulu. Membiarkan angin menjadi temanku untuk menyaksikan betapa aku dibuatnya tak berdaya, menangisinya secara diam-diam.

                Dua tahun yang lalu,

“Ref.” 

Aku menoleh kearah sumber suara yang memanggilku itu. Menatapnya dengan seksama dan menahan segala gejolak yang terjadi di hatiku. Lelaki itu tersenyum kearahku seraya melangkah mendekat. Dan gejolak hati ini semakin tak menentu. Gejolak hati ini masih sama dengan gejolak hati saat terakhir kali kita bertemu.

Selasa, 08 April 2014

Akhir Masa Putih Abu-Abu

Tadi pagi, tiba-tiba pengen memposting sebuah tulisan tentang masa-masa SMK. Yap, aku sekolah di SMK, makanya aku bilang seperti itu. Tentang segala hal yang aku sudah lakukan selama 3 tahun belakangan ini disebuah sekolah swasta di Depok. Aku memposting ini, hanya ingin menjadikan kalian sebagai kenangan yang tak pernah terlupakan. Aku menyimpannya di mesin pengingat waktuku, blog. Jika kalian ingin membacanya, kalian harus menyiapkan energy yang kuat untuk membacanya, ini tulisan dengan ribuan kata, ini tulisan dengan ribuan kenangan.


Kurang lebih sekitar 3 tahun yang lalu, aku mulai membayangkan ketika aku menggunakan seragam—yang menurutku—lebih keren dibandingkan seragamku saat itu, putih abu-abu. Aku rasa bukan aku saja yang menantikan saat itu tiba, saat dimana kita mulai bergegas dengan seragam putih abu-abu. Saat dimana bed kita bukanlah gambar OSIS berwarna kuning lagi, melainkan berwarna cokelat. Melihat setiap kakak-kakak yang sudah menggunakan seragam putih abu-abu dengan pikiran yang selalu mengandai-ngandai.

Selasa, 01 April 2014

Surat Untuk Mantan

Untukmu, Penyemangatku kala lelah, dahulu.

Hai, Mas. Sudah lama tak berkomunikasi denganmu sedikit membuatku canggung untuk menyapamu. Masih berkenankah kau ku panggil dengan sebutanku untuk lelaki lebih tua dalam adat jawa; Mas. Bukan karena kau lebih terlihat tua, namun aku hanya ingin membiasakan diriku memanggil seseorang yang (dahulu aku fikir) akan menjadi imamku. 

Apa kabarmu hari ini dan hari-hari lalu setelah kau mulai menghilang dari pandanganku? Apa kau merasa lebih bahagia setelah tak bersamaku, Mas? Sungguh, aku ingin melihat kau berbahagia, tapi hatiku masih terlalu rapuh untuk menerima kebahagianmu bukanlah denganku. Apa itu salah? Mungkin iya.

Mas, ingatkah kau tentang perbincangan kita tentang “melupakan” di teras rumahku, kala hujan turun? Mungkin itu adalah caramu mengisyaratkan bahwa seharusnya aku bisa melupakanmu, tapi ingatkah apa yang aku jawab kala kau berkata; “Apa yang akan kamu lakukan ketika seseorang telah meninggalkanmu dan melupakanmu? Apa kau akan melupakannya juga?” dengan segala ketidakpahamanku dengan pilihan topic pembicaraanmu, aku hanya menjawab; “Aku mungkin telah dilupakan, namun aku takkan bisa melupakannya layaknya aku dilupakan. Aku hanya meninggalkannya sebagai masa lalu, tak menghapusnya dalam lembaran hidupku”. 

Senin, 17 Maret 2014

Lelaki di Sekolah Sebelah.

Sumber Gambar
Ciant berlari keluar kelas dengan terburu-buru, beberapa temannya ia suruh menyingkir agar tidak tertabrak olehnya. Dengan langkah cepat ia menyusuri lorong-lorong kelas yang masih dipenuhi dengan murid-murid lain. Ia terus mempercepat langkahnya. Akhir-akhir ini, ia tidak terlalu memperdulikan orang yang mencibirnya karena langkah cepatnya. Dan sampailah dia ditempat yang dituju. Tempat yang sudah seminggu ini menjadi tempat mengasyikkan saat pulang sekolah, gerbang sekolah. Berdiri mematung memperhatikan setiap siswa yang keluar dari sekolah yang berada disebelahnya. 

“Hai, Ciant. Lagi nungguin doi muncul lagi?” Kata seorang perempuan teman sekelasnya.

Ciant hanya tertawa.

Seseorang yang ia tunggu, akhirnya muncul dengan motornya. Mengenakan helm berwarna merah dan sweater abu-abu favoritnya, ah ini hanya pendapat Ciant. Laki-laki yang berada diantara teman-temannya itu cukup menarik perhatiannya, sesekali ia tertawa dengan lesung pipi yang ada di kedua sisinya. Ciant masih menatapnya dari jauh.

“Kalo kaya gini doang, mana dia tahu, Ant?” Seorang perempuan sudah berada disampingnya, Selly, sahabatnya sejak beberapa tahun yang lalu.

“Ya mau kaya gimana lagi?” Ciant sudah mulai memalingkan wajahnya. Laki-laki yang sedari tadi ia tatap, mulai merasa di perhatikan. Sesekali ia menatap kearah Ciant, hanya untuk memastikan apakah Ciant masih menatapnya.

Sabtu, 15 Maret 2014

Surat Untukmu "Pengumbar Kata Manis"

Hai.


Apa kabarmu? Bagaimana harimu? Menyenangkan atau menyedihkan? Aku berharap kau mendapatkan hari-hari yang menyenangkan. Lalu masih senangkah kau mengumbar kata-kata manismu kepada banyak wanita? Pesanku untukmu, janganlah terlalu banyak mengumbar kata-kata manismu lagi, percayalah itu menyakitkan untuk mereka (wanita yang kau beri kata-kata manismu), mungkin aku termasuk kedalamnya. Aku fikir iya.

Aku tidak mengerti mengapa akhir-akhir aku menjadi seperti ini. Akhir-akhir ini, kau terlalu sibuk mengganggu fikiranku dikala aku istirahat. Dan kau harus tahu, aku menjadi sangat tak menentu saat kau mulai hadir. Pipiku merona ketika namamu terdengar. Kata-katamu masih senantiasa mengiang-ngiang difikiranku. Adakah cara untuk menghilangkannya? Beritahu aku, jika memang ada.


Sabtu, 11 Januari 2014

Edofone.

Dipostingan kali ini gue mau ngebahas tentang kelas gue, tentang makhluk-makhluk yang ada didalamnya. Gue juga ngga tahu kenapa sih rasanya pengen memosting tulisan tentang mereka, “mungkin karena lu jomblo fan.” BUKAN. Ngga ada hubungannya yaaa! Ya mungkin karena mereka sudah menemani keseharian gue disekolah. Setengah hari gue lalui dengan mereka. “Tuhkan ketauan banget jomblonya.” *hening*. 

Oke, daripada semakin panjang lebar gue ngomong dan semakin banyak makhluk aneh yang nyautin omongan gue, “Makhluk aneh? Siapa? Alhamdulillah bukan gue.” Kan, Baru diomongin..

Edofone.
Apasih itu? Makhluk hidup bagian mana?

Makhluk hidup bagian hati lo…..*eaaaa.

Minggu, 05 Januari 2014

Tentang kalian:'')({})

Sahabat. Apa itu? Mungkin orang-orang yang selalu ada disaat kita butuh. Atau hanya orang yang sekedar dari teman? Apalah arti dari semua itu, gue ngga terlalu memikirkannya. Yang gue tau, mereka selalu ada disaat gue butuh, bersama mereka gue merasa lebih baik dibandingkan sendiri. Sahabatkah itu? Tidak terlalu penting itu sahabat atau bukan. Yang pasti adalah mereka bagian penting dalam hidup gue.


Ketiga cewek yang tidak memiliki sifat yang sama ini, selalu berhasil bikin gue ketawa. Selalu berhasil bikin pipi gue merona. Selalu berhasil bikin gue ngungkapin semuanya. Semuanya, yang awalnya mau gue jadiin cerita diantara mereka, akhirnya harus terbongkar lagi. Mereka adalah orang yang selalu nyediain waktunya buat sekedar ketemu dan berbagi cerita, meski kita sama-sama sibuk.

Cewek pertama, Ratna Erwina. Orang yang paling bawel diantara kita. Heboh. Dan gue rasa, dia yang punya mantan terbanyak juga diantara kita. Baru putus sama pacarnya, tp pedekateannya banyak bro. Paling sering diintrogasi, ya karena dia terlalu menutupi kisah cintanya. Dan hobi gue saat ketemu dia adalah ngepoin handphone, karena dengan cara itu baru kita bisa mendapatkan info-info yang akurat. Wkwk.


Sendiri


 
Disudut taman dipinggiran kota Surabaya-lah tempat Crea berada sekarang. Menikmati udara pagi yang masih sejuk. Menghembuskan nafasnya perlahan-lahan. Tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang, hanya beberapa remaja yang sedang berolahraga pagi atau sekedar duduk-duduk santai bersama teman seusianya, diantara mereka ada juga yang bersama pacar mereka. Crea terduduk tak jauh dari danau yang berada ditaman ini, menikmati airnya yang tenang. Sengaja menjauh dari segala keramaian di taman ini.

Disini Crea biasa berada, menikmati segala rasa yang selalu mengacaukannya. Di tempat ini ia bisa mencurahkan segala hal di buku kecil yang selalu dibawanya kemana pun. Ia sendiri. Senang menyendiri. Dan memang sendiri. Tak ada teman disaat seperti ini, tak ada tawa yang ia dengar, cerita mereka berlalu begitu saja bersama kehidupan mereka yang mulai sibuk. Kesunyianlah yang menjadi teman sebenarnya didalam hidupnya.

“Crea.” Seseorang menyapanya dengan ramah.

Crea memutar tubuhku, “Hai.” Sambutnya cepat.

Rabu, 01 Januari 2014

Ini Cinta atau Apa?

Sebelum gue bercerita panjang lebar, gue mau ngucapin Selamat Tahun Baru. Yey! Semoga harapan gue yang gue tulis di Ini Resolusi 2014 ala Fanny. Dan harapan kalian bisa tercapai di tahun ini. “Semoga bisa cepet taken ya Fan.” *hening*. Jadi udah ngelakuin apa aja nih dihari pertama 2014? Masih hidup dengan bayang-bayang mantan? Ah, udah ngga jamannya. “Kaya lu bisa move on aja sih Fan.” Berisik banget ya.

Untuk postingan pertama ditahun 2014 ini, gue mau bicara tentang sesuatu……..”Bukan soal mantan kan, Fan?” “Nggak tuh. Gue udah lupa sama mantan.” *abaikan percakapan ini*. Balik lagi ke topik, postingan kali ini berasal dari gue sendiri. Gue lagi rada ngga ngerti gitu sama perasaan gue sendiri. Gue masih bingung ‘Ini cinta atau bukan? Kalau bukan, terus ini apa?’. Itu yang selalu gue fikirin, udah lama menghilang tapi tiba-tiba dia datang lagi, ngga secara langsung ke hidup gue tapi cuma lewat. Iya, dia cuma lewat dan gue ngga berhenti memikirkannya berjam-jam.



Semua berawal dari akun sosmed—sosial media—Facebook gue.

Suatu malem ada yang seseorang yang ngechat gue, karena gue saat itu masih make E-buddy (tau kan E-buddy itu apa? Kalo ngga tau ya googling ajalah coba.) jadinya gue ngga bisa ngeliat profil dia secara jelas. Gambarnya pecah gitu waktu itu. Dia ngechat kalo bilang dia kangen sama gue. Entah gue-nya yang terlalu kepo atau gimana, gue terus2an nanya dia siapa, dan yang ngeselin dia tetep ngga mau bilang dia siapa. “Lu tau gue kok. Iya kita kenal banget.” Cuma itu yang dia bilang, dan hasilnya tingkat penasaran gue semakin-semakin. Gue coba buka facebook lewat browser hape gue, untungnya gue make kartu yang memungkinkan untuk buka facebook bisa ngeliat poto dengan gratis. Gue coba searching nama doi, dan gue dapet.Yap. Gue kenal dia.